Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Community Based Environmental Management in the Empowerment of Pineapple Farmers Ade Cahya Kurniawan. Agung Gustiawan. Didin Nahrudin Syah*. Kinanti Indah Safitri PT Pupuk Kujang *Email korespondensi: didinnahrudinsyah@gmail. Abstract This study aims to discuss the application of pineapple farmer empowerment using a Community Based Environmental Management approach in Sarireja Village. Jalancagak District. Subang Regency. West Java Province. The Kampung NanasKu program is part of the environmental social responsibility program initiated by PT Pupuk Kujang. The results of the study indicate that the CSR program carried out by PT Pupuk Kujang using the Community Based Environmental Management (CBEM) approach or community-based environmental management has succeeded in answering the three dimensions of program sustainability, namely social, economic, and environmental sustainability. Through involvement, synergy, and collaboration with cross-sectoral actors, this program becomes a pilot for community-based environmental management in Indonesia. Keywords: Community Based Environmental Management. Empowerment. Pineapple Farmers. Pineapple Cultivation Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Community Based Environmental Management dalam Bingkai Pemberdayaan Petani Nanas Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang penerapan pemberdayaan Petani Nanas dengan menggunakan pendekatan Community Based Environmental Management di Desa Sarireja. Kecamatan Jalancagak. Kabupaten Subang. Provinsi Jawa Barat. Program Kampung NanasKu merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial lingkungan yang digagas oleh PT Pupuk Kujang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program CSR yang dilakukan oleh PT Pupuk Kujang dengan menggunakan pendekatan Community Based Environmental Management (CBEM) atau pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat telah berhasil menjawab tiga dimensi keberlanjutan program, yakni keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Lewat keterlibatan, sinergi, dan kolaborasi dengan aktor lintas sektor, program ini menjadi percontohan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang ada di Indonesia. Kata Kunci: Community Based Environmental Pemberdayaan. Petani Nanas. Budidaya Nanas Management. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Pendahuluan Buah nanas (Ananas comosus L. Merr. ) merupakan salah satu komoditas buah yang cukup banyak menuai permintaan dari pasar domestik maupun internasional. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, volume ekspor buah nanas pada tahun 2019 meningkat secara signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Volume ekspor buah nanas pada tahun 2019 mencapai 236. 226 ton (Badan Pusat Statistik dalam Monavia Ayu Rizaty, 2. Akan tetapi, petani di Indonesia masih menemui kendala dalam pengembangan budidaya buah nanas. Hal ini berkaitan dengan perubahan iklim yang kerap kali terjadi dan menyebabkan kegagalan panen secara Petani juga terkendala permasalahan pemasaran karena harga nanas saat panen raya yang cenderung fluktuatif (Astoko, 2. Selain itu, permasalahan lingkungan juga perlu untuk diperhatikan dalam usaha tani komoditas nanas. Pasalnya, penggunaan lahan secara intensif untuk budidaya nanas berpotensi menimbulkan kekhawatiran terhadap kondisi lahan serta keberlanjutan usaha tani nanas (Amrullah. Dengan demikian, perlu adanya best practices pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang sesuai dengan karakteristik lokal dalam konteks budidaya nanas. Salah satu contoh pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat telah sukses diimplementasikan oleh PT Pupuk Kujang. Program ini bertajuk Kampung NanasKu. Program Kampung NanasKu merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial lingkungan yang digagas oleh PT Pupuk Kujang. Program Kampung NanasKu dilaksanakan di Desa Sarireja. Kecamatan Jalancagak. Kabupaten Subang. Provinsi Jawa Barat. Program ini mengembangkan usaha pertanian terpadu dengan memanfaatkan potensi pertanian lokal. Potensi pertanian lokal yang menjadi keunggulan Desa Sarireja terkenal sebagai penghasil buah nanas simadu. Oleh sebab itu. PT Pupuk Kujang menangkap peluang untuk mengembangkan potensi lokal tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Desa Sarireja. Kecamatan Jalancagak. Kabupaten Subang. Provinsi Jawa Barat. Metode Program Kampung NanasKu merupakan manifestasi dari kepedulian perusahaan terhadap optimalisasi potensi dan keunggulan sumber daya lokal dan masyarakat sekitar di Desa Sarireja. Wujud dari pengelolaan lingkungan yang dilakukan dengan melibatkan peran masyarakat sekitar ini dikemas dalam bentuk program pemberdayaan masyarakat. Program Kampung NanasKu berorientasi pada pemberdayaan dan pendampingan petani nanas untuk mewujudkan pertanian berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Transfer of knowledge yang difasilitasi oleh PT Pupuk Kujang telah terinternalisasi dari aspek perencanaan, praktik produksi hingga pemasaran. Untuk mencapai sasaran program. PT Pupuk Kujang menaungi dua kelembagaan masyarakat yakni mencakup Kelompok Tani Mekarsari Maju dan Koperasi Singgalang Sari Maju dengan jumlah anggota mencapai 60 petani nanas dengan total lahan garapan seluas 70 hektar. Pada dasarnya, pemberdayaan masyarakat dalam Program Kampung NanasKu tidak hanya berorientasi pada aspek pemberdayaan masyarakat untuk peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial. Akan tetapi, lebih dari itu tujuan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan telah memuat kerangka kerja pengelolaan lingkungan Hal ini dikarenakan, program ini merefleksikan orientasi terhadap keseimbangan antara fungsi keberlanjutan ekonomi, fungsi keberlanjutan lingkungan, dan fungsi keberlanjutan kesejahteraan sosial dalam pengelolaan program secara Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Salah satu masalah dalam program pemberdayaan masyarakat yang sering terjadi pada kasus-kasus lain adalah tidak adanya keberlanjutan program. Hal ini dikarenakan kegagalan program untuk menciptakan partisipasi masyarakat. Sehingga program tidak mampu bertahan lama. Dengan kata lain, program mengalami ketidakberlanjutan setelah terdapat pihak eksternal yang memberikan intervensi. Oleh karena itu, aspek keberlanjutan dalam lingkup sosial, ekonomi, dan lingkungan merupakan target besar yang harus dicapai oleh pemangku kepentingan. Untuk mencapai keseimbangan dari tiga fungsi keberlanjutan tersebut tidak lepas dari kolaborasi dan sinergi antar aktor-aktor pemangku kepentingan. Aktor-aktor tersebut harus memiliki tujuan kolektif yang sama dalam menjalankan pengelolaan lingkungan terpadu melalui termin pemberdayaan masyarakat. Hal ini dikarenakan, implementasi dari pendekatan CBEM yang efektif memerlukan tata kelola lingkungan secara hybrid yang berisi gabungan dari berbagai keterlibatan pemangku kepentingan secara aktif. Penerapan tata kelola secara hybrid tentunya akan membawa dampak dalam proses formulasi, pelaksanaan hingga evaluasi program. Oleh sebab itu, tata kelola pengelolaan lingkungan ini tidak dimonopoli oleh satu pihak saja karena masingmasing aktor memiliki tugas, tanggung jawab serta keahlian yang berbeda. Dengan adanya kolaborasi, masing-masing aktor dapat saling melengkapi cakupan peran dari aktor lainnya. Oleh karena itu, dalam konteks Program Kampung NanasKu telah mencakup desain program yang telah melibatkan pemangku kepentingan dari pihak PT Pupuk Kujang, pemerintah lokal, akademisi dan masyarakat petani khususnya Kelompok Mekarsari Maju. Hasil dan Pembahasan Adapun garis besar dari peran masing-masing aktor dalam program Kampung NanasKu adalah sebagai berikut: PT Pupuk Kujang PT Pupuk Kujang melakukan program pemberdayaan masyarakat sekaligus juga melakukan pengelolaan lingkungan di Desa Sarireja melalui Program Kampung NanasKu. Intervensi yang diberikan oleh PT Pupuk Kujang terhadap Program Kampung NanasKu meliputi aspek budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Pada aspek budidaya. PT Pupuk Kujang memberikan internalisasi metode budidaya nanas yang tepat sehingga mampu meningkatkan harga jual hingga mengalami kenaikan sebesar Rp. 1500/kg. Metode budidaya yang diperkenalkan mencakup penerapan SOP budidaya dengan mengatur jarak tanam, melakukan teknik pengolahan lahan melalui pembedengan serta penggunaan mulsa. Selain itu. PT Pupuk Kujang juga memperkenalkan metode pemupukan dengan mengatur penggunaan pupuk NPK serta pupuk organik secara berimbang. PT Pupuk Kujang mengenalkan penggunaan Pupuk Jeranti kepada masyarakat petani yang ternyata memiliki pengaruh terhadap kesuksesan metode budidaya nanas. Pupuk Jeranti merupakan produk pupuk hasil produksi dari PT Pupuk Kujang. Dengan adanya pengaplikasian pupuk Jeranti, buah nanas yang dihasilkan oleh petani menjadi lebih manis dan segar. Pada aspek pengolahan. PT Pupuk Kujang memberikan bantuan dalam pengembangan kapasitas petani serta bantuan sarana prasarana yang mendukung pengolahan nanas segar menjadi produk turunan seperti keripik nanas dan wajik nanas. PT Pupuk Kujang telah memberikan pelatihan produksi produk olahan nanas menjadi keripik nanas sejak Mengolah nanas menjadi keripik merupakan temuan yang belum banyak dilakukan oleh banyak orang. Sebab, umumnya keripik dibuat menggunakan bahan baku dengan kadar air rendah sepertihalnya ubi, talas, dan singkong. Sementara nanas Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 merupakan buah yang sebetulnya memiliki kadar air cukup tinggi yaitu mencapai 90%. Oleh sebab itu, pembuatan keripik nanas ini merupakan inovasi yang sangat unik. Nyatanya, produk ini juga menarik perhatian serta mendatangkan banyak permintaan dari konsumen. Selain itu. PT Pupuk Kujang berusaha untuk memberikan pelatihan untuk mengolah limbah nanas. Limbah nanas apabila tidak terkelola dengan baik dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Di sisi lain, sebetulnya limbah nanas dapat menjadi potensi lokal yang menghasilkan nilai ekonomi apabila dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Oleh sebab itu. PT Pupuk Kujang melihat limbah nanas ini sebagai suatu peluang untuk menciptakan serat kain sebagai bahan dasar pembuatan kerajinan Selain itu, limbah nanas juga digunakan sebagai alternatif pakan ternak. Mengingat, kebutuhan akan pakan ternak di Desa Sarireja juga cukup tinggi karena sebagian penduduknya memiliki hewan ternak ruminansia. Pada aspek pemasaran, saat ini produk kerajinan peralatan rumah tangga yang dihasilkan dari serat kain limbah nanas tengah dikembangkan untuk masuk dalam pasar domestik hingga pasar ekspor. Dalam termin pasar tradisional, anggota kelompok petani Mekarsari Maju memasarkan produknya ke Pasar Induk Tangerang dan Pasar Induk Subang. Produk petani Mekarsari Maju juga telah dipasarkan dengan bekerjasama melalui PT Inti Tunggal Kahuripan dan PT Laris Manis Utama. Dalam saluran pasar online, saat ini PT Pupuk Kujang telah memberikan bantuan dan pendampingan pemasaran berbasis digitalisasi untuk mempromosikan produk petani Mekarsari Maju secara online. Di era modernitas, pemasaran produk membutuhkan teknologi komunikasi digital sebagai media untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Program Kampung NanasKu telah mencakup pendampingan kepada Kelompok Tani Mekarsari Maju untuk dapat mengoperasionalkan marketplace sebagai wadah untuk mempromosikan produk turunan buah nanas. Strategi pemasaran juga tengah dibangun untuk menjangkau pasar ritel modern atau supermarket. Harapannya, dengan memperluas jaringan pemasaran ini dapat memberikan dampak terhadap peningkatan penjualan produk turunan. Di sisi lain, strategi pemasaran juga dilaksanakan secara terpusat dengan merevitalisasi kios yang digunakan untuk mempromosikan produk. Kios merupakan area penting yang menjadi basis kegiatan penjualan produk turunan. Dengan adanya kios, petani akan lebih terbantu untuk melakukan penyimpanan produk turunan. Oleh karena itu. PT Pupuk Kujang juga memiliki fokus perhatian untuk merevitalisasi kios pemasaran dari produk olahan. Sehingga pengunjung lebih nyaman untuk melihat koleksi produk turunan yang dihasilkan petani Mekarsari Maju. Revitalisasi kios pemasaran ini telah dilaksanakan pada tahun 2018. Revitalisasi kios pemasaran merupakan salah satu penunjang peningkatan penjualan produk karena dengan adanya kios maka pemasaran dapat dilakukan secara terpusat dan membuat konsumen lebih tertarik untuk mengunjungi galeri produk olahan. Pemerintah Lokal: Pemerintah lokal sebagai lembaga eksekutif pada tingkat lokal memiliki kontribusi dalam mengawasi berjalannya Program Kampung NanasKu. Pemerintah lokal khususnya Pemerintah Desa Sarireja memberikan kemudahan dalam perizinan kegiatan pengkapasitasan seperti pengadaan pelatihan budidaya. Kehadiran dari pemerintah lokal juga dibutuhkan untuk melegitimasi dan melakukan penguatan kelembagaan yang sudah terbentuk. Berdasarkan kasus Program Kampung NanasKu, wujud dari keterlibatan pemerintah lokal dalam program terlihat dari partisipasi pemerintah dalam memberikan arahan pada proses panen nanas pertanian. Selain itu. Pemerintah Desa Sarireja juga mendukung Program Kampung NanasKu dengan aktif mempromosikan Desa Sarireja sebagai desa percontohan budidaya nanas. Pemerintah Desa Sarireja merasa bahwa keberadaan Program Kampung NanasKu telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan kunjungan studi wisata dari pihak Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 eksternal ke Desa Sarireja. Hal ini dikarenakan banyak pihak eksternal dari kalangan petani dan instansi yang menjadikan Kelompok Tani Mekarsari Maju sebagai sumber rujukan dalam pengembangan budidaya nanas unggulan. Dengan demikian. Program Kampung NanasKu membuat Desa Sarireja semakin dikenal oleh masyarakat luas. Kelompok Petani Mekarsari Maju Program Kampung NanasKu memiliki subjek pemberdayaan yaitu Kelompok Tani Mekarsari Maju. Artinya, anggota kelompok tani yang menjadi aktor utama yang memegang kontrol dan kendali program. Anggota kelompok tani memiliki kesadaran kritis untuk berpartisipasi penuh dalam berbagai jenis kegiatan community building dan empowerment yang diimplementasikan. Anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju telah menjalankan produksi pertanian sebelum adanya Program Kampung NanasKu. Akan tetapi, hasil yang didapatkan dari pertanian nanas tidak signifikan. Maka dari itu. Program Kampung NanasKu hadir sebagai alternatif strategi untuk meningkatkan pendapatan petani serta memberikan pendampingan terhadap aktivitas pengelolaan Oleh karenanya, program ini harus dijalankan oleh petani dalam aspek perencanaan, budidaya, pengolahan, dan pemasaran. Mekanisme perencanaan program disusun berdasarkan forum diskusi antar seluruh pemangku kepentingan. Pada aspek perencanaan, anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju aktif terlibat dalam forum dan menjadi partisipator utama dalam memberikan gagasan dan inovasi program. Sebab, petani sebagai aktor utama yang akan melanjutkan program setelah tahapan pendampingan telah mencapai level exit oleh PT Pupuk Kujang. Keterlibatan aktif masyarakat kelompok tani sebagai penerima manfaat sekaligus aktor pelaksana program perlu didorong dengan melakukan pendelegasian wewenang kepada petani. Petani harus terlibat dalam pembagian peran, tugas dan tanggung jawab dalam program. Dengan demikian, mekanisme exit strategy dapat dilaksanakan dengan mengurangi keterlibatan dari pendamping teknis agar masyarakat kelompok tani mampu secara mandiri mengaplikasikan program meskipun tanpa intervensi dari pihak luar. Oleh karena itu pada tahap awal, petani harus memahami dan berkontribusi terhadap penyusunan perencanaan serta penyusunan tujuan general maupun tujuan khusus dari adanya program. Pada tahap budidaya, petani yang melakukan penerapan SOP budidaya dengan menerapkan teknik pembedengan dalam mengolah lahan, kemudian melakukan pemasangan mulsa, pembuatan lubang tanam, mengatur jarak tanaman dan lain-lain. Petani juga mengaplikasikan metode pemupukan majemuk berimbang dari pupuk Jeranti yang telah introduksi oleh PT Pupuk Kujang. Pada aspek pengolahan, petani menerapkan penyortiran terhadap buah nanas simadu yang layak jual dengan spesifikasi segar, berwarna terang, dan tidak berlubang. Sementara buah nanas yang tidak layak jual memiliki ciri-ciri berlubang, berwarna gelap, busuk dan tercium aroma yang kurang sedap. Buah nanas dengan kriteria tidak layak jual tersebut maka tidak dapat lolos sortir sehingga harus dipisahkan dari buah nanas yang siap jual. Selanjutnya, buah nanas yang tidak layak jual tersebut harus diolah menjadi produk turunan untuk meningkatkan nilai kegunaan dan mengurangi sampah. Oleh sebab itu, petani Mekarsari Maju membentuk tim kecil yang berfokus pada usaha pengolahan produk turunan nanas. Sejauh ini, produk turunan nanas telah berhasil diolah menjadi keripik nanas, wajik nanas, dan es buah nanas. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Gambar 1. Produk Turunan Nanas Sumber: Dokumentasi PT Pupuk Kujang . Sementara dalam aspek pemasaran, peran anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju adalah menjadi produsen yang memiliki kendali dalam penentuan jual. Oleh karena itu, anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju dibina untuk menguasai pangsa pasar yang ada serta membangun pasar alternatif. Anggota kelompok tani telah menjalin relasi dengan pasar tradisional dan juga pasar induk modern. Bahkan saat ini, anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju tengah membangun jaringan dengan supermarket serta perusahaan pengolahan nanas. Jaringan yang dikelola adalah mempromosikan buah nanas hasil budidaya anggota kelompok agar dapat menjadi pemasok utama di setiap lini pasar maupun perusahaan. Selain itu, upaya untuk membangun jaringan pemasaran secara online juga dilakukan oleh Kelompok Tani Mekarsari Maju bekerjasama dengan PT Pupuk Kujang. Digitalisasi pemasaran ini dilakukan dengan difasilitasi oleh PT Pupuk Kujang untuk pengadaan pelatihan pemasaran produk melalui marketplace kepada anggota kelompok tani. Saat ini, anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju dalam tahap diberikan pendelegasian wewenang untuk mengelola Program Kampung NanasKu serta melakukan ekspansi pasar. Akademisi: Akademisi adalah aktor yang memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam menentukan desain program yang tepat serta mengevaluasi capaian program. Dalam konteks pengelolaan lingkungan maka peran akademisi sangat substantif dalam melakukan identifikasi terhadap karakteristik fisik lingkungan serta memberikan rekomendasi tata kelola lingkungan yang efektif. Oleh karena itu. Program Kampung NanasKu melibatkan kalangan akademisi yang mampu membantu dalam penyusunan SOP budidaya yang tepat sesuai dengan kondisi tipologi fisik maupun topografi di Desa Sarireja. Selain itu, identifikasi pemetaan sosial di Desa Sarireja juga melibatkan peran Pemetaan sosial membantu untuk mengidentifikasi potensi serta permasalahan yang terjadi di Desa Sarireja sehingga dapat disusun kerangka pengembangan program terbaru untuk menjawab kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kelompok tani. Program Kampung NanasKu turut berkolaborasi dengan kalangan akademisi dari berbagai instansi. Salah satunya adalah dengan Departemen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Gadjah Mada. Instansi tersebut berperan dalam melaksanakan riset, kajian, dan pengembangan sepertihalnya studi Social Return on Investment. Social Mapping dan Indeks Kepuasan Masyarakat terhadap Program Kampung NanasKu. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Tiga Dimensi Keberlanjutan Program Dimensi keberlanjutan terdiri dari tiga dimensi yaitu: Dimensi Keberlanjutan Sosial. Dimensi Keberlanjutan Ekonomi dan Dimensi Keberlanjutan Lingkungan. Program dapat dikatakan berhasil apabila telah memuat tiga dimensi keberlanjutan di Tanpa adanya tanda keberlanjutan maka program tidak mampu merefleksikan outcome bagi masyarakat dan terancam tidak dapat bertahan dalam jangka panjang. Untuk itu, dalam buku ini mencoba menganalisis keberlanjutan yang dihasilkan dari Program Kampung NanasKu. Keberlanjutan Sosial Program Kampung NanasKu dapat menjadi program yang mampu merefleksikan keberlanjutan sosial. Inovasi sosial dan kelembagaan telah berhasil dilakukan dalam Program Kampung NanasKu. Keterlibatan petani terhadap institusi atau kelembagaan dapat menjadi wadah untuk saling bertukar informasi terkait dengan praktik budidaya yang efektif serta menjadi jaringan informal untuk membantu kebutuhan biaya produksi. Inisiasi kelembagaan ini menjadi instrumen penting sebagai bentuk kewirausahaan sosial dalam menopang ekonomi masyarakat petani. Dalam program Kampung NanasKu juga didesain agar petani mampu mengembangkan aset dan menggunakan aset serta sumber daya dengan lebih baik. Salah satu manifestasinya dapat tercermin dari program pengolahan nanas menjadi beberapa produk turunan yang memiliki nilai ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Produk turunan yang dihasilkan oleh petani dan telah menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi adalah keripik nanas, wajik nanas, serta es buah nanas. Produk tersebut telah dipasarkan secara offline maupun online. Hasil karya produk turunan nanas ini juga telah banyak dipromosikan dalam ajang pameran di tingkat regional dan Inovasi kelembagaan kedua dalam program Kampung NanasKu yakni telah terbentuk sistem kelembagaan ekonomi yang terwujud melalui koperasi. Koperasi tersebut merupakan Koperasi Singgalang Sari Maju yang berdiri sejak tahun 2020. Koperasi ini berperan dalam bidang produksi dan pemasaran. Dalam bidang produksi. Koperasi Singgalang Sari Maju telah menjadi produsen bibit nanas serta melakukan penyediaan kebutuhan petani dalam harga yang relatif terjangkau. Petani juga diberikan fasilitas pinjaman apabila kesulitan dalam mengakses modal produksi. Mekanisme ini menguntungkan bagi petani yang minim permodalan. Sementara dalam fungsi pemasaran. Koperasi Singgalang Sari Maju telah menjadi platform pemasaran buah nanas beserta produk turunan nanas yang dihasilkan oleh anggota kelompok tani. Koperasi Singgalang Sari Maju memberikan akses pasar kepada petani karena adanya kelembagaan koperasi menjadikan produk petani lebih mudah untuk mengikuti ajang pameran produk. Sehingga koperasi turut menciptakan alternatif pasar baru. Dengan demikian, permasalahan seperti halnya keberadaan tengkulak yang memonopoli harga jual petani juga dapat diantisipasi dengan adanya kelembagaan ini. Petani yang menjadi anggota koperasi dapat meminimalisir kebergantungan mereka kepada tengkulak. Keberlanjutan Ekonomi Sebelum adanya Program Kampung NanasKu, petani nanas di Desa Sarireja merasa kurang percaya diri dalam membudidayakan nanas. Mereka seringkali terhambat masalah kurangnya produktivitas panen buah nanas dengan kualitas yang kurang baik. Buah nanas yang dihasilkan memiliki bobot yang kecil dan tingkat kemanisan yang rendah. Sehingga produk yang dihasilkan petani kurang menjadi daya tarik pasar. Oleh sebab itu, seringkali petani tidak mendapatkan keuntungan karena antara modal dan pendapatan yang diperoleh lebih rendah. Terlebih sebelum adanya program, kondisi petani nanas semakin mengalami marginalisasi akibat kehadiran Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Tengkulak nanas yang beroperasi di kawasan Desa Sarireja memiliki peran signifikan dalam pemasaran produk petani nanas. Selain itu, para tengkulak tersebut memiliki kuasa dalam menentukan harga pembelian produk petani. Penetapan harga nanas yang diputuskan oleh tengkulak kepada petani seringkali bersifat fluktuatif. Ketidak-pastian harga nanas yang dijual kepada tengkulak menyebabkan petani seringkali mengalami kerugian. Realita ini merefleksikan petani mengalami alienasi . terhadap produknya karena ketidak-berdayaan petani dalam mengontrol dan mengambil keputusan dalam penjualan. Petani tidak memiliki pilihan lain selain menyerahkan produknya untuk dibeli tengkulak karena produk yang mereka hasilkan dirasa kurang maksimal oleh petani. Hal ini menyebabkan rendahnya pendapatan yang diterima oleh petani. Oleh karena itu, banyak petani yang masih kesulitan dalam memenuhikebutuhan sehari-hari sebelum adanya Program Kampung NanasKu dan pendampingan yang dilakukan oleh PT Pupuk Kujang. Setelah Kelompok Mekarsari Maju terbentuk untuk melaksanakan program Kampung NanasKu, produk nanas petani mulai memiliki daya saing dalam pasar lokal hingga nasional. Dalam program Kampung NanasKu telah memiliki mekanisme dalam mempertahankan keberlanjutan ekonomi dari masyarakat petani nanas. Mekanisme ini dapat terlihat dari adanya kelembagaan Koperasi Singgalang Sari Maju yang juga memfasilitasi jasa simpan pinjam. Jasa simpan pinjam ini disediakan untuk anggota kelompok tani terutama untuk menunjang permodalan operasional produksi. Pada dasarnya, modal terbagi dalam beberapa tipologi yaitu mencakup modal finansial, modal sosial, modal sumber daya manusia, modal alami . umber daya ala. Dengan demikian, modal merupakan elemen penting yang harus dimiliki petani agar keberlanjutan produksi dapat terjamin untuk memenuhi biaya produksi. Biaya produksi ini mencakup pembelian input . enih, pupuk dan pestisid. , membayar biaya tenaga kerja, membeli sarana dan prasarana produksi seperti mulsa dan peralatan untuk mengolah lahan. Dalam kasus pemenuhan biaya produksi untuk budidaya, maka keberlanjutan budidaya nanas membutuhkan sokongan modal finansial yang cukup. Kebutuhan modal finansial ini kebutuhan coba dipenuhi melalui peran dari Koperasi Singgalang Sari Maju. Dengan demikian, anggota kelompok tani Mekarsari Maju tidak merasa khawatir dan kesulitan dalam mendapatkan modal finansial melalui mekanisme simpan pinjam yang ditawarkan oleh koperasi. Sementara itu, urgensi pemenuhan modal sosial dapat ditinjau dari kebutuhan terhadap akses pemasaran. Petani yang tidak memiliki modal sosial maka tidak memiliki kekuasaan dalam membangun jaringan, tidak mengetahui dinamika yang terjadi dalam perdagangan pangan hingga tidak memiliki otoritas dalam menentukan harga. Kondisi tersebut merupakan bentuk eksploitasi sumber daya pertanian yang semakin memarginalisasi petani yang menjadi Selain itu, inkonsistensi pasar dari segi ketidakstabilan harga dan ketidakberdayaan petani sebagai produsen mengakibatkan perubahan perilaku produksi petani yang dapat melemahkan petani untuk tidak condong pada praktik pengelolaan Oleh sebab itu, pemenuhan modal sosial harus dilakukan agar petani memiliki kekuatan secara kolektif untuk menghadapi kondisi pasar yang tidak menentu serta harga yang fluktuatif. Dengan adanya modal sosial, petani juga berpotensi untuk menciptakan pasar baru dan meningkatkan peluang petani untuk memiliki kekuatan dalam menentukan harga jual buah nanas. Dalam konteks Program Kampug NanasKu, kebutuhan modal sosial dipenuhi melalui penguatan kelembagaan sosial Kelompok Mekarsari Maju. Koperasi Singgalang Sari Maju dan pembentukan kelompok pengolahan produk turunan Ketiga kelembagaan ini menginternalisasi peningkatan kapasitas kepada petani sekaligus juga memberikan pemenuhan terhadap dukungan permodalan sosial khususnya dalam meningkatkan jaringan pemasaran dari produk buah nanas sekaligus produk turunannya. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Sementara modal sumber daya manusia dapat terefleksikan dari keberadaan tenaga kerja yang membantu dalam mengoperasionalkan budidaya. Akan tetapi, keberadaan tenaga kerja ini juga tergantung dari modal finansial terkait dengan kemampuan petani untuk membayar upah pekerja. Akan tetapi, strategi kelembagaan juga menjadikan petani mampu mendapatkan modal sumber daya manusia. Kebutuhan terhadap modal sumber daya manusia dapat disiasati dengan adanya inisiasi kelembagaan kelompok tani sehingga petani dapat saling berkerjasama dan saling membantu dalam operasionalisasi aktivitas produksi. Dalam aspek modal alam . umber daya ala. dapat diidentifikasi dari kepemilikan dan hak pengelolaan lahan yang dimiliki oleh petani. Tipe modal sumber daya alam juga sangat penting karena berkaitan dengan kebutuhan lahan untuk area produksi buah nanas. Sementara itu, kebutuhan terhadap lahan ini diupayakan untuk dipenuhi oleh Kelompok Mekarsari Maju melalui penggunaan lahan kritis. Prosedur penggunaan lahan kritis ini turut mendapatkan pendampingan dari PT Pupuk Kujang terkait pemanfaatannya yang tepat sesuai dengan hasil kajian terkait karakteristik lahan pada areal tersebut. Oleh sebab itu, lahan kritis seluas 3 hektar yang ada di Desa Sarireja dapat dimanfaatkan oleh petani untuk menjadi lahan budidaya nanas produktif. Oleh sebab itu, terkait dengan kebutuhan empat jenis permodalan yang dibutuhkan oleh petani telah dipenuhi melalui mekanisme kelembagaan yang masingmasing memiliki fungsi tersendiri. Penguatan empat jenis modal tersebut memberikan capaian outcome yang cukup besar bagi seluruh anggota di Kelompok Tani Mekarsari Maju. Terdapat kontribusi pertanian nanas terhadap peningkatan pendapatan dari total dari 58 orang anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju yang disurvei. Berdasarkan laporan peningkatan pendapatan anggota kelompok tani Mekarsari Maju yang dibandingkan sebelum bergabung dengan kelompok . dan sesudah bergabung dengan kelompok terdapat rata-rata presentase peningkatan pendapatan sebesar 40% atau senilai Rp. Dengan demikian program ini memberikan dampak terhadap kesejahteraan ekonomi bagi masyarakat khususnya anggota kelompok Mekarsari Maju. Peningkatan pendapatan ekonomi tersebut datang dari berbagai sub program yang dijalankan. Sub program pertama adalah dari hasil panen budidaya nanas. Dengan adanya Program Kampung NanasKu menyebabkan peningkatan kualitas hasil panen. Bobot buah nanas menjadi meningkat hingga mencapai 4 kilogram/buah. Selain itu, buah nanas yang dihasilkan memiliki tingkat kemanisan > 15A brix. Pada akhirnya, produk buah segar petani mencapai harga jual Rp. 4000/kg. Sub program lainnya yang memiliki nilai ekonomi adalah pengolahan produk turunan nanas. Pengolahan produk turunan nanas dilakukan oleh kelompok pengolahan produk yang memberdayakan ibu rumah tangga, anak putus sekolah serta tenaga kerja yang terkena PHK. Sehingga dalam aspek ekonomi, tidak hanya tentang nilai ekonomi secara langsung yang dihasilkan dari Program Kampung NanasKu, namun juga memberikan pekerjaan yang mampu menghasilkan pendapatan. Buah nanas dapat dikonsumsi dalam bentuk buah segar, olahan minuman maupun juga bentuk olahan makanan seperti dodok, selai serta kripik nanas (Astoko, 2. Saat ini kelompok pengolahan produk turunan nanas telah mampu menghasilkan keripik nanas, wajik nanas, hingga es buah nanas. Produk olahan nanas hasil dari pemberdayaan masyarakat kelompok pengolahan produk di Desa Sarireja ini telah mampu bersaing dalam pasar lokal hingga nasional. Salah satunya berkat adanya bantuan pemasaran produk olahan serta partisipasi aktif dari masyarakat petani yang antusias untuk mengikuti event bazar atau pameran di tingkat nasional. Selain itu, program yang memuat esensi keberlanjutan ekonomi juga tercermin dari adanya program pengolahan limbah nanas. Pengolahan limbah nanas telah berhasil diinovasikan menjadi serat kain dan alat rumah tangga. Inovasi pengolahan limbah nanas ini berkat kolaborasi nyata antara Kelompok Tani Mekarsari Maju dengan PT Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Pupuk Kujang. PT Pupuk Kujang turut mewadahi peningkatan kapasitas dan keterampilan kepada masyarakat untuk memproduksi serat kain dari limbah daun Serat kain yang berasal dari limbah daun nanas diinovasikan sebagai bahan baku untuk produk kerajinan dan peralatan rumah tangga. Saat ini, produk kerajinan rumah tangga dari serat kain limbah nanas ini telah dikembangkan untuk dipasarkan dalam skala regional, nasional, hingga diproyeksikan mampu menarik konsumen Keberlanjutan Lingkungan Keberlanjutan lingkungan adalah capaian yang didapatkan salah satunya dari implementasi program pengelolaan lingkungan. Program pengelolaan lingkungan yang diimplementasikan harus mampu melibatkan partisipasi dari masyarakat yang menjadi subjek program. Program yang tidak memuat prinsip keberlanjutan lingkungan berpotensi menimbulkan isu degradasi lingkungan dan membuat petani semakin abai dari praktik budidaya yang ramah lingkungan. Oleh karena itu, internalisasi prinsip keberlanjutan lingkungan harus menjadi salah satu konsern dari program pemberdayaan yang dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan. Dalam konteks Program Kampung NanasKu, petani yang menjadi anggota Kelompok Tani Mekarsari Maju telah didampingi untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Program Kampung NanasKu memiliki agenda program terkait pengelolaan lingkungan. Oleh karena itu. Program Kampung NanasKu memengaruhi petani untuk memiliki kesadaran kritis terhadap program konservasi lingkungan dan penerapan strategi pertanian berkelanjutan. Implementasi program berlangsung secara bertahap dengan melakukan sosialisasi, pelatihan untuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta praktek konservasi langsung. Intervensi yang diberikan kepada petani bukanlah proses yang sederhana karena perlu melibatkan partisipasi masyarakat. Tanpa partisipasi masyarakat, proses pendampingan akan memiliki ciri kecenderungan tidak dapat menemukan titik keberlanjutan dan penerapan program akan tergantung pada pihak yang menjadi inisiator program. Namun dengan adanya perancangan program yang komprehensif mencakup tahapan yang jelas serta penjabaran fungsi dan tugas masing-masing stakeholders menjadi faktor penentu program ini dapat terealisasi secara efektif. Di sisi lain, penerapan pengelolaan lingkungan dalam konteks pertanian membutuhkan pendampingan teknik konservasi yang sesuai dengan tipologi dari situs atau areal yang menjadi objek konservasi. Hal ini dikarenakan, teknik konservasi yang tidak sesuai prosedur dan tipologi dari areal akan menyebabkan program menjadi tidak efektif dan justru mengakibatkan kerusakan lingkungan. Oleh karena itu, untuk meminimalisir kesalahan dalam program pengelolaan lingkungan. PT Pupuk Kujang bersama dengan kelompok tani telah menerapkan ide untuk melakukan riset dan kajian pengembangan budidaya nanas. Riset ini tidak hanya bertujuan untuk mengoptimalkan produktivitas hasil panen, akan tetapi untuk memastikan bahwa praktik produksi yang dilakukan oleh masyarakat memenuhi prinsip ramah lingkungan. Riset, pengkajian dan pengembangan merupakan komponen substantif untuk mengkaji karakteristik lingkungan di suatu area yang menjadi subjek intervensi Maka dari itu, kegiatan riset, pengkajian dan pengembangan idealnya harus dilakukan sebelum program dilaksanakan atau pada awal program diterapkan. Tentu, riset bukanlah langkah yang mudah untuk dilakukan karena membutuhkan ilmuwan, akademisi ataupun tenaga ahli tertentu. Oleh karena itu, seringkali kegiatan ini menghabiskan dana yang cukup besar serta waktu yang cukup panjang. Kendati demikian, kegiatan riset dan kajian pengembangan budidaya nanas telah berhasil dilakukan oleh PT Pupuk Kujang bekerjasama dengan petani Mekarsari Maju. PT Pupuk Kujang telah melakukan penelitian terkait unsur-unsur hara tanah, jaringan tanaman dan kebutuhan pupuk untuk program budidaya nanas optimal. Prospect: Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol. 1 No. p-ISSN: 2827-8224 | e-ISSN: 2828-0016 Kesimpulan Program Kampung NanasKu tidak hanya memuat substansi pemberdayaan masyarakat melainkan juga dalam praktiknya mencerminkan kegiatan-kegiatan pengelolaan lingkungan. Hal ini dapat terlihat dari pengelolaan limbah tanaman nanas menjadi produk turunan nanas . eripik dan waji. , serat kain, hingga POC. Program Kampung NanasKu juga berperan dalam pemanfaatan dan revitalisasi lahan kritis yang ada di Desa Sarireja. Selain itu. Program Kampung NanasKu juga telah menghasilkan SOP budidaya nanas yang baik dan lebih ramah lingkungan. Dengan demikian. Program Kampung NanasKu dapat merefleksikan bahwa budidaya nanas dapat memberikan kontribusi terhadap terwujudnya prototype sistem pertanian terpadu di Indonesia. Sehingga, program ini dapat menjadi percontohan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat yang ada di Indonesia yang realitanya dapat dikolaborasikan dengan implementasi program pemberdayaan masyarakat. Daftar Pustaka