ISSN : Copyright https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK @ 2024 Tri Anonim TINGKAT PENGETAHUAN SISWA SMA N 2 KELAS XII KOTA PEKALONGAN TENTANG DIABETES MELITUS 1,2,3,4 Tri Anonim1. Moh. Projo Angkasa2. Afiyah Sri Harnany3. Norma Nofianto4 Program Studi Keperawatan Pekalongan Poltekkes Kemenkes Semarang. Indonesia *e-mail korespondensi : trianonim@poltekkes-smg. ABSTRAK Latar Belakang : DM tipe 2 adalah jenis DM yang sering terjadi di masyarakat, biasanya terjadi pada orang dewasa, akan tetapi kejadian DM tipe 2 pada anak-anak dan remaja semakin meningkat. Faktor risiko paling utama pada DM tipe 2 adalah obesitas dan riwayat keluarga dengan riwayat DM tipe 2. Namun Kenyataan yang ditemukan di masyarakat pada umumnya banyak remaja cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi gula, lemak jenuh, dan rendah serat. Diet yang tidak sehat ini dapat menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas, yang merupakan faktor risiko utama untuk perkembangan DM. Gaya hidup yang kurang aktif dan kebiasaan menghabiskan waktu terlalu banyak di depan layar . eperti dengan gadget dan televis. dapat menyebabkan kurangnya aktivitas fisik. Kurangnya olahraga dan aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko obesitas dan resistensi insulin, yang merupakan fa ktor risiko untuk DM. Tujuan: Mengetahui tingkat pengetahuan tentang DM pada siswa SMA N 2 kelas XII Kota Pekalongan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode survei dengan instrumen kuesioner. Pendekatan secara cross sectional. Sampel yang diambil yaitu 40 responden. Setelah itu dilakukan evaluasil. Hasil: Dari 40 responden yang diteliti, tingkat pengetahuan didominasi oleh pengetahuan kategori kurang dengan frekuensi 25 . ,5%), selanjutnya pengetahuan kategori sedang 15 . ,5%), dan pengetahuan kategori baik 0 . %). Berdasarkan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan. Simpulan: Tingkat pengetahuan remaja tentang diabetes melitus masih rendah. Kata Kunci: Tingkat pengetahuan . Diabetes Melitus, remaja 5 TrJi Moh. Projo Angkasa2. Afiyah Sri Harnany3. Norma Nofianto4 Page 1 Of 5 ISSN : Copyright https://ejournal. poltekkes-smg. id/ojs/index. php/LIK @ 2024 Tri Anonim LEVEL OF KNOWLEDGE OF SMA N 2 CLASS XII STUDENTS IN PEKALONGAN CITY ABOUT DIABETES MELLITUS 1,2,3,4 Tri Anonim1. Moh. Projo Angkasa2. Afiyah Sri Harnany3. Norma Nofianto4 Pekalongan Nursing Study Program Polytechnic Health Ministry of Semarang. Indonesia *Corresponding author: trianonim@poltekkes-smg. ABSTRACT Background: Type 2 DM is a type of DM that often occurs in society, usually occurring in adults, however the incidence of type 2 DM in children and adolescents is increasing. The main risk factors for type 2 DM are obesity and a family history of type 2 DM. However, the reality is that in society in general, many teenagers tend to consume foods that are high in sugar, saturated fat and low in This unhealthy diet can lead to overweight or obesity, which is a major risk factor for the development of DM. A less active lifestyle and the habit of spending too much time in front of a screen . uch as with gadgets and televisio. can cause a lack of physical activity. Lack of exercise and physical activity can increase the risk of obesity and insulin resistance, which are risk factors for DM. Objective: To determine the level of knowledge about DM among SMA N 2 class XII students in Pekalongan City Method: This research uses a survey method with a questionnaire instrument. Cross sectional The sample taken was 40 respondents. After that, an evaluation is carried out. Results: Of the 40 respondents studied, the level of knowledge was dominated by knowledge in the poor category with a frequency of 25 . 5%), followed by moderate category knowledge 15 . 5%), and knowledge in the good category 0 . %). The most common gender is female. Conclusion: The level of knowledge among adolescents about diabetes mellitus is still low. Keywords: Level of knowledge. Diabetes Mellitus, adolescents 5 Tr i Moh. Projo Angkasa2. Afiyah Sri Harnany3. Norma Nofianto4 Page 2 Of 5 Copyright : @ 2024 Tri Anonim The Journal of Cross Nursing PENDAHULUAN Berdasarkan American Diabetes Assosiation (ADA) Diabetes Mellitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia akibat kerusakan sekresi kerja insulin, atau keduanya. Diabetes mellitus menjadi ancaman kesehatan global, karena berdasarkan World Health Organization (WHO) dan International Diabetes Federation (IDF) diprediksi akan adanya peningkatan kasus yang World Health Organization memprediksi dari 8,4 juta penderita DM pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030, sedangkan IDF memprediksi akan terjadinya kenaikan jumlah penyandang DM di Indonesia dari tahun 2014 sekitar 9,1 juta menjadi 14,1 juta pada tahun 2035. DM melitus juga diketahui dapat mengakibatkan kompilkasi yang serius pada jantung, pembuluh darah, mata, ginjal dan syaraf. Pada tahun 2017, terjadi sebanyak 270. kematian disebabkan oleh DM (Nyayu Mevia Fiqi. Zulmansyah, 2. DM tipe 2 adalah jenis DM yang sering terjadi di masyarakat, biasanya terjadi pada orang dewasa, akan tetapi kejadian DM tipe 2 pada anak-anak dan remaja semakin meningkat. Faktor risiko paling utama pada DM tipe 2 adalah obesitas dan riwayat keluarga dengan riwayat DM tipe 2. Hal ini menandakan bahwa edukasi mengenai penyakit diabetes perlu ditingkatkan untuk mendorong gaya hidup sehat sedini mungkin, sehingga dapat menekan angka kejadian DM di Indonesia dan menunjukkan lebih banyak yang harus dilakukan untuk mengatasi kesadaran faktor risiko terkait diabetes dan prediabetes (Nyayu Mevia Fiqi. Zulmansyah, 2. Berdasarkan Profil Kesehatan Kota Pekalongan 2021, prevalensi DM di Kota Pekalongan mencapai 8,2%. Angka ini menunjukkan bahwa 1 dari 12 orang dewasa di Kota Pekalongan menderita DM. Prevalensi DM di Kota Pekalongan lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi DM nasional yaitu 2,0%. merupakan salah satu penyakit kronis yang paling umum di Kota Pekalongan dan menjadi salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan. Dinkes Kota Pekalongan, 2. Data diabetes militus di Kota Pekalongan tahun 2020 menempati urutan ke- 2 setelah penyakit hipertensi (Dinkes Kota Pekalongan, 2. Berdasarkan data DM Puskesmas Kusuma Bangsa pada tahun 2022, puskesmas tersebut memiliki angka kasus DM tertinggi diantara puskesmas lainnya yang ada di Kota Pekalongan. SMA N 2 Kota Pekalongan merupakan salah satu wilayah kerja dari Puskesmas Kusumabangsa Semakin berkembangnya teknologi dan semakin banyak informasi yang disajikan oleh media massa, social media, buku dan yang lainnya ke masyarakat dapat mempengaruhi pengetahuan dari seorang individu, bahkan informasi yang kerap kali hanya diketahui oleh ahli dalam bidang tertentu, saat ini dapat diakses oleh masyarakat Khususnya dalam bidang kedokteran sudah memudahkan masyarakat untuk mendapatkan informasi baik melalui website kesehatan mapun aplikasi berbasis online yang memungkinkan seseorang untuk berkonsultasi dengan dokter melalui fitur chatting. Hal ini juga berpengaruh pada pengetahuan masyarakat terhadap DM Namun Kenyataan yang ditemukan di masyarakat pada umumnya banyak remaja cenderung mengonsumsi makanan yang tinggi gula, lemak jenuh, dan rendah serat. Diet yang tidak sehat ini dapat menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas, yang merupakan faktor risiko utama untuk perkembangan DM. Gaya hidup yang kurang aktif dan kebiasaan menghabiskan waktu terlalu banyak di depan layar . eperti dengan gadget dan televis. dapat Kurangnya olahraga dan aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko obesitas dan resistensi insulin, yang merupakan faktor risiko untuk DM. Beberapa mengonsumsi alkohol pada usia muda. Kedua perilaku ini dikaitkan dengan peningkatan risiko DM, terutama DM tipe 2. Perilaku-perilaku tersebut, ketika terjadi secara kronis dan tidak seimbang, dapat meningkatkan risiko terkena DM pada remaja. Remaja kelas XII merupakan suatu kondisi yang sebentar lagi menyelesaikan pendidikan SLTA dan setelah lulus kecenderungannya akan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi atau bekerja ke luar kota sehingga jauh dari pantauan orang tua, maka dari itu perlu diberikan bekal terhadap pengetahuan tentang DM METODE Desain penelitian ini adalah studi deskriptif menggunakan metode survei dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang diambil sebanyak 40 responden, selanjutnya dilakukan evaluasi. Teknik pengambilan sampel secara simple random sampling yang sesuai dengan kriteria inkulusi dengan alat bantu kuisioner Starr Country. Penghitungan tingkat pengetahuan DM pada siswa kelas XII SMA ini akan diukur menggunakan kuisioner Starr Country yang selanjutnya akan 5 Tri Anonim . Moh. Projo Angkasa . Afiyah Sri Harnany . Norma Nofianto Page 31 Of 5 Copyright : @ 2024 Tri Anonim The Journal of Cross Nursing diinterpretasikan dalam kategori baik apabila jawaban benar 18-24, sedang 9-18, buruk 0-9. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil : Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII di SMA N 2 Pekalongan. Penelitian ini menyertakan 40 responden dengan Tabel:. Karakteristik Frekuensi Presentase Jenis Kelamin Perempuan Laki Ae Laki Berdasarkan tabel 1 Jenis kelamin dalam penelitian ini didominasi oleh perempuan 55% dan laki-laki yaitu 45%. Tabel 2. Distribusi Tingkat Pengetahuan Tingkat Frekuensi Presentase Pengetahuan Kurang 62,5% Sedang 37,5% Baik Tingkat pengetahuan didominasi oleh kategori pengetahuan kurang dengan frekuensi 25 . ,5%), selanjutnya pengetahuan sedang 15 . ,5%), dan pengetahuan baik 0 . %). Tabel 3. Distribusi Tingkat Pengetahuan Tingkat Jenis Frekue Present Pengetah Kelami 1 Kurang Peremp 32,5% Laki30% Laki 2 Sedang Peremp 22,5% Laki15% Laki 3 Baik Peremp Laki0% Laki Tingkat Pengetahuan Berdasar Jenis Kelamin pada tabel 3 didapatkan hasil dari subjek berjumlah 25 siswa ketegori pengetahuan kurang terdapat siswa perempuan sebanyak 13 . ,5%) dan laki-laki 12 . %), sedangkan dari siswa ketegori pengetahuan sedang sebanyak 9 ( 22,5%) berjenis kelamin perempuan dan 6 . %) berjenis laki-laki Pembahasan Analisa karakteristik responden berdasarkan usia yang paling banyak pada usia remaja akhir. Usia mempengaruhi seseorang dalam bersikap dan Hasil penelitian dari Supriyadi . juga mengatakan bahwa perilaku kesehatan dipengaruhi oleh usia. Usia remaja adalah usia yang tepat untuk melakukan pencegahan primer. Ini dilakukan untuk mencegah generasi yang sedang bertumbuh untuk tidak mengikuti atau melakukan gaya hidup yang tidak sehat yang bisa (Silalahi. Pengetahuan responden adalah hal yang penting karena dengan pemahaman terkait pengetahuan tersebut, responden bisa menentukan langkah dalam mencegah diabetes melitus. Hasil analisis univariat terkait pengetahuan responden mengenai diabetes melitus diperoleh hasil bahwa sebagian besar responden mempunyai pengetahuan kurang mengenai diabetes mellitus. Faktor-faktor yang bisa memberikan pengaruh untuk tingkat pengetahuan yaitu pendidikan, usia, pekerjaan, dan lingkungan (Wawan & Dewi. Karakteristik responden yang diambil dalam penelitian ini yaitu SMA/Sederajat dimana didapatkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan tinggi dimana pada umumnya seorang individu dengan pendidikan yang lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas (Permatasari & Suprayitno, 2. Hal ini sejalan dengan 7 penelitian Riniasih & Hapsari . kualitas hidup yang tinggi dalam individu yang berpendidikan tinggi mereka cenderung mencari tahu lebih banyak mengenai penyakit dan situasi yang sedang mereka alami. Seorang individu dengan pendidikan yang lebih tinggi jika diberikan stimulus mengenai pendidikan kesehatan maka akan bersikap terhadap stimulus yang sudah diberikan, sehingga sikap sejalan dengan pengetahuan kesehatan yang seseorang miliki (Suprayitno, 2. Individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi tidak akan sulit untuk memperoleh akses informasi mengenai suatu permasalahan (Yanti, 2. Pendidikan dapat memberikan pengaruh terhadap proses belajar, dimana seorang individu dengan pendidikan tinggi akan mempermudah orang tersebut untuk memperoleh informasi. Seseorang 5 Tri Anonim . Moh. Projo Angkasa . Afiyah Sri Harnany . Norma Nofianto Page 4 Of 5 Copyright : @ 2024 Tri Anonim The Journal of Cross Nursing yang berpendidikan tinggi akan cenderung untuk memperoleh informasi, baik dari orang lain ataupun dari media masa, semakin banyak informasi yang masuk semakin banyak pula pengetahuan yang diperoleh mengenai kesehatan (Angkut, 2. Salah satu dari faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan adalah pengalaman diri sendiri. Pengalaman adalah guru terbaik demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung makna b ahwa pengalaman itu merupakanssumber pengetahuan atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh karena itu pengalaman pribadi dapat Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh memecahkan permasalahan dihadapi pada masa lalu (Ristanti, 2. SIMPULAN: Dari 40 responden yang diteliti, tingkat pengetahuan didominasi oleh pengetahuan kategori kurang dengan frekuensi 25 . ,5%), selanjutnya pengetahuan kategori sedang 15 . ,5%), dan pengetahuan kategori baik baik 0 . %). Saran: Sebaiknya tenaga kesehatan Puskesmas menjalin SMA penanggungjawab UKS untuk mengadakan penyuluhan tentang penyakit Diabetes Melitus Sebaiknya Puskesmas meyediakan layanan konsultasi tentang DM kepada siswa yang memerlukan konsultasi individu terkait penyakit DM lebih mendalam sesuai dengan kebutuhan Sebaiknya perkembangan pengetahuan tentang penyakit yang sekarang tidak hanya didominasi oleh kalangan lansia tapi semakin marak diderita juag oleh remaja yaitu DM. Sebaiknya siswa berinisiatif dan termotivasi memanfaatkan sumber daya online gratis untuk mandapatkan informasi terkait DM. yang akurat Penyakit Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Riset Kedokteran. Volume 1. No. Desember Riniasih. , & Hapsari. Hubungan tingkat pendidikan peserta prolanis dengan peningkatan kualitas hidup penderita diabetes melitus di F Silalahi. Hubungan pengetahuan dan tindakan pencegahan diabetes mellitus tipe 2. Jurnal Promkes: The Indonesian Journal of Health Promotion Ad Health Education, 7. , 223Ae232. Suprayitno. Purnomo. Sutikno. , & Indriyani. Health education in principle of community affected teenagaerAos smooking attitude and habitual in the coastal area of madura island indonesia. International Journal of Psychosocial Rehabilitation, 24. Wawan. A & Dewi. Pengetahuan, sikap dan perilaku manusia. Yogyakarta: Nuha Medika Yanti. Asyrofi. , & Arisdiani. Hubungan tingkat pengetahuan komplikasi hipertensi dengan tindakan pencegahan Jurnal Keperawatan, 12. , 439Ae Referensi