Jurnal Ilmiah Keperawatan dan Kesehatan Alkautsar (JIKKA) e-ISSN : 2963-9042 online: https://jurnal. id/index. php/JIKKA UPAYA PEMBERIAN PENDIDIKAN KESEHATAN UNTUK MENGATASI MASALAH DEFISIT PENGETAHUAN TENTANG SKABIES PADA SANTRI PONDOK PESANTREN Akhmad Syukron Maulana, 2 Ratna Kurniawati 3 Tri Suraning Wulandari Program Studi D-i Keperawatan Alkautsar Temanggung Email: akhmadsukr00n08@gmail. com, 2 ratnaummudzaky@gmail. woelancahya@yahoo. Email korespondensi : akhmadsukr00n08@gmail. ABSTRAK Latar Belakang. Penyakit skabies tidak bersifat membahayakan, namun mengangguaktivitas dan produktivitas, menciptakan kesan yang kotor dan terbelakang serta menimbulkan dampak psikologis untuk pasien dan masyarakat sekitarnya (Purwanto & Hastuti,2. Permasalahan skabies di pondok pesantren yang tidak ditangani dengan segera, dampak yang terjadi adalah cepatnya proses penularan scabies dan mengganggu konsentrasi santri saat sedang belajar, mengganggu ketenangan ketika istirahat khususnya saat malam hari (Sumiatin dkk. , 2. Metode. Penelitian yang dipakai yaitu penelitian kualitatif melalui desain studi kasus. Hasil. Dilihat dari hasil presentasi manifestasi klinis skabies pada kedua responden 80% dan kedua responden mengalami masalah defisit pengetahuan yang disebabkan oleh kurangnya paparan informasi dengan presentase 100%. Kesimpulan. Terjadi peningkatan pengetahuan terkait tentang pola hidup sehat melalui Pendidikan kesehatan yang efektif dan dapat diimplementasikan dalam keseharian Kata Kunci: Defisit Pengetahuan. Pendidikan kesehatan. Skabies. ABSTRACT Background. Scabies is not dangerous, but disrupts activity and productivity, creates a dirty and backward impression and has a psychological impact on patients and the surrounding community (Purwanto & Hastuti, 2. The problem of scabies in Islamic boarding schools which is not immediately resolved, the impact that occurs is the fast transmission process of scabies and disturbing the concentration of students while studying, disturbing the peace when resting, especially at night (Sumiatin et al. , 2. Method. The research used is qualitative research using a case study design. Results. Judging from the results of the presentation of clinical manifestations of scabies in both respondents, 80% and both respondents experienced knowledge deficit problems caused by lack of exposure to information with a percentage of 100%. Conclusion. There has been an increase in knowledge regarding healthy lifestyles through effective health education that can be implemented in everyday life Keywords: Knowledge Deficit. Health Education. Scabies. PENDAHULAN Penyakit scabies adalah penyakit menular pada sekumpulan orang yang seringkali menyerang mereka yang memiliki keadaan sosial perekonomian yang rendah, sanitasi dan kondisi higienitas yang buruk. Penyakit scabies bersifat tidak membahayakan, akan tetapi mengganggu aktivitas dan produktivitas, terbelakang dan tidak bersih dan membawa dampak psikologis untuk pengidapnya serta orang-orang di sekeliling (Purwanto & Hastuti,2. World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 memperkirakan 200 juta orang di seluruh dunia menderita skabies pada waktu yang sama, hingga 10% anakanak di daerah miskin sumber daya terkena kudis atau skabies. Sedangkan di Indonesia. Menurut data Kemenkes RI tahun 2016, scabies yang ada di Indonesia memiliki prevalensi hingga 4,60,95% dan menempati posisi ketiga dari 12 penyakit kulit yang terbanyak (Sunarno & Hidayah, 2. Kemudian dilihat dari beberapa penelitian. Angka kejadian skabies di pondok pesantren padat penghuni yang memiliki higienitas buruk meraih angka 78,7%, sementara pondok pesantren yang tingkat higienitas baik prevalensi hanya Kisaran 3,8%. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh antara hygiene dan skabies (Setiawan dkk. Faktor yang berperan penting terhadap tingginya scabies di negara berkembang dilihat berdasarkan derajat kebersihan personal hygiene yang rendah dan kurangnya pengetahuan tentang mencegah dan mengobati skabies (Khairoh, 2. Pondok pesantren Anwarussholichin terdapat 103 santri putra tingkat SMP, hasil wawancara peneliti di dapatkan 58 terkena skabies sedangkan dari 58 tersebut beberapa terdapat belum mengetahui pencegahan dan perawatan skabies. Sehingga perlu di berikan pendidikan kesehatan tentang Upaya untuk mencegah skabies dengan memberikan edukasi kesehatan sekaligus menjadi upaya promotif dari tenaga medis. Perawat juga berperan signifikan untuk melaksanakan tindakan pencegahan, rehabilitasi dan juga kuratif (Setiawan dkk. , 2. Permasalahan scabies di pondok pesantren yang tidak ditangani segera, dampak yang timbul adalah cepatnya mengganggu konsentrasi Santri saat sedang belajar, mengganggu ketika istirahat khususnya saat malam hari (Sumiatin dkk. , 2. Penelitian ini sejalan dengan studi dari Henri Setiawan, dkk pada tahun 2021 dengan judul AuPendidikan Kesehatan Pencegahan Skabies di Pondok Pesantren Al-ArifinAy didapatkan hasil evaluasi menunjukkan 7% partisipan memberi nilai sangat baik, edukasi kesehatan terkait tindakan preventif sikap yes bermanfaat besar terutama untuk pemahaman komunitas di area pesantren yang menjadikan adanya peningkatan tingkat kesehatan masyarakat. Studi lainnya yaitu dari Titik Sumiatin, dkk pada tahun 2017 yang berjudul AuEfektivitas Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan tentang Hidup Bersih dan Sehat dalam Pencegahan Skabies Pondok Pesantren Mukhtariyah Syafiiyah 1 Beji TubanAy dengan hasil pendidikan kesehatan efektif untuk merubah pengetahuan Santri, mengoptimalkan pemberian edukasi kesehatan untuk masyarakat Pondok terutama di daerah Kabupaten Tuban Cara yang biasa dilakukan oleh santri di pondok pesantren dalam mengatasi skabies yaitu dengan melakukan merendam tangan mengunakan air hangat disertai serai dan garam kemudian gatal yang bernanah ditusuk mengunakan Sebenarnya cara yang dilakukan oleh santri di pondok pesantren tersebut tidak sesuai dengan anjuran karena akan mengakibatkan terjadinya infeksi. Scabies adalah penyakit infeksi pada kulit yang diakibatkan infeksi tungau dan sanitasi sarcoptes beserta produknya yang mana bisa ditularkan dengan kontak secara langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung bisa melalui berjabat tangan sehingga menyebabkan kontak antara kulit dengan kulit, tidur secara bersamaan dan hubungan seksual. (Kurniawan Marsha. Ling Michael Sie Shun, 2. Definisi lain tentang skabies yaitu penyakit kulit Menular yang diakibatkan adanya tungau sarcoptes scabiei biasanya diawali munculnya gejala tertentu yakni gatal di area kulit yang pada akhirnya dapat merusak kulit tersebut. (Sari, 2. Scabies juga sering disebut sebagai kudis, gatal agogo, budukan dan juga gudik (Mutiara & Syailindra, 2. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini yaitu penelitian kualitatif menggunakan desain studi Pada penelitian ini, peneliti penelitian deskriptif dengan fokus mengatasi defisit pengetahuan tentang skabies dengan pemberian pendidikan Subjek penelitian studi kasus ini adalah dua responden dengan skabies yang mengalami masalah defisit Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu: Santri yang menderita skabies dengan usai 13-15 tahun. Santri disebuah pondok pesantren Anwarusholichin Menunjukan masalah dan gejala defisit pengetahuan Bersedia menandatangani informed consent untuk dijadikan responden Pengolahan data diambil dari wawancara, observasi, pemeriksaan fisik kepada responden. Responden diberi pertanyaan pada hari pertama selanjutnya diberikan tindakan pendidikan kesehatan. Pendidikan kesehatan dilakukan sehari sekali selama 3 hari. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Intervensi pada kedua responden dilaksanakan secara bersama-sama pada hari kedua sampai hari keempat. Frekuensi tindakan dilakukan sekali dalam sehari yaitu pada tanggal 11-14 April 2023. Keberhasilan tindakan diukur menggunakan kuisioner pre dan post. Awal tindakan pemberian Pendidikan Kesehatan dimulai setelah kedua menandatangani informed consent yang diberikan kepada Sdr. R dan Sdr. W pada tanggal 11 April 2023. Berikut uraian tindakan yang dilakukan, yaitu: Implementasi 1 Tindakan pertama kali dilakukan pada 12 April 2023 pukul 13. 15 yaitu mengucapkan salam, menjelaskan maksud dan tujuan, menjelaskan materi tentang skabies. Hasil yang didapatkan yaitu pasien tampak kooperatif dan mengerti dengan materi yang diberikan. Implementasi 2 Hari kedua dilakukan pada tanggal 13 April 2023 pukul 14. pengertian dan cara pencegahan Didapatkan hasil kedua pasien tampak paham dengan materi yang disampaikan dan tampak Implementasi 3 Pada hari ketiga, kedua responden melakukan praktik tentang cara pencegahan skabies. Hasilnya, kedua pencegahan skabies. Implementasi 4 Hari keempat dilakukan evaluasi pada kedua responden dan didapatkan bahwa kedua responden dapat menyebutkan pengertian hingga mempraktikkan cara pencegahan Dalam pre test peneliti memberikan sejumlah pertnyan sebagai berikut: Identifikasi pengertian skabies Sebagian besar kedua responden menunjukan defisit pengetahuan dalam mengidentifikasi pengertian Mereka mungkin belum mengenali tanda dan gejala skabies yang khas yaitu gatal pada malam hari, penonjolan pada kulit dan ditemukan adanya tungau, mereka hanya menjawab bahwa skabies adalah Penyebab terjadinya skabies Sebagian kedua responden kurang memahami bagaimana cara menjawab terjadinya skabies mereka hanya bisa menjawab sesuai pengetahuanya seperti contoh mereka hanya bisa menjawab bahwa terjadinya skabies yaitu tertular dari orang lain. Cara penularan skabies Sebagian besar kedua responden kurang memahami bagaimana cara penularan skabies dan faktor resiko yang terkait. Kedua responden mungkin tidak menyadari bahwa skabies bisa menyebar dengan cara kontak langsung dan juga tidak langsung, kedua responden hanya menjawab karena sering bersentuhan. Cara mencegah dari skabies Mayoritas kedua responden menunjukan defisit pengetahaun tentang bagaimana cara mencegah terjadinya skabies, mereka mungkin tidak tahu bahwa pengobatan harus dilakukan seluruh penghuni pondok pesantren dan tidak hanya dilakukan oleh orang yang terinfeksi saja. Selain itu mereka juga kurang mengerti pentingnya pola hidup sehat seperti contoh menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Data pengkajian yang didapatkan pada kedua responden dapat dilihat pada tabel Tabel 1 Pengkajian Skabies Manifestasi Klinis Skabies Merasa gatal pada malam hari Ditemukan adanya trowongan Ditemukan adanya tungau Kemerahan pada kulit Penonjolan pada permukaan kulit Responden 1 Ada Tidak Ada Oo Oo Oo Oo Oo Ada Responden 2 Tidak Ada Oo Oo Oo Oo Oo Berdasarkan tabel 1, dapat disimpulkan bahwa kedua responden mengalami skabies. Dilihat dari hasil presentasi manifestasi klinis skabies pada kedua responden 80%. Tabel 2. Pengkajian pengetahuan tentang Skabies Tanda dan gejala Apakah anda mengetahui tentang Apakah anda sudah menerapkan pola hidup sehat Menunjukan perilaku tidak sesuai anjuran . asien sering melakukan penusukan pada nana. Menunjukan persepsi yang kliru terhadap masalah . asien masih mengangap bahwa skabies adalah hal yang wajar bagi santr. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat . asien tidak melakukan pemeriksaan kontrol kepukesmas Menunjukan berlebihan . elakukan garukan kulit secara terus menerus, mengunakan produk tropikal secara Sebelum tindakan Responden 1 Responden 2 Tidak Tidak Oo Oo Oo Oo Sesudah tindakan Responden 1 Responden 2 Tidak Tidak Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Hasil dari pengkajian masalah keperawatan pada tabel 2, dapat disimpulkan bahwa kedua responden mengalami masalah defisit pengetahuan yang disebabkan oleh kurangnya paparan informasi dengan presentase 100%. Implementasi hari ke empat pada tanggal 14 April 2023 peneliti melakuakan evaluasi setelah melalui program Pendidikan Kesehatan tentang skabies, kedua responden menjalani post responden sebelumnya. Berikut adalah rangkaian hasil post test: Identifikasi pengertian skabies Hasil dari post test menjelaskan adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman kedua responden terkait tanda dan gejala pada scabies. Kedua responden dapat dengan tepat mengidentifikasi pengertian dari skabies itu sendiri. Penyebab terjadinya skabies Kedua responden telah menunjukan peningkatan yang baik dalam terjadinya skabies. Kedua responden menyadari bahwa penyebab terjadinya yaitu karna terjadinya sarcoptes scabiei var yang menular melalui orang ke orang baik langsung atau tidak. Cara penularan skabies Sebagian besar kedua responden mengalami penigkatan pemahaman bagaimana cara penularan terjainya skabies, kedua responden menjawab skabies dapat ditularkan melalui kontak dengan orang baik langsung maupun tidak langsung. Cara terjadinya skabies Hasil dari post test menunjukan peningkatan pengetahuan kepada kedua responden tentang bagaimana cara pencegahan terjadinya skabies. Mereka memahami bahwa pengobatan tidak hanya dilakukan dengan santri yang terinfeksi saja, namun dilakukan dengan pengeobatan seluruh penghuni responden sadar akan pentingnya pola hidup sehat baik kepada diri sendiri maupun kepada lingkungannya. PEMBAHASAN Scabies merupakan infeksi kulit dikarenakan tungau sarcoptes scabiei var. infeksi ini dapat menimbulkan gejala seperti ruam, gatal yang hebat pada malam hari, ditemukan adamya firus penonjolan pada kulit. Pasien dengan skabies biasanya mengalami ruam yang muncul seperti garis-garis atau lekukan berwarna merah pada kulit. Ruam paling umum terjadi diarea seperti pergelangan tangan, ssela jari, kelamin, perut, dan lipatan kulit lainnya. Sensasi gatal pada skabies sangat hebat dirasakan pada malam hari, pasien skabies biasanya mengalami kebutuhan yang tak terkendali untuk mengaruk kulit yang terinfeksi yang dapat menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri (American Academy of Dermatology Associaton Pasien skabies mengalami defisit pengetahuan karena beberapa faktor. Kurangnya akses atau informasi yang tepat. Pasien memiliki akses ke sumber informasi yang dapat diandalkan atau tidak menerima informasi yang memadai tentang skabies. Kurangnya pengetahuan tentang penanganan skabies dapat menyebabkan defisit pengetahuan (Mayo Clinic 2. Pasien skabies mengalami defisit pengetahuan karena beberapa faktor. Kurangnya akses atau informasi yang tepat. Pasien mungkin tidak memiliki akses ke sumber informasi yang dapat diandalkan atau tidak menerima informasi yang memadai tentang skabies. Kurangnya penyebab, gejala, dan penanganan skabies dapat menyebabkan defisit pengetahuan (Mayo Clinic 2. Sedangkan menurut World Helalth Organization (WHO) pada tahun 2018 menatakan terjadinya Stigma sosial mempengaruhi pasien dalam mencari informasi dan memahami kondisi Stigma sosial ini dapat menghambat upaya pasien untuk mencari pengetahuan yang memadai. Secara umum data yang ditemukan pada kedua responden sesuai dengan identifikasi masalah defisit pengetahuan berdasarkan PPNI, 2017. Tanda dan menegakkan diagnosa keperawatan defisit pengetahuan meliputi kekeliruan dalam memahami anjuran, minimnya informasi, kurangnya minat untuk belajar, melakukan tindakan yang memperlihatkan pandangan yang salah atas suatu permasalahan, melakukan pemeriksaan yang kurang efektif, serta adanya tingkah laku yang berlebihan (PPNI, 2. Gejala dan tanda scabies yang timbul di kedua responden adalah merasa gatal ketika malam, ditemukan terowongan kemerahan di kulit dan penonjolan permukaan kulit. Hasil pencapain tingkat pengetahuan pada kedua subjek studi kasus rata rata berkisar 4 sampai 5 yang berarti terdapat diberikan Pendidikan Kesehatan tentang Skabies. Sehingga dapat disimpulkan pemberian Pendidikan Kesehatan skabies dapat meningkatkan pengetahuan pasien dari semuala 1 . menjadi 5 . dengan demikian terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan pada pasien yang mengalami defisit pengetahuan sesudah diberi intervensi. Kegiatan pendidikan kesehatan pemahaman terkait pencegahan scabies untuk masyarakat terutama yang ada di area pondok pesantren. Agenda seperti ini harus diterapkan dengan masif agar masyarakat terkait pencegahan penyakit skabies terutama pada lingkup pondok pesantren (Setiawan dkk. , 2. Sesuai penelitian yang dilakukan oleh Henri Setiawan, dkk pada tahun AuPendidikan Kesehatan Pencegahan Skabies di Pondok Pesantren Al-ArifinAy didapatkan partisipan memberi nilai sangat baik, edukasi kesehatan terkait tindakan preventif sikap yes bermanfaat besar wawasan dan pemahaman komunitas di area pesantren yang menjadikan adanya Studi lainnya yaitu dari Titik Sumiatin, dkk pada tahun 2017 yang AuEfektivitas Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan tentang Hidup Bersih dan Sehat dalam Pencegahan Skabies di Pondok Pesantren Mukhtariyah Syafiiyah 1 Beji TubanAy dengan hasil pendidikan kesehatan efektif untuk merubah pengetahuan Santri, mengoptimalkan pemberian edukasi kesehatan untuk masyarakat Pondok terutama di daerah Kabupaten Tuban KESIMPULAN Edukasi skabies efektif untuk mengatasi defisit pengetahuan tentang skabies pada santri yang terkena skabies dibuktikan dengan pre test dan pos test pada kedua responden sebelum intervensi adalah 0% persen setelah intevensi meningkat menjadi 100% pada kedua pengetahuan baik dan tercapai sesuai ekspektasi luaran keperawatan yaitu Berdasarkan hal tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwasanya ada peningkatan pengetahuan tentang pola hidup sehat melalui pendidikan kesehatan yang baik sehingga dapat diimplementasikan untuk keseharian masyarakat DAFTAR PUSTAKA