Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi https://journal. id/index. php/psikosains PERAN PENALARAN MORAL SEBAGAI MEDIATOR PENGARUH IKLIM ETIS ORGANISASI TERHADAP INTEGRITAS KARYAWAN Idha Rahayuningsih1* Fakultas Psikologi. Universitas Muhammadiyah Gresik Article Info Article History Submitted: August 2025 Final Revised: October 2025 Accepted: October 2025 Abstract Background: Several previous studies have proven the role of moral reasoning as an important determinant for someone to make ethical decisions and ethical behavior in organizations. Meanwhile, the ethical climate of the organization can affect the process of moral reasoning which is then translated into ethical Objective: Therefore, this study aims to determine the mediating role of moral reasoning on the influence of organizational ethical climate on employee integrity. Sampling with incidental sampling technique. Method: It was found that 101 employees were willing to fill out a questionnaire via Data is collected through an ethical integrity scale that refers to the Du Toit concept. Defining Issues Test (DIT) developed (Rest, 1. and organizational ethical climate scale developed (Victor and Cullen, 1. Data analysis used the SmartPLS 4 application which included measurement model analysis, good fit model testing, and structural model analysis. Result: The results of the analysis show the role of law-oriented moral reasoning and social order as a partial mediator on the effect of organizational ethical climate on integrity. Keywords: Moral Reasoning. Organizational Ethical Climate, e Integrity This is an open access article under the CC-BY-SA license Copyright A 2025 by Author. Published by Universitas Muhammadiyah Gresik Abstrak Latar Belakang: Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan peran penalaran moral sebagai determinan penting bagi seseorang untuk mengambil keputusan etis maupun perilaku etis di dalam organisasi. Sementara itu, iklim etis organisasi dapat mempengaruhi proses penalaran moral yang selanjutkan diterjemahkan ke perilaku etis. Tujuan: Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran mediasi dari penalaran moral pada pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas karyawan. Metode: Pengambilan sampel dengan teknik sampling insidental. Diperoleh 101 karyawan yang bersedia mengisi kuisioner melalui google. Data dikumpulkan melalui skala integritas etik yang mengacu pada konsep Du Toit. Defining Issues Test (DIT) yang dikembangkan (Rest,1. dan skala iklim etis organisasi yang dikembangkan (Victor and Cullen,1. Analisis data menggunakan aplikasi SmartPLS 4 yang meliputi pengukuran analisis model, pengujian model good fit, dan analisis model struktural. Hasil: Hasil analisis menunjukkan peran penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebagai mediator parsial pada pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas. Kata kunci: Penalaran Moral. Iklim Etis Organisasi. Integritas Karyawan *email : idha. rahayuningsih@umg. Program Studi Psikologi. Universitas Muhammadiyah Gresik Jl. Sumatera No. Gn. Malang. Randuagung. Kebomas. Gresik Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 257-271 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 PENDAHULUAN Kohlberg . 9,1. dalam Palmer . menjelaskan penalaran moral adalah cara individu menjelaskan alasan dan membenarkan perilaku mereka dalam masalah moral. Kohlberg . mengemukakan alasan moral itu menjadi semakin kompleks dan abstrak paralel dengan perkembangan kognitif. Perkembangan moral meliputi pra-konvensional, konvensional dan pascakonvensional. Rest . menjelaskan penalaran moral mengacu pada menafsirkan efek tindakan individu pada diri sendiri dan orang lain, menilai kebenaran moral suatu tindakan, mengutamakan tindakan yang dinilai benar secara moral dan mengikuti melalui niat untuk berperilaku moral. Penelitian (Barnard et al. , 2. menemukan adanya peran kecerdasan moral seseorang untuk mengembangkan integritas. Pengetahuan moral dan penalaran moral merupakan presentasi dari kecerdasan moral. Penalaran moral mengacu pada kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah berdasarkan alasan tertentu. Hal tersebut berarti penalaran moral mengarahkan pada pilihan perilaku yang. Perilaku moral/etis dibuktikan penelitian (Weber & Green, 1. menunjukkan ada hubungan signifikan antara penalaran moral dengan integritas etis . hi-square=15. ,p=0,. Telaah literatur dan meta analisis yang dilakukan pada 50 hasil penelitian dengan total sampel 16738 peserta juga membuktikan adanya korelasi positif antara penalaran moral dengan perilaku etis dengan nilai r=0,238. Juga ditemukan adanya korelasi negatif antara penalaran moral dengan perilaku tidak etis dengan r=-0. 10188 (Peng & Huashan, 2. (Wisesa, 2. lebih lanjut menjelaskan bahwa integritas adalah perilaku moral/etis yang dilandasi prinsip-prinsip moral yang dipegang/dipahami oleh individu. Prinsip moral itu sendiri harus dibangun atas dasar nilai-nilai moral universal agar perilaku/tindakan benar-benar bernilai etis. Penjelasan tersebut mengarahkan bahwa seseorang yang penalaran moralnya didasarkan pada prinsip-prinsip etika/moral universal . ahap keenam penalaran moral Kolhber. memiliki kemungkinan lebih besar menunjukkan integritas. Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan adanya keterkaitan antara penalaran moral dengan perilaku etis/integritas etis. Beberapa penelitian lain, menunjukkan bahwa iklim etis organisasi mempengaruhi penalaran Victor and Cullen . mendefinisikan iklim etis sebagai persepsi yang sama tentang perilaku yang benar secara etika dan cara-cara masalah etika ditangani di dalam organisasi. Penelitian (Lim Choi, 2. pada pegawai administrasi publik di Amerika membuktikan bahwa iklim etis berpengaruh terhadap penalaran moral pasca konvensional. Penelitian (Abdullah, 2. juga menunjukkan ada pengaruh iklim etis terhadap penilaian etis pada pejabat publik di Malaysia. Iklim organisasi yang berorientasi pada orang lain mengarahkan pada perilaku etis (Arnaud & Schminke. Iklim etis organisasi secara signifikan berpengaruh langsung terhadap integritas maupun berpengaruh tidak langsung terhadap integritas dengan mediator rasa bersalah (Rahayuningsih. Berdasarkan paparan hasil-hasil penelitian diatas, menunjukkan ada keterkaitan antara penalaran moral dengan integritas etis (Weber &Green, 1991. Barnard, et. ) dan dikuatkan analisis teoritis Wisesa . Ada keterkaitan antara iklim etis organisasi dengan penalaran moral (Choi ,2006. Abdullah,2. ada keterkaitan antara iklim etis organisasi dengan integritas etis (Arnaud, & Schminke, 2012. Rahayuningsih,2. Victor and Cullen . menjelaskan bahwa individu beradaptasi dalam lingkungan dengan belajar cara berpikir, mengambil keputusan dan perilaku sesuai yang diharapkan melalui persepsi terhadap lingkungan. Iklim etis memberikan landasan bagi individu dalam memikirkan masalah moral yang terjadi di dalam organisasi. Ketika individu menghadapi dilema moral dalam organisasi, maka individu menentukan alasan sesuatu benar Peran Penalaran Moral Sebagai Mediator Pengaruh Iklim Etis Organisasi Terhadap Integritas Karyawan Idha Rahayuningsih atau salah melalui proses penalaran kognitif yang dipengaruhi persepsi individu terhadap kriteria tentang benar dan salah dan cara-cara penyelesaian yang biasanya dilakukan di dalam organisasi. Iklim etis organisasi dapat mempengaruhi proses penalaran moral yang selanjutkan diterjemahkan ke perilaku etis (Arnaud & Schminke, 2. Berdasarkan penjelasan Victor and Cullen . dan (Arnaud & Schminke, 2. , maka penelitian lanjutan penting dilakukan, terutama untuk menguji peran penalaran moral sebagai mediator pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas etis. Menguji peran penalaran moral sebagai mediator menjadi sebuah kebaharuan dalam penelitian ini yang belum dilakukan pengujian pada penelitian sebelumya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan bertujuan untuk membuktikan: . pengaruh iklim etis terhadap integritas etis. pengaruh iklim etis organisasi terhadap penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial. pengaruh penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial terhadap integritas. peran penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebagai mediator pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas. Hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan informasi tentang integritas, penalaran moral dan iklim etis organisasi yang dirasakan karyawan. Selanjutnya perusahaan dapat menindaklanjuti upaya memperbaiki/meningkatkan integritas, penalaran moral karyawan maupun iklim etis organisasi. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, menekankan analisisnya pada data-data numerikal . yang diolah dengan metode statistika. Azwar . menjelaskan pendekatan kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial . alam rangka pengujian hipotesi. dan menyandarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Penelitian dirancang untuk menguji peran penalaran moral sebagai mediator pengaruh iklim organisasi terhadap integritas Sampel atau Populasi Responden penelitian sejumlah 101 karyawan suatu BUMN yang memproduksi pupuk di Kota Gresik. Usia responen berkisar 20-39 tahun. Sebagian besar berusia 20-29 tahun . %), sedangkan 21% berusia 30-39 tahun. Responden laki-laki sebanyak 78% sedangkan sisanya 22% Responden berpendidikan SMA atau SMK 45%. berpendidikan Diploma (D2 atau D. berpendidikan sarjana (S. sebanyak 37% dan 5% berpendidikan S2. Subyek penelitian berasal dari unit kerja teknik sebanyak 51% dan non teknik 49%. Sebanyak 51% telah bekerja 1-5 tahun. masa kerja 6-10 tahun sejumlah 35% dan sisanya 14% masa kerja 11 tahun keatas. Teknik Pengumpulan Data Terdapat tiga variabel penelitian yaitu integritas sebagai variabel dependen. penalaran moral tahap 4 sebagai variabel mediator dan iklim etis sebagai variabel independen. Alat ukur ketiga variabel sebagai berikut : Integritas etis Integritas etis didefinisikan Du Toit. sebagai tindakan yang sesuai dengan prinsip, nilai, dan norma etika yang diterima secara universal. Integritas merupakan konstruk multidimesi yang terdiri dari beberapa dimensi yang meliputi konsistensi perilaku, kebajikan, keterusterangan, kredibilitas dan keadilan. Integritas diukur dengan mengacu pada konsep Integritas Etik yang dikembangkan Du Toit. Diberikan 5 pilihan jawaban yaitu Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 257-271 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 sangat tidak setuju diskor 1. tidak setuju diskor 2. netral diskor 3. setuju diskor 4. dan sangat setuju diskor 5 pada setiap item/pernyataan. Hasil pengukuran dapat diinterpretasi semakin tinggi skor maka semakin tinggi pula integritas seseorang. Dimensi Konsistensi Perilaku Kebajikan Keterbukaan Kredibilitas Keadilan Tabel 1. Sampel Item Integritas Etik Item Saya melakukan yang saya katakan meskipun sulit Saya menempatkan kebutuhan orang lain diatas kepentingan saya sendiri Saya dapat dipercaya untuk mengatakan kenyatan yang Saya bertanggungjawab melaksanakan kewajiban sebaik Saya berusaha bersikap adil dengan memberikan orang lain sesuai haknya Penalaran Moral Orientasi Hukum dan Ketertiban Teori penalaran moral Kohlberg . 9,1. didefinisikan sebagai cara individu menjelaskan alasan dan membenarkan perilaku mereka dalam masalah moral. Pada penelitian ini digunakan penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban (Tahap . yaitu individu menjadi sadar terhadap aturan-aturan masyarakat, sehingga keputusannya menyangkut kepatuhan terhadap aturan-aturan untuk menegakkan hukum dan menjaga ketertiban Fokusnya adalah menjaga hukum dan ketertiban sosial dengan cara mengikuti/mematuhi aturan, melakukan kewajiban dan menghormati otoritas. Penalaran moral diukur dengan 3 cerita dilema moral yaitu kelaparan, sakit kanker dan laporan berita yang terdapat pada Defining Issues Test 2 (DIT . yang dikembangkan Rest . Setiap pernyataan/pertanyaan pertimbangan moral diberikan 5 pilihan jawaban yaitu tidak penting kurang penting diskor 2. agak penting diskor 3. penting diskor 4. dan sangat penting Hasil pengukuran dapat diinterpretasi semakin tinggi skor maka individu berpikir semakin penting untuk menjadikan kepatuhan terhadap hukum, moral dan ketertiban masyarakat dalam menilai suatu tindakan benar atau salah. Tabel 2. Sampel Penalaran Moral Orientasi Hukum Dan Ketertiban (Tahap . Situasi Pilihaan Pertimbangan Penalaran Dilema Tindakan Moral Tahap 4 Kelaparan Apa yang harus dilakukan Mustaq Singh? 3. Bukankah hukum Apakah Anda menyukai tindakan mencuri masyarakat harus makanan ? Pilih salah satu : n Harus mencuri makanan n Tidak bisa memutuskan n Sebaiknya tidak mencuri makanan Kanker Apakah anda menyukai tindakan memebri 6. Apakah negara lebih banyak obat ? Pilih salah satu : Peran Penalaran Moral Sebagai Mediator Pengaruh Iklim Etis Organisasi Terhadap Integritas Karyawan Idha Rahayuningsih Situasi Pilihaan Pertimbangan Penalaran Dilema Tindakan Moral Tahap 4 n Harus memberikan dosis yang memaksakan kelangsungan ditingkatkan untuk Nyoya Bennett hidup seseorang yang tidak agar membuatnya mati ingin hidup? n Tidak bisa memutuskan n Tidak meningkatkan dosis obat Laporan Apakah Saudara menyukai tindakan 1. Bukankah Berita membuat laporan keburukan Thompson memiliki pada masa lalu ? mengetahui semua fakta n Sebaiknya tidak melaporkan cerita tentang semua kandidat? n Tidak bisa memutuskan n Harus melaporkan cerita tersebut Iklim dan Organisasi Iklim etis organisasi didefinisikan Victor and Cullen . sebagai persepsi yang sama tentang perilaku yang benar secara etika dan cara-cara masalah etika ditangani di dalam Pada penelitian ini menggunakan 2 kriteria etis meliputi: kebajikan (Benevolenc. yaitu memaksimalkan kepentingan bersama. dan prinsip (Prinsipl. yaitu ketaatan pada tugas, peraturan, hukum atau standar yang berlaku. Lokus analisis meliputi lokal/perusahaan dan Setiap pernyataan diberikan 6 pilihan jawaban yaitu sama sekali salah skor 1. kebanyakan salah skor 2. agak salah skor 3. agak benar skor 4. sebagian besar benar skor 5. sepenuhnya benar skor 6. Tabel 3. Sampel Item Iklim Etis Organisasi Dimensi Item Benevolence-Local Orang-orang di perusahaan ini menganggap (Team Pla. semangat tim sesuatu yang penting Prinsiple-Local Sangat penting untuk mematuhi secara ketat aturan (Rule and Procedur. dan prosedur yang ada di perusahaan Benevolence- Cosmopolitan 17 Orang-orang (Social Responsibilit. memperhatikan kepentingan pelanggan dan Prinsiple- Cosmopolitan Di perusahaan ini, hukum atau kode etik profesi The Law and Profesional menjadi pertimbangan utama Code Pihak perusahaan memberikan ijin pengambilan data secara online, sehingga penyebaran kuisioner kepada responden dilakukan secara online dengan media google. Pengumpulan data sekitar satu bulan sampai diperoleh 101 responden yang mengisi kuisioner. Setelah dilakukan pengumpulan data maka langkah berikutnya melakukan skoring terhadap respon responden dan tabulasi data. Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 257-271 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Teknik Analisis Data Analisis data menggunakan Partial Least Square Path Modeling (PLS-PM). PLS-PM dikembangkan sebagai alternatif pemodelan persamaan struktural (SEM) apabila dasar teori antar variabel lemah. Analisis data dengan SmartPLS versi 4, yang meliputi analisis model pengukuran analisis, model struktural dan analisis good fit model. Model pengukuran meliputi validitas konvergen, validitas diskriminan dan reliabilitas alat ukur. Analisis model struktural dilakukan dengan 2 cara yaitu menghitung nilai t-statistik dan nilai f2. Nilai t-statistik bertujuan untuk menguji signifikansi pengaruh konstruk. Nilai =5%, t=1. 96, kriteria t-statistik>1. 96 dianggap signifikan. Nilai f-square bertujuan untuk mengetahui besar pengaruh secara parsial. Pengujian Goodness of Fit Model bertujuan untuk mengetahui kekuatan prediksi model, yang indikasikan dengan nilai nilai R2. Q-Square>0 sedangkan mengetahui kelayakan model dan data untuk menguji pengaruh variabel diindikasikan dengan nilai SRMR harus <0,10 HASIL Validitas Model Pengukruan Validitas konvergen mempunyai makna bahwa seperangkat indikator mewakili satu variabel laten dan mendasari variabel latin tersebut. Validitas konvergen membutuhkan nilai loading setiap Sharma . dan Ferdinand . menjelaskan bahwa faktor loading paling lemah yang bisa diterima adalah 0,40. Pada tabel 1. terdapat 23 indikator integritas yang memiliki nilai loading berkisar 0,485-0,899. Penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial memiliki 6 indikator dengan nilai loading antara 0,464-0,663. Iklim etis organisasi terdapat 12 indikator dengan nilai loading berkisar antara 0,606-0,765. Rata-rata varian diekstraksi (AVE) juga diperiksa untuk setiap konstruk,Chin . menyarankan ambang batas nilai AVE=0,5. Nilai AVE integritas adalah 0,622, hal tersebut berarti integritas mampu menjelaskan lebih dari setengah rata-rata varian dari indikator-indikatornya. Nilai AVE penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebesar 0,317 sedangkan Nilai AVE iklim etis yaitu 0,475. Berdasarkan nilai AVE tersebut menunjukkan bahwa penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial dan iklim etis organisasi mampu menjelaskan kurang dari setengah ratarata varian dari indikator-indikatornya. Pada Tabel 1. juga terdapat data cross loading yaitu besarnya nilai loading tiap indikator dibandingkan nilai loading dengan konstruk lain. Semua indikator dari integritas, penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial dan iklim etis organisasi menunjukkan nilai loading yang lebih besar dibandingkan nilai loading dengan konstruk lain. Tabel 1. Outer Loading dan Cross Loading Indikator Konstruk Integritas (I). Penalaran Moral (PM. dan Iklim Etis Organisasi (IE) Item Item Item PM4 PM4 *PM4 IE *IE PM4 C14 0,863 0,451 0,440 S141 0,405 0,151 0,639 14BL 0,466 0,723 0,163 C22 0,587 0,474 0,498 S142 0,317 0,110 0,528 15PL 0,383 0,669 0,206 0,883 0,477 0,470 S241 0,209 0,146 0,510 17BC 0,343 0,750 0,206 0,858 0,492 0,538 S242 0,496 0,204 0,663 18PC 0,372 0,681 0,212 CB1 0,861 0,464 0,570 S341 0,279 0,187 0,546 23BL 0,299 0,643 0,130 CB11 0,850 0,487 0,512 S342 0,252 0,189 0,464 24PL 0,281 0,689 0,264 Peran Penalaran Moral Sebagai Mediator Pengaruh Iklim Etis Organisasi Terhadap Integritas Karyawan Idha Rahayuningsih Item Item Item PM4 PM4 *PM4 IE *IE PM4 CB16 0,814 0,392 0,419 * nilai outer loading 26BC 0,343 0,765 0,178 CB6 0,737 0,290 0,360 27PC 0,297 0,652 0,184 Fa10 0,877 0,463 0,534 0,332 0,629 0,232 Fa15 0,850 0,384 0,544 0,325 0,606 0,119 Fa19 0,899 0,445 0,499 0,356 0,745 0,260 Fa23 0,784 0,324 0,434 0,447 0,697 0,234 Fa5 0,809 0,417 0,457 * nilai outer loading Fr13 0,485 0,199 0,190 Fr18 0,776 0,436 0,489 Fr21 0,871 0,343 0,525 Fr3 0,632 0,369 0,402 Fr8 0,833 0,344 0,546 R12 0,815 0,428 0,502 R17 0,791 0,426 0,514 0,739 0,413 0,488 R20 0,804 0,406 0,550 0,548 0,370 0,369 *nilai outer loading Validitas diskriminan mempunyai makna bahwa dua konsep yang berbeda secara konseptual harus menunjukkan keterbedaan yang memadai. Validitas diskriminan dapat diketahui dengan cara membandingkan nilai akar AVE dengan nilai korelasi antar konstruk. Jika nilai akar AVE lebih besar dari nilai korelasi antar konstruk, maka kontruk tersebut memilki keterbedaan yang memadai. Berdasarkan Tabel 2. dapat diketahui bahwa nilai akar kuadrat AVE konstruk integritas lebih besar dibandingkan nilai korelasi dengan konstruk penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial dan iklim etis organisasi. Nilai akar kuadrat AVE konstruk penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial lebih besar dibandingkan nilai korelasi dengan konstruk iklim etis organisasi tetapi lebih kecil dibandingkan dengan nilai korelasi dengan integritas. Nilai akar kuadrat AVE konstruk iklim etis organisasi lebih besar dibandingkan nilai korelasi integritas dan penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial. Hal itu berarti masing-masing konstruk menunjukkan perbedaan yang Koefisien reliabilitas komposit kedua konstruk juga lebih dari 0,9. Hal tersebut berarti menunjukkan konsistensi hasil pengukuran dari kedua konstruk tersebut sangat baik. Koefisien reliabilitas komposit penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebesar 0,732 yang berarti cukup reliabel. Tabel 2. Perbandingan Akar AVE dan Korelasi Antar Konstruk Akar Konstruk AVE PM4 AVE 0,622 0,789 0,545 0,756 PM4 0,317 0,563 0,756 0,404 0,475 0,689 0,545 0,404 Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 257-271 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 Analisis Model Struktural Evaluasi model struktural berkaitan dengan pengujian hipotesis pengaruh antara variabel Pemeriksaan evaluasi model struktural dilakukan dengan 3 tahap. Pertama, uji multikolinier dengan ukuran Inner Variance Inflated Factor (VIF). Nilai inner VIF<5 menunjukkan tidak ada multikolinier diantara variabel. Kedua, pengujian signifikansi hipotesis antara variabel dengan nilai t-statistik. Nilai t-statistik>1,96 dengan taraf signifikansi =5%, dianggap signifikan. Ketiga. Sementara nilai f-square . bertujuan mengetahui besarnya pengaruh variabel secara langsung pada level struktural, dengan kriteria jika f2 = < 1,5 pengaruh rendah. jika f2=1,5 - < 0,35 pengaruh moderat dan dan jika f2 = > 0,35 pengaruh tinggi. Nilai inner VIF antar variabel ketiaga variabel tersebut <5. Nilai VIF antara iklim etis organisasi dengan integritas =1,093. VIP iklim etis organisasi dengan penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial=1,000. Penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial dengan integritas=1,0993. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada multikolinier diantara variabel. Tabel 3. Ringkasan Koefisien Jalur dan f Aesquare Koefisien pJalur t-values Kesimpulan f-square Jalur Hipotesis IE -> I 0,375 4,175 0,000 0,258** Hipotesis PM4 0,292 2,854 0,004 0,093* Hipotesis PM4 -> I 0,501 6,087 0,000 0,460*** *** =kuat. **=sedang. *=lemah Pada Tabel 3. menginformasikan hasil pengujian hipotesis, sebagai berikut : H1. Iklim etis organisasi berpengaruh positif secara signifikan terhadap integritas. Iklim etis organisasi memiliki pengaruh sedang terhadap integritas. H2. Iklim etis organisasi berpengaruh positif secara signifikan terhadap penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial. Namun Iklim etis organisasi memiliki pengaruh lemah terhadap penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial H3. Penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial berpengaruh positif yang signifikan terhadap integritas. Penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial memiliki pengaruh yang kuat terhadap integritas. H4. Iklim etis organisasi berpengaruh positif yang signifikan terhadap integritas dengan dimediasi penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial. Peran Penalaran Moral Sebagai Mediator Pengaruh Iklim Etis Organisasi Terhadap Integritas Karyawan Idha Rahayuningsih Jalur IE -> PM4 -> I Tabel 4. Koefisien Efek Tidak Langsung Koef. Efek t-values p-values Kesimpulan Tidak Langsung 0,146 2,661 0,008 Hipotesis VAF VAF =28% Selanjutnya dilakukan penghitungan nilai Variance Accounted For (VAF) untuk menentukan besarnya pengaruh tidak langsung dibandingkan dengan pengaruh total. Hair, et al . mengungkapkan bahwa nilai VAF kurang dari 20% mengindikasikan tidak adanya mediasi, sedangkan 20%-80% mengindikasikan adanya mediasi parsial, dan 80% ke atas mengindikasikan adanya mediasi lengkap. Perhitungan VAF menghasilkan VAF (IEIePMIeI) adalah 28%. Hal tersebut menunjukkan bahwa penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial memiliki peran mediasi parsial pada pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas karyawan. Pengujian Goodness Of Fit Model Pengujian Goodness of Fit Model meliputi R square. Q square. SRMR. Goodness of Fit Index PLS Pedict. Nilai R2 mengindikasikan besarnya varians variabel endogen yang mampu dijelaskan oleh variabel eksogen atau variabel endogen lainnya dalam model. Chin . interpretasi R secara kualitatif ada 3 kategori adalah O 0,19 berarti pengaruh rendah. 0,33 - < 0,66 berarti pengaruh moderat dan Ou 0,66 berarti pengaruh tinggi. Berdasarkan Tabel 5 dibawah ini diketahui nilai R2 penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebesar 0,085 berarti kategori pengaruh Iklim etis mampu menjelaskan varians penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 257-271 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 sebesar 8,5%. Nilai R2 integritas adalah 0,50 berarti kategori pengaruh moderat. Penalaran moral orientasi hukum & ketertiban sosial dan iklim etis secara simultan mampu menjelaskan varians integritas sebesar 50,1%. Table 5. Nilai R-Square dan Q-Square Variabel R-square Q-square 0,501 0,225 PM4 0,085 0,038 Q2 menggambarkan ukuran akurasi prediksi yaitu seberapa baik setiap perubahan variabel eksogen mampu memprediksi variabel endogen yang diindikasikan dengan nilai Q-Square>0. Berdasarkan tabel 7 nilai Q2 integritas = 0,225 dan nilai penalaran moral orientasi hukum & ketertiban sosial Q2= 0,038. Hal itu berarti model mempunyai nilai prediksi yang cukup baik. Stadardized Root Mean Square Residual (SRMR). Nilai SRMR untuk mengetahui kelayakan model dan data dalam menguji pengaruh variabel. Hair et al . menjelaskan nilai SRMR kurang dari 0,08 menunjukan model fit. Nilai SRMR = 0,076 < 0,08 artinya model memiliki kelayakan untuk menguji pengaruh variabel. I-C14 I-C22 I-C4 I-C9 I-CB1 I-CB11 I-CB16 I-CB6 I-Fa10 I-Fa15 I-Fa19 I-Fa23 I-Fa5 I-Fr13 I-Fr18 I-Fr21 I-Fr3 I-Fr8 I-R12 I-R17 I-R2 I-R20 I-R7 Tabel 6. Data PLS Predict QApredict PLS-SEM_RMSE PLS-SEM_MAE 0,173 0,588 0,409 0,172 0,559 0,485 0,196 0,597 0,392 0,211 0,595 0,418 0,189 0,621 0,462 0,205 0,678 0,487 0,126 0,712 0,540 0,052 0,782 0,600 0,183 0,576 0,401 0,115 0,607 0,452 0,166 0,617 0,445 0,074 0,651 0,499 0,149 0,611 0,426 0,016 0,955 0,702 0,168 0,806 0,604 0,076 0,690 0,509 0,119 0,655 0,564 0,082 0,676 0,507 0,158 0,673 0,481 0,161 0,717 0,523 0,153 0,686 0,557 0,142 0,715 0,517 0,118 0,897 0,709 LM_RMSE 0,624 0,580 0,603 0,646 0,654 0,698 0,785 0,826 0,615 0,656 0,647 0,698 0,650 1,036 0,873 0,721 0,742 0,701 0,712 0,781 0,697 0,782 0,913 LM_MAE 0,436 0,456 0,410 0,446 0,480 0,499 0,575 0,637 0,433 0,485 0,473 0,562 0,449 0,802 0,650 0,547 0,581 0,528 0,512 0,580 0,537 0,548 0,712 Peran Penalaran Moral Sebagai Mediator Pengaruh Iklim Etis Organisasi Terhadap Integritas Karyawan Idha Rahayuningsih QApredict PLS-SEM_RMSE PLS-SEM_MAE LM_RMSE PM4-S141 0,008 1,076 0,789 1,161 PM4-S142 0,001 1,010 0,778 1,081 PM4-S241 0,010 1,453 1,219 1,627 PM4-S242 0,027 0,875 0,678 0,978 PM4-S341 0,027 1,200 0,937 1,313 PM4-S342 0,021 1,144 0,956 1,234 I= integritas. PM4=Penalaran Moral orientasi hukum dan ketertiban sosial LM_MAE 0,858 0,827 1,348 0,752 1,017 0,992 PLS Predict adalah metode validasi untuk menyatakan model PLS yang dibangun mempunyai kekuatan prediksi yang baik, dengan cara membandingkan antara algoritma PLS (RMSE dan MAE) dengan algoritma model linier (RMSE dan MAE). Berdasarkan tabel 6. diketahui maka hampir seluruh nilai PLS (RMSE dan MAE) lebih rendah dari nilai model linier (RMSE dan MAE) sehingga dapat disimpulkan bahwa model memiliki kekuatan prediksi tinggi. Pembahasan Iklim etis organisasi dalam penelitian ini memuat dimensi kebajikan (Benevolenc. yaitu memaksimalkan kepentingan bersama. dan prinsip (Principl. yaitu ketaatan pada tugas, peraturan, hukum atau standar yang berlaku. Lokus analisis meliputi lokal atau perusahaan dan kosmopolitan. Hasil penelitian membuktikan bahwa iklim etis organisasi berpengaruh langsung terhadap integritas etis (=0,375. t-statistik=4,175. p= 0,. Artinya peningkatan satu satuan iklim etis organisasi akan meningkatkan integritas sebesar 37,5%. Nilai f2 =0,258 menunjukkan bahwa pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas tergolong sedang. Hasil penelitian juga membuktikan bahwa pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas dengan mediator penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial (=0,146. t-statistik=2,661>1,96 dan p=0,008<0,. Artinya peningkatan satu satuan iklim etis organisasi akan meningkatkan integritas etis melalui penalaran moral sebesar 14,6%. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat diketahui bahwa pengaruh secara langsung iklim etis terhadap integritas lebih kuat dibandingkan besarnya pengaruh tidak langsung iklim etis terhadap Penghitungan nilai Variance Accounted For (VAF) diperlukan untuk menentukan besarnya pengaruh tidak langsung dibandingkan dengan pengaruh total. Perhitungan menghasilkan VAF (IEIePMIeI) adalah 28%. Hal tersebut menunjukkan bahwa penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial memiliki peran mediasi parsial pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas Mediasi parsial berarti lain penalaran moral bisa sebagai mediator pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas. Pada sisi lain iklim etis dapat juga berpengaruh langsung terhadap integritas etis. Rest . menjelaskan penalaran moral mengacu pada menafsirkan efek tindakan individu pada diri sendiri dan orang lain, menilai kebenaran moral suatu tindakan, memprioritaskan tindakan yang dinilai benar secara moral dan mengikuti niat untuk berperilaku secara moral. Hasil penelitian membuktikan adanya pengaruh iklim etis organisasi terhadap penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial (=0,292. t-statistik=2,854>1,96 dan p=0,004<0,. Hasil tersebut sejalan dengan yang dinyatakan Kohlberg . bahwa suasana sosio-moral suatu organisasi berdampak pada pengambilan keputusan moral individu. Namun pengaruh iklim etis organisasi Psikosains. Vol. No. Agustus 2025, hal 257-271 p-ISSN 1907-5235 e-ISSN 2615-1529 terhadap penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial tergolong lemah, ditunjukkan dengan nilai f2=0,132. Nilai R2 penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial sebesar 0,085. Hal itu berarti iklim etis organisasi hanya mampu menjelaskan varian penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial sebesar 8,5% dan sisanya dijelaskan oleh variabel lain. Proses penalaran kognitif seseorang dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Iklim etis organisasi sebagai salah satu faktor eksternal yang dipersepsi oleh individu berdampak pada penalaran moral meskipun dampaknya lemah. Hal tersebut disebabkan adanya variabel-variabel lain sebagai determinan penalaran moral. Elm & Kennedy . melakukan penelitian kepada 10. 000 mahasiswa dari 4 universitas sekitar 70% mahasiswa sarjana dan 30% mahasiswa pascasarjana di Evangelical. Hasil penelitiannya membuktikan tingkat penalaran moral perempuan lebih tinggi dari laki-laki. Ada hubungan positif antara tingkat pendidikan dan tingkat penalaran moral. Terdapat perbedaan tingkat penalaran moral diantara seluruh lembaga akademik. mahasiswa bisnis memiliki tingkat moral yang lebih rendah daripada siswa di bidang lain, meskipun perbedaannya tidak signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa penalaran moral dipengaruhi faktor demografi seperti jenis kelamin, tingkat pendidikan dan perbedaan bidang pendidikan. Lan, et al . menunjukkan keterkaitan antara nilai personal dengan penalaran moral. Terdapat pula penelitian yang membuktikan keterkaitan antara kepribadian dan penalaran moral yaitu Dollinger & La Martina . Hasil penelitian membuktikan pengaruh positif yang signifikan penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial terhadap integritas (=0,501. t-statistik=6,087>1,96 dan p=0,000<0,. Pengaruh penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial terhadap integritas tergolong kuat, ditunjukkan dengan nilai f2=0,460. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan model interaksionis (Trevino, 1. bahwa ketika seorang individu menghadapi dilema etika/moral dalam suatu organisasi, maka individu tersebut menentukan sesuatu benar atau salah melalui proses penalaran kognitif. Treviyo . lebih lanjut menjelaskan bahwa penalaran moral mengarahkan pada intensi berperilaku etis. {Formatting Citatio. menjelaskan bahwa berperilaku etis dapat dinilai sebagai perilaku yang berintegritas apabila perilaku etis tersebut dilakukan berdasarkan prinsip dan nilai moral universal yang dipegang individu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penalaran moral tidak hanya mengarahkan niat atau intensi berperilaku etis, akan tetapi mengarahkan pada integritas etis. Hasil penelitian ini, memperkuat penelitian Weber & Green . pada 73 mahasiswa bisnis membuktikan ada hubungan signifikan antara penalaran moral dengan integritas etis . hisquare=15. p=0,. Seale . membuktikan hubungan positif antara kecerdasan moral dengan integritas . =0. p<0. Nilai koefisien determinan R2 integritas adalah 0,501 artinya penalaran moral dan iklim etis organisasi secara simultan mampu menjelaskan varians integritas sebesar 50,1%. Hasil tersebut menunjukkan interaksi penalaran moral dan iklim etis organisasi sebagai prediktor integritas cukup Namun demikian, masih terdapat beberapa variabel lain yang mempengaruhi Diantaranya kepribadian Swanepoel . menujukkan terdapat korelasi positif antara kontrol diri dengan integritas . =0. p<0,. Penelitian Vogelgesang, et al . menunjukkan keterkaitan antara transparansi komunikasi dengan integritas perilaku . =0. 89, p<0. Hasil penelitian membuktikan bahwa penalaran moral orientasi kepatuhan hukum dan ketertiban sosial sebagai mediator pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas (=0,146. tstatistik=2,661. p=0,. Perhitungan VAF menghasilkan VAF (IEIePMIeI) adalah 28%, berarti penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial memiliki peran mediasi parsial pada pengaruh Peran Penalaran Moral Sebagai Mediator Pengaruh Iklim Etis Organisasi Terhadap Integritas Karyawan Idha Rahayuningsih iklim etis organisasi terhadap integritas karyawan. Pengaruh iklim etis organisasi terhadap penalaran moral yang tergolong lemah, hal tersebut yang menyebabkan penalaran moral memediasi secara Iklim etis organisasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap integritas baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung iklim etis terhadap integritas lebih kuat dibandingkan dengan pengaruh tidak langsung. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh iklim etis organisasi yang cukup kuat terhadap integritas. pengaruh iklim etis organisasi yang lemah terhadap penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial. pengaruh penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial yang kuat terhadap integritas. Terdapat peran penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebagai mediator parsial pengaruh iklim etis organisasi terhadap integritas. Penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial sebagai mediator parsial karena pengaruh iklim etis organisasi yang lemah terhadap penalaran moral orientasi hukum dan ketertiban sosial. Namun demikian interaksi yang simultan antara penalaran moral dan iklim etis organisasi menjadi prediktor cukup kuat terhadap integritas. Berdasarkan kesimpulan diatas maka penting bagi pemimpin organisasi untuk menciptakan iklim etis organisasi, dengan meningkatkan semangat tim kerja, tanggungjawab sosial baik kepada pelanggan maupun masyarakat sekitar, penegakan peraturan dan prosedur kerja organisasi, kepatuhan pada hukum dan kode etik profesi sebagai cara dalam menyelesaikan permasalahan etis /dilema etis yang terjadi dalam organisasi. Penciptaan iklim etis organisasi yang kuat akan menjadi acuan karyawan dalam memberikan penilaian suatu tindakan benar atau salah, memperkuat penalaran moral karyawan sekaligus integritas karyawan. DAFTAR PUSTAKA