ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 MINAT PEMUDA SUKU BATAK DAN PEMUDA SUKU JAWA DALAM BIDANG PERTANIAN DI KECAMATAN BINJAI KABUPATEN LANGKAT PROVINSI SUMATERA UTARA INTEREST OF BATAKNESE AND JAVANESE YOUTH IN AGRICULTURE IN BINJAI DISTRICT. LANGKAT REGENCY. NORTH SUMATRA PROVINCE Annisah1*. Dwi Febrimeli2. Mahmudah2. Rudi Hartono1 Politeknik Pembangunan Pertanian Bogor Politeknik Pembangunan Pertanian Medan Email Korespondensi: annisahharahaf@gmail. Diterima: 09-11-2023 Direvisi akhir: 28-11-2023 Disetujui terbit: 30-11-2023 ABSTRACT The low interest of young people in the agricultural sector is increasing from year to year. It is because businesses in the agricultural industry are less profitable and not promising jobs. This research aims to determine the factors that affect the interests of tribe youth Batak and Java in agriculture and the difference of interest between youth tribe Batak dan Java. This research was conducted in the Binjai District of Langkat Regency. The data collection method is used by interviews and questionnaires tested for validity and reliabilityAithe data analysis method uses multiple linear regression and tests. The result of the research indicates that there is a difference between the interest of young Batak and Javanese tribes in the field of Partially, prestige and family environment have an inverse effect on the interest of your Batak in agriculture and factor social statute . positively influences the interest of the youth tribe of your java. The elements of prestige, family environment, education, experience, social environment, social statute, culture and technology contributed 52,7% to the interest of youth Batak. And 75,8% of factors prestige, family environment, education, experience, social environment, social statute, culture and technology influence the interest of Javanese. Keywords: interest, youth bataknese, youth javanese ABSTRAK Rendahnya minat pemuda dalam bidang pertanian dari tahun ke tahun semakin meningkat. Hal ini disebabkan karena usaha di bidang pertanian kurang menguntungkan dan juga bukan suatu pekerjaan yang manjanjikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor yang mempengaruhi minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa dalam bidang pertanian, dan perbedaan minat antara pemuda Suku Batak dan Suku Jawa. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Binjai. Kabupaten Langkat. Provinsi Sumatera Utara. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan penyebaran kuesioner yang telah lulus uji validitas dan reliabilitas. Metode analisis data menggunakan Uji Regresi Linier Berganda dan Uji T. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa dalam bidang pertanian. Secara parsial, variabel gengsi dan lingkungan keluarga, memiliki pengaruh yang berbanding terbalik terhadap minat pemuda Suku Batak, serta faktor status sosial . berpengaruh yang positif terhadap minat pemuda Suku Jawa. Secara bersama-sama faktor gengsi, lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman, lingkungan sosial, status sosial, budaya, dan teknologi memberikan kontribusi sebesar 52,7% terhadap minat pemuda Suku Batak, dan 75,8% faktor gengsi, lingkungan keluarga, pendidikan, pengalaman, lingkungan sosial, status sosial, budaya dan teknologi berpengaruh pada minat pemuda Suku Jawa Kata kunci: minat, pemuda suku batak, pemuda suku jawa Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara masyarakatnya hidup dari pertanian. Kondisi alam dan tanah yang subur merupakan faktor utama yang menjadikan Indonesia sebagai negara agraris. Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) mencatat jumlah petani Indonesia dari waktu ke waktu terus menurun, penurunan jumlah petani ini disebabkan oleh kurangnya minat generasi muda mempelajari dan menekuni bidang Padahal mempunyai peran yang sangat penting untuk memajukan suatu bangsa. Masa depan suatu bangsa akan dipegang penuh oleh generasi muda. Masa produktif manusia adalah berada di masa muda, dimana kondisi fisik dan mental masih kuat sehingga apapun masalah seolah-olah terselesaikan dengan cepat. Dibidang pertanian, peran pemuda sangat dibutuhkan karena pada umumnya umur petani yang ada pada saat ini adalah sekitar 45 tahun ke atas dan sudah mempunyai keterbatasan fisik serta mental. Hal ini mengakibatkan usaha pertanian yang digarap tidak memproduksi hasil yang maksimal. Menurut BPS Tahun 2018 jumlah petani Indonesia sebanyak 33,49 juta jiwa. Dapat dilihat petani dengan usia di bawah 25 tahun sebanyak 885. petani, berusia 25 Ae 34 tahun tercatat sebanyak 4,1 juta jiwa, sedangkan petani dalam kelompok usia 35 Ae 44 tahun sebanyak 8,17 juta jiwa. Kelompok usia yang mendominasi profesi petani berada pada rentang usia 45 Ae 54 tahun, yakni sebanyak 9,19 juta jiwa. Adapun, petani dari kelompok usia 55 Ae 64 tahun dan di atas 64 tahun