HYMNOS Jurnal Teologi Dan Keagamaan Kristen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Ambon Volume 2 No. : 15-27 e-ISSN 3109-2586 DOI: https://doi. org/10. 64533/hymnos. Submitted, 25 September 2025. Revised, 05 Oktober 2025. Accepted, 22 November 2025. Published, 30 Desember 2025 PRINSIP MISI RASUL PAULUS DALAM 1 KORINTUS 9:19-23 DAN RELEVANSINYA BAGI MISI KONTEMPORER Amsal Hasangapon Purba Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Batam amsalhasangapon900@gmail. Abstract: Today's church mission faces complex challenges due to rapid social, cultural, and technological changes, including the dominance of digital media, globalization, secularism, and increasing pluralism. Most studies on Paul's mission have not deeply connected his principle of flexibility to the specific challenges facing the contemporary church in the digital age. This study aims to elaborate the Apostle Paul's principle of mission based on 1 Corinthians 9:19-23 and show its application in the context of today's mission. A qualitative method with a literature study approach is used to analyze the biblical text and its relevance to the contemporary context through various credible literature sources. The results showed that Paul applied two main principles in his mission: the principle of sacrifice, where he voluntarily gave up his rights and freedoms to become a "servant of all people". and the principle of openness, which is seen in his ability to "be all things to all people" by adapting to various cultures without compromising the integrity of the gospel message. These two principles are highly relevant for contemporary missions as they teach modern missionaries to be self-sacrificing and open to cultural differences, digital technology, and the dynamics of a multicultural society while maintaining the essence of the gospel. Paul's flexibility approach is a wise strategy to build effective communication bridges in delivering the Good News to the digital age society. Keywords: Mission. Apostle Paul. Contextualization. Mission Flexibility. Digital Age Abstrak: Misi gereja masa kini menghadapi tantangan kompleks akibat perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang pesat, termasuk dominasi media digital, globalisasi, sekularisme, dan pluralisme yang semakin meningkat. Sebagian besar studi tentang misi Paulus belum secara mendalam menghubungkan prinsip fleksibilitasnya dengan tantangan spesifik yang dihadapi gereja kontemporer dalam era digital. Penelitian ini bertujuan menguraikan prinsip misi Rasul Paulus berdasarkan 1 Korintus 9:1923 dan menunjukkan penerapannya dalam konteks misi masa kini. Metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur digunakan untuk menganalisis teks alkitabiah dan relevansinya dengan konteks kontemporer melalui berbagai sumber pustaka kredibel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Paulus menerapkan dua prinsip utama dalam misinya: prinsip pengorbanan, dimana ia secara sukarela melepaskan hak dan kebebasannya untuk menjadi "hamba semua orang". prinsip keterbukaan, yang terlihat dalam kemampuannya "menjadi segala-galanya bagi semua orang" dengan menyesuaikan diri terhadap berbagai budaya tanpa mengorbankan integritas pesan Injil. Kedua prinsip ini sangat relevan untuk misi kontemporer karena mengajarkan para misionaris modern untuk rela berkorban dan terbuka terhadap perbedaan budaya, teknologi digital, dan dinamika masyarakat multikultural sambil mempertahankan esensi Injil. Pendekatan fleksibilitas Paulus merupakan strategi bijaksana untuk membangun jembatan komunikasi efektif dalam menyampaikan Kabar Baik kepada masyarakat era digital. Kata Kunci: Misi. Rasul Paulus. Kontekstualisasi. Fleksibilitas Misi. Era Digital Copyright A2025 by the authors. Submitted for possible open access publication under the terms and conditions of the Creative Commons Attribution (CC BY) license. Pendahuluan Misi merupakan salah satu tugas yang wajib dijalankan oleh gereja dalam setiap era, bahkan era masa kini juga. Menurut Gradner, pelaksanaan misi masih tetap berlaku walaupun telah lama waktu berlalu semenjak Yesus memberikan amanat agung kepada murid-murid-Nya di Matius 28:19-20. 1 Sampai pada masa kini misi masihlah tugas yang wajib dilakukan oleh gereja sebagai murid-murid Yesus yang terpanggil untuk menjadi saksi-Nya hingga ke ujung 1 Misi pada masa kini memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan misi yang dilakukan pada masa rasul-rasul atau pada masa abad pertama. Perubahan sosial, budaya, dan teknologi yang pesat, seperti dominasi media digital, globalisasi, sekularisme, dan pluralisme yang semakin meningkat, menciptakan dinamika baru dan kompleksitas tersendiri dalam pelaksanaan misi. Konteks masyarakat modern yang semakin individualistis dan relativistis juga menambah kerumitan dalam penyampaian Injil kepada generasi masa kini. Sekalipun demikian, gereja masih dapat menemukan relevansi prinsip-prinsip misi dari para rasul yang telah terbukti efektif dan dapat diterapkan serta diadaptasi pada misi kontemporer. Strategi dan metode mungkin berubah mengikuti perkembangan zaman, namun esensi dan tujuan misi tetap sama yaitu memberitakan Kabar Baik kepada segala bangsa dan membuat murid bagi Kristus. Perubahan ini menuntut gereja untuk meninjau kembali strategi misinya agar tetap relevan tanpa mengorbankan esensi Injil. Di tengah dinamika ini, pemahaman yang mendalam terhadap prinsip-prinsip misi alkitabiah menjadi krusial. Rasul Paulus, yang dikenal sebagai misionaris ulung, menawarkan model yang sangat berharga melalui prinsip fleksibilitasnya yang termuat dalam 1 Korintus 9:1923. Studi tentang Paulus dan misinya telah banyak dilakukan oleh para peneliti dengan fokus utama pada kemampuan adaptasi budayanya sebagai strategi misi yang efektif. 