Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 MODERNISASI MANAJEMEN KURIKULUM DALAM PERSPEKTIF PEMIKIRAN PENDIDIKAN MUHAMMAD ABDUH : ANALISIS KONSEP DAN IMPLIKASINYA Zidni Ilman NZ Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Buntet Pesantren Cirebon zidni@stit-buntetpesantren. Abstract This study aims to analyze the implementation of curriculum management modernization from the perspective of Muhammad Abduh's educational thought and its implications for curriculum management practices in Indonesia. A qualitative case study approach was employed to explore the phenomenon in the context of Islamic education. Data was collected through semi-structured interviews, participatory observation, and documentation, involving 10 informants selected via purposive sampling from madrasahs and pesantrens in Java and Sumatra. The main findings of this study reveal three key themes: first, the integration of Islamic values with modern knowledge. second, managerial challenges in curriculum practice that are trapped in bureaucratic traditions. and third, the modernization of teaching methods through technology hindered by the digital divide. These findings confirm the importance of a more flexible managerial modernization, strengthening educational leadership capacity, and enhancing teachers' technological competencies to optimize the implementation of curricula based on religious values and science. This study contributes to a deeper understanding of the application of Muhammad Abduh's educational thought in Islamic curriculum contexts and offers recommendations for further research on the impact of teacher technology training in Islamic education in Indonesia. Keywords: curriculum management. Muhammad Abduh, educational modernization. Islamic education, technology integration Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan modernisasi manajemen kurikulum dalam perspektif pemikiran pendidikan Muhammad Abduh, serta implikasinya bagi praktik pengelolaan kurikulum di Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah studi kasus kualitatif, yang memungkinkan penelitian untuk mengeksplorasi fenomena dalam konteks pendidikan Islam. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan dokumentasi dengan melibatkan 10 informan yang dipilih melalui purposive sampling dari madrasah dan pesantren di Jawa dan Sumatra. Temuan utama penelitian ini mencakup tiga tema: pertama, integrasi nilai-nilai Islam dengan ilmu pengetahuan modern. kedua, kendala dalam praktik manajerial kurikulum yang terperangkap dalam tradisi birokratis. ketiga, pembaruan metode pembelajaran berbasis teknologi yang masih terbentur oleh kesenjangan digital. Temuan ini mengonfirmasi pentingnya modernisasi manajerial yang lebih fleksibel, penguatan kapasitas kepemimpinan pendidikan, serta peningkatan kompetensi teknologi bagi guru untuk mengoptimalkan implementasi kurikulum berbasis nilai-nilai agama dan sains. Penelitian ini berkontribusi dalam memperdalam pemahaman tentang penerapan pemikiran Muhammad Abduh dalam Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 konteks kurikulum pendidikan Islam, dan memberikan saran untuk penelitian lebih lanjut tentang pengaruh pelatihan teknologi guru dalam pendidikan Islam di Indonesia. Kata Kunci: manajemen kurikulum. Muhammad Abduh, modernisasi pendidikan, pendidikan Islam, integrasi teknologi PENDAHULUAN Perubahan sosial, teknologi, dan pasar kerja menekan sistem pendidikan untuk bergerak Kurikulum tidak lagi cukup diperbarui pada level dokumen. Sekolah dan perguruan tinggi pengorganisasian, pelaksanaan, hingga evaluasi. Studi kualitatif lintas konteks menunjukkan bahwa reformasi kurikulum sering gagal bukan karena ide reformnya lemah, tetapi karena kepemimpinan instruksional, koordinasi, dan praktik manajerial di tingkat satuan pendidikan tidak siap menghadapi kompleksitas perubahan. (Ralebese. Jita, & Badmus, 2. Di tingkat global, arah