1242 JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Program Pengembangan Literasi: Pelatihan Menulis Cerita Pendek bagi Peserta Didik Sekolah Dasar Tommy Hardiyanto1. Toni Heryanto2. Tri Awalia3. Ummah Azizah Assalamah4. Veronika Chandra Kirana5. Wari Astuti6. Nur Asyiah7. Firliani Khotimah8 1,2,3,4,5,6,7,8 Universitas Muhammadiyah Cirebon E-mail: tommyhardiyanto1999@gmail. Article History: Received: 20 Mei 2025 Revised: 11 Juni 2025 Accepted: 28 Juli 2025 Keywords: Gerakan Literasi Sekolah. Pelatihan Menulis. Cerita Pendek. Abstract: Gerakan Literasi Sekolah yang diterapkan di SD Sains Islam Al-Farabi telah berhasil meningkatkan minat baca peserta didik melalui kegiatan membaca bersama dan pelaporan jumlah bacaan setiap hari. Namun, program ini masih berfokus pada aspek membaca tanpa adanya tindak lanjut dalam keterampilan menulis. Oleh karena itu, program pelatihan menulis cerita pendek dirancang sebagai kelanjutan dari Gerakan Literasi Sekolah untuk mendorong peserta didik tidak hanya menjadi pembaca yang aktif, tetapi juga mampu menuangkan ide dan imajinasinya ke dalam tulisan. Pendekatan kegiatan yang digunakan dalam pelatihan ini meliputi analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, dan Kegiatan ini melibatkan peserta didik kelas 4, 5, dan 6, yang diberikan pemahaman tentang teknik dasar menulis cerpen serta bimbingan dalam proses pembuatan cerita. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam berbagai aspek menulis, seperti pengembangan tema, tokoh, alur, latar, amanat, dan gaya penceritaan. Peningkatan terbesar terlihat pada aspek pengembangan tokoh dan penyampaian amanat, yang menunjukkan bahwa peserta didik semakin mampu membangun karakter dalam cerita dan menyampaikan pesan dengan lebih jelas. Pelatihan ini membuktikan bahwa integrasi antara membaca dan menulis dapat memperkuat literasi peserta didik secara menyeluruh. Ke depannya, diharapkan program ini dapat terus dikembangkan dengan metode yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok dan bimbingan personal, serta pemanfaatan teknologi dalam proses menulis untuk meningkatkan keterampilan peserta didik secara lebih optimal. PENDAHULUAN Gerakan literasi merupakan salah satu bentuk gerakan yang memiliki dampak dalam upaya meningkatkan minat membaca siswa, khususnya di tingkat sekolah dasar (Ilmi et al. , 2. Gerakan Literasi Sekolah yang diterapkan di SD Sains Islam Al-Farabi Cirebon telah berhasil meningkatkan minat baca peserta didik melalui kegiatan membaca bersama dan pelaporan jumlah bacaan setiap hari. Namun, program ini masih berfokus pada aspek membaca tanpa adanya tindak lanjut dalam keterampilan menulis. Keterampilan berbahasa menurut Istiqoh . Keterampilan berbahasa mencakup empat aspek utama, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Keempat aspek keterampilan berbahasa, menulis memegang peranan penting dalam dinamika peradaban manusia. Oleh karena itu, program pelatihan menulis cerita pendek dirancang sebagai kelanjutan dari Gerakan Literasi Sekolah untuk mendorong peserta didik tidak hanya menjadi pembaca yang aktif, tetapi juga mampu menuangkan ide dan imajinasinya ke dalam tulisan. Menulis merupakan salah satu kunci pembuka bagi kemajuan suatu peradaban manusia, untuk menghasilkan tulisan seseorang perlu mengusai cara atau metode menyusun rangkaian kata menjadi tulisan. Menurut Kurnia et al. menulis adalah suatu proses kegiatan untuk menghasilkan sebuah produk tulisan yang bukan hanya berkaitan dengan tanda baca dan tata bahasa, melainkan proses mengembangkan kemampuan berpikir. Keterampilan menulis yaitu keterampilan menuangkan gagasan, pendapat, atau perasaan ke dalam tulisan, keterampilan ini salah satu keterampilan berbahasa dan bekomunikasi yang penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama di dunia profesional. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Kusuma . bahasa merupakan hal yang penting dalam kehidupan, bahasa digunakan sebagai alat atau metode komunikasi untuk menyampaikan pikiran, pesan, keinginan, dan konsep lain di antara orang-orang. Menurut Sismulyasih Sb . menulis memerlukan pengetahuan yang luas dan pola pikir yang logis, untuk dapat menulis maka seseorang harus melewati tahapan-tahapan seperti, membaca, mendengar, memahami, dan sebagainya. Untuk dapat menguasai keterampilan menulis, seseorang harus berlatih secara terus menerus. Selain itu, diperlukan berbagai referensi dari bacaan, tontonan, dan informasi yang didengar, sehingga memperluas pengetahuan, meningkatkan pemahaman, serta membangun kepekaan terhadap lingkungan yang menjadi landasan dalam kegiatan menulis. Di era industri 5. 0 sekarang ini, keterampilan menulis menjadi aspek yang penting untuk dimiliki oleh setiap manusia sebagai bekal dalam mencapai keberhasilan. Dengan memiliki keterampilan tersebut dapat meningkatkan rasa kepercaya diri dan mengembangkan kreativitas. Maka dari itu, kemampuan ini penting dikuasai oleh peserta didik. Leonhardt dalam Pinoza merumuskan sepuluh alasan gemar menulis itu penting, yaitu . kesukaan terhadap suatu kegiatan merupakan prasyarat untuk keberhasilan disemua bidang, sama halnya dengan menulis. ketelitian didapat dari peserta didik yang terbiasa menulis. hanya peserta didik yang gemar menulis yang dapat mengembangkan irama dan gaya pribadi. Peserta didik yang cenderung terbiasa menulis mandiri akan belajar cara menulis sesuai kaidah kebahasaan yang benar . peserta didik yang terbiasa membaca serta menulis mampu menggunakan struktur kalimat yang kompleks dan benar secara tata bahasa. peserta didik yang menikmati tulis-menulis akan antusias dalam mengerjakan makalah/laporan yang ditugaskan. peserta didik yang suka menulis, dan sering menulis, cenderung akan mudah memahami hal-hal yang dibacanya. peserta didik yang gemar menulis dan membaca menjadi siswa yang mudah unggul dalam beberapa mata pelajaran. peserta didik dengan kebiasan menulis pribadi umumnya dapat mengatasi trauma emosional. Dalam dunia kerja seseoang yang terampil menulis mempunyai keunggulan dibanding lainnya (Pinoza, 2. Menurut Kurnia et al. Proses menulis membutuhkan beberapa tahapan yaitu pramenulis, menulis, dan pasca menulis. Pada tahapan pramenulis yang harus dilakukan adalah menentukan topik, merumuskan tujuan menulis, serta menetapkan sasaran tulisan. Selanjutnya pada tahap menulis, yang harus dilakukan yakni menyusun kerangka tulisan dan mengembangkan ide agar menjadi sebuah tulisan yang padu. Pada tahap terakhir pasca menulis waktunya memeriksa kembali tulisan, memastikan tidak ada kesalahan, jika ditemukan kekeliruan dapat diperbaiki sebelum tulisan dipublikasikan. Kemampuan menulis penting, terutama bagi peserta didik sekolah dasar karena sebagai penerus bangssa. Mereka diberi kemampuan spesial untuk dapat mengubah ide, pengalaman, serta imajinasi menjadi sebuah karya yang bermanfaat dan bermakna. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Menurut Normuliati . Menulis merupakan suatu keterampilan personal yang harus dituangkan dalam bentuk tulisan. Sayangnya, dalam kegiatan menulis belum sesuai dengan harapan, tidak semua peserta didik dapat menuangkan ide mereka kedalam bentuk tulisan. Menulis cerita fiksi, dalam hal ini cerita anak merupakan kemampuan dalam mengungkapkan gagasan untuk merangkaian peristiwa yang bersumber dari pengalaman atau imajinasinya, sehingga cerita yang dihasilkan tersusun sesuai aturan dan alur kejadiannya, serta menggunakan struktur bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami. Dengan demikian pembaca dapat mengambil hikmah dari cerita itu (Kurnia et al. , 2. Banyak peserta didik yang masih merasa kesulitan menuangkan imajinasi dan gagasan kedalam tulisan, seringkali peserta didik menulis cerita fiksi dengan menceritakan dirinya sendiri, memperkenalkan dan mengambarkan diri sendiri. Hal ini menunjukan bahwa ketidakmampuan peserta didik untuk membedakan cerita fiksi yang mengedepankan imajinasi. Berdasarkan analisis dari situasi yang telah dilakukan, maka tim PPL PPG Calon Guru menawarkan sebuah solusi dengan membuat sebuah pelatihan menulis cerita pendek secara Kegiatan ini dikemas dengan judul merangkai cerita, menggapai inspirasi melalui pelatihan menulis cerita pendek pada peserta didik SD Sains Islam Al Farabi Cirebon. Melalui pelatihan ini, diharapkan peserta didik mampu mengembangkan ide, gagasan, serta kreaktivitasnya sekaligus menghasilkan cerita pendek karya sendiri. Selain itu, pelatihan menulis cerita pendek diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman yang baru bagi peserta didik, sehingga peserta didik dapat terus berlatih dan mengembangkan keterampilan menulis secara berkelanjutan secara mandiri dan menjadi lebih terampil. METODE Metode dalam pengabdian ini menggunakan pelatihan menulis. Menurut Kurnia et al. pengabdian dilaksanakan melalui empat tahapan, dengan tahapan awal berupa analisis sampai tahapan akhir evaluasi. Tahapan tersebut digambarkan melalui diagram alir berikut: ANALISIS PERENCANAAN PELAKSANAAN EVALUASI Gambar 1. Tahapan Program Pengabdian Berikut penjelasan dari setiap tahapan pengabdiannya: Tahap Analisis Pada tahap analisis tim melakukan observasi pra tindakan dengan memberikan tugas kepada peserta didik untuk membuat karya tulisan berupa cerpen dengan tema tulisan impian atau cita-cita. Sasaran dari tahapan analisis ini adalah peserta didik dari kelas 4, kelas 5, dan kelas 6 Sekolah Dasar Sains Islam Al Farabi. Tujuan dilakukannya tahapan ini adalah untuk melihat kemampuan awal peserta didik dalam keterampilan menulis cerpen sebelum dilakukannya a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Menulis cerita seringkali dianggap sulit bagi anak sekolah dasar terutama dalam hal menentukan ide, alur dan konflik cerita. Selain itu struktur penulisna dan poenggunaan tanda baca masih belum bisa diterapkan dengan baik dan benar. Tahapan Perencanaan Setelah melakukan observasi, selanjutnya adalah tahap pereancanaan. Tim pengabdi melakukan perancanaan pelatihan menulis cerpen dengan berkoordinasi pada pihak-pihak yang terlibat pada kegiatan pelatihan. Perencanaan diawali dengan berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk meminta perijinan, sosialisasi dan tempat pelaksanaan. Selanjutnya yaitu menghubungi pihak mitra dari salah satu penerbit buku daerah cirebon untuk menjadi pemateri dalam kegiatan Tahap Pelaksanaan Kegiatan pelatihan menulis cerita pendek pada peserta didik SD Sains Islam Al Farabi Cirebon di laksanakan pada tanggal 06 februari 2025. Peserta kegiatan ini adalah peserta didik kelas empat, lima dan enam yang menggemari kegiatan menulis. penilaian awal yang di lakukan untuk kegiatan ini meliputi tiga tahapan. pertama, penilaian awal dilakukan dengan meminta peserta didik yang akan mengikuti kegiatan pelatihan untuk menulis cerita pendek dengan tema cita-cita. Kedua, pelaksanaan kegiatan pelatihan untuk peserta didik. Ketiga, peserta didik yang mengikuti pelatihan diminta untuk menulis lagi cerita pendek dengan tema yang sama seperti Tahap Evaluasi Tahap akhir pelatihan menulis cerita pendek adalah melakukan evaluasi terhadap pelatihan yang telah dilaksanakan. Evaluasi penilaian dilakukan dengan menilai hasil karya tulisan cerita pendek peserta didik. Penilaian dilakukan dengan melihat peningkatan hasil tulisan sebelum dengan setelah dilakukannya kegiatan pelatihan menulis cerita pendek. Setelah itu kami melakukan evaluasi penilaian kepada peningkatan yang dihasilkan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan berdasarkan inisiatif mahasiswa PPL untuk mengembangkan keterampilan menulis di SD Sains Islam Al-Farabi. Pelatihan ini berawal dari analisis kemampuan peserta didik dalam menulis cerita pendek yang memuat unsur intrinsik . ema, alur, tokoh, latar, amanat, dan gaya penceritaa. serta unsur ekstrinsik. Hasil analisis menunjukkan bahwa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memasukkan unsur-unsur tersebut ke dalam Mereka kesulitan dalam menentukan tema, merancang alur, membangun tokoh, menyusun latar, serta menyampaikan amanat dan gaya penceritaan secara efektif. Sebagai tindak lanjut, mahasiswa PPL merancang program pelatihan menulis cerpen. Tahap perencanaan dimulai dengan koordinasi bersama guru pamong untuk menentukan mekanisme kegiatan serta mempersiapkan materi dan perlengkapan pelatihan. Pelaksanaan kegiatan berlangsung pada 6 Februari 2025 dengan melibatkan 29 peserta didik. Kegiatan diawali dengan sesi pembukaan dan penyampaian materi tentang keterampilan menulis, kemudian dilanjutkan dengan sesi praktik menulis cerpen yang didampingi oleh mahasiswa PPL melalui proses monitoring dan bimbingan langsung. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Gambar 2. Pelaksanaan Pelatihan Menulis Setelah pelatihan menulis cerpen yang telah dilaksanakan, mahasiswa PPL menganalis hasil cerpen yang telah dibuat peserta dan menunjukkan peningkatan dalam keterampilan menulis Data yang diperoleh dari hasil evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan bahwa seluruh indikator mengalami peningkatan nilai. Hasil Sebelum Pelatihan Tema Tokoh Alur Setting Cerita Amanat Gaya Pencerita Grafik 1. Hasil Sebelum Pelatihan Pada tahap awal sebelum pelatihan, nilai rata-rata untuk setiap indikator masih tergolong rendah, dengan skor rata-rata di bawah 50%. Misalnya, indikator tema memiliki rata-rata skor 46,89%, indikator tokoh memiliki rata-rata 45,51%, indikator alur memiliki rata-rata 42,06%, indikator setting cerita memiliki rata-rata 43,44%, indikator amanat memiliki rata-rata 46,89%, sementara indikator gaya pencerita memiliki rata-rata 44,42%. Indikator-indikator tersebut menunjukkan nilai yang belum optimal. Hasil Sesudah Pelatihan Tema Tokoh Alur Setting Cerita Amanat Gaya Pencerita Grafik 2. Hasil Sesudah Pelatihan a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Setelah pelatihan berlangsung, terjadi rata-rata pada setiap aspek indikator mengalami Rata-rata skor keseluruhan meningkat menjadi di atas 50%, dengan indikator tema menjadi 69,65%, indikator tokoh meningkat menjadi 72,41%, indikator alur menjadi 66,20%, indikator setting cerita menjadi 65,51%, indikator amanat menjadi 70,34%, dan indikator gaya pencerita menjadi 64,82%. Indikator-indikator tersebut menunjukkan adanya peningkatan disetiap Persentase Kenaikan Tema Tokoh Alur Setting Amanat Gaya Cerita Pencerita Grafik 3. Persentase Kenaikan Setelah pelatihan berlangsung, terjadi peningkatan pada setiap aspek indikator sebelum sebelum pelatihan dan sesudah pelatihan. Rata-rata skor keseluruhan mengalami peningkatan lebih dari 50%, dengan indikator tema menjadi 48,52%, indikator tokoh meningkat menjadi 59,09%, indikator alur menjadi 57,37%, indikator setting cerita menjadi 50,79%, indikator amanat menjadi 50%, dan indikator gaya pencerita menjadi 44,61%. Hasil pelatihan penulisan cerpen menunjukan peningkatan pada keterampilan menulis Analisis terhadap enam indikator utama tema, tokoh, alur, setting cerita, amanat, dan gaya penceritaan menunjukan tren peningkatan yang positif dari sebelum dilakukan pelatihan hingga setelah dilakukan pelatihan. Pada tahap awal sebelum dilakukannya pelatihan, rata-rata nilai untuk setiap indikator masih tergolong rendah, dengan skor di bawah 50%. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan unsur-unsur cerpen secara optimal. Indikator alur mendapatkan skor paling rendah, yaitu 42,06%, yang mengindikasikan bahwa peserta mengalami kendala dalam merancang cerita yang runtut dan menarik. Menurut (Goffar et al. , 2. Alur dalam cerpen atau karya fiksi pada umumnya merupakan rangkaian cerita yang tersusun dari tahapan-tahapan peristiwa, sehingga membentuk kesatuan cerita yang diperankan oleh tokoh-tokoh di dalamnya. Sementara itu, indikator tema dan amanat memiliki rata-rata skor yang lebih tinggi dibandingkan indikator lainnya, tetapi masih belum mencapai tingkat yang memadai. adalah ajaran moral atau pesan yang disampaikan oleh pengarang kepada pembaca (Mira Apsari. Menurut Eneste . alam Nuryatin 2016:. Jika tema telah diidentifikasi maka sangat mudah menentukan amanat, karena amanat merupakan pemecahan persoalan yang terkandung di dalam cerita yang berarti pula selalu menyertai tema. Setelah pelatihan berlangsung, terjadi peningkatan skor secara keseluruhan di setiap Seluruh aspek menulis cerpen mengalami perbaikan, dengan rata-rata nilai meningkat menjadi di atas 50%. Indikator tokoh mengalami peningkatan paling besar, dari 45,51% menjadi 72,41%, yang menunjukkan bahwa peserta semakin mampu mengembangkan karakter dalam a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 cerpen dengan lebih baik. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas pelatihan dalam membantu peserta memahami dan menerapkan teknik penulisan karakter yang lebih mendalam dan realistis. Menurut Nuryatin . Tokoh secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu, tokoh utama dan tokoh sampingan. Tokoh utama ialah tokoh yang memegang peran utama suatu cerita, sedangkan tokoh sampingan adalah tokoh-tokoh yang menjadi pendukung jalannya suatu cerita. Selain itu, indikator tema dan amanat juga mengalami peningkatan yang cukup baik, masing-masing mencapai 69,65% dan 70,34%. Ini menandakan bahwa peserta mulai mampu menentukan tema yang lebih kuat serta menyampaikan pesan cerita dengan lebih jelas kepada Adapun indikator lain seperti alur, setting cerita, dan gaya penceritaan juga mengalami peningkatan yang signifikan, meskipun masih berada di bawah indikator tema dan tokoh. Hasil pelatihan menulis cerpen mendapat karya yang sesuai dengan indikator yang telah ditetapkan dalam penulisan cerpen. Kriteria tersebut mencakup kelengkapan unsur cerita, kreativitas, keterpaduan alur, serta kedalaman pesan moral yang terkandung dalam cerita. Karyakarya tersebut kemudian dibukukan dalam sebuah antologi bertajuk "AKU PUNYA MIMPI!". Buku ini menjadi bukti nyata bahwa dengan bimbingan yang tepat, anak-anak mampu mengekspresikan impian dan harapan mereka dalam bentuk karya sastra yang bermakna. Buku ini juga mencerminkan keberagaman pemikiran dan latar belakang peserta didik dalam merancang masa depan mereka. Sebagai bagian dari dokumentasi buku, berikut beberapa elemen yang terdapat dalam buku "AKU PUNYA MIMPI!": Gambar 3. Cover Buku Cover buku "AKU PUNYA MIMPI!" memiliki latar berwarna gelap yang menggambarkan perjalanan seseorang menuju impian di tengah malam yang penuh harapan. Warna hitam yang mendominasi latar bukan sekadar kegelapan, tetapi melambangkan tantangan, ketidakpastian, dan perjuangan yang harus dilalui setiap anak dalam menggapai cita-cita mereka. Di tengahnya, terdapat seorang anak yang siluetnya menonjol, berdiri di atas bukit kecil, dengan tangan terangkat seolah ingin menggapai cahaya terang dari bulan. Bulan yang bersinar dengan pancaran cahaya lembut melambangkan harapan, bimbingan, dan impian yang menunggu untuk digapai. Sinar-sinar yang terpancar dari bulan menunjukkan bahwa setiap impian memiliki jalannya sendiri, memberikan inspirasi dan motivasi bagi anak-anak untuk a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 terus berusaha tanpa takut gagal. Meski tidak ada simbol profesi lain dalam ilustrasi ini, gambar tersebut secara universal mewakili setiap anak dengan mimpinya masing-masingAibahwa siapa pun mereka, apa pun cita-cita mereka, selama mereka berusaha, impian itu bisa tercapai. Keseluruhan elemen dalam cover ini menyampaikan pesan bahwa meskipun perjalanan menuju impian penuh dengan tantangan dan misteri, selalu ada cahaya harapan yang akan membimbing Dengan tekad, keyakinan, dan usaha yang sungguh-sungguh, setiap anak bisa mencapai apa yang mereka impikan. Gambar 4. Kata Pengantar Buku ini diawali dengan kata pengantar yang menjelaskan tujuan dari kegiatan pelatihan menulis, manfaat yang diperoleh peserta didik, serta harapan agar buku ini dapat menginspirasi pembaca, terutama anak-anak, untuk terus menulis dan mengejar impian Gambar 5. Daftar Isi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Daftar isi buku ini memuat judul-judul cerita pendek yang telah melalui proses pemilihan dengan mempertimbangkan kriteria tertentu, seperti kelengkapan unsur intrinsik dan ekstrinsik dalam cerita. Setiap cerita yang terpilih menampilkan struktur yang baik, pesan moral yang kuat, serta kreativitas dalam penyampaian ide. Gambar 6. Sampel Cerita Peserta Didik Cerita ini mengisahkan Kayla, anak yang penyayang dan bercita-cita menjadi dokter Ia didukung oleh ibunya yang sabar dan penuh kasih sayang. Suatu hari. Kayla menemukan anak kucing terluka dan merawatnya di rumah dengan bimbingan ibunya. Dari pengalaman itu. Kayla semakin yakin ingin menjadi dokter hewan, meski ada tantangan yang harus dihadapi. Cerita bertema perjuangan meraih cita-cita dan kepedulian terhadap hewan. Berlatar di rumah pada siang hari, dengan suasana penuh kasih dan semangat. Sudut pandang yang digunakan adalah orang ketiga serba tahu. Amanatnya adalah untuk terus mengejar impian, peduli pada makhluk hidup, dan pentingnya dukungan keluarga. Nilai moral yang terkandung mencakup semangat pantang menyerah dan kepedulian, sementara nilai sosial menonjolkan peran keluarga. Pengarang kemungkinan memiliki pengalaman atau kepedulian terhadap hewan. Secara keseluruhan, pelatihan menulis cerpen ini terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan menulis peserta. Peningkatan skor yang terjadi menunjukkan bahwa peserta mampu mengembangkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam menyusun cerpen yang lebih baik. Meskipun demikian, beberapa aspek masih memerlukan perhatian lebih lanjut, terutama dalam hal alur dan gaya penceritaan, yang masih memiliki nilai relatif lebih rendah dibandingkan indikator Oleh karena itu, penguatan materi dan latihan lebih lanjut pada aspek-aspek tersebut dapat menjadi fokus dalam pelatihan selanjutnya untuk meningkatkan kualitas cerpen yang dihasilkan. KESIMPULAN Pelatihan menulis cerita pendek yang dilaksanakan di SD Sains Islam Al-Farabi menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan keterampilan menulis peserta didik. Keberhasilan pelatihan ini menekankan pada pentingnya pembinaan berkelanjutan dalam keterampilan menulis. Berdasarkan hasil evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan, terjadi peningkatan signifikan yaitu sebagai berikut: ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Peningkatan terlihat pada aspek penulisan cerpen, termasuk tema, tokoh, alur, latar, amanat, dan gaya penceritaan. Peserta yang sebelumnya mengalami kesulitan dalam menyusun cerita kini lebih mampu mengembangkan ide secara sistematis dan kreatif. Peningkatan terbesar terlihat pada aspek pengembangan tokoh dan penyampaian amanat, yang menunjukkan bahwa peserta didik semakin memahami bagaimana membangun karakter dan pesan dalam cerita mereka. Adapun saran yang dapat digunakan sebagai langkah lanjutan agar program serupa dapat diterapkan secara berkala yaitu: Menggunakan metode pembelajaran yang lebih interaktif seperti diskusi kelompok dan bimbingan personal. Pemanfaatan teknologi seperti blog sederhana atau e-book interaktif dapat menjadi sarana pendukung untuk dokumentasi karya peserta didik. Kolaborasi dengan penerbit atau penulis profesional untuk meningkatkan motivasi dan kualitas tulisan peserta didik. Untuk peneliti selanjutnya, disarankan beberapa hal yaitu: Melakukan kajian lebih mendalam mengenai faktor Ae faktor yang mempengaruhi keterampilan menulis peserta didik, seperti motivasi, gaya belajar, dan lingkungan membaca mereka. Mengembangkan model pembelajaran menulis berbasis kearifan lokal, misalnya dengan menggunakan cerita rakyat atau budaya daerah sebagai sumber inspirasi, sehingga tidak hanya meningkatkan keterampilan menulis tetapi juga memperkuat kecintaan terhadap budaya sendiri. Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan peserta didik tidak hanya lebih percaya diri dalam menulis, tetapi juga mampu menjadikan keterampilan menulis sebagai sarana untuk mengekspresikan gagasan, pengalaman, serta imajinasi mereka dengan lebih bebas dan kreatif. Selain itu, pelatihan ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca dan menulis yang berkelanjutan, sehingga peserta didik dapat terus mengasah kemampuan mereka dalam menyusun ide, merangkai kata, serta menyampaikan pesan dengan lebih jelas, sistematis, dan menarik. DAFTAR REFERENSI Goffar. Wuryantoro. , & Ricahyono. Analisis Struktur Alur dalam Cerpen di Atas Sajadah Cinta Karya Habiburrahman El Shirazy. Wewarah: Jurnal Pendidikan Multidisipliner, 1. , 36. https://doi. org/10. 25273/wjpm. Ilmi. Wulan. , & Wahyudin. Gerakan Literasi Sekolah dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar. Edukatif : Jurnal Ilmu Pendidikan, 3. , 2866Ae2873. https://doi. org/10. 31004/edukatif. Istiqoh. Peningkatan kemampuan menulis pantun dengan menggunakan model Think Pair Share dikelas VII A MTs pesantren pembangunan majenang kabupaten cilacap tahun pelajaran 2018/2019. Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 4. , 22Ae29. https://doi. org/10. 25157/diksatrasia. Kurnia. Permanaputri. , & Rasyad. Pelatihan Menulis Cerita Anak Pada Siswa Sdn Sadagori Cirebon Upaya Kembangkan Kreativitas Di Masa Pandemi. Jurnal Berdaya Mandiri, 4. , 886Ae897. https://doi. org/10. 31316/jbm. Kusuma. Penerapan Model Kooperatif Tipe Learning Start With A Question untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5. , 406Ae417. https://doi. org/10. 31004/basicedu. Mira Apsari. Struktur dan Amanat Cerpen Arca Batu Karya IGG Djelantik Santha. Metta : Jurnal Ilmu Multidisiplin, 2. , 36Ae42. https://doi. org/10. 37329/metta. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Normuliati. Pelatihan Menulis Sastra Anak Berbasis Kearifan Lokal Pada Mahasiswa PGMI IAIN Palangka Raya. AJAD : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 3. , 206Ae https://doi. org/10. 59431/ajad. Nuryatin. Agus & Irawati. Retno Purnama. Pelajaran Menulis Cerpen. Semarang: Penerbit Cipta Prima Nusantara. Pinoza. Komposisi Bahasa Indonesia. Diksi Insan Mulia. Sismulyasih Sb. Peningkatan Keterampilan Menulis Manuskrip Jurnal Ilmiah Menggunakan Strategi Synergetic Teaching Pada Mahasiswa Pgsd Unnes. Primary: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 4. , 64. https://doi. org/10. 33578/jpfkip. ISSN : 2828-5700 .