Terbit Online pada laman web jurnal: http://ojs. id/index. php/Madiya/index Jurnal Ilmiah MADIYA Masyarakat Mandiri Berkarya Vol. 6 No. November 2025: 335-345 E-ISSN: 2775-779X Penguatan Kapasitas UMKM Tenun Ulos Melalui Edukasi dan Pendampingan Harga Pokok Produksi Dameria Naibaho. Bernadetta Anita Jerry Simbolon. Darmawati Simanjuntak. Arlina Purba. Eva Malina Simatupang Jurusan Akuntansi. Politeknik Negeri Medan. Medan. Indonesia. Email: damerianaibaho@polmed. bernadettaanita@polmed. darmawatisimanjuntak@polmed. arlinapurba@polmed. evamalina@polmed. Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan penenun ulos di Kecamatan Parbaba. Kabupaten Samosir, dalam menghitung harga pokok produksi (HPP) dan menyusun pencatatan biaya secara sistematis. Masalah utama yang dihadapi mitra adalah penetapan harga jual yang masih bersifat intuitif dan tidak berdasarkan perhitungan biaya yang akurat, sehingga berdampak pada rendahnya margin keuntungan. Kegiatan dilaksanakan melalui metode sosialisasi, pendampingan langsung, simulasi perhitungan biaya, serta diskusi kelompok bersama penenun lainnya. Hasil pendampingan menunjukkan bahwa mitra utama. Ibu Nanti Sipakkar, berhasil memahami komponen biaya secara lebih terstruktur, meliputi bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja langsung, dan penyusutan alat tenun. Format pencatatan sederhana yang diperkenalkan juga membantu penenun melakukan pembukuan manual tanpa ketergantungan perangkat digital. Selain itu, kegiatan menemukan bahwa sebagian besar penenun di kawasan tersebut belum memiliki sistem pencatatan biaya dan cenderung bergantung pada pengepul dalam menentukan harga jual. Dampak kegiatan tampak pada meningkatnya kemampuan mitra dalam menghitung HPP, memahami margin laba, serta merencanakan efisiensi produksi. Untuk keberlanjutan program, disarankan adanya pelatihan lanjutan mengenai digitalisasi pencatatan, strategi pemasaran berbasis media sosial, dan peningkatan kualitas produk agar lebih kompetitif di pasar yang lebih luas. Kata kunci: harga pokok produksi, penenun ulos. UMKM, pemberdayaan, manajemen biaya Abstract This community engagement program aims to enhance the managerial capacity of ulos weavers in Parbaba District. Samosir Regency, particularly in calculating the cost of goods manufactured (COGM) and implementing systematic cost recording practices. The main issue faced by the artisans is that product pricing is still based on intuition rather than accurate cost calculations, resulting in uncertain profit The program was carried out through socialization, hands-on mentoring, cost calculation simulations, and group discussions with local weavers. The results show that the main partner. Ibu Nanti Sipakkar, successfully gained a clearer understanding of cost components, including raw materials, indirect materials, direct labor, and depreciation of weaving tools. The introduction of a simple manual recording format also enabled the weavers to perform basic bookkeeping without relying on digital devices. Moreover, the activity revealed that most weavers in the area do not maintain any cost records and are heavily dependent on middlemen in determining product prices. The program significantly improved the MADIYA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Mandiri Berkarya Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 participantsAo ability to calculate production costs, understand profit margins, and plan production For sustainability, further training is recommended on digital bookkeeping, social mediaAebased marketing strategies, and product quality enhancement to strengthen competitiveness in broader markets. Keywords: cost of goods manufactured, ulos weaving. MSMEs, community empowerment, cost management. Corresponding author: E-mail address: damerianaibaho@polmed. A 2025 Author. All rights