PEMBERIAN VITAMIN D MENYEBABKAN JUMLAH SEL NEUTROFIL LEBIH RENDAH DIBANDING KONTROL PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PERIODONTITIS. Hervina1. I Gusti Ayu Dewi Haryani 2. Ni Made Duty Paradiska Aryandana 3 Bagian Periodonsia. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar. Program Profesi Dokter Gigi. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar. Email:Paradiskaaryandana17@gmail. ABSTRACT Introduction: Periodontitis is a chronic inflammation caused by infection with microorganisms, resulting in progressive damage to the supporting tissues of the Neutrophil cells play an important role during the inflammatory phase of the wound healing process where the antimicrobial activity of neutrophils is very effective and allows these cells to perform their main function to prevent wounds from becoming infected. Vitamin D can reduce susceptibility to gingival inflammation through its anti-inflammatory effects. The purpose of this study was to determine the effectiveness of vitamin D administration on neutrophil cell count in wistar rats that had periodontitis Methods: Experimental research method of randomized post test only control group design with male wistar as many as 27 white rats randomized by samples into three groups, i. control group I (K. of healthy mice given vitamin D 2000 IU observed day 7 (K. , day 14 (K. and day 28 (K. control group II (K. of periodontitis-induced wistar rats without supplementary administration observed on day 7 (K. , day 14 (K. and day 28 (K. the treatment group (P. of wistar rats induced periodontitis then the administration of vitamin D 2000 IU was observed on day 7 (P. , day 14 (P. and day 28 (P. Result: The results of this study, the number of netrophil cells also obtained results, namely the average day 14 of the number of neutrophil cells showed that the value of F = 22. 69 and the value of p = 0. Conclusion: The conclusion on the results of the study that vitamin D has an effect in reducing the number of neutrophil cells in wistar rats that have periodontitis. Keywords:Neutrophil cells, vitamin D periodontitis ABSTRAK PEMBERIAN VITAMIN D MENYEBABKAN JUMLAH SEL NEUTROFIL LEBIH RENDAH DIBANDING KONTROL PADA TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PERIODONTITIS Periodontitis merupakan inflamasi kronis yang disebabkan adanya infeksi mikroorganisme, sehingga mengakibatkan kerusakan secara progresif pada jaringan pendukung gigi. Sel neutrofil sangat berperan penting saat fase inflamasi pada proses penyembuhan luka dimana aktivitas antimikroba dari neutrofil sangat efektif dan memungkinkan sel-sel ini untuk menjalankan fungsi utamanya untuk mencegah luka agar tidak terinfeksi. Vitamin D dapat mengurangi kerentanan terhadap peradangan gingiva melalui efek anti- inflamasinya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas pemberian vitamin D terhadap jumlah sel neutrofil pada tikus wistar yang mengalami Metode penelitian eksperimental randomized post test only control group design dengan wistar jantan sebanyak 27 ekor tikus putih yang diacak sampel menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok kontrol I (K. tikus sehat diberi vitamin D 2000 IU diobservasi hari ke 7 (K. , hari ke 14 (K. dan hari ke 28 (K. kelompok kontrol II (K. tikus wistar yang diinduksi periodontitis tanpa pemberian suplemen tambahan yang diobservasi pada hari 7 (K. , hari ke 14 (K. dan hari ke 28 (K. perlakuan (P. tikus wistar diinduksi periodontitis kemudian pemberian vitamin D 2000 IU diobservasi pada hari 7 (P. , hari ke 14 (P. dan hari ke 28 (P. Hasil penelitian ini, jumlah sel netrofil juga didapatkan hasil yaitu rerata hari ke-14 jumlah sel neutrofil menunjukkan bahwa nilai F = 22,69 dan nilai p = 0,004. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan rerata jumlah neutrofil pada ke sembilan kelompok . < 0,. Kesimpulan pada hasil penelitian bahwa vitamin D berpengaruh dalam penurunan jumlah sel neutrofil pada tikus wistar yang mengalami periodontitis. Kata Kunci: Vitamin D,sel neutrofil,periodontitis LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan bagian terpenting dalam kehidupan manusia, sehat secara jasmani dan rohani. Kesehatan yang perlu diperhatikan selain kesehatan tubuh secara umum, juga kesehatan gigi dan mulut, karena kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013, diketahui bahwa sangat tinggi atau sebanyak 161. ,6%) responden yang dilakukan pemeriksaan gigi menderita karies gigi. Tingginya Prevalensi karies dan penyakit periodontal di masyarakat menimbulkan dampak yang besar. Rasa sakit akibat karies dan penyakit periodontal dapat menyebabkan keterbatasan fisik dan ketidaknyamanan psikis sehingga menimbulkan gangguan fungsi yang akhirnya Penyakit diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu gingivitis dan periodontitis. Periodontitis disebabkan mikroorganisme patogen yang menginfeksi jaringan pendukung gigi sehingga mengakibatkan terbentuknya periodontal pocket, kerusakan progresif pada ligamen periodontal dan tulang alveolar. Perawatan periodontitis yang tidak tepat dapat mengakibatkan kehilangan gigi dan terganggunya asupan nutrisi sehingga pada akhirnya berpengaruh pada kehidupan sosial bahkan menimbulkan permasalahan keuangan pada individu yang menderita penyakit ini. Periodontitis merupakan penyakit pada jaringan periodontal yang sudah mengenai jaringan pendukung gigi akibat akumulasi plak. Prevalensi periodontitis pada masyarakat usia Ou 15 tahun menurut data Riskesdas 2018 adalah 67,8% ini berarti dari sepuluh orang penduduk Indonesia sebanyak 7 orang yang menderita periodontitis 2,3. Periodontitis yang tidak dirawat akan menyebabkan terjadinya avulsi dan kerusakan jaringan yang semakin parah. Sel fibroblas berperan dalam membentuk kolagen untuk menunjang penyembuhan luka dan perlekatan kembali ligamen periodontal. Akumulasi bakteri pada gigi berperan sangat penting dalam berkembangnya periodontitis. Ketika biofilm bakteri pada gigi tidak dibersihkan secara teratur, perubahan ekologis menyebabkan timbulnya sekumpulan kecil spesies bakteri anaerob Gram negatif, termasuk Porphyromonas gingivalis. Treponema denticola, dan Tannerella forsythia (T. Periodontitis merupakan inflamasi kronis yang disebabkan adanya infeksi mikroorganisme, sehingga mengakibatkan kerusakan secara progresif pada jaringan pendukung gigi. Bakteri-bakteri ini selalu dihubungkan dengan terjadinya periodontitis. Mereka mengaktifkan proses-proses imunoinflamasi inang dan mengganggu mekanisme inang dalam pembersihan bakteri. Ketika bakteri menginfeksi dental pulp, terjadi penghancuran jaringan lunak yang disebabkan teraktivasinya leukosit dan terbentuknya sitokin, eikosanoid, dan matriks metaloproteinase yang menyebabkan kerusakan jaringan ikat dan tulang5. Resorpsi tulang merupakan faktor yang paling kritis pada kerusakan daerah perlekatan akibat periodontitis yang menyebabkan tanggalnya gigi. Substansi yang dikeluarkan dari plak bakteri dan jaringan dapat menyebabkan kerusakan tulang baik melalui diferensiasi maupun oleh stimulasi osteoklas atau melalui penghambat pembentukan tulang oleh osteoblast6. Fase inflamasi pada penyembuhan luka merupakan fase yang penting karena pada fase ini terjadi infiltrasi