2 Dalam penelusuran literatur yang dilakukan, maka ditemukan ada beberapa penelitian yang secara khusus melihat stratgei atau metode penginjilan yang dilakukan oleh Paulus, diantaranya Hulu Ardianus menemukan bahwa strategi kontekstualisasi Paulus mencakup adaptasi budaya tanpa mengorbankan esensi Injil. Ayub Rusmanto dkk. mengungkapkan bahwa prinsip adaptasi Paulus sangat relevan dalam era digital untuk pemberitaan Injil melalui teknologi dan media sosial. 3 Jhon Leonardo Presley Purba dan Sari Saptorini menemukan bahwa pendekatan multikultural Paulus dapat diterapkan dalam konteks Indonesia yang beragam. 4 Yohanes Andi dkk. bahwa prinsip "menjadi segala-galanya bagi semua orang" merupakan kunci keberhasilan misi lintas budaya. 5 Sementara Pattinaja. Kiamani dan Loiksolklay dalam penelitiannya Paul Gardner. Exegetical Commentary on the New Testament - 1 Corinthians, ed. Clinton E. Arnold (Grand Rapid Michigan: Zondervan, 2. , 215-230. Ardianus. Hulu. AuPELAYANAN KONTEKSTUAL RASUL PAULUS DITINJAU DARI 1 KORINTUS 9:19-23. ,Ay Jurnal Teologi Biblika 6, no. : 13Ae24, https://doi. org/10. 48125/jtb. Ayub Rusmanto. Wahyu Lasut, dan Slamet Jariyanto, "Intensitas Pemberitaan Injil Berdasarkan Kajian Teologis 1 Korintus 9:19-23 Di Tengah-Tengah Zaman Digital," SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 14, no. 2 (November 2. : 178-190. Jhon Leonardo Presley Purba dan Sari Saptorini, "Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia," Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 2, no. : 171-184. Jhon Leonardo Presley Purba dan Sari Saptorini, "Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia," 183. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 menungkapakn bagamana strategi Paulus Aumenjadi sepertiAy adalah stratgei jitu untuk dapat memenangkan sebanyak mungkin jiwa. Stratgei ini dilakukan sebagai upaya kontekstual dan tidak mengabaikan nilai-nilai kebenaran yang menjadi standar Rasul Paulus. 6 Neller juga berkomentar bahwa model yang digunakan oleh Paulus ini, adalah metode tepat untuk memenangkan jiwa dengan tetap berfokus hanya kepada Tuhan. 7 Bagi Lintarwati. Anjaya dan Arfianto penginjilan Paulus ini seharausnya menyadarkan semua orang percaya bahwa penginjilan merupakan tugas semua orang tanpa kecuali. Semua orang percaya dipanggil untuk melaksanakn misi bagi penuai jiwa. Hanya harus diperhatikan metode apa yang digunakan agar sesuai dengan konteks budaya dan sosio historis dari masing-masing wilayah. 8 Namun, ada kesenjangan penelitian yang signifikan dalam kajian-kajian tersebut, yang terfokus hanya kepada metode penginjilan, dan penjangkauan jiwa khususnya di dalam masyarakat Korintus. Sebagian besar studi yang telah dilakukan belum secara mendalam menghubungkan prinsip fleksibilitas Paulus dengan tantangan spesifik yang dihadapi gereja pada masa kini, seperti penggunaan media sosial dalam penyebaran Injil, pluralisme identitas yang berkembang di masyarakat modern, dan globalisasi digital yang mengubah cara berkomunikasi. Relevansi ayat 1 Korintus 9:19-23 bagi misi kontemporer, khususnya dalam konteks perubahan teknologi dan sosial yang sangat cepat, belum dikaji secara komprehensif. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan menguraikan prinsip misi Rasul Paulus berdasarkan 1 Korintus 9:19-23 melalui analisis mendalam terhadap tiga prinsip utama: prinsip Pengorbanan, prinsip adaptasi budaya, dan prinsip motivasi yang benar. Selanjutnya, penelitian ini akan menunjukkan penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam konteks misi masa kini dengan mendemonstrasikan secara konkret bagaimana prinsip fleksibilitas Paulus dapat diterapkan secara relevan dalam menghadapi tantangan misi kontemporer, termasuk strategi praktis pendekatan komunikasi lintas budaya di era globalisasi dan adaptasi metodologi misi yang sesuai dengan karakteristik generasi masa kini yang semakin individualistis dan Metode Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Studi pustaka adalah cara mencari data dan informasi yang berkaitan dengan topik penelitian, membaca teori-teori dari buku-buku, jurnal ilmiah, dan literatur lain yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas. 9 Berdasarkan pemahaman tersebut, penulis akan melakukan pencarian informasi dari berbagai sumber literatur yang relevan. Dalam menganalisis Aska Aprilano Pattinaja. Andris Kiamani, and Pulela Dewi Loiksoklay. AuKajian Metode Kontekstual Paulus AoMenjadi SepertiAo Menurut 1 Korintus 9:19-23 Sebagai Implementasi Karakter Misionaris,Ay Voice of HAMI 6, no. : 72Ae84, https://doi. org/10. 