Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia, 6 . , 2026 p-ISSN: 2774-6291 e-ISSN: 2774-6534 Available online at http://cerdika. id/index. php/cerdika/index Pengaruh Pasar Tradisional terhadap Peningkatan Ekonomi Masyarakat di Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya Yohanis Alexander Fauzi Sowai Universitas Cenderawasih Jayapura. Indonesia Email: yohanisalexandersowai@gmail. Keywords: traditional market. tiom district. market revitalization. Kata Kunci: pasar tradisional. Masyarakat. distrik tiom. revitaliisasi pasar. Abstract Traditional markets in Tiom District. Lanny Jaya Regency, play an important role in driving the improvement of the local community's The existence of this market has a direct impact on the stability of basic commodity prices, where the distribution of goods becomes easier and the previously high transportation costs can be reduced, making prices relatively more affordable compared to before the market operated. This study aims to determine the influence of traditional markets on the economic improvement of the community in Tiom District. Lanny Jaya Regency, as well as the government's efforts in revitalizing and improving community relations with the traditional market. Using a descriptive quantitative approach with a causal associative design . scientific approach aimed at finding the relationship or correlation between two or more variable. , which is research intended to determine the influence or relationship between independent and dependent variables. This study concludes that traditional markets in Tiom District have a significant influence on the improvement of the community's economy, especially for traders with a high frequency of buying and selling and large profit margins. In addition to creating jobs and strengthening social networks and economic skills, optimizing facilities and government support will further strengthen the market's role as a tool for local economic empowerment in Lanny Jaya Regency. This study has implications for local economic improvement . ncome, purchasing power, money circulatio. , strengthening social relationships and community solidarity, as well as serving as a basis for market development policies, participatory institutional management, and the enrichment of academic studies, so that traditional markets in Tiom District act as a strategic instrument for economic and social development, not merely a place for transactions. Abstrak Pasar tradisional di Distrik Tiom Kabupaten Lanny Jaya, memiliki peran penting dalam mendorong peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Keberadaan pasar ini memberikan dampak langsung terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok, di mana distribusi barang menjadi lebih mudah dan biaya transportasi yang sebelumnya tinggi dapat ditekan, sehingga harga relatif lebih terjangkau dibandingkan sebelum pasar beroperasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahaui pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Distrik Tiom Kabupaten Lanny Jaya, serta apa saja upaya pemerintah dalam merevitalisasi dan memperbaiki hubungan masyarakat terhadap pasar tradisional tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain asosiatif kausal . endekatan ilmiah yang bertujuan untuk menemukan hubungan atau korelasi antara dua atau lebih variabe. , yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh atau hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pasar tradisional di Distrik Tiom berpengaruh signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, terutama bagi pedagang dengan frekuensi jual beli tinggi dan margin keuntungan besar. Selain membuka lapangan kerja serta memperkuat jaringan sosial dan keterampilan ekonomi, optimalisasi fasilitas dan dukungan pemerintah akan semakin memperkuat peran pasar sebagai alat pemberdayaan ekonomi lokal di Kabupaten Lanny Jaya. Penelitian ini berimplikasi pada peningkatan ekonomi lokal . endapatan, daya beli, perputaran uan. , penguatan hubungan sosial dan solidaritas masyarakat, serta menjadi dasar kebijakan pengembangan pasar, pengelolaan kelembagaan yang partisipatif, dan pengayaan kajian akademik, sehingga pasar tradisional di Distrik Tiom berperan sebagai instrumen strategis pembangunan ekonomi dan sosial, bukan sekadar tempat transaksi. PENDAHULUAN Pasar tradisional yang dalam kerangka hukum Indonesia saat ini banyak disebut sebagai pasar rakyat merupakan simpul penting dalam sistem ekonomi lokal di berbagai daerah, termasuk wilayah pegunungan Papua. Pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi barang kebutuhan sehari-hari, tetapi juga sebagai