modernisasi manajemen kurikulum bergerak ke dua tuntutan yang berjalan bersamaan. Pertama, tuntutan relevansi kurikulum harus responsif terhadap kebutuhan abad ke-21. Kedua, tuntutan konteks kurikulum harus peka pada budaya, pengetahuan lokal, serta struktur sosial peserta didik. Ketegangan antara standar dan konteks ini memaksa organisasi pendidikan memperkuat tata kelola kurikulum, memperjelas peran aktor, dan menata mekanisme umpan balik berbasis bukti. (Ramli. Razali. Gadeng. Diana, & Hariadi, 2. Dalam konteks nasional Indonesia, kebijakan Merdeka Belajar mendorong fleksibilitas, otonomi, dan inovasi kurikulum. Namun praktik di lapangan masih menunjukkan problem manajerial yang spesifik. Penelitian kualitatif di Aceh, misalnya, menggambarkan inovasi kurikulum melalui integrasi pengetahuan lokal di bawah kerangka Merdeka Belajar. Penelitian itu memakai wawancara semi-terstruktur dan FGD dengan 100 partisipan . osen, pengembang kurikulum, dan pengambil kebijaka. Temuan mereka menonjolkan hambatan yang sangat AumanajerialAy: pedoman institusional yang terbatas, pelatihan pedagogik yang belum memadai, serta sistem akreditasi yang lebih menekankan indikator standar dibanding relevansi lokal. Pola ini menunjukkan bahwa modernisasi kurikulum memerlukan modernisasi manajemennyaAibukan hanya inovasi konten. (Ramli et al. , 2. Ketika satuan pendidikan tidak menata proses manajemen kurikulum, beban perubahan jatuh langsung ke guru dan pengelola kelas. Bukti sintesis mutakhir juga menguatkan masalah ini. Sebuah systematic literature review untuk level SMP . entang artikel 2020Ae2. melaporkan hambatan dominan pada rendahnya pemahaman guru atas konsep inti seperti diferensiasi, asesmen formatif, dan pengembangan modul ajar, ditambah keterbatasan fasilitas-teknologi serta minimnya pelatihan dan pendampingan berkelanjutan. Temuan ini menegaskan satu titik: Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 perubahan kurikulum butuh sistem dukungan yang dirancang, dijalankan, dan dievaluasi bukan sekadar disosialisasikan. (Nissa & Sagita, 2. Pada saat yang sama, diskursus modernisasi manajemen kurikulum dalam pendidikan Islam menghadapi tantangan ganda. Lembaga pendidikan Islam perlu menjaga identitas nilai, tetapi juga harus membangun kapasitas sains, literasi, dan daya saing. Di titik ini, pemikiran pendidikan Muhammad Abduh relevan karena ia menekankan penolakan taqlid, penguatan nalar-kritis, integrasi ilmu agama dan ilmu modern, serta pembaruan institusi dan bahan ajar agar lebih objektif dan dialogis. Studi kontemporer tentang Abduh juga menyebutkan implikasinya bagi pengembangan kurikulum madrasah dan pesantren, peningkatan kompetensi guru, dan modernisasi metode belajar agar adaptif terhadap tantangan abad ke-21. (Akbar. Alkhadafi, & Muzammil, 2. Namun riset yang ada masih menyisakan kekosongan penting. Studi-studi implementasi kurikulum di Indonesia banyak memotret aspek teknis dan kendala operasional, tetapi jarang menautkan persoalan itu dengan kerangka filosofis yang memandu keputusan manajerial Sebaliknya, kajian tentang Abduh cenderung berhenti pada level konseptual dan library-based, lalu belum cukup menggali bagaimana gagasan Abduh dapat diterjemahkan menjadi prinsip-prinsip manajemen kurikulum yang operasional misalnya prinsip pengambilan keputusan kurikulum, desain tata kelola, serta mekanisme evaluasi dan perbaikan berkelanjutan dalam institusi pendidikan. Literatur juga menegaskan kebutuhan membaca ulang reformisme Abduh sebagai basis pembaruan kelembagaan yang rasional dan kontekstual. (Akbar et al. , 2. Karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis konsep modernisasi manajemen kurikulum dalam perspektif pemikiran pendidikan Muhammad Abduh dan memetakan implikasinya bagi praktik pengelolaan kurikulum di Indonesia. Fokus kajian diarahkan pada . konsep-konsep kunci Abduh yang relevan untuk tata kelola kurikulum misalnya