1111/irom. Kenneth V Neller. Au1 Corinthians 9:19-23 A Model for Those Who Seek to Win Souls,Ay Restoration Quarterly 29, no. : 19Ae23, https://digitalcommons. edu/restorationquarterly/vol29/iss3/1. Ita Lintarwati. Carolina Etnasari Anjaya, and Yonatan Alex Arifianto. AuTanggung Jawab Penginjilan Bagi Orang Percaya: Sebuah Refleksi Teologis 1 Korintus 9: 16-17,Ay KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta 5, no. : 81Ae90. Sonny Eli Zaluchu. AuMetode Penelitian Di Dalam Manuskrip Jurnal Ilmiah Keagamaan,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 3, no. : 249Ae266, https://doi. org/10. 38189/jtbh. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 teks-teks Alkitab yang menjadi fokus penelitian, penulis menggunakan metode hermeneutik Alkitab sebagai pendekatan untuk memahami teks. Metode hermeneutik Alkitab adalah upaya untuk menjelaskan, menerjemahkan, menganalisis, dan menginterpretasi teks-teks yang terdapat dalam Alkitab sehingga memudahkan pembaca untuk memahami teks tersebut. Melalui pendekatan ini, penulis akan melakukan interpretasi teks secara kontekstual dengan memperhatikan aspek historis, gramatikal, dan teologis dari teks-teks Alkitab yang dikaji. Beberapa langkah yang harus dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut, pertama, penulis akan menganalisis mengenai korelasi antara Rasul Paulus dan Misi, yang merupakan fondasi utama bagi analisis dalam penelitian ini. Kedua, penulis mengkaji pirnipprinisp misi yang ditemukan dalam 1 Korintus 9:19-23, berdasrkan pola penginjilan yang dilakukan oleh Paulus. Ketiga, penulis memberikan perspektif penulis mengenai relevansi dari strategi yang dilakukan oleh Paulus dengan perkembangan dunia hari ini, dalam konteks globalisasi digita dalam komunikasi. Temuan dan Pembahasan Misi menjadi hal yang sangat melekat pada umat Kristen. Secara umum misi dalam Perjanjian Baru adalah untuk melaksanakan maksud daripada Allah bagi penebusan dunia. Yesus sendiri yang memberikan amanat agung supaya para murid pergi dan mejadikan seluruh bangsa murid. Oleh karena hal tersebut kehidupan orag Kristen tidak lepas dari misi. Dalam Perjanjian Baru. Misi adalah suatu ekspresi kehidupan sikap orang percaya di dalam keKristenanAu12 Secara umum misi dalam Perjanjian Baru adalah untuk melaksanakan maksud daripada Allah bagi penebusan dunia. Amanat Agung yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya menjadi dasar utama pelaksanaan misi. Dalam Matius 28:19-20. Yesus berkata, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. " Perintah ini menunjukkan bahwa misi bukan hanya tanggung jawab para pendeta atau misionaris saja, tetapi merupakan panggilan bagi setiap orang Kristen. Misi adalah bagian dari identitas sebagai pengikut Kristus. Hal senada dengan yang diungkapkan oleh Harming bahwa semua orang percaya memiliki kewajiban untuk memberitakan Injil. 13 Dengan demikian, pelaksanaan misi merupakan wujud ketaatan setiap orang percaya terhadap perintah Kristus dan menjadi bagian integral dari identitas mereka sebagai pengikut-Nya. Rasul Paulus dan Misi Paulus merupakan seorang yang sangat giat dalam melakukan misi pada abad pertama. Walaupun bukan seseorang yang mengambil bagian dalam keduabelas Rasul, tetapi Paulus Hasan Sutanto. Hermeneutik: Prinsip Dan Metode Penafsiran Alkitab (Malang: Literatur SAAT, 2. , 10. Sirait. R Au Misi Menurut Kitab Perjanjian BaruAy Academia Edu . 1-18 Darsono Ambarita. Perspektif Misi Dalam Perjanjian Lama & Perjanjian Baru (Medan: Pelita Kebenaran Press, 2. , 48 Harming Harming. AuMetode Penginjilan Yesus Dalam Injil Yohanes 4:1-42,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat 1, no. 2 (August 2, 2. : 162Ae169. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 menunjukan bagaimana seharusnya seorang murid melaksanakan misi yang telah diamanatkan oleh guru. Paulus sendiri merupakan salah satu misionaris yang sangat berhasil dalam pelaksanaan misi didunia. John Leonardo menuliskan bahawa AuPaulus adalah pionir penginjilan sekaligus misionaris yang paling berhasil dalam sejarah Kekristenan sebagaimana tercatat dalam narasi kitab Kisah Para RasulAy14 Pernyataan ini didasarkan dengan hasil yang diberikan oleh Paulus dari misi yang Perjalanan misi Rasul Paulus dikenal dengan tiga perjalanan misi Paulus. Dimana Paulus menjalankan perjalanan untuk menjangkau orang-orang yang belum percaya kepada Yesus. Hasil dari perjalanan misi tersebut adalah jemat-jemaat yang pada masa tersebut dibentuk oleh Paulus di kota kota yang menjadi tempat penyebaran injil. Selain melakukan perjalanan rasul Paulus juga menulis Surat dalam pemberitaan injil. Rasul Paulus menulis 14 surat-surat dalam Perjanjian Baru yang merupakan implementasi pengajaran Yesus sang Guru Agung. Bagi Paulus Misi adalah hal yang sangat penting dan