Camellia Vol. 4 No. 1 | Juni 2025 E-ISSN 2963-8917 Artikel Review: Formulasi dan Karakterisasi Sediaan Granul Mengandung Bahan Alam Review Article: Formulation and Characterization of Granul Preparations Containing Natural Ingredients Kevin Efraim Lian1*. Dwiana Hermaniati1. Arum Novia Adiningsih1. Anggita Yayuk Febryanthi1. Deistha Adinda1. Siti Musdalifah1. Selviana Maria Ina Ose Tapowolo1 Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Bhakti Kencana. Bandung. Indonesia. *Corresponding author: 231ff04002@bku. INFO ARTIKEL Dikirim: 31 Mei 2025 Direvisi: 27 Juni 2025 Diterima: 28 Juni 2025 Terbit Online: 30 Juni 2025 ABSTRAK Pengembangan sediaan farmasi dalam pengobatan atau pencegahan suatu penyakit menggunakan bahan alam dengan bentuk sediaan granul telah banyak digunakan. Granul merupakan sediaan obat tersendiri, diantaranya granul instan dan granul effervescent. Bahan alam yang diformulasikan untuk dibuat suatu sediaan farmasi harus memenuhi standarisasi untuk menjamin keamanan, khasiat, dan stabilitas sediaan. Review jurnal ini dilakukan untuk memberi informasi terkait standarisasi, formulasi dan evaluasi sediaan granul yang memanfaatkan bahan alam. Metode dilakukan dengan mengkaji literatur nasional dan internasional dari sumber data terstandar seperti Google scholar. Sinta. PubMed, dan Science Direct dengan acuan publikasi jurnal pada rentang tahun 20142024. Berdasarkan review jurnal yang telah dilakukan, disimpulkan bahwa pembuatan granul lebih banyak menggunakan metode granulasi basah dan sediaan granul dibuat dalam bentuk granul effervescent. Dari 21 artikel yang dijadikan sumber, sebanyak 18 artikel memenuhi semua syarat dari evaluasi yang dilakukan sedangkan 3 artikel lainnya hanya memenuhi sebagian syarat uji atau parameter yang dievaluasikan. Kata kunci: Standarisasi granul. Formulasi dan Evaluasi Granul. Granul Bahan Alam. Granul Instan. Granul Effervescent. ABSTRACT The development of pharmaceutical preparations in the treatment or prevention of a disease using natural ingredients in the form of granular preparations has been widely Granules are separate drug preparations, including instant granules and effervescent granules. Natural ingredients formulated to make a pharmaceutical preparation must meet standards to ensure the safety, efficacy, and stability of the This journal review was carried out to provide information related to the Camellia Vol. 4 No. 1 | Juni 2025 E-ISSN 2963-8917 standardization, formulation and evaluation of granule preparations that utilize natural The method is carried out by reviewing national literature from standardized data sources such as Google scholar. Sinta. PubMed, and Science Direct with reference to journal publications for a maximum of the last 10 years. Based on the journal review that has been carried out, it is concluded that the manufacture of granules is more using the wet granulation method and the granule preparations are made in the form of effervescent granules. Of the 21 articles used as sources, as many as 18 articles met all the requirements of the evaluation carried out while the other 3 