integrasi ilmu, nalar-kritis, dan pembaruan institusi. implikasi praktisnya bagi perencanaan kurikulum, pengembangan bahan ajar, penguatan kompetensi guru, dan evaluasi kurikulum berbasis bukti. Pendekatan kualitatif memungkinkan penelitian ini menafsirkan makna dan logika di balik gagasan Abduh, lalu menjembatani gagasan itu dengan kebutuhan proses manajerial kontemporer. Dalam studi kualitatif, peneliti juga perlu menjaga trustworthiness melalui strategi seperti transparansi prosedur, koherensi interpretasi, dan jejak analitik yang dapat ditelusuri. (Stahl & King, 2. Tinjawan Pustaka/Landasan Tiori Dalam konteks modernisasi manajemen kurikulum, teori utama yang relevan adalah teori prinsip-prinsip pengorganisasian, pelaksanaan, serta evaluasi kurikulum. Manajemen kurikulum sebagai sistem melibatkan berbagai aktor dan tahap yang perlu diintegrasikan secara efektif agar dapat mendukung pencapaian tujuan pendidikan. Menurut Glickman. Gordon, & Ross-Gordon . , manajemen kurikulum mengarah pada penciptaan kurikulum yang fleksibel dan responsif Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 terhadap kebutuhan peserta didik, perkembangan masyarakat, serta perubahan teknologi. Salah satu aspek penting yang disoroti dalam manajemen kurikulum adalah tata kelola yang melibatkan pengambilan keputusan berbasis bukti dan pendekatan kolaboratif antar stakeholders. Penelitian oleh Ramli et al. tentang integrasi pengetahuan lokal dalam kurikulum di Aceh juga menegaskan pentingnya pengelolaan kurikulum yang melibatkan pemangku kepentingan untuk menghasilkan kurikulum yang lebih kontekstual dan relevan. Pendekatan manajerial ini juga perlu berlandaskan pada kesadaran bahwa setiap keputusan kurikulum harus dipengaruhi oleh faktor budaya dan kebutuhan sosial setempat. Teori kedua yang sangat relevan dalam penelitian ini adalah pemikiran pendidikan Muhammad Abduh, yang memberikan perspektif penting dalam peran pendidikan dalam pembaruan sosial. Abduh menekankan pentingnya integrasi antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, serta penolakan terhadap taqlid . radisi yang tidak kriti. Menurut Abduh, pendidikan harus berfungsi untuk mencerdaskan nalar dan mempersiapkan individu untuk berpartisipasi dalam masyarakat secara produktif (Akbar et al. , 2. Konsep ini sangat relevan dalam konteks manajemen kurikulum modern, yang harus menciptakan kurikulum yang tidak hanya berisi informasi tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis. Oleh karena itu, pendidikan dalam perspektif Abduh menuntut modernisasi kurikulum dengan memasukkan nilai-nilai agama yang mampu bersinergi dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Penelitian oleh Liddiana et al. menunjukkan bahwa pemikiran Abduh memiliki potensi besar untuk diterapkan dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam yang lebih relevan dan Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk modernisasi kurikulum dalam konteks pendidikan Islam, gap yang signifikan masih ada dalam implementasi praktis kurikulum berbasis pemikiran Abduh. Beberapa studi menunjukkan bahwa meskipun konsep integrasi agama dan ilmu pengetahuan sudah menjadi perhatian dalam teori pendidikan Islam, implementasinya dalam manajemen kurikulum masih terhambat oleh pendekatan yang lebih tradisional dan struktural. Penelitian oleh Nissa & Sagita . menyoroti kesenjangan dalam penerapan prinsip-prinsip modernisasi kurikulum di sekolah-sekolah yang didominasi oleh pandangan konservatif, di mana kurikulum masih didominasi oleh konten yang tidak memadai untuk mengembangkan nalar kritis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan teoretis dengan mengkaji bagaimana prinsip-prinsip pendidikan Muhammad Abduh dapat diterapkan dalam manajemen kurikulum yang modern, dan memberikan kontribusi terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus yang bertujuan untuk mendalami secara mendalam penerapan modernisasi