PROFIL ANEMIA DAN PENANDA INFLAMASI SEBAGAI DETEKSI DINI PENYAKIT PENYERTA PADA ANAK-ANAK STUNTING DI BAWAH UMUR DUA TAHUN DI KABUPATEN SUKABUMI ANEMIA PROFILE AND INFLAMMATORY MARKERS AS EARLY DETECTION OF COMORBIDITIES IN STUNTED CHILDREN UNDER TWO YEARS OLD (BADUTA) IN SUKABUMI REGENCY Ryan B. Ristandi. Luhung Budiailmiawan, dan Leni Lismayanti UPTD Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Jl. Sederhana no 1-5. Bandung, 40161 ryan_b_ristandi@yahoo. askah masuk 3 Februari 2025, naskah direvisi 18 Mei 2025, naskah diterima 2 Juni 2. ABSTRACT Stunting is one of the chronic malnutrition problems among children under two years of age (Badut. The Indonesian government has made various efforts to provide additional food and additional medicine but has not provided optimal results. This study aims to describe the profile of anemia and inflammatory markers in children under two years of age who experience stunting. This study is a descriptive cross-sectional study that obtained 85 stunted toddlers with various possible underlying diseases using cluster sampling and consecutive sample data collection techniques. The study was conducted at the Palabuhanratu Regional General Hospital (RSUD) Laboratory. Sukabumi Regency, with blood samples obtained from stunted children in the Palabuhanratu and Cisaat areas. Data collection by interview, anthropometric measurements, hematology and inflammatory marker examinations, iron level examinations, and ferritin levels. Research results: suspected thalassemia . %), iron deficiency anemia . %), chronic disease anemia . %), suspected TB . %), suspected intestinal inflammation . %), suspected allergic proctocolitis . %), suspected helminthiasis . %), and other bacterial infections . %). There are various causes of anemia and the quality of comorbid diseases in stunted children. Examination of anemia profiles and inflammatory markers is recommended in primary health facilities to determine the type of anemia and comorbid diseases in stunted toddlers. Hematology analysis and chemistry analysis tools need to be provided in primary health facilities. Keywords: Stunting. Anemia profile. Inflammatory markers ABSTRAK Stunting adalah salah satu masalah kekurangan gizi kronik di kalangan anak-anak umur di bawah dua tahun (Badut. Pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai upaya pemberian makanan tambahan dan obat tambahan, tetapi belum memberikan hasil yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan profil anemia dan penanda inflamasi pada anak di bawah dua tahun yang mengalami stunting. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional, didapatkan 85 anak baduta stunting dengan berbagai kemungkinan penyakit yang mendasarinya dengan teknik pengambilan data cluster sample dan consecutive Penelitian dilakukan di Laboratorium Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi dengan sampel darah yang diperoleh dari anak-anak stunting di wilayah Palabuhanratu dan Cisaat. Pengumpulan data dengan cara wawancara, pengukuran antropometri, pemeriksaan hematologi dan penanda inflamasi, pemeriksaan kadar zat besi, serta kadar ferritin. Hasil penelitian: dugaan Thalassemia . %), anemia defisiensi zat besi . %), anemia penyakit kronis . %), dugaan TB . %), dugaan Inflammatory Bowel Diseases . %), dugaan proctocolitis allergy . %), dugaan Helminthiasis . %), dan infeksi bakteri lainnya . %). Terdapat berbagai macam penyebab anemia dan kecurigaan penyakit penyerta pada anak stunting. Pemeriksaan profil anemia dan penanda inflamasi dianjurkan di fasilitas kesehatan primer untuk menentukan jenis anemia dan penyakit komorbid pada baduta stunting. Alat hematology analyzer dan kimia analyzer perlu disediakan di fasilitas kesehatan primer. Kata Kunci: Stunting. Profil anemia. Penanda PENDAHULUAN seluruh dunia. Data World Health Organization (WHO) pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 5,7% balita di dunia mengalami kelebihan berat badan, 6,7% kekurangan berat badan Malnutrisi masih menjadi masalah signifikan bagi bayi dan anak di bawah lima tahun di 12 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 dan malnutrisi berat, serta 22,2% atau 149,2 juta anak mengalami