Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) Vol. 6 No. 4 November 2022 e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 DOI: 10. 36312/jisip. 3073/http://ejournal. org/index. php/JISIP/index Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi Galih Permana1. Hikmat Purnama2 STAI Darussalam Sukabumi, 2STAI Sukabumi Article Info Abstract Article history: Received 22 Juli 2022 Publish 7 November 2022 This study aims to determine how much influence of the parenting style and the completeness of the facilities have on the intensity of PAI learning. This research is a quantitative study of causal correlation. The population in this study were all 1876 students of MAN Sukabumi City. The sample was taken using the Taro Yamane formula and produced a sample of 330 students. The instrument used in this research is a questionnaire/questionnaire. From the results of the study, it was found that . there is a positive and significant effect of parenting on PAI learning intensity at MAN Sukabumi City with a correlation coefficient . 517 and a coefficient of determination . of 267 or 26. there is a fairly positive and significant effect between the completeness of facilities and the intensity of PAI learning at MAN Sukabumi City with a correlation coefficient . 386 and a coefficient of determination . 149 or 14. And . there is a positive and significant effect between parenting patterns and the completeness of facilities together on the intensity of PAI learning at MAN Sukabumi City with a correlation coefficient . 597 and a coefficient of determination . 356 or Keywords: Parenting Style. Completeness Of Facilities. Intensity Of Learning. Pai Info Artikel ABSTRAK Article history: Received 22 Juli 2022 Publish 7 November 2022 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pola asuh orang tua dan kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasi kausal. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa MAN Kota Sukabumi yang berjumlah 1876. Pengambilan sampel menggunakan rumus Taro Yamane dan menghasilkan sampel sebanyak 330 siswa. Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket/kuesioner. Dari hasil penelitian, didapati bahwa . terdapat pengaruh positif dan signifikan pola asuh orang tua terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi dengan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,517 dan koefisien determinasi . sebesar 0,267 atau 26,7%. terdapat pengaruh yang cukup positif dan signifikan antara kelengkapan sarana dengan intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi dengan koefisien korelasi . sebesar 0,386 dan koefisien determinasi . sebesar 0,149 atau 14,9%. Dan . terdapat pengaruh positif dan signifikan antara pola asuh orang tua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi dengan koefisien korelasi . sebesar 0,597 dan koefisien determinasi . sebesar 0,356 atau 35,6%. This is an open access article under the Lisensi Creative Commons AtribusiBerbagiSerupa 4. 0 Internasional Corresponding Author: Galih Permana STAI Darussalam Sukabumi permanagalih37@gmail. PENDAHULUAN Pendidikan merupakan harapan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar tercapainya tujuan bangsa. Dunia pendidikan banyak memerlukan peranan pemerintah untuk 2265 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 menciptakan sumber daya manusia yang maksimal. Pemerintah mengeluarkan Peraturan No. Tahun 2005 Pasal 3 dan 4 yang mengatur tujuan dan fungsi standar nasional pendidikan. Dalam peraturan tersebut dinyatakan bahwa Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam membuat perencanaan, mengatur pelaksanaan, dan melaksanakan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu. Standar Nasional Pendidikan memiliki suatu tujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk sikap serta peradaban bangsa yang memiliki nilai bermartabat. Konsep belajar yang dominan untuk mencapai keberhasilan pendidikan melibatkan keteraturan dengan kedisiplinan kegiatan belajar mengajar (Sulistiyawati, 2. Kegiatan belajar mengajar yang sistematis dan terstruktur ikut mendorong tercapainya keberhasilan dalam belajar. Hal ini senada dengan pendapat Nasrudin yang menjelaskan perubahan yang progresif dan kontinyu dalam diri seseorang dimulai saat ia lahir sampai meninggal (Nasrudin, 2. Makanya bimbingan atas perubahan-perubahan diri sangat diperlukan untuk menciptakan keteraturan dan kedisiplinan belajar. Pendidikan sebagai cara untuk mengembangkan kemampuan siswa tidak terlepas dari kegiatan belajar. Hal tersebut dikarenakan adanya faktor intern dan ekstern yang mempengaruhi belajar. Faktor-faktor tersebut tidak boleh diabaikan karena berefek fatal jika dibiarkan terjadi. Berhasil atau tidaknya suatu kegiatan belajar sangat ditentukan oleh keadaan siswa, baik itu disebabkan karena faktor eksternal maupun internal. Pada dasarnya pendidikan di sekolah berkontribusi lebih sedikit dibandingkan dengan lingkungan keluarga dan masyarakat. Lingkungan keluarga merupakan perkumpulan yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak serta saudara-saudara dari pihak ayah ataupun ibu. Dalam hal ini orang tua khususnya berpengaruh besar terhadap anaknya (Dalyono, 2. Sehingga intensitas belajar sebagai usaha untuk mencapai tujuan, harus lebih difokuskan pada pendidikan dan penanaman karakter selain di sekolah. Keharmonisan keluarga dan pola asuh orang tua sangat penting dalam upaya menjaga, mengajar, dan memberikan contoh kepada anak-anak untuk mengetahui, mengenal, dan akhirnya menerapkan tingkah laku yang sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakat. Meskipun pola asuh yang diterapkan dalam satu keluarga berbeda dengan keluarga lainnya tergantung dari cara pandang orangtua tersebut (Saibah & Wantini, 2. Siswa akan termotivasi untuk terus belajar dan mengembangkan dirinya apabila pola asuh orang tua juga baik di aktivitas sehari-hari maupun dalam pembimbingan belajar. Anak akan merasa nyaman dan leluasa untuk belajar secara maksimal dan optimal karena dirinya diperdulikan. Sehingga minat belajar siswa tumbuh dan selalu terbaharui dengan perhatian dan pola asuh yang kerap diberikan orang tua secara penuh dan total (Puspitaningtyas, 2. Proses kegiatan belajar siswa memiliki intensitas yang berbeda-beda. Belajar tidak harus dilakukan dalam waktu yang lama, yang terpenting belajar harus dilakukan secara rutin setiap hari, sehingga menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh siswa. Intensitas dalam belajar mempunyai beberapa indikator turunan, yaitu. motivasi, durasi kegiatan, frekuensi kegiatan, presentasi, arah sikap, minat, dan aktivitas (Slameto, 2. Semua indikator tersebut berjalan dan bekerja saling berkaitan mengisi kegiatan dan kesibukan siswa terkait suatu pembelajaran yang ia tekuni. Intensitas sebuah kegiatan menjadi efektif dan optimal saat faktor motivasi dan minat mendominasi dorongan siswa melakukan kegiatan tersebut. Kenyamanan melakukan pembelajaran dapat terjadi karena adanya dukungan sarana prasarana yang memadai. Keberadaan sarana prasarana mempermudah kerja guru dan kurikulum sehingga usaha pembiasaan dan penanaman karakter menjadi lebih nyaman dan bebas. Sarana pendidikan di sekolah merupakan peralatan dan perlengkapan yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan, khususnya proses belajar, mengajar, seperti gedung, ruang kelas, meja kursi, serta alat-alat dan media pengajaran (Mulyasa, 2. Prasarana pendidikan sebagai salah satu faktor penunjang pendidikan, yang mengacu pada standar sarana dan prasarana yang dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan peraturan menteri. Kelengkapan prasarana pendidikan yang terstandar pemerintah seringkali menjadi kendala dalam proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Meskipun begitu, keberadaannya harus selalu diperhatikan dan dipenuhi. Karena sarana dan prasarana pendidikan berperan sebagai faktor luar . yang ikut 2266 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 memberikan kontribusi terhadap peningkatan minat akademis (Kartika et al. , 2. dan motivasi belajar yang harus tetap dijaga (Khatifah et al. , 2. Sayangnya intensitas pendidikan karakter dalam pembelajaran di sekolah masih menjadi hal yang diabaikan, terutama pada materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Tidak ada yang menyanggah bahwa pendidikan nilai-nilai PAI di sekolah dapat menjadi solusi efektif untuk mencegah terjadinya berbagai kriminalitas dan kenakalan remaja, khususnya di Madrasah. Namun, kenyataan dan fakta di lapangan menyimpulkan bahwa keseriusan untuk mengembangkan PAI menjadi panduan hidup sehari-hari siswa remaja masih kurang dan cukup mengkhawatirkan keadaannya. Berdasarkan laporan Viva, telah terjadi aksi duel atau gladiator antar siswa MAN Asahan. Sumatera Utara yang terjadi pada Selasa, 21 Desember 2021. Kegiatan perkelahian satu lawan satu tersebut terjadi karena adanya kegiatan membereng . aling meliri. antar siswa MAN tersebut yang diikuti makian dan ejekan (Ansyari, 2. Kenakalan remaja tersebut menjadi hal yang miris karena proses kejadian ditonton dan disemangati layaknya pertarungan gladiator atau adu ayam oleh siswa lain sembari merekam untuk diabadikan di media Banyak alasan yang menyebabkan fenomena kenakalan seperti itu terjadi pada remaja. Salah satu yang paling besar adalah kurangnya perhatian orang tua dalam pendidikan agamanya. Aspek kognitif tidak jarang menjadi fokus utama sekolah dan tujuan terpenting orang tua menyekolahkan anak-anaknya dikarenakan adanya kekhawatiran karir dan pekerjaan kedepannya yang berlebihan. Sebaliknya pendidikan adab dan akhlak dalam aspek afektif pendidikan keagamaan hanya dijadikan pelengkap dan formalitas akademis saja. Sehingga mengakibatkan alokasi jam pelajaran PAI dalam seminggu menjadi lebih sedikit (Efendi et al. , 2. dan kualitas maupun kompetensi guru-gurunya tidak diperhatikan dan diupayakan sebaik mungkin (Nisa. Hasil observasi dalam studi pendahuluan yang peneliti lakukan di dua MAN Kota Sukabumi juga melaporkan bahwa aktifitas siswa dalam memahami mata pelajaran PAI terhitung masih belum maksimal. Terdapat beberapa gejala masalah pembelajaran PAI karena kurangnya intensitas dan pembiasaan di dalamnya. Contohnya seperti adanya siswa yang masih berani bermain handphone ketika proses pembelajaran, sikap acuh tak acuh ketika ada guru yang melewati dan kurangnya perhatian siswa terhadap kesiapan belajar dan tanggung jawab tugas dari Keberadaan PAI di sekolah sebagai cerminan Standar Nasional Pendidikan muncul karena kritik rendahnya akhlak, minimnya kemampuan Al-QurAoan dan pengetahuan dasar Islam remaja (Ismail et al. , 2. Mata pelajaran PAI diajarkan di sekolah-sekolah sesuai dengan visi dalam mewujudkan manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Selain itu. PAI dikaji oleh siswa dengan harapan dapat mengenalkan citra seorang manusia yang jujur, adil, berbudi pekerti, etis, saling menghargai, disiplin, harmonis, dan produktif baik personal maupun Visi tersebut menjadi alasan utama dikembangkannya standar kompetensi yang sesuai dengan jenjang persekolahan yang secara nasional ditandai dengan ciri menitikberatkan pencapaian kompetensi secara utuh, mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan memberikan kebebasan yang lebih luas kepada pendidik di lapangan (Wahab, 2. Ketiga ciri tersebut dapat dikembangkan untuk dijadikan landasan pokok kenapa intensitas pembelajaran PAI harus ditambah dan diperhatikan oleh semua pihak sekolah. Peningkatan minat dan motivasi pembelajaran PAI hendaknya dilakukan baik secara kualitas maupun kuantitas. Perbaikan kualitas dapat diwujudkan dengan menerapkan berbagai kebiasaan untuk memelihara nilai-nilai PAI di sekolah, meningkatkan kompetensi pendidik PAI dan menyamakan pemikiran sekolah dengan orang tua terkait pola asuh yang sinergis. Sementara segi kuantitas diwujudkan dengan pemenuhan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan lingkungan pembelajaran PAI yang nyaman dan kondusif di sekolah (Chasanah, 2. Belajar dari pentingnya meningkatkan intensitas suatu pembelajaran untuk mendapatkan hasil belajar yang diharapkan, diperlukan adanya upaya praktis terkait pengadaan sistem nyata dan aplikatif bagi semua pihak sekolah. Disamping itu, masih banyak pula yang masih belum 2267 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 menyadari akan pentingnya faktor-faktor pendukung, seperti peran orang tua dan ketersediaan sarana penunjangnya. Pihak penyelenggara pendidikan harus menghadirkan semua elemen agar tujuan dan target pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Berdasarkan penjelasan dan pemaparan tersebut, peneliti tertarik untuk memberikan analisis logis tentang seberapa besar pengaruh peran orang tua dan sarana prasarana dalam peningkatan intensitas pembelajaran PAI di MAN Kota Sukabumi. Diharapkan hasil penelitian ini memberikan gambaran jelas sebagai rujukan empiris untuk usaha yang sama dan relevan. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif yang mengupayakan untuk mengamati permasalahan secara sistematis dan mengenai fakta dan sifat objek tertentu. Peneliti menentukan sampel penelitian dari populasi siswa di dua MAN yang ada di Kota Sukabumi TA 2019/2020 dengan memakai teknik Simple Random Sampling. Berikut tabel data populasi penelitian dan hasil penghitungan sampel penelitian Tabel 1. Populasi Siswa yang Diteliti Nama Madrasah MAN 1 Kota Sukabumi MAN 2 Kota Sukabumi Total Jumlah Siswa Tabel 2. Sampel Objek (Sisw. yang Diteliti No. Sekolah Kelas Populasi Sampel X IPA X IPS XI IPA MAN 2 XI IPS XII IPA XII IPS X IPA X IPS XI IPA MAN 1 XI IPS XII IPA XII IPS Jumlah Penelitian ini mengumpulkan data dengan memakai metode angket dan kuesioner sebagai sumber primernya (Riduwan, 2. Angket penelitian ditulis menggunakan Skala Likert lewat aplikasi digital Google Form agar lebih mudah diisi oleh responden. Angket terdiri dari dua jenis yang harus diisi oleh responden utama dan percobaan yaitu angket sebelum uji validitas dan angket setelah uji validitas. Uji validitas instrumen penelitian yang dimaksudkan untuk menunjukan kebenaran suatu alat ukur (Muhibbin & Abdurrahman, 2. pada setiap variabel terkait menggunakan Teknik Validitas Empirik. Uji validitas menggunakan bantuan aplikasi SPSS for Windows versi 23. Penyebaran angket dilakukan dengan cara menggunakan bantuan Google Form dengan jumlah item kuesioner sebanyak 35 yang dilaksanakan di MA Daarussalaam Kabupaten Sukabumi. Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan metode Corrected-Total Item Correlation pada SPSS. Adapun pengambilan keputusan dalam uji validitas yaitu Jika rhitung > rtabel maka instrumen data dinyatakan valid dan sebaliknya jika rhitung < rtabel maka instrumen data dinyatakan tidak valid. 2268 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 Selanjutnya, uji reliabilitas instrumen penelitian yang dimaksudkan untuk memastikan apakah alat ukur yang digunakan dapat dipercaya berlaku di tempat lain dan menghasilkan data yang sama. Dalam penelitian ini uji reliabilitas menggunakan fasilitas Reliability Statistic dari SPSS 23 for Windows. Data yang akan dianalisis oleh peneliti adalah data hasil dari penyebaran angket atau kuesioner saja. Analisis data menggunakan bantuan SPSS for Windows versi 23. Analisis terdiri dari dua bentuk, yaitu. analisis statistik deskriptif, untuk mendeskripsikan objek melalui data sampel atau populasi tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan umum, dan . analisis statistik inferensial, untuk mengidentifikasi perbedaan karakter antar kelompok, mencari hubungan antar atribut dan membuat model untuk tujuan prediksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil analisis penelitian, dibuktikan bahwa terdapat. pengaruh yang cukup positif pola asuh orangtua terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (X1-Y), . pengaruh yang cukup positif kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (X2-Y), dan . pengaruh positif antara pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (X1. X2-Y). Tabel 3. Output SPSS Koefisien Regresi Sederhana X1 Model (Constan. Dependent Variable: Y Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sig. Hasil uji regresi sederhana antara variabel pola asuh orangtua (X. terhadap intensitas belajar PAI (Y) didapat persamaan regresi sederhana yaitu = 64,381 0,516X1, artinya setiap peningkatan satu skor atau nilai pola asuh orangtua akan diikuti oleh peningkatan skor atau nilai intensitas belajar sebesar 0,516 dengan konstanta 64,381. Perumusan = 64,381 0,516X1 dapat digunakan untuk memprediksi skor intensitas belajar PAI apabila skor pola asuh orangtua Nilai koefisien korelasi . sebesar 0,267 berarti terdapat pengaruh positif pola asuh orangtua terhadap intensitas belajar PAI. Hasil uji signifikansi koefisien korelasi menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara kompetensi guru terhadap intensitas belajar sangat signifikan . hitung = 7,640 > 2,357 = ttabel ( = 0,. Dengan demikian terdapat pengaruh positif yang signifikan antara pola asuh orangtua terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi. Koefisien determinasi . sebesar 0,267 berarti kontribusi pola asuh orang tua terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi sebesar 26,7% dan sisanya sebesar 73,3% dipengaruhi oleh faktor lain (Epsilo. Pola asuh orangtua memiliki peran vital dalam peningkatan motivasi dan intensitas belajar siswa dengan menunjukan kepeduliannya agar potensi tumbuh kembang anaknya dapat berjalan secara maksimal. Pola asuh orang tua merupakan gambaran dari prilaku orang tua dalam melakukan interaksi atau berkomunikasi selama dalam kegiatan pengasuhan (Djamarah, 2. Semakin besar perhatian yang diberikan orang tua, maka semakin terbentuk kemana arah anak untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Bentuk perhatian orang tua dapat diberikan dengan pemenuhan kebutuhan anak, baik eksternal maupun internal. Kebutuhan dasar yang sangat penting kaitannya dengan perkembangan pendidikan anak adalah adanya hubungan yang sehat antara orang tua dan anak. Ketika perhatian dan kasih sayang secara terus menerus, perlindungan, serta dorongan dan pemeliharaan akan terpenuhi maka anak akan lebih giat dalam belajar (Sholikhah & Bahrodin, 2. Selanjutnya, pola asuh yang berarti berupa dorongan dari orang tua sangat diperlukan bagi siswa untuk menumbuhkan minat belajar (Budiyarti, 2. Agar minat belajar terhadap siswa timbul, maka orang tua harus memberi perhatian kepada setiap siswa tentang pembelajar di 2269 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 sekolah dan melihat tingkat antusiasme beserta perkembangan kemampuan siswa. Orang tua harus bisa lebih menghargai nilai dari kerja keras siswa dan juga memotivasi agar terus semangat. Dengan demikian siswa yang memiliki minat belajar yang tinggi akan menciptakan kenyamanan dan intensitas belajar yang meningkat. Seorang yang belajar dengan minat, akan berusaha untuk belajar dengan penuh perhatian dan semangat, serta senantiasa memotivasi dirinya untuk tertarik pada materi yang dipelajarinya. Demikian juga ketika mempelajari Pendidikan Agama Islam (PAI), bukan hanya prestasi yang meningkat tapi akhlak dan adab yang semakin matang. Dukungan orang tua tidak hanya memengaruhi semangat dan intensitas belajar siswa, namun lebih dari itu pola sosial kehidupan mereka juga ikut berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik (Amseke, 2. Tabel 4. Output SPSS Koefisien Regresi Sederhana X2 Model (Constan. Dependent Variable: Y Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Error Beta Sig. Hasil uji regresi sederhana antara variabel kelengkapan sarana (X. terhadap intensitas belajar PAI (Y) didapat persamaan regresi sederhana yaitu = 72,230 0,401 X2, artinya setiap peningkatan satu skor atau nilai kelengkapan sarana akan diikuti oleh peningkatan skor atau nilai intensitas belajar sebesar 0,401 dengan konstanta 72,230. Perumusan = 72,230 0,401X2 dapat digunakan untuk memprediksi skor intensitas belajar PAI apabila skor kelengkapan sarana Nilai koefisien korelasi . sebesar 0,149 berarti terdapat pengaruh positif kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI. Hasil uji signifikansi koefisien korelasi menunjukkan bahwa koefisien korelasi antara kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar sangat signifikan . hitung = 7,640 > 2,357 = ttabel ( = 0,. Dengan demikian terdapat pengaruh positif yang signifikan antara kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi. Koefisien determinasi . sebesar 0,149 berarti kontribusi kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi sebesar 14,9% dan sisanya sebesar 85,1% dipengaruhi oleh faktor lain (Epsilo. Sarana pendidikan merupakan segala perabot atau alat kerja dan merupakan suatu fasilitas yang berfungsi untuk membantu guru dalam proses pembelajaran kepada siswa. Lengkapnya sarana pembelajaran di suatu lembaga pendidikan memberikan nilai lebih yang baik dalam proses pembelajaran terhadap siswa (Hasan, 2. Sarana pembelajaran yang baik dan tepat merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh terhadap semangat dan motivasi belajar siswa (Aunurrahman, 2. Berdasarkan fakta dan kejadian di lapangan, sarana dan prasarana yang menunjang mampu. memudahkan penyampaian ide dan gagasan di dalam maupun luar kelas, . mendukung pencapaian tujuan belajar secara optimal, . merangsang kemampuan individu dan kelompok dalam proses pembelajaran, dan yang terpenting adalah . mampu memotivasi siswa untuk terus giat belajar. Dukungan sarana dan prasarana diklasifikasikan pada faktor luar atau ekstrinsik yang dapat memotivasi siswa untuk semangat belajar (Sakdiyah & Fajar, 2. Begitu pula cara pembelajaran PAI di sekolah yang harus didongkrak dengan rasa kenyamanan dan kekhusyuan beribadah lewat sarana dan prasarana yang tepat. Mesjid yang nyaman dan bersahabat. WC yang bersih, kelas yang rapi, buku ajar atau keagamaan yang mendukung dan juga peralatan ibadah yang lengkap bisa menjadi faktor kenapa para siswa remaja di suatu sekolah betah berlama-lama mempelajari materi Pendidikan Agama Islam (PAI). Namun jika sebaliknya yang terjadi, rendahnya motivasi siswa sebagai akibat kurangnya penggunaan sarana dan prasarana, menyebabkan siswa enggan dan malas-malasan dalam mengikuti pembelajaran PAI. Siswa kurang memiliki pandangan bahwa PAI merupakan hal yang penting dalam kehidupan mereka. Sehingga rendahnya intensitas pembelajarannya PAI di berbagai lembaga pendidikan saat ini 2270 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 dikarenakan kurangnya kesadaran akan pentingnya peran sarana penunjang pembelajaran PAI baik di kelas maupun luar kelas. Tabel 5. Output SPSS Koefisien Regresi Sederhana X1 dan X2 Coefficientsa Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Model Std. Error Beta (Constan. Dependent Variable: Y Sig. Hasil analisis regresi sederhana antara variabel pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana bersama-sama terhadap variabel intensitas belajar PAI diperoleh persamaan regresi ganda yaitu = 42,696 0,462X1 0,315X2, artinya setiap peningkatan satu skor atau nilai pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama akan diikuti oleh peningkatan skor atau nilai intensitas belajar PAI sebesar 0,462 dan 0,315 pada arah yang sama dengan konstanta 42,696. Persamaan regresi ganda = 42,696 0,462X1 0,315X2 dapat digunakan untuk memprediksi skor intensitas belajar PAI apabila skor pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana Nilai koefisien korelasi . sebesar 0,356 berarti terdapat pengaruh positif yang kuat pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama terhadap intensitas belajar PAI. Hasil uji signifikansi koefisien korelasi menunjukkan bahwa koefisien korelasi ganda antara pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama terhadap intensitas belajar PAI signifikan (Fhitung = 30,047 > 4,77 = Ftabel ( = 0,. Dengan demikian, terdapat pengaruh positif yang sangat signifikan antara pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi. Koefisien determinasi . sebesar 0,356 berarti kontribusi pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana secara bersama-sama terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi sebesar 35,6% dan sisanya sebesar 64,4% dipengaruhi oleh faktor lain (Epsilo. Tabel 6. Keterpengaruhan Antar Variabel No. Hubungan Koefisien Korelasi Koefisien Regresi Epsilon X1 terhadap Y 0,517 26,7% 73,3% X2 terhadap Y 0,386 14,9% 85,1% X1 dan X2 terhadap Y 0,597 35,6% 64,4% Intensitas belajar merupakan sejauh mana semangat siswa yang dapat menimbulkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan nilai dan sikap. Intensitas disini berperan sebagai suatu usaha yang dilakukan oleh seorang siswa dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan pembelajarannya. Kaidah intensitas sangat berkaitan dengan motivasi, dimana belajar diperlukan adanya intensitas atau semangat yang tinggi terutama berdasarkan Makin tinggi motivasi yang diberikan, maka akan makin besar peluang keberhasilan Itu artinya motivasi senantiasa menentukan tingkat intensitas suatu Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, yaitu. motivasi dan citacita, keluarga, peranan guru, sarana prasarana, teman pergaulan dan media masa (Susanto, 1. Semangat belajar dapat terpacu karena adanya faktor ekstrinsik berupa peran kasih sayang orang tua dan kelengkapan sarana yang tepat. Kedua-keduanya memiliki tingkat kekuatan yang berbeda yang menentukan mana-mana yang harus didahulukan segera. Keterlibatan orang tua dalam pembimbingan cara belajar PAI anaknya berdampak pada tingkat semangat belajar siswa dan pandangan orang tua/wali terhadap fungsi keberadaan sekolah (Mulasi & Saputra, 2. Hal itu berarti, problem proses pendidikan dan rendahnya intensitas belajar PAI yang terjadi karena adanya disinkronisasi antara guru dan orang tua yang penting untuk disinergikan. Pada dasarnya 2271 | Pengaruh Pola Asuh Orangtua dan Kelengkapan Sarana Terhadap Intensitas Belajar PAI di MAN Kota Sukabumi (Galih Perman. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP) e-ISSN : 2656-6753, p-ISSN: 2598-9944 seorang guru dan orangtua memang harus mampu meningkatkan motivasi siswa agar tercapainya tujuan pendidikan agama Islam sebagaimana mestinya. Kelengkapan sarana menjadi pendukung proses kelancaran pembelajaran dan pembantu guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal (Tsalitsa et al. , 2. Sarana sebagai alat pendidikan ialah suatu tindakan, perbuatan, suasana ataupun benda yang sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan di dalam pendidikan. Sehingga tujuan pemberdayaan sarana pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah. memperjelas, mempermudah, meningkatkan hasil belajar PAI secara utuh dan optimal, . meningkatkan motivasi belajar PAI peserta didik, . menumbuhkan kesempatan belajar yang lebih baik, . mengurangi ketergantungan kepada guru PAI, dan . menumbuhkan rasa percaya diri di era globalisasi. Berdasarkan penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa keberhasilan proses pembelajaran dan peningkatan intensitas belajar PAI harus di dukung oleh fasilitas yang memadai. Sehingga siswa lebih bersemangat dalam belajar, terlebih lagi guru lebih nyaman untuk membina dan mendidik akhlak dan adab para siswa. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan hasil mengenai pengaruh pola asuh orang tua dan kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI di MAN Kota Sukabumi maka dapat diambil kesimpulan bahwa. terdapat pengaruh signifikan antara pola asuh orangtua terhadap intensitas belajar PAI yang mendukung minat belajar siswa lewat ekspresi cinta dan kasih sayang. terdapat pengaruh yang cukup antara kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI yang dapat memotivasi siswa agar terus giat belajar dan memudahkan munculnya berbagai ide dan . terdapat pengaruh signifikan antara pola asuh orangtua dan kelengkapan sarana terhadap intensitas belajar PAI. Semakin baik pola asuh yang diberikan orangtua dan lengkapnya sarana di madrasah, maka akan semakin tinggi intensitas belajar PAI pada diri siswa. DAFTAR PUSTAKA