JIGE 6 . JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION id/index. php/jige DOI: https://doi. org/10. 55681/jige. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) untuk Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Sekolah Yasid Mubarok1*. Sulistiyarini1. Basri1 Master of Educational Administration. Faculty of Teacher Training and Education. Tanjungpura University. Pontianak. West Kalimantan. Indonesia *Corresponding author email: f2171241006@student. Article Info Article history: Received Augustus 19, 2025 Approved November 20, 2025 Keywords: ARKAS, accountability, school operational assistance (BOS) funds, financial digitalization. ABSTRACT This research is motivated by the demand for transparency and accountability in the management of education funds, particularly the School Operational Assistance (BOS) funds, in the digital era. The School Activity and Budget Plan Application (ARKAS) emerges as a strategic innovation to enhance information disclosure and the effectiveness of school financial governance. The purpose of this study is to describe the implementation of ARKAS, analyze its contribution to transparency and accountability, identify the challenges faced by schools, and explore strategies for optimizing its utilization. The research method employed is a qualitative case study with a descriptive approach. Data were collected through in-depth interviews with principals, treasurers, operators, supervisors, and school committees, complemented by participatory observation and financial document analysis. Data validation was carried out using triangulation, member checking, and peer debriefing. The findings indicate that ARKAS strengthens transparency by providing stakeholders with access to financial data and improves accountability through systematic digital reporting. However, obstacles such as limited internet networks, inadequate devices, and low digital literacy remain major challenges. Optimization strategies include technical training, intensive mentoring, as well as strengthening both internal and external In conclusion. ARKAS is not merely a technical tool but a digital transformation instrument that promotes school financial governance to become more transparent, accountable, efficient, and participatory. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tuntutan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana pendidikan, khususnya dana BOS, di era digital. Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) hadir sebagai inovasi strategis untuk meningkatkan keterbukaan informasi dan efektivitas tata kelola keuangan sekolah. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi ARKAS, menganalisis kontribusinya terhadap transparansi dan akuntabilitas, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi sekolah, serta menggali strategi optimalisasi pemanfaatannya. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan kepala sekolah, bendahara, operator, pengawas, dan komite sekolah, dilengkapi observasi partisipatif serta analisis dokumen keuangan. Validasi data dilakukan melalui triangulasi, member checking, dan peer debriefing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ARKAS mampu memperkuat transparansi dengan membuka akses data keuangan kepada pemangku Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2704 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . kepentingan dan meningkatkan akuntabilitas melalui pelaporan digital yang Namun, hambatan berupa keterbatasan jaringan, perangkat, dan literasi digital masih menjadi kendala utama. Strategi optimalisasi meliputi pelatihan teknis, pendampingan intensif, serta penguatan monitoring internal dan eksternal. Kesimpulannya. ARKAS bukan hanya alat teknis, tetapi instrumen transformasi digital yang mendorong tata kelola keuangan sekolah menjadi lebih transparan, akuntabel, efisien, dan partisipatif. Copyright A 2025. The Author. This is an open access article under the CCAeBY-SA license How to cite: Mubarok. Sulistiyarini. , & Basri. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS) untuk Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Sekolah. Jurnal Ilmiah Global Education, 6. , 2704Ae2725. https://doi. org/10. 55681/jige. PENDAHULUAN Dalam era disrupsi digital, tata kelola lembaga pendidikan menghadapi tuntutan yang semakin kompleks, tidak hanya untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi juga untuk menjamin transparansi serta akuntabilitas publik, khususnya dalam pengelolaan keuangan Reformasi birokrasi yang menekankan keterbukaan informasi publik memperkuat urgensi transformasi ini, agar lembaga pendidikan mampu mengelola dana secara efisien, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan (Glader & Strymsten, 2. Dalam konteks sekolah, transparansi keuangan menjadi isu sentral karena dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak hanya mendukung keberlangsungan program pendidikan, tetapi juga menjadi indikator kepercayaan masyarakat terhadap integritas pengelolanya (Tahim et al. , 2023. Ramadona, 2. Sebagai respon atas kebutuhan tersebut. Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi menghadirkan aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (ARKAS). Aplikasi ini berfungsi sebagai instrumen digital yang memfasilitasi penyusunan, pengelolaan, dan pelaporan keuangan sekolah secara sistematis, akurat, dan terintegrasi. Lebih dari sekadar inovasi teknis. ARKAS menandai perubahan paradigma pengelolaan keuangan sekolah menuju sistem yang berbasis transparansi, akuntabilitas, serta pemantauan real time oleh para pemangku kepentingan (Ilham & Majid, 2023. Yulyanti et al. , 2. Kehadiran ARKAS diharapkan dapat mencegah praktik penyimpangan, meningkatkan efisiensi administrasi, dan memperkuat manajemen dana pendidikan secara efektif (Fitri et al. , 2. Transformasi digital melalui ARKAS juga membawa implikasi pada pola kolaborasi antaraktor pendidikan. Sistem ini melibatkan kepala sekolah, bendahara, dan pengawas dalam penyusunan serta realisasi anggaran dengan prinsip good governance (Gusnardi et al. , 2021. Lestari et al. , 2. Keunggulan utamanya adalah