stunting . alnutrisi Prevalensi stunting secara global tergolong tinggi, yaitu antara 20% - <30%. Berdasarkan Global Hunger Index (GHI) 2023. Indonesia berada di peringkat 77 dari 125 negara dengan skor kelaparan 17,6 . Indikator yang termasuk dalam GHI adalah prevalensi wasting dan stunting pada anakanak di bawah lima tahun. Stunting dan anemia merupakan masalah prevalensinya tinggi di negara berkembang. Stunting adalah kondisi anak dengan tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak seusianya, yang ditandai dengan tinggi badan menurut skor z tinggi badan-usia (HAZ) yang lebih dari dua deviasi standar di bawah Median Standar Pertumbuhan Anak menurut WHO. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, terjadi penurunan kasus stunting di Indonesia dari 24,4% pada 2021 menjadi 21,6% pada 2022. Prevalensi balita stunting di provinsi pada 2022 tercatat di Nusa Tenggara Barat sebesar 32,7%. Maluku Utara 26,1%, dan Jawa Barat 20,2%. Kabupaten Sukabumi menduduki peringkat kedua dengan jumlah balita stunting tertinggi di Jawa Barat setelah Kabupaten Sumedang, yaitu 27,5%. Stunting dimulai sejak dalam kandungan dan berlanjut setidaknya hingga dua tahun pertama kehidupan. Skor panjang badan-usia Z rata-rata di kalangan bayi di negara berkembang sekitar -0,5 dan terus menurun setelah kelahiran hingga mencapai 2,0 pada usia 18-24 bulan. Oleh karena itu, periode dari konsepsi hingga ulang tahun kedua seorang anak . eribu hari pertama kehidupa. dianggap sebagai jendela peluang yang paling kritis untuk intervensi. Spurt pertumbuhan remaja dan beberapa pemulihan pertumbuhan linear dapat terjadi antara usia dua tahun dan usia anak-anak tengah. Namun, efek selama periode ini terhadap komponen lain dari sindrom stunting, seperti kognisi dan fungsi kekebalan tubuh, masih belum jelas. Hal ini menekankan pentingnya intervensi pada anak-anak stunting selama periode antara konsepsi dan usia dua tahun. Anak-anak di bawah usia dua tahun sangat rentan terhadap anemia dan stunting. Jika kedua penyakit ini terjadi bersamaan, maka akan menjadi beban ganda bagi individu dan Anak-anak ini cenderung tumbuh menjadi dewasa dengan status gizi buruk, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi Indonesia sekitar 8%, yang produktivitas, rendahnya pendidikan, dan pengetahuan yang tidak memadai. Stunting merupakan salah satu target dari tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG. untuk menurunkan angka stunting hingga 40% pada Pemeriksaan laboratorium hematologi, serum zat besi, dan ferritin sangat penting untuk skrining dan membedakan anemia pada anakanak stunting. Tes Indeks Mentzer (MI) (MCV/RBC < . dan Indeks Shine dan Lal ([MCV y MCV y MCH/. < 1. dapat digunakan untuk deteksi dini pembawa thalassemia. Indeks Shine & Lal (SLI) berguna untuk skrining dini pembawa -thalassemia. Indeks ini mengonfirmasi mutasi pada CD-26 . 79G > A) dan IVS1nt5 . 92 5 G > C), yang merupakan mutasi umum di Bandung. Indonesia. Indeks Mentzer menunjukkan sensitivitas 98,7% dan spesifisitas 82,3% untuk skrining dini thalassemia (Maskoen et al. Pratiwi et al, 2. Rasio Neutrofil/Limfosit (NLR) dan Rasio Trombosit/Limfosit (PLR) dianggap sebagai penanda inflamasi. Inflamasi merupakan faktor kritis yang sebelumnya telah dikaitkan dengan kaskade malnutrisiAeinflamasiAeaterosklerosis Peningkatan trombosit, neutrofil, dan penurunan jumlah limfosit merupakan beberapa kelainan hematologi pada anak-anak yang didiagnosis dengan malnutrisi akut berat. Status BMI juga mempengaruhi jumlah sel darah, khususnya jumlah limfosit, neutrofil, dan trombosit. Selain itu, (Domnicu et al, 2. melaporkan bahwa NLR >1,43 menunjukkan infeksi bakteri pada anak-anak di bawah lima tahun yang mengalami malnutrisi, dengan sensitivitas 85% dan spesifisitas 69%. PLR dipercaya lebih baik dalam memprediksi hasil klinis individu dengan inflamasi sistemik dibandingkan dengan hitungan sel darah lainnya seperti trombosit atau limfosit. Derajat pelepasan trombosit sekunder ke dalam aliran darah dan limfopenia transien dapat menyebabkan peningkatan level PLR dalam sejumlah besar penyakit proinflamasi dan Kaskade patogenetik nonspesifik, termasuk peningkatan PLR, dapat diatasi dengan destruksi trombosit yang intensif atau konsumsi pada situs inflamasi dan trombosis, sehingga diperlukan pemeriksaan semua hitungan sel darah dan berbagai penanda inflamasi serta serologis. RISTANDI. Profil Anemia dan Penanda Inflamasi A I 13 Volume Trombosit Rata-rata (MPV) meningkat pada berbagai penyakit kronis, seperti Permukaan trombosit mengekspresikan reseptor IgE. karena itu, beberapa penyakit alergi MPV. Trombosit diaktifkan oleh alergen, sehingga melepaskan mediator seperti Platelet Factor 4, -thromboglobulin. RANTES, dan tromboksan. Penelitian yang dilakukan oleh Aratisma Makalesi menunjukkan peningkatan MPV yang signifikan pada anak-anak dengan proktokolitis alergi dengan nilai rata-rata 9,07 A 0,78 . < 0,. Interaksi inang-patogen pada TB sangat kompleks, memunculkan berbagai mekanisme imun bawaan dan adaptif. Penelitian awal pada tahun 1920-an pada kelinci dan anak-anak menunjukkan adanya hubungan antara penyakit TB dengan peningkatan jumlah monosit dan penurunan jumlah limfosit, yang mengarah pada peningkatan rasio monosit-kelimfosit (MLR). (Kissling et al, 2. melaporkan bahwa nilai MLR >0,44 pada anak-anak cenderung mengalami tuberkulosis (TB) dengan sensitivitas 92% dan spesifisitas Penelitian lain yang dilakukan oleh (Cursi et al, 2. menyatakan bahwa nilai Neutrofil/Limfosit Rasio Monosit (NMLR) > anak-anak kecenderungan infeksi TB dengan sensitivitas 63% dan spesifisitas 76% (AUC: 0,. Sementara itu. MLR > 0,2 pada anak-anak menunjukkan kecenderungan infeksi TB dengan sensitivitas 56% dan spesifisitas 82% (AUC: 0,. Pemerintah Indonesia. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, termasuk Pemerintah Kabupaten Sukabumi, tengah menangani masalah stunting melalui berbagai program . emberian makanan, susu, dan obat-obata. , namun belum memberikan hasil yang optimal karena pemberian makanan tambahan, susu, dan obat-obatan tersebut diberikan secara umum dan tidak mempertimbangkan penyakit penyerta yang sedang diderita seperti jenis anemia, talasemia, alergi susu. TBC, dan penyakit lainnya yang sangat berhubungan dengan intervensi yang bisa lebih sesuai dengan kondisi masing-masing individu penderita stunting. Bahkan dapat berakibat jauh lebih buruk apabila tidak sesuai dengan kondisi tersebut, misal penderita talasemia diberikan tablet Fe dalam kondisi berlebihan akan menyebabkan penumpukan tablet Fe memperburuk kondisi pasien tersebut. Begitupun dengan penderita alergi susu sapi bila diberikan suplemen tambahan seperti susu tidak bermanfaat. Misalnya, program pemberian makanan tambahan telah diberikan untuk meningkatkan gizi anak-anak di bawah dua tahun dengan stunting. Namun, kenaikan berat badan yang terjadi tidak signifikan, yang mungkin terkait dengan anemia dan penyakit Ikatan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PDS PatKLi. merasa perlu melakukan pemeriksaan laboratorium pada anak stunting untuk mendeteksi penyakitpenyakit tersebut. Untuk mendeteksi penyakitpenyakit ini, pemeriksaan hematologi dan mendeteksi penyakit yang mendasari atau yang menyertai pada balita stunting. Penanda inflamasi ini harus dapat diakses di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan menjadi dasar untuk penanganan anak-anak di bawah dua tahun dengan stunting. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memeriksa profil anemia dan penanda inflamasi pada anakanak stunting di bawah usia dua tahun. METODE Penelitian ini merupakan studi deskriptif crosectional menggunakan metode cluster dan konsekutif. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium RSUD Palabuhanratu. Kabupaten Sukabumi. Sampel diambil dari Puskesmas Palabuhanratu dan Cisaat pada periode Desember 2023 hingga Maret 2024. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan alat kuesioner yang mencakup informasi mengenai karakteristik anak, orang tua, pendapatan keluarga, status imunisasi, serta riwayat penyakit orang tua dan anak. Selain itu, data juga dikumpulkan melalui pengukuran stunting, status gizi ibu, kadar hemoglobin, kadar serum besi, kadar ferritin. NLR. PLR, dan MPV. Peserta Studi Peserta yang terlibat adalah anak-anak yang dipastikan mengalami stunting, dengan usia antara satu bulan hingga dua tahun. Besar sampel ditentukan menggunakan rumus deskriptif kategorikal. Sebanyak 85 anak stunting di bawah dua tahun berpartisipasi dalam studi ini. Protokol penelitian telah disetujui oleh Komite Etik Penelitian Rumah Sakit R. Syamsudin. , dengan nomor referensi 17/KEP-RS/RSUD/XII/2023. 