Faktor Kesediaan Pria Menjalani Vasektomi di Indonesia Berdasarkan Model Ekologi: Tinjauan Literatur Factors Influencing MenAos Willingness to Undergo Vasectomy in Indonesia Based on the Ecological Model: A Literature Review JaAofar Fauzan Ramadhan1*. Ghania Nashita1. Annisa Fidela Poermeilani1. Colti Sistiarani1. LuAolu Nafisah1 Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan. Universitas Jenderal Soedirman Korespondensi Penulis: jafar. ramadhan@mhs. ABSTRAC The high population growth rate in Indonesia necessitates more inclusive birth control strategies, including enhanced male participation in Family Planning (FP) programs. Vasectomy represents a safe and effective long-term contraceptive method. however, its adoption rate remains low. This literature review aims to identify and analyze the factors influencing men's willingness to undergo vasectomy in Indonesia, using the Social Ecological Model of Public Health as a guiding framework. A systematic review was conducted on articles published in both Indonesian and English between 2019-2025. Articles were retrieved from Google Scholar. Based on the inclusion criteria, 12 publications employing quantitative, qualitative, and mixed-methods approaches were analyzed. The findings indicate that male participation in vasectomy is influenced by factors across multiple levels: individual . nowledge, attitudes, perception. , interpersonal . pousal suppor. , community . ocial stigma, cultural norm. , and policy . ccess to information and healthcare service. Spousal support and perceptions of masculinity emerged as significant determinants. These findings underscore the importance of multilevel, genderresponsive intervention strategies in designing contextually relevant male FP programs. Keywords : Vasectomy, male contraception, male sterilization, ecological model, reproductive health ABSTRAK Masalah pertumbuhan penduduk yang tinggi di Indonesia menuntut strategi pengendalian kelahiran yang lebih inklusif, termasuk peningkatan partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB). Vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang aman dan efektif, namun tingkat adopsinya masih rendah. Literature review ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan pria menjalani vasektomi di Indonesia, dengan mengacu pada Model Ekologi Kesehatan Masyarakat. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis terhadap artikel berbahasa Indonesia maupun Inggris yang diterbitkan dalam rentang waktu 2019-2025. Pencarian artikel dilakukan pada database Google Scholar. Setelah dilakukan seleksi, sebanyak 12 publikasi dianalisis dengan pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan mixed-methods. Hasil review menunjukkan bahwa partisipasi pria dalam menjalani vasektomi dipengaruhi oleh faktor pada tingkat individu . engetahuan, sikap, perseps. , hubungan . ukungan pasanga. , komunitas . tigma sosial, norma buday. , serta kebijakan . kses informasi, layanan kesehata. Dukungan istri dan persepsi terhadap maskulinitas merupakan determinan signifikan. Temuan ini menekankan pentingnya strategi intervensi yang bersifat multilevel dan responsif gender dalam merancang program KB pria yang lebih relevan secara kontekstual. Kata Kunci : Vasektomi, kontrasepsi pria. Metode Operasi Pria (MOP), model ekologi, kesehatan reproduksi Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. PENDAHULUAN Permasalahan penduduk dan pengendalian kelahiran masih menjadi isu strategis dalam pembangunan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Indonesia tercatat sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, setelah India. Tiongkok, dan Amerika Serikat, dengan estimasi jumlah penduduk mencapai 281. 800 jiwa pada tahun 2024. Proyeksi menunjukkan bahwa jumlah tersebut akan meningkat sebesar 14% dan diperkirakan mencapai 949 jiwa pada tahun 2050 (Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung, 2023. WHO, 2. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 2024 mencapai 1,11%, sementara Total Fertility Rate (TFR) diproyeksikan menurun dari 2,28 pada tahun 2020 menjadi 2,19 pada tahun 2025 (Badan Pusat Statistik. Kepadatan permasalahan sosial, ekonomi, dan kesehatan apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia serta upaya pengendalian (Badan Pusat Statistik & Kementerian Dalam Negeri. Rajapaksa dkk. , 2. Menyikapi tantangan tersebut, sejak tahun 1970-an pemerintah Indonesia telah menerapkan program Keluarga Berencana (KB) pengendalian kuantitas penduduk guna jumlah penduduk dan ketersediaan sumber daya (Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung, 2. Dalam tantangan demografi yang semakin kompleks, program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia telah mengalami khususnya dalam hal pengembangan (Kemenko PMK, 2. Saat ini, jenis kontrasepsi yang tersedia mencakup metode jangka pendek, seperti pil, suntikan, dan kondom, serta metode jangka panjang, yang meliputi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), implan. Metode Operasi Wanita (MOW), dan Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi (Kementerian Kesehatan. Upaya peningkatan pemahaman perencanaan keluarga yang sehat dan digencarkan oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melalui berbagai kampanye edukatif, termasuk pemanfaatan slogan AuDua Anak Lebih SehatAy (Abhinaya. Untuk pertumbuhan penduduk secara efektif, perluasan cakupan serta pemerataan akses terhadap metode-metode tersebut terus diupayakan secara berkelanjutan oleh pemerintah (Keputusan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2. antara berbagai kontrasepsi yang ditawarkan dalam program KB, vasektomi merupakan salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang efektif dan permanen khusus diperuntukkan bagi pria. Secara medis, vasektomi didefinisikan sebagai tindakan bedah minor yang dilakukan dengan cara memotong dan mengikat saluran vas deferens, yakni saluran yang berperan dalam mengalirkan sperma dari testis menuju penis (Bai dkk. , 2. Melalui prosedur ini, pencegahan kehamilan pergerakan sperma menuju cairan semen tanpa mengganggu produksi hormon testosteron, sehingga fungsi seksual maupun kemampuan ejakulasi tidak terganggu (Lombardi dkk. , 2. Dari aspek keamanan dan efektivitas, vasektomi diketahui memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dengan angka kegagalan kurang dari 1%, relatif aman dan ekonomis dalam jangka panjang (Hoover Prosedur vasektomi dapat dilakukan dengan menerapkan teknik tanpa pisau . oscalpel vasectom. , sebuah metode yang dikenal mampu menurunkan risiko komplikasi, mengurangi tingkat nyeri, serta mempercepat proses pemulihan pasca tindakan (Ramakrishnan dkk. Meskipun vasektomi dikategorikan sebagai metode sejumlah kasus di mana prosedur ini masih dapat dibalik melalui operasi yang Keberhasilan dari proses reversibilitas ini sangat bergantung pada berbagai faktor dan tidak selalu menjamin hasil yang Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. diharapkan (Duijn dkk. , 2. Terlepas ditawarkan, termasuk efisiensi serta risiko yang relatif rendah, angka adopsi vasektomi di Indonesia masih tergolong Hal ini mengindikasikan adanya tantangan tersendiri, baik dari segi pemahaman masyarakat maupun faktor budaya dan sosial yang memengaruhi kontrasepsi bagi pria. Berdasarkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional . , tercatat bahwa sebesar 57,2% pasangan usia subur di Indonesia telah memanfaatkan metode kontrasepsi Dari angka tersebut, metode yang paling dominan digunakan ialah kontrasepsi suntik dan pil, yang mayoritas ditujukan bagi perempuan (Kementerian Kesehatan, 2. Di sisi laki-laki penggunaan alat kontrasepsi masih tergolong rendah, dengan penggunaan 3,1%, sedangkan Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi tercatat sebesar 0,2% (Najah & Yeni, 2. Ketimpangan angka tersebut menunjukkan adanya pengaruh konstruksi sosial yang telah lama melekat dalam masyarakat, di mana tanggung jawab terkait reproduksi dan pengendalian kelahiran lebih sering dibebankan kepada perempuan (Badan Pusat Statistik, 2. Fenomena ini mencerminkan perlunya pendekatan gender yang lebih adil dalam kebijakan dan praktik program Keluarga Berencana di Indonesia. Minimnya keterlibatan pria dalam menjalani prosedur vasektomi dapat dikaitkan dengan beragam faktor yang bersifat sosiokultural, ekonomi, serta tingkat pemahaman yang masih terbatas (Guspianto, 2019. Marbun dkk. , 2. Sejumlah kajian menyebutkan bahwa ketimpangan gender dalam partisipasi program Keluarga Berencana tidak terlepas dari pengaruh struktur sosial dan budaya, seperti sistem patriarki, nilai-nilai stereotip peran gender, serta stigma negatif terhadap vasektomi, seperti kekhawatiran akan gangguan fungsi Persepsi masyarakat yang keliru, seperti menganggap vasektomi "kastrasi" penghilangan kejantanan, turut disebut sebagai salah satu hambatan utama yang membuat pria enggan terlibat dalam program KB, terutama metode vasektomi (Elyana dkk. , 2. Oleh determinan sosial dan kultural yang memengaruhi kesiapan pria untuk menjalani vasektomi menjadi sangat krusial dalam upaya mendorong peran yang lebih seimbang antara gender dalam program pengendalian kelahiran di Indonesia. Perluasan partisipasi pria dalam program KB, khususnya melalui metode vasektomi merupakan imperatif dalam Sustainable Development Goals (SDG. 2030 terkait kesetaraan gender dan akses universal terhadap layanan kesehatan seksual dan reproduksi (UNFPA, 2. Keterlibatan pria dalam KB juga berkontribusi signifikan terhadap penurunan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia yang masih menjadi tantangan serius dalam (Kementerian Kesehatan, 2. Oleh karena itu, pemahaman komprehensif mengenai berbagai determinan yang memengaruhi keputusan pria untuk menjalani vasektomi sangat esensial guna merumuskan strategi intervensi yang efektif. Tinjauan literatur ini mengadopsi Model Ekologi Kesehatan Masyarakat dengan tujuan untuk menganalisis faktor-faktor kesediaan pria di Indonesia dalam Model tingkatan interaksi, seperti iindividu, hubungan . , komunitas, dan kebijakan. Pada tingkat individu, faktor seperti pengetahuan, sikap, dan persepsi terhadap prosedur, manfaat, peranan krusial (Auma dkk. , 2. Selanjutnya, pada tingkat hubungan . , dukungan pasangan serta pengaruh teman sebaya dan keluarga besar sangat memengaruhi keputusan (Dejene Wolde dkk. , 2. Tingkat komunitas melibatkan norma sosial, budaya, dan dukungan dari tokoh masyarakat atau kelompok pendukung yang dapat membentuk penerimaan Terakhir. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. regulasi pemerintah, program nasional KB, alokasi anggaran, dan ketersediaan informasi berperan dalam menciptakan vasektomi (Roudsari dkk. , 2023. UNFPA, Dengan memahami interaksi kompleks antara faktor-faktor tersebut. Tinjauan literatur ini diharapkan dapat penyusunan strategi intervensi yang sesuai dengan konteks sosial budaya masyarakat Indonesia. METODE Berisi jenis penelitian, waktu dan target/sasaran, subjek penelitian, prosedur, data dan instrumen dan teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data serta hal-hal lain yang berkaitan dengan cara Pada saat pengumpulan data artikel, tahap pertama yang harus dilakukan adalah menyusun kriteria inklusi dan eksklusi serta pencarian Dalam menentukan kriteria tersebut, literature review ini digunakan metode SPIDER seperti pada tabel 1. Tabel 1. Format SPIDER Dalam Penentuan Kriteria Inklusi Dan