harus dilakukan. Bagi Paulus, memberitakan Injil merupakan suatu keharusan, bahkan dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengatakan: AuCelakalah aku jika aku tidak memberitakan InjilAy (I Kor. Pernyataan ini menunjuukan bagaimana pentingnya injil dan pemberitaan injil bagi Paulus. Pentingnya misi bagi Paulus didasari dengan bagaimana pentingnya Kristus ada dalam kehidupan manusia. Jetorius berpendapat bahwa Aumotif pertama yang dijelaskan oleh Paulus, yang harus menjadi motif orang percaya saat ini juga adalah karena Aumanusia tanpa Kristus tersesatAy17 Kristus merupakan jalan bagi manusia untuk menuju keselamatan yang disediakan Allah bagi manusia. Tampa Kristus manusia tidak akan bisa datang kepada Allah. Dan tampa Kristus manusia akan tersesat dalam dunia ini. Oleh karena itu pentingnya misi ada dan dilakukan agar manusia tidak menjadi hamba dosa dan beroleh maut. Paulus sendiri sebelum mengalami pertobatan, misi merupakan hal yang sangat dibenci Paulus. Bagi Paulus misi Kristen merupakan tindakan penyesatan dari pada kepercayaan Paulus Oleh karena itu peristiwa menuju Damsyik merupakan salah satu titik balik dalam kehidupan Paulus. Perjumpaan ini terjadi ketika dia dalam perjalanan ke Damsyik membawa perubahan hidup secara total. 18 Paulus yang merupakan seorang Farisi yang mendapat bimbingan dari Gamaliel seorang guru besar bangsa Yahudi, tumbuh menjadi sorang yang sangat memahami taurad, sehingga membenci orang Kristen dan menganggap misi merupakan bentuk kesesatan dari pada Taurat. Jhon Leonardo Presley Purba. Sari Saptorini AuMetode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:1923 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di IndonesiaAy Veritas Lux MeaVol. No. : 171-184 Samuel Benyamin Hakh. Perjanjian Baru: Sejarah. Pengantar dan Pokok-pokok Teologianya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Alfons Renaldo Tampenawas Erna Magdalena. AuMemberitakan Injil Sebagai Suatu Panggilan Hamba Tuhan Dalam Perspektif Kisah Para Rasul 16:4-10,Ay XAIRETE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani 1 No. : 55 Jetorius Gulo. AuImplikasi Praktis Konsep Anugerah Bagi Orang Percaya Berdasarkan Surat Yusak Tridarmanto. AuSpiritualitas RasulPaulus,Ay Gema Teologi 39, no. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Pertemuan dengan Yesus benar-benar mengubah hidup Paulus secara total. Sebelumnya. Paulus adalah orang yang sangat membenci kekristenan dan bahkan menganiaya orang-orang Kristen. Namun, setelah bertemu dengan Yesus dalam perjalanan menuju Damaskus, hidupnya berubah 180 derajat. Dari seorang yang dulunya memusuhi misi penyebaran Injil. Paulus justru menjadi misionaris yang paling gigih dan bersemangat. Paulus tidak kenal lelah dalam memberitakan kabar baik tentang Yesus ke berbagai daerah. Bagi Paulus, hidup ini hanya bermakna jika dijalani untuk Kristus. Paulus juga menyadari bahwa segala pencapaian dan kelebihannya di masa lalu tidaklah pantas untuk dibanggakan. Rasul ini tidak lagi bergantung pada latar belakang keluarganya sebagai orang Yahudi tulen atau pendidikannya yang tinggi. Yang terpenting bagi Paulus adalah hubungannya dengan Kristus. Dampak pelayanan Paulus sangat luar biasa dalam waktu yang relatif singkat. Tom Jacobs SY mengatakan: "Rancangan misinya yang luas, dan terutama kekuatan pandangan teologis yang dikembangkan dalam karangan yang ditulisnya secara kebetulan, yakni surat-surat yang ditujukan kepada gereja-gereja yang didirikannya, merupakan peristiwa sejarah yang menentukan hidup Gereja Purba. Padahal kegiatan pokoknya berlangsung tidak lebih dari sepuluh tahun. " 19 Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun Paulus hanya melayani selama kurang lebih sepuluh tahun, hasil pelayanannya sangat mempengaruhi perkembangan gereja mulamula. Surat-surat yang ditulis Paulus kepada jemaat-jemaat yang didirikannya tidak hanya berfungsi sebagai nasihat praktis, tetapi juga menjadi dasar teologi yang kuat bagi kekristenan hingga saat ini. Konsep-konsep seperti keselamatan karena iman, kesatuan dalam tubuh Kristus, dan kehidupan Kristen yang praktis semuanya dijelaskan dengan mendalam dalam tulisantulisan Paulus. Bahkan hingga hari ini, ajaran-ajaran Paulus masih menjadi pedoman utama bagi gereja-gereja di seluruh dunia dalam memahami iman Kristen. Keistimewaan pelayanan Paulus juga terletak pada caranya menyesuaikan pendekatan misinya dengan berbagai kalangan. Ketika berhadapan dengan orang Yahudi. Paulus menggunakan latar belakang pendidikan agamanya untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Sementara kepada orang non-Yahudi. Paulus menyampaikan Injil dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh budaya mereka. Strategi misi yang fleksibel ini memungkinkan Injil dapat diterima oleh berbagai suku dan bangsa, sehingga kekristenan tidak hanya terbatas pada komunitas Yahudi saja tetapi menyebar ke seluruh dunia. Prinsip Misi Rasul Paulus dalam 1 Korintus 19:19-23 Dalam perjalanan pelayanan misinya yang luar biasa. Rasul Paulus menunjukkan pendekatan yang revolusioner dalam mengomunikasikan Injil kepada berbagai kalangan Salah satu prinsip misi yang paling mendasar dan relevan hingga kini dapat ditemukan dalam 1 Korintus 9:19-23, di mana Paulus mengungkapkan filosofi pelayanannya yang fleksibel namun berprinsip. Dalam perikop ini. Paulus menyatakan dirinya telah "menjadi hamba semua orang" dan "menjadi segala-galanya bagi semua orang" demi memenangkan Tom Jacob. Tom Jacobs. Paulus: Hidup. Karya Dan Teologinya, 1983. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 sebanyak mungkin jiwa bagi Kristus. Prinsip kontekstualisasi yang diajarkan Paulus ini menunjukkan bagaimana seorang pelayan Tuhan dapat beradaptasi dengan budaya dan latar belakang audiens tanpa mengorbankan integritas pesan Injil. Pemahaman yang mendalam terhadap prinsip misi Paulus dalam perikop ini tidak hanya memberikan wawasan teologis yang kaya, tetapi juga menawarkan panduan praktis bagi pelayanan misi kontemporer dalam menghadapi tantangan kemajemukan budaya dan konteks sosial yang beragam. Prinsip pertama, pengorbanan. Dalam nats 1 Korintus 9:19-23, terdapat beberapa prinsip yang dapat dipelajari untuk misi. Dalam pasal 19 dapat dilihat bahwa terdapat prinsip pengorbanan yang dilakukan Paulus dalam pelayanan misi. en dimulai dari posisi kebebasan, bukan keterpaksaan. Sebagaimana Paulus mengatakan bahwa 'Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang,'" ini menunjukkan bahwa pengorbanan yang bermakna lahir dari kondisi bebas - baik secara rohani, sosial, maupun "Pernyataan Paulus, 'aku menjadikan diriku hamba dari semua orang' adalah penekanan pada tugas dan tanggung jawab Kristen sebagai hamba Kristus untuk memberitakan Injil kabar baik dalam setiap area kehidupan di setiap masa, setiap zaman dan setiap " 20 Paulus memiliki hak dan kebebasan penuh sebagai rasul, namun ia secara sadar memilih untuk membatasi kebebasannya demi tujuan yang lebih besar. Yang membuat pengorbanan Paulus istimewa adalah sifatnya yang sukarela dan penuh kesadaran. melakukan bagi dirinya sendiri bukan karena terpaksa tetapi secara sukarela. 21 Dalam konteks misi Kristen, pengorbanan yang tulus harus lahir dari hati yang rela, bukan karena dipaksa keadaan atau tekanan dari luar. "Paulus dengan sengaja menaklukkan diri seperti orang yang akan dijangkaunya, tujuannya bukan untuk mendukung cara hidup orang-orang yang belum percaya tersebut melainkan untuk memenangkan mereka ke dalam iman Kristen. "22 Hanya pengorbanan yang sukarela dan strategis yang dapat berkelanjutan dan bermakna dalam jangka panjang, karena didasari oleh kasih dan visi yang jelas. Ketika Paulus melakukan dirinya sebagai seorang hamba. Hal itu menunjukkan perubahan sikapnya dalam melayani. Karena Paulus ingin memisahkan jurang pemisah antara orang-orang kaya dengan hamba yang ada dalam jemaat Korintus . Kor 4:6-. 23 Ketika mengorbankan kebebasan pribadi untuk melayani orang lain, justru mendapatkan kebebasan yang lebih besar untuk menjangkau lebih banyak jiwa dan mengatasi hambatan sosial. Seperti yang ditunjukkan Paulus. Ayub Rusmanto. Wahyu Lasut, dan Slamet Jariyanto, "Intensitas Pemberitaan Injil Berdasarkan Kajian Teologis 1 Korintus 9:19-23 Di Tengah-Tengah Zaman Digital," SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 14, no. 2 (November 2. : 178-190. hulu, ardianus. PELAYANAN KONTEKSTUAL RASUL PAULUS DITINJAU DARI 1 KORINTUS 9:19-23. Jurnal Teologi Biblika, 6. Yohanes Andi. Oktavina Tola. Yabes Doma, dan I Ketut Gede Suparta, "Strategi Misi Lintas Budaya Berdasarkan 1 Korintus 9:19-23," Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. : 57-66. Jhon Leonardo Presley Purba dan Sari Saptorini, "Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia," Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 2, no. : 171-184. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Pengorbanan materi justru membebaskan pelayanannya dari berbagai tekanan dan kepentingan yang dapat mengganggu kemurnian penyampaian Injil. Pada akhirnya, semua pengorbanan ini memiliki tujuan yang sangat jelas dan mulia, yaitu "supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. " Prinsip pengorbanan dalam misi Kristen bukanlah tentang menjadi korban atau menderita tanpa tujuan, melainkan tentang strategi pelayanan yang efektif untuk menjembatani kesenjangan sosial dan budaya. Setiap pengorbanan harus dievaluasi berdasarkan kontribusinya terhadap misi membawa lebih banyak orang kepada Kristus. Dengan demikian, pengorbanan menjadi investasi rohani yang menghasilkan buah kekal bagi Kerajaan Allah. Prinsip Kedua. Adaptis. Tidak berhenti dalam 1 Korintus 9:19, pada ayat kedua puluh Paulus juga menunjukkan prinsip keterbukaan dalam pelaksanaan misinya. Ketika Paulus berkata "bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku dapat memenangkan orang-orang Yahudi," ia mendemonstrasikan sikap terbuka terhadap budaya dan cara hidup orang Prinsip keterbukaan ini berarti Paulus bersedia memahami, menghargai, dan menyesuaikan diri dengan kebiasaan orang-orang yang dilayaninya, asalkan tidak melanggar ajaran Injil. Keterbukaan Paulus bukan berarti berkompromi dengan imannya, tetapi menunjukkan kasih dan empati yang tulus kepada orang-orang yang ingin dijangkaunya. Dengan sikap terbuka ini. Paulus membuktikan bahwa pelayanan misi yang berhasil memerlukan hati yang rendah hati dan kesediaan untuk belajar dari budaya lain, sehingga pesan Injil dapat disampaikan dengan cara yang mudah dipahami dan diterima oleh berbagai kalangan masyarakat. Strategi "menjadi seperti" yang digunakan Paulus memiliki makna yang mendalam. "Kata 'menjadi' pada ayat 20-22 berasal dari kata aAU . yang memiliki kata dasar penggunaan kata aAU . lebih tepat diterjemahkan dengan makna 'mengubah natur menjadi'". 