masing-masing sebanyak 6,95 juta jiwa dan 4,19 juta jiwa (Mahdi, 2. Kondisi tersebut tentunya menjadi tantangan bagi Indonesia sebagai negara agraris. Begitu juga dengan perkembangan teknologi yang ada pada saat ini para petani tidak mampu memanfaatkannya. Lain halnya dengan pemuda yang sudah melek dengan teknologi pertanian di sekitarnya yang semakin tahun semakin canggih. Begitu juga ilmu pengetahuan yang semakin hari semakin maju. Oleh sebab itu, penyuluh lebih mudah untuk mengubah pola fikirnya agar mau mengadopsi inovasi-inovasi dibidang pertanian sehingga produksi meningkat sesuai hasil produktivitas yang Bergesernya kebutuhan hidupnya, telah meninggalkan luka bagi pertanian di pedesaan, yang hanya dikelola oleh para orang tua dengan produktivitas yang sudah menurun. Kondisi ini mulai muncul sejak tahun 70-an, dimana ekonomi uang mulai merebak di perdesaan, dan ketika perkotaan memperlihatkan sinyal adanya peluang meraih pendapatan atau ekonomi yang sangat tinggi dari sektor Memasuki era 80 dan 90-an industri mulai tumbuh di perkotaan dan tidak sedikit pula yang masuk perdesaan. Peluang ini menjadi harapan bagi pemuda desa yang sudah melek huruf, dengan tingkat pendidikan di atas SLTP bahkan SLTA, untuk mengadu keberuntungan meninggalkan sektor pertanian. Tingginya pengkonversian lahan pertanian menjadi pemukiman warga, hal ini menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian warga yang selama ini menjadi usaha utama masyarakat pedesaan. Suku Batak dan Suku Jawa merupakan suku terbesar di Indonesia yang telah menyebar luas di segala penjuru Tidak hanya di perkotaan. Suku Batak dan Suku Jawa juga banyak yang tinggal di pedesaan dan bermata pencaharian di sektor pertanian. Jumlah penduduk masyarakat Suku Batak menurut data BPS Tahun 2010 adalah sebesar 969 jiwa Suku Batak lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah petani Suku Jawa, meskipun lokasi penelitian berada di wilayah daerah Sumatera Utara yang pada umunya ditempati oleh Suku Batak atau 3,58% dari jumlah penduduk Indonesia. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Sedangkan jumlah masyarakat Suku Jawa adalah sebesar 95. 022 juta jiwa atau sekitar 40,02% dari jumlah penduduk Indonesia. Umumnya masyarakat Suku Batak mempunyai rasa gengsi yang tinggi sehingga banyak yang tidak tertarik untuk berusaha dibidang pertanian. Kurang masyarakat Suku Batak tidak hanya ada dipandangan para orangtua, bahkan mereka menanamkan mindset kepada anak mereka bahwasanya menjadi petani itu hanya akan pas-pasan, sehingga mereka menyuruh anak mereka untuk pergi merantau keluar daerah tempat tinggal mereka. Jika anak mereka masih duduk di bangku pendidikan sebagian orangtua akan menyuruh anaknya untuk tidak mengambil jurusaan pertanian, mereka lebih memilih jadi militer, dokter dan sekolah umum lainnya diluar pertanian. Mereka beranggapan jika anaknya mengambil jurusan pertanian suatu saat profesi anaknya akan sama denga dirinya. Itulah yang menjadi salah satu alasan kenapa pemuda Suku Batak semakin hari semakin sedikit yang mau menjadi petani. Suku Jawa adalah salah satu suku di Indonesia yang banyak memiliki keunikan seperti halnya suku-suku lain. Masyarakat Suku Jawa hidup di lingkungan agraris, sehingga inti kebudayaan di daerah ini terdiri dari sub budaya tani, baik aktifitas pada lahan sawah, tegal, maupun lahan kering. Pada umumnya masyarakat Suku Jawa menggantungkan hidupnya pada sektor Hal ini dimulai dari sejak zaman penjajahan Belanda, mulai saat itu masyarakat Suku Jawa mulai bercocok tanam karena paksaan kaum penjajah. Kepadatan jumlah penduduk ditanah Jawa menyebabkan banyaknya penduduk yang berpindah tempat atau yang sering dikenal dengan istilah merantau dengan tujuan untuk merubah hidup agar lebih sejahtera. Besarnya populasi Suku Jawa yang ada di seluruh Indonesia mengakibatkan jumlah pemuda Suku Batak lebih sedikit dibandingkan dengan Suku Jawa, meskipun lokasi penelitian berada di wilayah daerah Sumatera Utara yang pada umunya ditempati oleh masyarakat ber Suku Batak. METODE PENELITIAN Lokasi Kecamatan Binjai di Kabupaten Langkat. Provinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi didasarkan pada fakta bahwa wilayah ini memiliki populasi suku yang sama, yaitu Batak dan Jawa, yang akan menjadi subjek Penelitian ini menggunakan metode komparatif untuk membandingkan signifikansi perbedaan antara rata-rata dua sampel penelitian. Pengambilan data menggunakan metode: . observasi, . wawancara, . dokumentasi, dan . studi Penentuan sampel menggunakan metode purposive proportional random sampling, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 80 orang yang terdiri dari masing-masing 40 orang Suku Batak dan Suku Jawa. Variabel bebas . prestise/gengsi (X. , pendidikan nonformal (X. , pengalaman (X. , lingkungan keluarga (X. , status sosial (X. , budaya (X. , lingkungan