reserved. Pendahuluan* Indonesia merupakan negara yang kaya akan warisan budaya, salah satunya adalah kain tenun ulos yang berasal dari masyarakat Batak. Kain ini tidak hanya memiliki fungsi estetika, namun juga nilai filosofis yang mendalam. Ulos digunakan dalam berbagai upacara adat seperti kelahiran, pernikahan, dan kematian (Naibaho, 2. Sayangnya, potensi ekonomi dari ulos belum dimanfaatkan secara optimal oleh para penenun tradisional. UMKM sektor pertenunan, terutama di sekitar Danau Toba, berperan besar dalam menjaga warisan budaya dan mendukung perekonomian lokal (Mubarokah et al. , 2. Namun, masih banyak penenun yang belum memahami prinsip dasar pengelolaan usaha, khususnya dalam menghitung harga pokok produksi (HPP), mencatat biaya produksi, dan menentukan harga jual berbasis perhitungan. Penetapan harga masih berdasarkan intuisi, bukan kalkulasi rasional yang memperhitungkan biaya dan laba. Kondisi ini juga dialami oleh Ibu Nanti Sipakkar, seorang penenun di Kampung Ulos. memproduksi delapan jenis ulos dengan harga jual rata-rata di atas Rp3. 000, tetapi tidak mengetahui secara pasti besaran biaya yang dikeluarkan. Masalah ini berdampak pada rendahnya margin keuntungan dan ketidakmampuan dalam menilai efisiensi produksi. Sejalan dengan pendapat Sufaidah et al. , pemberdayaan UMKM harus dimulai dari penguatan kemampuan dasar manajemen usaha dan pencatatan keuangan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan memberikan edukasi dan pendampingan mengenai penghitungan HPP dan pencatatan sederhana bagi mitra penenun. Kampung Ulos Huta Raja adalah sebuah kawasan wisata di tepian Danau Toba, khusus pembuatan kain ulos khas Batak, dengan latar belakang Rumah Bolon, dan proses manual pembuatan ulos. Kampung Ulos ini berada di desa Lumban Suhi Suhi Toruan, kecamatan Pangururan. Kabupaten Samosir, provinsi Sumatera Utara. Setelah direvitalisasi. Kampung Ulos Huta Raja diresmikan oleh presiden Indonesia Joko Widodo, pada 2 Februari 2022. Proyek penataan Kampung Ulos Huta Raja bersamaan dengan penataan Huta Siallagan di Simanindo. Kampung Ulos ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Samosir. Kampung Ulos dibuat oleh Kementrian PUPR (Revitalisas. Kampung Ulos merupakan jenis objek wisata adat, dan bergaya Batak Toba. Kampung Ulos dilengkapi degan fasilitas Pembuatan Ulos. Kampung Ulos memiliki luas 0,016 km2. Keberadaan Kampung Ulos Huta Raja sudah ada sejak lama, akan tetapi proses pembangunan berkelanjutan belum dilakukan. Tahun 2019, presiden Indonesia Joko Widodo, melakukan kunjungan ke kawasan ini. Kemudian. Joko Widodo menginstruksikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menteri PUPR). Basuki Hadimuljono, agar menata kembali kawasan ini. Kampung Ulos Huta Raja merupakan kawasan wisata budaya di tepian Danau Toba yang dikenal sebagai sentra pembuatan kain ulos tradisional dengan latar Rumah Bolon. Kawasan ini berlokasi di Desa Lumban Suhi-Suhi Toruan. Kecamatan Pangururan. Kabupaten Samosir. Sumatera Utara. Setelah melalui proses revitalisasi, kawasan ini Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Februari 2022. Dalam sambutannya. Presiden menyampaikan bahwa penataan kawasan budaya ini Auditujukan untuk menjaga warisan pusaka nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pariwisata berbasis budayaAy (Kementerian PUPR, 2. Proyek revitalisasi Kampung Ulos dilaksanakan oleh Kementerian PUPR dan Pemerintah Kabupaten Samosir. Kawasan ini memiliki luas sekitar 0,016 kmA dan dilengkapi fasilitas produksi ulos yang memungkinkan wisatawan melihat langsung proses penenunan. Kementerian PUPR . menyatakan bahwa Aupenataan ulang kawasan budaya dilakukan untuk memperkuat identitas lokal dan meningkatkan daya tarik wisataAy. Sejak itu Kampung Ulos menjadi destinasi wisata budaya yang semakin dikenal oleh wisatawan domestik dan internasional. Produksi