Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TALKING STICK UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA KELAS IV C MATERI BAHASA INGGRIS DI SDIP TUNAS BANGSA BANJARNEGARA Hesti Diah Utami 1. Nur Innayah Ganjarjati 2. Ageng Satria Pamungkas 3 1,2,3 STIT Tunas Bangsa Banjarnegara e-mail : ganjar0406@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui . penerapan model pembelajaran Talking Stick pada pembelajaran Bahasa Inggris kelas IV C di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. peningkatan Aktivitas belajar bahasa Inggris siswa kelas IV C di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara melalui model pembelajaran Talking Stick. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian mendeskripsikan berdasarkan observasi dan wawancara dari subjek penelitian Guru Bahasa Inggris kelas IV dan 22 siswa kelas IV C. Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara, pedoman observasi dan pedoman dokumentasi. Analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif melalui tahap reduksi data, display data dan conclusion drawing/verification. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Talking Stick meningkatkan aktivitas belajar Bahasa Inggris siswa. Peningkatan aktivitas yang terjadi berupa aktivitas fisik . ertanya, menjawab, mendengarkan, mencata. dari 8 siswa menjadi 16 siswa dan peningkatan aktivitas psikis . engikuti kegiatan praktik sesuai intruks. dari 4 siswa menjadi 17 siswa. Kata Kunci : talking stick, bahasa Inggris, aktivitas belajar. Abstract This study aims to determine . the application of the Talking Stick learning model to English learning in class IV C at SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. increasing the English learning activities of class IV C students at SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara through the Talking Stick learning model. This study used qualitative research methods. The research describes based on observations and interviews with the research subjects. English teachers in grade IV and 22 students in grade IV C. The research instruments were interview guides, observation guidelines, and documentation guidelines. Data analysis used qualitative data analysis techniques through data reduction, data display and conclusion drawing/verification stages. The results showed that the application of the Talking Stick learning model increased students' English learning activities. The increase in activity that occurred in the form of physical activity . sking, answering, listening, taking note. from 8 students to 16 students and increased psychological activity . ollowing practical activities according to instruction. from 4 students to 17 students. Keywords: Talking Stick. English. Learning Activities. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu kegiatan interaksi yang terjadi antara seorang guru dan siswa yang dapat berpengaruh penting dalam pengembangan potensi diri kehidupan siswa. Hal tersebut terlihat dalam Undang- Undang No. 20 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa dalam setiap pemberian materi pelajaran dengan serta melibatkan aktivitas siswa. Dalam pembelajaran aktivitas siswa sangat diperlukan, adanya pembelajaran yang aktif dari guru dapat mendorong siswa dalam mengoptimalkan belajar siswa selama proses pembelajaran. Haryati . memaknai bahwa Pembelajaran aktif . ctive learnin. adalah suatu proses pembelajaran dengan maksud memberdayakan siswa agar belajar dan pembelajaran selalu menggunakan berbagai cara/strategi secara aktif. Dengan demikian dalam pembelajaran aktif . ctive learnin. dimaksudkan untuk mengoptimalkan penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh siswa, sehingga semua siswa dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi yang miliki siswa. Di samping itu pembelajaran aktif juga dimaksudkan untuk menjaga perhatian siswa agar tetap tertuju pada proses pembelajaran. Proses pembelajaran dalam kelas harus menyesuaikan dengan kondisi kelas tersebut, dalam proses pembelajaran guru perlu memperhatikan siswa dan lingkungannya. Hal tersebut dilakukan guna mengupayakan proses pembelajaran dapat berjalan lancar serta siswa dapat menangkap materi dengan baik. Proses pembelajaran yang diharapkan terjadi adalah suatu proses yang dapat mengembangkan potensi-potensi siswa secara menyeluruh dan terpadu. Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya dituntut menyampaikan materi pelajaran, akan tetapi harus mampu mengaktualisasi peran strategisnya dalam upaya membentuk watak siswa melalui pengembangan kepribadian dan nilai-nilai yang berlaku (Aunurrahman, 2012:. Hal tersebut didukung dalam pernyataan Fathurrohman . 5:28-. bahwa dalam suatu kegiatan pembelajaran, terdapat dua aspek penting yaitu hasil belajar berupa perubahan perilaku pada diri siswa dan proses hasil belajar berupa sejumlah pengalaman intelektual, emosional dan fisik pada diri siswa. Mata Pelajaran dalam proses suatu pembelajaran tingkat Sekolah Dasar melibatkan materi pengetahuan umum dan agama. Pada kurikulum 2013 ada salah satu mata pelajaran yang tidak diajarkan di sekolah dasar, yaitu mata pelajaran Bahasa Inggris. Penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di SD oleh Kendikbud karena dianggap hanya membebani siswa, namun dalam kenyataannya Kendikbud memberi keleluasaan pada Sekolah Dasar yang akan menerapkan mata pelajaran Bahasa Inggris dengan tidak mengganggu pelaksanaan pembelajaran mata pelajaran lainnya (Maili, 2018:. SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara merupakan salah satu Sekolah Dasar yang sejak lama sudah menerapkan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai Muatan Lokal Pembelajaran di Sekolah. Dengan adanya perubahan kurikulum yang terjadi pada tahun 2022, tidak banyak mempengaruhi perubahan pembelajaran materi bahasa Inggris di sekolah. Pembelajaran bahasa Inggris di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara dapat berjalan dengan mengadaptasi sistem pembelajaran Kurikulum 2013 dan Kurikulum Merdeka yang baru. Hal tersebut menjadi daya tarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian mengenai pembelajaran Bahasa Inggris di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara, terlebih banyak sekolah dasar yang belum menyanggupi mengajarkan materi Bahasa Inggris karena keterbatasan Tenaga Pendidik/Guru Bahasa Inggris. Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan oleh peneliti yaitu dilakukan di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara, adapun tahap yang dilakukan peneliti yaitu melalui wawancara dengan salah satu guru Bahasa Inggris, yang menyatakan bahwa pembelajaran Bahasa Inggris di SDIP Tunas Bangsa diterapkan dari kelas 1-6. Pembelajaran Bahasa Inggris menjadi muatan lokal yang sangat Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . menguntungkan bagi siswa, dengan pemberian muatan lokal Bahasa Inggris maka siswa akan berlatih Bahasa Inggris sejak dini dan bermanfaat bagi jenjang selanjutnya. Dengan mempertimbangkan beberapa hal diantaranya yaitu pembelajaran semester dua yang akan segera berakhir dan di akhiri dengan penilaian akhir tahun, maka peneliti mengambil penelitian di kelas IV C dan berfokus pada materi dengan tema Daily Activities yaitu AuCici Cooks in The Kitchen. Ay Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan peneliti, maka peneliti melakukan tindakan guna mengatasi aktivitas belajar siswa dalam keterlibatan proses pembelajaran dengan mengganti model pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas dengan model pembelajaran yang lebih melibatkan aktivitas siswa dan daya tarik belajar siswa. Helmiati . menyatakan bahwa Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, strategi, dan tehnik pembelajaran. Menurut peneliti model pembelajaran yang tepat diterapkan guna meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris adalah model pembelajaran Talking Stick. Alasan peneliti memilih model pembelajaran Talking Stick dikarenakan model pembelajaran Talking Stick merupakan model pembelajaran yang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, model Talking Stick memberikan siswa kesempatan dalam menjawab dan mengikuti pembelajaran dengan aktif dan terlibat langsung dalam aktivitas pembelajaran. Shoimin . menyatakan bahwa Model Pembelajaran Talking Stick mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat, serta menjadi salah satu strategi yang dapat melatih berbicara, serta menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat siswa aktif. Berdasarkan uraian latar belakang penelitian di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Bagaimana penerapan Model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan aktivitas belajar Bahasa Inggris siswa kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara?. Berdasarkan masalah yang peneliti