integrasi dengan Sistem Informasi Manajemen BOS (SIMBOS), sehingga setiap transaksi, revisi, maupun laporan keuangan dapat dipantau langsung oleh dinas pendidikan maupun pemerintah pusat (Hidayat & Tolla, 2. Meski demikian, implementasi ARKAS di lapangan masih menghadapi sejumlah Hambatan yang paling dominan adalah rendahnya literasi digital (Mponela & Mchami, 2. , keterbatasan infrastruktur teknologi (Tyasmaning & Sutiyo, 2. , serta resistensi dari sebagian pengelola sekolah yang belum siap meninggalkan pencatatan manual (Hamdani & Rahayu, 2022. Andriani & Hidayat, 2. Hambatan ini membuat pemanfaatan ARKAS belum optimal sebagai instrumen transparansi publik. Di sisi lain, kendala struktural Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2705 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . juga tampak dalam bentuk ketidakmerataan pemahaman tentang prinsip akuntabilitas administratif, yang sering mengakibatkan kesenjangan antara rencana anggaran dengan realisasi kegiatan (Azizi et al. , 2023. Batubara, 2. Hal ini diperparah dengan lemahnya partisipasi masyarakat dalam mengawasi penggunaan dana pendidikan (Suhesti et al. , 2022. Ardani, 2. Meskipun terdapat kendala. ARKAS justru membuka peluang besar untuk integrasi dengan sistem digital lain, seperti SIPLAH. ExpenseIQ, maupun aplikasi berbasis cloud. Integrasi ini berpotensi menciptakan transparansi lintas platform yang lebih luas dan menyeluruh (Syahraputra & Wening, 2022. Arman et al. , 2. Masa depan pengelolaan keuangan sekolah sangat bergantung pada kemampuan institusi untuk mengadaptasi teknologi digital yang akuntabel, transparan, dan terhubung dengan ekosistem pendidikan nasional (Setyowati & Machmuddah, 2021. Hendriyana & Somantri, 2. Lebih lanjut, digitalisasi keuangan juga memberi dampak tidak langsung pada kualitas Sari et al. menunjukkan bahwa akuntabilitas keuangan yang lebih baik dapat meningkatkan kinerja guru melalui alokasi anggaran pengembangan profesional yang lebih terencana. Winaya et al. juga menegaskan pentingnya penyusunan anggaran berbasis kebutuhan riil untuk mendukung semangat Merdeka Belajar. Dari aspek pengawasan. Rabani et al. membuktikan bahwa ARKAS mempercepat validasi anggaran dan meningkatkan efektivitas monitoring laporan keuangan sekolah. Bahkan, sinkronisasi data real time memungkinkan efisiensi sekaligus konsistensi tata kelola (Purnomo & Solikhah, 2. Namun, faktor manusia tetap menjadi penentu utama. Habibatulloh et al. menegaskan bahwa keberhasilan ARKAS ditentukan oleh kompetensi manajerial kepala sekolah dan pemahaman terhadap sistem digital. Karenanya, pelatihan berkelanjutan dan pendampingan teknis menjadi krusial agar ARKAS benar-benar memperkuat transparansi dan tidak hanya menjadi formalitas administratif (Setiorini et al. , 2020. Muspawi & Lukita, 2. Prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam ARKAS selaras dengan kerangka good school governance, di mana tata kelola keuangan tidak hanya diukur dari kepatuhan prosedural, tetapi juga keterbukaan informasi kepada publik serta moralitas pengelola (Gaspar et al. , 2022. Noor & Monita, 2. Fitri et al. bahkan menekankan bahwa keunggulan strategis ARKAS terletak pada kemampuannya membangun kepercayaan masyarakat terhadap institusi Dengan demikian, penelitian mengenai transformasi digital melalui ARKAS menjadi penting dan relevan. Fokusnya tidak hanya pada efektivitas implementasi, tetapi juga pada identifikasi tantangan dan strategi optimalisasi agar tata kelola keuangan sekolah semakin transparan, akuntabel, dan partisipatif. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata, baik secara teoritis maupun praktis, untuk memperkuat kebijakan pendidikan berbasis digital di masa depan. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menelaah secara mendalam implementasi ARKAS, meliputi strategi, hambatan teknis maupun kultural, serta dampaknya terhadap transparansi dan akuntabilitas (Creswell, 2. Kajian ini berlandaskan teori sistem informasi manajemen (Laudon & Laudon, 2. , transparansi publik (Bovens, 2. , transformasi digital (Westerman et al. , 2. , manajemen strategis (Wheelen & Hunger, 2. , dan prinsip good governance (UNDP, 1997. World Bank, 1. , sejalan dengan penelitian Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2706 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . terdahulu (Gaspar et al. , 2022. Fitri et al. , 2024. Mponela & Mchami, 2023. Nur Rabani et al. Metode yang digunakan adalah studi kasus kualitatif (Yin, 2. dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi proses input dan pelaporan, serta telaah dokumen seperti RKAS dan laporan BOS digital (Setiorini et al. , 2020. Nur Rabani et al. , 2. Peneliti hadir langsung di lapangan secara partisipatif dan observatif (Yin, 2018. Creswell, 2. untuk berinteraksi dengan aktor kunci, mengamati hambatan literasi digital (Mponela & Mchami, 2023. Hamdani & Rahayu, 2. , serta strategi inovatif sekolah (Nur Rabani et al. , 2023. Setiorini et , 2. Lokasi dipilih secara purposif di sekolah menengah negeri dengan keragaman kesiapan digital, dengan partisipan utama kepala sekolah, bendahara, operator ARKAS, pengawas, dan dinas pendidikan yang berperan dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi sistem keuangan berbasis ARKAS (Fitri et al. , 2024. Nur Rabani et al. , 2. Tabel 1. Lokasi dan Partisipan Penelitian Karakteristik Sekolah Jenjang Partisipan Kunci 1 SD di pusat kecamatan. infrastruktur cukup SDN 4 Kepala sekolah, bendahara, baik, literasi digital rendah, resistensi Terentang operator, dinas digitalisasi tinggi 2 SMP wilayah 3T. kendala internet, adaptasi SMPN 3 Kepala sekolah, bendahara, digital belum optimal Terentang operator, komite 3 SMA pinggiran. internet stabil. SDM SMAN 1 Kepala sekolah, bendahara, terlatih teknologi digital Terentang ARKAS, 4 Dinas pendidikan. pembina, pengawas. Dinas Kabid, penanggung jawab pendamping teknis ARKAS & BOS Pendidikan BOS, tim teknis ARKAS Penelitian ini dilaksanakan pada sekolah dengan karakteristik beragam untuk merepresentasikan implementasi ARKAS secara strategis, mulai dari tantangan resistensi digitalisasi di SDN 4 Terentang (Mponela & Mchami, 2023. Hamdani & Rahayu, 2. , keterbatasan akses di SMPN 3 Terentang, hingga praktik terbaik di SMAN 1 Terentang dengan dukungan SDM digital. Keterlibatan Dinas Pendidikan memperkuat triangulasi data dan evaluasi kebijakan berbasis teori sistem informasi manajemen, good governance, dan manajemen strategis (Laudon & Laudon, 2016. UNDP, 1997. Wheelen & Hunger, 2. Data utama diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, diperkuat dengan perspektif stakeholder tambahan (Ilham & Majid, 2023. Setiorini et al. , 2. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara, observasi, dan dokumentasi disusun dengan prinsip triangulasi (Yin, 2018. Creswell, 2. , sementara analisis tematik dilakukan mengikuti Miles. Huberman & Saldaya . melalui reduksi, penyajian, dan verifikasi data, dengan validasi triangulasi, member checking, dan peer debriefing (Creswell & Poth, 2. Keabsahan dijamin melalui prinsip credibility, transferability, dependability, dan confirmability (Lincoln & Guba, 1. , audit trail, serta diskusi pakar (Patton, 2015. Westerman et al. , 2. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2707 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Gambar 1. Prosedur pelaksanaan Penelitian Prosedur penelitian dilakukan melalui empat tahap, yakni perencanaan, pengumpulan data, analisis, serta refleksi dan pelaporan, untuk mengidentifikasi praktik terbaik pemanfaatan ARKAS dalam mewujudkan tata kelola keuangan sekolah yang transparan, akuntabel, dan adaptif terhadap digitalisasi pendidikan (Creswell & Creswell, 2018. Yin, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap perencanaan menjadi fondasi utama dalam penelitian ini, dimulai dengan penyusunan proposal yang merumuskan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, serta metodologi yang akan digunakan. Selanjutnya dilakukan kajian teori mendalam dengan merujuk pada literatur ilmiah terkini yang relevan dengan transformasi digital, akuntabilitas keuangan, dan implementasi ARKAS, sehingga penelitian memiliki landasan konseptual yang kuat. Pada tahap ini juga diurus perizinan resmi kepada Dinas Pendidikan serta sekolah yang menjadi lokasi penelitian, sebagai bentuk kepatuhan prosedural sekaligus memastikan dukungan dari pihak Instrumen penelitian disusun secara sistematis untuk memastikan setiap fokus kajian dapat tergali secara mendalam. Instrumen ini dirancang dalam bentuk panduan wawancara, lembar observasi, dan studi dokumentasi yang menyesuaikan dengan tujuan penelitian, yaitu menilai implementasi ARKAS, transparansi dan akuntabilitas, tantangan transformasi digital, serta strategi optimalisasi pemanfaatannya di sekolah. Setiap instrumen dilengkapi indikator kunci dan merujuk pada referensi utama agar hasil penelitian valid dan dapat dipertanggungjawabkan Jenis Instrumen Panduan Wawancara Panduan Wawancara Tabel 2. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Aspek yang Indikator Kunci Disasar Implementasi Tahapan penggunaan, peran ARKAS operator, efektivitas Transparansi & Keterbukaan data BOS, akses Akuntabilitas pertanggungjawaban publik Referensi Utama Ilham & Majid . Lestari et al. Gaspar et al. Hidayat & Tolla Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2708 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Panduan Wawancara Panduan Wawancara Lembar Observasi Lembar Observasi Studi Dokumentasi Studi Dokumentasi Tantangan Transformasi Digital Strategi Optimalisasi ARKAS Aktivitas Penggunaan ARKAS Praktik Transparansi & Akuntabilitas Dokumen RKAS & Laporan BOS Hambatan teknis. SDM, resistensi perubahan, kesiapan infrastruktur Pendampingan, pelatihan, inovasi kebijakan, evaluasi Akses login, input-output, sinkronisasi dengan RKAS Kebijakan & Evaluasi Digitalisasi SOP ARKAS, notulen evaluasi, laporan monitoring dari Dinas Visualisasi laporan BOS, keterlibatan tim sekolah, publikasi hasil Bukti integrasi, laporan penggunaan, hasil audit Glader & Strymsten . Mponela & Mchami . Andriani & Hidayat . Fitri et al. Hendriyana & Somantri . Batubara . Habibatulloh et al. Yulyanti et Permata & Mustoffa . Nurnaluri et Hamdani & Rahayu . Nur Rabani et al. Tabel tersebut merangkum instrumen penelitian yang dirancang untuk menjawab fokus kajian secara menyeluruh, mulai dari wawancara untuk menggali pengalaman, hambatan, dan strategi aktor kunci, observasi untuk merekam praktik penggunaan ARKAS serta transparansi pelaporan, hingga studi dokumentasi yang menelusuri bukti tertulis seperti RKAS digital, laporan BOS, dan regulasi terkait. Kombinasi instrumen ini memastikan data yang diperoleh kredibel, terverifikasi, dan mencerminkan praktik nyata tata kelola keuangan berbasis digital di sekolah. Validitas dan reliabilitas instrumen juga diperkuat melalui uji keterbacaan dan validasi isi oleh tiga ahli dengan latar belakang berbeda, yakni Ibu Sri Loksiana (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Bara. Bapak Dr. Simin. Pd. raktisi pendidika. , dan Ibu Dr. Rostina. Pd. kademisi Keterlibatan ketiganya memberikan pandangan yang utuh dari sisi regulasi, praktik lapangan, maupun akademik, sehingga instrumen penelitian dipastikan sesuai standar ilmiah sekaligus aplikatif di lapangan. Tabel 3. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Nama Ahli & Hasil Fokus Penilaian Catatan Perbaikan Latar Belakang Validasi Ibu Sri Loksiana Kesesuaian Valid Menambahkan aspek DIKBUD Kalbar dengan keterlacakan data BOS sesuai kebijakan pendidikan aturan terbaru Dr. Simin. Pd Kejelasan indikator dan Reliabel Penyederhanaan redaksi Praktisi instrumen & Valid pertanyaan wawancara agar Pendidikan bagi responden sekolah lebih mudah dipahami 3 Dr. Rostina. Pd Konsistensi teori dengan Valid Penajaman indikator strategi Akademisi penelitian dan optimalisasi untuk Pendidikan keutuhan variabel memperkuat analisis tematik Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2709 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Hasil uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh instrumen penelitian layak digunakan dengan hanya sedikit penyesuaian, seperti penyempurnaan redaksi pertanyaan, penambahan indikator keterlacakan data, serta penajaman aspek strategi optimalisasi. Validasi oleh tiga ahli dengan latar belakang berbeda memastikan instrumen sahih secara teoritis sekaligus relevan secara praktis dan sesuai kebijakan pendidikan. Proses pengumpulan data diawali dengan pemilihan lokasi purposif di tiga sekolah menengah di Kecamatan Terentang. SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang dengan partisipan utama meliputi kepala sekolah, bendahara, operator, pengawas, dan komite sekolah. Pemilihan ini mencerminkan keragaman konteks, mulai dari sekolah yang masih menghadapi resistensi digital hingga yang memiliki infrastruktur dan SDM siap teknologi. Observasi lapangan kemudian dilakukan untuk melihat praktik penggunaan ARKAS, interaksi antar pemangku kepentingan, transparansi laporan, tantangan teknis, serta kesiapan Hasil observasi ini melengkapi data wawancara dan dokumentasi, sehingga penelitian mampu menyajikan gambaran yang komprehensif, triangulatif, dan kredibel tentang dinamika implementasi ARKAS di sekolah. Tabel 4. Hasil Observasi di SD. SMP, dan SMA Fokus Observasi Penggunaan aplikasi ARKAS Interaksi Transparansi Akuntabilitas Tantangan Penggunaan hasil pelatihan Monitoring Kesiapan SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Login dan input data masih lambat, sering Komunikasi peran kepala sekolah Laporan terpublikasi terbuka ke komite Dokumen disimpan Kesulitan perangkat dan literasi digital Belum terapkan materi Supervisi umpan balik minim Komputer terbatas, internet kurang stabil Terkendala jaringan. Koordinasi keterbatasan waktu Orang tua belum akses laporan Arsip tidak lengkap, keterlacakan terbatas Input laporan rapi Kolaborasi solid antara bendahara, operator Laporan digital terbuka Dokumen tertata, audit internal Tantangan hanya sesekali error Hasil dimanfaatkan maksimal oleh operator Monitoring kepala sekolah aktif memberi feedback Perangkat internet stabil, ruang kerja tersedia Jaringan gangguan, perangkat Minim praktik masih belajar Monitoring tidak ada karena keterbatasan SDM Perangkat jaringan tidak stabil Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2710 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Hasil observasi memperlihatkan adanya perbedaan mencolok dalam kesiapan sekolah dalam mengimplementasikan ARKAS. SDN 4 Terentang masih menghadapi hambatan serius terkait rendahnya literasi digital dan keterbatasan infrastruktur, sehingga pemanfaatan ARKAS berjalan lambat dan laporan keuangan kurang transparan. SMPN 3 Terentang yang berada di wilayah 3T juga menghadapi kendala serupa, terutama pada aspek jaringan internet dan lemahnya monitoring internal, meskipun ada inisiatif adaptasi dari operator sekolah. Sebaliknya. SMAN 1 Terentang menunjukkan kesiapan yang lebih matang dengan dukungan perangkat memadai. SDM terlatih, koordinasi yang solid, transparansi laporan yang lebih terbuka, serta praktik monitoring internal yang konsisten. Wawancara dengan kepala sekolah di ketiga lokasi tersebut menegaskan hal ini, dengan fokus pada pengalaman mereka dalam implementasi ARKAS, peran kepemimpinan, transparansi dana BOS, akuntabilitas pelaporan, tantangan digitalisasi, strategi optimalisasi, hingga bentuk monitoring dari Dinas Pendidikan. Temuan ini memperkuat kesimpulan bahwa keberhasilan ARKAS sangat dipengaruhi oleh kombinasi kesiapan teknologi, literasi digital, dan dukungan manajerial yang Tabel 5. Hasil Wawancara Kepala Sekolah Fokus Pertanyaan Implementasi ARKAS Peran & Kepemimpinan Transparansi dana BOS Akuntabilitas Tantangan Strategi Peran monitoring SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Masih kesulitan input awal Kepala belum aktif Informasi sepenuhnya dibuka ke Masih manual ganda, rawan inkonsistensi Terkendala jaringan, beberapa data sering tertunda Peran sekolah kuat namun terbatas supervisi Sudah lancar, laporan tersusun rapi Kepala berperan kolaboratif, mendukung operator Guru tahu alokasi, masyarakat belum Pelaporan masalah teknis Literasi digital rendah. Internet tidak stabil, perangkat terbatas minim pelatihan Laporan dipublikasikan kepada guru dan komite Akuntabel, sinkron dengan audit Tantangan hanya error aplikasi Mengandalkan Menunggu Melakukan informal pelatihan resmi dari rutin dan pelatihan antar guru Pendampingan dari Ada monitoring. Monitoring dinas masih jarang sifatnya rekomendasi Hasil wawancara memperlihatkan adanya variasi kesiapan dan strategi implementasi ARKAS di tiap jenjang. SDN 4 Terentang masih menghadapi hambatan literasi digital dan dominasi peran kepala sekolah tanpa dukungan tim yang kuat. SMPN 3 Terentang menghadapi tantangan infrastruktur dan keterbatasan pelatihan, sehingga transparansi dan akuntabilitas Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2711 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . belum optimal. Sementara itu. SMAN 1 Terentang relatif lebih maju dengan kepemimpinan kolaboratif, publikasi laporan yang terbuka, serta adanya monitoring dinas yang ditindaklanjuti secara aktif. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan ARKAS dipengaruhi oleh kesiapan SDM, dukungan infrastruktur, dan peran supervisi internal maupun eksternal. Wawancara dilakukan dengan bendahara di SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang untuk mengeksplorasi pengalaman langsung mereka dalam mengoperasikan ARKAS. Fokus wawancara mencakup pengalaman teknis, akurasi input, transparansi dan akuntabilitas pelaporan, tantangan digital, strategi penguatan kapasitas, serta validitas dan ketepatan waktu laporan keuangan Tabel 6. Hasil Wawancara Bendahara Sekolah Fokus Pertanyaan Pengalaman ARKAS Akurasi & Transparansi laporan BOS Akuntabilitas Tantangan Strategi Validitas & ketepatan waktu SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Baru menggunakan sejak 2 tahun terakhir, masih Sering terjadi kesalahan input, butuh waktu lama Laporan hanya diketahui internal Masih ada pencatatan manual Literasi digital rendah, perangkat Belum banyak pelatihan teknis Sudah menggunakan namun sering terkendala jaringan Berpengalaman, lancar dalam menyusun RKAS dan laporan Input lambat karena sinyal lemah dan perangkat terbatas Laporan tersedia tapi belum dibuka ke Validasi sering tertunda karena kendala teknis Gangguan internet dan beban administrasi tinggi Pernah ikut pelatihan singkat, belum cukup Beberapa laporan tidak tepat waktu Input cepat, data akurat, mudah direvisi Laporan sering Laporan rutin dibagikan ke guru dan Akuntabel, audit internal dilakukan secara berkala Tantangan minim, hanya kendala teknis Mendapat pelatihan rutin dan pendampingan dinas Laporan tepat waktu sesuai regulasi Hasil wawancara menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar jenjang. Bendahara di SDN 4 Terentang masih beradaptasi dengan ARKAS dan menghadapi kendala literasi digital serta keterbatasan perangkat, sehingga input data dan laporan sering terlambat. Bendahara SMPN 3 Terentang menghadapi tantangan utama pada jaringan internet dan beban administrasi, yang berdampak pada keterlambatan validasi laporan. Sebaliknya, bendahara di SMAN 1 Terentang menunjukkan kesiapan yang lebih baik, dengan kemampuan teknis yang lancar, pelaporan tepat waktu, serta dukungan pelatihan yang memadai. Perbedaan ini menegaskan bahwa kesiapan infrastruktur, kompetensi digital, dan dukungan pendampingan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan pemanfaatan ARKAS di sekolah. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2712 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Wawancara dilakukan dengan operator ARKAS di SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang untuk menggali pengalaman teknis dan administratif mereka. Fokus pembahasan meliputi proses teknis penggunaan, kemudahan dan tantangan sistem, peran dalam pelaporan, kualitas dan keamanan data, dukungan pelatihan, serta koordinasi dengan kepala sekolah dan bendahara. Tabel 7. Ringkasan Hasil Wawancara Operator ARKAS SMPN 3 No Fokus Pertanyaan SDN 4 Terentang SMAN 1 Terentang Terentang Proses teknis Masih terbatas, sering Alur kerja sudah Tahapan operasional salah input, butuh dipahami, tapi lancar. RKAS tersusun terganggu tepat waktu Kemudahan & ARKAS dirasa rumit. Kendala utama Mudah tantangan sistem sering error dan hanya kendala kecil perangkat usang saat sinkronisasi Peran dalam Hanya membantu Membantu validasi Berperan aktif, laporan bendahara, peran pasif data, laporan BOS kadang tertunda Kualitas & Laporan sering Laporan kadang Laporan tepat waktu, ketepatan laporan terlambat karena molor karena sesuai jadwal regulasi kesalahan input gangguan teknis Keamanan & Belum paham fitur Backup dilakukan Memanfaatkan backup data backup, sering simpan seadanya, rawan backup dan cloud kehilangan data Dukungan Belum pernah ikut Pernah ikut Mendapat pelatihan teknis pelatihan resmi pelatihan singkat, berkala, cukup membantu pekerjaan 7 Koordinasi dengan Komunikasi terbatas. Koordinasi ada tapi Koordinasi kepala sekolah & lebih instruksi satu kurang intensif sinergi baik dalam input dan laporan Hasil wawancara menunjukkan adanya kesenjangan kapasitas operator di tiga sekolah. Operator SDN 4 Terentang masih beradaptasi dengan ARKAS dan terbatas dalam peran pelaporan, sehingga banyak bergantung pada bendahara. Operator SMPN 3 Terentang lebih memahami sistem, namun terhambat oleh jaringan dan perangkat sehingga laporan sering Sementara itu, operator SMAN 1 Terentang lebih siap dengan dukungan pelatihan dan infrastruktur memadai, sehingga mampu menyusun laporan secara akurat, tepat waktu, dan aman dengan sistem backup digital. Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan SDM, kualitas infrastruktur, serta dukungan pelatihan berkelanjutan menjadi faktor kunci bagi optimalisasi peran operator ARKAS dalam tata kelola keuangan sekolah. Wawancara dilakukan dengan pengawas yang membina SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang. Fokus wawancara diarahkan pada peran pengawasan, mekanisme monitoring dan evaluasi, efektivitas ARKAS terhadap transparansi dan akuntabilitas. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2713 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . tantangan lapangan, serta rekomendasi strategis yang diberikan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ARKAS di sekolah. Tabel 8. Ringkasan Hasil Wawancara Pengawas Sekolah Fokus Pertanyaan SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Peran pengawas Lebih banyak Fokus mendampingi Memantau kesesuaian memberikan arahan input dan validasi sistem dengan standar dasar teknis Prosedur Monitoring belum Ada evaluasi Monitoring terjadwal, rutin, lebih bersifat berkala, namun laporan ditindaklanjuti terkendala jarak Efektivitas Transparansi masih Transparansi ada. Transparansi ARKAS dalam belum tetapi hanya di level laporan terbuka ke publik komite & orang tua Efektivitas Laporan masih Akuntabilitas lemah Laporan ARKAS dalam bercampur manual karena sesuai jadwal dan audit & digital keterlambatan data Tantangan di Literasi digital Keterbatasan Tantangan kecil, hanya perangkat internet. SDM tidak teknis minor Rekomendasi & Perlunya pelatihan Perlu peningkatan Fokus pada evaluasi bagi infrastruktur & rutin pemanfaatan ARKAS Konsistensi Belum sepenuhnya Masih gap Sudah sesuai juknis BOS antara regulasi & dengan kebijakan dan Hasil wawancara dengan pengawas menunjukkan perbedaan tingkat kesiapan sekolah SDN 4 Terentang masih memerlukan penguatan literasi digital dan pembinaan teknis karena laporan keuangan belum sepenuhnya berbasis ARKAS. SMPN 3 Terentang menghadapi kendala infrastruktur dan keterlambatan data, sehingga akuntabilitas belum maksimal meskipun sudah ada monitoring berkala. Sebaliknya. SMAN 1 Terentang dinilai lebih siap, dengan sistem ARKAS yang dijalankan konsisten sesuai regulasi, laporan akuntabel, dan transparansi yang diperluas hingga ke masyarakat. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa efektivitas ARKAS sangat ditentukan oleh dukungan infrastruktur, kompetensi SDM, dan keberlanjutan monitoring dari pengawas. Wawancara dengan komite sekolah di SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang dilakukan untuk menggali persepsi, peran, serta pengalaman mereka dalam mengakses informasi keuangan melalui ARKAS. Fokus wawancara meliputi akses informasi, keterlibatan dalam perencanaan, persepsi terhadap transparansi dan akuntabilitas, peran kontrol sosial, kendala partisipasi, serta harapan ke depan terhadap pemanfaatan ARKAS. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2714 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 9. Hasil Wawancara Komite Sekolah Fokus Pertanyaan Akses informasi Keterlibatan Persepsi Persepsi Peran kontrol Tantangan Harapan ARKAS SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Belum bisa langsung akses ARKAS, hanya via laporan manual Tidak penyusunan RKAS Masih dirasa kurang jelas Informasi disampaikan lisan di Kadang diajak rapat, tetapi tidak detail terkait ARKAS Transparansi baik meski belum sepenuhnya terbuka Bisa laporan digital yang ditampilkan sekolah Belum yakin penuh karena laporan sering Minim ruang untuk memberi masukan Dilibatkan aktif dalam forum RKAS digital Dinilai Laporan sesuai aturan BOS Punya ruang formal untuk mengawasi dan memberi feedback Hampir tidak ada kendala, komite cukup melek digital Laporan dengan realisasi Ada forum masukan. Literasi digital Keterbatasan kesulitan informasi memahami laporan Harap ada sosialisasi Ingin akses langsung Sistem dan pelatihan untuk agar ikut dikembangkan Hasil wawancara menunjukkan variasi yang cukup signifikan antar jenjang. Komite di SDN 4 Terentang masih menghadapi keterbatasan akses dan literasi digital sehingga hanya bergantung pada laporan manual sekolah. Di SMPN 3 Terentang, komite mulai dilibatkan meski akses data masih terbatas dan kendala teknis cukup dominan. Sementara itu, di SMAN 1 Terentang, komite memiliki pengalaman yang lebih positif, dengan akses yang lebih terbuka, keterlibatan aktif dalam forum RKAS, serta persepsi bahwa ARKAS meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sekolah. Temuan ini menegaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengawasan keuangan sekolah berbasis digital akan lebih optimal jika didukung oleh akses informasi yang memadai, literasi digital, serta kebijakan sekolah yang terbuka dan partisipatif. Wawancara dilakukan dengan tim manajemen BOS di tingkat kecamatan/kabupaten yang membina SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang. Fokus wawancara diarahkan pada kebijakan, pendampingan teknis, monitoring dan evaluasi, efektivitas ARKAS terhadap transparansi dan akuntabilitas, tantangan kelembagaan, serta strategi keberlanjutan sistem digitalisasi keuangan sekolah. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2715 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 10. Ringkasan Hasil Wawancara Tim Manajemen BOS Dinas Pendidikan Fokus Pertanyaan SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Kebijakan & Dinas mengeluarkan Kebijakan lebih Regulasi surat edaran umum menekankan terkait ARKAS kepatuhan juknis pelaporan BOS digital BOS Pendampingan Pendampingan masih Ada pelatihan Pelatihan hanya singkat namun pendampingan sosialisasi awal tidak rutin Monitoring & Monitoring belum Monev dilakukan Monitoring hanya tetapi terkendala dengan jarak & SDM evaluasi lengkap Efektivitas Laporan masih Akuntabilitas Akuntabilitas ARKAS terhadap bercampur manual meningkat meski sinkronisasi dan digital validasi lambat berjalan baik Efektivitas Transparansi rendah. Transparansi Transparansi ARKAS terhadap laporan belum sedang, terbatas laporan dibuka ke & komite & publik Tantangan Rendahnya literasi Kendala jaringan & Tantangan lebih kecil, & keterbatasan SDM hanya koordinasi lintas Strategi Dinas berencana Perlu integrasi Fokus integrasi penuh menambah sosialisasi dengan dukungan dengan sistem pusat & infrastruktur daerah penguatan kebijakan Hasil wawancara memperlihatkan bahwa dukungan Dinas Pendidikan masih bervariasi antar sekolah binaan. Untuk SDN 4 Terentang, kebijakan dan pendampingan masih terbatas sehingga ARKAS belum berjalan optimal. Pada SMPN 3 Terentang, sudah ada pelatihan dan monitoring, tetapi terkendala oleh jarak, jaringan, serta keterbatasan SDM. Sementara itu. SMAN 1 Terentang menunjukkan implementasi yang lebih matang karena adanya regulasi yang terintegrasi, monitoring terjadwal, serta strategi keberlanjutan yang diarahkan pada digitalisasi Perbedaan ini menunjukkan bahwa keberhasilan ARKAS di sekolah sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan, kualitas pendampingan, serta kesiapan kelembagaan di tingkat daerah. Wawancara dilakukan dengan operator ARKAS di tingkat Dinas Pendidikan yang membina SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang. Pertanyaan berfokus pada tugas teknis, sinkronisasi data, dukungan untuk sekolah, pelatihan, permasalahan teknis, sistem pelaporan, serta upaya peningkatan sistem. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2716 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 11. Hasil Wawancara Operator ARKAS Dinas Pendidikan Fokus SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang SMAN 1 Terentang Pertanyaan Tugas & fungsi Validasi data masih Memvalidasi Supervisi perlu laporan, membantu berjalan lancar, lebih pendampingan intensif input ulang pada verifikasi Sinkronisasi Sering tertunda karena Terkendala Sinkronisasi real-time, sekolah jaringan, jarang terjadi kendala sinkronisasi kadang Dukungan Lebih banyak konsultasi Bantuan sering via Dukungan diberikan langsung tatap muka komunikasi jarak cepat melalui sistem Pelatihan SDM Belum ada pelatihan Pernah ada Pelatihan rutin, hanya sosialisasi pelatihan, namun dilakukan, tidak berkelanjutan dirasakan Permasalahan Kesalahan input & Error aplikasi & Permasalahan teknis keterbatasan perangkat jaringan tidak stabil minor, lebih mudah Sistem Pemantauan belum Dashboard Dashboard & alert hanya digunakan, tetapi sistem melihat laporan akhir update lambat Upaya Perlu penyederhanaan Diharapkan ada Inovasi dan integrasi prosedur input dengan sistem lintas platform aplikasi BOS lain Hasil wawancara menunjukkan adanya kesenjangan kapasitas teknis antar sekolah Untuk SDN 4 Terentang, operator dinas masih banyak melakukan pendampingan manual karena perangkat sekolah terbatas dan pelatihan belum rutin. Pada SMPN 3 Terentang, kendala utama adalah jaringan dan error aplikasi sehingga sinkronisasi data sering tertunda. Sementara itu, di SMAN 1 Terentang, dukungan teknis dan pelatihan lebih konsisten sehingga sinkronisasi dan pelaporan berbasis ARKAS berjalan efektif dengan monitoring real-time. Secara umum, operator dinas menekankan pentingnya penyederhanaan prosedur, integrasi lintas sistem, serta penguatan kapasitas SDM sekolah agar keberlanjutan digitalisasi tata kelola keuangan semakin optimal. Studi dokumentasi dilakukan di tiga sekolah, yaitu SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang. Analisis diarahkan pada dokumen perencanaan, realisasi, bukti pelaporan digital, notulen evaluasi, pedoman teknis, surat kebijakan, laporan audit, serta dokumen partisipasi publik. Pendekatan ini digunakan untuk melengkapi data wawancara dan observasi, sekaligus memperkuat keabsahan temuan melalui triangulasi. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2717 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 12. Hasil Studi Dokumentasi Jenis Dokumen RKAS & draft BOS Laporan Bukti ARKAS Notulen Dokumen Surat edaran & kebijakan Laporan Partisipasi SDN 4 Terentang SMPN 3 Terentang RKAS sinkronisasi lemah Tidak File terunggah tepat waktu Sudah ARKAS, tapi data sering terlambat Laporan digital ada. Format ada, namun Minim evaluasi Ada notulen, tetapi formal, hanya catatan tidak rutin Hanya ada sosialisasi. Ada pelatihan singkat, tanpa sertifikat dokumen terbatas SMAN 1 Terentang RKAS tersusun digital, sesuai juknis Laporan konsisten & tepat waktu File digital lengkap, sesuai standar nasional Evaluasi berkala, notulen Modul pelatihan terdokumentasi tetapi Kebijakan masih penuh, sesuai juknis BOS Belum dipahami Ada, optimal oleh sekolah Audit belum rutin. Audit ada, masih temuan administrasi banyak catatan teknis Minim bukti Ada undangan rapat, partisipasi publik namun tidak intensif Audit berjalan baik, pelaporan terintegrasi Bukti keterlibatan komite Hasil studi dokumentasi menunjukkan bahwa kesiapan dan konsistensi penerapan ARKAS berbeda antar sekolah. SDN 4 Terentang masih mengandalkan pencatatan manual sehingga dokumen digital kurang lengkap. SMPN 3 Terentang mulai mengadopsi sistem digital, namun menghadapi keterlambatan sinkronisasi dan keterbatasan pelatihan. Sementara itu. SMAN 1 Terentang memiliki dokumentasi yang paling baik, dengan RKAS digital sesuai juknis, laporan realisasi lengkap, audit rutin, serta bukti keterlibatan publik yang kuat. Temuan ini menegaskan bahwa kualitas dokumentasi tidak hanya bergantung pada sistem ARKAS, tetapi juga pada kesiapan SDM, kepatuhan terhadap regulasi, dan partisipasi masyarakat dalam mengawal akuntabilitas keuangan sekolah. Triangulasi data dilakukan dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi di SDN 4 Terentang. SMPN 3 Terentang, dan SMAN 1 Terentang. Pendekatan ini bertujuan memastikan keabsahan informasi dan memperoleh gambaran komprehensif terkait implementasi ARKAS, transparansi, akuntabilitas, tantangan, serta kesiapan infrastruktur di berbagai jenjang pendidikan. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2718 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Tabel 13. Analisis Triangulasi Data Hasil Triangulasi Konsisten: SMA siap digital. & SMP butuh dukungan teknis & infrastruktur Fokus Kajian Observasi Wawancara Dokumentasi Implementasi ARKAS Kepala sekolah & mengakui kendala teknis di SD & SMP. SMA lebih RKAS di SD masih manual. SMP mulai digital tapi terlambat. SMA sesuai juknis Transparansi Kepala sekolah & komite SDAeSMP akui keterbatasan akses. SMA publikasi rutin Dokumentasi SD minim. SMP terbatas. SMA ada bukti partisipasi publik Selaras: meningkat di SMA, lemah di SD & SMP Akuntabilitas Bendahara SDAe SMP alami validasi. SMA tepat waktu Audit SD lemah. SMP ada catatan teknis. SMA audit rutin Konsisten: SMA baik. SDAe SMP masih Tantangan SDN 4 SMPN 3 SMAN 1 SD & SMP SMA terbuka ke komite SD manual. SMP arsip SMA tertata SD literasi rendah. SMP SMA minor Notulen evaluasi di SD & SMP tidak rutin. SMA Triangulasi kendala terbesar ada di SD & SMP Dukungan Operator & bendahara SD akui kesulitan input. SMP terbatas SDM. SMA minim Kepala sekolah & operator SDAeSMP mengaku jarang pelatihan. SMA Dokumen pelatihan: SD terbatas. SMP ada tapi singkat. SMA lengkap Konsisten: kesiapan sekolah SD minim SMP kurang intens. SMA Triangulasi data memperlihatkan konsistensi antara hasil observasi, wawancara, dan SMAN 1 Terentang terbukti lebih siap dalam implementasi ARKAS karena didukung oleh infrastruktur yang memadai. SDM terlatih, serta praktik transparansi dan akuntabilitas yang kuat. Sebaliknya. SDN 4 Terentang menghadapi hambatan signifikan pada literasi digital dan infrastruktur, sementara SMPN 3 Terentang terkendala jaringan serta monitoring yang lemah. Hasil ini menegaskan bahwa kesiapan digital, dukungan pelatihan, serta keterlibatan stakeholder menjadi faktor kunci keberhasilan ARKAS dalam mewujudkan tata kelola keuangan sekolah yang transparan dan akuntabel. Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2719 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Analisis data dilakukan secara sistematis dan iteratif untuk memastikan temuan penelitian benar-benar mencerminkan realitas implementasi ARKAS di lapangan. Proses ini melalui tahapan reduksi, penyajian, penarikan kesimpulan, analisis tematik, hingga validasi data dengan melibatkan partisipan dan kolega penelitian. Tabel 14. Tahap Analisis Data Langkah Analisis Reduksi Data Penyajian Data Penarikan Kesimpulan Analisis Tematik Validasi Data Proses yang Dilakukan Fokus Utama Menyaring data hasil observasi. Memilih data relevan sesuai wawancara, dan dokumentasi rumusan masalah & tujuan Menyusun narasi, tabel, dan grafik Memudahkan interpretasi & pemahaman data Mengidentifikasi pola & hubungan Merumuskan jawaban atas antar data fokus penelitian Mengelompokkan data ke dalam Implementasi ARKAS, tema utama tantangan, strategi optimalisasi Member checking, peer debriefing. Menjamin audit trail transparansi, & akuntabilitas Hasil analisis menunjukkan bahwa proses reduksi membantu memfokuskan data sesuai rumusan masalah, sementara penyajian data dalam berbagai bentuk memudahkan interpretasi. Pola-pola yang muncul kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi isu utama seperti efektivitas ARKAS, kendala teknis dan non-teknis, serta strategi optimalisasi di sekolah. Validasi melalui member checking, peer debriefing, dan audit trail memastikan temuan tidak hanya kredibel, tetapi juga transparan serta dapat dipertanggungjawabkan, sehingga hasil penelitian sahih dan mencerminkan kondisi nyata di lapangan. Tahap akhir penelitian difokuskan pada refleksi, sintesis temuan, penyusunan laporan, dan diseminasi hasil. Tahapan ini menjadi penutup yang memastikan penelitian tidak hanya menghasilkan temuan akademik, tetapi juga memberi manfaat praktis bagi sekolah dan pemangku kepentingan pendidikan. Tabel 15. Tahap Akhir Penelitian Langkah Proses yang Dilakukan Fokus Utama Refleksi Menelaah seluruh proses penelitian dari Identifikasi kekuatan & awal hingga akhir kelemahan penelitian Sintesis Mengintegrasikan observasi. Jawaban komprehensif atas Temuan wawancara, dan dokumentasi rumusan masalah & tujuan Penyusunan Menyusun laporan lengkap . atar belakang. Menyajikan Laporan metode, hasil, pembahasan, kesimpulan, penelitian secara sistematis Diseminasi Membagikan hasil penelitian ke Dinas Pemanfaatan Hasil Pendidikan, sekolah, dan masyarakat penelitian secara praktis & Hasil tahap akhir menunjukkan bahwa refleksi membantu peneliti menilai kekuatan dan keterbatasan penelitian, sementara sintesis temuan menyajikan jawaban menyeluruh atas pertanyaan penelitian. Penyusunan laporan dilakukan secara sistematis agar dapat menjadi referensi akademik dan praktis. Selanjutnya, diseminasi hasil penelitian kepada Dinas Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2720 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . Pendidikan, sekolah, dan masyarakat memastikan bahwa temuan tidak berhenti di ranah akademik, tetapi turut memberi kontribusi nyata bagi peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan sekolah melalui ARKAS. Temuan penelitian menunjukkan bahwa implementasi ARKAS telah mendorong perubahan signifikan dalam pengelolaan keuangan sekolah, khususnya dalam aspek transparansi, akuntabilitas, dan efisiensi pelaporan. Proses digitalisasi ini terbukti mampu menyederhanakan alur perencanaan, input, hingga realisasi dana BOS, meskipun masih terdapat hambatan berupa keterbatasan literasi digital, infrastruktur jaringan, serta kesiapan sumber daya manusia. Hal ini sejalan dengan pandangan Gusnardi et al. dan Gaspar et al. yang menegaskan bahwa tata kelola keuangan berbasis sistem digital memperkuat keterlacakan data dan meningkatkan kepercayaan publik. Transparansi pelaporan yang lebih terbuka juga berkontribusi terhadap partisipasi masyarakat dalam pengawasan, sebagaimana ditegaskan oleh Ella Febya Ardani . dan Hidayat & Tolla . Dari sisi akuntabilitas, penggunaan ARKAS memperlihatkan peningkatan keandalan dokumen pertanggungjawaban, dengan laporan yang lebih sistematis dan sesuai regulasi, mendukung temuan Batubara . Wele & Mildawati . , serta Azizi et al. Kendati demikian, faktor literasi digital rendah dan keterbatasan perangkat menjadi tantangan utama, sebagaimana dicatat oleh Mponela & Mchami . dan Hamdani & Rahayu . Oleh karena itu, strategi penguatan kapasitas melalui pelatihan, pendampingan teknis, dan supervisi dinas sangat penting untuk mengoptimalkan efektivitas sistem ini (Fitri et al. , 2024. Andriani & Hidayat, 2. Diskusi ini juga menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital keuangan sekolah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada komitmen kepemimpinan, konsistensi regulasi, serta partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan. Sebagaimana ditegaskan Creswell & Creswell . dan Yin . , pendekatan kualitatif dalam studi kasus memungkinkan pemahaman yang lebih holistik terhadap dinamika tersebut. Dengan demikian. ARKAS berpotensi menjadi instrumen tata kelola keuangan pendidikan yang lebih transparan, akuntabel, dan adaptif, sejalan dengan prinsip good governance dan praktik manajemen pendidikan yang berkelanjutan (Eksantoso, 2020. Winaya et al. , 2022. Yulyanti et al. , 2. KESIMPULAN Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi aplikasi ARKAS telah membawa perubahan signifikan dalam tata kelola keuangan sekolah, khususnya dalam pengelolaan dana BOS. Pertama. ARKAS mampu menyederhanakan proses perencanaan, input, hingga pelaporan keuangan, meskipun tingkat efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh kesiapan infrastruktur dan literasi digital di masing-masing sekolah. Kedua, penggunaan ARKAS terbukti memperkuat transparansi dengan membuka akses data keuangan secara lebih jelas bagi guru, komite sekolah, maupun masyarakat, serta meningkatkan akuntabilitas melalui sistem pelaporan yang terdokumentasi, terstandar, dan sesuai regulasi. Ketiga, penelitian juga mengidentifikasi sejumlah tantangan, di antaranya keterbatasan jaringan internet, perangkat yang kurang memadai, rendahnya literasi digital, serta resistensi budaya organisasi yang masih mengandalkan sistem manual. Keempat, strategi optimalisasi dilakukan sekolah melalui pendampingan teknis, pelatihan operator dan bendahara, peningkatan koordinasi antar pihak, serta pemanfaatan monitoring internal dan supervisi dinas pendidikan untuk memperkuat efektivitas sistem. Temuan ini menegaskan bahwa ARKAS bukan sekadar aplikasi teknis, melainkan instrumen transformasi digital yang berpotensi mendorong tata kelola keuangan sekolah menjadi lebih Transformasi Digital Aplikasi Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah A - 2721 Mubarok et al. / Jurnal Ilmiah Global Education 6 . transparan, akuntabel, dan partisipatif. Namun, keberhasilan penerapannya sangat ditentukan oleh sinergi antara teknologi, sumber daya manusia, kebijakan, dan komitmen kepemimpinan di tingkat sekolah maupun instansi terkait. Dengan demikian. ARKAS dapat menjadi model praktik baik dalam upaya mewujudkan pengelolaan dana pendidikan yang lebih modern, adaptif, dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA