GAMBARAN PENGARUH KEBIASAAN BURUK MENGISAP IBU JARI TERHADAP KESIMETRISAN GARIS MEDIAN GIGI DAN GARIS MEDIA WAJAH PADA SAAT OKLUSI SENTRIS DI SD SARASWATI 1 DENPASAR Ketut Virtika Ayu1. Putri Intan Sitasari2. Gusti Ayu Githa Puspa Carolina Viandani3 Bagian Ortodonsia. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar Corresponding: Gusti Ayu Githa Puspa Carolina Viandani. Email: gitapuspa060@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Kegiatan mengisap jempol ataupun jari yang terjadi pada diri anak disebabkan oleh proses menyapih pada bayi, anak merasa cemas, bosan, mengantuk, lapar, dan beberapa masalah psikologis lainnya. Prevalensi atas kejadian tersebut memiliki nilai persentase cukup tinggi yaitu hingga mencapai nilai persentase 80,5%. Selain itu, terdapat kejadian lain seperti crossbite posterior, overjet, serta openbite Tujuan dari penelitian ialah memberikan hasil analisis terkait kesimetrisan garis median wajah dan gigi yang dipengaruhi oleh kebiasaan mengisap ibu jari. Metode: Jenis penelitian yang digunakan ialah menggunakan observasional deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Hasil: hasil penelitian yang diperoleh bahwa siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki AuGaris Median Tidak SimetrisAy dengan frekuensi 49 siswa, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 58%. Adapun rincian yang didapatkan melalui pergeseran garis median ialah 3 siswa mengalami pergeseran dengan panjang 4 mm, 7 siswa mengalami pergeseran dengan panjang 3 mm, dan 39 siswa mengalami pergeseran sepanjnag 2 mm. Sedangkan siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki AuGaris Median SimetrisAy dengan frekuensi 36 siswa, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 42%. Kesimpulan: Siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki wajah tidak simetris lebih banyak dibandingkan dengan garis median simetris yang disebabkan oleh kebiasaan mengisap ibu jari Kata Kunci: garis median, gigi, kesimetrisan, mengisap ibu jari ABSTRACT Introduction: Thumb or finger sucking activities that occur in children are caused by the weaning process in babies, children feel anxious, bored, sleepy, hungry, and several other psychological problems. The prevalence of this incident has a fairly high percentage value, reaching a percentage value of 80. Apart from that, there are other incidents such as posterior crossbite, overjet, and anterior openbite. The aim of the research is to provide analysis results regarding the symmetry of the median line of the face and teeth which is influenced by the thumb sucking habit. Method: The type of research used is descriptive observational using a cross sectional Results: The research results showed that students at SD Saraswati 1 Denpasar had an "Asymmetrical Median Line" with a frequency of 49 students, so the percentage obtained was 58%. The details obtained through the shift in the medial line are that 3 students experienced a shift of 4 mm in length, 7 students experienced a shift of 3 mm in length, and 39 students experienced a shift of 2 mm in length. Meanwhile, students at SD Saraswati 1 Denpasar have a "Symmetric Median Line" with a frequency of 36 students, so the percentage obtained is 42%. Conclusion: Students at SD Saraswati 1 Denpasar have more asymmetrical faces than symmetrical median lines caused by the habit of sucking their thumbs Keywords: median line, teeth, symmetry, thumb sucking PENDAHULUAN Penampilan yang harus diperhatikan terkait dengan wajah ialah kesimetrisan bentuk, sehingga individu dapat memiliki wajah yang menarik dan seimbang. Kesimetrisan dapat diartikan sebagai kesesuaian susunan, bentuk serta ukuran pada garis, titik, ataupun bidang lainnya. Berdasarkan studi literature yang dilakukan ialah faktor yang mempengaruhi ketidaksimetrisan cukup kompleks, sehingga harus diperhatikan terkait dengan struktur wajah, khususnya struktur di sekitar gigi. Pada wajah memiliki bidang simetris pada titik sentral dagu, sentral philtrum, nasal apex, serta pada hidung. Kegiatan mengisap jempol ataupun jari yang terjadi pada diri anak disebabkan oleh proses