Selvy Apriani. Ria Gustirini PENGETAHUAN AKSEPTOR KB TENTANG COVID-19 DENGAN KEPATUHAN JADWAL KUNJUNGAN KONTRASESPSI Selvy Apriani1. Ria Gustirini2 Program Studi D i Kebidanan IKesT Muhammadiyah Palembang Jln. Jenderal Achmad Yani 13Ulu Palembang 30252 Email : selvy. 26@gmail. com1, riagustirini@gmail. Abstrak Virus Corona dapat menyebar dengan mudah dan cepat melalui droplet. Penyebaran wabah Covid-19 di Indonesi amempengaruhi berbagai aspek, salah satunya pada pelayanan Keluarga Berencana. Berdasarkan data BKKBN terdapat penurunan peserta KB pada bulan Maret dibandingkan bulan Februari 2020. Penurunan jumlah peserta KB ini dapat mendorong terjadinya baby boom. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pengetahuan Akseptor KB Tentang Covid-19 Dengan Kepatuhan Jadwal Kunjungan Kontrasespsi. Metodologi penelitian yang digunakan Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode kuantitatif Korelasi. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini mengunakan questioner dan analisis data menggunakan Uji t Independent. Hasil penelitian diperoleh masih rendahnya pengetahuan Akseptor KB tentang pencegahan covid-19 dan menurunnya kepatuhan kunjungan Akseptor KB selama masa pandemi serta ada pengaruh pegaruh pengetahuan akseptor KB tentang Covid-19 dengan kepatuhan jadwal kunjungan kontrasepsi dengan nilai pAeValue = 0,002. Disarankan bagi akseptor KB untuk dapat meningkatkan pengetahuanya tentang Kata Kunci : Covid-19. KB. Kepatuhan KB. Kunjungan KB Abstract Corona virus can spread easily and quickly through droplets. The spread of the Covid-19 outbreak in Indonesia affects various aspects, one of which is family planning services. Based on BKKBN data, there was a decrease in family planning participants in March compared to February 2020. This decline in the number of family planning participants could trigger a baby The purpose of this study was to determine whether there was an effect of family planning acceptors' knowledge about Covid-19 with adherence to the contraceptive visit schedule. The research methodology used This research uses a quantitative approach, with a quantitative correlation method. Data collection techniques in this study using a questionnaire and data analysis using Chi Square Test. The results of the study obtained that there was still a low level of knowledge of family planning acceptors about preventing covid-19 by, decreased compliance with family planning acceptor visits during the pandemic and there was an influence of knowledge of family planning acceptors about Covid-19 with adherence to the contraceptive visit schedule with a p-value = 0. Suggestions It is recommended for family planning acceptors to be able to increase their knowledge about covid-19. Keywords: Covid-19, family planning, family planning compliance, family planning visits Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Selvy Apriani. Ria Gustirini PENDAHULUAN Desember 2019 tersiar berita dimedia elektronik bahwa terdapat jenis penyakit baru yang terjadi di daerah Wuhan. Cina. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang bernama virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coonavirs-2 (SARS-CoV-. yang menyerang system pernafasan menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat atau Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Penyakit Covid-19 initer bilang sangat AumengerikanAy karena dapat meyerang manusia mulai dari berbagai usia, jenis kelamin, dan kondisi penyerta penyakit ini sedang mewabah hampir seluruh dunia dan menyerang manusia (Huang, 2. Konfirmasi adanya covid 19 di Indonesia tercatat pada bulan Maret 2020 lalu, yang awalnya di temukan pada pelatih dansa di Jakarta. Penyebaran virus corona ini terbilang sangat cepat dan mudah karena penularannya dapat terjadi melalui virus Corona ditularkan melalui droplet yang dihasilkan ketika seseorang itu terinfeksi Virus Corona, ketika seseorang batuk, bersin, atau berbicara (Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid 19, 2. Virus Corona dapat menyebar dari orang ke orang lain melalui droplet yang keluar dari hidung atau pun mulut, dan tentunya kemudian bisa jatuh kepermukaan benda-benda disekitar. Orang yang kemudian menyentuh benda tersebut, lalu menyentuh mata, hidung, dan mulutnya, dapat menyebabkan tertular virus Corona, yang juga bisa terjadi kalau orang menghirup droplet yang keluar dari batuk, atau napas orang yang terjangkit oleh virus Corona. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk menjaga jarak, paling tidak satu meter dari orang yang sakit (Sagita et al. , 2. Saat ini pemerintah melakukan berbagai cara untuk mencegah penyebaran virus tersebut, salah satunya dengan melakukan WFH dan social distencing. Imbas kebijakan tersebut salah satunya mempengaruhi berbagai aspek, tak terkecuali pada pelayanan Program Keluarga Berencana. (Gugus Tugas Percepatan Penanganan covid 19, 2. Diakui Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo. Sp. OG (K) bahwa terdapat penurunan peserta KB pada bulan Maret 2020 apabila dibandingkan dengan bulan Februari 2020 di seluruh Indonesia. Pemakaian IUD pada Februari 2020 sejumlah 36. 155 turun Sedangkan implan dari 062 menjadi 51. 536, suntik dari 524. 109, pil 251. 619 menjadi 767, kondom dari 31. 502 menjadi 19. MOP dari 2. 283 menjadi 1. 196, dan MOW 571 menjadi 8. 093 (BKKBN, 2. Penurunan jumlah peserta KB ini dapat mendorong terjadinya baby boom beberapa bulan mendatang. Selain itu, penyebaran wabah Covid-19 juga berakibat kepada penurunan aktivitas dalam kelompok kegiatan (BKB. BKR. BKL. PIKR danUPPKS) serta penurunan mekanisme operasional dilini lapangan (Sumartiningtyas, 2. Pertemuan Pokja dan Pemantauan oleh OPD-KB tidak bisa berjalan optimal. Hal ini bukan tanpa alasan, tentu banyak para pengguna KB yang merasa takut ketika hendak mengakses pelayanan KB dimasa pandemi Covid-19 ini. Adanya ketakutan penurunan kunjungan KB ini belum di ketahui masyarakat yang rendah terhadap bagaimana pencegahan Covid-19 ketika berada diluar rumah, pemahaman tentang penyakit yang masih minim ditambah beberapa rumor yang menakutkan tentang masalah penyakit Covid19. (Sumartiningtyas, 2. Menurut BKKBN permasalahan yang akan timbul jika kejadian ini terus berlarut yaitu adanya baby boom, dimana ledakan pendudukan terjadi pada tahun berikutnya yang dapat menggangu sistem perekomonian bagi keluarga dan juga Negara. Sampai saat Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Selvy Apriani. Ria Gustirini ini adanya penurnan kunjungan KB ini masih belum diketahui dengan pasti, sehingga peneliti ingin mencari tahu salah satu penyebab penurunan kunjungan ulang tersebut terhadap keterkaitanya dengan pengetahuan akseptor KB tentang Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada Pengaruh Pengetahuan Akseptor KB Tentang Covid-19 Dengan Kepatuhan Jadwal Kunjungan Kontrasespsi (BKKBN, 2. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode kuantitatif Korelasi yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara dua atau atau beberapa variabel. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tegal Binangun Palembang. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini pertanyaan tentang pengetahuan akseptor KB tentang Covid-19 dan kepatuhan jadwal kunjungan KB, melalui wawancara langsung dan juga mengirimkan melalui google form. Analisis data menggunakan Uji t Independent Peneliti dilaksanakan dibidan kelurahan Tegal Binangun Palembang. Variabel dalam penelitian ini meliputi satu variabel bebas yaitu pengetahuan akseptor KB tentang Covid-19 dan kepatuhan jadwal kunjungan KB. Pengambilan data dilakukan dengan cara mengi si kui sione r melalui google form. Hasi Penelitian dan Pembahasan Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Akseptor KB Tentang Covid-19 Variabel Jumlah Kurang Cukup Baik Total Dari tabel 1 diketahui pengetahuan akseptor KB tentang covid-19 sebagian besar berpengetahuan kurang yaitu 26 orang . ,7%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kunjungan KB Variabel Sebelum Covid Saat Covid Tepat Waktu Terlambat Total Dari tabel 2 diketahui kunjungan akseptor KB sebelum terjadi covid sebagian besar tepat waktu yaitu 39 orang . %) dan saat pandemi covid-19, sebagian besar akseptor KB melakukan kunjungan ulang terlambat yaitu 26 Orang . %). Tabel Kunjungan Ulang TepatWaktu Terlambat Distribusi rata-rata kunjungan Akseptor KB menurut kejadian Mean 55,11 55,60 10,44 82,62 0,483 p-palue 0,002 Dari tabel 3 pengaruh antara pengetahuan covid-19 terhadap ketepatan kunjungan akseptor KB P-Value 0,002 Berdasarkan hasil tabel 1 menunjukkan hasil bahwa sebagian besar dari ibu memiliki tingkat pengetahuan tentang Covid 19 yang kurang, yaitu 26 . %) orang. Informasi yang kurang merupakan salah satu indikator yang menyebabkan ibu untuk takut melakukan Dari tabel bivariat menunjukan hasil bahwa adanya hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan jadwal kunjungan Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Selvy Apriani. Ria Gustirini ulang yaitu p-value 0. 002 < 0. Pengetahuan merupakan landasan dalam menentukan tindakan untuk tertarik hal (Notoatmodjo, 2. Pada saat sebelum covid kunjungan Akseptor KB tepat waktu yaitu sebanyak 39 . %) hal tersebut dapat dilihat dari tabel 2 dimana pada saat covid-19 jadwal kunjungan ulang akseptor KB tepat waktu menurun yaitu hanya 16 . %) orang sedangkan yang terlambat yaitu sebanyak 26 . %) orang. Hal ini dapat di disebabkan karna kurangnya pemahaman tentang covid 19 sehingga menyebabkan ketakutan akan tertular virus Pemahaman akan sesuatu hal dengan baik maka akan meningkatkan pengetahuan seseoarang maka akan semakin teliti dan semakin bijak dalam menentukan menyikapi keadaan yang dihadapi. Pemahaman ibu mengenai covid-19 menjadi landasan dalam ketepatan untuk melakukan kunjungan ulang. (Sumartiningtyas, 2. (Notoatmodjo, 2. Cara merupakan sesuatu hal yang penting. Selain itu, pendidikan yang di miliki oleh ibu merupakan komponen lain yang menentukan pola pemahaman dan pola pikiran yang mereka miliki. Cara memperoleh informasi yang menjadi pengetahuan dengan tingkat pendidikan yang menjadi tolak ukur pemahaman merupakan komponen yang menjadi tingkat pengetahuan ibu, terutama pemahaman untuk kesehatan, termasuk pemahaman alat kontrasepsi (Notoatmodjo. Pemahaman merupakan salah satu tahapan tahu, dari tahapan ini dapat berkembang menjadi pemahanan yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan, berkembang menjadi pengaplikasian dan berakhir dengan menganalisa hal tersebut apakah sesuai tidak dengan mereka butuhkan (Notoatmodjo, 2. Pengetahuan merupakan suatu kunci yang harus dimiliki oleh seorang ibu dalam menentukan pilihan terhadap suatu metode Pengetahuan dapat menghapus rasa kecemasan ibu terhadap stigma efek samping yang ditimbulkan oleh Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). (Mulyani, 2. Pengetahuan pengurangan rasa stress yang ditimbul karena Sehingga semakin baik pengetahuan seseorang mengenai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) maka daya minat dalam penggunaan metode ini akan semakin tinggi atau sebaliknya. Oleh karena itu, fasilitas pelayanan pemberian informasi sebagai sarana pengetahuan perluh ditingkatkan untuk meningkatkan pemahaman para ibu mengenai Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Sehingga daya minat penggunaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) akan semakin tinggi. (Mulyani, 2. Tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh tingkat Pendidikan yang dimiliki oleh ibu tersebut. Semakin baik tingkat Pendidikan yang dimiliki, maka akan semakin baik pemahaman seseorang ibu dan akan semakin baik dalam pencarian informasi yang dapat menjadi pengetahuan baru. (Notoatmodjo, 2. Saat ini pemerintah melakukan berbagai cara untuk mencegah penyebaran virus tersebut, salah satunya dengan melakukan WFH dan social distencing. Imbas kebijakan tersebut salah satunya mempengaruhi berbagai aspek, tak terkecuali pada pelayanan Program Keluarga Berencana. (WHO, 2. Diakui Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo. Sp. OG (K) bahwa terdapat penurunan peserta KB pada bulan Maret 2020 apabila dibandingkan dengan bulan Februari 2020 diseluruh Indonesia. Pemakaian IUD pada Februari 2020 sejumlah 36. 155 turun Sedangkan implan dari 062 menjadi 51. 536, suntik dari 524. 109, pil 251. 619 menjadi 767, kondom dari 31. 502 menjadi 19. Jurnal Kesehatan dan Pembangunan. Vol. No. Juli 2022 Selvy Apriani. Ria Gustirini MOP dari 2. 283 menjadi 1. 196, dan MOW 571 menjadi 8. (BKKBN, 2. Penurunan jumlah peserta KB ini dapat mendorong terjadinya baby boom beberapa bulan mendatang. Selain itu, penyebaran wabah Covid-19 juga berakibat kepada penurunan aktivitas dalam kelompok kegiatan (BKB. BKR. BKL. PIKR dan UPPKS) serta penurunan mekanisme operasional dilini (Sumartiningtyas, 2. Pertemuan Pokja dan Pemantauan oleh OPD-KB tidak bisa berjalan optimal. Hal ini bukan tanpa alasan, tentu banyak para pengguna KB yang merasa takut ketika hendak mengakses pelayanan KB dimasa pandemi Covid-19 ini. Adanya ketakutan penurunan kunjungan KB ini belum di ketahui sebabnya, bisa dikarena masyarakat yang rendah terhadap bagaimana pencegahan Covid-19 ketika berada diluar rumah, pemahaman tentang penyakit yang masih minim ditambah beberapa rumor yang menakutkan tentang masalah penyakit Covid19. Menurut BKKBN permasalahan yang akan timbul jika kejadian ini terus berlarut yaitu adanya baby boom, dimana ledakan penduduk akan terjadi pada tahun berikutnya yang dapat mengganggu sistem perekomonian bagi keluarga dan juga Negara. (BKKBN, Kesimpulan Selama pandemi Covid-19 terjadi penurunan jumlah kunjungan KB yang di sebabkan oleh takutnya akseptor KB serta terhadap prosedur pemeriksaan covid 19 Saran Bagi Akseptor KB Disarankan bagi akseptor KB untuk dapat meningkatkan pengetahuanya tentang covid19. Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan kepada membandingkan dan melanjutkan penelitian dengan variabel, metode,dan media berbeda. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kami ucapkan kepada responden yang telah berperan serta dalam penelitian ini IKesT Muahammadiyah Palembang atas dukungan. Daftar Pustaka