JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 139 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 Jurnal Pendidikan Fisika Universitas Muhammadiyah Makassar Penggunaan Metode Creative Problem Solving (CPS) untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika di Kelas XI IA2 SMA Negeri 2 Sinjai Arni Idawati. Muris. Ahmad Yani . Guru SMA Negeri 2 Sinjai. Dosen Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar . Email: arniidawati@gmail. Abstrak Ae Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui apakah penggunaan metode Creative Problem Solving (CPS) dapat meningkatkan pemahaman konsep fisika peserta didik kelas XI IA di SMA Negeri 2 Sinjai tahun ajaran 2015/2016. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 2 Sinjai tahun ajaran 2015/2016 kelas XI IA 2 yang berjumlah 24 siswa. Pengambilan data di lakukan dengan tes pemahaman konsep fisika pada akhir siklus. Dari data yang terkumpul kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian yang dicapai setelah dianalisis yaitu : . pada siklus I, skor rata-rata hasil belajar fisika peserta didik 59,94 dengan standar deviasi 10,76 . pada siklus II skor rata-rata hasil belajar adalah 74,22 dengan standar deviasi 8,90. Hasil belajar peserta didik dengan menggunakan metode creative problem solving (CPS) mengalami peningkatan dari siklus I ke siklus II, demikian pula dengan peningkatan kemampuan konsep fisika pada penilaian afektif peserta didik pada siklus I berada pada kriteria cukup, dan kemudian meningkat pada siklus II menjadi kriteria baik. Berdasarkan analisis hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman konsep fisika peserta didik kelas XI IA2 SMA Negeri 2 Sinjai dapat ditingkatkan melalui penggunaan metode creative problrm solving (CPS). Kata kunci: Creative Problem Solving (CPS), dan pemahaman konsep fisika. Abstract Ae This study aimed to determine whether the use of methods of Creative Problem Solving (CPS) to enhance understanding of the concepts of physics students in class XI IA SMA Negeri 2 Sinjai the academic year 2015/2016. This research is a class act. The research was conducted at SMAN 2 Sinjai the academic year 2015/2016 class XI IA2 amounting to 24 students. Data retrieval is done to test understanding of the concept of physics at the end of the cycle. From the data gathered are then analyzed quantitatively and qualitatively. The results arrived at after analysis, namely: . in the first cycle, the average score of students learning outcomes physics 59. 94 with a standard deviation of 10. in the second cycle the average score was 74. 22 with the learning outcomes standard deviation of 8. The study of students by using creative problem solving (CPS) has increased from the first cycle to the second cycle, as well as the upgrading of the physics concepts on the assessment of affective learner in the first cycle is at sufficient criteria, and then increased in the second cycle be the criteria good. Based on the analysis of the results of this research can be concluded that the ability of understanding the concepts of physics students of class XI SMA Negeri 2 Sinjai IA2 can be enhanced through the use of creative methods problrm solving (CPS). Keywords: Creative Problem Solving ( CPS ) , and the understanding of physics concepts. PENDAHULUAN ulangan harian mata pelajaran fisika belum Berdasarkan hasil studi pendahuluan mencapai hasil yang maksimal. Dari 152 yang telah dilakukan di SMA Negeri 2 Sinjai peserta didik yang mencapai KKM (Kriteria kelas XI IA menunjukkan bahwa nilai Ketuntasan Minima. sebanyak 90 peserta JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 140 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 didik . %) dan 62 peserta didik . %) rumus yang harus dihafal oleh peserta didik, belum mencapai KKM. Nilai KKM untuk akibatnya ketika dilakukan evaluasi belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat kumpulan konsep dan rumus tersebut campur Sanjaya . bahwa proses pembelajaran aduk tak beraturan di benak peserta didik, . khususnya fisika yang monoton dan kurang menarik, menjadi salah satu masalah yang menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta Proses pembelajaran belum memacu menekankan pada konsep dasar, sehingga kemampuan berpikir peserta didik dan terasa sulit untuk peserta didik, . kurangnya pemahaman konsep fisika. variasi dalam pengajaran serta jarangnya Indikator rendahnya pemahaman konsep digunakan alat bantu yang dapat memperjelas fisika dapat dilihat dari hasil pengamatan gambaran peserta didik tentang materi yang . pembelajaran di kelas cenderung bersifat mempersulit, bukannya mempermudah. Ini sering dilakukan agar peserta didik tidak memandang remeh pelajaran fisika serta rumus-rumus analisis matematis. Metode ceramah dan pengajar atau guru fisika (Monica, 2. tanya jawab merupakan metode yang biasa Banyak faktor yang menjadi penyebab latihan dan memberi tugas. Soal-soal juga ketidaktepatan dan kurang bervariasi dalam penggunaan Metode yang digunakan dalam matematis sehingga siswa merasa sulit Selain itu pembelajaran fisika belajar fisika dan soalnya juga jauh dari dunia nyata siswa sehingga pembelajaran menekankan pada pemahaman, sehingga fisika kurang bermakna bagi siswa itu pengertian tentang konsep sangat lemah. Kenyataannya menunjukkan bahwa selama menjelaskan, memberi contoh, bertanya. Kendala lain yang ditemukan dalam ini kebanyakan guru menggunakan Metode proses pembelajaran fisika adalah kurangnya pembelajaran yang bersifat konvensional dan pembelajaran seperti itu harus diubah dengan Metode Kesalahan-kesalahan Pola cenderung dilakukan para guru, khususnya guru fisika adalah sebagai berikut : . sering menemukan konsep-konsep secara mandiri. disajikan sebagai kumpulan konsep dan Untuk JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 141 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 pengajar dituntut mencari dan menemukan ini guru tidak memberikan komentar karena para peserta didik merasa menjadi lebih motivasi belajar peserta didik. Pengertian ini Sementara itu Lavonen, dkk . dari hasil diharapkan dapat mengembangkan suatu studi kasus yang dilakukan menunjukkan Metode bahwa pendekatan Creative Problem Solving dapat digunakan secara efisiensi untuk mengungkapkan ide peserta didik sendiri. meningkatkan pendidikan guru. Di sisi lain. Metode Creative Problem Solving (CPS) menciptakan banyak kemungkinan solusi adalah suatu metode pembelajaran yang terhadap masalah dan kemudian memilih solusi yang terbaik. Selanjutnya, peserta didik harus menerima pengenalan yang diikuti dengan penguatan kreativitas (Pepkin, secara menyeluruh untuk pemecahan masalah Ketika dihadapkan dengan suatu secara kreatif (Williams & Williams, 1. pernyataan, peserta didik dapat melakukan Selain itu penelitian ini bertujuan untuk keterampilan memecahkan masalah untuk memilih dan mengembangkan tantangannya. konsep dan kemampuan berfikir peserta tidak hanya dengan cara menghafal tanpa didik, agar tujuan itu tercapai maka sangat dipikir, keterampilan memecahkan masalah baik apabila menerapkan Metode CPS. dengan memperluas proses berfikir. Metode Pernyataan ini diperkuat oleh Hamalik CPS , ia mengemukakan bahwa penerapan dimensi proses yang alami, bukan suatu Metode pembelajaran CPS dalam proses usaha yang dipaksakan. Pada dasarnya, jika guru melaksanakan proses belajar mengajar dengan menerapkan membangkitkan motivasi dan merangsang Metode pembelajaran yang berfokus pada kegiatan belajar, dan bahkan membawa aktivitas dan kreativitas peserta didik, maka pengaruh-pengaruh peserta didik akan menjadi kritis dalam peserta didik. pendekatan yang dinamis, peserta didik Muneyoshi . menemukan bahwa para menjadi lebih terampil sebab peserta didik