ulos di Kampung Ulos dilakukan secara tradisional oleh masyarakat setempat dan biasanya dikerjakan di halaman Rumah Bolon. Keunikan proses produksi ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Menurut Simanjuntak . Auwisatawan mencari pengalaman otentik melalui interaksi langsung dengan budaya dan kerajinan lokalAy. Oleh karena itu, produksi ulos tidak hanya bernilai budaya tetapi juga berfungsi sebagai komponen ekonomi kreatif berbasis Seperti namanya Kampung Ulos, tempat ini merupakan pembuatan kain adat Batak yakni Ulos. Corak dan jenis ulos yang dibuat umumnya adalah kain ulos Batak Toba. Kegiatan pembuatan atau produksi tenun Ulos, biasanya dilakukan warga setempat di halaman Rumah Bolon, sehingga pembuatan ulos ini bisa dilihat wisatawan dan hal ini menjadi daya tarik wisata budaya, dimana wisatawan bisa melihat lebih dekat proses pembuatan kain ulos. Pembuatan kain ulos, dengan latar belakang Rumah Bolon, menjadi ciri khas Kampung Ulos. Kampung Ulos Huta Raja menjadi pusat pembuatan ulos, juga menjadi tempat peninggalan situs sejarah Rumah Bolon atau Rumah Gorga yanng usianya sudah cukup lama. Dalam acara peresmian setelah dilakukan revitalisasi, pada 2 Februari 2022. Joko Widodo menyampaikan bahwa penataan kembali Kampung Ulos Huta Raja ini dapat membantu upaya pemerintah dalam menjaga serta melestarikan warisan pusaka Tanah Air, khususnya peninggalan budaya Batak di kawasan Samosir. Tempat ini juga menjadi salah satu tujuan utama wisatawan baik lokal dan internasional, di Pulau Samosir. Kawasan Danau Toba adalah salah satu dari lima tempat wisata yang diprioritaskan pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. Sementara itu. Danau Toba dikelilingi oleh 7 kabupaten, yakni Kabupaten Dairi. Kabupaten Humbang Hasundutan. Kabupaten Karo. Kabupaten Samosir. Kabupaten Simalungun. Kabupaten Toba, dan Kabupaten Tapanuli Utara. Berbagai kawasan tujuan wisata sekiar Danau Toba. Pulau Samosir menjadi tempat yang banyak meninggalkan situs budaya Batak di Sumatera Utara, salah satunya ialah Kampung Ulos Huta Raja. Selain itu. Kampung Ulos Huta Raja juga memiliki situs sejarah berupa Rumah Gorga yang telah berusia ratusan tahun. Dalam acara peresmian revitalisasi tahun 2022. Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa Aupelestarian warisan budaya seperti ulos dan Rumah Gorga adalah bagian dari upaya membangun pariwisata berkelanjutan di kawasan Danau TobaAy (Sekretariat Presiden. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung keberlanjutan budaya lokal. Kawasan Danau Toba sendiri merupakan destinasi prioritas nasional yang dikembangkan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kemenparekraf . menjelaskan bahwa AuDanau Toba ditetapkan sebagai destinasi super prioritas karena nilai geokultural, lanskap, serta potensi ekonomi budaya di sekitarnyaAy. Dengan tujuh kabupaten yang mengelilinginya, kawasan ini kaya akan situs budaya Batak, termasuk Kampung Ulos Huta Raja. Namun demikian, permasalahan utama yang masih dihadapi penenun Kampung Ulos adalah kurangnya pemahaman terkait perhitungan biaya produksi, penetapan harga, dan pencatatan Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 keuangan usaha. Perajin ulos belum mengetahui secara jelas struktur biaya produksi sehingga tidak dapat menghitung laba secara tepat. Menurut Nurhayati . Auketidakmampuan pelaku UMKM dalam memahami HPP berdampak pada ketidaktepatan penetapan harga dan lemahnya daya saing usahaAy. Permasalahan yang sama muncul dalam berbagai UMKM tradisional di Indonesia. Studi terkini menunjukkan bahwa UMKM tenun di kawasan Danau Toba memiliki potensi ekonomi yang besar jika didukung pelatihan manajemen usaha modern. Harahap . menyatakan bahwa AuUMKM tenun di Danau Toba berkontribusi signifikan pada pertumbuhan ekonomi lokal dan pariwisata budayaAy. Hal ini membuktikan