24 Ini menunjukkan bahwa keterbukaan Paulus bukan sekadar perubahan permukaan, tetapi transformasi yang mendalam dalam cara dia memahami dan berinteraksi dengan budaya yang berbeda. Keterbukaan ini memiliki tujuan yang sangat strategis dalam pelayanan kepada orang Yahudi. "Upaya dan usaha Paulus untuk memenangkan orangorang non Yahudi atau bangsa lain dengan ungkapan 'menjadi seperti'. Paulus menggunakan cara atau metode yang relevan kehidupan menjadi sama dengan budaya setempat untuk memenangkan etnis tersebut". 25 Paulus memahami bahwa untuk menjangkau berbagai kelompok masyarakat, diperlukan pendekatan yang relevan dengan konteks budaya mereka. Dalam praktiknya, keterbukaan Paulus terhadap orang non-Yahudi menunjukkan fleksibilitas yang luar biasa. "Paulus bernalar seperti para filsuf pagan dan melakukan kebiasaan orang-orang non Yahudi seperti memakan daging yang dipersembahkan sebagai korban persembahanan kepada dewa-dewa pagan untuk kepentingan menyampaikan Injil dan hulu, ardianus. PELAYANAN KONTEKSTUAL RASUL PAULUS DITINJAU DARI 1 KORINTUS 9:19-23. Jurnal Teologi Biblika, 6. Ayub Rusmanto. Wahyu Lasut, dan Slamet Jariyanto, "Intensitas Pemberitaan Injil Berdasarkan Kajian Teologis 1 Korintus 9:19-23 Di Tengah-Tengah Zaman Digital," SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 14, no. 2 (November 2. : 178-190. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 memenangkan orang non Yahudi kepada Kristus". 26 Meskipun tindakan ini menuai kritik dari sesama orang Yahudi. Paulus tetap konsisten dengan prinsip keterbukaan demi efektivitas Yang paling menginspirasi dari keterbukaan Paulus adalah karakternya yang inklusif. "Paulus mau mengikuti budaya-budaya orang yang dilayani tanpa menghakimi budaya mereka. Tetapi Paulus mau memahami budaya orang yang dilayani dan ia berusaha mencari 27 Keterbukaan ini bukan tentang kompromi iman, tetapi tentang membangun jembatan komunikasi yang efektif untuk menyampaikan Injil dengan cara yang dapat dipahami dan diterima oleh berbagai kalangan. Dengan demikian, prinsip keterbukaan dalam misi Kristen menurut Paulus adalah kemampuan untuk beradaptasi secara budaya tanpa kehilangan integritas iman, sehingga pesan Injil dapat disampaikan secara efektif kepada semua orang dari berbagai latar belakang. Prinsip ketiga, motivasi. Prinsip motivasi menjadi dasar yang menggerakkan semua tindakan Paulus dalam pelayanan misinya. Pada setiap ayat dalam perikop 1 Korintus 9:19-23. Paulus selalu menekankan tujuan akhir dari semua pengorbanan dan adaptasinya, yaitu "supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" atau "supaya aku dapat memenangkan" kelompok-kelompok tertentu. Motivasi ini bukan sekadar keinginan untuk menambah jumlah orang percaya, tetapi dorongan yang lahir dari kasih yang mendalam kepada Kristus dan kepada jiwa-jiwa yang belum mengenal keselamatan. Paulus memahami bahwa setiap langkah yang diambilnya dalam pelayanan harus memiliki tujuan yang jelas dan terarah, yaitu membawa sebanyak mungkin orang kepada iman dalam Kristus. Motivasi yang benar dalam pelayanan misi tidak muncul dari kewajiban atau paksaan, tetapi dari kerinduan yang tulus untuk melihat orangorang mengalami transformasi hidup melalui Injil. Motivasi Paulus bersifat inklusif dan tidak diskriminatif terhadap kelompok mana pun. Baik kepada orang Yahudi, orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat, orang-orang yang hidup di luar hukum Taurat, maupun orang-orang yang lemah. Paulus memiliki satu motivasi yang sama: memenangkan mereka bagi Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan misi yang efektif harus didorong oleh kasih yang tidak memandang latar belakang, status sosial, atau perbedaan budaya seseorang. Paulus rela melakukan apa pun yang diperlukan, termasuk mengorbankan kenyamanan dan kebebasannya, demi tujuan yang lebih besar ini. Motivasi yang kuat inilah yang membuat Paulus tetap konsisten dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan dan kritikan dalam pelayanannya. Dengan demikian, prinsip motivasi dalam misi Kristen mengajarkan bahwa setiap tindakan pelayanan harus dievaluasi berdasarkan sejauh mana kontribusinya terhadap tujuan utama membawa jiwa-jiwa kepada Kristus, sehingga pelayanan misi menjadi investasi rohani yang menghasilkan buah kekal bagi Kerajaan Allah. Jhon Leonardo Presley Purba dan Sari Saptorini, "Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia," Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 2, no. : 171-184. Yohanes Andi. Oktavina Tola. Yabes Doma, dan I Ketut Gede Suparta, "Strategi Misi Lintas Budaya Berdasarkan 1 Korintus 9:19-23," Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. : 57-66. HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Relevansi Bagi Misi Kontemporer Dalam dunia yang semakin beragam dan kompleks seperti saat ini, gereja menghadapi tantangan besar dalam menjalankan misi pemberitaan Injil. Berbagai perbedaan budaya, bahasa, tradisi, dan cara pandang hidup menjadi tembok pemisah yang harus dihadapi para pelayan Tuhan. Di tengah situasi seperti ini, kita dapat belajar dari strategi misi yang diterapkan oleh Rasul Paulus ribuan tahun yang lalu. Dalam surat 1 Korintus 9:19-23. Paulus menyampaikan prinsip misi yang revolusioner: "Aku menjadi segala-galanya bagi semua orang, supaya bagaimanapun juga aku dapat menyelamatkan beberapa orang di antara mereka. " Prinsip ini bukan hanya relevan pada zamannya, tetapi juga sangat penting untuk diterapkan dalam pelayanan misi masa kini. Relevansi prinsip misi pertama, prinsip pengorbanan. Prinsip pengorbanan dalam misi Rasul Paulus tercermin jelas dalam sikapnya yang rela melepaskan hak-hak pribadi demi kepentingan pelayanan. "Meskipun Paulus menjadikan dirinya seorang hamba dalam ayat 19, sebenarnya Paulus sedang menyesuaikan atau menyamakan dirinya dengan orang-orang yang sedang ia layani. Hilyer mengatakan bahwa Paulus melakukan sikap tersebut sebagai kerendahan hati yang sederhana sebagai seorang rasul. "28 Sikap ini menunjukkan bahwa Paulus dengan sengaja menempatkan dirinya dalam posisi yang lebih rendah untuk dapat melayani dengan lebih efektif. Pengorbanan Paulus bukan hanya dalam hal status sosial, tetapi juga dalam hal kebebasan pribadi. "Paulus dengan sengaja tidak menggunakan kebebasannya dan berhati-hati untuk tidak meletakkan batu sandungan di jalan orang-orang yang lemah . Kor. Sebagai orang merdeka. Paulus menyangkal dirinya demi orang-orang lemah, untuk mendapatkan perhatian, kasih sayang dan jiwa mereka. "29 Dalam konteks misi kontemporer, prinsip pengorbanan ini mengajarkan bahwa pelayan Tuhan harus rela melepaskan kenyamanan dan hak-hak pribadi untuk mencapai orang-orang yang belum percaya. Relevansi prinsip pengorbanan dalam misi masa kini terlihat pada kebutuhan untuk melepaskan gaya hidup yang mewah, meninggalkan zona nyaman, dan bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga demi pelayanan misi. Para misionaris modern perlu memiliki sikap seperti Paulus yang rela menjadi hamba bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, atau budaya mereka. Dalam era globalisasi ini, prinsip pengorbanan menjadi semakin penting karena misionaris sering kali harus meninggalkan kemudahan teknologi, fasilitas kesehatan yang memadai, dan sistem pendidikan yang baik untuk melayani di daerah terpencil atau negara berkembang. Mereka juga harus siap mengorbankan karier yang menjanjikan, stabilitas finansial, dan pengakuan sosial demi menjangkau jiwa-jiwa yang belum mengenal Kristus. Pengorbanan ini tidak hanya bersifat material, tetapi juga emosional dan psikologis, seperti menghadapi penolakan, persekusi, atau kesepian di tempat pelayanan. Namun, seperti Paulus yang melihat pengorbanannya sebagai Yohanes Andi. Oktavina Tola. Yabes Doma, dan I Ketut Gede Suparta, "Strategi Misi Lintas Budaya Berdasarkan 1 Korintus 9:19-23," Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. : 57-66. Jhon Leonardo Presley Purba dan Sari Saptorini, "Metode Penginjilan Paulus dalam Perspektif 1 Korintus 9:19-23 Terhadap Masyarakat Multikultural dan Implikasinya Terhadap Penginjilan di Indonesia," Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kriste. 2, no. : 171-184 HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 investasi untuk kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa, misionaris kontemporer perlu memahami bahwa pengorbanan mereka memiliki nilai kekal yang jauh melampaui kehilangan sementara yang mereka alami. Prinsip Misi kedua, prinsip adaptis. keterbukaan Paulus tampak dalam kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kelompok masyarakat tanpa kehilangan integritas iman. "Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Paulus menyesuaikan diri dengan konteks dimanapun dia memberitakan Injil. "30Keterbukaan ini bukan berarti kompromi terhadap kebenaran, melainkan fleksibilitas dalam pendekatan dan metode. Sikap keterbukaan Paulus juga tercermin dalam cara dia memahami dan menghargai budaya setempat. "Upaya dan usaha Paulus untuk memenangkan orang-orang non Yahudi atau bangsa lain dengan ungkapan "menjadi seperti". Paulus menggunakan cara atau metode yang relevan kehidupan menjadi sama dengan budaya setempat untuk memenangkan etnis tersebut. Tuhan Yesus telah memberi teladan yang sama di mana Ia datang ke dunia menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkan manusia. "31 Ini menunjukkan bahwa keterbukaan Paulus memiliki dasar teologis yang kuat, yaitu mengikuti