PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2023, Vol. 1, No. 2, 98-105 https://doi.org/10.55681/primer.v1i2.56 PENINGKATAN GURU MADRASAH DALAM UPAYA INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DI DTA AL HIDAYAH DESA BANGUNKARYA Imas Masitoh1, Siti Aika Rahayu2, Yuyun Rahayu3, Siti Rahma Ningsih4, Nunung Nurjanah5* 1,2,3,4,5Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdatul Ulama Al Al Farabi Pangandaran nunungnurjanah@gamil.com* e-ISSN: 2985-7996 Article History: Received: 02-03-2023 Accepted: 01-04-2023 Abstrak : Pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan dalam upaya-upaya peningkatan sumber daya manusia diantaranya memperluas wawasan pengetahuan sebagaimana yang telah dilakukan oleh aktifitas Akademia dalam bentuk perwujudan Tri dharma untuk menciptakan masyarakat yang berpendidikan khususnya tentang pendidikan agama yang terdapat dilembaga Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah. Kurangnya lulusan diniyah disebabkan oleh kurangnya tenaga pendidik, kurangnya pemahaman kurikulum dan kurangnya dukungan orang tua. Maka untuk mengatasi permasalahan tersebut diadakan Seminar Pengembangan Kurikulum Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah dengan judul Peningkatan Guru Madrasah dalam Upaya Integrasi Pendidikan Karakter di DTA Al Hidayah Desa Bangunkarya. Tujuan seminar ini agar seluruh guru madrasah diniyah dapat memahami dan memberi pemahaman kepada orang tua bahwa begitu pentingnya sebuah pendidikan karakter bagi anak-anak. Metode yang digunakan dalam pengembangan kurikulum adalah metode bercerita, hafalan dan tanya jawab. Hasil dari program yang dilaksanakan oleh KKN PAR STITNU Al Farabi Pangandaran di desa Bangunkarya tahun 2023 dengan pembuatan Pengembangan Kurikulum MDTA berbasis karakter dapat bermanfaaat hingga berkepanjangan. Kata Kunci : Peningkatan Guru, Pendidikan Karakter, Madrasah Diniyah This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License. 98 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 PENDAHULUAN Madrasah sebagai Lembaga Pendidikan agama islam sudah seharusnya mampu mengintegrasikan kecerdasan otak dan aspek moral yang dimiliki oleh peserta didik. Karena pada kenyataan yang ada, Sebagian besar madrasah tidak mampu mewujudkan kedua aspek tersebut, cenderung lebih menitik beratkan kesalah satunya. Biasanya madrasah dalam segi moral bisa dikatakan berhasil, karena memang dalam jumlah mata pelajaran agama lebih banyak dan lebih mendalam, maka secara teori beranggapan bahwa jika peserta didik mendapatkan pendidikan agama lebih banyak disekolah maka akan berpengaruh pada pola tingkah laku siswa tersebut. Isu-isu yang banyak menimbulkan permasalahan didunia Pendidikan masa kini adalah tentang Pendidikan karakter. Benar saja bahwa memang pada zaman modern ini kita tidak kekurangan anakanak yang pintar, namun kita kekurangan anak-anak yang kurang memiliki karakter sehingga mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif. Pendidikan madrasah tidak terlepas dari suatu pendidikan karakter yang harus diterapkan sejak anak-anak. Seorang guru madrasah harus memiliki kemampuan dalam mendidik anak. Karakter merupakan suatu sikap yang dimiliki oleh setiap orang. Karakter sangat erat hubungannya dengan moral. Karakter yang baik menandakan seseorang yang memiliki moral yang baik pula. Menurut Ekowarni karakter adalah watak, akhlak dan ciri psikologis seseorang. Adapun lembaga madrasah yang kami temui permasalahannya adalah MDTA yang berada di dusun Karangbungur desa Bangunkarya. Masalah yang kami dapat dari hasil penelitian yaitu kurangnya lulusan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah yang disebabkan oleh kurangnya tenaga pendidik, kurangnya pemahaman kurikulum dan juga kurangnya dukungan orang tua. Maka dari itu banyak anak-anak yang kurang memiliki adab atau tata krama baik kepada guru, orang tua dan orang lain. Pendidikan karakter menjadi salah satu PR terbesar bagi dunia