manajemen kurikulum dalam konteks pendidikan Islam, khususnya yang berhubungan dengan pemikiran Muhammad Abduh. Pendekatan studi kasus Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengungkap fenomena yang terjadi dalam konteks tertentu dengan memfokuskan pada satu atau beberapa kasus yang relevan (Yin, 2. Pendekatan ini cocok untuk penelitian ini karena memberikan kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai dimensi dalam penerapan teori pendidikan Abduh, serta mengidentifikasi tantangan dan praktik yang ada di lapangan. Hal ini juga memberikan pemahaman mendalam terkait interaksi antara teori dan praktik manajerial kurikulum di lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Lokasi penelitian ini dilakukan di beberapa madrasah dan pesantren di wilayah Jawa dan Sumatra. Indonesia, yang terlibat dalam penerapan kurikulum berbasis nilai-nilai Islam dan pendidikan modern. Waktu penelitian berlangsung selama 6 bulan, dari Januari hingga Juni 2025, untuk memungkinkan pengumpulan data yang cukup dan analisis mendalam. Peneliti memilih lokasi ini karena kedua wilayah tersebut memiliki implementasi pendidikan berbasis kurikulum Islam yang beragam, dengan beberapa lembaga yang sudah memulai penerapan prinsip modernisasi manajemen kurikulum dalam pengajaran. Pemilihan lokasi dilakukan dengan mempertimbangkan keberagaman praktik pendidikan yang relevan dengan topik penelitian. (Ramli et al. , 2. Subjek penelitian ini terdiri dari 10 informan yang terpilih melalui teknik purposive Teknik ini digunakan untuk memilih partisipan yang memiliki pengalaman dan pengetahuan yang relevan terkait topik penelitian, yaitu pengelola kurikulum, kepala madrasah, guru-guru, dan pengambil kebijakan pendidikan. Kriteria pemilihan informan adalah mereka yang terlibat langsung dalam perencanaan dan pengelolaan kurikulum di madrasah atau pesantren yang menerapkan sistem kurikulum berbasis nilai Islam dan modernisasi pendidikan. Selain itu, dilakukan juga snowball sampling untuk menemukan informan tambahan yang memiliki wawasan terkait dengan penerapan manajemen kurikulum dan pemikiran Muhammad Abduh. Teknik ini diharapkan dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam dan komprehensif dari berbagai sudut pandang informan yang berbeda (Nissa & Sagita, 2. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur yang berfokus pada pertanyaan terbuka mengenai pengalaman dan pandangan informan terkait penerapan modernisasi manajemen kurikulum dalam pendidikan Islam. Wawancara semi-terstruktur dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali informasi lebih mendalam, namun tetap memberi fleksibilitas kepada informan untuk mengungkapkan pandangan mereka secara bebas. Selain wawancara, data juga dikumpulkan melalui observasi partisipatif dalam kegiatan pembelajaran dan perencanaan kurikulum di lembaga-lembaga tersebut, untuk melihat langsung proses implementasi kurikulum. Dokumentasi juga digunakan untuk mengumpulkan data terkait dengan pedoman kurikulum, kebijakan pendidikan, dan materi ajar yang digunakan dalam kurikulum yang diterapkan. Triangulasi data dilakukan untuk memastikan keandalan dan validitas data dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi yang diperoleh (Stahl & King, 2. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis tematik yang memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang muncul dari data yang terkumpul. Analisis tematik membantu dalam mengorganisir dan menyajikan data yang kompleks dengan cara yang sistematis dan bermakna (Braun & Clarke, 2. Proses analisis dimulai dengan pengkodean terbuka, diikuti dengan pengkodean aksial untuk mengelompokkan dan menghubungkan kategorikategori yang relevan. Data yang telah dikelompokkan ini kemudian dianalisis lebih lanjut untuk menggali makna dan hubungan antar tema yang muncul, sesuai dengan teori pendidikan Muhammad Abduh. Selain itu, member checking