Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. Upaya Mengatasi Permasalah Etika Berkomunikasi Guru BK di Lingkungan Sekolah Rizki Ananda Syafitri1 Universitas Negeri Medan1 Abstrak Permasalahan etika komunikasi yang dilakukan guru Bimbingan dan Konseling (BK) di lingkungan sekolah dapat mempengaruhi keberhasilan pelayanan BK di sekolah tersebut. Kesalahan komunikasi yang dilakukan guru BK akan memicu persepsi negatif di kalangan siswa dan personel sekolah lainnya, bahwasanya Guru BK sangat identic dengan citra yang negatif. Kesalahan komunikasi yang sering terjadi seperti menggunakan nada suara yang tinggi, membentak dan memarahi siswa. Dengan mengetahui faktor penyebab kesalahan etika berkomunikasi yang sering di lakukan guru BK di sekolah akan membantu guru BK untuk bisa mengatasi permasalahan ini dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi Dengan diketahuinya faktor penyebab masalah untuk memperbaiki etika komunikasi antara guru BK dan rekan sejawat, diperlukan pelatihan rutin tentang etika komunikasi dan pengembangan pedoman komunikasi yang jelas. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kerjasama profesional dan menciptakan lingkungan sekolah yang lebih kondusif bagi perkembangan siswa. Kata Kunci: Etika Komunikasi. Guru BK Abstract Problems of communication ethics carried out by Guidance and Counseling (BK) teachers in the school environment can affect the success of BK services in the school. Communication errors made by BK teachers will trigger negative perceptions among students and other school personnel, that BK teachers are very identical to a negative image. Communication errors that often occur include using a high tone of voice, shouting and scolding students. By knowing the factors that cause communication ethics errors that are often made by BK teachers in schools will help BK teachers to be able to overcome this problem and become better people in the future. By knowing the factors that cause problems to improve communication ethics between BK teachers and colleagues, regular training on communication ethics and the development of clear communication guidelines are needed. This is expected to improve professional cooperation and create a school environment that is more conducive to student development. rizkianndasy@unimed. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. Keywords: Problems of communication. Guidance and Counseling (BK) PENDAHULUAN Mendampingi siswa menghadapi berbagai masalah, dituntut memiliki kemampuan komunikasi yang baik tidak hanya dengan siswa tetapi juga dengan rekan sejawat, seperti guru mata pelajaran dan wali kelas. Dalam lingkungan pendidikan yang kompleks, kolaborasi yang baik antara guru BK dan rekan sejawat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa intervensi yang dilakukan terhadap siswa dapat berjalan secara komprehensif. Namun, sering kali dalam praktiknya, terjadi masalah etika komunikasi, seperti kurangnya keterbukaan informasi, ketidakjelasan peran, dan kurangnya koordinasi antar-guru. Penelitian sebelumnya oleh Sujadi . menemukan bahwa masalah etika komunikasi di antara guru sering muncul karena perbedaan pandangan mengenai tanggung jawab profesional, di mana guru mata pelajaran lebih cenderung berfokus pada aspek akademik sementara guru BK lebih menitikberatkan pada aspek emosional dan psikologis siswa. Penelitian lain yang dilakukan oleh Suryani et al. menunjukkan bahwa kurangnya pelatihan tentang komunikasi yang efektif dan etis di kalangan guru menyebabkan miskomunikasi dan konflik dalam hubungan kerja. Temuan-temuan ini menunjukkan adanya pola yang konsisten, yaitu minimnya pemahaman bersama mengenai peran dan tanggung jawab masing-masing pihak dalam mendukung perkembangan siswa. Studi-studi sebelumnya menunjukkan bahwa komunikasi profesional yang efektif dalam dunia pendidikan membutuhkan keterbukaan, kejelasan peran, dan kolaborasi yang baik. Menurut Anas . , kolaborasi antar-elemen dalam sistem pendidikan sangat penting untuk mencapai tujuan bersama. Pendekatan teori sistem ini relevan untuk melihat bagaimana komunikasi yang buruk di antara guru BK dan guru mata pelajaran dapat mengganggu integrasi informasi yang diperlukan untuk menangani siswa secara komprehensif. Selain itu, teori komunikasi lintasprofesional menekankan pentingnya kode etik komunikasi yang jelas untuk menghindari konflik peran dan memperkuat kolaborasi antarprofesional. Tujuan dari penulisan artikel ini untuk membahas dan mengidentifikasi masalah etika komunikasi guru BK yang terjadi di lingkungan sekolah, selain itu juga untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya hal tersebut. KAJIAN TEORI Kode etika merupakan prinsip pedoman tindakan, perilaku, sikap, dan perilaku dalam bekerja dalam kehidupan sehari-hari (AP dan Shofaria, 2. Kode etik dalam bimbingan dan konselin adalah suatu aturan, suatu cara yang bermanfaat dan bermoral, apa yang boleh dilakukan atau apa yang harus dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, apa yang tidak boleh diikuti, adalah aturan-aturan yang dituangkan dalam bentuk tertulis. Atau membimbing dan berkonsultasi tentang perilaku semua pihak yang terlibat dalam industri jasa. Penyuluhan pemenuhan tanggung jawab dan hidup dalam budaya Indonesia (ABKIN, 2. Ikatan Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) mengatur dan menetapkan persyaratan yang harus dipenuhi, dan bimbingan serta guru/konselor/ pelayanan bimbingan dan konseling dianggap sebagai organisasi yang mempunyai hak moral dan hukum. Bersama. Tujuan dari kode etik konselor adalah Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. untuk memandu praktik, membantu menciptakan pelayanan, mendukung peran organisasi profesi, memberikan landasan bagi penasihat dalam menyelesaikan masalah, dan melindungi konselor agar tidak merugikan klien (Aniswita dkk. Menurut keputusan Pengurus Persatuan Bimbingan dan Konseling Indonesia (PBABKIN) Nomor 010 tanggal 2006 tentang Penetapan Aturan Etika Bimbingan dan Konseling, maka beberapa aturan etika tersebut adalah sebagai Kualifikasi konselor dalam nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan Konselor bertanggung jawab atas tanggung jawabnya sendiri. Konselor perlu terus meningkatkan diri. Ia harus memahami kekurangan dan biasnya sendiri yang dapat mempengaruhi hubungannya dengan orang lain, mengurangi efektivitas layanannya, dan menyebabkan kerugian bagi kliennya. Konselor harus menunjukkan kesederhanaan, kerendahan hati, kesabaran, komitmen, kepercayaan, kejujuran, tekad dan rasa hormat. Konselon bertanggung jawab untuk mengambil tanggung jawab atas setiap saran atau peringatan yang diberikan kepada mereka . hususnya rekan profesional merek. mengenai kepatuhan terhadap persyaratan perilaku professional sebagaimana diatur dalam Kode Etik. Konselor bertanggung jawab untuk mengawasi kinerja terbaik dari keuntungan pribadi, termasuk keuntungan materi, finansial, dan Konselor harus mempunyai kemampuan menerapkan teknik dan teknik tertentu berdasarkan pemahaman luas dan prinsip penelitian. Menyimpan dan menggunakan informasi Informasi mengenai klien, termasuk wawancara, tes, transkrip, rekaman dan informasi lainnya, bersifat rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan masing-masing barang yang digunakan. Informasi/data boleh digunakan untuk keperluan penelitian atau pelatihan bagi para calon konselor selama privasi klien tetap terjaga. Pengiriman informasi klien kepada anggota keluarga atau profesional lainnya memerlukan persetujuan klien. Anggota profesi yang sama atau lebih diharuskan menggunakan informasi klien selama itu demi kepentingan terbaik dan tidak merugikan klien. Informasi profesional harus diberikan hanya kepada mereka yang berwenang untuk menafsirkan dan menggunakannya. Hubungan antara pemberian dan layanan. Apabila masih ada waktu untuk terjalinnya hubungan antara klien dan konselor, maka konselor mempunyai tanggung jawab untuk menangani Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. Sekalipun tidak ada hasil positif dari proses konseling, klien berhak memutuskan hubungannya dengan konselor. Sebaliknya jika klien tidak mendapatkan manfaat dari hubungan tersebut, maka konselor tidak akan melanjutkan hubungan tersebut. Hubungan dengan Klien Konselor mempunyai kewajiban untuk menghormati martabat, integritas dan keyakinan kliennya Konselor mempunyai kewajiban untuk mendahulukan kepentingan kliennya di atas kepentingannya sendiri. Dalam menjalankan tugasnya, konselor tidak membeda-bedakan klien berdasarkan ras, suku, warna kulit, agama atau kesehatan. Konselor tidak akan memaksa seseorang untuk memberikan bantuan tanpa persetujuan dari yang bersangkutan. Konselor mempunyai tanggung jawab untuk memberikan bantuan kepada semua orang, terutama dalam keadaan darurat atau situasi dimana banyak orang yang membutuhkan. Konselor harus memberikan layanan yang diselesaikan sesuai dengan kebutuhan klien. Konselor mempunyai tugas untuk menjelaskan hakikat hubungan kepada kliennya dalam lingkup perannya dalam hubungan tersebut. Konselor mempunyai kewajiban untuk mengutamakan klien jika terjadi masalah integritas. Sebagai bagian dari pekerjaan konsultan, mereka harus memperhatikan kepentingan klien. Ketika ada hubungan, konselor tidak bisa membantu saudara atau Konsultasi dengan Rekan Sejawat Dalam proses pemberian pelayanan kepada klien, jika konselor merasa ragu akan suatu hal maka ia mempunyai tanggung jawab untuk berbicara dengan rekan-rekan profesional di bidang lingkungan Untuk itu, klien harus mendapatkan persetujuan terlebih Ahli Tangan Kasus Ini adalah kode etik yang mengharuskan pihak yang tidak mampu memberikan layanan bimbingan dan konseling kepada klien dapat mengalihkannya kepada pihak profesional. Menurut M. Jamil (Yusuf, 2. Kompetensi Konselor dalam Pelayanan Konseling komunitas, sebagaimana lazimnya dalam profesi konseling pada umumnya, terdapat dua . gambaran lengkap tentang kompetensi konselor berbeda namun bersatu dalam praktek Yang membedakan adalah kemampuan dan kesanggupan bekerja sebagai berikut: Mengembangkan pemahaman mendalam mengenai pelayanan klien, meliputi: . Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. privasi, kebebasan memilih, dan menyediakan produk yang baik dalam pelayanan kepada pengguna. Konten yang berkaitan dengan kepentingan . Kesesuaian dengan pikiran, perasaan dan perilaku klien. Menguasai prinsip-prinsip bimbingan dan konselingmeliputi: . Teori dan praktik utama masyarakat tertentu . raktik dalam kehidupan dan praktik aktivitas manusi. A Mengkhususkan diri dalam bimbingan dan topik penelitian serta praktik dalam konseling psikologis. Menguasai kerangka teoritis dan praktis bimbingan dan konseling. Menyiapkan bimbingan dan konseling mandiri, meliputi: . Menyusun rencana bimbingan dan konseling. Menyelesaikan pengenalan dan . Mengevaluasi proses bimbingan dan konsultasi serta hasilhasilnya, . Aplikasi untuk memahami klien, kebutuhan dan masalah. Mengembangan pribadi dan studi lanjutan, meliputi: . Iman dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran dan komitmen terhadap perilaku etis. tempat kerja. Melakukan peran penasehat dan penasehat dalam organisasi dan program profesi. Gunakan kerja Dengan memahami kemampuan diri sendiri dan menyadari bahwa konselor bersifat budaya, proses konsultasi masyarakat dalam lingkungan multikultural akan menjadi efisien dan efektif. Oleh karena itu, penting bagi konselor baik di sekolah maupun di masyarakat untuk memahami etika yang harus dimilikinya sebagai konselor agar tujuan konseling dapat terlaksana dengan baik. METODE PENELITIAN Jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penulis berusaha menggambarkan suatu fenomena atau kejadian dalam penelitian deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi . ontent analysi. Dasar pemikirannya adalah akan menghasilkan suatu hasil atau pemahaman yang sistematis terhadap informasi yang tercakup dalam pesan komunikasi yang diberikan oleh sumber informasi lain. HASIL DAN PEMBAHASAN Farozin . menyatakan bahwa kerja sama antara guru BK dan guru mata pelajaran sering terhambat oleh minimnya pemahaman tentang peran masing-masing serta komunikasi yang kurang efektif. Komunikasi Yang Terbuka Pada dasarnya, komunikasi adalah sarana bagi manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya, dengan komunikasi interpersonal sebagai bagian penting yang mendukungnya. Komunikasi interpersonal berperan dalam menciptakan keberlangsungan hidup yang bahagia, seperti membantu perkembangan sosial dan intelektual, membentuk identitas diri melalui interaksi dengan orang lain, serta membantu kita memahami dunia di sekitar kita melalui pengertian dari orang lain. Kesehatan mental juga dipengaruhi oleh kualitas komunikasi, dan kebahagiaan manusia bergantung pada pengakuan yang diberikan oleh orang lain (Supratiknya, dalam Timothiu. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. Berdasarkan pandangan Syukur dan Zahri . , kemampuan sosial guru BK sangat penting dalam menjalin kolaborasi. Hal ini karena kompetensi sosial tersebut memfasilitasi komunikasi interpersonal yang efektif dengan siswa maupun guru lainnya. Guru BK yang memiliki kemampuan sosial yang baik lebih mampu berkomunikasi dengan guru mata pelajaran untuk memahami dan menangani masalah siswa serta memenuhi kebutuhan mereka secara Peranan komunikasi yang sangat penting dalam proses bimbingan dan Berbagai strategi komunikasi diterapkan untuk mengurangi jarak antara guru dan murid serta mengatasi perbedaan status di antara keduanya, sehingga tujuan bimbingan konseling dapat dicapai dengan lebih mudah. Selain itu, jika konselor merasa ragu mengenai suatu hal saat memberikan layanan kepada klien, ia diharuskan untuk berkonsultasi dengan rekan sejawat dalam profesi. Namun, sebelum melakukan konsultasi tersebut, konselor perlu mendapatkan izin dari kliennya terlebih dahulu Kolaborasi Antara Guru BK dan Personil Sekolah Untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, diperlukan kerja sama dari seluruh komponen pendidikan. Komponen ini mencakup guru sekolah dan pemangku kepentingan terkait. Kolaborasi antar unsur-unsur pendidikan bertujuan untuk menngembangkan mutu pendidikan, dan tanggung jawab pencapaian tujuan pendidikan tidak hanya berada pada guru mata pelajaran, sebab hal ini juga menjadi tanggung jawab guru bimbingan dan konseling serta seluruh staf dan pegawai di sekolah (Sandra & Ifdil, 2. Pelaksanaan dan proses layanan (BK) bimbingan konseling dapat berjalan optimal jika didukung oleh kerja sama yang baik dari seluruh staf sekolah. Berdasarkan penelitian Paramita . , semakin tinggi tingkat keterlibatan guru mata pelajaran dalam pelaksanaan BK, semakin positif persepsi mereka terhadap program BK di SMA Negeri 1 Maos 5. Keberhasilan layanan BK juga dipengaruhi oleh kolaborasi yang solid antara guru BK dan staf sekolah lainnya. Kolaborasi ini merupakan bagian dari kompetensi sosial seorang guru BK, mengkomunikasikan tujuan dan kegiatan BK, serta bekerja sama dengan staf lainnya di sekolah. Kolaborasi atau kerjasama antara guru (BK) Bimbingan Konseling dengan staf sekolah dilakukan dengan sangat intensif. Kerja sama ini melibatkan wali kelas dan guru mata pelajaran, bertujuan untuk mengumpulkan informasi penting tentang siswa serta menangani masalah yang dihadapi siswa. Selain itu, kolaborasi ini juga mendukung pelaksanaan layanan klasikal yang memberikan informasi dan langkah-langkah pencegahan bagi siswa. Di samping itu, kerja sama dengan personel sekolah lainnya bertujuan untuk menyediakan fasilitas dan sarana yang diperlukan bagi guru BK, serta membantu mereka melaksanakan program layanan BK dengan lebih optimal. Pemahaman Kode Etik Profesi BK Secara teori, konselor dalam memberikan layanan harus mematuhi kode etik yang berfungsi sebagai pedoman atau tuntunan sikap dan moral. ABKIN merupakan organisasi profesi bimbingan konseling di Indonesia yang dijadikan acuan dan bertugas mengawasi dan menyusun kode etik profesi konselor. Tujuan dari penyusunan kode etik ini adalah untuk memberikan panduan terkait perilaku, membantu untuk pengembangan layanan, mendukung dan melaksanakan tujuan. Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. misi profesi organisasi, sebagai dasar dalam penyelesaian masalah yang dihadapi oleh konselor, serta untuk melindungi konselor dari klien/konseli. Dalam praktiknya, pelanggaran kode etik masih banyak dilakukan yaitu oleh beberapa konselor dikarenakan tanggung jawab profesionalnya yang masih Setidaknya ada beberapa pelanggaran yang umum terjadi, diantaranya pelanggaran terhadap organisasi profesi, pelanggaran terhadap rekan sejawat, dan pelanggaran terhadap klien atau konseli. Beberapa kondisi juga memungkinkan Konselor mengalami kesulitan dalam menegakkan dan menjalani kode etik profesi yang diberlakukan. Sikap dan perilaku yang seharusnya dimiliki oleh seorang konselor meliputi: . Menciptakan dan membangun suasana serta hubungan yang mendukung selama proses layanan berlangsung. Konselor bersikap dan berpandangan secara objektif terhadap klien/konseli. Mengidentifikasi faktorfaktor yang menyebabkan permasalahan konseli dari sisi psikologis. Menentukan kerangka sumber/ referensi atau alat kognitif yang dapat dimengerti oleh konseli untuk menyelesaikan masalahnya. Mengembangkan cara atau strategi untuk merubah keyakinan-keyakinan irrasional atau gangguan emosional yang dialami konseli. Memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai perilaku baru yang diperlukan oleh konseli dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi teladan dengan sikap dan perilaku yang sehat. Menyadari beberapa kesalahan yang mungkin pernah dilakukan dan beberapa risiko yang mungkin . Mampu dan dapat menjaga kerahasiaan serta dapat diandalkan. Memiliki orientasi diri yang dinamis dan terus berkembang. Menjalani profesinya dengan tulus (Suherman dalam Eko Sujadi, 2. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dipaparkan, diketahui bahwa masalah etika komunikasi antara guru Bimbingan dan Konseling (BK) disebabkan oleh kurangnya kolaborasi dan keterbatasan keterbukaan dalam bertukar informasi. Temuan ini memperlihatkan bahwa hubungan profesional yang tidak berjalan secara harmonis berpengaruh terhadap efektivitas penanganan siswa, terutama dalam menangani aspek nonakademik yang membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak. Dalam refleksi teoritis, hasil ini mendukung pandangan bahwa komunikasi yang baik dalam lingkungan profesional sangat penting untuk menciptakan kolaborasi yang efektif. Teori-teori komunikasi profesional dan organisasi menekankan bahwa keterbukaan, saling menghormati peran, serta keterlibatan aktif semua pihak dalam pengambilan keputusan sangat krusial untuk keberhasilan intervensi pendidikan yang holistik. SARAN Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan agar pihak sekolah secara rutin mengadakan pelatihan mengenai etika komunikasi, mengembangkan pedoman komunikasi yang jelas, dan menyediakan forum diskusi terbuka untuk meningkatkan kolaborasi antar-guru. Selain itu, evaluasi berkala terhadap pola komunikasi di sekolah juga perlu dilakukan untuk memastikan keberlanjutan Peneliti selanjutnya disarankan untuk melibatkan lebih banyak subjek penelitian, termasuk guru mata pelajaran, wali kelas, dan siswa, serta mengkaji lebih lanjut dampak dari upaya peningkatan etika komunikasi terhadap kualitas kolaborasi di sekolah Jurnal Generasi Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024 Jurnal Generasi Tarbiyah: Jurnal Pendidikan Islam Volume 3. Nomor 2. Oktober 2024, 207-2014 E-ISSN: 2830-182X https://jurnal. id/?journal=jgt DOI : 10. 59342/jgt. DAFTAR PUSTAKA