menyapih pada bayi, anak merasa cemas, bosan, mengantuk, lapar, dan beberapa masalah psikologis lainnya. ditinjau dari sudut pandang anak-anak mengisap jempol merupakan salah satu kebiasaan yang cukup menarik dan menyenangkan. Namun, jika hal tersebut dibiarkan secara berlarut-larut tentu akan mempengaruhi berubahnya simetris pada garis median gigi ataupun wajah. Menurut Kasparaviciene . memaparkan bahwa prevalensi atas kejadian tersebut memiliki nilai persentase cukup tinggi yaitu hingga mencapai nilai persentase 80,5%. Selain itu, terdapat kejadian lain seperti crossbite posterior, overjet, serta openbite anterior. Penelitian Susanto . memaparkan pada jenjang kanak-kanak hampir separuh dari populasi anak memiliki kebiasaan buruk yang memiliki hubungan dengan rongga Adapun salah satu contoh kebiasaan buruk yang dimaksudkan ialah mengisap jempol dengan memiliki nilai persentasee 43. Dampak yang bisa ditimbulkan melalui kebiasaan tersebut ialah pada proses pertumbuhan lengkung gigi. Selain itu, permasalahan yang dapat terjadi pada anak melalui aktivitas mengisap jempol diantaranya adalah gigi geligi mengalami maloklusi, dapat terjadi diastema sentral, serta openbite anterior yang memiliki bentuk asimetris. Masalah terkait dengan mulut dan gigi seperti maloklusi menjadi suatu permasalahan yang cukup besar yang disebabkan oleh kebiasaan buruk serta kesadaran yang kurang dalam merawat gigi. Penelitian terdahulu Lydianna & Utari . memaparkan bahwa anak-anak yang berumur 7-13 tahun masih ditemukan dan banyak terjadi melakukan aktivitas mengisap ibu jari. Pada umur tersebut merupakan salah satu tahap penting dan kerentanan terhadap terjadinya maloklusi. Beberapa akibat yang bisa timbul akibat kebiasaan mengisap ibu jari diantaranya adalah timbulnya beberapa gigitan seperti gigitan kearah terbuka, silang, dan dalam. Selain itu, akan memiliki dampak seperti adanya kondisi protrusi dan maloklusi pada gigi geligi. Kebiasaan mengisap ibu jari dapat memicu terjadinya beberapa masalah pada susunan gigi geligi, sehingga dapat memberikan pengaruh terhadap simetrisan gigi dan Dalam hal ini kesimetrisan pada wajah merupakan salah satu aspek dari keestetikan wajah. Melalui pemaparan diatas, penulis mengambil judul AuGambaran Pengaruh Kebiasaan Buruk Mengisap Ibu Jari Terhadap Kesimetrisan Garis Median Gigi dan Garis Media Wajah Pada Saat Oklusi Sentris di SD Saraswati 1 DenpasarAy. Tujuan dari penelitian ialah memberikan hasil analisis terkait kesimetrisan garis median wajah dan gigi yang dipengaruhi oleh kebiasaan mengisap ibu jari. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan ialah menggunakan observasional deskriptif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ialah para siswa SD Saraswati 1 Denpasar kelas 1 hingga kelas 6 yang berjumlah 542 siswa. Selanjutnya sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 85 sampel. Pelaksanaan penelitian di SD Saraswati 1 Denpasar yang dilakukan pada Mei 2023 hingga Januari 2024. Prosedur yang dilakukan dalam penelitian diantaranya . mengumpulkan sampel yang telah memenui kriteria, . mengisi lembar persetujuan, . subyek diminta untuk membuka bibir sampai pada posisi oklusi sentris, . foto wajah yang digunakan dalam penelitian ialah fotometri ekstraoral, . melakukan proses pengukuran garis median wajah serta gigi dengan aplikasi Photoshop CS4. Setelah data terkumpul kemudian dilanjutkan pada teknik analisis data yang disajikan dalam bentuk tabel perhitungan besar persentase yang didapatkan melalui bidang simetris ataupun asimetris pada wajah dan HASIL PENELITIAN Kegiatan penelitian dilakukan melalui observasi pada foto dari pandangan frontal dan gigi terlihat pada keadaan oklusi sentris. Hasil dari analisis foto tersebut selanjutnya dilakukan analissi lebih lanjut dengan menggunakan Adobe Photoshop CS4 untuk melihat garis median wajah dengan gigi yang simetris. Berikut adalah Tabel 1 yang memaparkan terkait dengan karakteristik subyek dalam penelitian, yaitu: Tabel 1. Karakteristik Subyek Jenis Kelamin Frekuensi Persentase Laki Ae Laki Perempuan Total Pada Tabel 1 tersebut dipaparkan terkait dengan frekuensi serta persentase dari subyek penelitian. Frekuensi pada subyek penelitian laki-laki ialah memiliki nilai 38 subyek sehingga persentase yang diperoleh ialah 45%. Sedangkan frekuensi pada subyek penelitian perempuan ialah memiliki nilai 47 subyek sehingga persentase yang diperoleh ialah 55%. Selanjutnya data dibawah ini memaparkan terkait dengan karakteristik berdasarkan kesimetrisan garis median wajah dengan gigi, yaitu: Tabel 2. Karakteristik Berdasarkan Kesimetrisan Garis Median Wajah dan Gigi Garis Median Frekuensi Persentase Simetris Tidak simetris Total Pada Tabel 2 memaparkan data temuan pada karakteristik berdasarkan kesimetrisan garis median wajah dan gigi. Berdasarkan hasil temuan tersebut dapat diperoleh bahwa siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki wajah tidak simetris lebih banyak dibandingkan dengan garis median simetris. Indikator yang digunakan dalam mengukur kesimetrisan tersebut ialah titik sentral dagu, philtrum, nasal apex, serta titik dasar hidung. Sedangkan ketidaksimetrisan dari garis median gigi dan garis median wajah dapat dihitung apabila terdapat pergeseran terhadap garis median. Menurut Silva et. memaparkan bahwa tolak ukur yang digunakan dalam kategori tidak simetris tersebut diperoleh berdasarkan pengukuran apabila garis median yang terdapat pada wajah dan gigi mendapatkan pergeseran lebih dari 1 milimeter. Sedangkan katergori simetris disini diperoleh berdasarkan hasil pengukuran garis median yang terdapat pada wajah dan gigi mendapatkan pergeseran kurang dari 1 milimeter. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki AuGaris Median Tidak SimetrisAy dengan frekuensi 49 siswa, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 58%. Adapun rincian yang didapatkan melalui pergeseran garis median ialah 3 siswa mengalami pergeseran dengan panjang 4 mm, 7 siswa mengalami pergeseran dengan panjang 3 mm, dan 39 siswa mengalami pergeseran sepanjang 2 mm. Sedangkan siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki AuGaris Median SimetrisAy dengan frekuensi 36 siswa, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 42%. PEMBAHASAN Hasil temuan pada karakteristik berdasarkan kesimetrisan garis median wajah dan gigi. Berdasarkan hasil temuan tersebut dapat diperoleh bahwa siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki wajah tidak simetris lebih banyak dibandingkan dengan garis median simetris. Indikator yang digunakan dalam mengukur kesimetrisan tersebut ialah titik sentral dagu, philtrum, nasal apex, serta titik dasar hidung. Sedangkan ketidaksimetrisan dari garis median gigi dan garis median wajah dapat dihitung apabila terdapat pergeseran terhadap garis median. Menurut Silva et. memaparkan bahwa tolak ukur yang digunakan dalam kategori tidak simetris tersebut diperoleh berdasarkan pengukuran apabila garis median yang terdapat pada wajah dan gigi mendapatkan pergeseran lebih dari 1 milimeter. Sedangkan katergori simetris disini diperoleh berdasarkan hasil pengukuran garis median yang terdapat pada wajah dan gigi mendapatkan pergeseran kurang dari 1 milimeter. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh bahwa siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki AuGaris Median Tidak SimetrisAy dengan frekuensi 49 siswa, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 58%. Adapun rincian yang didapatkan melalui pergeseran garis medianialah 3 siswa mengalami pergeseran dengan panjang 4 mm, 7 siswa mengalami pergeseran dengan panjang 3 mm, dan 39 siswa mengalami pergeseran sepanjnag 2 mm. Sedangkan siswa di SD Saraswati 1 Denpasar memiliki AuGaris Median SimetrisAy dengan frekuensi 36 siswa, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 42%. Hal tersebut senada dengan penelitian sebelumnya yang memaparkan empat penyebab struktural asimetri: gigi, otot, tulang, dan fungsional. Etiologi gigi dapat terjadi dikarenakan tanggalnya gigi sulung saat kecil atau kebiasaan buruk menghisap ibu jari. Asimetri juga bisa terjadi karena bentuk bentuk lengkung gigi yang tidak normal. Disproporsi wajah bisa jadi disebabkan oleh asimetri otot. Penyimpangan dan pertumbuhan mandibula atau rahang atas yang tidak normal merupakan penyebab asimetri dari tulang. Dalam penelitian Padure dkk. menyatakan bahwa asimetri wajah ditemukan dalam proporsi yang lebih besar pada kelompok yang mengisap jari. Subyek pada kelompok mengisap jari memiliki profil cembung 100%, dengan tahapan bibir yang menonjol dan curve of spee yang tajam, diketahui bahwa mengisap ibu jari menghentikan pertumbuhan mandibula dan menstimulasi penonjolan maksila. Mengisap jari menyebabkan proporsi peningkatan overjet yang lebih tinggi, peningkatan kedalaman lengkung maksila dan juga gigitan terbuka anterior. Hilangnya penutupan bibir sebagai aktivitas otot yang penting juga tampaknya menjadi faktor penting dalam perkembangan maloklusi. Kebiasaan yang buruk seperti mengisap jari atau ibu jari, menjulurkan lidah, menggigit bibir, dan bernapas melalui mulut juga harus dievaluasi, terutama pada pasien muda karena kebiasaan yang berkepanjangan ini dapat menyebabkan gangguan miofungsional orofasial dan mengakibatkan ketidakseimbangan perkembangan wajah. Penelitian yang dilakukan oleh Abdulredha dkk. menyatakan bahwa lebih dari separuh 250 anak . ,8%) mengalami pergeseran garis median. Penyimpangan garis tengah pada wanita lebih sering terjadi dibandingkan pada pria. Simetri berarti kesamaan bentuk dan hubungan bagian-bagian di sekelilingnya, sedangkan asimetri berarti ketidakseimbangan antara dua atau lebih seperti bagian. Menghisap ibu jari merupakan salah satu kebiasaan buruk serta memiliki keterkaitan dengan rongga mulut, khususnya pada beberapa otot. Individu sejak dini yang memiliki kebiasaan dalam menghisap ibu jati tentu akan memiliki dampak yang beragam dan yang paling sering terjadi adalah timbulnya anterior openbite. Kejadian tersebut disebabkan oleh ibu jari berada antara gigi geligi pada proses erupsi. Kebiasaan menghisap ibu jari harus dihentikan sesegera mungkin, khususnya bagi individu yang memiliki gigi erupsi sebab jika hal tersebut dibiarkan secara berlarut-larut akan memiliki akibat pada anterior openbite, insisivus bawah linguoversi, serta protrusi gigi rahang atas. Tekanan yang diberikan pada jari tersebut akan meninjau perubahan pada pipi serta pola bibir yang sedang tidur. Penelitian terdahulu oleh Hidayah & Ayu . memaparkan hasil wajah simetris yang dimiliki oleh siswa didapatkan sebanyak 44 peserta, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 77%. Selanjutnya wajah asimetris dari siswa didapatkan sebanyak 13 peserta, sehingga persentase yang didapatkannya ialah 23%. Adapun rincian dari pergeseran simetris pada garis median tersebut ialah sebanyak 1 peserta mengalami pergeseran sepanjang 5 mm, sebanyak 5 peserta mengalami pergeseran sepanjang 3 mm, sebanyak 7 peserta mengalmi pergeseran 2 mm. Pergeseran yang terjadi pada garis median gigi tersebut dapat terjadi oleh kebiasaan buruk yang dimiliki oleh subyek Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini memaparkan hasil bahwa lebih dominan siswa yang memiliki garis median asimetris, baik pada garis median gigi ataupun wajah. Hal tersebut dapat terjadi karena para siswa terus melakukan menghisap jari yang merupakan salah satu kebiasaan buruk. Temuan baru dalam penelitian ini dibandingkan dengan penelitian sebelumnya ialah pada penelitian ini terdapat temuan bahwa kebiasaan siswa mengisap ibu merupakan kebiasaan buruk yang mempengaruhi asimetris garis median, sedangkan pada penelitian sebelumnya responden yang digunakan tidak mempunyai kebiasaan mengisap ibu jari. KESIMPULAN Kesimpulan yang diambil ialah kebiasaan buruk mengisap ibu jari terhadap bidang simetris garis median wajah serta gigi pada siswa SD Saraswati 1 Denpasar dengan total sampel sebanyak 85 orang didapatkan bahwa responden yang memiliki garis median wajah serta gigi yang asimetris sebesar 58% sedangakan yang simetris sebesar Salah satunya disebabkan karena siswa-siswa tersebut memiliki kebiasaan buruk mengisap ibu jari yang dapat menyebabkan ketidaksimetrisan. Dalam hal ini perlu diperhatikan terkait dengan menciptakan struktur wajah yang menarik dan seimbang melalui kesimetrisan garis median wajah serta gigi. DAFTAR PUSTAKA