neutrofil ke arah luka yang berfungsi menghilangkan mikroorganisme dan mencegah kontaminasi mikroorganisme menjadi kolonisasi dan selanjutnya menjadi infeksi, salah satu sel sistem kekebalan yang paling banyak dan sangat aktif selama perbaikan luka adalah neutrophil7. Sel Neutrofil sangat berperan penting saat fase inflamasi pada proses penyembuhan luka dimana aktivitas antimikroba dari neutrofil sangat efektif dan memungkinkan sel-sel ini untuk menjalankan fungsi utamanya untuk mencegah luka agar tidak terinfeksi. Penurunan jumlah sel yang terjadi pada hari ke-5 menandakan bahwa penyembuhan mulai masuk ke tahap berikutnya, sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan Apabila inflamasi masih berlanjut . rolonged inflammatio. , fungsi sel netrofil akan digantikan oleh sel monosit. Sel monosit akan melakukan diapedesis dari endotellium menuju ke jaringan menjadi makrofag untuk melakukan fagositosis 8,9. Menurut penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa vitamin D tidak hanya penting untuk kesehatan tulang . dan gigi, pengetahuan tentang vitamin D semakin bertambah maju dengan ditemukannya reseptor vitamin D (Vitamin D Receptor/ VDR) dibanyak sel dan mendorong lebih banyak penelitian tentang fisiologi vitamin ini. Begitu banyak penelitian yang dilakukan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan vitamin D, termasuk penggunaan vitamin ini pada berbagai penyakit10. Satu penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pria dengan asupan vitamin D yang tinggi mengalami insiden yang lebih rendah dari periodontitis parah dan kehilangan tulang alveolar. Studi lain melaporkan bahwa vitamin D dapat mengurangi kerentanan terhadap peradangan gingiva melalui efek anti- inflamasinya. Kebutuhan vitamin D untuk anak-anak hingga usia 50 tahun adalah sekitar 200 UI, sedangkan untuk usia di atas 50 tahun kebutuhannya menjadi meningkat dua hingga tiga kali lipatnya, yaitu antara 400600 Ul dalam sehari. Kebutuhan akan vitamin D juga mengalami peningkatan pada usia pertumbuhan 11. Vitamin D merupakan hormon secosteroid yang disintesis melalui reaksi fotokimia dari radiasi sinar ultraviolet pada sel kulit dan melalui konsumsi makanan. Defisiensi vitamin D dapat menyebabkan turunnya densitas mineral tulang, osteoporosis, meningkatnya penyakit periodontal, dan resorpsi tulang rahang. Vitamin D memiliki efek imunomodulator, antiinflamasi, antiproliferasi, dan apoptosis sel, sehingga terpenuhinya kebutuhan vitamin D dapat menurunkan resiko terjadinya gingivitis dan periodontitis Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti ingin melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian vitamin D menyebabkan jumlah sel netrofil lebih rendah pada tikus wistar yang diinduksi periodontitis. METODE Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental rancangan randomized post test only control group design. Prosedur penelitian telah mendapat kelaikan etik oleh komisi etik penelitian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar no. 1032/A. 01/FKG-Unmas/IX/2022. Perlakuan terhadap hewan coba dan pemeriksaan histologis dilakukan di Laboratorium Biomedik Terpadu Fakultas Kedokteran Universitas Udayana 1028/B. 01/XI/2022. Sampel yang digunakan sebanyak 27 ekor tikus, tikus dianestesi terlebih dahulu dengan kombinasi ketamin dan xylazine. Dosis ketamine 40 mg/Kg BB diberikan secara intramuskuler dan xylazine 5 mg/kg BB secara subkutan. Selanjutnya dilakukan Induksi periodontitis dilakukan dengan menyuntikkan isolate bakteri Porphyromonas gingivalis secara intrasulkuler pada sulkus gingiva gigi insisivus pertama kanan rahang bawah bagian labial dengan menggunakan jarum insulin 30G sebanyak 0,02 ml, diberikan 2 hari sekali selama 28 hari. Setelah induksi pertama kali kemudian sampel di kelompokkan secara random alokasi menjadi 3 kelompok masing-masing 9 ekor Kelompok kontrol 1, tikus normal tidak diinduksi periodontitis, diberi makanan biasa dan Vitamin D 2000 IU/hari di dekaputasi pada hari ke-7 sebanyak 3 ekor, pada hari ke-14 sebanyak 3 ekor dan pada hari ke-28 sebanyak 3 ekor. Kelompok Kontrol 2 diinduksi periodontitis dan diberi placebo berupa makanan biasa. Di dekaputasi pada hari ke-7 sebanyak3 ekor, pada hari ke-14 sebanyak 3 ekor dan pada hari ke-28 sebanyak 3 ekor. Kelompok Perlakuan: diinduksi periodontitis, diberi makanan biasa dan vitamin D 2000 IU/ hari dan di dekaputasi pada hari ke-7 sebanyak 3 ekor, pada hari ke-14 sebanyak 3 ekor dan pada hari ke-28 sebanyak 3 ekor. Tulang alveolar gigi insisivus rahang bawah diambil dan disimpan dalam formalin, kemudian dilakukan pembuatan sediaan histopatologis. Untuk melihat jumlah sel neutrofil. Pemotongan spesimen dengan mikrotom ketebalan 5 mikron, diwarnai dengan Hematoksilin Eosin (HE). Perhitungan jumlah sel neutrofil dengan menggunakan mikroskop pembesaran 400 kali. pada tiga potongan jaringan di lima lapang pandang Pemeriksaan ini dibagi menjadi tiga tahap pemprosesan jaringan, tahap pengecatan Hematoksilin Eosin (HE) dan perhitungan jumlah sel neutrofil. Rerata jumlah neutrofil dihitung dari 3 potongan jaringan tersebut. Uji normalitas dengan Uji ShapiroWilk yaitu jumlah sel neutrofil dengan sampel < 30. Sebaran data dikatakan terdistribusi normal bila nilai p > 0,05. Rerata jumlah sel neutrofil diuji dengan Uji Kruskal Wallis untuk mengetahui perbedaan antar kelompok, terdapat perbedaan rerata jumlah sel neutrofil antar kelompok maka nilai kemaknaan p < 0,05. Untuk mengetahui pada kelompok mana terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji Post Ae hoc dengan MannWhitney U. HASIL Analisis Deskriptif data jumlah neutrofil dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui gambaran rerata, simpang baku (SB), nilai minimum, nilai maksimum yang diperoleh dari hasil penelitian. Tabel 5. Hasil Analisis Deskriptif Jumlah Neutrofil Antar Kelompok Kelompok Rerata Maks Min K0-7 10,67 1,15 12,00 10,00 K0-14 7,67 1,15 9,00 7,00 K0-28 3,67 0,58 4,00 3,00 K1-7 12,00 1,00 13,00 11,00 K1-14 9,67 0,57 10,00 9,00 K1-28 10,00 1,00 11,00 9,00 P1-7 10,00 1,00 11,00 9,00 P1-14 8,33 0,58 9,00 8,00 P1-28 3,67 1,15 5,00 3,00 Uji Normalitas Data jumlah neutrofil diuji normalitasnya dengan Shapiro-Wilk, pada 2 terlihat semua data terdistribusi normal . >0,. Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Data Jumlah Neutrofil Antar Kelompok Kelompok K0-7 0,000 K0-14 0,000 K0-28 0,000 K1-7 1,000 K1-14 0,000 K1-28 1,000 P1-7 1,000 P1-14 0,000 P1-28 0,000 Hasil uji normalitas menunjukkan ada kelompok data yang tidak terdistribusi normal, dan setelah dilakukan transformasi data tetap diperoleh hasil yang tidak terdistribusi normal pada beberapa kelompok, sehingga uji beda yang digunakan adalah Kruskal-Wallis dengan uji post hoc menggunakan Mann-whitney. Uji Beda Antar Kelompok Rerata jumlah neutrofil diuji dengan Uji Kruskal-wallis untuk mengetahui perbedaan antar kelompok. Tabel 5. Perbedaan Jumlah Neutrofil Antar Kelompok Kelompok Rerata K0-7 10,67 1,15 K0-14 7,67 1,15 K0-28 3,67 0,58 K1-7 12,00 1,00 K1-14 9,67 0,57 K1-28 10,00 1,00 P1-7 10,00 1,00 P1-14 8,33 0,58 P1-28 3,67 1,15 22,686 0,004 Tabel 5. 3 menunjukkan Analisis kemaknaan dengan Kruskal-wallis data jumlah neutrofil menunjukkan bahwa nilai F = 22,69 dan nilai p = 0,004. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan rerata jumlah neutrofil pada ke sembilan kelompok . < 0,. Untuk mengetahui pada kelompok mana terdapat perbedaan maka dilakukan Uji Post-Hoc dengan Mann-whitney . Tabel 5. Beda Nyata Terkecil Rerata Jumlah Neutrofil Antar Dua Kelompok Kelompok K0-7 dan K0-14 0,043* K0-7 dan K0-28 0,043* K0-14 dan K0-28 0,043* K1-7 dan K1-14 0,046* K1-7 dan K1-28 0,077 K1-14 dan K1-28 0,637 P1-7 dan P1-14 0,072 P1-7 dan P1-28 0,046* P1-14 dan P1-28 0,043* K0-7 dan K1-7 0,178 K0-14 dan K1-14 0,068 K0-28 dan K1-28 0,046* K0-7 dan P1-7 0,487 K0-14 dan P1-14 0,361 K0-28 dan P1-28 0,814 K1-7 dan P1-7 0,077 K1-14 dan P1-14 0,068 K1-28 dan P1-28 0,046* *Berbeda bermakna DISKUSI Penyakit periodontal merupakan masalah kesehatan gigi dan mulut yang sering terjadi salah satunya yaitu periodontitis. Periodontitis merupakan penyakit periodontal berupa inflamasi kronis pada jaringan penyangga gigi yang disebabkan oleh bakteri. Telah diketahui bahwa periodontitis murni sebagai penyakit inflamasi pada jaringan pendukung gigi yang menyebabkan kerusakan progresif perlekatan ligament periodontal dan tulang alveolar. Bakteri merupakan etiologi utama penyakit periodontitis. Bakteri pada plak dental yang terakumulasi pada permukaan gigi. Bakteri patogen yang biasa dijumpai pada lesi periodontal ini antara lain Porphyromonas gingivalis. Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Tannerella forsythia dan Treponema denticola akan mengaktifkan respon imun terhadap patogen periodontal dan endotoksin tersebut dengan merekrut neutrofil, makrofag dan limfosit ke sulkus gingiva untuk menjaga jaringan pejamu dan mengontrol perkembangan bakteri 12. Tikus yang telah diinduksi periodontitis selama tujuh hari setelah diinduksi bakteri Porphyromonas gingivalis, secara klinis tampak tanda-tanda periodontitis yaitu warna margin gingiva kemerahan, kontur margin gingiva yang membulat dan terjadi penurunan margin gingiva . esesi gingiv. Gingiva mudah berdarah dan terdapat kegoyangan gigi Sistem imun berusaha menjaga pejamu dari infeksi ini dengan mengaktifasi sel imun seperti neutrofil, makrofag dan limfosit untuk memerangi bakteri. Makrofag distimulasi untuk memproduksi sitokin matrix metalloproteinases (MMP. dan prostaglandin E2 (PGE. Sitokin MMPs dalam konsentrasi tinggi di jaringan akan memediasi destruksi matriks seluler gingiva, perlekatan serat kolagen pada apikal epitel penyatu dan ligamen Sitokin PGE2 memediasi destruksi tulang dan menstimulasi osteoklas dalam jumlah besar untuk meresorbsi puncak tulang alveolar. Kehilangan kolagen menyebabkan sel epitelium penyatu bagian apikal berproliferasi sepanjang akar gigi dan bagian korona dari epitelium penyatu terlepas dari akar gigi 14. Sel Neutrofil menginvasi bagian korona epitelium penyatu dan memperbanyak Jaringan akan kehilangan kesatuan dan terlepas dari permukaan gigi. peradangan, neutrofil PMN dan makrofag akan bermigrasi ke daerah yang mengalami Kedua macam sel ini berfungsi memakan dan membersihkan jaringan yang Proses keradangan fase selular awal merupakan fase dimana terdapat sel pertama yang secara kimia tertarik ke daerah radang yaitu sel neutrofil PMN 15. Neutrofil PMN merupakan sel matang yang dapat menyerang dan merusak bakteri dan virus bahkan dalam sirkulasi darah. Dalam suatu proses radang, neutrofil bertugas untuk membersihkan jaringan dari agen infeksi atau toksik, sehingga dapat dijadikan acuan dalam menilai inflamasi. Neutrofilia (PMN) disebabkan produk peradangan yang memasuki aliran darah yang kemudian ditransport ke sumsum tulang dan bekerja pada kapiler sumsum dan pada neutrofil yang tersimpan untuk menggerakkan neutrofilneutrofil ini dengan segera ke dalam sirkulasi darah sehingga menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah neutrofil pada jaringan yang meradang 15. Untuk menguji pemberian vitamin D 2000 IU ini dilakukan penelitian pada 27 sampel tulang alveolar tikus wistar dengan tikus wistar jantan yang sudah didekaputasi Terdapat 9 sampel tikus dengan pemberian vitamin D sebagai kelompok kontrol I dan 9 sampel telah di induksi periodontitis tanpa pemberian vitamin D sebagai kelompok kontrol II,dan 9 sampel tikus wistar diindukssi periodontitis kemudian diberikan vitamin D sebagai kelompok perlakuan. Pada Tabel 5. 1 Data jumlah neutrofil dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui gambaran rerata kelompok kontrol I menghasilkan jumlah sel neutrofil pada hari ke-7 belum tampak adanya penurunan namun pada hari ke-14 dan ke-28 sudah tampak adanya penurunan jumlah sel neutrofil dan pada kelompok kontrol II pada hari ke-14 adanya penurunan sebesar 9,67 namun pada hari ke-28 mengalami kenaikan jumlah sel neutrofil sebesar 10,00 sedangkan pada kelompok perlakuan terus mengalami penurunan dari hari ke-14 sebesar 8,33 dan hari terakhir ke -28 sebesar 3,67. Menurut penelitian Tamara, dkk . , menyatakan bahwa peningkatan jumlah neutrofil pada hari pertama merupakan bentuk pertahanan tubuh terhadap patogen yang menyebabkan inflamasi dan merupakan penanda inflamasi yang baru dimulai. Sel neutrofil bekerja dengan memfagosit benda asing saat inflamasi akut terjadi sehingga jumlahnya meningkat pada hari pertama. Awalnya, jumlah neutrofil yang terbanyak karena merupakan fraksi terbesar di antara sel-sel darah putih perifer. Jumlah sel neutrofil akan meningkat selama fase inflamasi yang berlangsung hingga 3-6 hari dan akan menurun seiring dengan berjalannya proses penyembuhan luka 16. Pada tabel 5. 2 Hasil uji normalitas menunjukkan ada kelompok data yang tidak terdistribusi normal, dan setelah dilakukan transformasi data tetap diperoleh hasil yang tidak terdistribusi normal pada beberapa kelompok. Data normalitas kelompok kontrol I semua terditribusi normal. Data yang tidak normal pada Kelompok kontrol II di hari ke 7 dan ke -28 sedangkan pada kelompok perlakuan hanya hari ke-7 dinyatakan tidak normal sebesar 1,000 karena yang terditribusi normal . >0,. , sehingga uji beda yang digunakan adalah Kruskal-Wallis dengan uji post hoc menggunakan Mann-whitney. Menurut tabel 5. 3 pengujian pengaruh vitamin D pada tulang alveolar yang mengalami periodontitis menunjukkan analisis kemaknaan dengan Kruskal Wallis data jumlah sel neutrofil, menunjukkan bahwa nilai F = 22,69 p = 0,004. Hal ini berarti bahwa terdapat perbedaan rerata jumlah neutrofil pada ke sembilan kelompok . < 0,. Dan pada tabel 5. 4 untuk mengetahui kelompok yang terdapat perbedaan maka dilakukan Uji Post-Hoc dengan Uji Mann-Whitney U. Dari hasil menggunakan vitamin D 2000 IU ini, lebih efektif menurunkan jumlah sel neutrofil, hal ini disebabkan karena adanya vitamin D memiliki peran sebagai imunomodulator yang memodulasi sistem kekebalan bawaan . sebagai pertahanan pertama dalam melawan infeksi. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang bermakna dengan rerata jumlah sel neutrofil kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan jumlah sel neutrofil kelompok kontrol I dan II. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian. Dapat diambil kesimpulan bahwa Pemberian vitamin D menyebabkan jumlah sel neutrofil lebih rendah dibandingkan kontrol pada tikus wistar yang diinduksi periodontitis. DAFTAR PUSTAKA