Vol. No. Januari 2024, page 24-31 ISSN: 2809-0225 (Onlin. DOI: 10. 35584/carejournal. Analisa Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap Stunting : Literatur Review Puguh Santoso1a* 1Akper Dharma Husada Kediri. Jawa Timur. Indonesia a puguhsantoso12@gmail. *Corresponding author INFORMASI ARTIKEL Sejarah artikel: Tanggal diterima: 04 November 2023 Tanggal revisi: 28 Desember 2023 Diterima: 12 Januari 2024 Diterbitkan: 19 Januari 2024 Kata Kunci : Faktor Penyebab Stunting Balita ABSTRAK Stunting pada anak merupakan masalah nasional yang disebabkan oleh multifaktor yang berdampak negatif terhadap sumber daya manusia di masa yang akan datang antara lain berdampak terhadap penurunan kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menghambat pertumbuhan ekonomi dan produktifitas kerja dan memperburuk kesenjangan serta dimana terjadi pertumbuhan tinggi badan lebih pendek dari usia pada umumnya. Stunting pada anak balita merupakan konsekuensi dari beberapa faktor yang sering dikaitkan dengan kemiskinan termasuk gizi, kesehatan, sanitasi dan lingkungan. Ada lima faktor utama penyebab stunting yaitu kemiskinan, sosial dan budaya, peningkatan paparan terhadap penyakit infeksi, kerawanan pangan dan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Tujuan dari literature review ini adalah untuk menganalisa faktor faktor yang berpengaruh terhadap stunting Metode: Literature yang didapatkan dari SINTA. PUBMED. Garuda dan google scholar 10 literatu re review menggunakan beberapa desain yaitu deskriptif eksploratif, cross sectional, deskriptif cross sectional study, case-control, deskriptif analitik, deskriptif dari tahun 2013-2023 kemudian dilakukan analisa PICO. Hasil: hasil penelitian menunjukan faktor faktor yang bervariasi . Kesimpulan: Faktor faktor stunting bisa dipengaruhi oleh kemiskinan, sosial dan budaya, peningkatan paparan terhadap penyakit infeksi, kerawanan pangan dan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan secara sendiri atau bersama sama Copyright . 2022 Care Journal This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License PENDAHULUAN Masa anak balita merupakan kelompok yang rentan mengalami kurang gizi salah satunya adalah stunting yang merupakan ganguan pertumbuhan linier (Aridiyah. Rohmawati, & Ririanty, 2. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO , juga dapat dijadikkan indikator yang terbaik untuk mengukur kesejahteraan anak-anak dan merefleksikan secara akurat dari situasi kesenjangan social yang ada. (Darwata. I Wayan. Yanti. Ni kadek Ratih. Kartinawati, 2. , di Indonesia masalah gizi masih menjadi prioritas, hal ini karena permasalahan gizi berdampak pada kualitas sumber daya manusia (SDM). (Laksono & Megatsari, 2. Pada tahun 2019 berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) dapat diketahui bahwa prevalensi stunting nasional menunjukkan angka sebesar 27,67%. Sedangkan berdasarkan data yang diungkapkan oleh Dokter Hasto kepala BKKBN pada tahun 2021 angka stunting secara nasional turun menjadi sebesar 24,4% . (Teknologi. Fariza. Asmara, & Istiqomah, 2. Kasus stunting pada balita di Indonesia terbilang cukup tinggi melebihi standar dari yang ditetapkan oleh WHO yaitu sebesar 20% . Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: puguhsantoso12@gmail. Santoso, 2024 Pemerintah menuangkan kebijakan dalam rencana pembangungan jangka menengah nasional (RPJMN) 2020-2024 untuk memprioritaskan percepatan penurunan stunting balita dengan target 14% . (Dewanti et al. , 2. Faktor penyebab stunting terdiri dari faktor basic seperti faktor ekonomi dan pendidikan ibu, kemudian faktor intermediet seperti jumlah anggota keluarga, tinggi badan ibu, usia ibu dan jumlah anak ibu, selanjutnya adalah faktor proximal seperti pemberian ASI eksklusif, usia anak dan BBLR (Berat Badan Lebih Renda. ,(Tumilowicz. Beal, & Neufeld, 2. , dan atau lima faktor utama penyebab stunting yaitu kemiskinan, sosial dan budaya, peningkatan paparan terhadap penyakit infeksi, kerawanan pangan dan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan(Nugroho. Sasongko, & Kristiawan, 2. Dampak dari stunting bukan hanya gangguan pertumbuhan fisik anak, tapi mempengaruhi pula pertumbuhan otak balita. Stunting berdampak seumur hidup terhadap anak-anak. (Ulfah & Nugroho, 2. Maka dari itu, dengan adanya penelitian ini diharapkan mampu mengetahi faktorfaktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada anak balita. BAHAN DAN METODE Studi literature ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR), yaitu sebuah studi literature secara sistematik, menyeluruh dengan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengumpulkan data-data penelitian yang telah ada. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa faktor faktor yang berpengaruh terhadap stunting . Hal lain yang relevan peneliti gunakan dalam mendapatkan jurnal tentang metode perawatan ulkus diabetes. Literature review ini disusun melalui penelusuran artikel penelitian yang sudah terpublikasi dan merupakan original research. Artikel dikumpulkan melalui database PubMed dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci faktor penyebab, stunting,balita. , causal factors, stunting, toddlers Kriteria artikel yang digunakan adalah yang dipublikasikan dari tahun 2013 sampai dengan 2023 yang diakses fulltext. Proses pemilihan artikel yang diulas ditampi pencarian artikel. Maka selanjutnya diekslusikan dan pada akhirnya artikel yang telah masukan selanjutnya Alat ekstraksi data dirancang untuk memandu informasi dari catatan sesuai dengan tujuan penelitian. Data yang diekstraksi pada setiap artikel yang inklusi meliputi: penulis, tahun, metode, dan hasil/output . Setelah dilakukan filter berdasarkan kesesuaian judul artikel dengan tujuan penelitian sehingga diperoleh 9 artikel yang relevan. Hasil dari analisa data selanjutnya diketahui PICO (Population. Intervention. Comparison. Outcom. sehingga data yang dikumpulkan menunjukkan faktor faktor yang berpengaruh terhadap stunting. HASIL DAN DISKUSI Studi/Judul : Faktor Ae faktor yang mempengaruhi stunting pada balita di kabupaten grobogan, tempat penelitian kabupaten Grobogan . Jumlah sampel /responden dengan populasi balita stunting usia 0 Ae 59 bulan. Jumlah sampel dalam penelitian ini 90 Analisis data bivariat menggunakan Chi Square dan analisis data multivariat menggunakan Regresi logistik. Hasil penelitian diketahui bahwa status gizi, masalah kesehatan pada anak, kebiasaan makan makanan instan, dan tinggi badan ibu berhubungan dengan stunting pada balita dengan nilai p value < 0,05. Pantang makanan, riwayat konsumsi tablet besi, riwayat antenatal care, riwayat penyakit penyerta dalam kehamilan, riwayat pemberian ASI ekslusif, sanitasi air bersih, lingkungan perokok dan kondisi ekonomi tidak berhubungan dengan kejadian stunting pada balita dengan p value = > 0,05. Status gizi, tinggi badan ibu, dan kebiasaan makan makanan instan secara bersama- sama sebagai faktor resiko kejadian stunting pada balita. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu status gizi, masalah kesehatan pada anak, kebiasaan makan makanan instan, dan tinggi badan ibu berhubungan dengan stunting pada balita(Mulyaningrum. Susanti, & Nuur, 2. Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: puguhsantoso12@gmail. Santoso, 2024 Studi/judul : Menilik Tantangan Pembangunan Kesehatan di Indonesia: Faktor Penyebab Stunting di Kabupaten Jember, . Penelitian ini menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi penyebab stunting dan bagaimana kebijakan pemerintah daerah dalam penanganan stunting. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan teknik purposive untuk menentukan informan sebagai narasumber. Sementara, teknik pengumpulan data terdiri atas wawancara mendalam dengan format pertanyaan terbuka, observasi langsung dan dokumen tertulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab stunting adalah pernikahan dini, tingkat pendidikan yang rendah, serta masalah pekerjaan dan pendapatan. Kesimpulan . Pernikahan dini dan rendahnya pendidikan menyebabkan ketidaksiapan orangtua dalam mengasuh anak. Masalah pekerjaan dan pendapatan dimana rata-rata informan adalah sebagai buruh tani. Selain itu, masalah berikutnya adalah masalah sanitasi, dimana beberapa warga belum memiliki akses air minum dan sanitasi yang layak. (Ulfah & Nugroho, 2. Studi/judul : faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting Pada balita di nagari talang babungo, kabupaten solok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan asupan protein, asupan zink, diare, dan BBLR dengan kejadian stunting pada Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional design. Penelitian dilaksanakan di Nagari Talang Babungo. Kecamatan Hiliran Gumanti. Kabupaten Solok dari bulan Februari 2019 sampai Mei 2020. Populasi adalah seluruh anak usia 6-59 bulan di Nagari Talang Babungo dengan sampel 72 orang yang diambil menggunakan teknik simple random sampling. Data dianalisa secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian diperoleh kejadian stunting 41. 7 %, asupan protein yang 6 %, asupan zink yang kurang 37. 5 %, anak yang mengalami diare 27. 8 %, dan anak dengan BBLR sebesar 8. 3 %. Terdapat hubungan antara stunting dengan kejadian diare, namun tidak terdapat hubungan antara stunting dengan asupan protein, asupan zink, dan kejadian BBLR. (Harianisa & Yani, 2. Studi/Judul : Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Desa Malinau Hilir Kabupaten Malinau Kalimantan Tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis hubungan pola pemberian makan ibu, kebersihan, pencarian pelayanan kesehatan dan stimulasi psikososial dengan kejadian stunting pada balita. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling sehingga didapatkan sampe 109 responden. Responden penelitian adalah ibu yang memiliki balita usia 24-59 bulan di Desa Malinau Hilir Kabupaten Malinau. Instrumen yang digunakan adalah data primer dengan mengukur Tinggi Badan Balita menggunakan microtoise dan Kuesioner. Analisa data yang digunakan yaitu uji statistik bivariat dengan Uji Chi-Square. Penelitian ini menujukkan bahwa terdapat hubungan antara pola pemberian makan . =0,. , pola kebersihan . =0,. , pola pencarian pelayanan kesehatan. =0,. dan pola stimulasi psikososial . =0. dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di Desa Malinau Hilir Kabupaten Malinau. Kesimpulan penelitian adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita meliputi pola pemberian makan, pola kebersihan, pola pencarian pelayanan kesehatan dan pola stimulasi psikososial. (Penelitian. Politeknik, & Ekawati, 2. Studi/Judul : faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting Pada balita di wilayah kerja puskesmas lompoe Kota parepare . Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Lompoe Kota Parepare Tahun 2020, desain penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini menunjukkan proporsi stunting sebesar 28,6% dan tidak stunting sebesar 71,4%. Hasil uji chi-square pendidikan ibu p-value=0,016, pengetahuan ibu tentang gizi balita pvalue=0,008, pendapat perkapita p-value=0,031, dan pemberian ASI ekslusif pvalue=0,788. Berdasarkan hasi ini, ada pengaruh pendidikan ibu, pengetahuan ibu Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: puguhsantoso12@gmail. Santoso, 2024 tentang gizi balita, dan pendapatan perkapita terhadap kejadian stunting pada (Sulaeman, 2. Studi/Judul : gambaran faktor resiko stunting balita di desa siwalanpanji Kabupaten sidoarjo jawa timur. Tujuan penelitian mengidentifikasi gambaran faktor risiko kejadian stunting pada Balita di di Desa Siwalanpanji. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur. Penelitiani ini adalah penelitian deskriptif observasi. Populasi semua anak usia balita yang mengalami stunting di Posyandu Anggrek. Desa Siwalanpanji. Kabupaten Sidoarjo. Jawa Timur. Tehnik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah 30 Pengumpulan data mengunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan 60% anak stunting mendapatkan ASI ekslusif. Semua keluarga . %) yang memiliki anak stunting dengan sosial ekonomi berpenghasilan dibawah UMK (Upah Minimun Kabupate. Sidoarjo, yaitu sebesar Rp. Sebanyak 60 % anak stunting memiliki kecenderungan perilaku makan food approach atau perilaku suka makan dengan kecenderungan