bahwa penguatan kapasitas manajemen dapat meningkatkan keberlanjutan usaha tenun. Selain itu, pengalaman daerah lain menunjukkan bahwa pelatihan digital marketing, branding, dan pencatatan usaha mampu meningkatkan daya saing produk tenun tradisional. Jauhari dan Febri . menemukan bahwa Aupelatihan pemasaran digital memberikan peluang penetrasi pasar yang lebih luas bagi UMKM tenun tradisionalAy. Pembelajaran ini relevan bagi penenun ulos di Samosir dalam meningkatkan nilai tambah produk. Pemerintah pusat melalui DPR RI juga menekankan pentingnya pendampingan bagi perajin Dalam kunjungan akhir tahun 2025. Komisi VII DPR RI menyatakan bahwa Aupemberdayaan perajin ulos perlu diperkuat melalui pelatihan, akses pasar, dan diversifikasi produk agar ulos dikenal lebih luas secara nasional maupun internasionalAy (Komisi VII DPR RI, 2. Ini menunjukkan adanya perhatian struktural terhadap pengembangan ulos sebagai ekonomi budaya. Dengan demikian, berdasarkan analisis situasi di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah utama mitra adalah kurangnya pemahaman mengenai perhitungan HPP, pencatatan biaya, dan pengelolaan Penguatan kapasitas penenun ulos menjadi kebutuhan mendesak agar nilai ekonomi ulos dapat ditingkatkan sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya Batak. Metode Pelaksanaan Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Kecamatan Parbaba. Kabupaten Samosir. Sumatera Utara, dengan fokus pada peningkatan kapasitas penenun ulos dalam memahami dan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara tepat. Metode yang diterapkan bersifat partisipatif dan edukatif, mengutamakan keterlibatan langsung para penenun sebagai mitra utama. Tahap Persiapan Tahap persiapan dimulai dengan koordinasi bersama aparat desa, pengurus kelompok penenun, dan tokoh adat setempat untuk menentukan kebutuhan teknis dan administratif kegiatan. Tim melakukan asesmen awal terhadap pemahaman mitra mengenai pencatatan biaya dan penentuan harga jual produk. Pengumpulan data awal dilakukan melalui wawancara, observasi proses produksi, dan pengumpulan contoh catatan keuangan yang digunakan oleh penenun. Hasil asesmen ini menjadi dasar penyusunan materi sosialisasi yang sesuai dengan konteks lokal. Tahap persiapan dilakukan untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan sesuai kebutuhan mitra. Langkah-langkahnya meliputi: Identifikasi Kebutuhan Mitra. Tim pengabdian melakukan wawancara awal dengan para pengrajin Ulos di Desa Parbaba untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka tentang HPP, struktur biaya produksi, dan tantangan dalam menentukan harga jual. Pengumpulan data ini digunakan sebagai dasar penyusunan materi sosialisasi dan modul Penyusunan Modul dan Bahan Ajar. Materi pelatihan difokuskan pada: konsep dasar HPP, pemisahan biaya bahan baku, tenaga kerja, dan overhead, perhitungan biaya produksi per lembar Ulos, penentuan harga jual berbasis keuntungan yang realistis. Modul disusun dalam bentuk booklet sederhana yang mudah dipahami oleh pengrajin. Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 Koordinasi Pemerintah Desa Kelompok Pengrajin Penjadwalan kegiatan dilakukan bersama aparat desa dan perwakilan kelompok UMKM tenun, termasuk penentuan lokasi, waktu, jumlah peserta, serta fasilitas pendukung. 2 Tahap Pelaksanaan Kegiatan Tahap ini dilaksanakan melalui pendekatan edukatif, partisipatif, dan praktik langsung, agar pengrajin dapat menguasai metode perhitungan HPP dan menerapkannya secara mandiri. Sosialisasi Konsep Harga Pokok Produksi Tim memaparkan konsep HPP secara visual, interaktif, dan kontekstual dengan proses tenun Ulos di Parbaba. Penjelasan mencakup: pentingnya pencatatan biaya, klasifikasi biaya variabel dan tetap, manfaat HPP untuk penentuan harga jual dan keberlanjutan usaha. Pendekatan diskusi dan tanya jawab digunakan untuk memastikan peserta memahami konsep inti sebelum memasuki tahap Pelatihan Pencatatan Biaya Produksi Peserta diberikan formulir sederhana untuk mencatat biaya: benang, pewarna . ika digunaka. ,tenaga kerja harian atau borongan, listrik, amortisasi alat tenun, serta biaya pendukung Setiap peserta diminta mengisi data berdasarkan pengalaman produksi mereka agar latihan lebih relevan dan aplikatif. Praktik Perhitungan HPP Tim melakukan simulasi penghitungan HPP menggunakan data riil dari para pengrajin. Langkah praktik meliputi: menjumlahkan seluruh biaya produksi, menghitung biaya per unit . er lembar Ulo. , menentukan margin keuntungan yang wajar, merumuskan harga jual final. Setiap peserta melakukan perhitungan mandiri didampingi fasilitator untuk memastikan pemahaman komprehensif. Pendampingan Penyusunan Harga Jual Setelah memahami HPP, peserta dipandu untuk menetapkan harga jual yang kompetitif. Pendampingan ini mempertimbangkan: kondisi pasar lokal Parbaba dan Samosir, harga pesaing, kualitas motif, bahan, dan tingkat kesulitan tenun, strategi pemasaran. Pendampingan ini memastikan pengrajin memiliki standar harga yang konsisten sehingga tidak lagi menetapkan harga secara perkiraan. 3 Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut Tahap evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas kegiatan dan menentukan keberlanjutannya. Evaluasi Pemahaman Peserta Peserta diberikan soal latihan dan diskusi kelompok untuk menilai tingkat pemahaman sebelum dan sesudah kegiatan. Evaluasi ini membantu tim mengetahui keberhasilan transfer Monitoring Penerapan di Lapangan Dua hingga empat minggu setelah kegiatan, tim melakukan kunjungan lapangan untuk melihat: apakah pencatatan biaya sudah dilakukan, apakah pengrajin mulai menggunakan perhitungan HPP secara konsisten, apakah terjadi peningkatan stabilitas harga jual. Rencana Pendampingan Lanjutan Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 Jika diperlukan, tim menyediakan sesi konsultasi lanjutan mengenai: digitalisasi pencatatan biaya, pengembangan kemasan dan branding, akses permodalan UMKM. Pendampingan lanjutan bertujuan agar pengrajin dapat menerapkan manajemen biaya secara Hasil Pelaksanaan Kegiatan pengabdian dilaksanakan secara langsung di rumah mitra utama, yaitu Ibu Nanti Sipakkar, seorang penenun aktif di Kecamatan Parbaba yang mampu menghasilkan delapan jenis kain ulos dengan harga jual mencapai lebih dari tiga juta rupiah per lembar. Meskipun nilai jual produknya relatif tinggi, selama ini penetapan harga ulos masih dilakukan secara intuitif, berdasarkan pengalaman pribadi dan mengikuti harga pasar yang ditetapkan oleh pengepul. Ketika ditanyakan bagaimana harga jual tersebut dihitung, mitra belum mampu menjelaskan secara rinci struktur biaya dan margin keuntungan yang dihasilkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa proses produksi berjalan tanpa fondasi manajerial yang memadai, terutama terkait penghitungan biaya dan pencatatan usaha. Dalam kegiatan pendampingan, tim pengabdian mengarahkan penenun untuk melakukan perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) secara manual dan sistematis. Perhitungan dilakukan dengan mengidentifikasi seluruh elemen biaya yang relevan, mulai dari bahan baku, bahan penolong, tenaga kerja langsung, hingga penyusutan alat tenun. Hasil pendampingan menghasilkan rincian biaya sebagai berikut: Tabel 1. Rincian Biaya Produksi Ulos Jumlah Kompoen Biaya (R. Benang Seratus Benang Kasah Nahan Tambahan (Kanji. Lili. Penyusutan Alat Tenun Upah Tenaga Kerja . -20 Har. Total Biaya Prodduksi Harga Jual Laba Bersih Melalui perhitungan ini, mitra menyadari bahwa laba bersih yang selama ini diperoleh ternyata lebih rendah dari perkiraan awal. Kesadaran ini menjadi titik awal penting bagi pengembangan efisiensi produksi. Mitra memahami bahwa percepatan proses produksi, pengendalian pemborosan bahan, serta penggunaan teknik tenun yang lebih efektif dapat meningkatkan laba tanpa menurunkan kualitas produk. Selain itu, mitra mulai melihat manfaat pencatatan biaya secara rutin, sehingga proses evaluasi usaha dapat dilakukan secara lebih objektif. Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 Gambar ini memperlihatkan dokumentasi proses perhitungan HPP dan analisis laba yang dilakukan bersama mitra. Perhitungan dilakukan mulai dari biaya bahan baku, tenaga kerja, overhead, hingga margin keuntungan ideal. Lembar hasil perhitungan kemudian dibandingkan dengan harga jual aktual yang selama ini digunakan oleh perajin. Visualisasi data ini menunjukkan secara transparan adanya selisih margin Ai baik kelebihan maupun kekurangan Ai sehingga perajin dapat menilai apakah harga jual mereka sudah optimal atau perlu penyesuaian. Gambar ini menjadi bukti keberhasilan kegiatan dalam memberikan pemahaman konkret terkait manajemen biaya dan Penghitungan tersebut membuat mitra lebih sadar akan pentingnya efisiensi. Sebagai contoh, bila proses produksi bisa dipercepat tanpa menurunkan kualitas, maka laba bisa Selain itu, mitra juga diajarkan untuk mencatat biaya produksi setiap kali membuat ulos, guna menghindari kerancuan dalam evaluasi usaha. Untuk mempermudah proses pencatatan, tim memperkenalkan format pencatatan manual yang sangat sederhana namun efektif. Format ini mencakup tabel input biaya, durasi produksi, serta estimasi laba. Pendekatan manual dipilih untuk menghindari ketergantungan pada perangkat digital, mengingat sebagian besar penenun di Parbaba belum terbiasa menggunakan teknologi informasi. Dalam sesi pendampingan, tim juga menjelaskan konsep penyusutan alat menggunakan contoh alat tenun seharga Rp 2. 000 dengan masa pakai sepuluh tahun, sehingga menghasilkan beban penyusutan Rp 250. 000 per tahun atau sekitar Rp 500 per lembar ulos. Penjelasan ini memperkaya wawasan mitra mengenai pentingnya memperhitungkan biaya jangka panjang dalam produksi. Diskusi yang dilakukan dengan kelompok penenun lain menemukan bahwa persoalan yang sama dialami hampir seluruh pengrajin ulos di wilayah tersebut. Mayoritas tidak melakukan pencatatan biaya produksi sehingga kesulitan mengetahui laba riil yang diperoleh. Berdasarkan temuan tersebut, tim mengenalkan format pencatatan HPP harian dan laporan labaAerugi mingguan sebagai langkah awal pembiasaan akuntansi sederhana. Tim juga memberikan rekomendasi agar penenun mulai memanfaatkan media sosial sebagai sarana pemasaran langsung, sehingga ketergantungan pada pengepul dapat dikurangi dan margin keuntungan meningkat. Kegiatan pendampingan ini sejalan dengan pendapat Tirtayasa . , bahwa peningkatan kapasitas pelaku UMKM dalam manajemen biaya menjadi kunci penting dalam memperkuat daya saing produk lokal di era kompetisi modern. Penguasaan HPP tidak hanya membantu penenun dalam menilai efisiensi produksi, tetapi juga memperkuat kemampuan mereka dalam menetapkan Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 harga jual yang lebih rasional dan berkeadilan. Selain itu, kegiatan ini mendukung temuan Sufaidah et al. yang menekankan bahwa pemberdayaan UMKM harus diawali dengan penguatan kompetensi dasar dalam pengelolaan usaha dan pencatatan keuangan. Gambar ini menampilkan tim berpose di depan Kampung Ulos Huta Raja dengan memegang spanduk resmi kegiatan. Visualisasi gambar ini berfungsi sebagai identitas kegiatan dan bukti bahwa program dilaksanakan secara formal di bawah dukungan institusi Politeknik Negeri Medan (Polme. Keberadaan spanduk juga menegaskan komitmen institusi dalam mendukung pemberdayaan UMKM berbasis kearifan lokal, khususnya dalam penguatan kapasitas perhitungan harga pokok produksi (HPP) bagi perajin tenun ulos. Dokumentasi ini menegaskan bahwa kegiatan dilakukan secara terstruktur, terencana, dan