dapat meningkatkan kemampuan pemahaman penggunaan Creative Problem Solving yaitu konsep dan berfikir kritis, sehingga peserta pada perubahan sikap dan prilaku peserta didik dapat memperoleh manfaat didik ke arah pemecahan masalah, dalam hal Hasil Metode CPS merupakan JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 142 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 Pernyataan ini diperkuat oleh II. METODE PENELITIAN Sumarno . , ia mengemukakan bahwa Jenis penelitian ini adalah penelitian Metode pembelajaran CPS menuntun peserta tindakan kelas . lassroom action researc. didik lebih kreatif dalam memecahkan suatu yang terdiri atas 2 siklus dengan tahapan- tahapan pelaksanaan meliputi perencanaan, keterampilan berfikir kritis yang baik. Hasil pelaksanaan tindakan, evaluasi dan refleksi secara langsung yang selanjutnya tahapan- Kvashny . tahapan tersebut dirangkai dalam suatu siklus menyimpulkan bahwa the Creative Problem Penelitian ini dilaksanakan di SMA Solving is the most significant and powerful Negeri 2 Sinjai. Kabupaten Sinjai pada kelas framework for the enchancement of creative XI IA thingkingAo. Solving 2015/2016. merupakan framework yang sangat baik Subyek Maraviglia Creative Problem semester genap tahun pelajaran dalam penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berfikir peserta didik Kelas XI- IA2 SMA Negeri 2 Sinjai pada semester genap tahun pelajaran dikemukakan oleh Isaken dan Treffinger 2015/2016. Subyek yang dimaksud adalah . bahwa Creative Problem Solving peserta didik pada kelas untuk uji coba dianggap dapat digunakan sebagai sebuah berjumlah 24 peserta didik yang terdiri dari metode yang terus dapat digunakan untuk 17 peserta didik perempuan dan 7 peserta pengembangan sikap kreatif. didik laki-laki. Pernyataan Berdasarkan latar belakang masalah Penelitian ini menggunakan dua siklus yang telah diuraikan di atas, maka rumusan tindakan atau lebih sampai hasil yang Pada Bagaimana menerapkan metode Creative dilaksanakan 3 kali pertemuan termasuk tes Problem tiap siklus. Antara siklus satu dan siklus meningkatkan pemahaman konsep fisika berikutnya merupakan rangkaian kegiatan peserta didik kelas XI IA di SMA Negeri 2 Sinjai? pelaksanaan siklus berikutnya merupakan Solving (CPS) Berdasarkan rumusan masalah di atas, kelanjutan dan perbaikan dari pelaksanaan maka tujuan dari penelitian ini adalah: Untuk siklus sebelumnya. Pada tiap siklusnya terdiri dari beberapa tahap sesuai dengan Creative Problem Solving (CPS) tahapan-tahapan pada penelitian tindakan meningkatkan pemahaman konsep fisika kelas yaitu, perencanaan, tindakan, observasi, peserta didik kelas XI IA di SMA Negeri 2 dan refleksi Sinjai. Dalam JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 143 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 Teknik Sinjai pada siklus I dan II dapat dilihat pada dilakukan dalam penelitian ini yaitu Lembar tabel 1 di bawah ini. angket, lembar obsevasi dan tes hasil belajar. Tabel 1. Statistik Nilai Hasil Belajar Fisika Peserta didik Kelas XI IA 2 SMA Negeri 2 Sinjai pada siklus I dan II Nilai statistik Statistik Siklus I Siklus II Subyek 2 Skor Ideal 3 Skor tertinggi 86,67 87,50 4 Skor terendah 40,00 56,25 5 Skor rata-rata 56,94 74,22 6 Standar deviasi 10,76 8,90 Data tentang aktivitas peserta didik selama proses pembelajaran diperoleh dari hasil pengamatan langsung . Data pemahaman konsep fisika diperoleh dari tes hasil belajar peserta didik pada tiap akhir Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Analisis data Berdasarkan tabel di atas dilihat bahwa aktivitas belajar peserta didik, dan analisis pada siklus I nilai tertinggi sudah mendekati hasil belajar nilai ideal dan diperoleh nilai rata-rata 56,94 dengan standar deviasi 10,76. Karena nilai i. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penyajian Data Hasil Belajar Siklus I rata-rata KKM sehingga dilakukan perbaikan pada siklus II dengan hasil nilai tertinggi yang diperoleh dan Siklus II Dari hasil analisis tes hasil belajar Fisika peserta didik kelas XI IA 2 SMA Negeri 2 yaitu 87,50 dengan nilai rata-rata mengalami peningkatan menjadi 74,22 dengan standar deviasi 8,90. Distribusi frekuensi dan persentase data Tabel 2. Distribusi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Fisika Peserta didik Kelas XI IA 2 SMA Negeri 2 Sinjai pada Siklus I dan II Siklus I Siklus II Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%) 1 0Ae 34 Sangat rendah 2 35Ae 54 Rendah 45,83 3 55 Ae 64 Sedang 41,67 20,83 4 65Ae 84 Tinggi 8,33 70,83 5 85Ae100 Sangat tinggi 4,17 8,33 Jumlah Apabila Untuk lebih jelasnya distribusi frekuensi diperoleh dikonversikan dalam skala lima, dan persentase nilai tes hasil belajar fisika maka selengkapnya seperti pada tabel 2 di peserta didik kelas XI IA 2 SMA Negeri 2 JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 144 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 Sinjai pada saat sebelum penelitian, siklus I dan II dapat pada gambar 1. belajar peserta didik, maka keseluruhan nilai Diagram Distribusi dan Persentase belajar yang berlaku di SMA Negeri 2 Sinjai 45,83% 41,67% 20,83%8,33% 0% 0% untuk bidang studi fisika. Persentase dan 8,33% 4,17% kategori ketuntasan belajar peserta didik kelas XI IA-2 SMA Negeri 2 Sinjai dapat yang diperoleh peserta didik dibagi menjadi dua interval nilai dalam kategori ketuntasan 70,83% Selanjutnya untuk melihat ketuntasan siklus 1 siklus 2 dilihat pada tabel 4. 3 berikut: Gambar 1. Diagram Batang Distribusi dan Persentase Nilai Hasil Belajar Fisika Peserta didik Kelas XI IA-2 SMA Negeri 2 Sinjai pada Siklus I dan II Tabel 3. Persentase dan kategori ketuntasan belajar peserta didik kelas XI IA-2 SMA Negeri 2 Sinjai pada siklus I dan II. Siklus I Siklus II Nilai Kategori Frekuensi Persentase (%) Frekuensi Persentase (%) < 70 Tidak Tuntas 91,67 29,17 Ou 70 Tuntas 8,33 70,83 Jumlah Untuk distribusi frekuensi dan kategori ketuntasan Negeri 2 Sinjai pada saat penelitian siklus I dan II dapat dilihat pada gambar 2. belajar peserta didik kelas XI IA 2 SMA Persentase dan Kategori Ketuntasan Belajar Fisika Siswa Kelas XI IPA-2 SMA Negeri 2 Sinjai siklus I dan II. 91,67% 70,83 Tidak Tuntas Tuntas 8,33 29,17 Siklus I Siklus II Gambar 2. Diagram Batang Persentase dan kategori ketuntasan hasil belajar fisika peserta didik kelas XI IA-2 SMA Negeri 2 Sinjai siklus I dan II JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 145 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa didasarkan pada data yang diperoleh dari hasil yang diperoleh dari ketuntasan belajar peserta didik saat penelitian mengalami pembelajaran pada akhir siklus. peningkatan sebesar 8,33% untuk siklus I sedangkan setelah siklus II dilaksanakan, persentase nilai ketuntasan belajar mencapai Analisis Hasil Observasi Aktivitas Guru Hasil Observasi Aktivitas Guru 66,67%. Ini menandakan bahwa hasil belajar Observasi aktivitas guru dilakukan fisika peserta didik kelas XI IA 2 SMA dengan mengisi lembar observasi aktivitas Negeri 2 Sinjai dengan menggunakan Metode guru oleh dua pengamat. Observasi dilakukan Creative Problem Solving (CPS) di katakan dengan berpedoman pada kriteria penilaian lembar observasi aktivitas guru dengan Analisis Data memberikan nilai 0 . dan 1 . untuk Hasil observasi peserta didik kelas XI IA masing-masing aspek yang diamati. Hasil 2 SMA Negeri 2 Sinjai pada siklus I dan II. observasi aktivitas guru pada siklus I dan Hasil analisis kualitatif adalah rumusan siklus II dapat dilihat pada tabel 4 berikut. Tabel 4. Hasil Observasi Aktivitas Guru Pada Siklus I Aspek yang diamati Observer I Kegiatan Pendahuluan Peserta didik disiapkan oleh guru dengan kegiatan berdoa, tegur sapa keakraban dll. Peserta didik menyimak indicator capaian kompetensi dasar (KD) pembelajaran yang disampaikan guru Peserta didik diberi motivasi awal . isalnya dengan menampilkan fenomena, gambar, film, cerita dan lainny. untuk membangkitkan pengalaman dan pengetahuan awal peserta didik. Peserta didik bertanya jawab dengan guru Peserta didik merumuskan pertanyaan sesuai permintaan Kegiatan Inti Peserta kegiatan/aktivitas mengumpulkan data/informasi Peserta didik berdiskusi di dalam kelompok, mengolah data/informasi dan menarik kesimpulan Peserta didik bekerja dituntun dengan Lembar Kerja atau LKPD Ada perwakilan kelompok membacakan hasil diskusi Peserta didik melakukan diskusi kelas difasilitasi oleh Peserta didik bersama dengan guru menyimpulkan hasil Observer II JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 146 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 kegiatan pembelajaran di dalam diskusi kelas. Kegiatan Penutup Peserta didik menjawab/mengerjakan tes Peserta didik mengumpulkan lembar jawabannya Peserta didik bersama guru merncanakan tindak lanjut Peserta didik mendapat pengayaan singkat tentang materi yang telah dipelajari Peserta didik mendapat pesan-pesan moral terkait dengan materi yang telah dipelajari. Jumlah Rata-rata Tabel di atas terlihat bahwa skor Analisis Aktivitas Belajar Peserta didik observasi aktivitas guru pada siklus I menurut Analisis Psikomotorik Peserta didik Observasi aktivitas belajar peserta didik pengamat 2 sebesar 16, dengan rata-rata 1. dilakukan dengan mengisi lembar observasi Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas guru psikomotor peserta didik oleh dua pengamat. dalam melaksanakan pembelajaran dengan Observasi dilakukan dengan berpedoman menerapkan Metode Creative Problem pada kriteria penilaian lembar observasi Solving (CPS) materi Fluida Statis psikomotor peserta didik dengan memberikan Hasil nilai 1 . , 2 . , dan 3 . pelaksanaan pembelajaran masih terdapat untuk masing-masing aspek yang diamati. Hasil observasi aktivitas belajar peserta didik Metode Solvingdiantaranya Creative Problem Fase kelompok peserta didik untuk menyumbang dan . guru kurang maksimal membimbing setiap kelompok peserta didik pada siklus I dapat dilihat pada tabel 5. Tabel 5. Hasil Observasi Psikomotor Peserta didik Pada Siklus I Fase 1 Membuat hipotesis 2 Mengumpulkan data 3 Menguji hipotesis 4 Menarik kesimpulan 5 Menyajikan hasil Jumlah Skor rata-rata dalam menentukan hipotesis yang relevan dengan permasalahan. Fase melakukan Tabel di atas terlihat bahwa jumlah skor observasi aktivitas peserta didik pada siklus I kelompok peserta didik saat melakukan menurut pengamat 1 sebesar 8,5 dan menurut pengamat 2 sebesar 8,5, dengan rata-rata 1,7. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas guru JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 147 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 dalam melaksanakan pembelajaran dengan peserta didik selama proses pembelajaran. menerapkan Metode CPS pada sub konsep Penilaian afektif digunakan untuk menilai fluida statis termasuk dalam kategori cukup. sikap setiap peserta didik selama mengikuti Hasil Hasil terdapat beberapa kekurangan guru dalam terhadap afektif peserta didik pada siklus I menerapkan Metode CPS diantaranya yaitu: dapat dilihat pada tabel 6. Fase merumuskan masalah, terdapat Tabel 6. Hasil Penilaian Afektif Peserta didik Siklus I No Aspek Penilaian Kerja sama Santun Rasa ingin tahu Jujur Bertanggung Jawab 12,5 12,5 Jumlah Rata-rata sebagian peserta didik yang masih tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Peserta didik masih merumuskan masalah yang ada. Fase melakukan percobaan, terdapat peserta didik yang tidak membantu kelompoknya dalam Berdasarkan lembar penilaian afektif Fase peserta didik yang dilakukan oleh kedua mengumpulkan dan menganalisis data, . pengamat, diperoleh jumlah skor 12,5 dengan Peserta skor rata-rata kedua pengamat adalah 