AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak Journal homepage: https://ejournal. edu/audiensi p-ISSN 2829-9353 e-ISSN 2829-8659 Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Kartu Huruf Pada Anak TA A Usia 4-5 Tahun di TK Negeri Pembina Limpung Mutamimah TK Negeri Pembina Limpung, mutamimah1986@gmail. INFO ARTIKEL ABSTRACT This study aims to improve early reading skills through letter cards for children aged 4-5 years in Negeri Pembina Limpung Kindergarten. This research is classroom action research (CAR). This research was carried out in three cycles where each cycle consisted of one meeting. The stages in this research follow classroom action research procedures, namely: . planning, . implementation, . observation or observation, and . The subjects in this study were teachers and students in Group A of Negeri Pembina Limpung Kindergarten which consisted of 5 students consisting of Keywords: Reading Ability. Early 4 girls and 1 boy with an age range of 4-5 years. The results of this study indicate an increase in learning outcomes. Before the action, the percentage Reading. Early Childhood. Letter Card was 20% and increased in the first cycle by 20% so that it became 40%. the second cycle there was an increase of 40% from the first cycle to 80%. Media. ECE Thus, it can be concluded that the early reading ability of children in Group B of Tunas Karya Kindergarten can be improved through the media of letter Huruf Kunci: Kemampuan Membaca. Riwayat Artikel: Received: 2024-08-22 Revised: 2024-08-29 Accepted: 2024-08-29 Membaca Permulaan. Anak Usia Dini. Media Kartu Huruf. PAUD ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan melalui media kartu huruf pada anak usia 4-5 tahun di TK Negeri Pembina Limpung. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dimana setiap siklus terdiri dari satu kali pertemuan. Tahap-tahap dalam penelitian ini mengikuti prosedur penelitian tindakan kelas, yaitu: . perencanaan, . pelaksanaan, . observasi atau pengamatan, dan . Subjek dalam penelitian ini adalah guru dan anak didik di Kelompok A TK Negeri Pembina Limpung yang berjumlah 5 anak didik yang terdiri atas 4 orang anak perempuan dan 1 orang anak laki-laki dengan rentang usia 4-5 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar. Sebelum tindakan diperoleh persentase sebesar 20% dan mengalami peningkatan pada siklus I yaitu sebesar 20% sehingga menjadi 40%. Pada siklus II mengalami peningkatan 40% sehingga menjadi 80%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kemampuan membaca permulaan anak di Kelompok A TK Negeri Pembina Limpung dapat ditingkatkan melalui media kartu AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 PENDAHULUAN Masa kanak-kanak sangat penting untuk mengembangkan berbagai keterampilan, termasuk kemampuan membaca karena merupakan dasar penting dalam perkembangan bahasa anak. Kemampuan membaca memungkinkan anak-anak untuk menyerap dan mengolah informasi yang mereka lihat di sekitar mereka (Dhieni, 2006. Ramadanti dkk. , 2. Membaca sendiri merupakan proses kompleks yang melibatkan banyak keterampilan, bukan hanya mengenali huruf (Astuti dkk. , 2021. Fitriani & Aminin, 2. Salah satu keterampilan ini termasuk mengidentifikasi dan menghubungkan huruf dengan bunyi serta memahami makna teks yang dibaca (Astuti , 2. Kemampuan membaca awal anak dapat diukur dengan menghubungkan nama huruf dengan bentuk dan bunyinya (Nurohman, 2. Oleh karena itu, guru diharapkan dapat membuat dan menerapkan strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak-anak, terutama di sekolah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh guru kelas terhadap siswa kelompok A di TK Negeri Pembina Limpung menunjukkan bahwa para siswa masih mengalami kesulitan membaca awal. Siswa yang berjumlah 5 anak, terdiri dari 4 anak perempuan, dan 1 anak laki-laki, semuanya masih memerlukan bantuan guru untuk menemukan dan menyebutkan huruf. Situasi ini disinyalir karena media pembelajaran dan pendekatan yang digunakan belum bekerja dengan baik untuk meningkatkan kemampuan membaca anak-anak. Guru masih cenderung menggunakan paper and pencil atau pengisian Lembar Kerja Anak (LKA) dalam kegiatan pengenalan huruf. Hal ini menyebabkan anak-anak kurang tertarik mengenal huruf melalui kegiatan yang kurang beragam dan eksploratif. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan terutama untuk pengenalan huruf ada anak-anak di TK A adalah kartu huruf. Kartu huruf menyediakan stimulasi visual yang menarik, memudahkan anak-anak dalam mengenali dan mengingat bentuk huruf, membuat proses belajar lebih menarik dan efektif, dan juga mempermudah interaksi antara guru dan anak-anak (Ekayani, 2017. Siregar, 2019. Fahitah & Watini, 2. Selain itu, kartu huruf yang mengandung gambar dan simbol huruf membantu anak-anak mengingat dan memahami huruf dengan lebih baik (Astuti dkk, 2021. Julia dkk. , 2022. Amtiran, 2. Menurut Munafiah dkk. , metode ini juga memungkinkan anakanak untuk belajar melalui interaksi langsung, yang mana mereka dapat menyentuh, memindahkan, dan mengatur kartu-kartu tersebut sesuai dengan bentuk atau urutan yang diinstruksikan. Di sisi lain. Lubis . menambahkan bahwa aktivitas ini tidak hanya meningkatkan keterampilan motorik halus, tetapi juga memotivasi anak untuk lebih aktif dalam proses belajar, sehingga kemampuan mereka dalam mengenali dan membaca huruf berkembang lebih cepat dan lebih baik. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak usia 4-5 tahun di TK Negeri Pembina Limpung dengan menggunakan Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. media kartu huruf yang dirancang khusus dan disesuaikan dengan tema pembelajaran. Adapun penelitian ini bertujuan untuk menemukan apakah penggunaan media kartu huruf dapat meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak-anak di TK Negeri Pembina Limpung, dan apakah media kartu huruf yang dirancang khusus ini berfungsi sebagai alat bantu yang efektif untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak-anak. KAJIAN PUSTAKA Kemampuan Membaca Permulaan Kemampuan membaca permulaan adalah tahap awal dalam perkembangan keterampilan membaca anak usia dini, di mana mereka mulai mengenali huruf, simbol bunyi, dan memahami teks cetak sederhana. Menurut Sari dkk. , . membaca permulaan melibatkan proses pengenalan huruf dan simbol bunyi yang memungkinkan anak untuk mulai menyuarakan tulisan dan mempersiapkan mereka untuk membaca lebih lanjut. Steinberg dalam Oktaviani . , menekankan bahwa membaca permulaan pada anak prasekolah sebaiknya diajarkan melalui program yang terstruktur dan menarik, menggunakan permainan serta aktivitas yang memotivasi minat anak dalam belajar membaca. Oleh karena itu, kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan harus menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan anak agar proses belajar menjadi lebih efektif dan berfungsi sebagai fondasi penting untuk pembelajaran membaca lanjutan (Pratama dkk. Tahap-tahap Perkembangan Membaca Permulaan Anak Usia Dini Ada beberapa tahap penting dalam perkembangan kemampuan membaca permulaan anak dari usia empat hingga enam tahun menurut Aulina . Tahap Fantasi atau Tahap Magis: Anak mulai tertarik dengan buku dan menganggap buku sebagai sesuatu yang penting. Mereka sering membawa buku favoritnya dan mulai menunjukkan ketertarikan dengan membolak-balik Tahap Pembentukan Konsep Diri: Anak-anak mulai menganggap diri mereka sebagai pembaca. Mereka terlibat dalam aktivitas pura-pura membaca, memberikan makna pada gambar berdasarkan pengalaman sebelumnya, dan mulai menggunakan bahasa buku meskipun tidak sesuai dengan teks Tahap Membaca Gambar Bersekat: Anak mulai menyadari bahwa ada cetakan dan huruf-huruf yang mereka kenal. Mereka dapat mengulang cerita dari teks sederhana, memahami huruf abjad, dan menemukan hubungan antara hurufhuruf tersebut dengan arti tertentu. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 Tahap Pengenalan Bacaan (Take-off Reader Stag. : Anak menunjukkan keinginan untuk membaca apa yang ada di sekitarnya. Ini dapat termasuk membaca teks pada kemasan barang atau tanda-tanda yang ada di sekitarnya. Tahap Membaca Mandiri: Anak-anak sudah mampu membaca berbagai jenis buku secara mandiri, memahami makna teks, dan memperkirakan isi teks dengan menggunakan pengalaman mereka dan tanda-tanda yang mereka kenal. Media Kartu Huruf Media kartu huruf merupakan alat bantu pembelajaran yang efektif dalam mengenalkan huruf dan mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini. Sebagai media, kartu huruf berfungsi sebagai alat perantara yang mengirimkan informasi antara sumber, seperti guru atau orang tua, dan penerima, yakni anakanak (Laely, 2. Kartu huruf, yang terdiri dari berbagai kartu berisi huruf-huruf dan gambar, membantu anak-anak mengenali dan mengingat bentuk huruf serta makna yang terkandung dalam gambar (Astuti dkk. , 2. Selanjutnya, menurut Riadoh & Larasati . , dengan memanfaatkan elemen visual dan interaktif yang menarik, kartu huruf memungkinkan anak-anak untuk belajar membaca dengan cara yang menyenangkan, yang sejalan dengan prinsip pembelajaran yang efektif untuk usia dini. Penggunaan kartu huruf dalam proses pembelajaran tidak hanya sekadar mengenalkan huruf, tetapi juga mendorong anak-anak untuk berpartisipasi aktif melalui permainan dan aktivitas menyusun huruf. Seperti yang dijelaskan oleh Ramadanti & Arifin . , kartu huruf menggabungkan gambar dan tulisan yang membantu anak belajar membaca melalui interaksi langsung dengan media Permainan menyusun huruf dengan kartu ini, seperti yang disarankan oleh Asmonah . , dapat meningkatkan keterlibatan anak dan memperkuat penguasaan mereka terhadap huruf-huruf abjad. Dengan bahan yang mudah diakses seperti karton atau kertas, kartu huruf menjadi media yang tidak hanya mendukung pembelajaran, tetapi juga memperkaya pengalaman belajar anak melalui pendekatan yang menyenangkan dan interaktif. Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Menggunakan Kartu Huruf Untuk Anak TK A Kemampuan membaca permulaan adalah fase penting dalam perkembangan keterampilan membaca anak usia dini, di mana mereka mulai mengenali huruf dan simbol bunyi serta menyuarakan tulisan. Pengajaran terprogram yang menyenangkan melalui kegiatan yang menarik sangat penting untuk menumbuhkan minat membaca pada anak-anak prasekolah. Proses ini mencakup berbagai fase perkembangan, mulai dari ketertarikan awal terhadap buku hingga kemampuan Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. membaca mandiri, yang semuanya penting untuk membangun fondasi membaca Kartu huruf, yang memiliki berbagai gambar dan tulisan, membantu anak mengenal huruf dan membaca melalui kombinasi elemen visual dan interaktif. Kartu huruf membantu anak mengingat bentuk huruf dan mengaitkannya dengan Mereka juga dapat digunakan dalam berbagai permainan edukatif untuk mendukung pembelajaran mereka. Pada anak usia dini, media, baik dalam bentuk simbol verbal maupun nonverbal, berfungsi sebagai alat penting untuk menyampaikan informasi dan mendorong perkembangan kemampuan membaca Perkembangan ini berdampak pada pembelajaran mereka di kemudian hari. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan metode penelitian yang dilakukan secara reflektif oleh pendidik untuk meningkatkan praktik pembelajaran di kelasnya. Menurut McNiff . alam Arikunto, 2. PTK adalah bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh guru sendiri, dengan tujuan untuk meningkatkan pengajaran, mengembangkan kurikulum, dan memperbaiki kualitas pendidikan. Dalam penelitian ini, fokus tindakan adalah meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak melalui penggunaan media kartu huruf. Prosedur Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap utama: perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Siklus ini dilakukan secara berulang untuk mencapai peningkatan yang diinginkan dalam kemampuan membaca permulaan anak. Perencanaan: Pada tahap ini, peneliti merancang tindakan yang akan dilaksanakan, termasuk menyiapkan media kartu huruf dan menentukan materi yang akan diajarkan. Pelaksanaan Tindakan: Pada tahap ini, tindakan yang telah direncanakan dilaksanakan di kelas. Guru menggunakan kartu huruf sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak. Pengamatan: Selama pelaksanaan tindakan, peneliti melakukan pengamatan langsung untuk mengumpulkan data tentang proses dan hasil pembelajaran. Pengamatan ini mencakup perilaku anak selama pembelajaran dan keterlibatan mereka dalam aktivitas menggunakan kartu huruf. Refleksi: Setelah setiap siklus, peneliti melakukan refleksi terhadap hasil Refleksi ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas tindakan yang telah dilakukan dan merencanakan perbaikan untuk siklus berikutnya. Teknik Pengumpulan Data AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 Data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui tiga teknik utama: observasi, penugasan, dan dokumentasi. Data diperoleh melalui pengamatan langsung terhadap perilaku dan sikap anak selama proses pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi bagaimana anak berinteraksi dengan kartu huruf dan seberapa jauh mereka berkembang dalam kemampuan membaca permulaan. Selanjutnya, tugas diberikan kepada anak, baik secara individu maupun kelompok, untuk mengevaluasi pemahaman dan keterampilan mereka dalam mengenali dan menyuarakan huruf. Penugasan ini bertujuan untuk mengukur hasil belajar anak setelah menerima materi. Adapun dokumentasi melibatkan pengumpulan buktibukti seperti foto, hasil karya anak, dan catatan hasil kerja selama penelitian. Teknik ini digunakan untuk mendukung dan memperluas pemahaman tentang fokus Teknik Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan sistem penilaian di Taman Kanak-kanak. Data dianalisis berdasarkan kategori perkembangan anak yang dinilai dengan menggunakan tanda-tanda A Belum Berkembang (BB) A Mulai Berkembang (MB) A Berkembang Sesuai Harapan (BSH) A Berkembang Sangat Baik (BSB) Penghitungan Tingkat Pencapaian Perkembangan (TPP) dalam membaca permulaan dilakukan dengan menggunakan rumus: Indikator Kinerja dan Proses Indikator kinerja dalam penelitian ini ditetapkan berdasarkan standar yang berlaku di Taman Kanak-kanak TK Negeri Pembina Limpung. Kinerja diukur melalui dua indikator utama, yaitu indikator proses dan indikator hasil. Indikator Proses dimana tindakan dianggap berhasil jika minimal 75% dari proses pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan skenario yang telah direncanakan, baik dari segi pelaksanaan oleh guru maupun partisipasi anak didik, sedangkan indikator hasil merupakan dampak atau perubahan yang diharapkan setelah anak-anak TK A negeri Pembina Limpung mengikuti kegiatan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kemampuan membaca permulaan anak melalui penggunaan media kartu huruf di TK Negeri Pembina Limpung menunjukkan variasi dalam perkembangan kemampuan anak. Berdasarkan data yang diperoleh, mulai dari kondisi awal atau prasiklus, siklus I, dan siklus II, didapatkan hasil demikian: Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. Nilai BSB BSH Kriteria Kategori Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mulai Berkembang Belum Berkembang Jumlah Jumlah Anak Persentase (%) Tabel 4. 1: Analisis Kondisi Awal Kemampuan Membaca Permulaan Pada pra-siklus ini menilai perkembangan kemampuan membaca permulaan anak berdasarkan empat kategori, yaitu Berkembang Sangat Baik (BSB). Berkembang Sesuai Harapan (BSH). Mulai Berkembang (MB), dan Belum Berkembang (BB). Hasilnya dapat dirinci sebagai berikut: A Berkembang Sangat Baik (BSB): Sebanyak 1 anak . %) menunjukkan perkembangan yang sangat baik dalam kemampuan membaca permulaan. Anak dalam kategori ini mampu mengenali dan menyuarakan huruf dengan lancar serta mulai memahami kata-kata sederhana. A Berkembang Sesuai Harapan (BSH): Sebanyak 1 anak . %) termasuk dalam kategori berkembang sesuai harapan. Anak-anak ini mampu mengenali sebagian besar huruf dan mulai menyuarakannya dengan benar, namun masih memerlukan latihan untuk meningkatkan kelancaran dalam membaca. A Mulai Berkembang (MB): Sebanyak 2 anak . %) berada pada tahap mulai Anak-anak dalam kategori ini telah mengenal beberapa huruf tetapi masih memerlukan banyak bimbingan dalam mengenali dan menyuarakan hurufhuruf tersebut dengan benar. A Belum Berkembang (BB): Sebanyak 1 anak . %) masih berada dalam kategori belum berkembang. Anak ini belum menunjukkan kemampuan yang signifikan dalam mengenali atau menyuarakan huruf-huruf yang diperkenalkan. Adapun dari tabel di atas dapat dilihat dalam grafik sebagai berikut: Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mulai Berkembang Belum Berkembang BSB BSH Grafik 4. 1: Kondisi Awal Kemampuan Membaca Permulaan AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 Dari hasil di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar anak . %) berada pada tahap Mulai Berkembang atau lebih rendah (Belum Berkemban. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada anak-anak yang telah menunjukkan perkembangan yang baik dalam kemampuan membaca permulaan, sebagian besar masih memerlukan bimbingan dan intervensi lebih lanjut. Anak yang berada pada kategori Berkembang Sangat Baik dan Berkembang Sesuai Harapan telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, yang menandakan bahwa metode penggunaan kartu huruf sebagai media pembelajaran cukup efektif untuk anak-anak tertentu. Namun, 60% anak masih memerlukan pendampingan lebih lanjut untuk mencapai perkembangan yang optimal. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan metode pembelajaran, penambahan frekuensi latihan, atau variasi media pembelajaran untuk mengakomodasi berbagai tingkat perkembangan anak. Berdasarkan hasil ini, guru di TK Negeri Pembina Limpung disarankan untuk meningkatkan frekuensi dan variasi kegiatan menggunakan kartu huruf untuk merangsang minat dan perhatian anak dalam mengenal huruf dan bunyi, mengadopsi pendekatan pembelajaran yang lebih personal, dengan memperhatikan kebutuhan khusus masing-masing anak, terutama bagi mereka yang berada pada kategori Mulai Berkembang dan Belum Berkembang, dan melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran di rumah dengan memberikan panduan tentang cara melanjutkan latihan mengenal huruf di luar jam sekolah. Dengan demikian, diharapkan hasil pembelajaran pada siklus berikutnya akan menunjukkan peningkatan dalam persentase anak yang berada pada kategori Berkembang Sesuai Harapan atau Berkembang Sangat Baik. Berdasarkan hasil pra-siklus, maka dilakukan kegiatan Siklus I yang dilaksanakan selama 60 menit. Pada siklus I peneliti menyampaikan materi tentang tema Tanaman, sub tema Singkong. Pada kegiatan merangkai huruf membentuk huruf, kompetensi dasar yang diambil yaitu 3. engenal keaksaraan awa. Adapun kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siklus I meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang diuraikan sebagai berikut: Perencanaan Pada siklus I perencanaan penelitian tindakan kelas dimulai dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dengan Kompetensi Dasar yang diambil yaitu 3. engenal keaksaraan awa. Kemudian guru mempersiapkan media yang akan digunakan selama proses pembelajaran khususnya dalam merangkai huruf membentuk huruf dengan media kartu huruf sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Pelaksanaan Pada siklus I perencanaan penelitian tindakan kelas dimulai dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dengan Kompetensi Dasar yang diambil yaitu 3. engenal keaksaraan awa. Kemudian guru Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. mempersiapkan media yang akan digunakan selama proses pembelajaran khususnya dalam merangkai huruf membentuk huruf dengan media kartu huruf lalu membentuk huruf dengan playdough gethuk singkong sesuai kartu huruf yang di dapat dan dapat menyebutkan huruf yang di buat sesuai kartu hurufnya misal huruf dari Aoubi kayu, singkongAo sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Observasi Observasi dilakukan dengan melibatkan teman sejawat dengan menggunakan lembar observasi untuk menilai berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Berdasarkan lembar observasi selama kegiatan yang dilakukan oleh anak diperoleh hasil sebagai berikut: Nilai BSB BSH Kriteria Kategori Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mulai Berkembang Belum Berkembang Jumlah Jumlah Anak Persentase (%) Tabel 4. 2: Analisis Hasil Observasi Siklus I Hasil penelitian Siklus I menunjukkan bahwa dari 5 anak yang diamati, sebagian besar anak berada pada kategori perkembangan yang baik. Sebanyak 2 anak atau 40% berada dalam kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB), yang menunjukkan bahwa mereka telah menunjukkan pencapaian yang sangat baik dalam perkembangan mereka. Selain itu, 2 anak lainnya, juga sebanyak 40%, berada dalam kategori "Berkembang Sesuai Harapan" (BSH), yang berarti mereka berkembang sesuai dengan ekspektasi yang diharapkan. Ada 1 anak . %) yang berada pada kategori "Mulai Berkembang" (MB), yang menunjukkan bahwa anak tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda perkembangan, namun belum sepenuhnya mencapai ekspektasi yang diinginkan. Tidak ada anak yang berada dalam kategori "Belum Berkembang" (BB), yang berarti semua anak setidaknya menunjukkan beberapa tingkat perkembangan. Data ini menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak dalam penelitian ini telah berkembang dengan baik, meskipun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama bagi anak yang berada dalam kategori MB. Selanjutnya, dari tabel di atas dapat dilihat dalam grafik berikut: AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 Berkembang Berkembang Mulai Sangat Baik Sesuai Harapan Berkembang BSB BSH Belum Berkembang Grafik 4. 2: Hasil Pengamatan Siklus I Hasil penelitian Siklus I menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah menunjukkan perkembangan yang baik dalam kemampuan membaca permulaan, dengan 40% anak berada pada kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB) dan 40% lainnya pada kategori "Berkembang Sesuai Harapan" (BSH). Namun, terdapat 20% anak yang masih berada pada tahap "Mulai Berkembang" (MB), yang menunjukkan bahwa mereka memerlukan perhatian lebih untuk mencapai tingkat perkembangan yang diharapkan. Tidak ada anak yang berada pada kategori "Belum Berkembang" (BB), yang merupakan hasil positif, namun tetap ada tantangan untuk memastikan bahwa semua anak dapat mencapai perkembangan optimal. Dari hasil ini, dapat disimpulkan bahwa meskipun sebagian besar anak telah menunjukkan perkembangan yang memuaskan, pendekatan pembelajaran yang digunakan perlu disesuaikan lebih lanjut untuk mendukung anak-anak yang berada dalam kategori "Mulai Berkembang". Ini penting agar mereka dapat mengejar ketertinggalan dan bergerak ke kategori yang lebih tinggi dalam siklus berikutnya. Oleh karena itu perlu ada tindak lanjut ke Siklus II dengan fokus utama di Siklus II adalah memberikan intervensi tambahan bagi anak-anak yang berada dalam kategori "Mulai Berkembang" (MB). Ini bisa dilakukan melalui pendekatan pembelajaran yang lebih personal, seperti sesi bimbingan tambahan atau kegiatan bermain yang lebih interaktif yang berfokus pada pengenalan huruf dan simbol. Selain itu, degan menggunakan variasi media pembelajaran yang lebih kreatif dan interaktif, seperti permainan kartu huruf yang lebih menantang dan menarik, untuk meningkatkan minat dan keterlibatan anak dalam proses belajar. Pendekatan ini dapat membantu anak-anak yang berada dalam kategori BSH dan MB untuk meningkatkan keterampilan mereka. Akan tetapi, meskipun anak-anak dalam kategori BSB dan BSH sudah menunjukkan perkembangan yang baik, penting untuk terus memberikan tantangan yang sesuai agar mereka tidak stagnan. Ini dapat dilakukan dengan memperkenalkan bacaan yang lebih kompleks atau aktivitas yang mendorong mereka untuk berpikir lebih kritis. Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. Dengan pendekatan ini, diharapkan pada akhir Siklus II, lebih banyak anak akan berada dalam kategori "Berkembang Sangat Baik" atau "Berkembang Sesuai Harapan," sementara anak yang sebelumnya berada dalam kategori "Mulai Berkembang" dapat menunjukkan peningkatan signifikan. Selanjutnya, pada siklus II peneliti menyampaikan materi tentang tema Tanaman, sub buah-buahan. Pada kegiatan game berlari mengambil sebuah huruf, kompetensi dasar yang diambil yaitu 3. engenal keaksaraan awa. Adapun kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran pada siklus II meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi yang diuraikan sebagai berikut: Perencanaan Pada siklus II perencanaan penelitian tindakan kelas dimulai dari penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) dengan kompetensi Dasar yang diambil yaitu 3. engenal keaksaraan awa. Kemudian guru mempersiapkan media yang akan digunakan selama proses pembelajaran khususnya dalam membaca huruf menjadi sebuah huruf awal buah buahan dengan media kartu huruf nama buah buahan sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan. Pelaksanaan Awal pelaksanaan pembelajaran di siklus II yang memfokuskan pada kegiatan membaca permulaan dengan media kartu huruf adalah guru mengkondisikan peserta didik. Hal ini dilakukan agar anak memiliki kesiapan saat mengikuti Guru memberikan apersepsi dan melakukan tanya jawab dengan anak yang berkaitan dengan materi sayur-sayuran, melalui media sayur asli dan juga melalui gambar sayaur yang di dalamnya ada huruf sesuai nama sayurnya, pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pendekatan saintifik yang berorientasi HOTS dan TPACK dengan menayangkan juga video pembelajaran macam-macam sayuran dan manfaatnya. Hal ini dilakukan untuk memancing anak berfikir kreatif dan mampu menemukan informasi baru sendiri melalui kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengumpulkan informasi, lalu mengkomunikasikan dengan guru menggali pertanyaan yang memuat 5W 1H. Kegiatan diawali dengan berbaris, salam, dan berdoa, kemudian guru mengajak bernyanyi untuk menambah semangat anak. Setelah itu guru memberikan apersepsi tentang tema dengan melakukan tanya jawab dengan anak, mengajak anak melihat video, dan mengamati bagian-bagian tanamam sayuran serta manfaat dari sayuran. Kemudian guru menjelaskan tentang kegiatan apa yang akan dilakukan. Pada siklus II kegiatan yang dilakukan yaitu game berlari mengambil kartu huruf lalu memasangkanya pada gambar atau sayuran yang sesuai. Sebelum AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 kegiatan dimulai guru memberikan contoh terlebih dahulu bagaimana cara Setelah itu guru dan anak membuat kesepakatan bersama mengenai aturan-aturan selama kegiatan agar kegiatan bisa terlaksana dengan tertib. Selanjutnya guru memberi kesempatan kepada anak untuk melakukan kegiatan yang telah disiapkan, dan guru mendampingi anak selama proses pembelajaran. Usai kegiatan anak diajak berdiskusi dan menceritakan kembali apa yang telah dilakukan anak. Observasi Observasi dilakukan dengan melibatkan teman sejawat dengan menggunakan lembar observasi untuk menilai berlangsungnya proses pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi. Berdasarkan lembar observasi selama kegiatan yang dilakukan oleh anak diperoleh hasil sebagai berikut: Nilai BSB BSH Kriteria Kategori Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mulai Berkembang Belum Berkembang Jumlah Jumlah Anak Persentase (%) Tabel 4. 3 : Analisis Hasil Observasi Siklus II Hasil penelitian Siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam perkembangan kemampuan membaca permulaan pada anak-anak. Dari 5 anak yang diamati, 4 anak . %) telah mencapai kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB), menunjukkan bahwa mayoritas anak-anak telah mencapai tingkat perkembangan yang optimal dalam kemampuan membaca permulaan mereka. Sementara itu, 1 anak . %) berada dalam kategori "Berkembang Sesuai Harapan" (BSH), yang berarti anak tersebut masih berkembang sesuai ekspektasi tetapi belum mencapai tahap tertinggi. Tidak ada anak yang berada dalam kategori "Mulai Berkembang" (MB) atau "Belum Berkembang" (BB), yang menandakan bahwa semua anak setidaknya telah memenuhi harapan dalam perkembangannya. Selanjutnya, dari tabel di atas dapat dilihat dalam grafik berikut: Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. Berkembang Berkembang Mulai Belum Sangat Baik Sesuai Berkembang Berkembang Harapan BSB BSH Grafik 4. 3 : Hasil Pengamatan Siklus II Dibandingkan dengan hasil Siklus I, terlihat adanya peningkatan dalam jumlah anak yang berada di kategori BSB, yang naik dari 40% menjadi 80%. Selain itu, kategori MB yang pada Siklus I masih ada, kini sudah tidak ada lagi, menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan dalam Siklus II berhasil membantu anak-anak yang sebelumnya tertinggal untuk mencapai perkembangan yang lebih baik. Ini menunjukkan efektivitas dari tindak lanjut yang dilakukan di Siklus II, baik dari segi intervensi tambahan maupun penggunaan media pembelajaran yang lebih efektif Hasil penelitian Siklus II menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca permulaan pada anak-anak, dengan 80% anak mencapai kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB) dan 20% berada dalam kategori "Berkembang Sesuai Harapan" (BSH). Tidak ada lagi anak yang berada di kategori "Mulai Berkembang" (MB) atau "Belum Berkembang" (BB), yang menandakan bahwa seluruh anak telah mencapai minimal perkembangan yang diharapkan. Peningkatan ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran dan intervensi yang diterapkan dalam Siklus II, seperti penggunaan media yang lebih variatif dan interaktif serta perhatian khusus pada anak-anak yang membutuhkan, telah efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan. Refleksi dari hasil ini menunjukkan bahwa pendekatan yang lebih terstruktur dan personal, ditambah dengan penggunaan media pembelajaran yang menarik, dapat memberikan dampak positif yang signifikan pada perkembangan kemampuan anak. Anak-anak yang sebelumnya berada di kategori "Mulai Berkembang" telah berhasil meningkatkan kemampuannya ke kategori yang lebih tinggi, dan sebagian besar anak telah mencapai perkembangan yang sangat baik. Ini menunjukkan bahwa proses belajar yang dirancang sesuai dengan kebutuhan anak, dengan penguatan melalui media dan aktivitas yang tepat, dapat mendorong pencapaian yang lebih optimal. Namun, meskipun hasilnya sudah sangat baik, refleksi ini juga mengingatkan akan pentingnya menjaga konsistensi dan terus memantau perkembangan anak secara Anak yang berada dalam kategori BSH perlu didorong lebih lanjut agar dapat mencapai kategori BSB. Selain itu, penting juga untuk terus mengevaluasi dan AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 menyesuaikan metode pengajaran agar tetap sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak, memastikan bahwa semua anak dapat mencapai potensi maksimal mereka dalam proses belajar. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan oleh guru selama kegiatan berlangsung, dapat dilihat dari tabel hasil perbandingan hasil observasi mulai dari kegiatan pra siklus, siklus I, sampai siklus II sebagi berikut : Nilai BSB BSH Kriteria Kategori Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mulai Berkembang Belum Berkembang Jumlah Persentase (%) Pra Siklus Siklus I Siklus II Tabel 4. 4 : Analisis Hasil Observasi Pra Skilus. Siklus I dan Siklus II Selanjutnya, berdasarkan tabel di atas dapat digambarkan melalui grafik berikut ini: Berkembang Sangat Baik Berkembang Sesuai Harapan Mulai Berkembang Belum Berkembang BSB BSH Pra Siklus Siklus I Siklus II Grafik 4. 4 : Hasil Pengamatan Pra Siklus. SIklus I dan Siklus II Melihat data dari tabel dan juga grafik yang ditunjukkan, maka secara keseluruhan, dari Pra Siklus hingga Siklus II, terjadi peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca permulaan anak-anak. Intervensi dan pendekatan pembelajaran yang dilakukan telah berhasil meningkatkan persentase anak yang berada di kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB) dari 20% pada Pra Siklus menjadi 80% pada Siklus II. Anak-anak yang sebelumnya berada di kategori "Mulai Berkembang" dan "Belum Berkembang" telah berhasil meningkatkan kemampuan mereka, sehingga tidak ada lagi yang berada dalam kategori tersebut pada akhir Siklus II. Ini menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan dalam pembelajaran telah efektif dan berhasil mengoptimalkan perkembangan kemampuan membaca permulaan pada anak-anak. Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca PermulaanA. (Mutamima. Hasil penelitian dari Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam kemampuan membaca permulaan anak-anak. Pembahasan hasil ini dapat dihubungkan dengan teori perkembangan anak, teori belajar bahasa permulaan, dan teori penggunaan media konkrit seperti kartu huruf. Jean Piaget dalam teori perkembangan kognitifnya menyatakan bahwa anakanak usia dini berada pada tahap praoperasional, di mana mereka mulai mengembangkan keterampilan bahasa dan simbolik, tetapi belum mampu berpikir secara logis tentang informasi yang abstrak (Nainggolan & Daeli, 2. Dalam konteks ini, perkembangan membaca permulaan yang ditunjukkan oleh hasil PTK menggambarkan bahwa anak-anak mulai mampu mengenali simbol-simbol . dan menghubungkannya dengan bunyi serta makna yang lebih kompleks seiring Peningkatan dari Pra Siklus ke Siklus II mengindikasikan bahwa dengan stimulasi yang tepat, anak-anak dapat mempercepat transisi mereka dalam memahami simbol-simbol ini dengan lebih baik. Selain itu, menurut teori Vygotsky, perkembangan bahasa dan pemahaman anak sangat dipengaruhi oleh interaksi sosial dan penggunaan bahasa dalam konteks yang bermakna (Etnawati, 2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang berada dalam lingkungan yang mendukung . isalnya, penggunaan media yang tepat dan interaksi yang intensif selama pembelajara. menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan membaca permulaan mereka. Siklus I menunjukkan peningkatan dari Pra Siklus, di mana anak-anak mulai terlibat lebih aktif dalam pembelajaran, dan ini berlanjut hingga Siklus II, di mana sebagian besar anak mencapai kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB). Hal ini sejalan dengan gagasan Vygotsky bahwa pembelajaran yang efektif terjadi dalam Zona Perkembangan Proksimal (ZPD), di mana dukungan guru atau penggunaan alat bantu seperti kartu huruf membantu anak-anak mengembangkan kemampuan yang lebih tinggi. Di sisi lain, menurut teori Bruner, anak-anak belajar paling efektif melalui pengalaman langsung dan penggunaan media konkret yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka (Ibda, 2. Kartu huruf adalah salah satu bentuk media konkret yang dapat membantu anak-anak dalam memahami konsep abstrak seperti huruf dan bunyi. Penggunaan kartu huruf dalam PTK ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca anak-anak, sebagaimana tercermin dari hasil Siklus I dan II. Pada Siklus I, kartu huruf membantu anak-anak mengembangkan pengenalan huruf, sementara pada Siklus II, kartu huruf mungkin telah digunakan dalam kegiatan yang lebih kompleks seperti membentuk kata atau memahami konteks bacaan sederhana, yang mengakibatkan peningkatan yang signifikan dalam jumlah anak yang mencapai kategori BSB. AUDIENSI: Jurnal Pendidikan dan Perkembangan Anak. Volume 3. No. April 2024, 44-61 SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan melalui media kartu huruf pada anak usia 4-5 tahun TK Negeri Pembina Limpung Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Tahun Pelajaran 2022/2023. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang dilakukan, termasuk penggunaan media konkret seperti kartu huruf, terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan pada anak-anak usia dini. Dari Pra Siklus hingga Siklus II, terjadi peningkatan yang signifikan, terutama dalam kategori "Berkembang Sangat Baik" (BSB), yang menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan sejalan dengan teori perkembangan kognitif Piaget, teori interaksi sosial Vygotsky, dan teori belajar melalui pengalaman langsung Bruner. Oleh karena itu, disarankan agar pendekatan yang serupa diterapkan secara konsisten dalam pembelajaran membaca di tahap-tahap awal, dengan penekanan pada penggunaan media konkret dan dukungan interaksi yang intensif untuk mengoptimalkan perkembangan anak. DAFTAR PUSTAKA