diakui oleh lembaga Gambar 1. Tim Pengabdian di Kampung Ulos Huta Raja Gambar ini memperlihatkan Ibu Nanti Sipakkar, perajin ulos di Kecamatan Parbaba, sedang menunjukkan teknik tenun tradisional yang masih dipertahankan secara turuntemurun. Dalam sesi ini, beliau menjelaskan alur produksi ulos dari persiapan benang, pewarnaan, penggulungan, hingga proses pertenunan yang dapat memakan waktu hingga dua minggu untuk satu lembar kain. Penjelasan langsung dari pelaku UMKM ini memberikan gambaran autentik mengenai kompleksitas produksi ulos, pola kerja harian, serta tantangan yang dihadapi dalam menjaga kualitas, kuantitas, dan efisiensi biaya. Gambar 2. Penjelasan dari Mitra UMKM. Gambar ini merekam sesi diskusi interaktif antara tim pengabdian dan mitra UMKM. Dalam diskusi tersebut, tim mengeksplorasi berbagai aspek terkait biaya produksi, seperti biaya bahan baku, tenaga kerja, konsumsi energi, serta biaya-biaya tersembunyi yang sebelumnya belum teridentifikasi oleh perajin. Selain itu, diskusi membahas strategi optimalisasi sumber daya Ai misalnya penjadwalan produksi, pemilihan bahan baku alternatif yang tetap berkualitas, serta efisiensi penggunaan alat. Sesi diskusi ini menjadi pondasi penting bagi penyusunan rumus HPP yang lebih akurat dan aplikatif. Gambar 3. Diskusi Tim Pengabdian dengan Mitra Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 Gambar 4. Penjelasan Tim Pengabdian Gambar ini memperlihatkan tim pengabdian menyampaikan materi teknis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi HPP ulos. Tim menjelaskan bagaimana pemilihan jenis benang, kualitas pewarna, alat penggulung, hingga teknik pertenunan dapat berdampak signifikan terhadap total biaya produksi. Dalam penjelasan tersebut. Ibu Dameria Naibaho memberikan contoh perhitungan variabel biaya, menunjukkan bagaimana perubahan kecilAimisalnya perbedaan harga benang atau waktu pengerjaanAidapat mengubah keseluruhan struktur HPP. Sesi ini membantu perajin memahami bahwa pengendalian biaya dimulai dari pemahaman mendalam terhadap setiap komponen produksi. Gambar 5. Benang yang dicelup alami dan kimia, serta kain tenun ulos yang telah selesai ditenun. Gambar ini menampilkan berbagai jenis benang yang digunakan dalam produksi ulos, termasuk benang dengan pewarna alami maupun kimia. Setiap jenis benang memiliki karakteristik dan rentang harga yang berbeda, sehingga secara langsung memengaruhi biaya produksi dan harga jual produk akhir. Dalam sesi ini, perajin diperlihatkan bagaimana perbedaan bahan baku dapat menentukan kualitas visual, ketahanan warna, tekstur, serta nilai estetika ulos. Dengan memahami variasi bahan, perajin dapat menentukan strategi produksi dan harga yang lebih rasional serta Selanjutnya seluruh tim pengabdian mengabadikan moment bersama mitra dengan karya kain ulos terbaiknya. Naibaho et. al | Jurnal Ilmiah MADIYA: Masyarakat Mandiri Berkarya, 2025, 6 . : 335-345 SIMPULAN Kegiatan pengabdian di Kecamatan Parbaba. Kabupaten Samosir, berhasil meningkatkan kapasitas manajerial penenun ulos melalui pendampingan penghitungan biaya dan penetapan harga pokok produksi, sehingga mereka memahami komponen biaya secara lebih sistematis dan mampu membedakan biaya serta laba dengan jelas. Program ini juga memperkenalkan format pencatatan sederhana yang mendorong kebiasaan pembukuan mandiri dan mengurangi ketergantungan pada pengepul dalam menentukan harga. Selain memperbaiki efisiensi dan kepercayaan diri para penenun dalam mengelola usaha, kegiatan ini memberi pengalaman praktis bagi tim dan mahasiswa dalam menerapkan akuntansi biaya pada sektor budaya. Ke depan, pendampingan lanjutan terkait digitalisasi pencatatan, pemasaran berbasis media sosial, dan peningkatan kualitas produk diperlukan agar UMKM tenun ulos lebih kompetitif di pasar yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA