Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 01 (December 2. 39Ae53 Jurnal Teologi (JUTEOLOG) e-ISSN 2775-4006 https://ejurnal. id/index. php/juteolog p-ISSN 2774-9355 https://doi. org/10. 52489/juteolog. Perkawinan Adat Sabu dan Perjumpaanya Dengan Pernikahan Kristen Di Kepualaun Sabu Hemi Bara Pa Pendidikan Agama Kristen. IAKN Kupang, hemibarapa7@gmail. Recommended Citation Turabian 8th edition . ull not. Hemi Bara Pa. AuPerkawinan Adat Sabu dan Perjumpaanya Dengan Pernikahan Kristen Di Kepualaun SabuAy Jurnal Teologi (JUTEOLOG) 4, no. 1 (December 19, 2. : 1, accessed December 19, 2023, https://doi. org/10. 52489/juteolog. American Psychological Association 7th edition (Pa, 2023, p. Received: 17 Maret 2023 Accepted: 30 April 2023 Published: 19 Desember 2023 This Article is brought to you for free and open access by Sekolah Tinggi Teologi Kadesi Yogyakarta. It has been accepted for inclusion in Christian Perspectives in Education by an authorized editor of Jurnal Teologi (JUTEOLOG). For more information, please contact hemibarapa7@gmail. Hemi Bara Pa Abstract Abstract The purpose of this research is to describe the views of grey marriage and Christian The method used in this research is social-historical method with qualitative The subjects of this research are traditional leaders, community, religious leaders. The result of the research is that the Evangelical Church in Timor is open and wholeheartedly accepts various inputs from the nuances of human life and the Sabu community, and in this case, the kenoto marriage. The meanings, values and functions of life contained in customs, traditions and culture must be accepted by the Evangelical Church in Timor as something positive in order to develop a pastoral way that is more in favour of the interests of humans and simple people. Simultaneously, the attitude of the Evangelical Church in Timor is a good indicator that it is always open to the opportunity to respect human dignity and broadly respect human rights in the image of human culture and Sabu society. Keywords: Marriage. Custom. Christian Marriage Abstrak Tujuan dari riset ini adalah untuk menggambarkan pandangan pernikahan orang sabu dan penikahan secara kekristenan. Metode yang dipakai dalam riset ini adalah metode sosial historis dengan pendekatan kualitatif. Subyek dari riset ini adalah tokoh adat, masyarakat, tokoh agama, pendeta. Maka hasil penelitian yang diperoleh saat melakukan penelitian adalah Gereja Masehi Injili di Timor bersikap terbuka dan dengan sepenuh hati menerima berbagai masukan yang terpercik dari nuansa kehidupan manusia dan masyarakat Sabu, dan dalam hal ini perkawinan kenoto. Makna dan nilai serta fungsi kehidupan yang terdapat dalam adat, tradisi dan budaya, haruslah diterima oleh Gereja Masehi Injili di Timor sebagai sesuatu yang positif dalam rangka mengembangkan cara pastoral yang lebih berpihak pada kepentingan manusia dan masyarakat sederhana. Serentak sikap Gereja Masehi Injili di Timor seperti ini menjadi indikator yang baik bahwa ia selalu membuka peluang untuk menghormati harga diri manusia dan secara luas pula memberi respek kepada Hak Azasi Manusia dalam citra berbudaya manusia dan masyarakat Sabu. Kata Kunci: Perkawinan. Adat. Pernikahan Kristen PENDAHULUAN Orang Kristen di Sabu baru ada satu setengah abad kemudian. Tercatat bahwa pada tahun 1756 sudah ada sejumlah orang Kristen di enam jemaat dengan beranggotakan 600 orang. Bahkan pelayaran pada bulan September 1770 menuju Eropa, yang mampir di Sabu menyatakan bahwa terdapat sejumlah orang Kristen (Sioh, 2. Kekristenan di Sabu mengalami perkembangan yang sangat lambat bahkan ada kecenderungan pada saat tertentu Pada saat Gereja Masehi Injil di Timor berdiri sendiri di tahun 1947, kekristenan atau anggota jemaat di Sabu terus bertambah. Walau demikian, jika dibandingkan dengan di Timor dan Rote, di mana semua masyarakatnya sudah menjadi Kristen, maka di Sabu, agama asli (Jingiti. masih cukup banyak penganutnya. Nilai-nilai yang tersimpan di dalam simbol- Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa simbol budaya lokal dapat saja terbungkus pula dalam simbol-simbol kekristenan. Kondisi demikian masih berlangsung hingga kini dalam kehidupan orang Sabu (Sioh, 2. Nilai-nilai yang tersimpan di dalam simbol-simbol budaya lokal dan dalam hal ini kekristenan, hal itu dapat dilihat dalam berbagai ritus yang berlangsung sepanjang siklus hidup orang Sabu. Salah satu ritus yang menonjol dalam siklus hidup orang Sabu yaitu ritus perkawinan dengan berbagai tahapannya. Dengan dan dalam proses pemahaman tersebut, maka penulis akan membatasi diri pada salah satu bagian integral dari budaya Sabu yakni perkawinan atau Kenoto yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh suku bangsa Sabu Raijua. Kenoto merupakan upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Sabu dalam konteks perkawinan (Sioh, 2. Karena itu. Kenoto juga menjadi syarat utama dalam sebuah upacara perkawinan adat di Sabu. Kenoto dalam sebuah perkawinan diisi dengan sirih, pinang, tembakau, kapur, emas dan uang. Upacara adat ini diberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai bukti ketulusan hati orang tua serta sanak saudara dan keluarga pengantin laki-laki untuk mengambil si pengantin perempuan menjadi isterinya, karena itu Kenoto harus diserahkan kepada keluarga perempuan, karena dinilai sebagai perwujudan kasih dan menguatkan ikatan perkawinan (Logo, 2. Mengingat luasnya wilayah di kepulauan Sabu Raijua ini, maka penulis membatasi diri pada kelompok masyarakat adat Seba (Do HaAob. yang juga masih kental dengan pelaksanaan ritus tersebut (Lumbon et al. , 2. Perkembangan dari tahun ke tahun jumlah penduduk yang beragama Kristen terus bertambah dan agama Jingitiu semakin berkurang. Akan tetapi hal ini bila dikaitkan dengan perkawinan, maka dipastikan akan terjadi perkawinan campur antara yang beragama Jingitiu dengan beragama Kristen. Sebagai konsekuensi dari hal ini, dalam pengurusan perkawinan mengalami perubahan baik dalam tahapan, tingkah laku dan simbol yang digunakan, dan paling mendasar mempengaruhi perkembangan pola pemikiran (Elo, 2. Adat Perkawinan Sabu khususnya Haba memiliki tujuan, dasar, syarat dan prosesi tersendiri. Tahapan-tahapan perkawiannya adalah. Pedai ihi ade, ore li, puru loko, pemaho konoto, aggo lere kelao ana mobanni, dan hegutu kado (Molana, 2. Pada setiap tahap-tahapan ini memiliki simbol-simbol yang mengandung nilai atau makna. Pelaksanaan nikah adat Sabu ditetapkan dalam suatu upacara atau ritus adat yang dinyakini dan dilaksanakan secara terus-menerus oleh generasi berikutnya. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa Budaya pernikahan ini juga diperhadapkan dengan kehadiran agama Kristen beserta Agama Kristen memiliki ajaran yang harus dilaksanakan dalam pengurusan pernikahan (Dake, 2. Konsep yang digunakan adalah pemberkatan/pengukuhan bagi dua pemuda dan pemudi yang didasarkan pada cinta kasih yang direstui oleh pihak orangtua dan Pengurusan pernikahan Kristen ini melalui dua tahapan yakni pastoral dan pemberkatan nikah. Tahap pastoral dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui cinta kasih dan membimbing dalam memasuki rumah tangga Kristen dalam, dan kegiatan pemberkatan dan pengukuhan oleh pihak gereja dalam hal ini Pendeta untuk mengukuhkan dan memberkati apa yang menjadi cinta kasih mereka yang direstui kedua orang tua dan keluarga. Kedua tahapan tersebut dilakukan dalam suatu liturgi ibadah (Narakaha, 2. Kedua institusi yang berbeda ini yang melaksanakan kegiatan perkawinan bagi masingmasing jemaatnya. Seiring dengan perjalanan waktu, kedua institisi ini selalu terjadi perjumpaan atau pertemuan yang saling memberikan pengaruh, baik dalam aspek material maupun non material. Hasil pengamatan yang terjadi di Sabu, perubahan material terlebih dahulu baru diikuti dengan perubahan non material. Hal ini nampak pada proses perubahan pada tahapan, simbol yang digunakan dalam acara adat perkawinan, dan sebagai akibatnya non material berdampak juga pada perubahan material. Dari kaca mata berbeda atas seluk-beluk perkawinan nikah adat Sabu dan perjumpaannya dengan agama Kristen, maka penulis hendak melakukan sebuah kajian terhadap pokok tersebut dengan judul: Perkawinan Adat Sabu dan Perjumpaanya dengan Pernikahan Kristen di Kepualaun Sabu Raijua METODE Metode penelitian yang digunakan dalam rangka menjawab pertanyaan penelitian dan pencapaian tujuan penelitian. Karena dengan menentukan metode penelitian dapat memecahkan atau menemukan jawabannya (Sugiono, 2. Sehubungan masalah penelitian yang diteliti untuk memperoleh jawaban, maka penulis menggunakan pendekatan sosial historis, dimaksudkan untuk mengeksplorasikan konsep dan variabel serta indikator Metode pengumpulan data yakni: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan studi literatur (Arifin, 2. Pengolahan data Penelitian, akan dipaparkan secara eksplanatif. Untuk memperoleh hasil yang sesuai dengan metode penelitian tersebut, maka analisis data tersebut memakai prosedur berikut: Penulis memilah-milah data itu atas kategori-kategori berupa topik-topik yang meliputi unsur-unsur pokok dalam kehidupan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa masyarakat HaAoba. Topik-topik itu adalah tentang budaya perkawinan HaAoba dan perkawinan kekristenan jemaat di HaAoba serta perjumpaannya. Hasil dari pengolahan data inilah yang dituangkan dalam kesimpulan-kesimpulan baik kesimpulan dalam setiap bab maupun dalam kesimpulan umum sebagai hasil penelitian. Berdasarkan hasil kesimpulan tersebut, selanjutnya oleh penulis mengemukakan berbagai rekomendasikan. Teknik analisa data penelitian tersebut, akan analisa dengan mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1. Pendataan. dalam pendataan ini berdasarkan variabel dan indikotar penelitian. Pengklasifikaian data. data yang telah di kumpulkan selanjutnya diklasifikasikan. Menganalisis data berdasarkan klasikfikasinya. Menarik kesimpulan hasil penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Kenoto Dalam Masyarakat Sabu Kenoto adalah kotak sirih-pinang sebagaimana yang biasa dipakai oleh orang Sabu secara Lazimnya terjadi bahwa kotak sirih pinang ini dibalut dengan potongan kain berwarna merah, juga seutas tali yang berguna untuk dapat digantungkan pada bahu. Itu alasan sangat praktis dari pemakaian masyarakat bekenaan dengan kenoto dalam tataran budaya dan tradisi Sedangkan tali yang digantung pada bahu itu dihiasi dengan kulit-kulit kerang kecil sehingga nampak sangat menarik pandangan mata. Kemudian isi dari kotak sirih-pinang adalah berupa beberapa lembar uang kertas . ang 25 sampai 100 gulde. , di dalamnya juga ada sirih dan pinang yang selalu dibagi-bagikan kepada setiap orang yang dijumpai sebagai tanda etis dan persahabatan. Model pinang yang dibagi kepada sesama haruslah kondisi pinang yang gemuk, dan sirih yang masih segar . uah dan daun siri. sebagai lambang keakraban di antara warga yang terlibat dalam proses memberi dan menerima sirih-pinang. Kenoto biasanya dipakai oleh kaum lelaki dalam masyarakat Sabu. Sebaliknya bagi kaum wanita atau ibu-ibu dikenal apa yang disebut dengan istilah kepepe yakni tempat sirih-pinang yang secara khusus dimiliki oleh kaum ibu . anita atau Baik kenoto maupun kepepe terbuat dari daun lontar, dan sesekali ada juga yang terbuat dari daun pandan hutan, yakni sejenis pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Dengan demikian kedua alat budaya ini yakni Kenoto dan kepepe dalam kebutuhan setiap hari selalu digunakan secara sosial untuk menjaring relasi persahabatan dikalangan masyarakat Sabu. Peran dan fungsi Kenoto dalam kehidupan orang Sabu secara keseluruhan. Ambil saja contoh ketika terjadi masa peminangan yang tentunya makna dan arti di balik Kenoto dan Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa kepepe ini menjadi sentrum perhatian warga Sabu. Kehadiran Kenoto, tidak saja secara fisik melainkan secara spiritual bertutur mengenai isi yang terdapat dalam Kenoto, walau harus dilihat di sini bahwa sebetulnya secara kultural terjadi perubahan peran dan fungsi budaya dari Kenoto itu sendiri. Perubahan itu terjadi oleh karena adanya perkembangan cara berpikir orang Sabu mengenai isi Kenoto yang secara kultural pula berisi barang-barang yang mewakili hasrat hati dan kata budi dari orang Sabu, dalam hal ini utusan-utusan yang mewakili mempelai laki-laki dan mempelai perempuan. Drama yang sangat menarik secara kultural dalam perspektif orang Sabu dapat dikaji dengan menganalisis posisi filosofis dari Kenoto itu sendiri. Makna Dialogis Dalam Kenoto Kenoto dilihat sebagai sarana paling ampuh untuk memediasi warga masyarakat Sabu dalam kerangka merestui berbagai tekad dan hasrat yang dirayakan dalam setiap upacara ritual masyarakat, untuk memenuhi cita-cita dan harapan manusia setempat. Pada berbagai lini kehidupan manusia suku Sabu, kenoto selalu dilaksanakan untuk menyertai kehidupan manusia, serentak menentukan berkualitas tidaknya sebuah kegiatan umat manusia yang Hasil wawancara dengan bapak Julius Djara, mengatakan bahwa kenoto dalam adat perkawinan itu hanyalah simbol saja. Itu hanyalah simbol oleh karena yang digunakan dalam perayaan perkawinan tidak digunakan langsung tempat aslinya yang biasa dipakai menaruh sirih pinang itu tetapi dalam bentuk yang lain. Bentuk lain yang dimaksud itu seperti dulang atau tempat lain yang kemudian dibungkus sangat rapih dengan kain putih atau kuning kemudian dibawa pada waktu acara perkawinan berlangsung. Dengan demikian fungsi dialogal yang ditekankan kenoto justru pada prinsipnya ingin meresmikan pertemuan kedua belah pihak, dalam hal ini mempertemukan mempelai laki-laki dan mempelai wanita dalam iklim persaudaraan yang hidup, mesra dan prospektif ke depan. Eksistensi kenoto selalu mendahului kata sepakat di antara kedua belah pihak, setelah terjadi diskusi dalam sebuah proses perhelatan yang panjang dan kelok berliku. Sebut misalnya ketika pada awal pertama sang jejaka atau pemuda menyatakan isi hatinya kepada para orang tua mengenai hasrat hati dan maksudnya untuk jatuh cinta pada gadis tertentu, hal itu kemudian diteruskan dengan musyawarah dalam keluarga, di antara kerabat dan keluarga dekat satu terhadap yang lainnya. Segera setelah ada kesepakatan dari para orang tua, maka Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa sebagai langkah lanjutannya ditetapkan waktu khusus untuk mengadakan acara perkenalan. Pada sela pertemuan akibat telah diperolehnya kata sepakat itulah, kenoto berperan untuk meresmikan kata sepakat guna mempermulus acara selanjutnya. Rancang bangun acara-cara dalam seluruh proses perkawinan, tentunya juga dalam perayaan adat, tradisi dan budaya lainnya pasti dilengkapi dengan kenoto yang sama. Simbolisasi kenoto dalam meresmikan acara-acara kehidupan manusia Sabu, justru sangat penting di sini. Misalnya kita kembali pada acara perkenalan di atas tadi. Ada dua arti dari acara perkenalan . Perkenalan itu harus terjadi oleh karena sungguh-sungguh kedua belah pihak belum saling mengenal selama ini. Selama ini kedua belah pihak memang sudah saling mengenal, namun dalam jarak yang terbatas, dan kali ini dimaksudkan untuk lebih rapat dan lebih akrab lagi. Kualifikasi 'lebih rapat dan akrab' inilah yang kemudian disimbolisasi dengan adanya kehadiran kenoto dalam upacara awal perkawinan orang Sabu. budaya perkawinan Hab'ba dengan menyinggung oreli sebagai tahapan perkenalan dalam struktur perkawinan orang Sabu. Fungsi dialogis tercermin dari tahapan perkenalan ini yakni menanyakan pendirian si gadis yang tentunya sama dengan pendirian orang tua . etidaktidaknya ayah dan ibuny. mengenai rancangan mendirikan rumah-tangga baru. Sosialitas Masyarakat Dalam Kenoto orang Sabu yang memiliki strategi berbudaya untuk menghormati martabat kehidupan dalam perspektif kenoto. Pada bagian ini dirinci lebih dalam mengenai kehadiran kenoto dalam usaha dan strategi dasar untuk mengembangkan dimensi sosialitas masyarakat. Secara struktural dalam praktik hidup setiap hari, hal seperti ini dapat dilihat dalam pola pergaulan masyarakat ketika sedang asyik saling menyuguhkan sirih dan pinang, seraya saling memberi salam satu terhadap yang lain. Sirih pinang yang adalah isi utama dari kenoto itu justru digunakan dalam kerangka pikir yang sama, yakni merajut kebersamaan di antara warga yang satu dengan yang lainnya. Kenoto dalam struktur kehidupan bermasyarakat menyajikan berbagai perilaku sosial yang seharusnya dilaksanakan secara sadar oleh semua orang Sabu untuk semakin membina keakraban, solidaritas, rasa setia kawan untuk mencapai hidup yang lebih sejahtera, selalu saling membantu satu terhadap yang lain. Isi utama kenoto adalah sirih dan pinang, tentunya memiliki dimensi sosialitas masyarakat. Pertama, sirih pinang sebagai sarana komunikasi antar pribadi. Berkenaan dengan yang pertama ini dikatakan bahwa dalam pertemuan- Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa pertemuan informal . uga forma. atau bahkan kunjungan-kunjungan antar pribadi, sirih pinang ternyata dapat dan mampu menghubungkan dua pribadi secara akrab dan intim. Kedua, sirih pinang sebagai pengungkap perasaan manusia. Ketika terjadi suguhmenyuguh sirih pinang, pada waktu yang sama terjadilah curhat perasaan, hasrat hati, serta berbagai hal yang dialami selama ini. Sirih pinang memberi inspirasi kepada warga lokal untuk saling terbuka satu terhadap yang lainnya dengan harapan muncul jalan keluar untuk sedapat mungkin keluar dari kesulitan, persoalan dan tantangan yang sedang dihadapi. Ketiga, sirih pinang mengandung unsur estetik karena menghilangkan rasa bau di mulut dan memberi rasa kokoh pada gigi-gigi. Mereka yang selalu makan sirih pinang merasakan bahwa giginya selalu makin kuat dan bertahan lama. Keempat, nilai ekonomis sirih pinang selalu memberi harapan bagi warga masyarakat ke masa depan yang bahagia. Sirih pinang sebagai alat pelancar komunikasi yang termurah ternyata juga memiliki nilai dan makna ekonomis. Itu antara lain diusahakan dalam masyarakat bahwa sirih pinang sebagai tanaman perdagangan lokal oleh karena sangat laku dan dibutuhkan setiap hari oleh semua warga masyarakat. Pohon sirih dapat dikonsumsi bagi hidup perdagangan dalam dua cara yakni . sirih daun, dan . sirih buah. Ketika tiba perayaan-perayaan ritual adat, tradisi dan budaya, sirih pinang menjadi konsumsi utama bagi upacara-upacara tersebut. Masyarakat Jingitiu Dalam Masyarakat Sabu Selama ini yang lazim terjadi adalah bagaimana refleksi cuaca kehidupan orang Sabu dalam kajian luar. Maksudnya ketika terjadi diskusi dan kajian mengenai kelompok Jingitiu, hal itu selalu disoroti dari agama, atau pemerintah, atau juga para peneliti dari luar Sabu yang sebetulnya merasa asing dengan fenomena Jingitiu. Pada perspektif Jingitiu direfleksi dari mindset masyarakat Sabu itu sendiri. Artinya seberapa jauh refleksi Masyarakat Sabu terhadap fenomena sosial dan spiritual Jingitiu itu bagi kehidupan sosial Masyarakat Sabu, baik pada masa lampau, kini dan nanti. Oleh karena itu berturut-turut akan dikaji pandangan orang Sabu tentang alam-semesta, lalu pemahaman mereka mengenai waktu dalam kaitannya dengan makna atau arti kehidupan manusia dan masyarakat. Bagian ini akan dilengkapi dengan salah satu telaah mencukupi mengenai pola dan sistem pertanian orang Sabu selama Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa Pandangan orang Sabu terhadap Makna Kehidupan Makna kehidupan yang dsari dari judul sub tema ini adalah refleksi kontekstual manusia dan masyarakat Sabu mengenai harkat manusia. Harkat manusia inilah yang dapat memberi inspirasi kepada semua warga setempat untuk berpartipasi secara aktif dalam segala kegiatan bersama pada berbagai level kehidupan. Itu berarti pandangan orang Sabu terhadap makna kehidupan, selalu dirumuskan dalam seberapa jauh mereka berperan secara sosial dalam kehidupan bersama setiap hari. Peran dan fungsi sangat memegang kunci dalam analisis struktural mengenai paradigma kehidupan orang Sabu secara garis besar (Pranata, 2. Proses menjalin relasi dan seberapa jauh mereka merajut kebersamaan dalam kehidupan setiap hari, justru pada titik-titik seperti inilah refleksi orang Sabu mengenai makna kehidupan dapat dikaji lebih lanjut. Pada titik pengertian yang sama, peran dan fungsi selalu diperhatikan dengan cara yang sungguh-sungguh seksama. Maksudnya, setiap warga masyarakat Sabu tidak pernah tinggal melempem untuk tidak mengambil peran dan fungsi tertentu dalam kehidupan bersama setiap hari. Bahkan setiap orang selalu mencari peluang untuk berperan dan dengan demikian melakukan fungsi sosial tertentu yang sering dinilai sangat khas dan amat istimewa. Artinya setiap orang senantiasa berlomba-lomba untuk melakukan sesuatu tindakan sosial yang bermakna, baik bagi diri sendiri maupun bagi sesama dan bahkan Tuhan sendiri. Hal seperti ini telah diwariskan dalam tradisi dan budaya, yang selalu harus dirayakan dalam berbagai tindakan ritual masyarakat. Makna dunia kehidupan dalam alam pemikiran orang Sabu sungguh luar biasa. Prinsip utama yang dimiliki adalah hakekat manusia sebagai makhluk sosial yang erat hubungannya dengan respek terhadap sesama, alam semesta, leluhur dan Yang tertinggi. Hal seperti ini terkristalisasi dalam sistem pengetahuan yang mereka miliki, juga dapat dibaca dari kesatuan genealogi dari alam, manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan yang memenuhi alam semesta sebagaimana terdapat dalam tradisi dan budaya orang Sabu. Hubungan dengan alam semesta telah terpateri dalam sistem pengetahuan yang mereka miliki, dan hal itu selalu direview dan terus dipelihara dengan berbagai bentuk sikap manusia, termasuk di dalamnya pelasanaan ritual-ritual dalam masyarakat. Perilaku dan ritual kemasyarakatan antara lain seperti sikap terhadap alam secara umum, juga kegiatan serta aturan pertanian, model penggarapan laut, sistem dan pola pembangunan rumah dan berbagai tata krama kegiatan ekonomi masyarakat yang selalu dikerjakan dengan penuh perhatian. Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa Nilai-Nilai Injil Perjumpaan antara tradisi dan budaya dengan apa yang diwartakan Gereja Masehi Injili di Timor jelas-jelas sangat berdampak luas bagi kehidupan jemaat dalam kesatuan Gereja Masehi Injili di Timor. Hal fundamental sangat penting diperhatikan pada uraian ini adalah bahwa nilai-nilai Injil atau dalam istilah alkitabiah disebut dengan istilah berita dan pemberitaan sungguh mendapat pengaruh sangat kuat dari lingkungan sosial di mana manusia dan masyarakat yang mengimani Tuhan Yesus Kristus hidup dan bergerak. Dalam arti nilai-nilai Injil atau hal-hal spiritual dan rohani turut dibentuk oleh berbagai perjumpaan tradisi dan budaya dalam ruang lingkup kehidupan manusia dan masyarakat setiap hari. Untuk mempermudah refleksi pada sub bagian ini sejenak kita mengkaji lebih jauh arti berita dan pemberitaan sesuai perspektif kekristenan. Sesuai konteks kekristenan, dan teristimewa dalam nuansa Alkitab Perjanjian Baru pemberitaan berarti 'pengumuman Kristiani secara terbuka kepada dunia non-Kristen. Pemberitaan bukanlah sebuah khotbah atau ajaran keagamaan yang ditujukan kepada sekelompok tertutup orang yang telah percaya. Arti asli dari kata yang sama adalah pengumuman secara terbuka untuk publik mengenai Karya Penyelamatan Allah dalam dan dengan perantaraan Kristus. Dalam arti yang terakhir inilah seberapa jauh perjumpaan antara kekristenan dengan tradisi dan budaya masyarakat dapat memberi sumbangan berarti bagi karya pewartaan Injil. Karya memberitakan Injil adalah berperilaku sebagai bentara Firman, dimana berita yang disampaikan atau diumumkan adalah khabar baik tentang keselamatan. Inti yang menjadi aras refleksi pada sub bagian ini adalah adakah perjumpaan yang dilukis di atas memberi makna baru kepada inti khabar gembira yang ditawarkan Gereja Masehi Injili di Timor selama ini. Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, kata 'mengumumkan' mengisyaratkan sesuatu tentang aktivitas pemberitaan, yakni penyampaian mengenai Keselamatan yang datang dari Tuan sendiri. Pemberitaan yang direfleksi dari balik Alkitabiah Perjanjian Baru, acapkali bekaitan erat juga dengan proses pengajaran. Pengajaran yang dimaksud adalah kerygma yakni pengumuman secara umum dan didache yakni pengajaran secara etis. Dua makna yang dapat dikaji di sini adalah . sesuatu yang pantas untuk disampaikan kepada umum atau masyarakat luas, dan . sesuatu yang bersifat etis. Yang pertama merujuk pada proklamasi kemerdekaan spiritual yang diwartakan Tuhan Yesus Teks-teks Perjanjian Baru yang dapat dirujuk di sini yakni Matius 4:23. Roma 12: 6-8 dan 1 Korintus 12: 28 mengenai kerygma dalam kaitannya dengan sumber kekuatan yang Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa memberi peneguhan agar kerygma yang sama dapat dijalankan. Citra karya pewartaan yang benar dapat direfleksi dari balik teks-teks di atas, untuk melihat secara pasti cakupan kekuatan dari balik Karya Pewartaan tersebut. Karya pelayanan Yesus di Galilea dalam konteks di atas, yakni berkeliling dan mengajar serta memberitakan Khabar Baik kepada semua orang dapat ditempatkan dalam aras diskusi kita dalam sub bagian ini. Berikut, dijelaskan arti di balik kedua kata berbeda kerygma dan didache seperti telah disebut (Sioh. Pertama, sebagaimana telah diungkapkan mengenai kerygma, hal itu selalu berkaitan dengan usaha mengumumkan apa yang telah dilakukan Allah. Itu dapat berarti juga semua tugas menjelaskan sejarah perjalanan Israel dalam Alkitab Perjanjian Lama dan segala sesuatu berkenaan dengan sejarah panjang Keselamatan dalam perspektif para bangsa, hal itulah yang dijelaskan kepada umum. Titik penjelasan akan diletakkan pada tekanan untuk mengatakan bahwa yang memegang kendali dari semua perubahan dan pekermbangan itu adalah kekuatan Allah sendiri. Allah dengan TanganNya yang mahakuasa yang telah memimpin sejarah kehidupan Umat manusia hingga terjadi perpindahan yang sangat menarik dari alam pemikiran lama Perjanjian Lama menuju alam pemikiran Perjanjian Baru. Mata rantai yang harus difahami di sini adalah relasi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukan secara substantial membicarakan dua jaman yang saling terpisah, melainkan satu jaman keselamatan yang bermula dari Perjanjian Lama, dan kemudian diteruskan serta dilengkapi bahkan disempurnakan dalam Perjanjian Baru. Kedua, apa yang disebut didache semata-mata berpusat pada inti yang terdapat dalam kerygma itu sendiri. Inti yang ditekankan dalam didache adalah pokok atau strategi pengajaran mengenai Allah dalam kaitannya dengan tingkah laku Kristiani. Arti yang kedua ini sangat cocok sesuai dengan konteks bicara pada sub bagian ini, yakni seberapa jauh perjumpaan dengan tradisi dan budaya dapat memberi kontribusi bagi Gereja Masehi Injili di Timor dalam tugas dan pelayanannya secara umum dan teristimewa pada pelaksanaan upacara perkawinan kristiani. Atas dasar penjelasan dan refleksi di atas, maka perjumpaan yang direfleksi di sini tidak boleh bersebelahan dengan nilai-nilia Injil atau inti keselamatan yang diwartakan Gereja Masehi Injili di Timor selama ini. Ciri utama Perjanjian Baru adalah mewartakan Injil seperti dapat dilihat dalam teks Markus 1: 38. Teks ini merujuk pada seruan Tuhan Yesus sendiri mengenai Kerajaan Allah sudah dekat. Menurut Browning, teks yang sangat cocok untuk mengungkap hadirnya Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa Kerajaan Allah pada waktu yang tidak lama lagi adalah Markus, 1: 15. Dalam konteks pemahaman seperti ini maka Injil diartikan sebagai khabar tentang peristiwa-peristiwa yang menggembirakan, atau khabar sukacita. Kualifikasi sukacita dan kegembiraan di sini tersebab oleh karena makna dan arti keselamatan yang memenuhi tuntutan kemanusiaan yang Kerajaan Allah sudah dekat dalam perspektif Roma 1:1-2 ditujukan pada realitas keselamatan mengenai karya yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus sendiri. Bagi Tuhan Yesus Injil adalah kedatangan kerajaan Allah, sedangkan bagi Paulus. Injil adalah Kristus sendiri yang adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (Roma 1:. Ada Relasi Antar Kedua Pola Kedua pola perkawinan Kristiani dan Kenoto. Pembicaraan mengenai perjumpaan antara keduanya seperti juga telah diuraikan, memang sangat menarik untuk direfleksi lebih lanjut. Untuk itulah pada sub bagian-sub bagian mendatang, refleksi tertuju pada kajian struktural mengenai kedua pola secara garis besar. Kemudian diteruskan dengan kajian di balik praktik masing-masing model dengan latar belakang dan konteks yang berbeda (Elo, 2. Secara umum dapatlah dikatakan bahwa ada praktik yang sinergis, dalam arti tidak ada unsur pemaksaan dari kedua pola dan sistem. Kata sederhana yang boleh digunakan di sini adalah ada keterbukaan yang sangat significan. Perilaku sosial yang ditunjuk dalam uraian berikut, yang justru juga dibutuhkan untuk masa selanjutnya adalah sikap selalu terbuka untuk saling belajar satu terhadap yang lain. Nampaknya masyarakat sudah semakin dewasa untuk sedapat mungkin hidup secara harmonis, dan senantiasa membina sikap saling memahami sehingga selalu hidup penuh aman, dan damai serta sejahtera. Pola Sabu dan Pola Kristen Pola Sabu atau pola Kristiani, hal yang pasti bahwa mereka semua adalah 'tetap orang Sabu sendiri' yang menentukan pilihannya untuk mengatakan manakah pola yang sungguh relevan bagi kehidupan masa kini dan terlebih hidup di masa mendatang. Sebagai bahan perbandingan, maka adat dipahami sebagai suatu tatanan yang sudah disepakati dan ditaati dalam sebuah lingkungan tertentu. Secara positif orang Sabu mengatakan 'ya' dengan alasan bahwa oleh karena ritual adat Sabu menerapkan hukum kasih, saling menghargai harkat dan martabat sebagai sesama ciptaan Tuhan (Sioh, 2. Simpul yang menarik pada dimensi yang terkandung dalam pelaksanaan ritual Sabu, yang juga dapat ditemukan dalam praktik Kekristenan. Kata lain dari penjelasan ini bahwa Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa terjadi sebuah perjumpaan antara praktik 'ritual adat' dan pelaksanaan Kristiani. Pada sisi tertentu, ada informan yang menjawab dengan menerangkan praktik hidup yang ada selama ini, misalnya sikap orang Kristen umumnya terhadap Jingitiu, mereka justru hidup berdampingan saling menghargai dan tidak memaksa kehendak. Makna di balik ungkapan seadanya ini juga memberi indikator mengenai sikap saling terbuka untuk saling menerima dalam kehidupan praktis setiap hari tanpa terkurung dalam keyakinan masing-masing pola dan sistem kepercayaan. Hal itu dapat direfleksi dalam nada tanpa beban informan memberi jawaban menarik dengan memberi contoh-contoh praktis mengenai kehidupan orang Sabu secara bersama-sama antara mereka yang kristiani dan mereka yang masih Jingitiu (Sooai & Qisty, 2. Sementara itu juga pertanyaan sebaliknya diberi kepada informan mengenai sikap para pengikut Jingitiu terhadap agama Kristen. Sikap yang sama ditunjuk diarahkan kepada kaum Kristen mengenai sikap mereka terhadap kaum Jingitiu. Ternyata penjelasan mengerucut pada jawaban berkenaan dengan perjumpaan yang sangat menarik mengenai keterbukaan antara alam kekristenan dan kenoto yang diterapkan dalam pola perkawinan. Inti yang digaris-bawahi adalah citra kenoto yang menekankan dimensi 'terjadinya kesepakatan' untuk saling menerima tanpa syarat. Dengan demikian berdasar pada kesepakatan untuk saling mengakui keberadaan, maka muncullah kehendak baik untuk saling berdialog dengan hati. Dialog dengan hati membutuhkan kesamaan perspektif, artinya perlu ada kesepahaman mengenai diri sendiri, dan terlebih mengenai eksistensi yang lain. Dengan demikian harus diakui bahwa dalam perspektif orang Sabu sesungguhnya Jingitiu tidak sejajar dengan kekafiran. Alasanya adalah bahwa orang Jingitiu percaya akan adanya Deo Ama yang membuat ada segala sesuatu, dan itu ada dalam cerita orang Sabu. Ini terbukti dalam siklus hidup manusia yang diutamakan adalah Deo Ama yang sama dipercaya oleh orang Kristen. Proses saling memahami seperti inilah yang harus menjadi satu hal pokok, dan serentak juga menjadi sebuah tuntutan yang sangat penting dalam kerangka membangun harmonisasi dalam kehidupan manusia dan Secara singkat dapat dikatakan di sini, perlu ada usaha untuk menyegarkan kembali proses pemahaman yang lebih konkret. Tindakan nyata setiap hari harus terus dibina untuk saling menerima tanpa memaksa kehendak dan sikap pribadi atau kepentingan yang terbatas. Sekali lagi warga masyarakat hendaknya dilibatkan dalam menjalin dialog mengenai matra Jurnal Teologi (JUTEOLOG) Vol. 4 No. 1 December 2023 Hemi Bara Pa kehidupan yang dialami setiap hari. Hal-hal kemasyarakatan seharusnya menjadi titik tolak dibangunnya citra dialog yang terus membimbing kepada sikap saling menerima, saling melayani, dan saling membantu secara tulus. Perlu sekali ada perpaduan nilai dan makna antara kedua pola, kristiani dan kenoto untuk menghormati jati diri dan harga manusia. KESIMPULAN Perkawinan adalah sebuah ikatan dua orang yang berbeda jenis kelamin yang disatukan dengan nilai dasar cinta kasih melalui hukum adat, gereja dan pemerintah. Perkawinan adat dalam masyarakat Sabu khususnya HabAoba dilakukan melalui tahapan ore li, puru loko, kenoto dan hegetu kadAodo. Pada tahapan tertentu dilaksanakan dan disaksikan oleh pihak gereja bagi dan dilanjutkan acara pernikahan yang dilaksnakan oleh pihak pemerintah. Perkawinan yang dilaksanakan dalam acara adat memiliki hubungan dengan Deo Ama dan martabat perempuan dan keluarga melalui proses maupun simbol yang digunakan, pihak Gereja sehubungan dengan pemberkatan sedangkan pihak pemerintah berkaitan dengan hal syahnya sebuah perkawinan. Tetapi masing masing pihak tetap memiliki konsep bahwa syah sebuah perkawinan, jika telah dilaksanakan perkawinan menurut tata caranya masing-masing. Perkawinan bagi masyarakat Sabu khususnya masyarakat HabAoba terus mengalami perubahan sebagai akibat dari berbagai faktor. Kehadiran pihak Gereja di tengah budaya adat perkawinan Sabu terus saling mengisi, menerima dan bahkan pihak Gereja melaksanakan acara adat perkawinan. Tetapi dari pihak adat tetap dilakukan secara terpisah dengan Gereja. REFERENSI