dilakukan untuk memverifikasi temuan penelitian dengan para informan guna memastikan bahwa interpretasi yang diberikan akurat dan mencerminkan pandangan mereka. Proses validasi lainnya adalah audit trail, yang dilakukan Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 untuk memastikan bahwa langkah-langkah yang diambil dalam dipertanggungjawabkan dan transparan (Miles & Huberman, 2. HASIL DAN DISKUSI Penelitian ini mengidentifikasi tiga tema utama terkait penerapan modernisasi manajemen kurikulum dalam lembaga pendidikan Islam yang berlandaskan pada pemikiran Muhammad Abduh. Temuan-temuan utama penelitian ini berfokus pada integrasi antara nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan modern, kendala dalam praktik manajerial kurikulum, dan pembaruan metode pembelajaran berbasis teknologi. Integrasi Nilai-nilai Islam dan Ilmu Pengetahuan Modern Banyak partisipan, termasuk kepala madrasah dan pengembang kurikulum, menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai Islam dengan pengetahuan modern dalam kurikulum yang Seorang kepala madrasah di wilayah Sumatra mengatakan, "Kami mengajarkan sains dan teknologi, namun kami pastikan agar prinsip-prinsip Islam tetap menjadi landasan dalam setiap pelajaran. " Hal ini mencerminkan konsep Muhammad Abduh yang mengedepankan pendidikan yang menggabungkan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern, serta mendorong pembelajaran yang berbasis nalar-kritis dan penolakan terhadap taqlid. Proses integrasi ini terlihat dalam kurikulum yang berusaha menciptakan generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan yang luas, tetapi juga nilai-nilai yang mulia. Temuan ini sejalan dengan penelitian oleh Akbar. Alkhadafi, dan Muzammil . , yang menyoroti pentingnya pemikiran Abduh dalam merumuskan kurikulum pendidikan Islam yang lebih holistik. Praktik Manajerial yang Terkendala oleh Tradisi Tema kedua yang ditemukan adalah kendala dalam praktik manajerial kurikulum. Sejumlah partisipan mengungkapkan bahwa meskipun ada niat untuk melakukan modernisasi, banyak aspek manajerial yang masih terperangkap dalam tradisi yang lebih kaku dan birokratis. Seorang guru di Madrasah Aliyah menyatakan, "Kami sering terkendala oleh proses administratif yang lambat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan respons cepat. " Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada dorongan untuk perubahan kurikulum, praktik manajerial belum sepenuhnya mendukung pengelolaan kurikulum yang lebih fleksibel dan adaptif. Temuan ini senada dengan penelitian oleh Ramli et al. , yang menunjukkan bahwa sistem birokrasi yang lambat dapat menghambat implementasi kurikulum yang lebih dinamis dan responsif terhadap kebutuhan Pembaruan Metode Pembelajaran Temuan terkait dengan pembaruan metode pembelajaran berbasis teknologi menunjukkan adanya kemajuan, tetapi juga tantangan yang signifikan. Beberapa pesantren telah mulai menggunakan alat bantu pembelajaran digital, seperti e-learning dan aplikasi mobile, untuk mempermudah siswa mengakses materi pembelajaran. Namun, tidak semua lembaga memiliki fasilitas yang memadai, dan pengembangan kompetensi guru dalam memanfaatkan teknologi masih terbatas. Seperti yang dikatakan oleh seorang pengelola kurikulum, "Teknologi memberikan peluang besar, tapi pelatihan untuk guru-guru kami masih kurang. " Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun ada potensi besar dalam penggunaan teknologi, masih ada kesenjangan digital yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan efektivitas kurikulum berbasis Penelitian oleh Nissa & Sagita . juga mengungkapkan tantangan dalam implementasi teknologi di sekolah-sekolah Indonesia, termasuk dalam pendidikan Islam, yang mengharuskan adanya peningkatan pelatihan dan infrastruktur teknologi. Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Interpretasi Temuan Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memberikan gambaran mengenai tantangan dan peluang dalam modernisasi manajemen kurikulum berbasis nilai-nilai Islam dan pendidikan Integrasi kedua aspek ini, sesuai dengan pemikiran Muhammad Abduh, terbukti memberikan dampak positif dalam menciptakan kurikulum yang lebih relevan dengan perkembangan zaman, namun masih terdapat hambatan pada sisi manajerial dan teknis. Seperti yang ditegaskan oleh Akbar et al. , integrasi ilmu agama dan pengetahuan modern tidak hanya membentuk kurikulum yang holistik, tetapi juga menumbuhkan sikap kritis di kalangan peserta didik. Namun, seperti yang ditemukan dalam penelitian ini, praktik manajerial yang terhambat oleh tradisi menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan dan implementasi, yang harus segera diatasi agar reformasi pendidikan dapat berjalan dengan efektif. Implikasi Praktis dan Teoritis Temuan ini menawarkan wawasan penting bagi pengelolaan kurikulum di Indonesia, khususnya dalam konteks pendidikan Islam. Praktik manajerial yang lebih fleksibel dan berbasis pada kepemimpinan pendidikan yang adaptif sangat dibutuhkan untuk mendukung implementasi kurikulum yang berbasis pada teori pendidikan Abduh. Pembaruan metode pembelajaran, terutama dengan memanfaatkan teknologi, juga harus menjadi perhatian utama agar kurikulum dapat diakses secara merata oleh semua peserta didik. Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menggali pengaruh pelatihan guru dalam penerapan kurikulum berbasis teknologi dan nilai agama di berbagai tingkatan pendidikan. Penelitian ini juga menyarankan agar kebijakan pendidikan lebih fokus pada peningkatan kapasitas manajerial dan pengembangan kompetensi teknologi guru, yang merupakan faktor penting dalam keberhasilan modernisasi kurikulum di masa depan. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan tiga tema utama dalam penerapan modernisasi manajemen kurikulum berbasis pemikiran Muhammad Abduh di lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Pertama, integrasi nilai-nilai Islam dan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk menggabungkan keduanya, tantangan dalam menyelaraskan kurikulum tetap ada, terutama dalam hal teori dan praktik. Kedua, praktik manajerial yang terkendala oleh tradisi menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan pendidikan yang progresif dengan implementasi manajerial yang lambat dan birokratis. Ketiga, pembaruan metode pembelajaran berbasis teknologi memberikan kemajuan, namun kesenjangan digital dan kurangnya pelatihan untuk guru masih menjadi hambatan besar dalam pengembangan kurikulum yang efektif. Implikasi dari temuan ini adalah pentingnya penguatan kapasitas manajerial dalam pendidikan Islam untuk mendukung implementasi kurikulum yang lebih fleksibel dan berbasis pada nilai-nilai agama serta ilmu pengetahuan modern. Secara teoritis, penelitian ini memberikan kontribusi dalam memperdalam pemahaman tentang penerapan pemikiran Muhammad Abduh dalam konteks pendidikan Islam kontemporer, yang menekankan integrasi antara agama dan sains. Secara praktis, temuan ini menyoroti kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi guru dan infrastruktur teknologi dalam mendukung perubahan kurikulum di lembaga pendidikan Islam. Sebagai saran untuk penelitian lebih lanjut, studi lebih mendalam dapat dilakukan untuk mengeksplorasi pengaruh pelatihan profesional bagi guru dalam mengimplementasikan teknologi pendidikan dan evaluasi kurikulum berbasis nilai-nilai agama di tingkat pendidikan yang lebih Modernisasi Manajemen Kurikulum Dalam Perspektif Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh : Analisis Konsep dan Implikasinya Zidni Ilman NZ Tanzhimuna Vol 4. No 1. Juni 2024 E-ISSN:2807-968X P-ISSN:2808-0793 Penelitian semacam ini diharapkan dapat memperluas cakupan pemahaman mengenai tantangan dan solusi dalam modernisasi kurikulum pendidikan Islam di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA