Page . Caring : Jurnal Keperawatan Vol. No. 2, 2025, pp. 92 Ae 103 ISSN 1978-5755 (Onlin. DOI: 10. 29238/caring. Journal homepage: http://e-journal. id/index. php/caring/ Pengaruh Stimulus Kutaneus Slow Stroke Back Massage Terhadap Nyeri Sendi Pada Lansia Rheumatoid Arthritis di Wilayah Kerja Puskesmas Mamajang Sri Ayu Rahayu S. Paneo 1a*. Zakariyati 1. Nurfasila1. Hasbullah1 Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar. Indonesia ayupsikumy@gmail. HIGHLIGHTS Stimulus Kutaneus Slow Stroke Back Massage terhadap Nyeri Lansia dengan Rheumatoid Arthritis ARTICLE INFO Article history Received date Mar 11th 2025 Revised date Jul 13th 2025 Accepted date Jun 25th 2025 Keywords: Elderly Joint pain Non-pharmacological therapy Rheumatoid arthritis Slow stroke back massage ABSTRACT/ABSTRAK Rheumatoid arthritis is a chronic inflammatory condition that causes joint pain and significantly reduces the quality of life in the elderly. Nonpharmacological interventions such as cutaneous slow stroke back massage are believed to reduce pain through skin stimulation and activation of the Gate Control Theory mechanism. This quasi-experimental study aimed to evaluate the effectiveness of cutaneous slow stroke back massage in reducing joint pain intensity in elderly women with rheumatoid A total of 60 elderly individuals diagnosed with rheumatoid arthritis at the Mamajang Public Health Center were selected through purposive sampling and divided into intervention and control groups. The intervention group received cutaneous slow stroke back massage once daily for one week . Ae5 minutes per sessio. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS) before and after the intervention. Data analysis using the Wilcoxon Signed Rank Test and Mann-Whitney U Test showed a significant reduction in pain intensity in the intervention group . < 0. , and a significant difference between the two groups . < 0. These findings suggest that cutaneous slow stroke back massage is an effective and safe non-pharmacological method for managing joint pain in elderly patients with rheumatoid arthritis, particularly in primary healthcare Copyright A 2025 Caring : Jurnal Keperawatan. All rights reserved *Corresponding Author: Sri Ayu Rahayu S. Paneo. Jurusan Keperawatan Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar. Jl Garuda NO. 3-AD Makassar. Email: ayupsikumy@gmail. PENDAHULUAN Usia harapan hidup di Indonesia meningkat dari 68,6 tahun menjadi 70,8 tahun. Pada tahun 2030Ae2035. Indonesia akan memasuki periode lansia, dengan 10% penduduk berusia 60 tahun ke atas pada tahun 2020 dan 17% pada tahun 2020, mencapai 8,03% dari 257. 349 penduduk (Kementerian Kesehatan, 2. Page . satu penyakit muskuloskeletal yang sering menyerang lansia adalah artritis reumatoid, yang menempati peringkat kedua sebagai penyebab kecacatan yang paling banyak dilaporkan di seluruh dunia. Selain itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan . penyakit rematik menempati urutan ke-10 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Menurut World Health Organization . menyatakan bahwa Pada tahun 2019, 18 juta orang di seluruh dunia hidup dengan rheumatoid arthritis Sekitar 70% penderita rheumatoid arthritis adalah wanita, dan 55% berusia lebih dari 55 tahun dan penderita RA di seluruh dunia, mencapai 20% dari penduduk dunia. Prevalensi nyeri rheumatoid arthritis di beberapa Negara ASEAN adalah Indonesia 31,3%. India 28,2%. Banglades 26,3%. Filipina 16,3% dan Vietnam 14,9%. Hasil Riset Kesehatan Dasar Riskesdas, . prevalensi rheumatoid arthritis berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan adalah mencapai 11,9%. Sedangkan berdasarkan diagnosis atau gejala, prevalensinya mencapai 24,7%. Prevalensi penyakit rheumatoid arthritis lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria dan yang paling berisiko terkena penyakit ini adalah antara 40-60 tahun, prevalensi rheumatoid arthritis di Indonesia bervariasi di setiap daerah. Cara mengatasi rasa nyeri sendi serta mencegah penyakit rematik menjadi lebih parah, dapat dilakukan dengan dua metode yaitu farmakologi dan non-farmakologi, dengan farmakologi bisa menggunakan obat-obatan namun hal ini memiliki banyak resiko karena pada lansia mengalami perubahan farmakodinamik, farmakokinetik serta metabolisme obat. penggunaan obat jangka panjang juga dapat mengakibatkan pendarahan pada saluran cerna dan gangguan ginjal (Mawarni & Rematik, 2018. Susilowati, 2. Metode yang kedua adalah terapi Non-Farmakologi stimulus cutaneus slow stroke back massage merupakan salah satu alternatif dalam memberikan terapi untuk mengurangi nyeri karena mudah dilakukan sehingga dapat dilakukan oleh keluarga, tidak memerlukan biaya yang mahal dan tidak memerlukan peran aktif dari pasien sehingga dapat dilakukan meskipun respon pasien terhadap nyeri berlebihan (El Geziry et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Asman, 2020 menguji pengaruh stimulus cutaneus slow stroke back massage pada pasien RA (Asman, 2. Penelitian selanjutnya menguji pengaruh pemberian stimulus cutaneus slow stroke back massage terhadap perubahan kualitas tidur pasien stroke iskemik hasil penelitian tersebut terdapat pengaruh terhadap pemberian stimulus cutaneus slow stroke back massage terhadap perubahan kualitas tidur (Martini, 2. Berdasarkan penelitian sebelumnya, nampaknya belum banyak penelitian yang meneliti mengenai efektivitas stimulasi pijat punggung kutaneus slow stroke back massage terhadap intensitas nyeri pada lansia spesifik pada lansia wanita dengan RA. Sehingga peneliti tertarik mengetahui efektifitas pengaruh kutaneus slow stroke back massage terhadap penurunan intesitas nyeri pada lansia dengan Rheumatoid Arthritis (RA). METODOLOGI PENELITIAN Metode penelitian yang dilakukan adalah quasi eksperimen dengan desain penelitian pretest-posttest with control group design. Dalam penelitian ini kelompok perlakuan atau yang diberikan intervensi kutaneus slow stroke back massage akan diberikan dua kali pengukuran yakni sebelum dan sesudah diberikan intervensi. Populasi pada penelitian ini adalah lansia wanita yang menderita rheumatoid arthritis diwilayah kerja puskesmas Mamajang. Jumlah populasi lansia wanita sebanyak 114 dengan perhitungan rumus slovin dan mempertimbangkan jumlah drop out didapatkan jumlah sampel sebanyak 56 sampel yang dibagi menjadi 26 lansia kelompok kontrol dan 30 lansia pada kelompok intervensi. Penelitian ini menggunakan alat ukur NRS (Numeric Rating Scal. yang telah terstandar. Teknik pengumpulan sampling dengan pendekatan purposive sampling. Adapun analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat Page . Mann Whitney Test dan Wilcoxon Test. Penelitian ini telah disetujui oleh komite etik dengan No. 041/LP3M/05/A. 5-V/IX/5/2024. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1 Distribusi karakteristik responden pada kelompok Intervensi dan kelompok kontrol . Karakteristik Responden Umur 55-65 Tahun 66-74 Tahun 75-90 Tahun Pendidikan Pendidikan Dasar Pendidikan Menengah Pendidikan Tinggi Pekerjaan Wiraswasta IRT Lama menderita 1-5 Tahun 5-10 tahun Konsumsi Obat Konsumsi Obat Tidak Konsumsi Total Intervensi Kontrol Berdasarkan tabel 1 jumlah responden yang paling banyak pada kelompok intervensi adalah usia 55-65 sebanyak 13 wanita lansia . ,1%). Sebagian besar responden berpendidikan dasar sebanyak 23 wanita lansia . ,2%), untuk jenis kelamin paling banyak adalah perempuan 26 orang . %), untuk pekerjaan yang paling tinggi adalah IRT sebanyak 24 . ,6 %) lansia wanita, rata-rata responden sudah menderita rheumatoid arthritis selama 1-5 tahun sebanyak 20 . , mayoritas responden tidak mengkonsumsi obat 26 . %). Sedangkan jumlah responden yang paling banyak pada kelompok kontrol adalah usia 55-65 sebanyak 16 . ,3%) wanita lansia. Rata-rata responden berpendidikan dasar sebanyak 25 wanita lansia . ,3%), untuk pekerjaan yang paling tinggi adalah IRT sebanyak 28 . ,3 %) lansia wanita, rata-rata responden sudah menderita rheumatoid arthritis selama 1-5 tahun sebanyak 17 . ,7%)), mayoritas responden mengkonsumsi obat sebanyak 29 . ,7%). Gambaran rata-rata nyeri pada kedua kelompok penelitian Tabel 2. Analisis univariat gambaran rata-rata nyeri pada pretest dan posttest pada kedua kelompok penelitian Variabel Kelompok Intervensi Nyeri Ringan . -3 NRS) Nyeri Sedang . -6 NRS) Nyeri Berat . -10 NRS) Kelompok Kontrol Nyeri Ringan . -3 NRS) Nyeri Sedang . -6 NRS) Nyeri Berat . -10 NRS) Total PreTest PostTest Page . Pada pretest kelompok intervensi intensitas nyeri paling banyak adalah nyeri berat 21 . ,8%) untuk intensita nyeri pada posttest kelompok intervensi intensitas nyeri paling tinggi adalah nyeri ringan 12 . ,2%). Pada pretest kelompok kontrol intensitas nyeri paling banyak adalah nyeri berat 18 . %) untuk intensita nyeri paling banyak posttest pada kelompok kontrol adalah nyeri berat 18 . %). Hasil uji perbedaan rata-rata intensitas nyeri pada kelompok intervensi Tabel 3. Hasil uji perbedaan rata-rata intensitas nyeri rheumatoid arthritis pretest dan posttest pada kelompok intervensi Variabel Pretest intervensi Posttest intervensi Mean Rank 13,50 Sum of Ranks 351,000 P Value 0,000 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan hasil pretest dan posttest Intervensi kutaneus slow stroke back massage didapatkan hasil mean rank 13,50 dan sum of rank 465,000 dengan nilai p value 0,000 (<0,. maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh pemberian kutaneus slow stroke back massage terhadap penurunan intensitas nyeri rheumatoid arthritis. Hasil uji perbedaan rata-rata intensitas nyeri pada kelompok kontrol Tabel 4. Hasil uji perbedaan rata-rata intensitas nyeri rheumatoid arthritis pretest dan posttest pada kelompok kontrol Variabel Pretest kontrol Post-test kontrol Mean Rank 0,000 Sum of Ranks 0,000 P Value 1,000 Berdasarkan tabel 4 menunjukkan hasil pretest dan posttest pada kelompok kontrol mean rank 0,000 dan sum of rank 0,000 dengan nilai p value 1,000 (>0,. maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada pengaruh pada kelompok kontrol. Hasil uji perbedaan posttest pada kelompok intervensi dan kelompok Tabel 5. Hasil uji perbedaan posttest kelompok intervensi kutaneus slow stroke back massage dan kelompok kontrol Variabel Post Test Kelompok intervensi Post Test Kelompok Kontrol Mean Rank 15,12 40,10 Sum of Ranks 393,00 1203,00 P value 0,000 Berdasarkan table 5. terdapat dua kelompok yang dilakukan uji mannwhitney yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol didapatkan hasil asymp Sig . -taile. nilai p = 0,000 < a = 0,05 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil tes kelompok intervensi kutaneus slow stroke back massage dengan kelompok Kontrol, hasil dari mean rank dari kelompok intervensi 15,12 dan hasil mean rank kelompok kontrol 40,10 yang artinya kelompok intervensi memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap hasil tes dibandingkan dengan kelompok kontrol. PEMBAHASAN Karakteristik Responden . Umur Page . Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada rentang usia 55-65 tahun, pada kelompok intervensi 13 responden . %) dan kontrol 16 . ,3%). Fenomena ini berkaitan dengan penurunan fungsi organ dan sistem kekebalan tubuh yang umumnya terjadi pada lansia. Penurunan fungsi tubuh ini menjadikan lansia kebih beresiko mengalami masalah peradangan sendi (Miller, 2. Temuan ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Aprilyadi . yang menyatakan bahwa rheumatoid arthritis dapat menyerang berbagai rentang usia, dimana prevalensinya cenderung meningkat pada kelompok dewasa hingga paruh baya, terutama di atas usia lima puluh lima tahun. Selain itu, proses penuaan diketahui dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh (Septiani et al. , 2. Pendidikan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berpendidikan dasar pada kelompok intervensi 23 . ,5%) dan kontrol 25 . ,3%) responden. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi kurangnya pengetahuan responden mengenai rheumatoid arthritis. Tingkat pendidikan yang rendah berkaitan dengan kurangnya pemahaman tentang suatu Hal ini didukung oleh penelitian Luh et al. yang menunjukkan adanya hubungan positif antara tingkat pendidikan dan pengetahuan, yang berdampak pada peningkatan sikap dan pemahaman yang baik mengenai pencegahan dan penghindaran komplikasi rheumatoid arthritis. Pekerjaan Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT), yaitu pada kelompok intervensi 24 responden . ,3%) dan kelompok kontrol 24 . ,3%). Aktivitas rumah tangga umumnya membutuhkan pengerahan tenaga yang signifikan. Temuan ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Novianty et al. , yang mengidentifikasi bahwa pekerjaan dengan beban berat dan tekanan tinggi, penggunaan tangan dan kaki dalam jangka waktu yang lama, serta aktivitas fisik yang berulang dan berkepanjangan. Pekerjaan IRT berpotensi memperparah gangguan sendi pada penderita rheumatoid arthritis. Aktivitasaktivitas tersebut, termasuk aktivitas yang umum dilakukan oleh IRT tanpa asisten rumah tangga yang cenderung tanpa batasan waktu dan bersifat repetitif, dapat memicu stres. Stres yang dialami dapat meningkatkan produksi sitokin, yang selanjutnya berdampak pada perkembangan penyakit autoimun dan memicu kelelahan otot serta sendi yang berujung pada peradangan (Du et al. , 2. Penelitian lain menunjukkan adanya perbedaan kualitas hidup antara individu yang bekerja dan yang tidak bekerja. Penghasilan yang diperoleh melalui pekerjaan berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup (Wahid et , 2. Namun demikian, beberapa jenis pekerjaan juga berpotensi memicu reaksi autoimun, termasuk rheumatoid arthritis, akibat paparan terhadap bahan kimia atau zat berbahaya, seperti silika, asbes, atau bahan kimia industri tertentu (Arfinda et al. , 2. Lama Menderita Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden telah menderita rheumatoid arthritis selama 1-5 tahun, yaitu pada kelompok intervensi sebesar 20 . ,9%) dan kelompok kontrol 17 . ,7%) responden. Durasi menderita penyakit ini berkontribusi pada peningkatan keparahan penyakit dan intensitas nyeri yang dirasakan. Temuan ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Hapipah et al. , yang menyatakan bahwa dalam rentang 1-5 tahun pertama, penderita rheumatoid arthritis mulai mengalami kerusakan sendi, terutama dalam dua tahun pertama. Kerusakan Page . ini diakibatkan oleh gesekan antar tulang karena penipisan sendi, hilangnya cairan pelumas, dan pengentalan cairan sendi. Seiring berjalannya waktu dan berlanjutnya peradangan, kerusakan sendi berpotensi menjadi lebih serius dan memperburuk rasa sakit (Febriana, 2. Konsumsi Obat Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok intervensi, mayoritas responden, yaitu pada kelompok intervensi yang mengkonsumsi obat-obatan farmakologis sejumlah 26 . %) dari kelompok kontrol dan sejumlah 29 . ,7%) dari kelompok intervensi. Sementara itu, pada kelompok kontrol terdapat 1 responden . 3%). Kecenderungan tidak mengkonsumsi obat farmakologis pada kelompok kontrol disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain preferensi beberapa lansia untuk menghindari konsumsi obat-obatan dan kecenderungan sebagian lansia untuk menggunakan pengobatan tradisional saat mengalami keluhan kesehatan. Hal ini didukung oleh Nurmainah et al . yang mengungkapkan bahwa ketidakpatuhan lansia dalam mengkonsumsi pengobatan karena kekhawatiran tentang efek samping dari terapi yang dilakukan. Gambaran rata-rata nyeri pada kedua kelompok Berdasarkan tabel 1 hasil pretest menunjukkan dominasi nyeri berat pada kelompok intervensi . ,8%) dan pada kelompok kontrol . %). Setelah intervensi, terjadi penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi menjadi kategori ringan . ,3%), sementara kelompok kontrol tetap didominasi nyeri berat . %). Peneliti berasumsi faktor usia . tahun ke ata. dan faktor aktivitas fisik dapat menjadi faktor yang mempengaruhi nyeri. Asumsi ini didukung oleh penelitian Septiani et al. yang berkontribusi terhadap tingginya prevalensi nyeri berat. Penelitian lain menunjukkan bahwa mayoritas responden yang mengalami nyeri berat berprofesi sebagai IRT karena lansia perempuan memiliki postur tidak proporsional . enderung membungku. , mudah mengalami stress psikososial, ketiadaan dukungan keluarga dalam mengatasi nyeri, kondisi peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan penurunan hormon estrogen (Szoeke et al. , 2013. Pandey et al. , 2. Sementara itu, responden dengan nyeri sedang dan nyeri ringan disebabkan cenderung kurang beraktivitas fisik, yang sesuai dengan temuan Hernawati et al. bahwa kurangnya aktivitas dapat menurunkan kualitas hidup dan mobilitas, menciptakan siklus negatif antara rasa sakit dan penurunan keinginan untuk bergerak. Penelitian juga ini menginvestigasi pengaruh aktivitas fisik terhadap intensitas nyeri pada penderita rheumatoid arthritis, membandingkan data pretest dan post-test. Sebagaimana diindikasikan oleh Savitri et al. aktivitas fisik tertentu, terutama yang melibatkan gerakan berulang atau beban berat pada sendi yang terkena, berpotensi memperburuk gejala, termasuk peningkatan peradangan dan nyeri. Sebaliknya, kurangnya aktivitas fisik juga dapat berkontribusi terhadap kelemahan otot dan kurangnya dukungan sendi. Hasil Uji Perbedaan pretest dan posttest pada kelompok intervensi dan Pada penelitian terhadap 26 responden pada kelompok intervensi dengan rata-rata usia di atas 55 tahun, ditemukan bahwa sebagian besar responden mengalami nyeri berat . ,8%) dan sedang . ,2%) pada pengukuran pre-test. Usia lanjut menjadi faktor kontribusi terhadap nyeri sendi yang dialami, terkait dengan potensi penurunan fungsi organ. Page . Setelah pemberian terapi kutaneus slow stroke back massage selama 7 hari berturut-turut, terjadi penurunan intensitas nyeri pada responden. Hasil posttest menunjukkan bahwa mayoritas responden . ,2%) mengalami nyeri ringan, dengan sisanya . ,8%) mengalami nyeri sedang. Rata-rata intensitas nyeri rheumatoid arthritis yang dialami responden bergeser ke kategori ringan. Perubahan ini disebabkan oleh mekanisme pelepasan endorfin yang dipicu oleh massage, yang bekerja dengan mengurangi transmisi sinyal nyeri (Priscilla & Afriyanti, 2. Temuan lain juga mengungkapkan bahwa stimulasi slow stroke back massage selama 7 hari dapat meningkatkan sensasi rileks pada lansia dengan meningkatkan aktivitas kerja saraf parasimpatis dan menurunkan kerja saraf simpatis yang berakibat pada pelepasan neurotransmitter asetilkolin dan memicu produksi dopamin sehingga terjadi rileksasi dan nyeri mengalami penurunan (Safitri et al. , 2023. Hayati & Wibowo, 2. Penelitian ini masih terdapat responden yang mengalami nyeri sedang, dikarenakan setiap orang menerima terapi dengan respons yang berbeda. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Putri et al. bahwa setiap orang memiliki ambang toleransi terhadap nyeri yang berbeda-beda. Beberapa pasien mengalami persepsi nyeri yang lebih tinggi meskipun mereka telah menerima perawatan, sehingga nyeri mereka hanya berkurang tetapi tidak hilang Nyeri yang disebabkan oleh penyakit rheumatoid arthritis yang seringkali bersifat kronis dan progresif. Penelitian lainnya oleh Ningrum & Novitasari . mengindikasikan adanya korelasi antara tingkat kenyamanan yang dirasakan responden selama pemberian sentuhan dan pijatan punggung dengan penurunan persepsi nyeri dimana peningkatan kenyamanan dan relaksasi berperan dalam mengurangi intensitas nyeri yang dirasakan. Perbedaan nilai penurunan nyeri pada kedua kelompok memiliki nilai beda skala NRS yang signifikan pada kelompok intervensi dan tidak terdapat perbedaan untuk kelompok kontrol. Perbedaan skala ini merujuk pada perbedaan nilai skala berat dari 21 responden menjadi 0 responden, sementara kelompok kontrol tidak ada perubahan skala. Penurunan nyeri ini dapat didasari oleh karakteristik lama menderita responden pada kelompok intervensi dimana dominasi yang menderita RA adalah kategori 1-5 tahun sejumlah 76. Rasa nyeri yang dirasakan akan terasa lebih intens dengan durasi penyakit yang lebih Hal ini diperkuat penelitian oleh Foucher et al . bahwa semakin lama gejala berlangsung maka semakin buruk mekanisme peredaman nyeri sehingga semakin tinggi pula kepekaan terhadap nyeri. Lansia wanita mudah mengalami nyeri berat dengan usia 51-60 tahun karena penuaan menyebabkan neuroplasticity yang memfasilitasi sentral sensitization dan inflamasi dan mendukung nyeri kronis pada wanita (Milan-Mattos et al. , 2019. Tinnirello et al. Perbedaan posttest kelompok intervensi kutaneus slow stroke back massage dan kelompok kontrol Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok intervensi yang menerima kutaneus slow stroke back massage dan kelompok Kelompok intervensi menunjukkan hasil tes yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol. Perbedaan ini disebabkan oleh intervensi kutaneus slow stroke back massage yang diberikan selama 7 hari. Prosedur pemijatan ini, yang meliputi gosokan punggung dengan kecepatan 60 usapan per menit selama 3-5 menit setiap sesi (Diah Andjani, 2016. Tulak et al. , 2. Peneliti mengkaji kondisi kulit klien sekaligus memberikan stimulasi taktil. Dengan durasi 3-5 menit memberikan efek yang optimal, durasi ini membuat transisi ke keadaan Page . relaksasi,dan memastikan bahwa efek relaksasi dan pengurangan nyeri dapat dicapai secara maksimal (Wulansari, 2. Ketika tubuh menerima rangsangan dari pijatan, sistem saraf bereaksi dengan memproduksi endorfin. Neuropeptida ini, yang berfungsi sebagai analgesik alami, bekerja pada reseptor di otak untuk menurunkan persepsi nyeri dan menciptakan rasa nyaman. Peningkatan kadar endorfin juga memicu efek relaksasi dan dapat mengurangi kecemasan, yang secara tidak langsung juga berperan dalam mengurangi rasa sakit (Purba et al. , 2. Stimulasi ini bekerja melalui mekanisme gate control theory of pain, dimana aktivasi serabut A beta aktif melalui sentuhan dan tekanan lembut pada punggung dapat menghambat transmisi sinyal nyeri dari serabut C di sumsum tulang belakang. Di dalam sumsum tulang belakang, terdapat mekanisme yang berfungsi layaknya "gerbang" yang mengatur aliran informasi sensorik ke otak. Ketika serabut A beta terstimulasi, mereka dapat "menutup gerbang" untuk sinyal nyeri yang dikirimkan oleh serabut C. Dengan kata lain, jika sinyal sentuhan atau tekanan dari serabut A beta lebih dominan, maka transmisi sinyal nyeri dari serabut C bisa diblokir di tingkat sumsum tulang belakang (Mawarni, 2018 . Husnaa & Dewi, 2. Pemberian intervensi kutaneus slow stroke back massage dilakukan selama 7 hari, dalam 1 hari di lakukan pijatan sebanyak 1 kali. Rentang waktu ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Tafandas et al. , . bahwa tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan terapi yang diberikan dengan melakukan terapi secara konsisten selama satu minggu sehingga lansia dapat merasakan penurunan nyeri yang signifikan berkat efek kumulatif dari stimulus. Terjadinya penurunan nyeri dalam rentang waktu tersebut karena relaksasi terjadi melalui peningkatan sirkulasi di hari ketiga dan di hari berikutnya terjadi efek Aymenekan nyeriAy karena serabut saraf A- tepi terstimulasi yang berkompetisi dengan serabut saraf nyeri A- dan C, pada hari kelima dan keenam pijatan merespon neurotransmitter endorfin yang menghambat sinyal nyeri masuk ke sistem saraf pusat sehingga nyeri menurun di hari ketujuh (Mok & Woo, 2014. Mahfuzah et al. , 2023. Safitri et al. , 2023. Harris & Richards, 2. Intervensi kutaneus slow stroke back massage bisa dilakukan kapan saja dengan memperhatikan kenyamanan dan kesesuaian kondisi lansia (Prasetyaningsih & Nurrohmah, 2. Intervensi ini menjadi bagian dari program rehabilitasi untuk memulihkan keluhan lansia dengan nyeri yang berada di rumah sehingga dapat dilakukan pengulangan terapi secara intensif oleh keluarga sebagai caregiver karena prosedur berdifat ringan, ringkas dan mudah diikuti (Harris et al. , 2012. Alvianika & Wulandari, 2024. Wang et al. , 2. Keterbatasan pada penelitian ini adalah penggunaan sampel yang hanya pada satu kelompok tertentu yakni lansia wanita dan belum dilakukan tindakan secara randomisasi. Sehingga diperlukan pengembangan metode penelitian yang lebih kompleks dan sampel yang lebih bervariasi untuk mengetahui keefektifan terapi pada kelompok lansia di kedua kelompok. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dalam pemberian kutaneus slow stroke back massage terhadap penurunan intensitas nyeri pada lansia penderita Rheumatoid arthritis di wilayah kerja Puskesmas Mamajang Kota Makassar dengan Intervensi hipotesis nilai Asymp. Sig = 0,000 (<0,. Hasil ini diharapkan dapat menjadi alternatif terapi dalam tatalaksana prevensi primer keperawatan kesehatan komunitas pada Lansia dengan Rheumatoid Arthritis di tatanan fasilitas kesehatan layanan primer Puskesmas dan dapat dilakukan oleh keluarga sebagai caregiver. Page . DAFTAR PUSTAKA