uraikan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lebih jauh penerapan model pembelajaran Talking Stick dalam meningkatkan aktivitas belajar Bahasa Inggris siswa kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kualitatif. Berdasarkan pernyataan bahwa Sugiyono . metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau pemikiran yang menggugat asumsi dan kebenaran positivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, . ebagai lawannya adalah eksperime. dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive . dan Snowball . , teknik pengumpulan dengan triangulasi . , analisis data bersifat induktif/kualitatiif. Penelitian ini berlokasi di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara yang terletak di Jl. Kalisemi Indah No 9-11 Parakancanggah. Banjarnegara. Pelaksaan penelitian dilakukan pada tanggal 11 sampai 18 Januari 2023. Subyek penelitian dalam penelitian ini terdiri dari informan ataupun partisipan dalam proses penelitian yaitu Guru Bahasa Inggris kelas IV dan Siswa kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. Sumber data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini menggunakan tehnik wawancara, dimana peneliti akan mengumpulkan informan untuk merespon atau menjawab pertanyaan-pertanyaan peneliti, baik itu pertanyaan tertulis maupun lisan. Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Metode . ara atau tekni. menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat diperlihatkan penggunaannya. Untuk memperoleh data seperti yang dimaksudkan tersebut, dalam penelitian dapat digunakan berbagai macam metode, di antaranya dengan angket, observasi, wawancara, tes atau gabungan tergantung masalah yang dihadapi (Sudaryono, 2015:. Maka dari itu peneliti mengambil langkah dalam metode dan instrumen penelitian yang dilakukan dalam pengumpulan data adalah dengan Triangulasi . abungan dari observasi, wawancara, dan dokumentas. Teknik analisis yang digunakan peneliti merupakan teknik analisis Miles and Huberman . Teknik ini dilakukan secara interaktif, terus menerus dan lebih difokuskan selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulkan data (Sugiyono, 2015: . Dalam Hardani, dkk . Analisis menurut Miles dan Huberman . dibagi dalam tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan. Ketiga alur tersebut adalah . reduksi data . ata reductio. penyajian data . ata displa. penarikan simpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Model pembelajaran Talking Stick merupakan kegiatan pembelajaran kooperatif, dimana menurut Afandi, dkk . 3:50-. bahwa Pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya. Pembelajaran kelompok adalah metode pembelajaran yang menitik beratkan pada kerjasama diantara siswa dalam mengerjakan sesuatu pekerjaan tetapi tanpa sepenuhnya mendapatkan bimbingan dari Artinya, siswa diperintahkan untuk bekerja dengan beberapa siswa lainnya dengan petunjuk dan bimbingan yang tidak begitu maksimal dari gurunya. Model pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah peserta didik mempelajarai materi pokoknya. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat peserta didik aktif (Shoimin, 2016:. Menurut Suprijono . alam Shoimin, 2016:. menyatakan bahwa pembelajaran dengan model Talking Stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Strategi ini diawali dengan penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari. Kemudian dibantu Stick . yang bergulir peserta didik dituntun untuk merefleksikan atau mengulang kembali materi yang sudah dipelajari dengan cara menjawab pertanyaan dari guru. Siapa yang memegang tongkat, dialah yang wajib menjawab pertanyaan. Model pembelajaran Talking Stick dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Menurut Agus Suprijono . 9: . alam Distya, 2015:. pembelajaran ini dapat mendorong peserta didik dalam mengemukakan pendapat. Model pembelajaran Talking Stick adalah suatu model pembelajaran dengan bantuan tongkat, bagi siswa yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya, selanjutnya kegiatan tersebut diulang terus-menerus sampai semua siswa mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan dari guru. Penerapan model pembelajaran Talking Stick dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV C di SDIP Tunas Bangsa. Berdasarkan hasil observasi yang dilaksanakan pada hari Selasa, 10 Januari 2023. Guru Bahasa Inggris di kelas IV C menerapkan model pembelajaran yang masih biasa berupa model pembelajaran Kooperatif dengan model pembelajaran kooperatif yang di dukung dengan metode mengajar ceramah. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil wawancara Guru Bahasa Inggris kelas IV C yakni Ustadzah Ulfa, yang mana wawancara dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 Januari 2023. Ustadzah Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Ulfa menyatakan AuBiasanya kalau sedang pembelajaran, lebih sering berkelompok. Dengan keadaan tempat duduk siswa juga terkadang berkelompok, jadi sekalian saya menjelaskan materi dengan siswa berkelompok. Ay Selain itu, dalam pemberian tugas maupun latihan soal guru Bahasa Inggris kelas IV C melaksanakan dengan siswa mengerjakan kemudian dikumpulkan. Hal tersebut dinyatakan oleh Ustadzah Ulfa pada saat pelaksanaan wawancara sebagai berikut : Ausetiap kali pembelajaran pasti saya lakukan pengambilan nilai, pengambilan nilai dengan cara latian soal yang ada di buku paket siswa lalu siswa mengerjakan dan dicocokkan bersama atau dikumpulkan kalau waktu pelajaran sudah selesai, karena pelajaran bahasa inggris kan hanya 2 jam pelajaran ya atau paling sekitar 70 menit saja setiap hari perminggunya. Ay Hal tersebut diuraikan oleh peneliti bahwasanya pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV C dilaksanakan dengan model pembelajaran kooperatif dengan penguatan pengakuan guru bahwa pembelajaran Bahasa Inggris dikelas IV C dilaksanakan secara berkelompok. selain itu proses pembelajaran didalam kelas cukup membuat siswa yang kurang menyukai pembelajaran Bahasa Inggris merasa kesulitan apabila mengerjakan latihan soal. Hal tersebut didapatkan berdasakan hasil wawancara dengan siswa kelas IV C yang dilaksanakan pada hari kamis, 19 Januari 2023. Dari 22 siswa yang ada dikelas IV C saat pelaksanaan penelitian hanya 20 siswa yang berangkat, dengan keterangan 2 siswa yang tidak berangkat sakit. Dari 20 siswa yang berangkat peneliti mengambil data 10 siswa yang diwawancarai. Siswa tersebut terdiri dari 5 siswa putra dan 5 siswa putri. Dari hasil wawancara terdapat 6 siswa menyukai Bahasa Inggris dan 4 Siswa kurang menyukai Bahasa Inggris. Hal tersebut dipaparkan sebagai berikut Siswa yang menyukai pembelajaran Bahasa Inggris mengatakan Auiya suka pelajaran Bahasa InggrisAy dikatakan oleh Rizki. Lutfan. Vania, dan viola saat di wawancarai. Siswa lain yaitu Ujiro dan Nabil saat diwawancari mengatakan Auiya aku sangat suka pelajaran Bahasa Inggris. Selain itu siswa yang kurang menyukai pembelajaran Bahasa inggris mengatakan Auaku sedikit suka bahasa Inggris, ya lumayan lahAy dikatakan oleh Hanif. Onadio. Qonita dan Kinan. Ay Peneliti menanyakan apa kesulitan yang membuat siswa kurang menyukai pembelajaran bahasa Inggris, hal tersebut dinyatakan siswa sebagai berikut AuQonita dan Kinan mengatakan bahwa Audi pelajaran bahasa Inggris aku sulit memahami tulisannyaAy sedangkan Hanif mengatakan Aukesulitan si di menyusun kataAy Onadio mengatakan Ausulit di kata-kata bahasa Inggrisnya. AySecara garis besar siswa yang kurang menyukai pembelajaran Bahasa Inggris karena merasa sulit dalam mengetahui dan memahami Bahasa Inggris baik dari kata, kalimat dan tulisannya. Karena Bahasa Inggris yang merupakan Bahasa Asing berbeda dalam pengolahan kata, kalimat dan tulisannya dengan Bahasa Indonesia. Penelitian dilaksanakan guna mengetahui proses pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD. Bagaimana guru dalam mengajar dan bagaimana respon siswa. Dari paparan hasil wawancara diatas maka menurut peneliti proses pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD terutama di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara kelas IV C perlu dilaksanakan penerapan model pembelajaran, penerapan model pembelajaran digunakan guna menjadikan semua siswa dapat menyukai aktivitas belajar Bahasa Inggris. Hal tersebut menjadikan peneliti menerapkan pelaksanaan model pembelajaran baru sebagai pengembangan moel pembelajaran Kooperatif yakni model pembelajaran Talking Stick. Penerapan model pembelajaran dilaksanakan pada saat penelitian pada Hari Selasa, 17 Januari 2023 pada jam 9. 35 WIB selama 2 jam pelajaran . x35 meni. Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Setelah dilaksanakan penelitian dengan penerapan model pembelajaran Talking Stick dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV C, peneliti menanyakan beberapa hal kepada guru Bahasa Inggris dan sampel/perwakilan siswa kelas IV C melalui tahap wawancara. Tahap wawancara dengan Guru Bahasa Inggris kelas IV C yakni Ustadzah Ulfa mengenai bagaimana pengaruh proses pembelajaran saat digunakan model pembelajaran Talking Stick, ustadzah Ulfa mengatakan bahwa Ausaat diterapkan model pembelajaran Talking Stick siswa awalnya tidak terlalu bingung, karena sudah biasa belajar per kelompok. Respon siswa saat dijelaskan akan pembelajaran bagaimana saat itu lalu siswa ada yang bingung ada yang langsung teriak. Jadi langsung rame kelasnya. Ay Hal tersebut menyatakan bahwa penerapan model pembelajaran Talking Stick diterima dengan respon yang baik oleh siswa. Siswa yang sudah terbiasa belajar dengan kelompok di kembangkan menjadi permainan kelompok dalam model pembelajaran Talking Stick. Selain itu pertanyaan yang diajukan peneliti mengenai perbedaan apa yang terjadi saat pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran Talking Stick . Ustadzah Ulfa mengatakan bahwa Aubedanya ya siswa lebih ramai, kemudian siswa lebih memperhatikan gurunya juga. Juga membuat siswa mau membaca jawaban dalam Bahasa Inggris didepan temen-temannya. Dulu paling kalau suruh membaca jawabannya saja suaranya tidak ada, saat adanya permainan stick itu siswa jadi mau menjawabnya. Contoh Fadil. Fino. Qonita. Adeeva dan lainnya. Ay Setelah mengetahui respon guru terhadap penerapan Model Pembelajaran Talking Stick dalam pembelajaran Bahasa Inggris dapat mengubah proses pembelajaran yang ada di kelas. Peneliti melakukan penelitian dengan wawancara sampel/perwakilan siswa dengan hasil sebagai berikut Pertanyaan yang diajukan peneliti berupa proses pembelajaran yang dilakukan guru dan respon siswa apakah siswa apakah siswa menyukai pembelajaran Bahasa Inggris dengan model pembelajaran Talking Stick. AuUstadzah pernah menggunakan permainan di pelajaran Bahasa Inggris tapi cuma kadang-kadangAy dikatakan oleh Nabil saat diwawancarai. Dengan jawaban Ujiro Auiya jarang-jarangAy dan jawaban Auiya pernahAy oleh Rizki. Lutfan. Onadio. Hanif. Viola. Vania. Kinan. Qonita saat di wawancarai. Berdasarkan hasil wawancara dengan siswa tersebut, maka peneliti menguraikan bahwa pada proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh Ustadzah Ulfa sudah menggunakan sebuah permainan kelompok saat menjelaskan materi pelajaran. Maka dalam hal tersebut, siswa cukup tertarik dengan pembelajaran permainan seperti dalam model pembelajaran Talking Stick yang diterapkan dalam penelitian di pembelajaran Bahasa Inggris kelas IV C. Peneliti menanyakan kepada perwakilan siswa apa yang membuat permainan Talking Stick berbeda dengan permainan yang digunakan guru Bahasa Inggris sebelumnya, dengan hasil siswa mengatakan bahwa AuHanif mengatakan Aukalau dulu permainan seperti bisik kata setiap kelompok, kalau kemarin pakai lagu dan Lagunya juga asikAy. Lutfan mengatakan Aulagunya itu balonku sama naik kereta api jadi rameAy. Viola mengatakan Aukalau dulu Cuma bisik kata, kemarin nyanyi sama lempar sama muter spidolAy. Qonita mengatakan Aukalau kemarin itu suruh membaca jawaban dari soal yang udah dikerjain, kalau dulu bisikan kataAy. Berdasarkan hasil wawancara diatas, siswa menyatakan bahwa proses pembelajaran Bahasa Inggris yang pernah dilakukan oleh guru Bahasa Inggris di kelas IV C berbeda dengan proses pembelajaran Bahasa Inggris dengan penerapan model pembelajaran Talking Stick, dengan paparan hasil penelitian pada wawancara siswa bahwa guru pernah melaksanakan permainan bisik kata dalam Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . proses pembelajaran Bahasa Inggris tanpa adanya tongkat dan nyanyian seperti hal nya permainan pada proses pembelajaran yang menerapkan model pembelajaran Talking Stick dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Peningkatan aktivitas belajar siswa yang diteliti oleh peneliti dalam penelitian ini berupa aktivitas fisik dan psikis dimana aktivitas fisik berupa aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam ranah pemahaman seperti. bertanya, menjawab, mencatat, mendengarkan sedangkan aktivitas psikis yaitu dapat mengikuti kegiatan proses praktik pembelajaran sesuai intruksi, dapat memahami kegiatan, dan antusias dalam mengikuti kegiatan praktik Berdasarkan hasil penelitian, menyatakan bahwa terdapat 16 siswa mampu mencapai aktivitas aktivitas fisik berupa aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam ranah pemahaman bertanya, menjawab, mencatat, mendengarkan dan terdapat 17 siswa mampu mencapai aktivitas psikis yaitu dapat mengikuti kegiatan proses praktik pembelajaran sesuai intruksi, dapat memahami kegiatan, dan antusias dalam mengikuti kegiatan praktik. Hal tersebut menghasilkan selisih peningkatan aktivitas belajar yang cukup signifikan dalam penelitian. Yaitu sebagai berikut : Peningkatan Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran bahasa Inggris di kelas IV C sebelum penerapan model pembelajaran Talking Stick dalam pembelajaran menyatakan Terdapat 8 dari 22 siswa mampu mencapai aktivitas aktivitas fisik berupa aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam ranah pemahaman seperti. bertanya, menjawab, mencatat, dan mendengarkan materi pembelajaran Bahasa Inggris mengenai Daily Activities di kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. Terdapat 4 siswa dari 22 siswa mampu mencapai aktivitas psikis yaitu dapat mengikuti kegiatan proses praktik pembelajaran sesuai intruksi, dapat memahami kegiatan, dan antusias dalam mengikuti kegiatan praktik dalam pembelajaran Bahasa Inggris mengenai Daily Activities di kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. Peningkatan Aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV C setelah penerapan model pembelajaran Talking Stick dalam pembelajaran menyatakan : Terdapat 16 siswa dari 20 siswa mampu mencapai aktivitas fisik berupa aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam ranah pemahaman seperti. bertanya, menjawab, mencatat, dan mendengarkan materi pembelajaran Bahasa Inggris mengenai Daily Activities di kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. Terdapat 17 siswa dari 20 siswa mampu mencapai aktivitas psikis yaitu dapat mengikuti kegiatan proses praktik pembelajaran sesuai intruksi, dapat memahami kegiatan, dan antusias dalam mengikuti kegiatan praktik dalam pembelajaran Bahasa Inggris mengenai Daily Activities di kelas IV C SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. Berdasarkan hasil paparan diatas ini penelitian menyatakan bahwa saat pelaksanaan observasi pembelajaran Bahasa Inggris di kelas IV C sebelum menerapkan model pembelajaran Talking Stick menyebutkan terdapat 8 siswa yang mampu mencapai aktivitas fisik berupa aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam ranah pemahaman seperti. bertanya, menjawab, mencatat, dan mendengarkan pada pembelajaran Bahasa Inggris, setelah dilaksanaan penelitian pembelajaran Bahasa Inggris dengan menerapkan model pembelajaran Talking Stick menyatakan peningkatan yang ditunjukan dengan hasil penelitian menyebutkan terdapat 16 siswa mampu mencapai aktivitas fisik berupa aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran dalam ranah pemahaman seperti. menjawab, mencatat, dan mendengarkan pada pembelajaran Bahasa Inggris. Selain itu, berdasarkan penelitian menyatakan aktivitas belajar bahasa Inggris siswa kelas IV C dalam penelitian diharapkan Jurnal Edugrow. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . mampu meningkatkan aktivitas psikis yaitu dapat mengikuti kegiatan proses praktik pembelajaran sesuai intruksi, dapat memahami kegiatan, dan antusias dalam mengikuti kegiatan praktik dengan SIMPULAN Simpulan dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah dipaparkan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sebelum menggunakan metode Talking Stick ditemukan bahwa Persiapan guru Bahasa Inggris dalam mempersiapkan pembelajaran belum optimal. Keterbatasan pengetahuan guru Bahasa Inggris mengenai penerapan model pembelajaran masih kurang. Pemahaman guru mengenai peningkatan pemahaman belajar siswa terlihat kurang disaat proses pembelajaran. Penjelasan guru mempengaruhi keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Kurangnya kesiapan siswa menerima pembelajaran Bahasa Inggris terlihat saat pembelajaran. Dan setelah menerapkan model pembelajaran Talking Stick Terdapat 16 siswa mampu meningkat dalam aktivitas fisik dari 8 siswa yang sudah mampu mencapai aktivitas fisik dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Terdapat 17 siswa mampu meningkat dalam aktivitas psikis dari 4 siswa yang sudah mampu mencapai aktivitas psikis dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Model pembelajaran mempengaruhi proses pembelajaran. Model pembelajaran Talking Stick ini mampu meningkatkan aktivitas belajar Bahasa Inggris siswa kelas IV C di SDIP Tunas Bangsa Banjarnegara. DAFTAR PUSTAKA