teladan Kristus yang berinkarnasi. Dalam konteks misi kontemporer, prinsip keterbukaan mengajarkan pentingnya memahami budaya lokal, belajar bahasa setempat, dan menghargai nilai-nilai positif yang ada dalam masyarakat target misi. Para pelayan misi masa kini perlu memiliki sikap terbuka terhadap perbedaan budaya, adat istiadat, dan cara berpikir masyarakat yang dilayani, sambil tetap mempertahankan kebenaran Injil yang tidak berubah. Di era multikultural saat ini, prinsip keterbukaan Paulus menjadi sangat relevan karena dunia semakin terhubung namun sekaligus semakin beragam. Misionaris modern harus mampu beradaptasi dengan teknologi digital, media sosial, dan platform komunikasi baru untuk menjangkau generasi muda yang terbiasa dengan dunia virtual. Mereka juga perlu memahami dinamika masyarakat urban yang individualistik sekaligus masyarakat rural yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai komunal. Keterbukaan ini juga mencakup kemampuan untuk berdialog dengan berbagai agama dan kepercayaan, memahami isu-isu kontemporer seperti lingkungan hidup, keadilan sosial, dan hak asasi manusia, serta menggunakan pendekatan yang relevan dengan konteks zaman tanpa mengurangi esensi pesan Injil. Seperti Paulus yang dapat berdiskusi dengan para filsuf Yunani menggunakan bahasa dan pemikiran mereka, misionaris masa kini harus mampu berkomunikasi dengan berbagai kalangan menggunakan pendekatan yang mereka pahami dan terima. Kedua prinsip ini - pengorbanan dan keterbukaan - tetap sangat relevan dalam misi kontemporer karena dunia saat ini semakin beragam dan kompleks. Para misionaris modern perlu memiliki sikap seperti Paulus yang rela berkorban dan terbuka terhadap perbedaan, namun tetap teguh dalam iman dan komitmen terhadap misi memberitakan Injil kepada semua bangsa. hulu, ardianus. PELAYANAN KONTEKSTUAL RASUL PAULUS DITINJAU DARI 1 KORINTUS 9:19-23. Jurnal Teologi Biblika, 6. Ayub Rusmanto. Wahyu Lasut, dan Slamet Jariyanto, "Intensitas Pemberitaan Injil Berdasarkan Kajian Teologis 1 Korintus 9:19-23 Di Tengah-Tengah Zaman Digital," SCRIPTA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kontekstual 14, no. 2 (November 2. : 178-190 HYMNOS: Jurnal Teologi dan Keagamaan Kristen 2 . 2025 Relevansi prinsip ketiga, motivasi. Prinsip motivasi yang diterapkan paulus tetap relevan bagi pelayanan misi masa kini karena setiap kegiatan gereja harus dievaluasi berdasarkan kontribusinya terhadap tujuan utama membawa orang kepada kristus. Di era digital saat ini, banyak pelayanan terjebak dalam mengejar popularitas dan jumlah pengikut, bukan transformasi jiwa yang sejati. Dengan motivasi yang benar seperti paulus, setiap pengorbanan akan dilihat sebagai investasi kekal dan setiap tantangan menjadi peluang untuk lebih mengandalkan kekuatan allah dalam pelayanan misi. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip misi Rasul Paulus dalam 1 Korintus 9:19-23 sangat relevan untuk diterapkan dalam pelayanan misi masa kini. Paulus mengajarkan tiga prinsip utama yang masih berlaku hingga sekarang. Prinsip pertama adalah kemerdekaan, di mana Paulus dengan sukarela melepaskan hak dan kebebasannya sebagai rasul untuk melayani semua orang tanpa terkecuali. Meskipun bebas, ia memilih menjadi hamba bagi semua orang demi memenangkan sebanyak mungkin jiwa bagi Kristus. Prinsip kedua adalah adaptasi, di mana Paulus menyesuaikan dirinya dengan budaya dan cara hidup orang-orang yang dilayaninya "menjadi seperti orang Yahudi bagi orang Yahudi" dan "menjadi seperti orang non-Yahudi bagi orang non-Yahudi" - tanpa mengorbankan kebenaran Injil. Prinsip ketiga adalah motivasi, di mana setiap pengorbanan dan adaptasi yang dilakukan Paulus memiliki tujuan yang jelas yaitu memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus. Dalam konteks misi masa kini, ketiga prinsip ini tetap sangat penting karena dunia semakin beragam dan kompleks. Para pelayan misi modern perlu menerapkan prinsip kemerdekaan dengan rela meninggalkan zona nyaman, kemewahan, dan bahkan karier yang menjanjikan demi melayani di daerah terpencil atau menghadapi tantangan persekusi. Prinsip adaptasi mengharuskan misionaris untuk memahami dan beradaptasi dengan budaya lokal, teknologi digital, media sosial, serta berbagai cara berpikir masyarakat modern, sambil tetap mempertahankan esensi pesan Injil. Sementara prinsip motivasi mengingatkan gereja masa kini untuk mengevaluasi setiap kegiatan pelayanan berdasarkan kontribusinya terhadap tujuan utama membawa orang kepada Kristus, bukan sekadar mengejar popularitas atau jumlah pengikut di era digital. Pendekatan "menjadi segalagalanya bagi semua orang" yang diajarkan Paulus bukan berarti berkompromi dengan iman, melainkan strategi yang bijaksana untuk membangun jembatan komunikasi yang efektif dalam menyampaikan Kabar Baik kepada berbagai kalangan masyarakat. Dengan demikian, ketiga prinsip misi Paulus - kemerdekaan, adaptasi, dan motivasi - menjadi fondasi yang kokoh bagi pelayanan misi kontemporer yang efektif dan tetap setia pada panggilan Amanat Agung Kristus. Daftar Pustaka