Pertautan Epistemologi Bayani dan Pendidikan Islam Masa Keemasan Ma^hmud Arif ;.*; "r,lAls")\-,)l 5;lt o!, g-tdla-lrJl u @ es e,Jr :JrJ-ll ,: G:ri ,)et,.Jtr n aUl!F")\-)l q.#t 6\rb zJra- e '':.aJl cr'Jt Jl a,-t';Jt ..r)-alt aebl JJ) *rjJl Lr-ra.c,; ;"- ^ ,f df gr:'rY Lirg g;jJl d)-,)l d.ll -#l Jf-.r tot bl -S-;.li 1t-K-!t" Z.| :lr-r-.; .li 6lt-;, .4" c,rrLJe*" .3+ f -ri 4?s "ar,>t-,1t eF rrL)l -sijl a{r ;;\ s*}*)l irl Jb gr JJi Jl 4+r)l dr, a:^i,ks ,S$ 6:Ut *-rEJt..$.ft U \jt 6*#Jt dLe l*ir: a-,-,Wg 4rrX-.Yl Ltll Jl qp-.gjJt ,r!l i/)l-,Yl u-.x-ll€J;l .J+f .iJJi,2 -+-jaLt tu--rjl vrJt U,o, 1.tfll .rl-lkll ts* *t r!.etY 6Jti*Jl a+rrE:,| .t='J qjalJl fJLll .i'"i JL rftl- ti 6-rttl dr. ila'Jl .rt/i:lt .-;ti .rl: a.---$ -a*4-S a-.r.rlt,:..,-*i dJ:-dlru'SJl:U1 *LJt .UUl ItilIJ !-l'.1J!,e..+,r", *rL)l lUl 6;ynt a----cJi-* e e-"nlJJti.ll u.6J-*s 4-..l*Yl .S*iJl tr.tac ,J +)\-,)l Lltt 126 k lol No. 1,fanuary-lune2002 Al-Pmi'ah,Vol.40, gi BryaniilanPendidikan Mahmud Anl, PertnutanEpistemolo lslam... Abstract Historically, the current Islamic thought is essensiallya continuation of the result of Islamic thought theorizing that peaked in the Golden ages (m - V H). As a consequenceof bayittilytitt dominatiory the product of Islamic thought in the Golden ages has succeededto build an image that Islamic Arabic thought inherited by rs current$ is nothing but an "Islamic law" civilization. This can be viewed from epistemologicalfact, the wriggle of Islamic Arabic thought is always present at the firm hegemony of bayani reasonstrucfure attaining a supremacymomenfum from Islamic humanism and scholaticism movements. Furthermore, the bayani reason structure has subsequently permeated into Islamic education as a cultural "reason" for education at that time. Then, this permeating has causedappearing of "the religious-conservative" education school that lessis appreciated to every rational impact from "outside", so that tends to make marginal intellecfual sciences.Itwas nafural in its development, "intellectualism" becomesovercast from the realm of Moslem consciousness.This redity has been made worse by madrasa as a par excellenceinstitution in the Islamic world that has changed its function as only a "wagotr" mover of bay&tihadttiorr. This article tries to investigate the processof awakmingof baSaniepistemology and its liakage with Islamic education in the Golden ages. Pendahuluan roduk pemikiran Islam masa lalu yang puncak formulasi teoritiknya berlangsung pada masa Keemasan(abad m - V H) disinyalir oleh banyak pihak masih sangat kgat menghegemoni pola pikir dan kesejarahan umat Islam dewasa ini.t Oleh karena itu, Hassan Hanafi 'Menwut Muhammad Shahrur, kenyataan tersebut mengakibatkan terjadinya berbagai benhrk absolutisme pada masyarakat Muslim sekarang,diantaranya: absolutisme pemikiran dan absolutismeepistenrologis.Absoltrsitaspeurikiran bernrula dari masatadwin danmencapai "kesempurnaan" dengan "pemandulan" nalarArab Islamkarena gebrakan al-Ghazali dan Ibnu Arabi; di masa inilah, pendefinisian al-Sunah, formulasi ushul fikih dan bahkan prinsip dasar kebahasaantelah mapan dan matang. Absolusitas epistemologis, sebagaiimplikasi absolusitaspemikiran,meliputi dua aspek muatanmateri keilmuan dan metodologinya. Ini bisa kita lihat dari melimpahnya kajian-kajian "ayat hukum" dalam Al-lamiah,Vol.40,No. 1.,january- Jund2002 L27 BaydnidnnPmdidiknnlshm .-. Mahmud Anf.,PertautanEpistemologi menyebut produk pemikiran Islam masa lalu sebagai at-turith (warisan budaya) yang memiliki tiga ciri pokok, yatti: al-manqililaina(sesuatu yang kita warisi), al-malhim lana-(*suatu yang kita "pahami") dan al-muwaiith hsulukina (sesuatuyang mengarahkanperilaku kita).- Wajar bila kemudian perputaran roda budaya dan tradisi pemikiran Islam senantiasamenggelinding dalam alur "gerak-statis" (lfarakatu i'tima-dy karena gerak seiarahnyatidak mengkristal pada produksi hal-hal baru, melainkan pada reproduksi hal-hal lama dalam bingkai pemahaman tradisional atas aItureilt.Untuk dapat bersikap kritis terhadap alur kesejarahanumat Islam tersebut, telaah kita atas mainsbeam konsepsi egistemologisyang telah membentukbangunanpemikiran merekaselamaini' dalam rangkamengurai anyaman konstruksi nalarnya akan terasasangat urgen. Nalar dominan pemikiran Islam yang memunculkan Proliferasi ilmu-ilmu Atab istidlaliy murni: Balaghah, Na\wu, Kalam dan Fikih, sebagai lokomotif utama dinamika wawasan keilmuan umat Islam selamaini sebenarnyatidak bisa dilepaskan dari peran ulama' bayaniSyun dalam "rnembaku-bukukan" pemikiran' mereka semenjakgerakan tadvyinpada masa KeemasanIslam.u Keberhasilanrnerekaitu kemudian membanguncitra tertentu pada warisan budaya dan tradisi pemikiran Islam, khususnya, berupa citra fikih.- Di samping itu, secaraepistemologls Pun budaya dan tradisi pemikiran Islam dikesankansangatbersrtatngZd,puritan dan dikotomis dalam memecahkan khazanah tradisi keilmuan Islam, dan langkanya kajian-kaiian tentang kealaman dan kesejarahan;lihat Muhammad thahrur, Dirisat lslimlTat Mu hqirat.6 al-DaeuJati wa aJMujtan4a'(Damaskus:al-Ahali li al-Nashr,1994), p.217'?23 Hana h, Dira-sat Isla-mlyyaf (Kairo: Maktabah al-Anjilo, tt.), p'107 lHassan 'M' wa Mudgashaf(Beirut alAbid al-|abiri, al-Tbrith ii "n'Dt?asat "t-l*a;t Markaz al.Thaqafi al;Arabi, 1997),p.15 *Menurut M. Amin Abdullah, corak konsepsi epistemologi tertentu akan sangat mempengaruhi bangtrnan pemikiran manusia, bahkan pandangan dunianya secarautuh; hhat M" Amin Abdullah, "Aspek Epistemologis Filsafat Islam" dalam Irma Fatimah (ed.), FilsfatIslan;KajnnAtulogis,Episternologis,Alaiologis,Ilistoris,Ptuspektit\Yogyakarta: LESFI, 1992),p.47 'M. A-itrAbdullah menilaibahwa pola pil<;rrteks;&ralbqrAli,yang dibangun oleh ulama' bayaniSytn lebih dominan secarapolitis dan met$entuk mainstreampemikilan keislamanyanghegemonik;lihatM.AminAbdullah, "al-Te'wilal-'Ilni: KeArahPerubahan Paradigma Penafsiran Kitab suci", al-Iami'ah,vol.39 Number2]uly-DecemberZIfJL,p.372 -U. al-Markaz al-Thaqafi al-Arabi, eUia l-; abii, Takwinu al-Aglat-Anbty(Beirut 1991),p.96 128 Al-lalni'ah,Yol.40,No. 1,January- fune2002 Epistemologi BaynnidnnPendiiliknn Islam... Mahmtd Arif, Pertautan segenappersoalan.t Selanjutnya,eksescorak epistemologis semacamitu merembeske dalam dunia pendidikan Islam. Hal ini teriadi karena selain pendidikan Islam memangbukan sesuatu yangmi generissehinggaselaluterkait dengan konstelasisosial,politik dan budaya-pemikiran yang dominan, ia juga adalah sistemsosialyang merefleksikanfilosofi komunitas pendukungnya.oDetrgut kata lain, pnxis pendidikan Islam merupakan aktifitas internalisasi dan sosialisasinilai secaraakademis, "ideologis" dan terlembagakandalam dialektika sosio-kulturd, sedangkanteoritisrrya merupakan konseptualisasi kependidikan atas segala apa yang dianggap "bernilai" oleh komunitas pendukung. Dimaklumi bahwa secaraepistemologis permasalahanutama dalam pendidikan Islam adalah berkaitan dengan tindakan kognitif dalam proses kultural, yaitu tindakan iktisabu al-ma'ri.fah (pemerolehan pengetahuan) dan intaj'u al-ma'rifah (produksi pengetahuan). Dalam spektrum yang lebih luas, dengan ditopang oleh berbagai faktor determinan historis yang ada, permasalahanutama ini kemudian melahirkan epistenic sovereignty (kedaulatan epistemik) yang menganyam relasi antara pengetahuan dan kekuasaan, yakni relasi antara nalar budaya dan "ortodoksi" pemikiran keislaman. Epistemo\ogi Bayahi Munculnya periode tadruh (kodifikasi massif keilmuan)e disinyalir sebagaibabak baru transformasi episteme Bayanidari wacana kebahasaan Lihat M . Amin Abdullah, "Aspek Epistemol ogSs", p .47, dan Muhammad Shahmr, a|-I(itab wa a|-Qur'an; Qraht Mu'als.irat (Damaskus: alQismu al-Fanni, 1990), p.728. Setidaknya ada empat penilaian kritis yang telah dikemukakan oleh Shahrur tentang pemikiran Islam yang kuat citra fikihnya dan meredup "nalar ilmiahnya", yaitu: 1) perubahan agama Islam menjadi agama yang hanya berurusan dengan pengaturan relasi langsung antara hamba dan Tuhan, dan antara manusia dengan sesama;2) keterpurukan umat Islam dalam panggung sejarah y€mgmemang dibangun atas dasar "nalar ilmiah", sementaramereka telah kehilangan nalar ini;3) dominasi cara pandang yang kaku dan hitam-putih; 4) pola pengajaran yang indoktrinatif dan mengebiri kritisisme; hhat, Ibrd., p.726-728 -Munir al-Mursi Sarhan, Fi l/hmalyyati al-Tarbryah (Mesir: Maktabah al-Anjilo, 1978),p.40,dan Abbas Mahjub, Uqilu al-Fikn al-Tarbawiy(Damaskus: Dar Ibni Kathlr, 1987),p".23 Tadwin selain memberikan fungsi historis-politis tertentu, juga memberikan pengaruh intelektual yang sangatkuat terhadappemikiranArab Islam (masaKeemasan), bahkan hingga masa-ilursa berikutnya; lihat, Nazih Ayubi, Political Islam; Religton and Politian theArab World, (London: Routledge,191), p.10-11. Periode tadwin,menurut Al-fm{ ah,Vol.40,No. L,January- June2002 1,29 MahmudArif, Pertautan menuju wacana diskursif; periode tadwin mengantarkan budaya Arab Islam ke budaya tulis/grafis (al-krta-bali dan penalaran (al-dtrayal) dimana sebelumnya berada dalam budaya oral/lisan (al-m usha-fahah)dantransmisirepl*attf. (al-n wayah).'" Lebih jauh, episteme Bayaru'telahmenjadi semacam "perspektif" (rufuah) dan "metode" (manha) yang melandasi pemikiran sistematis dalam menginterpretasi wacana (fi tafsiri al-kltitab) dan memproduksi wacana (fr ntaj,r al-klu'te). Secara leksikal-etimologrs, terma al-Bayan mengandung beragam arti, yaitu: 1.)kesinambungan (a1-waslu);2) keterpilahan (al-fas/u); 3) jelas dan terang (al-zulzur wa al-wudfiz); dan 4) kemampuan membuat terang dan jelas.-- Berdasarkan ragam arti ini, kiranya dapat disimpulkan bahwa makna generik yang terkandung dalam al-Bayan adalah ke teryilahan dan kejelasan. Sebagai sebuah episteme, keterpilahan dan kejelasan tadi mewujud dalam al-Bayan ibarat "perspektif" dan "metode" yang sangat menenfukan pola pemikiran tidak hanya dalam lingkup "estetik-susastra" , melainkan juga dalam lingkup "logikdiskursif". Dengan kata lain, al-Bayanberubah menjadi sebuah ternrinologi yang di samping mencakup arti segala sesuatu yang berkaitan dengan realisasi tindakan "memahamkan", juga r4encakup arti segala sesuatu yang melmgkapi tindakan "memahami". Epistemologi fuyaru'mtncul bukan sebagai hal yang suigeneds, akarr tetapi ia memiliki akar historisnya dalam sejarah budaya dan tradisi pemikiran Arab. Sebagaimana dimaklumi, bangsa Arab sangat mengagungkan bahasanya sedemikian rupa, terlebih lagi setelah bahasa Arab diyakini mereka sebagai bahasa wahyu Tuhan. Oleh karena itu, cukup berdasar bila dikatakan bahwa determinan historis awal-mula peradaban Islam adalah sinergi bahasa dan agama;tt awal-mula aktifitas ilmiah yang mewamai budaya Arab Islam berupa penghimpunan bahasa Arab dan peletakan dasardasar tata kebahasaannya seiring dengan upaya memahami aiaran agama dan memproduksi wacana keagamaan yang membangun "rasionalitas-keagamaan Arab " (al-ma'gil aldniy al-'anbiy) dtganproduk Nazih Ayoubi, memunculkan dua hal utama: obsesi akan keunggulan bahasa Arab, dan hasil pemikiran fikih yang begitu mengagumkan sampai-sampai peradaban Islam layak disebut nsebagaiperadaban fikih. '-M. Abid al-f abii, Bunyatual-Aglal-'Anbi@eirut al-Markazal-Thaqafi al-Arabi, 1993),p.14 '-Lihat elaborasi masing-masing arti tersebut dalam lbid.,p.lGl8 ttal-f abiri, Takwn u, p.7r5 130 Al-lam{ah,Vol. 40,No. 1,fanuary- }une2002 Mahmud Aif., PertautanEpistemologi BayanidanPenilidikan Islnm... intelektualnya, yaitu ilmu kebahasaandan ilmu ug"-".t' Nuansa iklim intelektual-kultural semacamitu melahirkan komunitas agamawan-intelektualyang menempati posisi otoritatif dalam ranah keagamaandan keilmuan.Merekaadalahkalanganulama' fuy;nj memnjam istilah al-Jabiri,yang secara'kolegial'berperan dalam memapankanilmuilmu Arab I slamishdliliyrnwm, yaitu: Nahwu, Balaghah,Fikih, dan Kala?ntn yang menjadi lokomotif bagi formulasi keilmuan NaqliSyah murni dan keilmuan NaqltSValt-Aqliyah.Imam al-Shaf i merupakan salah satu prbneerutamaulama' Bayaru'yangmenteoritisasiepisteme Bayani sebagaimana terformulasikan dalam pemikiran ushul fikihnya. Dengan pemikiran fundamentShryatentang empat prinsip dasar: al-Qur'an, al-Sunah,Ijma' dan Qiyas,'" ia telah merumuskankerangka pikir yang menjadi basispenting epistemolog fuy*i. Menurut Nasr Hamid Abu Zaid, sumbanganal-Shafi'i terbukti sangat menonjol terutama berkenaan dengan pemikirannya yang telah memposisikan al-Sunah sebagainag kedua yang berfungsi musharn' (penetaphukum) tak kurang sedikitpun bila dibandingkan dalam fungsi ini denganal-Qur'an sebagainappertama;padahal sebelumnya,posisi al-Sunah lebih berfungsi sebagai sha-riit (penjelas hukum) bagi nas pertama. Selanjutrya, ia pun s cakupan pengertian al-Sunahdengan tidak secarategas membedakanantara "sunah-tradisi" dengan "sunah-wah5ru". Selain itu, sumbangan al-Shaf i juga ditunjukkan oleh perannya dalam mengikat erat ruang gerak ijtihad (Ijma' dan Qiyas) dengan nas-nas(alQur'an dan al-Sunah;.'oSumbanganpenting pemikiran al-Shafi'i ini semakin ttKuil*.run semacam ini oleh Hassan Hanafi dikategorikan sebagai keilmuan naglryah mumi dan keilmuan nagliyah-agliyah, oleh Khairullah Talfah dikategorikan sebagai keilmuan syarlVah dan keilmuan lfuruyyah, sedangkan oleh Ali Husni alI(harboutli disebutnya dengan diraat dnilyah dan drnsat adabtVyak [hat HassanHanafi, Dta-satFalsafiyyah, (Kairo: Maktabah al-Anjilo, 1987),p.l56,Khairullah lalfah, I(untum KltatTa Ummatin tlkhnjatli al-Naljuz I, (Beirut Dar al-Kitab al-Arabi, 1975),p.726,737; dan al-Kharbouth, al-I{adirat al-Arab$yah al-Islamlyah, (Kairo: Maktabah al-Khanji, tt.),p.2?! "al-fabiri, Bmyalp.l3 -Burton menyebut empat prinsip dasar ini sebagai.empatcara pemerolehan John pengetahuan tentang'kemauan'Tirhan yang dikemukakan al-Shaf i; lihat ]ohn Burton, An Introducfi'on to the.f{adith, (Edinburgh: Edinburgh University Press,1994),p.153 toNasrHamid AbsTaid,at-ntAr.d.Anan'A-n*dr;(Kairo:Sinalial-Nasr,L995), p.149. Kiranya karena peran itulah, al-Syafi'i rnendapat gelar sebagai Naqiru al-Sunah ("Penolong" al-Sunah). Dan memang periode al-Shafi'i, seperti dituturkan oleh Shahrur, menandai kematangan ulum al-hadtth yang merupakan babak baru dominasi naglatas 'agl,bahkanhrnggadewasaini;Shahrur,Dira-satlslaniyyat,p.236 Al-lnmi'ah,Vol.40,No. 1.,fanuary-June2002 131 gi Bayfni ilanPenilidikanlslam... Mahnud Arif, PertautanEpistemolo mengokohkan geliat Bayani, karena berarti ijtihad sebagai aktifitas intelektual senantiasadalam naB (teks),bertolak dari nas atau bersandar pada nas.tt Aktifitas intelektual yang bercirikan ltawla al-nag (seputar-teks) semacam itu menghasilkan pola pemikiran yang berorientasi pada "reproduksi" teks dengan al-Qur'an sebagai teks intinya, dan mendudukkan rasio dalam posisi al-mushatrafu lah (penentu hukum yang terbatas).Dalam kerangka inilah, sangatbisa dipahami"sekiranyaperadaban Arab Islam sampai disinyalir sebagaiperadaban teks,'" karena begitu besar dan berpengaruhnyateks dalam membentuk prosesdan produk intelektualkultural yang berkembang.Bahkanlebihiauh, asumsidasaryang melandasi segenap aktifitas kultural-intelektual pun adalah al-aglu .fi al-nap Ia fi aIwa-qi'(acuanpokok ada pada teks bukan ada pada kenyataan riil). Oleh karena itu, problematika utama yang mendominasi "hal-terpikirkan" peradaban Arab Islam dan yang sekaligus menjadi salah satu ciri episteme Bayah,adalah relasi kata dan mal.rra ('alagatu a/-Ia,f7iwa al-maha).' Problematika diskursif tersebut mewamai beragam keilmuan Bayani. problematika al-i'rab ada pada ilmu Nahwu, problematika al-awzan aIsarrtlyalt ada pada ilmu Sarf, problematika al4ila-Ialtdalam hubungannya dengan fenomena "keluasan-makna" bahasaArab ada pada ilmu Fikih, problematika multkam-mutashabih, batasan takwil, ifa2 qur'ani dan semisalnyaada pada ilmu Kalam, dan problematika"rahasia" susastraada pada ilmu Balaghah.'"Kenyataan ini pada gilirannya mendorong pembentukan naLarBayahi yang bertumpu pada pemeliharaan teks (nag) dan refleksi dalam dan tentangteks, dengan alur operasionalnya yang berada di atas "sistem-wacana" (niza-mal-khita-b)bukan di atas "sistem-nalar" (nt2a-mal-'aqIl." Perbedaannya,sistem-wacanaadalah tata interrelasi pada Bmyat,p.?3 i]"r-|"Ui.i, 'Nasr Hamid Abu Zaid, Tbkstualitas alQur an;I(riak Erhadap UJunuI Qur'an, terj. Khgiron Nahdliyyin, (Yogyakarta:LKiS,2fi)1), p.l '-Hal ini memvnculkan isl*iliyyatu al-Iafdzi wa al-ma 'ra(problematika kata dan makna) sebagai determinan utama al-khltab al-Arabiyal-Idatniy(wacana diskursif Arab 'eksplanasi'kebahasaan daripada watak Islam) sehingga ia lebih kental bercirikan watak 'intelektual-logis'. fadi, bahasaArab merupaY'anrefercntialauthonty(sul.tah maryi'iyyah) epistemologis nalar Arab Islam. Lihat al-labiri, al-Turath, p.155-157;lihat iuga al-fabiri, Bunyatp.2M -al-fabiri, Bunyat, p.103 -'Ibid,p.l07 r32 Al-lam{ah,Vol. tlO,No. 1,January- June2002 dnnPendidilcan lslam.., Mahmud Arif., PertautanEpistemologiBayahi lingkup kala-m (wacana verbal), sedangkan sistem-nalar adalah tata interrelasipadalingkup segalasesuatuyangberadadalam ranahintelektual dan empiris, atau disebut sistem-kausalitas(niz.am al-sababisyal). Implikasi lain, teks (nas)kemudian terposisikan sebagaial-agl (acuan aprion) bagi aktifitas intelektualdalam nalar Bayani.Makadari itu, aktifitas intelektual nalar Bayaru'tidakbisa keluar dari lingkup tiga ranah,yakni: 1) aktifitas intelektual yang bertitik-tolak dan al-apl,sering disebut dengan al-istinba!(penggalianpengetahuandari teks);2) aktifitas intelektual yang bermuara pada al-asJ sering disebut dengan al-qyas (analogisasicabang pada pokok, atau hal meta-empiris pada hal empiris); dan 3) aktifitas intelektual dengan'pengarahan' dari al-asl(beris h'dlal denganmenggunakan kerangka metodologis Bayaht).--Dari sini bisa disimpulkan, aktifitas intelektual dalam nalar Bayanisenantiasa terkungkung oleh sul|alu al-aql (hegemoni al-apl1. Lebih jauh, kristalisasi corak aktifitas intelektual demikian itu membuka pintu bagi "metamorfosis" al-asl menjadi al-dalil sehingga memunculkan dimensi lain nalar Bayaniyaiha: al-naqar.fial-dafiI(penalararr dalam dalil), dimana yang dimaksudkan dengan aldaEldisini adalah tanda tersurat ataupun tersirat yang menunjuk pada al-madluT (obyek yang ditunjuk). Relasi antara al4aEl dengan al-madlil tersebut bukanlah relasi atasdasarkemestianyang berlandaskanpada prinsip kausalitas,* melainkan relasi arbitragtyang berlandaskanpada prinsip "keserba-mungkinan" atau "kebiasaan"." .Latar belakang prinsip keserba-mungkinanini sebenarnya bisa dirunut dari pandar,g"r,i,rr,i" bahasaArab yangkuat sisi keterpilahannya (al-nfisdll dalam melihat realitas;realitasyang ada seakandigambarkan sebagai entitas-entitas yang tidak te.rangkaikansecara sinambung oleh prinsip yang pasti (a fixedpnnaplel." Dengan kata lain, pandangan-dunia bahasaArab atas realitas bersifat atomistik.Itu sebabnya,kekayaankosakata bahasa Arab lebih diarahkan untuk membahasakan"keunikankeunikan" tiap-tiap realitas.Pandangan-duniasemacamini kurang kondusif bagi bersemainya kesadaran dan greget untuk mengeksplorasi tatanan Ibtd,p.11,3-176 -.Ibid., p. 220-223 ..al-|abiri menyebutnya dengan mabda'al-a1'wizatat mabda'al-Iasababyyah. "Karena adanya prinsip yang pasti ini sebagaimanadiungkapkanoleh penemuanpenemuan ilmiah, penguasaanakanilmu pengetahuan (sains)berguna unfuk mengontrol, memprediksi dan merekayasa atas fenomena-fenomena kealaman yang ada ini. Al-lnmi'nh,Vol.40,No. 1,fanuary- June2002 l aa TJJ kausalitas ygng melandasi interrelasi realitas, melainkan paham occastbnalbti'yang justru tumbuh subur dalam alam pikiran dunia Arab Islam. Keiayaan Epistemologi Baya-ni Seluruh bangunan pemikiran keislamankiranya tidak bisa dilepaskan dari determinasi "kredo" bahwa,kepercayaanterhadap wahyu akan mengokohkanfungsi rasio manusia." Oleh karenaitu, jargon semisal: hqlun matbu'un wa sharltn masmi'un (rasiodiikuti,syara'dipatuhi) dan aldtnu dlaruVatunli al-hql wa al-'aglu It aldnt'as.lun (aqamaadalah hal niscaya bagi rasio, dan rasio adalah landasanbagi agama)-"sangat populer dalam pergumulan pemikiran keislaman. Flanya saja,persoalannya lalu menjadi sangat kompleks, terlebih dengan adanya "nalar politis"-' yang nyata ikut berpengaruhdan memicu munculnya fragmentasipemikiran keislaman.Ini bisa dilihat dari menyeruaknya klaim kebenaranyang sebenamyadilatari oleh ambisi memperoleh "kuasa" (al-sultal) dengan jargon agamawi.-Sejarahmencatatbahwa aktifitas intelektual yang dilakukan umat Islam di masa-mashawal adalah berijtihad tentang hukum-hukum agama;aktifitas *Irtiluh yuttg digunakan olehGiorgio De Santillana dalam "Preface" buku Seyyed Hossein Nasr, kt:ence and Cirrylt2aabnn Islan, (New York New Ameri canLibrary,1970), p.xiii. Istilah tersebut dimaksudkannya untuk mentmjukkan arti: paham yang mengatakan bahwa 'kronologi' peristiwa-peristiwa yang terjadi bukanlah atas dasar kaitan hukum sebab-alcibat,melainkan atas dasar'kebehrlan' atau hukum kebiasaan. -'Mohammed Arkoun, TartkltiSTatu al-F*ra1-Arabial-klami,terj. Hashim Soleh, (Beirut Markaz ai-Inma' alQaumi, 1986),p.65 *Lihat misalnya dalam al-Miwardi, Adabu al-Dunya wa al-Din, (Beirut Dar alFikr, 1995),p.26,6L. Al-Mawardi tercatat sebagai salah satu pemikir Muslim rasional di abad IVIV H. Menurut George F.Hourani, sebagaimanadikutip oleh M. Amin Abdullah, persoalan relasi antara rasio dan naql (agama;wahyu; syara') merupakan diskursus utama yang telah menyebabkan terpolarisasikannya pemikiran Islam menjadi lima aliran, yaitu: 1) wahyu (naql dan rasio bebas-otonom; 2) wahyu dilengkapi dengan rasio yang tidak otonom; 3) berdasar wahyu saja;4) wahyu yang diperluas dengan peran Imam; dan 5) rasio lebih dahulu daripada wahyu; lihat M. Amin Abdullah, Falsa.fahl(alam di Era Postnoglemisme, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 195), p.La9-15l --"Nalarpolitis" (aI-AqIal-Siyas)adalah'logika'dan'bahasa'bertindak(aksi)dalam kerangkaotoritas,/kekuasaan(sultatu al-hukm); faktor-faktor penentunya dapat berupa: al-agidah(ideologi-keagamaar), al-qabilah (etnisitas-kesukuan) dan al-ghanmah (hartakekayaan). Lihat M. Abid al-jabiri, aI-AqIu al-Styasi al-Arab+'Muhaddidinhu wa Taialliy4tuh u, (Beirut: al-Markaz al-Thaqafi al-Ar ab| l99l) --Mohammed Arkoun menuturkan beberapa jargon yang mendukung hal ini, seperti: Ia hukma illa lillahla thihta limakhlign fimabhiyyatt al-khalig, a/-/|rgah al- L34 Al-lam{ah,Vol. 40, No. L, January - }une 2002 Mahnud Artf, PertautnnEpistemologi BnyfnidnnPmtlidikanlslnm... intelektual ini mengarah pada orientasi pemeliharaan alQur'an dan motif keagamaan.Di masa pemerintahan dinasti Umayyah, aktifitas intelektual tersebut terus berlanjut dan tumbuh-berkembang dalam komunitas masyarakat Muslim yffig, meminjam istilah Hodgson, disebut the Pietymnded, yaitu kelompok masyarakat yang bersikap kritis dan "jaga jarak" terhadap penguasa saat itu dan mempunyai sikap keberagamaanyang idealistik."' Mereka tersebardi berbagai penjuru wilayah dunia Islam, seperti:Kufah, Basrah,Baghdad,Mesil Medinah, Damaskusdan Khurasan." Salahsatu communalism* utama dari komunitas aktifitas intelektual tersebut adalah kelompok Alzli al-Sunnah wal/ami'ah yang berhasil membangun "ortodoksi" pemikiran keislaman.s Pada masa al-Makmun berkuasa, ia punya ambisi menyeragamkan paham keagamaary antara lain ditunjukkan oleh adanya kebijakan yang mengharuskankepada semuapemuka agamauntuk mau mengakui paham kebaharuanalQur'an yang dijadikannya sebagaiideologi resmi negara. Kebijakan al-Makmun ini, yang didukung oleh kelompok Mu'tazilah (Rasionalis),mendapat tentangan keras dari banyak kalangan, khususnya kelompok Ahli Sunah, semisal Ahmad bin Hanbal, dan warga Khurasan yang dimotori Sahl bin Salamah,"'sehinggaterjadi peristiwa Mifinah niliyat wa al-frrgah al-hilikah, ahlu al+unalt wa al-/ama'ah, ahlu al-ishmaJt wa al-'adalah, dsb. Lihat Mohammed Arkoun, al-Islam, al-Akhlaq wa al-Siyasa[, terj. Hashim Soleh, (Beirut Markaz al-Inma' al{aumi, l9XJ), p.49 --Marshal GS. Hodgson, IIrc Ventue oflslam; Ansdmce and l{istory in a World Ciwlizah'on the ClasicalAge oflslam, vol. I, (Chicago: the University of Chicago, 1974), p250 ," -,lbid.,p.263 --Istilah Hodgson yang berarti: kesungguhan sedemikian rupa dalam loyalitas terhadap kelompok dan simbol-simbol yang diakui (dokein) oleh kelompok, bahkan hingga pada datarqn nilai-normatif lainnya; lihat Marshal G.S.Hodgson, The Venturcol IsJam; Conscience and Ilistory in a World Ciuilizahbn the Exparaion of IsJam in the Mtddle"lferioda vol. II, (Chicago: The University of Chicago,1974), p.193 -Altlt'Swah wal/ana'ah adalahsenacam 'organisasi' yang didukung oleh beberapa segmen masyarakat, terutama dari kalangan teolog, yuris, ahli hadis, sufi dan ahli kebahasaan(adib); lihat Abdul Latif Muhammad al-'Ab d, al-Usul al-Fiknyyatu li Madhabi Ahli al-hinnah, (Kairo: Dar al-Nah4ah,tt.) , p.14dst. Itu sebabnya,Ahli Sunahl'ebihdekat ke paham Tradisionalis. --Arkoun, aI-IsIam, p.51. Ini berarti peristiwa Mthnahsebenamya sarat motif-motif sosiologis dan politis yang berkelindan dengan penyangkalan ideologis-keagamaan; penentanganwarga Khurasan adalah lebih sebagaicerminan dari motif sosiologis-politis, sedangkan penentangan Ahli Sunah kiranya lebih sebagai cerminan motif ideologiskeagamaan. Al-lam{ah,Vol. 40,No. 1,January- June2002 135 BayanidnnPendidikan Islam... Mahmud Anf.,PertnutanEpistemologi (penyiksaan fisik terhadap para penentang) yang berlangsung selama kurang-lebih 15tahun." Namun, hal ini justru malah semakinmembuat solid paham keagamaan kalangan Tiadisionalis dan kembali berl?/a setelah kebijakan penguasapengganti tidak lagi represif pada mereka. Dalam perkembangan selanjutnya, kejayaan kalangan Tradisionalis ditopang oleh kesuksesanortodoksi teologi Sunru dengan tampilnya Abu al-Hasan al-Ash'ari yang semula menganut paham I'fizilty (Rasionalis) kemudian beralih ke paham Tladisionalis. Kasus "konversi" al-Ash'ari itu dirasa sangat mengejutkan dan semakin menambah key^akinankalangan Tiadisionalis atas kebenaran paham keagamaanmereka." SepeninggalalAsh'ari, giliran al4hazali dengan didukung oleh perdana menteri Nqam al-Mulk berhasil meraih prestasi gemilang dalam memapankan ortodoksi Sunn tadi." M"-ur,g, di periode awal pemerintahan dinasti Abbasiyyah berlangsungprosesperebutanpengaruh dan otoritas, atau "ideologi perang" QdfuIo4zVyatual-Wal),antara kelompok fugilta'dan mubkallimun di satu pihak* dengan kelompok filosof di pihak lain. Akan tetapi kondisi dunia Arab Islam temyata lebih kondusif bagi supremasi kelompok fuqaha'darr *M.A. vol. II, (New York CamSh.b"t , Islamic l{istory; a New Interrcha'on, bridgeUniversity Pres,1992),p 55. Mihnah sebagaisalah satu gejolaksosial-politik yang ekplosif adalah bentuk pertentangan antara "ulama"' Suni ortodoks dengan dinasti Abbasiyyah; pertentangan ini selain bemuansa keagamaan, iuga sarat tendensi politis, yaituambisial-Makmununtukdapatmengontrol ulama'Sunni danmenapankanpaham Mu'tazilah- Lihat, Iskandar Amel, "Mihna in The Reign of Al-Makmun" dalam Yudian Wahyudi, et. al., The Qnamia of Islanuc Ciwlizafrbn (Yogyakarta: Titian Ilahi Press, r9e8),p/8 "'Kalangan Tradisionalis dengan didukung oleh khalifah al-Mutawakkil (w. 861) 'memukul-balik' paham Mu'tazilah kembali berjaya dan Easionalis); lihat Fadur Rahman, Gelombang Perubaltan dalam Islam; Studi tentang Fundamentahbme dalam Islam, disunting oleh Ebrahim Moosa, teri. Aam Fahmia, $akartal Raiagrafindo Persada,20fi)), p.78 ' oK,rtipancerita konversi AbulHasanal-Ash'ari sebagaimanadituturkanoleh Ibnu Asakir fw. 577H) bisa dibaca dalam Mohammed Arkowt,Tarikluyyatup.96 "-George Makdki, Religzbr+IawandLearningin CJassicallslam,(USA: Variorum, 191), p.39. Kiranya karena prestasi itulah, al4hazali digelari dengan l{ryyatu aI-IsInm (bukti kebenaran Islam). Uraian'skematik' atas proses terbangunnya ortodoksi dengan tokoh-tokohnya bisa dilihat dalam, Mehdi Nakosteen, Kontribusi Islam atas Dunia Analisb Abad Kemasan Islam, teq.loko S. Kahar, (Surabaya: Intelektual Barat; kkripsi Risalah.pusti, t99 61,p.279-283 *Produk pemikiran yang dihasilkan dari'kolaborasi' antara fuqaha'dan (kalam-fikih), bukan philosophical-thalogy mutakallimun berupa jundical-thalogy (kalam-filsafat). 1.36 Al-lami'ah,Yol.40,No. 1,fanuary- June2002 Mahm:ud AiI, PertautanEpistemologiBsltanidan Pendidiknnlslnm ... mutakalJimral, karena kejayaan borjuisme dan aristokrasi yang menopang etika pragmatis dan budaya rasional-humanis tidak berlangsung lama sehingga supremasi kelompok filosof dan Mu'tazilah pun demikian juga.'' Menurut Marshal G. S. Hodgson, masa al-Makmun rnemerintah adalah masa puncak perkembangan pemikiran hukum Islam (fikih) dan kema,tangan susastera-kebahasaan,sehingga lahir lembaga "ulama" dan "adib"" yung memotori gerakan, meminjam istilah George Makdisi, scholastictbm dan humanism. Gerakan pertama merupakan perwujudan dari gerakan keagarruan tradisional-konservatif dan budaya intelektual; gerakan ini adalah bentuk interrelasi antara agama dan budaya, yar.g mengarah pada "ortodoksi" keagamaan, sedangkan gerakan kedua adalah gerakan yang dilatari oleh kepedulian tinggi terhadap kemumian dan "keunggulan" bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa Kitab Suci; gerakan ini mengarah pada "ortodoksi' dalam kebahasaan.n' Keberhasilan dua gerakan tersebut secara simbiotik dalam meraih ortodoksi telah mernunculkan kejayaan bagi epistemologi Bayahi sehingga ia disinyalir sebagai mainstream tradisi pemikiran Arab Islam "Nalar" Kebudayaan Pendidikan Islam Kebudayaan adalah sesuatu yang khas insani,* karena hanya manusialah'yang telah menghasilkan kebudayaan; kebudayaan ada dikarenakan "intervensi" manusia terhadap karya-cipta Tuhan. Nannun demikian, kebudayaanyang dihasilkan pun kemudian mempengaruhi dan membentuk manusia. Bila dilihat dari perspektif epistemologi budaya, ini mengandung arti bahwa dalam kebudayaanterdapat suatu struktur " nalar" yang mendasariberlangsungnyaprosessalingmempengaruhiantaramanusia dan kebudayaan yang dihasilkannya. Dalam konteks budaya Arab Islam, struktur nalamya berporoskan pada tiga hal pokok, yaitu: Tuhan, manusia dan alam.'- Hanya saja,struktur nalar itu menempatkanTuhanpada posisi yang sangat sentral, sedangkanalam hanya ditempatkan sebagaimedia pengantar manusia untuk bisa sampai kepada-Nya. Dengan kata lain, n]Atko.n, at-Islam p.119 -'Hodgson, 7he Ventuevol.l, p.473 -George Makdisi, Zhe Rise of l{umanism tn Classcal Islam and The Chnbdan I'lrest (Ednburgh: Edinburgh University Press,190), p.xix-xx -I.W.M.Bak&erSJ, Fil,nfat.Kebudayaan;SebuahPengantar,(Yogyakarta:Kanisius, 19M),p.14 Al-Jami' ah,Vol.4ONo. 1,January- June2002 t37 Bayfni dnnPendidikanIslam... Mahmud Ar{' PertautanEpistemologi skuktur nalar tadi menggiring kegiatan intelektual-kultural manusia pada "pemahaman" tentang alam yang diorientasikan unfuk "memahami" Tuhan. Selanjutnya, struktur nalar tersebut sekembalinya memahami Tuhan berorientasi pada "moralitas" unfuk menuju ke "pengetahuan" (al-iftybh mn al-aHilaqi ila al-ma'rifah). Jadi, struktur nalar dimaksud mengarahkan budaya Arab Islambukan pada penyingkapan tentang relasi kausalitas antar unsur kealaman, melainkan pada pengetahuan tentang baik-buruk perilaku moral,* sehingga yang tumbuh subur adalah cara pandang normatif (nazralt miy'a-nlVah). Nampaknya, cara pandang semacam ini mempunyai ratson d'etarya dalam alQur'an, karena fungsi nalar (al-'agll di sini sangat lekat dengan muatan (makna) nilai, semisal baik-buruk, hak-batil dan petunjukkesesatan. Bila diselami lebih jauh, alQur'an sendiri dalam mengkonter "irrasionalitas" budaya-keagamaan saat itu ternyata mengembangkan struktur nalar budaya-keagamaan yang berlandaskan pada dua hal alam semesta dengan tata keteraturannya, dan al-Qw'an dengan kegamblangannya.-' Hal pertama diorientasikan sebagai bukti atas keberadaan dan kemaha-kuasaan Tuhan, sedangkan hal kedua diorientasikan sebagai bukti atas kewahyuan al-Qur'an dan kerasulan Muhammad. Dengan kedua hal yang melatari ini, wajar bila alur kebudayaan Arab Islam mengerucut pada pengkajian dan kreasi wacana Baya-ni atas fenomena "kewah1ruan" dan mediasi fenomena "kealaman" dalam kerangka pengenalan Tuhan. Maka dari itu, sangat kondusif sekiranya humanism dan sdtolashcism tampil menjadi gerakan dominan dalam peta sejarah intelektual Islam klasik,'karena keduanya menulng tipikal dengan stmktur nalar budaya asali yang ada. Dan, karena berpangkal pada struktur nalar yang sama, meski secara kronologis kesejarahan humanism muncul lebih awal, kejayaan sdtolash'cismberpengaruh besar terhadapnya dan berhasil mencakupnya, apalagi ditambah ada dukungan politis dan kelembagaan. Dominasi gerakan hunanism darr scholasticism yang memunculkan ortodoksi kebahasaan dan hukum-keagamaan melahirkan "tradisi" tertentu dalam pendidikan Islam, yakni pendidikan Islam yang bisa dijadikan saluran l]vr.nuia"t-1abvr,Takwnu,p.29 \mta.,p.n-zt " Ibid,p.L39 *G"otg" Makdisi, Lhe Rise of Humanrbm,p.xix,2. Pertemanan antara gerakan humanism dan scholasticism terbangun atas kerangka dasar paham Zi'adisfunalbmeyang banyak disokong oleh kelompok Sunni. 138 Al-lam{ah,Vol.40,No. 1,January- fune2002 Mahnud Anf, Pertnutan Epktemologi BaltanidanPenilidikan Islam... transmisi dan inkulturasi keilmuan kebahasaandan hukum-keagamaan dalam kerangka ortodoksi. Atas dasar alasan inilah, pendidikan (Islam) dinilai sebagai "sistem-sosial" yang senantiasamerefleksikan filosofi komunitas pendukungrrya." Dengan kata lain, pendidikan Islam dalam praksisnyamenerima pendefinisiansecarasosiologis-kultural, tidak sekedar pendefinisian secaranormatif-ideal. Sebab,realitas menunjukkan bahwa kelangsungansebuah ortodoksi memang meniscayakanadanya dukungan institusional pendidikan. Ini berarti posisi pendidikan Islam terbukti sedemikian strategis,sehinggaia dianggap sebagaisalah satu pila_I utama penyebaranbudaya Islam, selainpilar utama lainnya: bahasaArab.'u Anggapan semacarnini menuntun kita pada pengakuan dan pembenaran atas terjalinnya hubungan organik antara fenomena kebudayaan Arab Islam dengan fenomena pendidikannya. Hubungan organik tersebut nampak ielas terlebih bilamana pendidikan Islam tidak lagi hanya dipahami dalam makna sempit, akan tetapi dalam makna luasnya, yakni pendidikan tidak semata berarti aktifitas sistematispemerolehandanpengalihanpengetahuandalaminstitusi-institusi yang dibangun untuk tujuan ini, melainkan juga berarti pengaruh sosial dan personal yang membentuk budaya dan perilaku kelompok atau individu.-' Jadi, proses "dinamis-interaktif" antar subyek dalam sebuah kebudayaan tiada lain merupakan manifestasi praktik kependidikan juga. Atau dalam ungkapan lain, pendidikan Islam selain mencakup ranah pengajaraninstitusional yang ada,juga nrerrcakupranah pembudayaanyang berlangsung dalam penggal tertentu sejarahbudaya Islam. n'Ah*"dF,r"dal-Ahwani, at-Tiafiiyatullat-Istan,(Kainr:Daral-Ma'arif,ft.),p.7.\a berpendapat bahwasanya kesejarahan pendidikan Islam yang ada bersifat iglimiy ftercorak partikuler), tidak bersifat universal. Pendapat ini disanggah oleh M. Munit Mursi dengan dalih bahwa berbagai pemikiran tujuan kependidikan yang dikemukakan para pemikir Muslim sebenamya hanyalah berbeda aksentuasinya, bukan substansi dan esensinya; lihat Muhammad Munir Mursi, al-TarbiSyatu al-Islamiyyah; [,lpuluha wa Tala fr al-Biladi al-ArabiSyal4 ( Kairc: Alam al-Kutub, 1977),p.l7 -18 ' wwuruha tAbdrrlMajidMun'im, Tank