14 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 43 Anak Stunting dari Puskesmas Palabuhanratu 42 Anak Stunting dari Puskesmas Cisaat Center 85 Sampel Anak stunting di RSUD Palabuhanratu Anemia Profi & Penanda Peradangan Anemia & Penyakit Komorbid yang Diduga Analisis Data Gambar 1. Alur Penelitian Instrumen Studi Ibu/pengasuh persetujuan tertulis yang diinformasikan sebelum berpartisipasi dalam studi ini. Wawancara dilakukan oleh petugas kesehatan yang telah dilatih menggunakan instrumen kuesioner penelitian sebelumnya, dengan menggunakan bahasa yang dipahami oleh penelitian menggunakan pertanyaan tertutup untuk meminimalkan bias. Data terkait status sosial ekonomi dan masa kanak-kanak dikumpulkan menggunakan kuesioner standar pada awal wawancara tatap muka. Elemenelemen utama yang dikumpulkan mencakup . informasi anak, yaitu jenis kelamin, usia, usia kehamilan, riwayat menyusui, usia saat pemberian makanan pendamping ASI, status imunisasi, dan riwayat penyakit anak. informasi keluarga, seperti karakteristik sosial ekonomi orang tua dan keluarga, termasuk tingkat pendidikan ibu, usia pernikahan ibu, pekerjaan ibu, status anemia ibu, pekerjaan ayah, pendapatan keluarga, dan riwayat penyakit keluarga. Pengukuran Antropometrik Pengukuran antropometrik untuk anak-anak yang stunting meliputi pengukuran berat badan dan tinggi badan anak dan orang tua. Petugas kesehatan terlatih mengukur kesehatan fisik dengan mengukur berat badan hingga angka desimal terdekat . ,1 k. menggunakan Endo Anthropometric Kit 10. Tinggi badan anak yang stunting diukur hingga milimeter terdekat menggunakan papan tinggi plastik Seca . Status gizi anak yang stunting berdasarkan tinggi badan menurut usia (HAZ) dinilai menggunakan standar pertumbuhan anak WHO . enilaian grafis panjang/tinggi badan menurut usia di buku Kartu Kesehata. dan dikategorikan sebagai stunting (HAZ < -2 deviasi standar (SD)) atau regular (HAZ Ou -2 SD). Tinggi badan orang tua diklasifikasikan sebagai pendek dan regular, termasuk ayah . endek [<160 c. dan standar [Ou 160 c. ) dan ibu . endek [<150 c. dan standar [Ou 150 c. Untuk menentukan status gizi orang tua berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT), yang dihitung berdasarkan berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter persegi, dan diklasifikasikan menurut WHO Asia-Pasifik, kekurangan berat badan [<18,5 kg/m. , normal . ,5-22,9 kg/m. , dan kelebihan berat badan/obesitas [Ou 23 kg/m. Pengukuran Biokimia dan Hematologi Penilaian biokimia . erum besi dan ferriti. digunakan untuk mengevaluasi pemeriksaan hematologi lengkap . umlah sel darah rutin dan diferensia. guna mendiagnosis anemia. Sampel darah vena sebanyak 3 cc diambil, termasuk 1 cc dimasukkan ke dalam tabung EDTA dan 2 cc dimasukkan ke dalam tabung kimia dengan pemisah gel. Sampel diberi nomor registrasi berdasarkan nama dan nomor registrasi pada formulir laporan kasus, lalu disimpan dalam kotak pendingin dan dikirim ke laboratorium di Rumah Sakit Palabuhanratu. Pemeriksaan menggunakan analisator hematologi Mindray BC5380. Pemeriksaan serum besi dilakukan pada analisator kimia Mindray BC-240, dan pemeriksaan ferritin dilakukan menggunakan instrumen Mindray Enzyme Chemiluminescent Immunoassay (ECLIA) CL-900i. Pemeriksaan jumlah sel darah diferensial dari BC 5380 mengukur penanda inflamasi. Pemeriksaan Rasio Neutrofil-Limfosit (NLR) dilakukan secara manual dengan membagi jumlah neutrofil (/mmA) dengan jumlah absolut limfosit (/mmA). NLR 1,43 kemungkinan infeksi bakteri. Pemeriksaan Rasio Platelet-Limfosit (PLR) dilakukan secara manual dengan membagi jumlah platelet (/mmA) dengan jumlah absolut limfosit (/mmA). PLR > 103 menunjukkan kemungkinan penyakit radang usus (IBD). Tes MLR dilakukan secara manual dengan membagi RISTANDI. Profil Anemia dan Penanda Inflamasi A I 15 jumlah monosit (/mmA) dengan jumlah absolut limfosit (/mmA). MLR lebih besar dari 0,44 pada anak-anak infeksi Mycobacterium tuberculosis. Tes NMLR dilakukan secara manual dengan membagi jumlah neutrofil (/mmA) dengan jumlah absolut limfosit (/mmA) ditambah jumlah monosit (/mmA). NMLR lebih besar dari 1,2 pada anakanak menunjukkan kecenderungan terhadap penyakit TB. MPV diperoleh dari pengukuran menggunakan analisator hematologi. Nilai > 9,07 anak-anak kemungkinan adanya alergi protein makanan yang menyebabkan proktokolitis alergi. meliputi penggunaan volume korpuskuler ratarata (MCV < 74 fL) dan hemoglobin korpuskuler rata-rata (MCH < 27 p. sebagai patokan, yang menunjukkan anemia mikrositik. Ferritin menunjukkan penyimpanan besi dalam jaringan, dan pasien dengan defisiensi besi cenderung memiliki kadar serum besi rendah (< 22 AAg/d. disertai kadar ferritin rendah (<6 ng/m. Di sisi lain, pasien dengan penyakit kronis atau infeksi biasanya menunjukkan kadar besi rendah atau normal . -136 AAg/d. dan kadar ferritin tinggi (>24 ng/m. Pasien thalassemia umumnya memiliki kadar besi rata-rata hingga tinggi dengan kadar ferritin yang tinggi. Tabel 1 menunjukkan tes laboratorium dalam diagnosis diferensial Diagnosis Diferential Anemia Mikrositosis Penanda laboratorium untuk membedakan anemia mikrositik dari anemia normositik Tabel 1. Pemeriksaan Laboratorium dalam Diagnosis Diferensial Mikrositosis Diagnosis yang Disarankan Tes Tingkat ferritin serum Anemia Menurun Talasemia Meningkat Lebar distribusi sel darah merah (RDW) Meningkat Normal ke meningkat Tingkat zat besi Total kapasitas pengikatan zat besi Saturasi transferin Normal ke meningkat Meningkat Normal Normal ke meningkat Anemia pada Normal ke Normal Normal ke Sedikit Normal hingga Anemia Normal ke meningkat Meningkat Normal ke meningkat Normal Normal ke meningkat Adapted with permission from Vranken MF, 2010 Indeks Mentzer (MI) (MCV/RBC < . dan indeks Shine dan LaI ([MCV y MCV y MCH/. < 1. digunakan dalam skrining mendeteksi pembawa sifat -thalassemia. Namun, sifat -thalassemia kemungkinan lebih prevalen di Indonesia. Studi ini mungkin mengabaikan pembawa sifat -thalassemia tertentu. Selain itu, individu juga bisa menunjukkan anemia defisiensi besi bersamaan dengan thalassemia. Gambar 2 menunjukkan algoritma yang diusulkan untuk menentukan penyebab dasar mikrositosis pada anak-anak yang stunting. 16 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 Gambar 2. Algoritma yang disarankan untuk Mendiagnosis Penyebab Mikrositosis pada Anak Stunting (<24 Bula. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebanyak delapan puluh lima anak stunting di bawah usia dua tahun berpartisipasi dalam studi ini dari Desember 2023 hingga Maret Berdasarkan hasil, usia median anakanak tersebut adalah 18 bulan, dengan rentang usia antara 1 hingga 24 bulan. Data terkait status sosial ekonomi dan masa kanakkanak dikumpulkan menggunakan kuesioner standar pada tahap awal selama wawancara tatap muka. Sampel darah diambil untuk uji hematologi dan biokimia. Karakteristik klinis, maternal, dan sosial ekonomi anak-anak yang stunting ditunjukkan dalam Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik Klinis. Maternal, dan Sosioekonomi Anak-anak yang Mengalami Stunting Variabel Usia Anak Stunting (Bula. Median (IQR) Min Ae Max Jenis Kelamin, n (%) Laki-laki Perempuan Tinggi Badan Ayah, n (%) Pendek Normal Tinggi Badan Ibu, n (%) Pendek Normal Indeks Massa Tubuh Ibu, n (%) Kurus Normal kelebihan berat badan Pendidikan Ibu, n (%) n=85 18 . RISTANDI. Profil Anemia dan Penanda Inflamasi A I 17 Variabel Sekolah Dasar Sekolah Menengah Pertama Sekolah Menengah Atas Perguruan Tinggi Usia ibu saat menikah, n (%) <17 Tahun 17-20 Tahun 21-30 Tahun Usia Kehamilan Saat Melahirkan, n (%) Prematuree Jangka waktu penuh Pasca-jangka waktu Anemia pada Ibu Hamil, n (%) Anemia Tidak Anemia Pekerjaan Ayah, n (%) Buruh Nelayan Petani Pendapatan keluarga tiap bulan, n (%) <1 Juta 1-5 Juta 5-10 Juta Riwayat penyakit dalam keluarga, n (%) Riwayat penyakit TBC TB aktif HIV Variable Hepatitis Riwayat pada anak-anak yang mengalami stunting, n (%) ASI Eksklusif Tidak Memberikan Makanan Tambahan <6 Bulan Ou6 Bulan Imunisasi lengkap Riwayat penyakit TBC Riwayat penyakit HIV Riwayat Penyakit Hepatitis Berdasarkan Tabel 2 komposisi jenis kelamin menunjukkan bahwa 39% peserta adalah lakilaki dan 61% perempuan. Tinggi badan (TB) baik ayah maupun ibu menunjukkan bahwa mayoritas memiliki tinggi badan standar, dengan persentase masing-masing 68% dan Sebagian besar peserta juga memiliki IMT normal . %), dan tingkat pendidikan ibu n=85 27 . n=85 61 . mayoritas adalah tingkat pendidikan dasar . ,5%). Sebagian besar ibu menikah pada usia antara 21 hingga 30 tahun . %), dan mayoritas menjalani kehamilan cukup bulan . ,8%). Sekitar 14% ibu memiliki riwayat Mengenai pendapatan keluarga, sebagian besar peserta memiliki pendapatan kurang dari 1 juta . %) 18 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 atau 1-5 juta . %). Ada riwayat penyakit dalam keluarga, terutama TBC, pada 4,7% Mengenai riwayat anak balita, mayoritas menerima ASI eksklusif . %), imunisasi lengkap . %), dan riwayat penyakit TBC . %). Karakteristik hasil tes hematologi, indeks hematologi, dan profil besi ditunjukkan dalam Tabel 3. Tabel 3. Karakteristik Hasil Pemeriksaan Hematologi. Indeks Hematologi, dan Profil Zat Besi pada Anak Stunting Variabel Hematology Analyzer, n (%) Hb . /dL) <11 Ou11 MCV . L) <74 >74 MCH . <27 Ou27 NLR >2. O2. PLR >103 O103 MLR >0. O0. NMLR >1. O1. MPV . L) O9 RDW-CV (%) <15 Ou15 Haematology Index, n (%) Mentzer <13 Ou13 Shine & Lal <1530 Ou1530 Iron Profile, n(%) Iron Serum . g/dL) < 22 >136 Ferritin . g/mL) > 22 n=210 32 . RISTANDI. Profil Anemia dan Penanda Inflamasi A I 19 Berdasarkan Tabel 3 di atas, menunjukkan bahwa 32 . %) anak stunting memiliki Hb < 11 g/dL, yang mengindikasikan anemia. Volume korpuskuler (MCV) pada 59 . %) anak memiliki nilai < 74 fL, sementara 38 . %) memiliki hemoglobin korpuskuler rata-rata (MCH) < 27 pg. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak stunting memiliki eritrosit mikrositik, yang mungkin disebabkan oleh anemia defisiensi besi Koefisien Variasi Distribusi Sel Darah Merah (RDW CV) pada 41 . %) anak stunting menunjukkan RDW CV > 15%, yang menunjukkan karakteristik sel darah merah anisositosis, yang kemungkinan disebabkan oleh anemia defisiensi besi atau thalassemia. Tabel 3 menunjukkan bahwa rata-rata kadar serum besi adalah 61 . %), dan mayoritas ferritin di atas 22 ng/mL sebanyak sekitar 44 . %), yang mengindikasikan normoferemia dengan disebabkan oleh anemia karena penyakit kronis atau thalassemia. Sekitar 49 . %) anak stunting memiliki indeks Shine dan Lai < 1530, sementara 17 . %) memiliki Indeks Mentzer (MI) < 13, yang kemungkinan menunjukkan thalassemia. Perbedaan antara MI dan Indeks Shine dan Lai terletak pada sensitivitas dan MI menunjukkan sensitivitas 98,7% dan spesifisitas 82,3%, sementara Indeks Shine dan Lai memiliki sensitivitas 100% dan spesifisitas 10%. Hasil menunjukkan variasi yang signifikan dalam komponen darah, memberikan wawasan tentang kondisi anak stunting. Variasi profil besi dalam kadar serum besi dan ferritin dapat memberikan informasi tentang status gizi dan metabolisme besi. Selain itu, penanda inflamasi dari pemeriksaan hematologi memberikan wawasan tentang penyakit tertentu yang perlu dipantau oleh tenaga medis. Distribusi kemungkinan penyakit pada anak stunting berdasarkan pendekatan penanda inflamasi ditunjukkan dalam Tabel 4. Tabel Distribusi Kemungkinan Penyakit pada Anak Stunting Berdasarkan Pendekatan Penanda Inflamasi Palabuh n (%) 14 . Semua n (%) Dugaan Penyakit Talasemia Anemia Defisiensi Zat Besi Anemia pada Penyakit Kronis Penyakit TBC IBD Proktokolitis Alergi Penyakit Cacingan Infeksi Bakteri Lainnya Total Cisaat n (%) 8 . Berdasarkan tabel ini, dapat disimpulkan bahwa hasil keseluruhan untuk kedua wilayah menunjukkan bahwa thalassemia merupakan penyebab anemia yang paling mungkin pada anak stunting, yaitu sebanyak 22 . %), yang berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya. Thalassemia adalah penyebab penyakit yang paling Palabuhanratu . /27%), sementara penyakit radang usus (IBD) adalah penyebab penyakit yang paling mungkin di wilayah Cisaat . /20%). Anemia defisiensi besi di Palabuhanratu lebih prevalen, dengan persentase 20% dibandingkan di Cisaat, yang hanya 15%. Penyakit Tuberkulosis yang dicurigai lebih banyak ditemukan di Cisaat . %) daripada di Palabuhanratu . %). Sedangkan helminthiasis yang dicurigai lebih prevalen di Palabuhanratu . %) daripada di Cisaat . %). Proporsi kemungkinan penyakit pada anak stunting ditunjukkan pada Gambar 3. OTHER BACTERIAL INFECTION HELMINTHIASIS ALLERGIC PROCTOCOLITIS IBD TB DISEASES ANAEMIA OF CHRONIC DISEASES IRON DEFICIENCY ANEMIA THALASSEMIA Cisaat Gambar Palabuhanratu All Region Persentase Kemungkinan Penyakit pada Anak Stunting Usia di Bawah Dua Tahun di Kabupaten Sukabumi 20 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 Insiden anemia defisiensi besi di kedua wilayah tidak seluruhnya disebabkan oleh defisiensi besi tetapi juga disebabkan oleh penyakit lain. Anemia defisiensi besi pada anak stunting di Palabuhanratu sebagian besar disebabkan oleh kekurangan asupan besi . %). sisanya disebabkan oleh dugaan infeksi bakteri . %) dan helminthiasis . %). Hal yang sama juga terjadi pada anemia defisiensi besi pada anak stunting di Cisaat, yang sebagian besar disebabkan oleh kekurangan asupan besi . %). sisanya disebabkan oleh infeksi bakteri . %) dan kolitis alergi . %). Persentase anemia defisiensi besi pada anak stunting di bawah dua tahun di Kabupaten Sukabumi dapat dilihat pada Gambar 4. Cisaat IDA IDA Bacterial Infection IDA Procolitis allergy Palabuhan ratu IDA IDA Helminthiasis IDA Bacterial Infection Gambar 4. Persentase Anemia Defisiensi Besi pada Anak Stunting di Bawah Dua Tahun di Kabupaten Sukabumi Dalam kerangka konseptual WHO, stunting disebabkan oleh interaksi berbagai faktor, seperti asupan gizi yang tidak memadai dan Kekurangan asupan dapat disebabkan oleh sosial-ekonomi . , pendidikan dan pengetahuan yang rendah mengenai praktik pemberian makan pada bayi dan balita (ASI yang cuku. , cukupnya budaya, dan ketersediaan bahan makanan Faktor peningkatan permintaan termasuk penyakit kronis yang memerlukan makanan untuk tujuan medis tertentu. Ini termasuk penyakit jantung bawaan, kebersihan pribadi dan lingkungan yang buruk . iare kroni. , serta penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, seperti tuberkulosis, difteri, pertusis, dan campak (WHO, 2. Berdasarkan Tabel 4, di kedua wilayah, sejumlah penyakit yang dicurigai pada anak stunting diidentifikasi sebagai Thalassemia . %), dan penyakit yang paling dicurigai di Palabuhanratu adalah Thalassemia . %). Hal ini mungkin dipengaruhi oleh lokasi Indonesia yang berada di sepanjang 'Thalassemia Belt,' menjadikannya sebagai thalassemia dibawa oleh sekitar 3,0Ae10,0% dari populasi, sementara -thalassemia dibawa oleh 2,6Ae11,0%. Diperkirakan sekitar 2500 bayi lahir setiap tahun dengan -thalassemia mayor (-TM) (Wahidiyat PA et al, 2. Pada pasien thalassemia, menyebabkan stunting. Transfusi darah yang sering dan terus menerus dapat menyebabkan penumpukan zat besi yang tidak sehat di hati dan kelenjar endokrin. Thalassemia yang bergantung pada transfusi (TDT) berdampak signifikan pada menyebabkan stunting, peningkatan risiko defisiensi vitamin D, dan penurunan kadar insulin-like growth factor-1 (IGF-. Penting untuk dicatat bahwa kadar IGF-1 yang rendah terkait dengan stunting pada anak yang menjalani transfusi darah secara rutin (Pratiwi IGAPE et al, 2. Thalassemia terkait dengan faktor genetik dan budaya. Wilayah Palabuhanratu memungkinkan pernikahan antara orang-orang dari desa yang sama yang merupakan pembawa sifat genetik thalassemia. Berbeda dengan anak stunting di Palabuhanratu, anak stunting di Cisaat memiliki insiden penyakit yang paling tinggi, yaitu IBD. Hal ini mungkin disebabkan oleh TGF-1 RISTANDI. Profil Anemia dan Penanda Inflamasi A I 21 berhubungan dengan kurangnya respons imun bawaan terhadap flora mikroba komensal usus, yang dapat berkontribusi pada perkembangan toleransi oral terhadap makanan (Perez-Machado et al, 2. Sementara itu, tumor necrosis factor-alpha (TNF-) memainkan peran penting dalam perkembangan IBD dengan memengaruhi penghubung ketat antara sel epitel, yang menyebabkan perubahan pada kapasitas penghalang usus. Oleh karena itu. TNF- tampaknya terlibat dalam patogenesis AP dengan mengubah kapasitas penghalang epitelial usus. Kadar TNF- yang tinggi merangsang produksi dan aktivasi sitokin pro-inflamasi lainnya, yang memperburuk Memahami menangani TNF- sangat penting dalam pengelolaan kondisi ini (Ma TY et al, 2. Penyakit radang usus yang dicurigai pada anak-anak disebabkan oleh faktor respons imun yang rendah, faktor genetik, dan pemicu lingkungan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri. Faktor lingkungan memainkan peran penting dalam memicu IBD, terkait dengan makanan yang dikonsumsi oleh balita. Pola pengasuhan dalam pemberian nutrisi pada anak merupakan faktor yang memainkan peran vital dalam terjadinya stunting pada Meskipun mayoritas ibu yang memiliki anak stunting adalah ibu rumah tangga, jika pola pengasuhan mereka dalam pemberian makanan tidak baik, hal ini akan memengaruhi kesehatan anak. Pola pengasuhan dan pemberian makanan terkait dengan kejadian stunting. Pola pengasuhan ibu yang baik dapat mencegah anak mengalami stunting (Pradana Putri&Rong JR, 2. Sebagian besar orang tua anak stunting di Cisaat bekerja sebagai pekerja perusahaan, baik ayah maupun ibu. Hal ini memungkinkan orangtua memiliki pola pengasuhan yang buruk dalam memberi makan anak-anak mereka karena kurangnya waktu. Penyakit Tuberkulosis yang dicurigai lebih banyak ditemukan di Cisaat . %) daripada di Palabuhanratu . %). Wilayah Cisaat merupakan daerah perkotaan dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan kendaraan yang banyak, sehingga kondisi lingkungan yang buruk mendukung transmisi penyakit TB pada anak stunting. Sebaliknya, helminthiasis yang dicurigai lebih tinggi di wilayah Palabuhanratu . %) dibandingkan dengan Cisaat . %). Hal ini terkait dengan pekerjaan orang tua anak stunting, yang sebagian besar adalah petani, sehingga anak-anak stunting sering bermain di ladang tanpa alas kaki, yang memudahkan terjadinya helminthiasis. Penelitian ini memiliki empat keterbatasan signifikan: . pemeriksaan standar emas tidak dilakukan untuk mengonfirmasi hasil skrining menggunakan alat hematologi dan penanda inflamasi karena keterbatasan . Tidak ada anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh seorang klinisi. Ukuran sampel kecil karena keterbatasan . Tidak ada pengawasan gizi. Studi ini sangat penting untuk dipastikan dengan pemeriksaan yang lebih akurat guna mendiagnosis dan memastikan apakah infeksi yang terjadi disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau alergi susu, yang dapat dipastikan dengan imunoglobulin E. Begitu juga dengan elektroforesis Hb. Untuk kepastian ini, dapat dioptimalkan dengan struktur laboratorium Kesehatan Masyarakat yang saat ini dibangun di Indonesia. Begitupun elektroforesis Hb. Untuk pemastian ini dapat dioptimalkan dengan struktur laboratorium Kesehatan Masyarakat yang saat ini dibangun di Indonesia. KESIMPULAN Profil anemia dan penanda inflamasi pada anak stunting sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab anemia dan penyakit komorbid yang ada. Memberikan suplemen besi dan makanan bergizi saja tidak cukup untuk mengobati anak stunting. yang lebih penting adalah menyesuaikan terapi berdasarkan penyebab spesifik anemia dan penyakit komorbidnya. Alat hematologi dan kimia sebaiknya disediakan di setiap fasilitas kesehatan primer untuk membantu memeriksa anemia, mendeteksi penyakit komorbid, dan memantau respons terhadap pengobatan. Penelitian prospektif yang lebih luas dengan melibatkan berbagai fasilitas di seluruh Indonesia dapat membantu mengidentifikasi penanda hematologi, inflamasi, dan biokimia yang terkait dengan stunting. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dinas Kesehatan Provinsi 22 I Creative Research Journal | Vol. 11 No. 01 Juni 2025 Jawa Barat. Badan Penelitian dan Pengembangan Jawa Barat. Dinas Kesehatan Kabupaten Sukabumi, dan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium atas kolaborasi yang baik sehingga penelitian ini dapat selesai dan semoga dapat menjadi pertimbangan dalam kebijakan mengenai pengendalian stunting, terutama pada anak kurang dari 2 tahun yang dapat dilakukan skrining mulai dari puskesmas. PERSETUJUAN ETIK Penelitian ini sudah melalui persetujuan etik . thical approva. yang dikeluarkan oleh Komite Etik Penelitian Unit Organisasi Bersifat Khusus (UOBK) RSUD R. SYAMSUDIN. H pada tanggal 11 Desember 2023 dengan Nomor: 17/KEPRS/RSUD/XII/2023. DAFTAR PUSTAKA