articles only met some of the test requirements or parameters evaluated Keywords: Granule Standardization. Formulation and Evaluation of Granules. Natural Material Granules. Instant Granules. Effervescent Granul PENDAHULUAN Pemanfaatan digunakan untuk pengobatan atau pencegahan suatu penyakit, karena efek samping yang ditimbulkan terbilang sangat kecil (Handayani et , 2. Selain diolah dalam bentuk tablet dan kapsul, bahan alam dapat dibuat dalam bentuk granul (Indriastuti et al. , 2. Granul merupakan sediaan obat tersendiri yang berbentuk partikel-partikel seragam. Sediaan granul ini biasanya terbagi menjadi beberapa jenis contohnya granul instan dan effervescent. Pemilihan pembuatan sediaan berbentuk granul dikarenakan granul mudah diseduh atau digunakan dan lebih stabil (Aji Najihudin et al. Perbedaan granul instan dan effervescent yaitu pada granul instan tidak ada penambahan komponen asam-basa sedangkan, effervescent memiliki campuran komponen asam-basa yang nantinya akan bereaksi melepaskan CO2 ketika berinteraksi dengan air yang ditandai dengan munculnya buih atau gelembung (Syaputri et al. Standardisasi adalah suatu kegiatan untuk menstandarkan suatu bahan obat maupun sediaan sehingga menjamin bahwa sediaan tersebut aman, berkhasiat, dan berkualitas. Formulasi yang baik dan tepat dalam pembuatan sediaan bahan alam diperlukan untuk memastikan bahwa sediaan dapat diterima dengan baik dan mudah oleh pengguna (Setyani et al. , 2. Hasil evaluasi berfungsi untuk memberi informasi dari parameter mutu sediaan, sehingga hasilnya dapat dijadikan acuan dalam penelitian maupun pengobatan (Handayani et al. , 2. Review artikel ini dilakukan untuk memberi informasi terkait baik tidaknya formulasi dan standarisasi berbagai bahan alam yang dibuat dalam sediaan granul, bagaimana sediaan tersebut dibuat dengan tetap memenuhi syarat dari evaluasi yang dilakukan sehingga menjamin keamanan dan khasiat bagi pengguna. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan melalui studi dan kajian literatur metode Narrative review dari beberapa jurnal ilmiah nasional dan internasional dengan sumber data yaitu Google scholar. Sinta. PubMed, dan Science Direct dengan kriteria inklusi meliputi. publikasi jurnal pada rentang tahun 2014-2024, pembuatan sediaan dalam bentuk granul, dan uji evaluasi tercantum jelas serta dapat diakses penuh. Penelusuran jurnal pustaka pada sumber data dilakukan dengan kata kunci "standarisasi granul", "formulasi dan evaluasi granul", dan "granul dari bahan alam". Berdasarkan hasil penelusuran pada sumber data diperoleh 21 jurnal yang memuat formulasi serta evaluasi sediaan granul dari bahan alam serta memenuhi kriteria sehingga dapat digunakan sebagai bahan studi atau kajian. HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Formulasi Berdasarkan review dari artikel atau literatur yang digunakan terkait formulasi sediaan granul dari bahan alam diperoleh hasil sebagai Camellia Vol. 4 No. 1 | Juni 2025 E-ISSN 2963-8917 Tabel 1. Formulasi Granul Bahan Alam Nama Ekstrak Nama Eksipien Meniran. Kunyit. PVP. Stevia. Laktosa. Daun Kelor Maltodekstrin Buah Pepino PVP K30. Aspartam. Curcumin. Asam Sitrat Bunga Aerosil. Explotab. PVP. Mg Kecombrang Stearat. Laktosa Hutan Daun Binahong Na bikarbonat. Asam tartrat. Aspartam. CMC Daun Kelor PVP. Asam Sitrat. Sorbitol. Laktosa Rimpang Lakka- HPMC. Carbopol. PVP. Lakka Avicel Jahe Merah. PVP. Asam Sitrat. Aspartam. Temulawak. Kayu Laktosa Manis Buah Gowok Asam Sitrat. Aspartam. PGA. Laktosa Kulit Buah Asam Sitrat. PVP. Aspartam. Pulasan Laktosa Jambu Mete Asam Sitrat. Dekstrin. Aspartam. PVP Daun Trema Sukrosa. PVP. Laktosa. Orientalis Sorbitol (Anggrun. Daun Kersen Aerosil. Avicel PH 101 Daun Sirih Merah PVP. NaCMC. Aspartam. Avicel Daun Tahongai Aerosil. Maltodekstrin. Sukrosa. PVP Tangkai Genjer PVP. Manitol. Aspartam. Laktosa Brokoli dan Herba PVP K30. Sukralosa. Stevia. Pegagan Essence Kulit Jeruk Aerosil. Manitol. PVP. Keprok Laktosa Serbuk Nanas Asam Sitrat. Tartrat. Dekstrin. PVP Pati Biji Nangka Asam Sitrat. Aspartam. Aquadest. Laktosa Buah Buni PVP. Aspartam. Maltodekstrin. Laktosa Pati Kulit Pisang Explotab. Talkum. Mg Goroho Stearat. Laktosa Sebagian besar literatur acuan, membuat sediaan granul effervescent karena lebih cepat dalam pembuatan dan mengandung dosis obat Effervescent memperbaiki rasa dan membuat sediaan tetap segar sehingga kesukaan pengguna terhadap produk meningkat (Sidoretno et al. , 2. Konsentrasi Optimum Ekstrak 2%. PVP 1,5% PVP 4 g. Ekstrak 2,2 mg/ml Ekstrak 0,1%. Explotab Ekstrak 22,2% Ekstrak 0,42 g. PVP 0,15 g PVP 4%. Ekstrak 1% Ekstrak 2%. PVP 4% Ekstrak 150 mg Ekstrak 15 g. PVP 1,5 Ekstrak 30%. PVP 2% Ekstrak 25 mg. PVP 2 Ekstrak 120 mg Ekstrak 3,73%. PVP Ekstrak 2%. PVP 3% Ekstrak 100 mg. PVP Ekstrak 7,6%. PVP 4% Ekstrak 12,5%. PVP Ekstrak 30%. PVP 2% Referensi (A. Rahmawati et , 2. (Hamsinah & Ririn, (Sirojudin et al. , 2. (I. Rahmawati et , 2. (Indriastuti et al. (Yusuf & Layuk, 2. (Sidoretno et al. (Puspitasari & Suharsanti, 2. (Julianti et al. , 2. (Santosa et al. , 2. (Bonaventura Wijaya & Riniwasih, 2. (SaAoadah et al. , 2. (Syaputri et al. , 2. (Aji Najihudin et al. (Husni et al. , 2. (Rustiani & Hidayat, (Sriarumtias & Rizkio Syamsudin, 2. (Egeten et al. , 2. Pati 10%. Aspartam PVP 3%. Ekstrak 1% (N. Sari et al. Pati 8% (Elisabeth et al. (Khairi et al. , 2. Granul effervescent memiliki komponen asam-basa yang akan bereaksi membentuk CO2 . saat berinteraksi dengan air. Asam tartrat berperan sebagai sumber asam dan asam sitrat memudahkan dalam pembuatan granul sehingga menghasilkan campuran granul yang baik dan tidak lengket. Natrium bikarbonat berperan sebagai sumber basa, karena dapat Camellia Vol. 4 No. 1 | Juni 2025 E-ISSN 2963-8917 dibandingkan bentuk karbonat lain. Natrium karbonat bersifat lebih reaktif (Syaputri et al. Formulasi granul yang dibuat pada penelitian ini, banyak menggunakan bahan pengikat (PVP), pemanis . , dan pengisi . Polivinil Pirolidon (PVP) dipilih sebagai pengikat karena sifat kohesi yang baik dari PVP mampu meningkatkan interaksi ikatan antar granul (Yusuf & Layuk, 2. Aspartam digunakan sebagai pemanis karena tidak adanya rasa pahit atau aftertaste yang sering ditemukan pada pemanis buatan lainnya. Aspartam adalah pemanis buatan dipakai untuk menggantikan sukrosa karena tingkat kemanisan yang lebih tinggi sehingga dalam penggunaannya hanya dibutuhkan sedikit tambahan aspartam maka sudah mampu memberi rasa manis yang sama dengan sukrosa selain itu pemanis ini juga rendah kalori sehingga umumnya tidak meningkatkan kadar gula daram darah (Rustiani & Hidayat, 2. Laktosa digunakan sebagai pengisi karena mudah larut air dan sifatnya yang tidak bereaksi hampir pada semua bahan obat, laju alir baik dan stabil secara fisika-kimia (A. Rahmawati et al. , 2. 2 Hasil Standarisasi Tabel 2. Hasil Evaluasi dan Standarisasi Granul Bahan Alam Hasil Evaluasi Waktu Alir Sudut Diam 1,42% 1,00 Organoleptik Kelembaban Disolusi Kompresibilitas Lainnya Warna aroma kunyit 23,96A 24 detik AC) 6,03 1,47 10,15 g/detik 34,35A 1,9% 23,91A 1 menit 45 detik 4 menit 31 detik Hausner 1,02 Warna putih Warna kuning Warna hijau, 1,10% 6,10 1,93% 7,41 28,07A 1 menit 12 detik 6,47 Buih 2,6 11,9% 5,07 g/detik 8,05 g/detik 21,80A 18,06% 25,64A 3 menit 23 detik 2 menit 21 detik 6,72 Porositas 6,26% Warna kuning Warna merah asam manis Warna coklat Warna coklat 2,54% Buih 1 cm. BJ 1,6 0,65% 64,24 g/detik 2 menit 25 detik 6,67 0,5% 18,28A 1 menit 52 detik 2,27% 7,10 g/detik 30,28A 8,93% 8,99 g/detik 28,04A 3,28 Warna kuning, rasa 0,938% 12,33 g/detik 39,30A 6,96 3,12% Warna jingga, rasa manis, aroma jeruk 1,07% 11,12 g/detik 22,396A 6,78 Diameter 0,19 mm Distribusi 6,555%, Hausner 1,01 g/detik 2,2% 3,12% 25,25A 26,31A Referensi (A. Rahmawati et , 2. (Hamsinah & Ririn, 2. (Sirojudin et , 2. (I. Rahmawati et , 2. (Indriastuti et , 2. (Yusuf & Layuk, 2. (Sidoretno et , 2. (Puspitasari & Suharsanti, (Julianti et al. (Santosa et , 2. (Bonaventura Wijaya & Riniwasih, (SaAoadah et , 2. (Syaputri et , 2. (Aji Najihudin et al. , 2. (Husni et al. Camellia Vol. 4 No. 1 | Juni 2025 Warna hijau manis pahit Warna jingga, aroma jeruk Warna kuning Warna putih rasa manis Warna ungu Warna putih tulang, rasa E-ISSN 2963-8917 2,9% 8,27 g/detik 24,85A 41,93 5,44 4,83 g/detik 19,68A 6,24 BJ nyata 0,31 0,6% 30,52A 2 menit 41 detik 0,36 26,13A 1 menit 08 detik 3,6% 3,26% 7,75 g/detik 100,11 4,91 4,56% 18,79% 5,66 Kerapatan 0,45 g/mL Uji atau evaluasi yang dilakukan pada setiap artikel meliputi uji organoleptis ini mencakup bentuk, warna, bau dan rasa yang dihasilkan dari granul (I. Rahmawati et al. Untuk hasil uji organoleptik dari semua artikel menunjukkan bahwa granul yang dibuat tercampur secara homogen. Waktu alir, uji ini dilakukan untuk menilai apakah granul mudah mengalir atau tidak. Pengujiannya menggunakan alat Flow Tester. Faktor yang mempengaruhi waktu alir seperti ukuran, kondisi permukaan, kelembaban granul, bentuk dan penambahan lubrikan. Waktu alir dalam pengujian disesuaikan dengan jumlah granul yang digunakan dalam uji (Julianti et al. Waktu alir dari tiap studi memiliki hasil yang bervariatif mulai dari 1,00 detik (A. Rahmawati et al. , 2. hingga 64,24 g/detik (Julianti et al. , 2. Perbedaan nilai bisa disebabkan oleh perbedaan metode pengukuran . aktu vs massa/volum. , bahan pengikat dan ukuran partikel. Sudut diam merupakan sudut yang dibentuk antara tumpukan partikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal. Semakin kecil ukuran partikel suatu granul maka semakin besar nilai sudut diam granul. Nilai sudut diam berkaitan dengan baik tidaknya sifat alir dari suatu sediaan. Suatu granul dikatakan memiliki sudut istirahat yang baik apabila memenuhi syarat yaitu, 25A > < 40A (Puspitasari & Suharsanti, 2. Pada penelitian oleh Syaputri et al . terdapat hasil sudut diam yang tinggi mencapai 39,30 yang menandakan granul tidak mengalir Kemungkinan bisa disebabkan karena kadar air yang rendah. (Rustiani & Hidayat, (Sriarumtias & Rizkio Syamsudin, (Egeten et al. (N. Sari et , 2. (Khairi et al. (Elisabeth et , 2. Tabel 3. Kategori Sifat alir pada sudut istirahat Sudut Istirahat (A) Kategori <25 Sangat Baik Baik Cukup >40 Sangat Buruk Untuk mengetahui derajat keasaman granul, maka dilakukan pengukuran pH karena jika granul yang dihasilkan bersifat terlalu asam dapat menyebabkan iritasi lambung sedangkan apabila terlalu basa akan menimbulkan rasa pahit dan tidak enak. Hasil pH yang diperoleh pada tiap rancangan formula berada pada rentang 4,91 - 6,96, sedangkan persyaratan pH yang baik pada granul yaitu berada pada rentang netral yaitu 6-7. Nilai pH yang dapat diterima tubuh yaitu ada dalam rentang 3-5, menurut SNI 01-3553-2006 (Rustiani & Hidayat, 2. Sehingga dari hasil yang diperoleh dari evaluasi pH dinyatakan memenuhi syarat dan masih dapat diterima tubuh. Pengujian kelembaban digunakan untuk mengetahui jumlah kadar air dalam granul. Rentang kadar air pada artikel artikel ini sangat lebar mulai dari 0,5% (Santosa et al. , 2. hingga 18,79% (Elisabeth et al. , 2. Nilai >10% berpotensi menyebabkan pertumbuhan mikroba dan menurunkan stabilitas fisik, sementara kadar <1% berisiko pada kerapuhan dan debu (SaAoadah et al. , 2. Kompressibilitas volumenya setelah diberikan tekanan. Uji kompressibilitas dilakukan dengan mengukur volume granul setelah mengalami pengurangan setelah ditekan atau diketuk (Puspitasari & Suharsanti, 2. Camellia Vol. 4 No. 1 | Juni 2025 Kompresibilitas granul dapat dipengaruhi oleh ukuran partikel. Adanya perbedaan ukuran partikel maka partikel granul yang kecil akan mengisi rongga partikel yang besar dan mengakibatkan penyusutan volume (Syaputri et , 2. Hasil evaluasi granul kompressibilitas menunjukkan bahwa semua formula memiliki kemampuan mengalir yang cukup baik karena mempunyai angka indeks kompressibilitas antara 15-25%. KESIMPULAN Berdasarkan review dari 21 artikel terkait Formulasi Dan Standardisasi Sediaan Granul Dari Bahan Alam dapat diambil kesimpulan bahwa, proses pembuatan granul lebih banyak menggunakan metode granulasi basah dan sediaan granul lebih banyak dibuat dalam bentuk granul effervescent hal ini dikarenakan effervescent lebih mampu untuk memperbaiki rasa dari granul serta memberikan efek segar pada sediaan. Standarisasi sediaan granul dapat dilihat dari evaluasi yang dilakukan diantaranya adalah uji organoleptis, uji kadar air, uji sudut diam, uji waktu alir, uji kompresibilitas, uji pH, uji disolusi, dan sebagainya. DAFTAR PUSTAKA