Pendidikan, bahkan Presiden Jokowi sangat memperhatikan hal ini, maka dengan adanya perubahanperubahan kurikulum adalah upaya dalam mengatasi permasalahan karakter yang ada pada peserta didik. Menurut Fakry Gaffar dalam (Kesuma, dkk., 2011: 5) mengungkapkan bahwa pendidikan karakter adalah sebuah proses transformasi nilai- nilai kehidupan untuk ditumbuh kembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga menjadi satu dalam kehidupan orang itu. Dalam definisi tersebut ada tiga pikiran penting yaitu proses transformasi, ditumbuh-kembangkan dalam kepribadian, dan menjadi suatu perilaku. Penguatan pendidikan karakter dalam konteks sekarang menjadi sangat relevan untuk mengatasi dekadensi moral yang sedang terjadi di negara ini, itulah yang menjadikan salah satu instrumen penting yang mempengaruhi maju mundurnya suatu bangsa adalah karakter. Menurut (Sofyan, 2020) Pendidikan karakter pada tingkat satuan pendidikan tidak dilaksanakan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri tetapi diintegrasikan dalam kurikulum dan berfungsi menjadi penguat kurikulum yang sudah ada, salah satu bentuk implementasi pendidikan karakter sebagai bagian integral dari kurikulum di madrasah diniyah dapat dilihat pada kegiatan pembiasaan hafalan surat, do’a-do’a, nadoman, solat sunat, dan pembiasaan berperilaku akhlak mahmudah serta mengembangkan kreatifitas. Pendidikan karakter diorientasikan untuk memfasilitasi perkembangan atau perwujudan potensi peserta didik, baik dari aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir peserta didik. Teori pendidikan karakter menurut Al Ghojali (1980), pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang, yaitu tingkah laku yang baik, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan lai-lain. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 99 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia paripurna (insan kamil). Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas, pemberdayaan sarana prasarana, pembiayaan, dan etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah. Pendidikan karakter merupakan proses pembentukan kepribadian, kejiwaan, dan psike, serta hubungan seimbang jasmani dalam rangka mengantisipasi berbagai pengaruh negatif dari luar.(Ratna:2014:128). Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya. Fungsi utama pendidikan karakter adalah pembentukan dan pengembangan potensi perbaikan dan penguatan, dan sebagai penyaring dari budaya asing yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya karakter bangsa (Satinem:2015:19). Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan yang akan diteliti yakni difokuskan untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan guru madrasah di DTA Al Hidayah dalam upaya pendidikan karakter hingga dapat meningkatkan angka lulusan MDTA. METODE PENELITIAN Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Prosedur pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Catatan observasi lapangan ditulis, studi dokumentasi dan hasil wawancara dihimpun sebagai data hasil peneliti. Teknik penentuan sample digunakan melalui teknik purposive sampling, artinya peneliti menentukan sample atas pertimbangan tertentu. Teknik analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data, verifikasi data, triangulasi data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini dilakukan selama bulan Februari 2023. Lokasi penelitian yakni di Dusun Karang Bungur Desa Bangunkarya Kecamatan Langkaplancar, Kabupaten Pangandaran. Penelitian studi kasus merupakan suatu penelitian yang dilakukan secara intensif, terinci, dan mendalam terhadap suatu organisme, lembaga atau gejala tertentu (Arikunto, 2012). Arikunto (2012) menjelaskan bahwa studi kasus termasuk dalam penelitian analisis deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan terfokus pada suatu kasus tertentu untuk diamati dan dianalisis secara cermat sampai tuntas. Menurut Suryabrata (2010) metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk membuat deskripsi mengenai situasi-situasi atau kejadian-kejadian. Metode ini dipilih untuk mengetahui bagaimana caranya untuk mengatasi permasalahan tentang kurangnya lulusan madrasah diniyah yang berada di DTA Al Hidayah. Pada penelitian ini, subjek penelitiannya adalah guru-guru, anak, orang tua dan manajemen kurikulumnya. Penelitian yang merujuk pada masalah yang timbul pada masa sekarang ini dinamakan pendekatan studi kasus (case studi). Menurut Sutedi (2011) kasus yang diteliti dapat berupa individu atau kelompok. Teknik dalam penelitian ini adalah: 1). Teknik observasi, teknik ini dilakukan dengan cara mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran di DTA 2). Teknik wawancara, yaitu kegiatan pengumpulan informasi melalui tanya jawab terhadap kepala madrasah, guru dan tokoh masyarakat dan orang tua siswa. Seorang guru pasti menginginkan anak didiknya menjadi pemberani, mampu https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 100 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 bersosialisasi, percaya diri, dan mempunyai akhlak yang baik. pada zaman sekarang ini banyak anak yang tidak mempunyai etika dan akhlak yang baik. Maka dari itu kami melakukan penelitian yang berjudul PENINGKATAN GURU MADRASAH DALAM UPAYA INTEGRASI PENDIDIKAN KARAKTER DI DTA AL HIDAYAH DESA BANGUNKARYA. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari hasil penelitian menunjukkan suatu permasalahan yang terdapat di lembaga MDTA Al Hidayah dusun Karangbungur tentang kurangnya tingkat kelulusan DTA yang disebabkan oleh Kurangnya tenaga pendidik, kurangnya pemahaman tentang kurikulum, dan kurangnya dukungan orang tua. Maka dalam mengatasi permasalahan tersebut dilaksakan lah pendidikan karakter dalam skala makro dan skala mikro. Pada skala mikro, pendidikan karakter berpusat pada madrasah. Madrasah merupakan wilayah utama yang secara optimal memberdayakan semua lingkungan belajar yang ada untuk menginisiasi, memperbaiki, menguatkan, dan menyempurnakan secara terus-menerus proses pendidikan karakter. Madrasah seharusnya melakukan upaya sungguh-sungguh dan senantiasa menjadi garda depan dalam upaya pembentukan karakter manusia Indonesia yang sesungguhnya. Secara mikro pengembangan karakter dibagi dalam empat pilar, yakni kegiatan belajar-mengajar di kelas, kegiatan keseharian dalam bentuk pengembangan budaya satuan pendidikan formal dan nonformal, kegiatan ekstrakurikuler, serta kegiatan keseharian di rumah dan masyarakat. Keempat kegiatan yang menjadi empat pilar pengembangan karakter di madrasah dapat dilaksanakan dengan maksimal tatkala di-support oleh pelaksanaan manajemen yang berpihak pada pelaksanaan pendidikan karakter dan sungguh disayangkan banyak madrasah yang belum bisa melakukannya. Untuk itu peneliti membuat sebuah desain pengembangan kurikulum berbasis pendidikan karakter sebagai panduan bagi madrasah dalam pelaksanaan pendidikan karakter. Di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka bidang studi yang harus dipelajari oleh peserta didik di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah diantaranya yaitu pendidikan al-Qur’an-Hadits, Aqidah-akhlak, fiqh, dan tarikh (sejarah) kebudayaan Islam. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait, isi mengisi dan melengkapi. Al-Qur’an-Hadis merupakan sumber utama ajaran Islam, dalam arti ia merupakan sumber akidah-akhlak, syari’ah/fikih (ibadah, muamalah), sehingga kajiannya berada di setiap unsur tersebut. Akidah atau keimanan merupakan akar atau pokok agama. Syariah/fikih (ibadah, muamalah) dan akhlak bertitik tolak dari akidah, yakni sebagai manifestasi dan konsekuensi dari aqidah (keimanan dan keyakinan hidup). Syari’ah/fikih merupakan sistem norma (aturan) yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia dan dengan makhluk lainnya. Akhlak merupakan aspek sikap hidup atau kepribadian hidup manusia, dalam arti bagaimana sistem norma yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ibadah dalam arti khas) dan hubungan manusia dengan manusia dan lainnya (muamalah) itu menjadi sikap hidup dan kepribadian hidup manusia dalam menjalankan sistem kehidupannya (politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kekeluargaan, kebudayaan/seni, iptek, olahraga/kesehatan, dan lainlain) yang dilandasi oleh akidah yang kokoh. Sedangkan tarikh (sejarah) kebudayaan Islam merupakan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 101 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamalah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh akidah. Keempat mata pelajaran tersebut memiliki karakteristik sendiri sendiri. Al-Qur’an-Hadis, menekankan pada kemampuan membaca dan menulis alQur’an dan hadits dengan benar, serta hafalan terhadap surat-surat pendek dalam alQur’an, pengenalan arti atau makna secara sederhana dari surat-surat pendek tersebut dan hadits-hadits tentang akhlak terpuji untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan dan pembiasaan. Aspek akidah menekankan pada kemampuan memahami dan mempertahankan keyakinan/keimanan yang benar serta menghayati dan mengamalkan nilai-nilai al-asma’ al-husna. Aspek Akhlak menekankan pada pembiasaan untuk melaksanakan akhlak terpuji dan menjauhi akhlak tercela dalam kehidupan sehari-hari. Aspek Fikih menekankan pada kemampuan cara melaksanakan ibadah dan muamalah yang benar dan baik. Sedangkan aspek Tarikh & kebudayaan Islam menekankan pada kemampuan mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah (Islam), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, ipteks dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam. Pengembangan kurikulum ini dilakukan setelah adanya penelitian oleh mahasiswa KKN STITNU Al Farabi Pangandaran dengan observasi secara langsung ke lembagalembaga pendidikan baik formal maupun non formal dan melalui hasil wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat desa Bangunkarya, hingga hasilnya mendapatkan permasalahan salah satunya mengenai begitu sedikitnya lulusan MDTA disebabkan oleh kurangnya tenaga pendidik, kurangnya pemahaman kurikulum dan kurangnya dukungan orang tua. Maka dari itu pengembangan kurikulum ini bertujuan meningkatkan guru MDTA melalui integrasi pendidikan karakter. Pendidikan karakter sangat penting bagi Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, dan khususnya Madrasah Diniyah Takmil iyah Awaliyah. Pendidikan karakter menjadikan anak sebagai penerus bangsa yang bermartabat, beriman dan bertakwa, memiliki nilai toleransi yang tinggi serta berakhlaqul karimah. Maka dari itu dalam hal ini guru dan orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak. Pengembangan dokumen kurikulum Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah diawali dengan melakukan identifikasi dan analisis nilai-nilai karakter yang terkandung di dalam Standar Kelulusan Madrasah SKL. Hal ini dilakukan untuk mengetahui nilai-nilai karakter yang perlu diintegrasikan madrasah ke dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan. Hasil analisis nilai-nilai karakter kemudian diklasifikasikan kepada beberapa aspek karakter, seperti nilai religius, nilai toleransi, nilai menghargai waktu, nilai budaya ilmiah dan lain-lain. Pengembangan kurikulum merupakan pengembangan dari kurikulum yang tadinya tujuh bidang studi menjadi sembilan bidang studi. Di samping itu dari ketujuh bidang studi tersebut sudah di tambahkan dengan kegiatan pembelajaran yang lainnya. Untuk pengembangan bidang kami mengembangkan tentang bidang kesenian (kaligrafi, adzan, iqomah, qiraati, musik) dan olahraga (main bola, volly, dan permainan tradisional). Dalam pengembangan kurikulum berbasis karakter ini memiliki tujuan menjadikan akhlak yang baik, mandiri, percaya diri, memiliki keterampilan, dan memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Tentu hal ini akan menjadi metode pengembangan pendidikan islami dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan madrasah diniyah takmiliyah awaliyah. Indikator yang menjadi tolak ukur keberhasilan adalah tingkat lulusan dan kualitas peserta didik dengan pengembangan potensi peserta didik. Pengembangan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam nilai-nilai karakter pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah yaitu: https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 102 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 Tabel 1. Nilai-nilai Karakter Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah No. Rumusan SKL Nilai Karakter 1 Menunjukan sikap bersyukur pada Allah swt Syukur 2 Mengenal kekurangan dan kelebihan dari diri sendiri Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya Mengekspresikan nilai-nilai keteladanan rosululloh saw Membiasakan berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk dalam kehidupan sehari-hari. Menghargai keragaman budaya Memiliki sikap senang dengan apa yang dimiliki, tidak iri terhadap oranglain, tidak marah bila melihat oranglain sukses Memiliki sikap berani dalam mengerjakan sesuatu Menunjukan rasa ingintahu yang tinggi dan menyadari potensinya Menunjukan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-hari Memiliki sikap mau berbagi dengan teman Menunjukan sikap sayang terhadap makhluk ciptaan Allah swt. Jujur 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Bertanggungjawab Teladan Teladan Peduli Qonaah Syajaah Bersungguhsungguh Peduli Peduli Saling menyayangi 13 Menghafal dan mengamalkan nilai hormat kepada guru Saling menghormati 14 Menunjukan sikap mau bersedekah rela berkorban dijalan Allah swt Dermawan 15 Membiasakan hidup bersih dan tepat waktu Disiplin 16 Ramah dan santun 18 Berkomunikasi secara jelas dan santun Memiliki sikap kerjasama, tolong menolong, menjaga diri sendiri dan teman sebaya. Menunjukan sikap pantang menyerah 19 Menunjukan sikap rendah hati Tawadhu 20 Sabar 21 Memiliki sikap sabar Mengekspresikan nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari 22 Menunjukan perilaku hemat dalam kehidupan sehari-hari. Hemat 23 Memiliki sikap ikhlas Menunjukan sikap toleransi dengan menghargai adanya suatu perbedaan agar terhindar dari perpecahan. Menunjukan sikap taqwa kepada Allah swt Ikhlas Menunjukan sikap berbuat baik kepada orang tua, keluarga, teman, teyangga, dan tamu. Ihsan 17 24 25 26 https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 Tolong menolong Tekun Iman Samahah Taat 103 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 Berdasarkan indikator tersebut dapat dipahami sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh berbagai satuan pendidikan di berbagai jenjang dan jalur. Tujuan pendidikan nasional memuat berbagai nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga Negara Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendidikan nasional adalah sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan karakter bangsa. Gambar 1. Seminar Pengembangan Kurikulum MDTA Dalam pelaksanaan seminar pengembangan kurikulum pendidikan MDTA menekankan bagaimana pemahaman tenaga pendidikan dalam penyesuaian kurikulum MTDA dalam pelaksanaannya. Penyaluran minat dan bakat peserta didik juga perlu diperhatikan, karena pengembangan bakat peserta didik harus diperhatikan. Tidak lain harus mempunyai program yang diunggulkan yang akhirnya dapat menjadi ciri khas dan kebanggaan dari lembaga pendidikan itu sendiri. Dari pengembangan kurikulum berbasis karakter tersebut dapat di laksanakan melalui kegiatan pembelajaran dengan melalui pembiasaan-pembiasaan beribadah baik yang berhubungan dengan Allah (hablumminallah) ataupun yang berhubungan dengan sesama manusia (hablumminannas). Hal tersebut dapat dijelaskan oleh Mulyasa (2012:125), pendidikan karakter dapat dilakukan dengan berbagai model, yaitu model pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, hadiah dan hukuman, pembelajaran kontekstual, bermain peran, dan pembelajaran partisipatif. Pembentukan karakter peserta didik melalui pendidikan berbasis Al-Quran dimaksudkan, dapat melakukan pembiasaan dan keteladanan, pembinaan disiplin, memberi hadiah dan hukuman. Pembentukan Karakter Peserta Didik yang terdapat dalam pengembangan kurikulum Madrasah Diniyah dengan Pendidikan Berbasis Al-Quran dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Melalui program hafalan, nadom, dan penanaman akhlak yang baik diharapkan setiap lulusan memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkarakter mulia, kompetensi akademik yang utuh dan terpadu, sekaligus memiliki kepribadian yang baik sesuai norma-norma dan budaya Indonesia. Dengan adanya pendidikan karakter menjadikan berkembangnya peserta didik hingga mampu berfikir logis, kreatif, jujur, mandiri, sopan, peduli terhadap sesama (Zubaedi, 2011:16-17). KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan seminar pengembangan kurikulum MDTA adalah sangat membantu dalam pemahaman dari tenaga pendidik. Pengembangan ini menjadi metode pemahaman secara bersama dalam menyikapi kurikulum yang dianjurkan oleh pemerintah untuk digunakan. Tentu penyesuaian ini tidak bisa diterapkan secara https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 104 PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 01, No. 02 (April, 2023): 98-105 e-ISSN 2985-7996 langsung perlu pemahaman secara menyeluruh. Maka dari itu hasil dari seminar ini adalah pengembangan kurikulum dari kurikulum MDTA yang ada. Sesuai dengan hasil dari pengembangan kurikulum tentang pendidikan karakter melalui pengenalan akhlaq mahmudah dan mazmumah serta penanaman akhlak mahmudah atau akhlak yang baik terhadap anak-anak yang alhamdulillah telah kami terapkan dengan edukasi secara langsung terhadap tingkat pendidikan formal dan non formal dengan tema kita Semua Bersaudara dan subtema Akhlak Terhadap Sesama manusia berharap dapat menjadi jembatan untuk meningkatkan lulusan MDTA menghasilkan insan indonesia yang cerdas, beriman dan bertaqwa serta berakhlaqul karimah. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada pihak Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU) Al Farabi Pangandaran, jajaran pemerintahan desa Bangunkarya kecamatan Langkaplancar, dan seluruh tenaga Pendidik MDTA di desa Bangunkarya yang telah memberikan fasilitas serta informasi dalam memberikan kesempatan kepada mahasiswa KKN-PAR STITNU Al Farabi Pangandaran tahun 2023. Untuk melaksanakan program kerja yang langsung berkaitan dengan problem permasalahan yang ada. Tentu hal ini salah satu implementasi dari hasil yang diperoleh di bangku perkuliahan dengan harapan dapat meningkatkan kualitas dan kapasitas dari sumber daya manusia yang ada. DAFTAR PUSTAKA Ardy. N. W, (2012). DESAIN MANAJEMEN PENDIDIKAN KARAKTER DI MADRASAH. INSANIA Vol. 17, No. 1 Januari-April Baharun Hasan, 2017. Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Sistem Kepemimpinan Madrasah. Jurnal Ilmu Tarbiyah, Vol. 6 No.1 Januari. Djihadah Nuryati, 2020. Kecerdasan Emosional dan Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Aplikasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di Madrasah. Jurnal Pendidikan Madrasah Vol.5 No.1 Mei. Khamalah Nur, 2017. Penguatan Pendidikan Karakter di Madrasah. Jurnal Kependidikan, Vol. 5 No.2 November. Kementrian Agama RI Direktoral Pendidikan Islam Pendidikan Diniyah dan Pendidikan Pondokpesantren 2014. Pedoman Penyelenggaraan Madrasah Diniyah Takmililiyah. Lubis, R. R., & Nasution, M. H. (2017). Implementasi Pendidikan Karakter di Madrasah Ibtidaiyah. JIP (Jurnal Ilmiah PGMI), 3(1), 15-32. Muhammad Din Zakariya, 2020. Teori Pendidikan Karakter Menurut Al Ghojali. Jurnal Pendidikan Islam Vol.9 No.1 UU No. 20 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Wiyani, N. A. (2012). Desain Manajemen Pendidikan Karakter di Madrasah. INSANIA: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, 17(1). https://ejournal.itka.ac.id/index.php/primer/article/view/56 105