BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 3 Nomor 1. January 2024 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya Norhikmah1*. Saudah2. Muzakki3 1,2,3 Institut Agama Islam Negeri Palangka Raya Received: December 10nd, 2024. Revised: March 2nd, 2024. Accepted: March 5th, 2024. Published: March 5th, 2024 Abstrak Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan tentang: . Pemahaman guru tentang nilai agama dan moral anak usia 4-5 tahun. Pemahaman guru tentang kognitif anak usia 4-5 tahun. Pemahaman guru tentang fisik-motorik anak usia 4-5 tahun. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Adapun subjek data dalam penelitian ini berjumlah 1 orang yaitu guru kelas A1 di RA Perwanida 2. Selain itu, data dokumen dalam penelitian ini berupa foto, video pada saat pembelajaran, lembar kerja siswa dan buku laporan salah satu siswa. Adapun teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: . Guru memahami aspek perkembangan nilai agama dan moral pada anak usia 4-5 tahun dan dapat diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran. Guru memahami aspek perkembangan kognitif pada anak usia 4-5 tahun akan tetapi, pada implementasinya kreativitas guru belum berkembang untuk merancang kegiatan pembelajaran . Guru memahami aspek perkembangan fisik-motorik pada anak usia 4-5 tahun melalui stimulasi-stimulasi seperti kegiatan berjalan diatas papan titipan, melempar dan menangkap bola, kegiatan kolase menggunakan media pasir, memegang pensil dengan benar, melipat mukena dan sajadah, memasang dan melepas sepatu. Kata kunci: Nilai Agama dan Moral. Kognitif. Fisik-Motorik Abstract The purpose of this study is to describe: . The teacher's understanding of religious and moral values for children aged 4-5 years. The teacher's understanding of the cognitive abilities of children aged 4-5 years. The teacher's understanding of the physical-motor skills of children aged 4-5 years. This study uses a type of qualitative research. The data subject in this study amounted to 1 person, namely the class A1 teacher at RA Perwanida 2. In addition, the document data in this study were in the form of photographs, videos during learning, student worksheets, and one student's report book. The data collection techniques in this study were observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that: . Teachers understand aspects of the development of religious and moral values in children aged 4-5 years and can be implemented in learning activities. Teachers understand aspects of cognitive development in children aged 4-5 years however, in practice the teacher's creativity has not developed to design learning activities. The teacher understands aspects of physical-motor development in children aged 4-5 years through stimulation such as activities such as walking on crutches, throwing and catching balls, collage activities using sand as media, holding pencils correctly, folding makes and prayer mats, assembling and take off shoes. Keywords: Religious and Moral Values. Cognitive. Physical-Motoric Copyright . 2024 Norhikmah. Saudah. Muzakki * Correspondence Address: Email Address: nornorhikmah12@gmail. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Norhikmah. Saudah. Muzakki Pendahuluan Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang diselenggarakan sebelum memasuki jenjang pendidikan sekolah dasar. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I pasal 1 ayat 14 menjelaskan bahwa pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Kemampuan pendidik untuk merancang pembelajaran yang meliputi pemahaman siswa, merancang dan melaksanakan pembelajaran, penilaian dan mengembangkan potensinya (Indrian, 2020:. Salah satu akibat dari rendahnya kemampuan pendidik PAUD adalah masih banyaknya pendidik yang belum bisa menyusun rancangan pembelajaran (Sum & Taran, 2020:544Ae. Selain itu, guru PAUD dituntut mampu menyelenggarakan dan membuat laporan penilaian yang disesuaikan dengan kemampuan capaian perkembangan anak (Mundia Sari & Setiawan, 2020:. Kemampuan dalam mengelola pembelajaran tersebut dapat sesuaikan dengan indikator dari capaian perkembangan yang sesuai pada tingkatan usianya (Farwan, dkk. , 2015:. Pentingnya pemahaman guru tentang aspek perkembangan nilai agama dan moral, aspek perkembangan kognitif dan aspek perkembangan fisik-motorik dapat menjadi bahan evaluasi pada pembelajaran selanjutnya, sehingga hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kompetensi profesional sebagai guru PAUD. Berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan pada tanggal 11 November dan 12 November 2022 diperoleh informasi bahwa RA Perwanida 2 sudah menerapkan kurikulum baru . urikulum merdek. sejak awal semester bulan Juni atau Juli lalu. Sekolah tersebut memiliki guru sekitar 10 orang termasuk kepala sekolah dan memiliki 3 orang guru yang sudah bersertifikasi. Selain itu. RA Perwanida 2 memiliki 8 ruang kelas yaitu kelas A (A1 dan A. dan kelas B (B1. B2. B3. B4. B5 dan B. Menurut guru-guru penerapan kurikulum merdeka dirasa lebih mudah dibandingkan kurikulum sebelumnya meskipun dalam pelaksanaannya masih secara bertahap dan perlu beradaptasi dari kurikulum 2013 ke kurikulum yang baru . urikulum merdek. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu kondisi yang mendorong diterapkannya kebijakan kurikulum belajar mandiri atau yang dikenal dengan kurikulum prototype dalam upaya memantapkan pendidikan. Terlepas dari kenyataan bahwa banyak orang menganggap kurikulum baru ini terlalu terburu-buru karena kurikulum mandiri berfokus pada hasil pembelajaran yang konkret. Sebelumnya RA Perwanida 2 berpedoman pada kurikulum 2013 namun sekarang telah berevolusi ke kurikulum merdeka. Menurut Awalia Marwah Suhandi dan Fajriyatur Robi'ah . 2:5. mengemukakan bahwa kurikulum mandiri menekankan pendekatan berbasis proyek . roject based learnin. sedangkan kurikulum 2013 menekankan pendekatan ilmiah . cientific approac. Penerapan kurikulum merdeka disekolah RA Perwanida 2 yang masih terbilang baru diterapkan tentu guru harus kembali memahami setiap indikator capaian perkembangan pada anak usia dini. Perubahan kurikulum 2013 ke kurikulum merdeka berdampak pada perencanaan pembelajaran seperti RPPH. RPPM dan penilaian. Pengembangan 6 aspek perkembangan pada anak usia dini berubah menjadi 3 elemen stimulasi yang tidak terpisah dari aspek perkembangan lainnya sehingga hal ini membuat guru harus merancang dan memahami kembali capaian perkembangan yang meliputi seluruh aspek tersebut. Beberapa penelitian terdahulu telah memberikan penjelasan mengenai hal tersebut. Nurkamelia dalam temuannya tahun 2019 menjelaskan bahwa anak memiliki perkembangan fisik-motorik yang baik, seperti mampu mengoordinasikan gerakan ototnya secara optimal. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, seperti lingkungan yang kondusif. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya pola asuh, dan makanan sehat. Temuan Nur Imam Mahdi dan Fitri Ramadhini . 0: . menyatakan bahwa anak menunjukkan kognitif ekstrim kiri atau perkembangan kognitif yang rendah. Selanjutnya temuan Rukhaini Fitri Rahmawati menyatakan bahwa empat dari enam indikator yang diajukan untuk menentukan kesiapan guru menunjukkan tingkat kesiapan dan pemahaman yang tinggi berdasarkan proses pengumpulan dan analisis data. Memahami karakteristik dan struktur kurikulum, kesiapan rencana pembelajaran, kesiapan proses pembelajaran, dan kesiapan infrastruktur adalah empat indikatornya. Sedangkan dua indikator lainnya menunjukkan tingkat pemahaman dan kesiapan yang cukup. Kesiapan penilaian pembelajaran dan kesiapan modul/bahan ajar adalah dua indikatornya. Berangkat dari persoalan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih dalam terkait pemahaman guru Raudhatul Athfal (RA) tentang aspek perkembangan nilai agama dan moral, aspek perkembangan kognitif dan aspek perkembangan fisikmotorik dengan mengangkat tema "Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya". Tinjauan Pustaka Perkembangan Nilai Agama dan Moral (NAM) Perkembangan nilai agama dan moral (NAM) pada anak usia dini bisa didefinisikan menjadi perubahan psikis yang anak alami kaitannya dengan kemampuan yang dimilikinya dalam memahami serta menerapkan tingkah laku yang berkesesuaian apa yang diajarkan oleh agama yang dianutnya (Aprida & Suyadi,2022:2. Perubahan psikis yang dimaksud terkait dengan kemampuannya dalam memahami dan melakukan perilaku yang baik serta menghindari perilaku yang buruk (Nurjanah, 2018:. Natari dan Suryana . 2:3. juga menjelaskan bahwa perkembangan nilai agama dan moral sebagai salah satu aspek awal yang mesti dilatih dan dikuatkan kepada anak supaya bisa berkembang sebagai individu yang baik serta berkarakter islami. Dalam menerapkan nilai agama dan moral di lingkungan sekolah, guru menjadi salah satu peran yang penting bagi perkembangan anak, namun saat anak pulang ke rumah, orang tua dan anggota keluarga yang berperan untuk mengembangkan nilai agama dan moral anak. Asef Umar Fakhruddin . menambahkan bahwa nilai-nilai agama dijadikan sebagai "bidikan" dalam pendidikan PAUD yang difungsikan untuk memberikan landasan kuat kepada anak sejak masih kecil atau sejak anak usia dini. Bermain Stik Angka Perkembangan kognitif adalah proses yang terjadi secara internal di dalam susunan saraf pada waktu manusia sedang berfikir. Perkembangan kognitif pada anak usia dini tidak hanya sekedar penambahan pengetahuan ide-ide baru yang sudah ada melainkan kemampuan anak untuk memahami benda yang dilihatnya (Pohan, 2020:161Ae. Kemampuan kognitif ini sejalan dengan perkembangan fisik dan saraf-saraf yang berada di pusat susunan saraf terkait (Mahdi & Ramadhini, 2020:. Perkembangan Fisik-Motorik Perkembangan fisik atau tubuh manusia merupakan sistem organ yang kompleks dan sangat mengagumkan sedangkan keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau bagian-bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat dan akurat (Hasanah, 2016:720Ae. Kemampuan motorik terbagi menjadi dua yaitu kemampuan motorik kasar dan kemampuan motorik halus. Kemampuan motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar sedangkan kemampuan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot halus (Pohan, 2020:. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Norhikmah. Saudah. Muzakki Perkembangan fisik motorik anak usia dini merupakan proses perkembangan yang berkesinambungan, terjadi secara signifikan pembentukan tulang, tumbuh kembang gerakan otot-otot dan saraf sesuai dengan rentang usianya yang akan mempengaruhi keterampilan anak dalam bergerak (Nurkamelia, 2019:. Perkembangan yang berlangsung sesuai urutan itulah yang mendasari keterampilan motorik anak dalam interaksinya di kehidupan sehari-hari. Selain itu. Pohan . juga menambahkan definisi dari perkembangan motorik pada anak merupakan unsur kematangan saraf dan otot pada anak, semakin matang perkembangan saraf anak maka kemampuan motorik anak akan Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan triangulasi yang terdiri dari observasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan cenderung bersifat kualitatif, analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami makna (Harahap, 2020: Adapun teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yaitu pemilihan informasi, penurunan informasi, penyajian informasi dan pengambilan keputusan. Adapun teknik analisis data ditunjukkan pada gambar 1. Pengumpulan Data Kondensasi Data Penarikan Kesimpulan Penyajian Data Penelitian ini dilaksanakan di RA Perwanida 2 yang berada di Jl. Branjangan Perumdin Kemenag. Kota Palangka Raya. Provinsi Kalimantan Tengah kode pos 73112. Adapun yang menjadi sumber data dalam penelitian ini yaitu 1 orang guru kelas A1, sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini yaitu 15 anak di kelas A1 dan Kepala Sekolah di RA Perwanida 2. Selain itu, dokumentasi dalam penelitian ini berupa foto-foto, video pada saat pembelajaran, lembar kerja siswa dan buku laporan salah satu siswa. Hasil dan Pembahasan Pemahaman Guru tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral Anak Usia 4-5 Tahun Ajaran-ajaran pokok nilai-nilai keislaman sering dikaitkan erat dengan perkembangan nilai-nilai agama dan akhlak. Kecerdasan emosional dan spiritual pada anak digambarkan dengan berkembangnya nilai-nilai agama dan moral. Sesuai dengan ajaran Islam, pengembangan nilai-nilai agama dan moral merupakan perubahan psikologis yang dialami anak dalam memahami dan mengamalkan perilaku yang baik dan menjauhi perilaku yang buruk (Nurjanah, 2018:. Kemampuan anak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa Kemampuan ini belajar mengenal dan menerapkan ajaran Islam yang mendasar, salah satunya adalah nilai-nilai pokok. Menanamkan nilai-nilai Islami pada anak sejak dini untuk mempersiapkan mereka menghadapi tantangan hidup di kemudian hari. Metode pembiasaan dan metode keteladanan merupakan dua pendekatan yang dapat digunakan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya untuk menanamkan nilai-nilai agama pada anak (Risnaswati & Priyantoro, 2021: . melalui kegiatan pembiasaan ini anak menjadi terbiasa melakukan kegiatan yang positif, sehingga dapat meniru dan mengikuti petunjuk dari guru (Safitri, dkk. , 2019:. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada hari senin-kamis dan sabtu sekolah rutin melaksanakan kegiatan shalat subuh berjamaah di kelas, sedangkan pada hari jum'at melakukan shalat sunnah dhuha di aula pendopo bersama anak-anak lainnya. Setiap bacaan shalat dibacakan lansung oleh guru dan diikuti oleh anak-anak. Setelah selesai shalat anakanak membaca istigfar 8 kali, tahmid 8 kali, tasbih 8 kali, tahlil 8 kali, rukun Islam dan doa-doa pendek. Guru mengenalkan dan meimplementasikan kegiatan keagamaan baik melalui permainan, nyanyi-nyanyian dan hafalan surah-surah pendek maupun hadist seperti hadist larangan marah meskipun masih ada beberapa anak yang terbalik-balik atau tidak menyebutkan sesuai urutannya seperti rukun Islam dan gerakan wudhu. Selain itu, hasil penilaian salah satu anak yaitu IL diketahui bahwa anak dalam satu semester mendapatkan nilai B sebanyak 17 kali, nilai B- sebanyak 2 kali dan nilai C sebanyak 5 kali. Berdasarkan wawancara bersama guru kelas A1 menyatakan bahwa: "Untuk anak usia TK itukan yaa kita dari pembiasaan, dari mulai masuk diajarin untuk mengucapkan salam dan menjawab salam terus mengajarkan gerakan wudhu mulai dari tepuk rukun wudhu kemudian praktek wudhunya. Nah itu semua dimulai dari pembiasaan dengan rutin tiap hari sehingga anak nanti sudah terbiasa. Walaupun kadang masih ada anak yang terbalik-balik Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Lina Eka Retnaningsih dan Ummu Khairiyah . yang mengemukakan bahwa penanaman nilai-nilai keislaman nanti pada akhir masa prasekolah harapannya anak sudah mampu menunjukkan ketercapaian dalam mempraktikkan dasar nilai-nilai agama dan budi pekerti luhur. Selain itu. Muhammad Ali Saputra (Saputra, 2016:199Ae. juga menambahkan, terdapat beberapa metode untuk penanaman nilai-nilai agama pada anak yakni bercerita, bernyanyi, syair, karyawisata, bermain, outbond, bermain peran, diskusi dan keteladanan. Pemahaman guru terkait indikator kemampuan ini yaitu anak mampu melaksanakan nilai-nilai pokok dalam ajaran Islam seperti mengucap dan menjawab salam, mengajarkan gerakan wudhu, mengenalkan huruf-huruf hijaiyah, hafalan surah-surah pendek, hadist dan doa-doa pendek dan dapat menerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Apabila nilai-nilai pokok tersebut sudah terlaksana maka indikator capaian perkembangan ini dapat tercapai sebagaimana Dalam kurikulum merdeka guru berfungsi sebagai fasilitator, mentor dan mitra anak dalam proses perkembangannya. Oleh sebab itu, anak menjadi peran penting dalam keberlansungan pembelajaran sehingga stimulasi yang diberikan oleh guru dalam diimplementasikan dengan baik di sekolah maupun dirumah. Kemampuan anak berpartisipasi aktif dalam menjaga kebersihan, kesehatan dan keselamatan diri Kebersihan meliputi fisik dan psikis, atau jasmaniah dan batiniah sedangkan kesehatan menyangkut aspek fisik dan psikis pada anak usia dini. Hendaknya sekolah dapat memfasilitasi dan mengupayakan yang terbaik bagi peserta didiknya untuk keselamatan pada diri anak (Sulthoni, 2017: . Guru menggunakan metode pembiasaan dan keteladanan dalam pengimplementasiannya sehingga anak-anak dapat dengan mudah mempraktikkannya meskipun tanpa intruksi dari guru seperti sikat gigi. Awalnya anakanak dibimbing oleh guru bagaimana cara sikat gigi dengan benar setelah itu, guru memberikan kesempatan pada anak untuk mencobanya sendiri dan dilakukan secara berulang-ulang sebagai bentuk menjaga kesehatan diri anak. Selain itu, berdasarkan hasil observasi dan wawancara guru juga memberikan contoh keteladanan pada anak terlihat BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Norhikmah. Saudah. Muzakki pada saat selesai kegiatan pembelajaran ada 2 anak perempuan yang ikut membantu guru membersihkan sisa-sisa media sebagai bentuk menjaga kebersihan di dalam kelas agar pembelajaran dapat dilaksanakan dengan nyaman. Bukan hanya itu, dalam kegiatan kolase diketahui bahwa guru mengingatkan pada anak-anak akan bahayanya benda-benda yang digunakan untuk selalu berhati-hati dan berdasarkan observasi juga terlihat DW menegur IK untuk tidak memasukkan lem ke dalam mulutnya. Hal tersebut termasuk dalam bentuk menjaga keselamatan diri anak. Pemahaman guru terhadap kemampuan ini yaitu dengan penerapan hadist-hadist yang dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari anak seperti hadist tentang kebersihan, larangan marah dan hadist lainnya sehingga bukan hanya dihafalkan namun juga mampu memberikan perubahan psikis dan perilaku yang lekat pada diri anak sebagai pengingat. Hal tersebut dapat terlaksana melalui beberapa metode yaitu metode pembiasaan dan keteladanan. Jika anak dapat menerapkan nilai-nilai moral tersebut maka kemampuan ini dapat dikatakan tercapai dengan baik. Dalam kurikulum merdeka dijelaskan bahwa pembelajaran pada anak usia dini dilihat dari partisipasi anak-anaknya karena tujuan dari setiap pembelajaran perlu dikaitkan dengan pengalaman anak seharihari. Kemampuan anak perilaku baik dan berakhlak mulia Anak-anak dapat diajarkan nilai-nilai moral sejak dini melalui kemampuan ini. Moralitas dapat dipahami sebagai metode untuk menentukan apakah suatu tindakan itu benar atau salah (Jamilah & Prasetyaningsih, 2019:. Untuk mencapai tujuan tersebut tentu diperlukan adanya metode yang cocok untuk menerapkannya pada anak. Kunci keberhasilan penanaman nilai budi penanaman nilai budi pekerti pada anak yaitu melalui pembiasaan secara konsisten (Mukarromah, dkk. , 2020:. Bahkan tanpa pendampingan guru, anak-anak sudah tahu apa yang harus dilakukan. Misalnya sebelum wudhu mereka langsung berbaris rapi dan membaca niat bersama dan guru hanya mendampingi serta mengingatkan jika ada gerakan wudhu anak yang tidak teratur. Selain itu, guru juga mengajarkan anak untuk bertanggung jawab atas perbuatannya, seperti yang terjadi ketika ZL dan DW bertengkar dan saling meminta maaf. Bahkan selama kegiatan yang melibatkan kolase, anak-anak memperingatkan teman-temannya untuk tidak melakukan hal yang dapat membahayakan, seperti tidak memakan lem. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian Lailatul Mukarromah dkk . mengungkapkan bahwa pembiasaan yang konsisten merupakan kunci keberhasilan penanaman nilai-nilai etika pada anak. Guru menyadari pentingnya toleransi dalam mengakui perbedaan. Oleh karena itu, pendidik memanfaatkan keadaan ini untuk mendekatkan anak dengan ajaran Islam, yang tidak hanya diwujudkan dalam praktik ibadah tetapi juga dalam sikap dan tindakan mereka. Kemampuan anak menghargai alam Nilai-nilai etika dikomunikasikan memengaruhi seberapa baik mereka ditanamkan pada anak-anak. Keteladanan adalah salah satu cara untuk mengkomunikasikan nilai-nilai Biasanya, nilai-nilai moral ditanamkan di sekolah melalui serangkaian langkah, termasuk pengajaran, pembiasaan, dan konsistensi (Nurjanah, 2022:53Ae. Pada saat pembelajaran bertemakan binatang peliharaan yaitu kucing, guru mengajarkan kepada anak tentang bagaimana merawat dan menyayangi kucing. Anak-anak bahkan memahami penjelasan yang diberikan oleh guru untuk bahwa tidak menyakiti dan memberi makan hewan peliharaan. Pemahaman guru terhadap kemampuan ini yaitu melalui pembelajaran bertemakan bintang peliharaan guru mengenalkan dan mengingatkan anak bagaimana merawat dan menyayangi binatang. Upaya guru dalam menanamkan nilai agama dan budi pekerti dalam diri anak dilakukan secara terintegrasi yang menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran sehari-hari. Dengan demikian, anak akan melihat agama dan budi pekerti sebagai nilai yang harus dijalankan dalam kegiatan apapun. Dalam kurikulum merdeka BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya proses belajar ini bisa dilakukan melalui kegiatan yang sederhana seperti yang dilakukan oleh guru tersebut. Pada saat yang sama anak bisa diajak berdiskusi bahwa menyayangi binatang peliharaan menjadi wujud tanggungjawab guru untuk menyampaikannya pada Pemahaman Guru tentang Aspek Perkembangan Kognitif Anak Usia 4-5 Tahun Kemampuan anak menunjukkan minat, kegemaran dan berpartisipasi dalam kegiatan pramembaca dan pramenulis Kemampuan ini merupakan salah satu cara agar kemampuan berpikir anak Sebelum benar-benar membaca, anak akan memiliki keterampilan membaca terlebih dahulu (Kustiyowati, 2020: . Pra menulis dapat disebut sebagai awal menulis atau early writing dan pra membaca dapat dipahami sebagai latihan yang memperkenalkan angka, huruf, dan bentuk hijaiyah. Menulis nama, menirukan kata dan menulis beberapa kata atau kalimat merupakan salah satu bagian dari kegiatan menulis awal bagi anak (Leonia, et al. , 2022: . Anak-anak biasanya memulai kegiatan pra menulis mereka dengan mencoret-coret atau mencoret-coret (Inten, 2017:. Pada kegiatan awal guru terlebih dahulu menanyakan tentang hari dan tanggal dan menuliskannya dipapan tulis sambil menanyakan ke anak bentuk-bentuk huruf dan angka tersebut. Meskipun ada beberapa anak yang belum mampu membedakan huruf b dan d serta ada anak yang belum mampu mengeja namun guru mengajarinya secara perlahan-lahan dan berulang-ulang sehingga anak mampu membedakan huruf dan mengejanya. Selain itu, anak juga mampu menuliskan kata "buku" pada lembar kerja siswa yang dibagikan oleh guru. Guru meminta kepada anak secara bergantian untuk menyebutkan huruf, angka dan hijaiyah terlihat anak mampu menyebutkannya dengan benar meskipun masih ada beberapa yang dibimbing Pemahaman guru terhadap indikator ini adalah anak dapat mengikuti kegiatan pra membaca dan pra menulis, diawali dengan pengenalan nama-nama hari, bulan, dan tanggal, untuk menunjukkan minat dan kegemaran. Dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mengikuti kegiatan membaca dan menulis seperti mengeja kata, menulis nama sendiri, menulis angka dan huruf hijaiyah, dan sebagainya. Guru dapat menunjukkan bahwa mereka memahami konsep pra membaca dan pra menulis. Guru diharuskan memberi anak-anak kesempatan dan dukungan untuk pengalaman literasi yang bermakna dalam kurikulum merdeka. Pengalaman kemahiran yang baik akan menjadi landasan bagi keterampilan membaca dan menulis anak-anak. Mengenali simbol huruf, mengenal huruf pertama dari benda di sekitarnya dan membaca nama sendiri adalah contoh dari pramenulis dan pra-membaca. Kemampuan anak mengenali dan menggunakan konsep pramatematika Kemampuan pramatematika merupakan kemampuan yang didapat dari segala tahap yang diaplikasikan pada bentuk konsep guna memecahkan permasalahan yang direalisasikan pada pengetahuan seperti menggolongkan, mencocokkan, mengurutkan, membandingkan dan membilang (Fauzan & Zulminiati, 2022:16. Pramatematika juga membantu anak dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Juniati & Hazizah, 2020:. Hasil penelitian menujukkan bahwa setelah selesai shalat anak membaca kalimat tayyibah dan istigfar sebanyak 8 kali, anak menggunakan jarinya untuk menghitung. Hal tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti Fatimah Sihotang, dkk . menjelaskan bahwa memperkenalkan bilangan pada anak dapat dilakukan melalui berbagai macam kegiatan baik melalui kegiatan pembelajaran, bermain atau permainan. Selain itu juga, guru menggunakan flash card untuk menerapkan konsep pramatematika pada anak. Masing-masing anak diminta untuk menyebutkan nama benda dan menghitung jumlah gambar benda tersebut. Anak- BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Norhikmah. Saudah. Muzakki anak di kelas A1 mampu menyebutkan dan menghitung jumlah benda serta menebak angka Dengan menggunakan flash card guru lebih mudah dalam mengenal konsep Bukan hanya itu, guru juga meminta anak untuk menggambarkan semut yang diurutkan dari semut besar, sedang dan kecil. Penggunaan flash card dalam menerapkan konsep matematika pada anak nyatanya memudahkan anak untuk meimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari seperti menghitung jumlah benda. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwa pemahaman guru terhadap kemampuan guru dalam memahami indikator anak mengenali dan menggunakan konsep pramatematika untuk memecahkan masalah di dalam kehidupan sehari-hari yaitu mengenalkan kepada anak tentang konsep hitungan dengan menggunakan media pembelajaran atau kegiatan sehari-hari anak, simbol dan pola. Namun, guru belum mampu menjelaskan bagaimana konsep pramatematika pada anak oleh karena itu, guru memahami bahwa pengenalan konsep pramatematika adalah pengenalan simbol-simbol berupa angka, pola bilangan, warna dan ukuran dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan anak menunjukkan kemampuan dasar berpikir kritis, kreatif dan Keterampilan berpikir kritis ini harus dikembangkan pada anak usia dini namun anak dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis jika mendapat stimulasi yang tepat sejak dini (Imamah & Muqowim, 2020: . Dalam hal ini, rangsangan guru perlu disesuaikan dengan usia anak agar tujuan pembelajaran dapat dikomunikasikan secara Guru dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk menggunakan imajinasinya dalam memecahkan masalah. Tujuan imajinasi berfungsi sebagai motivator bagi anak untuk berpikir kreatif guna menyelidiki kemampuan mereka dalam mengembangkan solusi untuk masalah (Norhikmah, dkk. , 2022:3. Hasil penelitian menujukkan bahwa anak-anak menggunakan caranya sendiri dalam menyelesaikan tugas seperti membuat kolase kepiting menggunakan media pasir berwarna. Selain itu, anak-anak juga membantu temannya untuk menghidupkan keran agar temannya tetap bisa berwudhu dengan cara menahan ganggang keran dan memutarnya sambil menunggu temannya selesai berwudhu. Bukan hanya itu, guru meminta anak untuk menggambarkan 3 ekor semut dan diurutkan mulai dari semut yang besar hingga kecil. Namun, ada anak yang menambahkan gambar sarang dan makanannya. Hal tersebut sangat diapresiasi oleh guru dan memberikan pujian kepada anak. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa guru telah membantu memberikan ruang bagi anak untuk mengasah kemampuan berpikirnya dan memahami salah satu indikator perkembangan kognitif pada anak usia 4-5 tahun. Namun, guru perlu meningkatkan kreativitas dalam merancang kegiatan pembelajaran yang lebih bervariatif agar anak-anak dapat memiliki pengalaman nyata. Dalam kurikulum merdeka guru harus memberikan kesempatan pada anak untuk dapat menganalisis dan mengevaluasi informasi untuk memahami alasan mengapa terjadinya sesuatu sehingga muncul ide atau gagasan baru dalam memecahkan masalah tersebut dengan bekerja sama dengan temannya. Kemampuan anak menunjukkan rasa ingin tahu melalui observasi, eksplorasi dan Proses pembelajaran bertujuan untuk memberikan makna yang mendalam melalui pengalaman konkret dan dapat membantu anak menunjukkan rasa ingin tahunya secara maksimal melalui observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi di lingkungan sekitar (Norhikmah, et al. , 2022: 3. Selain membantu anak dalam mengembangkan persepsi dan penambahan informasi pada suatu objek, anak yang melakukan kegiatan eksplorasi di BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya lingkungan sekitarnya juga mampu memanipulasi dengan lebih baik berbagai objek yang ditemuinya (Primayana, 2020:. Hasil penelitian menujukkan bahwa anak-anak begitu antusias saat menceritakan pengalamannya tentang buah nanas baik rasa, warna dan bentuknya. Selain itu, anak-anak membuat kolase kepiting menggunakan media pasir berwarna. Hal ini menujukkan rasa keingintahuan anak terhadap lingkungan di sekitarnya dan media yang bisa dijadikan sebuah karya. Pemahaman guru dalam memahami kemampuan ini adalah menunjukkan rasa keingintahuan anak terhadap lingkungan disekitarnya melalui observasi untuk mendapatkan informasi dengan menggunakan lima indera yang dimilikinya. Selain itu, anak-anak terlibat dalam aktivitas gerakan manipulatif seperti menumpuk, meremas, dan melempar untuk menyelidiki benda-benda di lingkungan terdekatnya. Anak akan bereksperimen dengan mengulang berbagai percobaan dan mengamati hasilnya karena tingkat keingintahuan anak yang tinggi terhadap hal-hal baru. Namun guru belum mampu memberikan kesempatan kepada anak untuk mengamati . , mengeksplorasi, dan bereksperimen selama pelaksanaannya dan guru masih menggunakan kurikulum sebelumnya dalam pelaksanaannya. Kemampuan anak menunjukkan kemampuan awal menggunakan dan merekayasa Banyak orang menganggap anak usia dini sebagai awal dari masa dewasa. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan kesempatan belajar kepada anak yang dapat memaksimalkan kemampuan dan potensinya, salah satunya adalah kemampuan sejak dini dalam memanfaatkan dan merekayasa teknologi (Aghnaita, dkk. , 2022: 3. Pendidik sebagai prioritas utama untuk mencapai keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, guru harus selalu berusaha untuk meningkatkan kualitasnya agar dapat menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman yang begitu cepat dan kompleks (Rasmani, dkk. , 2022:. Hasil penelitian menujukkan bahwa anak-anak membuat kolase nanas dengan menggunakan kertas origami dan gunting. Sebelum meminta anak untuk menggunting kertas terlebih dahulu guru memberikan peringatan bagi anak untuk berhati-hati dan bertanggung jawab. Terlihat anak-anak berhati-hati dan dapat menyelesaikan tugas membuat kolase nanas dengan menggunakan kertas origami. Berdasarkan hal itu dapat diketahui bahwa kertas origami dan gunting merupakan salah satu teknologi berbasis STEAM (Science. Technology. Engineering and Mathemati. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Zakiyatul Imamah dan Muqowim (Imamah & Muqowim, 2020:. mengemukakan bahwa pembelajaran STEAM mendorong siswa untuk belajar mengekplorasi semua kemampuannya selain itu. STEAM juga menuntut anak untuk bertanggungjawab secara personal atu interpersonal. Dalam kurikulum merdeka guru dituntut untuk kreatif dalam merancang kegiatan. Kurangnya pemahaman guru terhadap indikator ini berdampak pada pembelajaran yang monoton sehingga guru kesulitan menjelaskan terkait kemampuan merekayasa teknologi. Indikator kemampuan ini sangat erat dengan penggunaan STEAM dalam pelaksanaanya seperti anak dapat mengetahui nama dan fungsi teknologi yang tersedia dilingkunga sekitarnya seperti gunting dan Namun, guru memberikan pengertian akan bahayanya jika bermain dengan teknologi yang membahayakan dirinya, orang lain ataupun lingkungan sekitarnya. Namun, guru perlu meningkatkan kreativitas dalam merancang kegiatan agar pembelajaran lebih BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Norhikmah. Saudah. Muzakki Pemahaman Guru tentang Aspek Perkembangan Fisik-Motorik Anak Usia 4-5 Tahun Kemampuan anak menggunakan fungsi gerak sebagai bentuk pengembangan diri Keterampilan motorik kasar adalah kemampuan untuk melakukan berbagai gerakan fisik yang memerlukan keseimbangan, termasuk gerakan seluruh anggota tubuh dan bagian tubuh (Mahmud, 2018: . Keterampilan motorik kasar menurut Hakiki Rizki dan Rachmi Marsheilla Agus . adalah kemampuan untuk berolahraga terutama dengan otototot besar. Permainan outdoor menurut Luthfi Aji Ramdani dan Nur Azizah . , memberikan kesempatan lebih banyak pada anak dan menemukan hal-hal baru. Kemampuan gerak anak dengan motorik kasarnya dapat membantunya mengembangkan aktivitas fisik lainnya (Saparia, dkk. , 2022:. Hasil penelitian menujukkan bahwa anakanak di RA Perwanida 2 melaksanakan kegiatan senam garuda setiap hari selasa-sabtu. Selain itu, anak-anak juga melakukan kegiatan diluar ruangan seperti menangkap bola, melempar bola dan berjalan di papan titian meskipun ada dua yaitu AR dan RN tidak berani namun guru tetap membantu anak dengan memegang tangan anak tersebut untuk Keterampilan motorik halus merupakan kemampuan yang berkaitan dengan keterampilan fisik yang melibatkan otot halus dan koordinasi mata-tangan (Mirawati & Rahmawati, 2017: . Berdasarkan temuan penelitian, siswa kelas A1 mampu memegang pulpen, melepas dan memakai kaos kaki, melakukan gerakan sholat sesuai urutannya, menggunting dan menempel, menggambar dan mewarnai, melipat mukena, dan menempelkan pasir berwarna menjadi kolase. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Siti Darmiatun dan Farida Mayar . yang menunjukkan bahwa kemampuan motorik halus anak dapat ditingkatkan melalui kegiatan kolase, namun guru harus memperbanyak variasi kegiatan kolase yang lebih menarik dan menyenangkan bagi Salah satu cara mengajarkan anak merasakan sentuhan adalah melalui fungsi gerakan Erlianda juga menulis tentang kegiatan kolase pasir . saat anak memegang, mengambil, dan menempelkan pasir, saraf taktil pada ujung jarinya secara tidak langsung juga aktif bekerja pada titik tersebut untuk meningkatkan koordinasi tangan-jari. Anak yang Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dipahami bahwa kemampuan pendidik dalam memahami kemampuan tersebut adalah melalui latihan-latihan yang menggunakan bahanbahan yang ada disekitarnya. Pendidik menyadari bahwa indikator ini digunakan dalam kegiatan yang melibatkan keterampilan motorik halus dan kasar anak yang melibatkan kegiatan di luar ruangan. Menurut pemahaman guru tentang kemampuan gerak motorik halus, kasar dan taktil setiap aktivitas fisik yang dilakukan anak merupakan salah satu stimulasi motoriknya. Perkembangan fisik anak meningkat saat mereka mengeksplorasi lingkungan mereka lebih banyak. Simpulan Berdasarkan penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan oleh peneliti di RA Perwanida 2 menunjukkan bahwa pemahaman guru tentang aspek perkembangan nilai agama dan moral anak usia 4-5 tahun di RA Perwanida 2. Kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menanamkan nilai-nilai agama yaitu dengan menggunakan metode pembiasaan sedangkan penanaman nilai-nilai moral pada anak menggunakan metode keteladanan. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa guru memahami indikator perkembangan pada aspek nilai agama dan moral anak usia 4-5 tahun. Pemahaman guru tentang aspek perkembangan kognitif anak usia 4-5 tahun pada kelas A1 di RA Perwanida 2, guru menggunakan berbagai macam kegiatan untuk mengasah kemampuan berpikir pada anak salah satunya dengan menggunakan berbagai media pembelajaran yang menarik sehingga anak-anak dengan BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 3 Nomor 1. January 2024 Analisis Pemahaman Guru Raudhatul Athfal tentang Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral. Kognitif dan Fisik-Motorik di Kota Palangka Raya mudah memahami penjelasan yang diberikan oleh guru. Dalam hal ini dapat diketahui bahwa guru memahami indikator perkembangan pada aspek perkembangan kognitif anak usia 4-5 tahun. Akan tetapi pada implementasinya kreativitas guru belum berkembang dalam merancang kegiatan pembelajaran sehingga guru perlu meningkatkan kreatifitas dalam merancang pembelajaran. Referensi