sosial (X. , dan teknologi (X. Kuesioner menggunakan skala likert dengan jenis data interval. Sedangkan variabel terikat . pada penelitian ini yaitu minat pemuda Suku Batak dan pemuda Suku Jawa (Y). Variabel ini mendorong petani muda untuk berusaha di bidang pertanian yang dapat diukur dengan dengan 3 faktor yaitu kepuasan (Y. , semangat (Y. , dan kemampuan (Y. Setelah penentuan jumlah sampel maka dilakukan uji validitas dan reliabilitas Pengujian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kesahihan dan keandalan dari instrumen penelitian. Adapun uji validitas dengan menggunakan rumus korelasi Person Product Momen (Ridwan dan Sunarto, 2. , sebagai berikut: Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 r . = n . Oe . (Oc. Oo. X2Oe(X). Y2Oe(Y). Keterangan: R = korealsi Person Moment N = jumlah Responden Y = skor total XY= koefisien korelasi X = skor pertanyaan/pernyataan Kemudian, instrumen penelitian diuji realibilitas yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana alat ukur penelitian ini dapat Adapun rumus yang digunakan adalah rumus Alpha Cronbach dengan persamaan sebagai berikut : R = koefisien realibilitas test N = banyaknya butir dikeluarkan dalam test OcStA= jumlah varian skor tiap-tiap item dari butiran item SAt = varian total Nilai Respon Selanjutnya, analisis deskripsi dilakukan untuk menentukan persentase pemuda Suku Batak dan Suku Jawa yang tertarik dengan pertanian di Kecamatan Binjai. Kabupaten Langkat. Provinsi Sumatera Utara. Analisis tersebut menggunakan skala likert dengan rumus berikut : Skor respon yang diperoleh a. Skor maksimum respon X 100% Dapat dilihat pada garis kontinum pada Bambar 1. Gambar 1. Garis kontinum Kriterianya yaitu: 0 - 20% = sangat rendah (SR) 21 - 40% = rendah (R) 41 Ae 60% = sedang (S) 61-80% = tinggi (T) 81-100% = sangat tinggi (ST) Setelah dianalisis secara deskriptif, minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa maka perlu di analisis faktor-faktor yang Adapun rumus yang digunakan adalah Regresi Linier Berganda dengan persamaan sebagai berikut: = a b1X1 b2X2 b3X3 b4X4 b5X5 b6X6 b7X7 b8X8 a. Keterangan: = minat pemuda = konstanta = koefesien regresi = variabel prestise = variabel pendidikan = variabel pengalaman = variabel lingkungan keluarga = variabel status sosial = variabel budaya = lingkungan sosial = teknologi Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Berikutnya, pengujian pengaruh variabel independen (X) secara parsial terhadap variabel dependen (Y) digunakan Uji t. t hitung = Persamaan Uji t menurut Sugiyono . adalah sebagai berikut: xE 1 - xE 2 a. r = Nilai korelasi X1 dan X2 n = Jumlah sampel xE 1 = rata-rata sampel ke-1 xE 2 = rata-rata sampel ke-2 s1 = standar deviasi sampel ke-1 s2 = standar deviasi sampel ke-2 dari dalam diri mereka sendiri. Sebagai penggerak dan tampak dari luar fisiknya yaitu dia mau bergerak dengan sendirinya tanpa ada yang menyuruh. Oleh karena itu, akan timbul kepuasan, semangat dan kemampuan untuk melakukan usaha di bidang pertanian. Minat pemuda dalam usaha dibidang pertanian sangat penting diperhatikan, karena pemuda zaman sekarang adalah penentu ujung tombak negara dimasa yang akan dating. Tanpa adanya penerus atau generasi muda di bidang pertanian maka suatu negara akan mengalami krisis pangan. Komentar responden tentang minat generasi muda dalam pertanian dapat dilihat pada Tabel 1. Formulasi hipotesis yang diuji S1 = varians sampel ke-1 S2 = varians sampel ke-2 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis tingkat minat generasi muda dalam bidang pertanian di kecamatan binjai kabupaten langkat Kekuatan yang dimiliki pemuda untuk berpartisipasi dalam usaha pertanian berasal Tabel 1. Minat pemuda suku batak dan suku jawa dalam bidang pertanian di Kecamatan Binjai. Kabupaten Langkat No. Total Minat Kepuasan Semangat Kemampuan Skor Responden Suku Suku Jawa Batak Peresentase Skor Maksimum Suku Jawa Suku Batak Kriteria Suku Jawa Rendah Sedang Sedang Sedang Suku Batak Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Sumber :analisis data primer 2018 Tingginya minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa dalam bidang pertanian Sedang juga dapat ditentukan dilihat melalui garis kuantum pada Gambar 2. 41,8% = Suku Batak Tinggi 68,6% = Suku Jawa Gambar 2. Garis kuantum Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Berdasarkan hasil penelitian ini dapat diketahui minat pemuda Suku Batak terhadap usaha dibidang pertanian di Kecamatan Binjai masih dalam kategori sedang yaitu 41,8 %. Hal ini disebabkan karena banyaknya diantara pemuda Suku belum mengetahui bagaimana dunia pertanian yang sesungguhnya namun tidak mau untuk ikut terlibat didalamnya. Kesimpulan ini dapat dibuktikan dari tingginya perolehan skor dari setiap variabel X dalam penelitian ini namun rendah dalam skor pada variabel Y. Isi dari pernyataan setiap variabel merupakan pernyataan yang positif dan pada umunnya pemuda Suku Batak memberikan skor yang tinggi artinya secara keseluruhan pemuda Suku Batak menyetujui pernyataan yang positif tentang dunia pertanian. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwasanya minat pemuda Suku Batak dalam bidang pertanian masih sedang meskipun mereka berpendapat yang positif tentang dunia pertanian itu semakin tinggi. Berdasarkan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwasnya tingkat minat pemuda antara Suku Batak dan Suku Jawa berbeda. Analisis faktorAefaktor mempengaruhi minat minat pemuda batak dan suku jawa dalam bidang pertanian Analisis faktorAefaktor mempengaruhi minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa dalam bidang di Kecamatan Binjai meliputi variabel prestise/gengsi, keluarga, status sosial, budaya, lingkungan sosial, teknologi. Analisis dilakukan dengan uji regresi linier berganda menggunakan program SPSS 18 dengan tingkat kepercayaan 95% ( = 0,. Hasil analisis faktor Ae faktor yang mempengaruhi tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Analisis pengaruh simultan . suku batak dan suku jawa Suku Batak Suku Jawa Variabel Standardized Coeficients Beta Sig Sig 0,005 0,366 0,089 0,004 Standardized Coeficients Beta 0,047 0,158 0,035 0,305 Prestise/Gengsi Pendidikan Pengalaman Lingkungan Keluarga -,402 -,125 0,253 -,430 -,3,016 -0,917 1,757 -3,115 0,351 1,228 0,211 1,948 0,728 0,229 0,834 0,060 Status Sosial Budaya Lingkungan Sosial Teknologi 0,089 -,071 0,080 0,006 0,591 -,461 0,603 0,41 0,559 0,648 0,551 0,968 0,419 0,225 -0,050 0,033 3,246 1,692 -0,373 0,322 0,003 0,101 0,712 0,750 R tabel Suku Batak : 0,527 F tabel sig. 5% : 3,77 t tabel 1,648 R tabel Suku Jawa : 0,758 F hitung Suku Batak = 4,313 t tabel. 2,021 F tabel sig. 1% : 7,14 F hitung Suku Jawa = 12,128 Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Berpengaruh atau tidaknya variabelvariabel penelitian dapat dilihat dari hasil uji pengaruh simultan. Hasil uji SPSS yang telah dilakukan bahwa nilai Fhitung . > Ftabel . dan nilai signifikansi 0,000 < 0,050 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini, berarti variabel X secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Hipotesis kedua yang prestise/gengsi, keluarga, status sosial, budaya, lingkungan sosial, teknologi berpengaruh signifikan terhadap minat pemuda Suku Batak dalam bidang pertanian diterima. Minat pemuda Suku Jawa dari hasil pengujian SPSS bahwa nilai Fhitung . > Ftabel . dan nilai signifikansi 0,000 < 0,050 maka H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini berarti variabel X secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel Y. Hipotesis kedua yang prestise/gengsi, keluarga, status sosial, budaya, lingkungan sosial, teknologi berpengaruh signifikan terhadap minat pemuda Suku Jawa dalam bidang pertanian diterima. Uji pengaruh parsial (Uji . suku batak Pengujian variabel X secara parsial menggunakan Uji t. Hasil Uji t yang persamaan regresi dengan koefisien konstanta dan koefisien variabel yang ada di kolom Unstandardized Coefficients B. Hasil ini menginformasikan bahwa secara parsial ada dua variabel yang berpengaruh secara nyata terhadap minat generasi muda terhadap usaha di bidang pertanian, adapun variabel yang berpengaruh antara lain yaitu variabel prestise (X. , variabel lingkungan (X. , (X. , lingkungan sosial (X. , status sosial (X. dan budaya (X. dan teknologi (X. tidak berpengaruh signifikan terhadap minat pemuda (Y) dalam bidang pertanian. Adapun pengaruh masingAemasing variabel independen terhadap minat pemuda dalam bidang pertanian di Kecamatan Binjai dapat dijelaskan sebagai Pengaruh prestise/gengsi minat pemuda suku batak dalam bidang Hasil uji SPSS yang telah dilakukan bahwasanya pemuda Suku Batak banyak yang tidak mau ikut berusaha dalam bidang Pemuda Suku Batak memandang berusaha dibidang pertanian adalah suatu pekerjaan yang hanya dilakukan oleh orangtua. Banyak diantara pemuda yang malu jika teman-teman bahwasanya ia bekerja dibidang pertanian. Hal ini diperkuat dengan pendapat Mutolib, et all, . mengatakan bahwa banyak pemuda yang enggan menjadi petani karena menilai sektor pertanian kurang menjanjikan dari faktor pendapatannya. Apalagi untuk mereka yang telah mencapai SMU, cenderung untuk memilih pekerjaan lain di luar sektor pertanian karena dirasa mampu bekerja pada suatu bidang pekerjaan Hal ini juga disebabkan oleh kesesuaian dengan tingkat pendidikan yang telah dicapainya. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwasanya semakin tinggi prestise/gengsi yang dimiliki pemuda Suku Batak semakin rendah minatnya untuk berusaha dibidang pertanian. Pengaruh variabel pendidikan terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang Hasil analisis SPSS yang telah dilakukan bahwasanya tingkat pendidikan yang dimiliki oleh pemuda Suku Batak tidak mempengaruhi terhadap minat atau keinginan mereka dalam bidang pertanian. Pendidikan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendidikan formal pemuda Suku Batak mulai dari SD sampai kuliah. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Meskipun ada beberapa pemuda yang ikut bebera kali penyuluhan dalam bidang pertanian, namun hal ini belum menarik minat mereka terhadap dunia pertanian. Pada umumnya pendidikan yang dimiliki oleh pemuda Suku Batak yang menjadi responden dalam peneilitian ini adalah SMA/sederajat, sehingga mereka lebih memilih untuk bekerja PT daripada Hal ini sesuai dengan pendapat Dharmawan dan Sunaryanto, . yang pendidikan formal yang di miliki responden, sikapnya terhadap pekerjaan dibidang Hal ini disebabkan, jika tingkat pendidikan seseorang semakin tinggi menyebabkan seseorang memiliki harapan tinggi terhadap status pekerjaan. Tampi et al. , . mengatakan bahwa paradigma orangtua harus menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi supaya tidak menjadi petani merupakan persepsi buruk yang berpengaruh pada minta pemuda jadi Pengaruh variabel pengalaman terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang Pengalaman adalah kejadian yang pernah dialami . ijalani, dirasai, ditanggung dan lain sebagainy. baik yang sudah lama atau baru saja terjadi. Pengalaman dalam berusaha tani dapat diperoleh pemuda Suku Batak dari berbagai sumber baik dari lingkungan tempat tinggal maupun dari masyarakat secara luas. Fakta dilapangan menjelaskan bahwasanya pengalaman tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat pemuda dalam bidang pertanian, karena bagi pemuda Suku Batak baik yang menganggap bahwasanya pertanian itu merupakan sumber pendapatan penduduk yang hidup di pedesaan karena umumnya orang tua mereka selama ini kehidupan dalam bidang pertanian. Pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang Berdasarkan hasil analisis statistik bahwa lingkungan keluarga berpengaruh secara nyata terhadap minat generasi muda dalam bidang pertanian. Hal ini dikarenakan lingkungan keluarga ikut campur dalam menentukan profesi yang harus diambil oleh namun ada juga sebagian keluarga yang tidak memperhatikan hal Hasil bahwasanya anak tidak dapat menetukan sendiri profesi yang mereka inginkan karena sebagian orangtua ada yang memaksakan kehendak dan keinginannya. Banyak diantara pemuda Suku Batak yang selama ini menuruti keinginan keluarga terkait Hal ini diperkuat oleh pendapat Wahyuningsih et al. bahwasanya lingkungan keluarga, terutama orang tua memiliki peran penting untuk masa depan anaknya sehingga secara langsung dapat mempengaruhi pekerjaan anaknya di masa depan. Sebagai contoh yaitu upaya menumbuhkan minat anaknya dalam bidang pertanian. Kondisi tersebut sesuai dengan hasil penelitian Bi, 2014 menyatakan bahwa di Cina tidak ada orang tua yang bekerja sebagai petani berharap anaknya bekerja Orang tua cenderung menginingkan anaknya untuk berprofesi di bidang lainnya. Pernyataan tersebut dapat pengaruh lingkungan keluarga terhadap kehidupan pemuda khususnya Suku Batak maka semakin rendah minat pemuda Suku Batak dalam bidang pertanian. Pengaruh status sosial terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang Hasil statistik pada penelitian ini menjelaskan bahwa pengaruh status sosial terhadap minat generasi muda dalam bidang pertanian berpengaruh signifikan. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa status sosial tidak berpengaruh nyata terhadap tingginya minat generasi muda terhadap usaha di bidang pertanian. Hal ini Kecamatan Binjai mempunyai tolak ukur tersendiri untuk memandang seseorang dan bukan hanya melalui pekerjaan saja. Kondisi kenyataan dilapangan ditemukan bahwa status sosial yang dimilki oleh pemuda sangat beragam. pemuda Suku Batak dalam bidang Pada umumnya masyarakat yang bermatapencaharian sebagai petani, namun hal itu tidak memberikan pengaruh terhadap minat pemuda Suku Batak dalam bidang Kondisi ini sesuai dengan pendapat Arimbawa dan Rustariyuni . , mengatakan bahwa lingkungan masyarakat tidak berpengaruh signifikan terhadap minat anak petani meneruskan usaha tani. Pengaruh budaya terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang pertanian Faktor terbaliknya variabel budaya dalam Suku Batak terhadap minat pemuda dalam berusaha tani adalah kebiasaan yang telah mendarah daging di dalam keluarga suku Sebagian besar anak muda ataupun anak-anak dalam satu keluarga apabila telah lulus pendidikan baik SD. SMP maupun SMA apabila tidak ingin melanjutkan pendidikan lagi maka mereka lebih memilih untuk pergi merantau. Begitu juga dengan fakta dilapangan bahwasanya pemuda Suku Batak dilokasi pengkajian memiliki kemauan dan keinginan yang sangat besar untuk pergi merantau keluar daerahnya. Pemuda tersebut mempercayai bahwa mereka akan mendapatkan upah yang lebih baik sehingga nantinya bisa membantu keluarga mereka. Oleh sebab itu, dapat disimpulkan semakin besarnya kemauan Pemuda Suku Batak dalam mengikuti budaya yang ada di lingkungan mereka maka akan semakin rendah minta di bidang pertanian. Pengaruh teknologi terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang Teknologi dalam bidang pertanian Perkembangan teknologi seyogyanya dapat mempengaruhi minat pemuda dalam bidang pertanian terhadap minat pemuda Suku Batak dalam biidang pertanian. Namun dalam hal ini teknologi tidak memberikan pengaruh terhadap minat pemuda Suku Batak dalam biidang Pada lokasi penelitian banyak pemuda Suku Batak yang tidak tertarik untuk berusaha dibidang pertanain meskipun pemakaian teknologi di lokasi tersebut sudah tinggi. Hal ini disebabkan karena banyaknya pemuda yang tidak mengenali teknologi dibidang pertanian itu secara mendalam, mereka selama ini masih beranggapan bahwasanya bekerja dibidang pertanian masih menggunakan alat-alat yang sederhana dan pekerjaan pekerjaan yang berat. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwasnya tidak adanya pengaruh yang nyata dari pemakaian teknologi dibidang pertanian di lokasi pengkajian terhadap minat pemuda Suku Batak. Suku Jawa Pengujian variabel X secara parsial . endiriAesendir. digunakan Uji t. Hasil Uji t yang diperoleh menginformasikan model persamaan regresi dengan koefisien konstanta dan koefisien variabel yang ada di kolom Unstandardized Coefficients B. Pengaruh lingkungan sosial terhadap minat pemuda suku batak dalam bidang Hasil analisis statistik menjelaskan bahwa pengaruh variabel lingkungan sosial terhadap minat pemuda Suku Batak dalam Hal ini dikarenakan bahwa masyarakat di Kecamatan Binjai memilki pekerjaan yang sangat homogen sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap minat Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Hasil Uji t yang diperoleh menginformasikan bahwa secara parsial ada satu variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap minat generasi muda terhadap usaha di bidang pertanian, yaitu variabel status sosial (X. Sedangkan variabel pendidikan X. , pengalaman (X. , lingkungan sosial (X. Prestise (X. , variabel lingkungan keluarga (X. , dan budaya (X. dan teknologi (X. tidak berpengaruh signifikan terhadap minat pemuda (Y) dalam bidang pertanian di Kecamatan Binjai. Pengaruh masingAe masing variabel independen terhadap minat pemuda di bidang pertanian sebagai berikut: Pengaruh prestise/gengsi terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Berdasarkan hasil analisis dilapangan bahwasanya prestise/rasa gengsi yang dimiliki oleh pemuda Suku jawa tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap minat pemuda dalam bidang Fakta dilapangan menujukkan bahwasanya pemuda Suku Jawa tidak memiliki rasa enggan dalam bertani. Pada umumnya pemuda Suku Jawa bersedia melanjutkan usaha keluarga mereka meskipun itu harus menjadi petani. Kedudukan yang tinggi yang dimiliki oleh keluarga mereka tidak menjadi halangan bagi mereka untuk bekerja dibidang Namun sebaliknya semakin tinggi tinggi kedudukan yang mereka miliki akan semakin mempermudah mereka dalam mengakses segala kebutuhan diinginkan. Pengaruh Variabel Pendidikan Terhadap Minat Pemuda Suku Jawa dalam Bidang Pertanian Pekerjaan dibidang pertanian saat ini bukan hanya diminati oleh kalangan orangtua saja. Sudah banyak diantara pemuda yang ikut andil dalam dunia Banyak berpendidikan SMA sederajat bahkan beberapa sudah sarjana. Namun itu tidak menjadi suatu beban bagi mereka untuk menjadi seorang petani meskipun memiliki latar pendidikan yang tinggi Fakta dilapangan juga menujukkan pemuda Suku Jawa meskipun sudah banyak yang berpendidikan tinggi namun kemauan mereka berusaha dalam bidang pertanian cukup tinggi. Tidak hanya pemuda yang berlatar belakang pendidikan tinggi, yang tidak bersekolah juga memiliki kemauan yang sama terhadap bidang pertanian. Hanya saja perbedaanya terletak pada pola pikir mereka, semakin tinggi pendidikan formal generasi muda tersebut maka mereka lebih cepat menerima dan menerapkan informasi serta teknologi mereka dan semakin rendah pendidikan pemuda tersebut maka semakin lama mereka menerima inovasi tersebut. Oleh karena itu, minat pemuda Suku Jawa tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang mereka miliki baik pendidikan formal maupun nonformal. Pengaruh variabel pengalaman terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Kondisi dilapangan menunjukkan bahwa pemuda Suku Jawa pada umumnya masih duduk di bangku pendidikan, oleh karena itu pengalaman yang mereka rasakan tentang dunia pertanian belum Karena kebanyakan dari mereka kalau terjun ke dunia pertanian masih ikutikut dengan orangtua dan belum memiliki usaha sendiri. Oleh karena itu pengalaman yang dimiliki oleh pemuda Suku Jawa dalam pengaruh yang signifikan terhadap minat pemuda Suku Jawa dalam idang Pertanian. Pengalaman yang tinggi dalam bidang seseorang itu tertarik untuk ikut serta dalam sedikit tidak menjadi ukuran sesorang itu malas untuk berusaha tani. Sebagian orang jika ia tidak mengetahui sesuatu hal maka itu akan mambuat dia semakin tertarik untuk mencari tahunya. Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Pengaruh lingkungan keluarga terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Lingkungan keluarga memberikan pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan anak sampai dewasa. Dalam penelitian ini, lingkungan keluarga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang pertanian. Fakta dilapangan menunjukkan bahwasanya setiap keluarga khususnya Suku Jawa selalu bagaimana hidup di dunia pertanian. Hal ini responden yang menyatakan bahwasnya sejak dia duduk di bangku SD dia sudah mulai diajak oleh orang tuanya ke ladang. Begitu juga dengan keluarga yang tidak berusaha tani dalam kesehariannya, mereka tetap mengenalkan dunia pertanian kepada anak mereka. Hal ini bertujuan jika kelak anak mereka besar dan bertempat tinggal dipedesaan maka mereka sudah terbiasa dengan pekerjaan tersebut. Dilokasi pengkajian juga pada umumnya setiap orangtua memberikan pilihan hidup kepada anak mereka sendiri artinya setiap anak berhak menetukan jalan hidup mereka masing-masing selama itu masih dalam konteks yang positif. Sehingga dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwasanya faktor lingkungan keluarga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap minat pemuda Suku Jawa. Pengaruh status sosial terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Status Sosial yang dimilki Pemuda Suku Jawa juga dapat dilihat dari tingkat Pemuda Suku Jawa memilih bekerja dibidang pertanian meskipun mereka berasal dari keluarga yang mampu. Pendidikan yang dimiliki oleh sebagian pemuda Suku Jawa tidak membuat mereka merasa malu menjadi seorang petani. Hasil menggambarkan bahwa pengaruh status sosial memberi kontribusi nyata terhadap tingginya minat pemuda Suku Jawa dalam berusaha tani. Hal ini disebabkan karena memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang cukup yaitu dengan bertani mereka merasa lebih dihargai atau disegani oleh Masyarakat. Hal ini sesuai dengan pendapat Raharjo . , yang telah menyatakan bahwa status sosial yang lebih tinggi akan berpengaruh pula pada sikap dan rasa penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Oleh karena itu, setiap orang akan berusaha untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. Hal ini juga didukung oleh Ahira . bahwa status sosial terjadi karena adanya sesuatu yang dihargai banyak orang cenderung melakukan kegiatan usaha dengan dasar agar posisi mereka dimata masyarakat akan lebih tinggi dibandingkan dengan hanya sekedar menjadi buruh. Pengaruh budaya terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Budaya yang dimaksud dalam pengkajian ini adalah kebiasaan merantau seperti yang dilakukan pemuda pada Banyak diantara pemuda Suku Jawa tidak memiliki niat untuk pergi merantau, setelah mereka tamat kuliah dan lebih memilih untuk mencari pekerjaan didaerah tempat tinggal mereka. Oleh karena itu budaya merantau di kalangan pemuda Suku Jawa tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap minat pemuda Suku Jawa. Menurut Nufalah, 2021 Proses waris di Suku Jawa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi beberapa pemuda masuk ke sektor pertanian sebagai petani, yang menjadi menarik ialah sebagian pemuda memahami warisan bukan hanya sebagai harta yang bernilai nominal, namun juga memaknai warisan sebagai sebuah kenang-kenangan dan simbol perjuangan dari orang tua kepada Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Pengaruh lingkungan sosial terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Kondisi ditemukan bahwa kedudukan seseorang atau status sosial seseorang bukan hanya sekedar dipandang dari harta atau keturunan bangsawan saja, akan tetapi masyarakat terkhusus di Kecamatan Binjai memandang kedudukan seseorang dari usaha dan pekerjaan yang dimulai tanpa berharap dari bantuan orang lain, seseorang yang mandiri memulai pekerjaannya dari bawah hingga dia mencapai titik kesuksesan dan ilmunya bermanfaat bagi masyarakat dan khalayak ramai itulah status sosial yang sebenarnya. Status sosial yang lebih tinggi akan berpengaruh pula pada sikap dan rasa penghargaan yang tinggi dari masyarakat. Oleh karena itu, setiap orang yang menyatakan bahwa kondisi lingkungan yang secara alamiah dan turun temurun menjadikan perbedaan kasta yang dilihat dari sisi finansial dan kepemilikan lahan atau jenis usaha yang dijalankan. Begitu juga kaitannya dengan bidang minat pemuda Suku Jawa dilokasi pengkajian semakin tinggi pengaruh lingkungan sosial maka akan semakin rendah minat pemuda Suku Jawa dalam bidang pertanian, lingkungan sosial sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter pemuda itu sendiri. Hal ini sesuai dengan pendapat Dewi,et,all . bahwa berkontribusi besar pada pembentukan karakter dan persepsinya terhadap profesi di sektor pertanian. Pengaruh teknologi terhadap minat pemuda suku jawa dalam bidang Hasil analisis yang diperoleh menjelaskan teknologi dibidang pertanian tidak mempunyai pengaruh terhadap minat pemuda dalam bidang pertanian. Hal ini disebabkan karena banyak diantara pemuda yang tidak mengenali alsintan dengan benar. Anggapan mereka tentang sulitnya usaha dibidang pertanian salah satunya karena menjadi seorang petani merupakan pekerjaan yang berat yang harus membutuhkan tenaga yang kuat, modal yang banyak serta waktu yang lama. Penggunaan teknologi dibidang pertanian seperti alsintan merupakan hal yang sudah biasa dikalangan petani pada umunya. Namun karena pemuda jarang terlibat dalam bidang pertanian menyebabkan mereka belum mengetahui hal tersebut. Uji t Tes (Perbedaa. Tabel 3. Uji perbedaan antara minat pemuda suku batak dan suku jawa dalam bidang pertanian Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances Minat Pemuda Equal variances assumed Equal variances not assumed Sig. 0,000 t-test for Equality of Means Sig. -taile. 0,000 0,000 Sig. -tile. = 0,05% Sumber :analisis data primer 2018 Tabel 3 menunjukkan bahwasanya ada perbedaan minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa dalam bidang pertanian dengan menggunakan SPSS. Hal ini dapat dibuktikan dengan cara melihat nilai Sig . kedua Suku. Dari tabel tersebut dihasilkan nilai Sig . -taile. Suku Batak < 0,05 begitu juga dengan pemuda Suku Jawa nilai Sig . -tile. < 0,05. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwasanya perbedaan antara minat pemuda Suku Batak dan Pemuda Suku Suku Jawa dapat dilihat dari masing-masing faktor yang mempengaruhi keduanya. Pemuda Suku Available online at https://jurnal. polbangtan-bogor. id/index. php/jpp ISSN 1907-5839 E-ISSN 2599-0403 Jurnal Penyuluhan Pertanian Vol. 18 No. 2, 30 November 2023 Batak masih tetap ingin menjadi seorang Hal ini juga berkaitan dalam bidang pertanian dipengaruhi oleh dua faktor yaitu prestise/gengsi dan lingkungan keluarga. Tingginya prestise yang dimiliki pemuda Suku Batak memberikan pengaruh yang negatif terhadap minat mereka dalam bidang pertanian. Hasil wawancara yang diperoleh dari responden menyatakan bahwasanya mereka lebih memilih untuk bekerja pada sektor non pertanian apabila mereka memiliki pendidikan yang sudah Jika pendidikan mereka sudah tinggi mereka akan merasa malu terhadap keluarga dengan tingginya pengaruh lingkungan keluarga pada keluarga Suku Batak. Hal ini merupakan factor yang menyebabkan rendahnya minat pemuda Suku Batak dalam bidang pertanian. Faktor-faktor yang mempengaruhi minat pemuda Suku Jawa dalam bidang pertanian adalah status sosial yang menyatakan bahwasanya semakin tinggi status sosial pemuda Suku Jawa semakin membuat mereka tertarik pada bidang Hal ini dibuktikan dengan banyaknya pemuda yang sudah mendapat gelar sarjana namun tidak malu menjadi seorang petani meskipun itu bukanlah pekerjaan utamanya namun dengan bertani di mengatakan bahwasanya pendapatan yang dia peroleh lebih banyak dibandingkan dengan bekerja di sektor non pertanian. Fakta dilapangan menunjukkan bahwasanya di Kecamatan Binjai. Kabupaten Langkat, pemuda Suku Jawa lebih banyak yang bekerja dibidang pertanian. Hal ini mendukung mereka untuk berusaha tani antara lain, luas lahan yang dimiliki oleh Suku Jawa lebih luas dibandingkan dengan masyarakat Suku Batak. Jumlah penduduk didaerah pengkajian ini juga lebih didominasi oleh kemauan untuk merantau pada pemuda Suku Batak menjadi salah satu penyebab rendahnya minat mereka dalam bidang Hal ini diperkuat oleh pendapat Silalahi et al. , . bahwasanya Merantau dalam masyarakat Suku Batak Toba merupakan suatu keharusan, khususnya kaum pemuda yang akan membangun keluarga diharapkan dapat membangun kerajaan pribadi . ahala harajao. dan harga diri . ahala hasangapo. yang lebih baik dari daerah asal. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang mengkaji minat pemuda Suku Batak dan Suku Jawa dalam bidang pertanian di Kecamatan Binjai Kabupaten Langkat Provinsi Sumatera Utara dapat disimpulkan bahwa prestise dan lingkungan faktor-faktor mempengaruhi minat pemuda Suku Batak dalam bidang pertanian. Sedangkan faktorfaktor yang mempengaruhi minat pemuda Suku Jawa adalah status sosial. Tingkat minat pemuda Suku Batak dalam bidang pertanian masuk dalam kategori sedang . ,8%) sedangkan minat pemuda Suku Jawa dalam bidang pertanian tergolong tinggi . ,6%). Adanya perbedaan yang signifikan antara minat pemuda Suku Batak dan pemuda Suku Jawa dalam bidang pertanian yaitu dapat dibuktikan dengan taraf sig. yang diperoleh dari ke dua suku yaitu < 0,05. DAFTAR PUSTAKA