Eksklusi Artikel Kriteria Inklusi Eksklusi Sample Pasangan Pasangan Usia Subur (PUS). Pria dengan KB Vasektomi. Pria Selain pasangan suami istri. Pasangan Usia Subur (PUS). Pria dengan KB Vasektomi. Pria Phenomenon of Interest KB Vasektomi dan MOP Selain KB Vasektomi dan MOP Design Cross sectional, chi-square, case control, fenomenologi, studi kasus, teori relasi Selain cross sectional, chisquare, fenomenologi, studi kasus, teori relasi kuasa Evaluation Research Type Metode Kuantitatif. Metode Kualitatif. Mix-methods Publication Years Sebelum tahun 2019 Language Bahasa Indonesia bahasa Inggris Kemudian, tahap selanjutnya yaitu melakukan data. Kata kunci yang digunakan adalah AuFaktor kesediaan pria dalam melakukan KB vasektomi atau MOP di IndonesiaAu. AuPartisipasi suami dan Selain bahasa Indonesia dan bahasa Inggri vasektomiAy. AyDukungan pasangan atau istri terkait KB vasektomiAy. Pencarian data menggunakan database Google Scholar. Hasil pencarian artikel terlihat seperti pada di gambar 1. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. Gambar 1. Alur Pencarian Sampel Artikel HASIL Pencarian Literatur dan Kelayakan Artikel Seluruh artikel yang ditinjau dalam studi pustaka ini menggunakan sampel pria pasangan usia subur (PUS) atau akseptor vasektomi dengan berbagai 6 artikel, terutama desain crosectional Sebanyak menggunakan metode kualitatif untuk eksplorasi mendalam terkait persepsi dan pengalaman. Kemudian, 2 artikel lainnya menggunakan metode campuran . ixed-method. untuk analisis yang lebih komprehensif. desain penelitian. Total artikel yang dianalisis sebanyak 12 artikel, termasuk 7 artikel yang menyoroti faktor-faktor, seperti dukungan istri, pengetahuan, dan Sedangkan, artikel lainnya mengkaji beberapa aspek unik, seperti relasi kuasa, stigma sosial, dan pengaruh nilai budaya. Metode penelitian yang digunakan didominasi dengan pendekatan kuantitatif sebanyak Tabel 2. Deskripsi Karakteristik Artikel Karakteristik Jumlah (N=. Metode Penelitian Metode Kuantitatif Metode Kualitatif Mixed-methods 50,00% 33,33% 16,67% Lokasi Penelitian Indonesia Mayoritas penelitian partisipasi pria dalam KB vasektomi di Indonesia menggunakan pendekatan kuantitatif Beberapa studi juga menerapkan pendekatan kualitatif dan campuran guna mendalami pengalaman subjektif serta konteks sosial-budaya. Fokus Indonesia dengan kondisi lokal dan sistem layanan Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. Tabel 3. Deskripsi Artikel Terpilih Dan Hasil Temuan Judul Penelitian Nama dan Metode Tahun Penelitian Peneliti Subjek Penelitian Hasil Penelitian Gambaran Faktor Predisposing. Enabling dan Reinforcing KB Vasektomi Febrianti . Peserta KB aktif di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya tahun Analisis Faktor Berhubungan Penggunaan Vasektomi di Desa Karanganyar Kabupaten Ngawi Jawa Timur Amanati Penelitian . kuantitatif analitik dengan cross sectional. Penggunaan samping dan tidak Jumlah anak ketersediaan suami Selain itu, didukung vasektomi memiliki harga terjangkau. Dukungan dari istri, . alaupun Sebagian Terdapat hubungan dan perilaku istri, sikap dan perilaku kader KB, sikap dan Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) wilayah penelitian. Dilakukan informasi terkait KB konseling olek PLKB melaksanakan KB Penelitian Pria Pasangan Usia Subur (PUS) yang domisili Desa Karanganyar, jumlah anak 2 dengan usia paling kecil >2 tahun, dan memiliki istri usia reproduksi 15-30 tahun dengan jumlah Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. Keputusan Pemilihan Metode Vasektomi Di Kota Makassar Halimah Penelitian . kualitatif studi kasus. Studi Korelasi Faktor yang Keikutsertaan Suami Sebagai Akseptor Vasektomi (Rahmawati Ariningtyas. Dukungan Pasangan dan Pandangan Nilai Anak Laki-laki Keikutsertaan Vasektomi Aulia Deskriptif analitik dengan cross sectional. Pria peserta KB vasektomi di Kota Banjarmasin. Relasi Kuasa Menentukan Praktik KB Vasektomi di Situbondo Zakiyah Kualitatif . deskriptif kuasa Foucault. Pasangan suami istri, tokoh masyarakat, dan petugas KB di Situbondo. Eksplorasi Pengalaman Partisipasi Suami dalam Penggunaan Kontrasepsi Vasektomi Aulia Kualitatif An Analysis of Factors Influencing Participation of Men Fertilizer Pria akseptor vasektomi di Kecamatan Tamalate. Penelitian Pria dengan kuantitatif jenis rentang usia 21analitik >51 tahun. cross sectional. Sejumlah 6 vasektomi di Banjarmasin, berusia 39-50 rendah, dan di bawah UMR. Musfiroh Penelitian 134 pria Agustin Pasangan Usia . dengan desain Subur (PUS) cross-sectional, memiliki istri berusia 25-45 Faktor-faktor pendukung suami dukungan istri dan keluarga, ekonomi, dan jumlah anak. Faktor dengan kesediaan melakukan KB. Dukungan terhadap nilai anak laki-laki pengaruh signifikan Vasektomi Relasi kuasa dalam agama dan budaya dalam penggunaan KB Vasektomi Faktor penggunaan KB Vasektomi pada pria, di antaranya anak, dan fasilitas Pengetahuan . Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. Age Couples to Acceptors of Mop (Male Operating Method. Contraception Reassessing the Level and Implications of Male Involvement in Family Planning in Indonesia Faktor-Faktor Berhubungan Partisipasi Pria Penggunaan Kontrasepsi Vasektomi di Klinik Bersalin Sharon Kecamatan Wanea Kota Manado Tahun Factors Affecting the Vasectomy Uptake of Married Couples in Bangka Belitung Islands. Indonesia Analisis bivariat (Chi-Squar. dan multivariat (Multiple Logistic Regressio. Rahayu Desain . uantitatif dan tahun, minimal 2 anak, di Desa Jati. Sidoarjo. Jawa Timur. signifikan terhadap dalam melakukan KB Vasektomi. Sejumlah 8. menikah dari data Indonesian Demographic Health Survey (IDHS) 2017 dan peserta diskusi terfokus (FGD) dari berbagai wilayah di Indonesia. Lope Penelitian Sejumlah 50 pria pasangan usia dengan desain subur di Klinik cross-sectional Bersalin Sharon, analisis Kecamatan Chi-Square. Wanea. Kota Manado. Faktor pengetahuan, dan paparan terhadap berpengaruh dalam keputusan pria. Irawaty Rafani . & Metode . Analisis laporan . dan wawancara . dengan analisis Sejumlah 907 pria yang vasektomi di Kepulauan Bangka Belitung . 5Ae2. dan 7 pasangan . pasangan vasektomi, 4 pasangan nonvasektom. serta Dukungan memiliki hubungan signifikan dengan dalam penggunaan vasektomi . = 0,. , sementara sumber informasi Selain sebagai tanggung jawab wanita. Rendahnya bahwa vasektomi Istri peran kunci dalam Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. Faktor-Faktor Berhubungan dengan Perilaku Pria dalam BerKB di Wilayah Kerja Puskesmas Ciruas Kabupaten Serang Khotimah ATLAS. 2 tenaga Penelitian case control. Sejumlah 70 orang pria yang ber KB, dan untuk kelompok kontrol diambil 1:1 yaitu orang pria yang tidak ber KB. PEMBAHASAN Faktor Individu Terhadap Kesediaan Pria Dalam Menjalani Vasektomi Beberapa studi menyatakan bahwa pengetahuan dan sikap pria terhadap vasektomi sangat berpengaruh terhadap Pengetahuan yang rendah dan sikap (Musfiroh Agustin Rahmawati Ariningtyas. Penelitian oleh Amanati dkk. dan Khotimah . juga mendukung bahwa pendidikan dan informasi yang perilaku KB. Faktor Sosial dan Kultural Terhadap Kesediaan Pria Dalam Menjalani Vasektomi Dukungan istri ditemukan sebagai determinan yang paling konsisten dan signifikan dalam seluruh penelitian (Cook , 2014. Halimah dkk. , 2020. Irawaty & Rafani, 2. Selain itu, nilai-nilai keputusan, dengan bahwa vasektomi Di sisi lain, beban kontrasepsi beralih ke suami. Tenaga kesehatan sebagai hambatan Pendidikan, sikap, perilaku pria dalam ber-KB. budaya dan persepsi terhadap anak lakilaki turut memengaruhi keputusan pria dalam menggunakan vasektomi (Aulia , 2. Stigma sosial, seperti persepsi bahwa vasektomi sama dengan kebiri atau menyebabkan impotensi, juga menjadi penghalang signifikan (Febrianti, 2019. Irawaty & Rafani. Faktor Struktural dan Layanan Kesehatan Terhadap Kesediaan Pria Dalam Menjalani Vasektomi Keberadaan dan akses terhadap informasi, konseling, serta dukungan tenaga kesehatan berkontribusi pada meningkatnya partisipasi pria (Amanati , 2021. Aulia dkk. , 2. Beberapa studi juga menekankan pentingnya kampanye dan pendidikan kesehatan untuk mengubah persepsi masyarakat (Nur dkk. , 2. Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. Faktor Ekonomi Keluarga Terhadap Kesediaan Pria Dalam Menjalani Vasektomi Kondisi ekonomi keluarga, jumlah anak yang dimiliki, serta kondisi kesehatan istri menjadi pertimbangan rasional pria untuk memilih vasektomi (Aulia dkk. , 2023. Halimah dkk. , 2. Dalam beberapa kasus, keputusan vasektomi juga dianggap sebagai bentuk budaya lokal memainkan peran penting. Hal ini menyoroti pentingnya pendekatan berbasis gender dalam edukasi dan advokasi KB pria. Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Kesediaan Pria Dalam Menjalani Vasektomi Berdasarkan Model Ekologi Vasektomi adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu menekan laju pertumbuhan penduduk dengan melakukan sterilisasi pada pria. Banyak pria yang merasa ragu untuk melakukan vasektomi karena beberapa alasan yang memengaruhi kesediaan pria (Dartiningsih, 2. Pada tinjauan literatur ini, metode yang digunakan untuk melakukan analisis faktor-faktor yang memengaruhi kesediaan pria ditinjau dengan model ekologi kesehatan Model ini menekankan bahwa berbagai faktor pada tingkatan yang berbeda, yaitu tingkat individual, tingkat hubungan . , tingkat komunitas, dan tingkat sosial/kebijakan . dapat memengaruhi perilaku kesehatan (Glanz dkk. , 2. Banyak anggapan negatif dari masyarakat khususnya pada kalangan vasektomi sama dengan kebiri hingga kejantanannya akan hilang. Selain itu, pengalaman oleh pria yang menjalani keberagaman peristiwa yang terjadi dapat menjadi landasan pengetahuan yang dimiliki pria (Dartiningsih, 2. Hal ini sejalan dengan tingkat individu yang ada pada model ekologi kesehatan masyarakat, bahwa faktor-faktor seperti tentang vasektomi sangat berpengaruh terhadap kesedian pria dalam menjalani Penelitian yang dilakukan oleh Febrianti . menunjukkan kesejahteraan keluarga. Relasi Kekuasaan Gender Terhadap Kesediaan Pria Dalam Menjalani Vasektomi Penelitian oleh Zakiyah dkk. mengangkat dimensi relasi kuasa dalam rumah tangga, menunjukkan bahwa dominasi istri dalam keputusan KB serta pengaruh tokoh agama dan norma bahwa sebagian besar peserta KB memiliki pengetahuan yang baik tentang Penelitian lain yang dilakukan oleh Musfiroh Agustin dkk. juga menemukan bahwa pengetahuan rendah . ,4%) dan sikap negatif . ,4%) menghambat partisipasi pria dalam metode operasi pria (MOP). Hasil dari penelitian ini sesuai dengan model keyakinan individu menjadi dasar dalam pengambilan keputusan. Pengambilan pengambilan keputusan terhadap KB vasektomi dipengaruhi oleh respons lingkungan sekitar. Pria akan merasa didukung ketika mendapatkan respons positif dari pasangan dan keluarga (Halimah dkk. , 2. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Musfiroh Agustin dkk. juga mengatakan memberikan pengaruh yang signifikan . 3%) dalam pengambilan keputusan terkait KB vasektomi. Program KB, khususnya vasektomi tidak jarang menghadapi berbagai tantangan sosial dan kultural. Vasektomi perlu mendapatkan dukungan dari masyarakat, termasuk salah satunya adalah tokoh agama dengan cara memberikan pemahaman bahwa KB tidak bertentangan dengan agama dan merupakan upaya dalam menyelesaikan masalah kependudukan (Dartiningsih. Pada tingkat komunitas dalam model ekologi kesehatan masyarakat, mengharapkan kuatnya sosial norma dan dukungan sosial untuk sehat sehingga individu dapat termotivasi dan membuat keputusan berkaitan dengan kesehatan. Penelitian oleh Irawaty & Rafani . disebabkan oleh stigma negatif dan miskonsepsi dari masyarakat. Tingkat ini Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. juga diperkuat dengan temuan dari penelitian Zakiyah dkk. yang mengungkapkan bahwa relasi kuasa dalam rumah dan pengaruh tokoh agama signifikan dalam menentukan praktik Kedua penelitian ini secara lingkungan sosial dan kelembagaan lokal merupakan faktor kritis yang dapat Norma budaya dan ketimpangan pengambilan keputusan KB vasektomi pada pria. Anggapan bahwa pelaksanaan KB ditangguhkan kepada wanita yang mendukung faktor tersebut (Lope dkk. Selain itu, terdapat persepsi bahwa KB vasektomi dapat memicu perselingkuhan suami. Namun, di sisi meningkat sebab beban kontrasepsi beralih ke suami (Irawaty & Rafani. Fasilitas yang disediakan oleh pemerintah memengaruhi. Hasil review menunjukkan bahwa faktor pria dalam pengambilan keputusan melakukan KB vasektomi dipengaruhi oleh empat model tingkatan analisis ekologi kesehatan Dimana tingkat individu, sosial/kebijakan dukungan positif maupun negatif bagi Pada tingkat individu, pria yang vasektomi cenderung akan lebih mudah dalam pengambilan keputusan terkait penggunaan KB Vasektomi. Hal tersebut karena dengan pengetahuan mereka bisa menentukan mana yang terbaik untuk kehidupan mereka. Pada tingkat hubungan, pria yang didukung penuh oleh pasangannya akan memilih untuk melakukan KB Vasektomi, begitu pula Selanjutnya, pada tingkat lingkungan di mana tidak menitik beratkan KB terletak pada wanita akan mengambil keputusan KB Vasektomi pada tubuhnya. Kemudian, pada tingkat sosial/kebijakan. Vasektomi meringankan bebabn warganya yang sedang mempertimbangkan keputusan KB Vasektomi tersebut. SIMPULAN Tinjauan literatur ini menunjukkan bahwa partisipasi pria dalam vasektomi di Indonesia masih rendah, meskipun metode ini terbukti efektif dan aman. Berdasarkan Model Ekologi Kesehatan Masyarakat, berbagai tingkat, yaitu tingkat individu . urangnya pengetahuan dan persepsi . ukungan pasanga. , komunitas . orma patriarki dan pengaruh buday. , serta sosialkebijakan . kses informasi terbatas dan layanan yang belum responsif terhadap kebutuhan pri. Stigma sosial dan anggapan bahwa pengendalian kelahiran adalah tanggung jawab perempuan turut Oleh karena itu, diperlukan yang saling berkaitan untuk mendorong transformasi kebijakan dan budaya kesehatan reproduksi. SARAN Pemerintah dan pelaksana program Keluarga Berencana (KB) merancang strategi edukasi yang secara pendekatan yang sensitif terhadap meningkatkan partisipasi mereka dalam program KB. Pemberdayaan peran istri serta keterlibatan tokoh agama dan masyarakat juga perlu ditingkatkan dalam kampanye edukatif mengenai vasektomi untuk menciptakan dukungan sosial yang positif dan mendorong Penyebaran vasektomi harus dilakukan melalui media yang inklusif dan mudah diakses, seperti media sosial, forum komunitas, dan fasilitas layanan dengan penekanan pada aspek medis, keamanan, serta manfaat prosedur secara objektif dan jelas. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kebijakan yang mendukung keterlibatan pria dalam program KB, termasuk pelatihan tenaga Jurnal Dunia Kesmas. Vol, 14 No. July 2025, hal 274-287 ISSN 2301-6604 (Prin. ISSN 2549-3485 (Onlin. http://ejurnalmalahayati. id/index. php/duniakesmas/index Faktor Kesediaan Pria Menjalani A (JaAofar Fauzan Ramadhan. Ghania Nashita, dk. integrasi promosi kesehatan dalam layanan primer secara berkelanjutan. Untuk mendukung perumusan intervensi yang kontekstual dan berbasis bukti, diperlukan penelitian lanjutan dengan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif di berbagai wilayah guna memahami dinamika lokal secara lebih mendalam. DAFTAR PUSTAKA