2,5 peristiwa fluida statis serta memberikan skor ini termasuk dalam kategori baik. Hal ini contohnya dalam kehidupan sehari-hari, . menunjukkan bahwa aspek afektif peserta Peserta didik Kurang bekerjasama menyusun didik pada siklus I berada pada kategori baik hasil percobaan dalam LKPD yang telah Kurang Fase kesimpulan, peserta didik masih kurang tepat dalam menyimpulkan hasil penyelidikan Analisis Hasil Observasi pada Siklus Analisis Aktivitas Guru Adapun hasil penelitian yang diperoleh yang telah dilakukan. dari observasi dilakukan dengan berpedoman Analisis aspek afektif peserta didik pada kriteria penilaian lembar observasi Hasil Observasi Aspek Afektif Peserta aktivitas guru dengan memberikan nilai 0 didik Penilaian Aspek afektif ini dilakukan . dan 1 . pada masing-masing aspek atau dinilai oleh dua pengamat dengan cara yang diamati. Hasil observasi aktivitas guru berdiskusi dan bersama-sama menilai sikap pada siklus II dapat dilihat pada tabel 7 dibawah ini. JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 148 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 Tabel 7. Hasil Observasi Aktivitas Guru Pada Siklus II Aspek yang diamati Observer I Kegiatan Pendahuluan Peserta didik disiapkan oleh guru dengan kegiatan berdoa, tegur sapa keakraban dll. Peserta didik menyimak indicator capaian kompetensi dasar (KD) pembelajaran yang disampaikan guru Peserta didik diberi motivasi awal . isalnya dengan menampilkan fenomena, gambar, film, cerita dan lainny. untuk membangkitkan pengalaman dan pengetahuan awal peserta didik. Peserta didik bertanya jawab dengan guru Peserta didik merumuskan pertanyaan sesuai permintaan guru Kegiatan Inti Peserta kegiatan/aktivitas mengumpulkan data/informasi Peserta didik berdiskusi di dalam kelompok, mengolah data/informasi dan menarik kesimpulan Peserta didik bekerja dituntun dengan Lembar Kerja atau LKPD Ada perwakilan kelompok membacakan hasil diskusi Peserta didik melakukan diskusi kelas difasilitasi oleh Peserta didik bersama dengan guru menyimpulkan hasil kegiatan pembelajaran di dalam diskusi kelas. Kegiatan Penutup Peserta didik menjawab/mengerjakan tes Peserta didik mengumpulkan lembar jawabannya Peserta didik bersama guru merncanakan tindak lanjut Peserta didik mendapat pengayaan singkat tentang materi yang telah dipelajari Peserta didik mendapat pesan-pesan moral terkait dengan materi yang telah dipelajari. Jumlah Rata-rata Tabel di atas terlihat bahwa skor Observer II Solving pada sub fluida statis termasuk dalam observasi aktivitas guru pada siklus I menurut kategori baik dan mengalami peningkatan. pengamat 2 sebesar 16, dengan rata-rata 1. Hasil ini menunjukkan bahwa aktivitas guru dalam melaksanakan pembelajaran dengan Metode Creative Problem Analisis Hasil Observasi Aktivitas Belajar Peserta didik Analisis Psikomotor Peserta didik Observasi aktivitas belajar peserta didik dilakukan dengan mengisi lembar observasi JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 149 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 psikomotor peserta didik oleh dua pengamat. terhadap afektif peserta didik pada siklus II Observasi dilakukan dengan berpedoman dapat dilihat pada tabel 9. pada kriteria penilaian lembar observasi Berdasarkan lembar penilaian afektif psikomotor peserta didik dengan memberikan peserta didik yang dilakukan oleh kedua nilai 1 . , 2 . , dan 3 . pengamat, diperoleh jumlah skor 12,8 dengan untuk masing-masing aspek yang diamati. skor rata-rata kedua pengamat adalah 2,6 Hasil observasi aktivitas belajar peserta didik skor ini termasuk dalam kategori baik. Hal ini pada siklus I dapat dilihat pada tabel 8. menunjukkan bahwa aspek afektif peserta Tabel 8. Hasil Observasi Psikomotor Peserta didik Pada Siklus II Fase 1 Membuat hipotesis 2 Mengumpulkan data 3 Menguji hipotesis 4 Menarik kesimpulan 5 Menyajikan hasil Jumlah Skor rata-rata didik pada siklus II berada pada kategori Tabel di atas terlihat bahwa jumlah skor observasi aktivitas peserta didik pada siklus II menurut pengamat 1 sebesar 11,2 dan Tabel 9. Hasil Penilaian Afektif Peserta didik Siklus II No Aspek Penilaian 1 Kerja sama 2 Santun 3 Rasa ingin tahu 4 Jujur 5 Bertanggung Jawab 12,8 12,8 Jumlah Rata-rata Pembahasan menurut pengamat 2 sebesar 11,2, dengan Hasil rata-rata 2,2. Hasil ini menunjukkan bahwa belajar peserta didik kelas XI IA 2 yang pembelajaran dengan menerapkan Metode diajar dengan menggunakan Metode Creative CPS pada sub konsep fluida statis termasuk Problem Solving (CPS). Pernyataan ini dalam kategori baik. Hasil pelaksanaan didukung dari hasil pencapaian pembelajaran meningkat. Ketuntasan Minimal (KKM) yang diperoleh. Analisis aspek afektif peserta didik Dari 24 peserta didik yang mengikuti tes Hasil Observasi Aspek Afektif Peserta siklus I, sebanyak 22 peserta didik yang didik Penilaian Aspek afektif ini dilakukan termasuk kategori tidak tuntas atau sebesar atau dinilai oleh dua pengamat dengan cara 91,67%, pada kategori tuntas sebanyak 2 berdiskusi dan bersama-sama menilai sikap peserta didik atau 8,33%. Sedangkan pada peserta didik selama proses pembelajaran. siklus II sebanyak 7 peserta didik yang Penilaian afektif digunakan untuk menilai termasuk kategori tidak tuntas atau sebesar sikap setiap peserta didik selama mengikuti 29,17%. Hasil Peserta Kriteria JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 150 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 kategori tuntas sebanyak 17 peserta didik IV. PENUTUP atau sebesar 70,83%. Berdasarkan hasil dan pembahasan maka Dengan melihat indikator keberhasilan dimana dari jumlah keseluruhan peserta didik diperoleh kesimpulan sebagai berikut : konsep Fluida statis dapat meningkatkan peserta didik berada dalam kategori tuntas. Metode Creative Problem Solving (CPS) pada yang ada di kelas XI IA-2 terdapat 70,83% Berdasarkan Penerapan aktivitas belajar peserta didik terutama peningkatan kemampuan konsep pada psikomotorik peserta didik pada siklus I, kelas XI. IA. pada siklus I di peroleh rata-rata sekitar 1,7 Utara. sedangkan pada siklus II di peroleh rata-rata Hal SMA Negeri 2 Sinjai meningkatnya kemampuan konsep fisika 2,2. dan aktifitas aktivitas belajar peserta Berdasarkan lembar observasi afektif didik pada tiap siklusnya. Peningkatan peserta didik pada siklus I berdasarkan kemampuan pemahaman konsep yang lembar observasi afektif peserta didik. Pada menggunakan CPS terlihat dalam setiap siklus I di peroleh rata-rata sekitar 2,5 tahap yang dimulai dalam merumuskan sedangkan pada siklus II di peroleh rata-rata 2,6. Hal demikian terjadi karena masih terdapat sebagian peserta didik yang masih tidak mengetahui apa yang harus dilakukan dalam kelompoknya. Berdasarkan kriteria cukup. Demikian pula didik pada siklus I berada pada kriteria cukup, dan kemudian meningkat pada siklus II menjadi kriteria baik. masalah yang ada, peserta didik lebih aktif fisika pada penilaian afektif peserta II. Ini merupakan salah satu bukti bahwa dengan peningkatan kemampuan konsep Kemudian melanjutkan penelitian pada siklus menjadi kriteria baik. guru melakukan refleksi pada siklus I. dan kemudian meningkat pada siklus II dalam proses pembelajaran. Oleh karenanya siklus I rata-rata pada Dan tidak mengetahui apa yang harus dilakukan aktifitas psikomotorik peserta didik pada Terdapat sebagian peserta didik yang masih dalam proses pembelajaran. Peserta didik Penerapan Metode Creative Problem Solving (CPS) pada konsep Fluida statis dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik khususnya JPF | Volume 6 | Nomor 2 | 151 p - ISSN: 2302-8939 e - ISSN: 2527-4015 kemampuan konsep kelas XI IPA 2 SMA Negeri 2 Sinjai. Pada siklus I berada pada kriteria cukup, kemudian meningkat pada siklus II individual dan pada kriteria PUSTAKA