indikator perilaku makan tertinggi yaitu pada kategori desire to drink atau keinginan anak untuk selalu minum. Sebanyak 67% ibu yang memiliki anak stunting dengan perilaku pemberian makan dalam kategori kurang baik(Purnama, 2. Studi/Judul : faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Stunting pada balita di k abupaten malang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktorfaktor yang mempengaruhi balita stunting di Kabupaten Malang. Jenis penelitian ini adalah penelitian survei analitik Case Control dengan pendekatan retrospective yang merupakan suatu rancangan pengamatan epidemiologis untuk mempelajari hubungan tingkat keterpaparan dengan kejadian penyakit atau masalah kesehatan lainnya. Waktu pelaksanaan penelitian pada bulan Juni-Agustus 2019. Jenis data yang dikumpulkan meliputi tingkat pengetahuan ibu, pola asuh, ketahanan pangan rumah tangga, pelayanan kesehatan, akses sumber air bersih, tingkat ekonomi, sosial budaya, pengasuhan balita, dan penyebab stunting. Dikumpulkan dengan cara observasi, penimbangan, dan wawancara. Berdasarkan pengolahan data diperoleh Pengetahuan gizi ibu balita stunting 60% tergolong kategori baik. Pola asuh balita stunting yang kurang tepat. Ketersediaan dan ketahanan pangan dalam keluarga balita stunting sebesar 76% tergolong kurang dan rawan pangan. Pelayanan kesehatan ibu balita stunting selama kehamilan meliputi pemberian tablet tambah darah sebesar 98% tetapi berdasarkan hasil wawancara sebagian besar tidak dikonsumsi. Akses sumber air bersih keluarga balita stunting sebanyak 98% berasal dari PDAM dan sebanyak 2% berasal dari sumur tertutup. Tingkat ekonomi keluarga balita stunting sebesar 96% berada dibawah UMR Kabupaten Malang. Sosial budaya makan keluarga balita stunting 13% memiliki pantangan makanan saat hamil hingga menyusui. Pengasuhan balita stunting sebagian besar diasuh oleh ibu sebayak 76% dan diasuh oleh nenek atau saudara sebanyak 24%. Penyebab adanya kejadian stunting berdasarkan faktor yang paling mempengaruhi sesuai urutan yaitu: pendapatan keluarga, pemberian ASI eksklusif, besar keluarga, pendidikan ayah balita, pekerjaan ayah balita, pengetahuan gizi ibu balita, ketahanan pangan keluarga, pendidikan ibu balita, tingkat konsumsi karbohidrat balita, ketepatan pemberian MP-ASI, tingkat konsumsi lemak balita, riwayat penyakit infeksi balita, sosial budaya, tingkat konsumsi protein balita, pekerjaan ibu balita, perilaku kadarzi, tingkat konsumsi energi balita, dan kelengkapan imunisasi balita. (Supariasa. IDewa Nyoman, 2. Studi/Judul : gambaran faktor penyebab kejadian stunting pada balita di Wilayah kerja puskesmas semanding tuban. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktor apa yang menyebabkan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Semanding Tuban tepatnya di Desa Penambangan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain penelitian survei deskriptif, teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling dengan populasi 160 orang dan 114 sampel ibu yang memiliki balita stunting. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan kuesioner. Data disajikan dalam bentuk tabel frekuensi. Hampir seluruhnya balita stunting Desa Penambangan tidak memiliki berat badan lahir rendah dengan jumlah Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: puguhsantoso12@gmail. Santoso, 2024 sebanyak . ,5%), sebagian besar ibu yang memiliki balita stunting memiliki tingkat pendidikan dasar . ,6%). Hampir seluruhnya orang tua yang memiliki balita stunting berpendapatan dibawah UMR Kota Tuban . ,3%). Hampir seluruhnya ibu yang memiliki balita stunting tidak memberikan ASI eksklusif . ,1%). Dari tabel distribusi frekuensi yang menyebabkan kejadian stunting di Desa Penambangan yaitu faktor pendidikan ibu, faktor pendapatan orang tua dan pemberiaan ASI eksklusif. Faktor yang paling besar ditemukan pada balita stunting di wilayah kerja Puskesmas Semanding Tuban setelah pengisiaan kuisioner yang disebarkan adala faktor pendidikan ibu, pendapatan orang tua dan pemberiaan ASI eksklusif dikelompokkan tabel distributif dipersentasekan(Rahayu et , 2. Studi/judul : Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Stunting pada Anak Usia 2-5 Tahun di Puskesmas Ubud 1 Gianyar . Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada anak usia 2Ae5 tahun di Puskesmas Ubud 1 Gianyar. Penelitian ini akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Ubud 1. Gianyar pada bulan Januari -Juni 2022. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan desain kasus kontrol . ase contro. , yang menggunakan 60 sampel, terdiri dari 30 kasus dan 30 kontrol. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling, dimana semua subjek yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah sampel yang diperlukan Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tinggi badan, wawancara dan pengisian kuesioner. Penelitian dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Berdasarkan uji Chi-square didapatkan hubungan yang bermakna antara pola pemberian makan . -value 0,. , pemberian ASI eksklusif . -value 0,. , tingkat pendidikan orangtua . -value 0,. dan penyakit infeksi . -value 0,. Sedangkan pemanfaatan pelayanan kesehatan tidak dapat diukur dalam penelitian ini. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa rendahnya pemberian ASI Eksklusif merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian stunting dibandingkan faktor risiko lainnya . dds ratio = 9,. (Darwata. I Wayan. Yanti. Ni kadek Ratih. Kartinawati, 2. Pembahasan Status gizi merupakan faktor yang berhubungan dan beresiko terdahap kejadian stunting pada balitata, (Nuggraheni. Dini. Nuryanto. Wijayanti . Hartanti Sandi. Panunggal Binar. Syauqy, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Harianisa, (Harianisa & Yani, 2. bahwa asupan konsumsi energi berhubungan dengan kejadian stunting. Asupan gizi yang tidak adekuat akan mempengaruhi pertumbuhan fisik pada anak (Dessie. Fentie. Abebe. Ayele, & Muchie, 2. , masalah kesehatan pada anak berhubungan dengan kejadian stunting pada balita, meskipun demikian dalam analisis multivariat masalah kesehatan pada anak bukan sebagai faktor resiko terjadinya stunting hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Aridiyah, dkk(Aridiyah et al. , 2. ( 2. bahwa penyakit infeksi berhubungan dengan kejadian stunting pada anak balita yang berada di pedesaan maupun perkotaan . Masalah kesehatan anak dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan dikarenakan intake makanan menurun, menurunnya absorbsi zat gizi oleh tubuh yang menyebabkan tubuh kehilalangan zat gizi yang dibutuhakan untuk pertumbuhan dan perkembangan(Laksono & Megatsari, 2. di setai dengan ibu yang pendek beresiko melahirkan anak yang stunting 1,98 kali lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan yang normal. (Julia. Permasalahan Budaya juga dapat memengaruhi terjadinya stunting yaitu pada praktek pernikahan dini,(Nugroho et al. , 2. tingkat pendidikan yang rendah, serta masalah pekerjaan dan pendapatan menjadi pemicu terjadinya stunting. (Rahmawati. Fajar, & Idris, 2. bahwa pendapatan yang rendah akan mempengaruhi makanan yang diberikan oleh balita. (Tekile. Woya, & Basha, 2. kualitas dan kuantitas makanan ditentukan oleh faktor pendapatan. Makin tinggi daya beli keluarga maka semakin baik pula kualitas makanan yang dikonsumsi. Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: puguhsantoso12@gmail. Santoso, 2024 Pendapatan perkapita keluarga yang rendah lebih cenderung dialami oleh ibu yang memiliki anak stunting. Pendapatan perkapita mempengaruhi kejadian stunting pada balita karena keluarga yang berpendapatan cukup akan mampu membeli makanan yang bergizi dan mudah menerapkan perilaku hidup sehat. ini(Dewanti et al. , 2. ekonomi yang rendah berdampak pada status gizi anak yang membuat anak tersebut cenderung pendek atau kurus. (Onis & Branca, 2. Hasil ini selaras dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Ekawati G(Penelitian et al. , 2. , yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara ketahanan pangan rumah tangga dengan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di Kecamatan Sedayu. Bantul. Yogyakarta. (Nuggraheni. Dini. Nuryanto. Wijayanti . Hartanti Sandi. Panunggal Binar. Syauqy, 2. Demukian pula dengan anak yang kekurangan vitamin B2. B6 dan kekurangan mineral Fe dan Zn juga memiliki risiko akan menjadi anak stunted. (Tumilowicz et al. , 2. Penghasilan keluarga yang cukup akan lebih mampu untuk membeli bahan-bahan makanan yang baik dan bergizi. Ketidak cukupan konsumsi gizi pada balita inilah yang menyebabkan anak menjadi stunting. Dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat sosial ekonomi maka semakin banyak jumlah dan bervariasi ketersediaan jenis makanan yang disediakan pada tingkat rumah tangga Di sisi lain, tingkat sosial ekonomi selalu memiliki hubungan yang positif dengan tingkat pendidikan. Mereka yang miskin cenderung ditemukan memiliki pendidikan rendah yang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari masih kurang. Masalah pekerjaan ini juga imbas dari pendidikan orang tua yang rendah sehingga kesulitan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. (Prevalensi. Aceh. Raya, & Aceh, n. ) Sedangkan terdapat hubungan yang bermakna antara stunting dengan kejadian diare. Pelaksanaan pola makan yang baik oleh ibu merupakan salah satu faktor yang menentukan besarnya asupan makan anak. Tingginya angka susah makan pada anak yang mengalami stunting akan berkaitan dengan asupan gizi anak dan jika terjadi pada periode golde age akan menyebabkan perkembangan otak dan motorik anak menjadi terhambat. Ibu yang sering membawa balita ke posyandu maka status gizi balita akan terpantau dengan baik serta ibu akan mendapatkan banyak informasi mengenai pemenuhan gizi baik bagi anak, keaktifan dari ibu sendiri dalam pemanfaatan posyandu sangat diperlukan untuk memantau gizi balita secara teratur . Studi Ilmiah (Pillai, 2. , yang menyatakan bahwa adanya pengaruh antara pendidikan ibu terhadap kejadian stunting. Tingkat pendidikan ibu mempengaruhi anak lahir bertubuh pendek stunting. Ibu yang berpendidikan dasar cenderung memiliki balita stunting. Hal ini karena ibu yang memiliki tingkat pendidikan rendah kemungkinan kurang mampu atau sulit dalam menyerap informasi tentang makanan-makanan yang bergizi, pola hidup sehat, dan perilaku bersih. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Dessie et al. , 2. menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan ASI ksklusif cenderung tidak mengalami ASI Eksklusif memiliki kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak(Tumilowicz et al. , 2. Pengetahuan dan praktik orang tua dalam memberikan makan gizi seimbang sangat penting untuk pencegahan stunting pada anak. (Ulfah & Nugroho, 2. Hal Informasi dan pengetahuan yang dimiliki ibu dalam memberikan makan kepada anak dapat mempengaruhi perilaku pemberian makan oleh orang tua kepada anak. Kebersihan tubuh, makanan dan lingkungan berperan besar dalam pemeliharaan kesehatan yang akan mencegah penyakit-penyakit infeksi sebagai faktor penyebab turunnya status gizi anak Kebersihan diri merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting, perilaku kebersihan yang buruk oleh ibu akan menyebabkan anak terkena penyakit yang akan berpengaruh terhadap keadaan gizi anak (Vilcins. Sly, & Jagals, 2. (Silalahi et al. , 2. Journal homepage: http://jurnalstikestulungagung. id/index. php/care *Corresponding author: puguhsantoso12@gmail. Santoso, 2024 KESIMPULAN Keluhan pusing pasien dengan vertigo sebelum dilakukan terapi brandt daroff Berdasarkan hasil review literatur didapatkan Analisa Faktor faktor yang berpengaruh terhadap stunting. , dari hasil penelitian 9 jurnal memperlihatkan hasil bahwa berbagai faktor yang berpengaruh terhadap stunting , baik secara tunggal dan bersamaan , yaitu Faktor faktor stunting bisa dipengaruhi oleh kemiskinan, peningkatan paparan terhadap penyakit infeksi, kerawanan pangan dan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan secara sendiri atau bersama sama. Penulis berharap penelitian ini selanjutnya akan sangat membantu bagaimana melakukan healt promotian, case finding dan melakukan pencegahan dan . Banyak sektor yang mesti terlibat dan bekerja besama sama untuk masalah stunting. REFERENSI