ruang ekonomi kerakyatan yang menggerakkan mata pencaharian rumah tangga, memperluas kesempatan kerja informal, dan menjadi wahana distribusi produk pertanian lokal (Arsyad, 2. Di banyak kabupaten tertinggal dan sangat tertinggal . T), pasar tradisional seringkali adalah satu-satunya institusi distribusi yang stabil dan dapat diakses secara rutin oleh masyarakat. Distrik Tiom sebagai ibu kota Kabupaten Lanny Jaya memiliki posisi strategis: ia adalah kawasan simpul layanan dan mobilitas orang/barang dari/dan ke distrik-distrik lain (Daryanto, 2011. Hirschman, 1958. Indonesia, 2. Dinamika ekonomi kabupaten sangat dipengaruhi oleh berfungsinya pasar tradisional di Tiom baik sebagai pusat grosir/eceran skala lokal, maupun sebagai tempat bertemunya jaringan niaga formal dan informal (Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2007 Tentang Penataan Dan Pembinaan Pasar Tradisional. Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern. Mankiw, 2016. Nopirin, 2. Karena itu, mengkaji pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Distrik Tiom bukan saja relevan secara akademik, melainkan juga mendesak dari sisi kebijakan publik, terutama dalam konteks pengurangan kemiskinan, pemberdayaan UMKM, dan penguatan ketahanan pangan di Papua Pegunungan (Rukmana, 2014. Sukirno, 2012. Swastha & Sukotjo, 2. Secara konseptual, pasar tradisional/pasar rakyat adalah ruang transaksi berbasis tawarmenawar yang ditata/kelola oleh pemerintah atau pihak terkait, beranggotakan pedagang kecil/menengah, koperasi, maupun usaha mikro (Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 Tentang Perdagangan, 2014. Otsuka et al. , 2020. Todaro & Smith, 2. Dalam literatur ekonomi pembangunan, keberadaan pasar tradisional dipandang sebagai externality generator bagi ekonomi lokal: ia menciptakan limpahan manfaat melalui . penyerapan tenaga kerja, . pembentukan harga lokal yang relatif kompetitif, . penguatan local value chain . antai nilai loka. , . pengurangan biaya transaksi, serta . modal sosial . ocial capita. berupa jaringan kepercayaan dan kohesi komunitas. Sejumlah penelitian empiris di Indonesia menunjukkan bahwa pasar tradisional berkontribusi pada peningkatan pendapatan pedagang dan pelaku usaha kecil, memperluas kesempatan kerja terutama bagi perempuan . ama-mama Papu. , dan berdampak pada penurunan kemiskinan melalui akses barang kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau. Dalam kerangka teori ekonomi kelembagaan . nstitutional economic. , pasar tradisional di daerah pedalaman berfungsi sebagai institusi yang menurunkan biaya transaksi . ransaction cost. : masyarakat tidak harus melakukan perjalanan jauh untuk memperoleh kebutuhan, sementara produsen lokal memperoleh akses Aupintu keluarAy . bagi hasil panen/produk olahan (Grimm et al. , 2012. Kotler & Keller, 2016. Minten & Barrett. Kajian tentang pasar tradisional di kawasan timur Indonesia, termasuk Papua, menunjukkan karakteristik yang khas dibandingkan wilayah lain. Florencia dan Karmini . , dalam penelitian berbasis data panel 29 kabupaten/kota di Papua, menemukan bahwa tingkat pengangguran dan tekanan demografis merupakan determinan utama kemiskinan di wilayah tersebut, dan sektor perdagangan tradisional yang menyerap hampir 40 persen tenaga kerja justru menghadapi produktivitas rendah akibat keterbatasan akses dan infrastruktur yang belum memadai. Di wilayah Papua Pegunungan, ((BPS), 2. mencatat bahwa sektor pertanian dan perdagangan menjadi penyumbang utama Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) senilai 4,11 triliun rupiah atau sekitar 16,82 persen dari total PDRB, namun potensi besar ini belum dikelola secara optimal karena ketergantungan struktural terhadap pasokan dari luar daerah yang memicu inflasi dan ketidakstabilan harga. Penelitian Ketjil et al. di Kecamatan Bolangitang Timur. Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, menemukan bahwa pasar tradisional telah berhasil meningkatkan kesejahteraan masyarakat meskipun belum optimal, karena banyaknya masyarakat yang menggantungkan penghidupannya di pasar tradisional dengan pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kajian pasar di daerah pedalaman Kalimantan Timur yang dilakukan pada tahun 2024 juga menunjukkan bahwa pendapatan pedagang di pasar-pasar tradisional pedalaman menjadi indikator penting kesejahteraan ekonomi dan mencerminkan kondisi sosial-ekonomi masyarakat sekitarnya, di mana jenis barang dagangan, harga, dan permintaan konsumen menjadi faktor-faktor penentu utama tingkat pendapatan pedagang. Dimensi gender dan modal sosial dalam ekosistem pasar tradisional juga telah banyak dikaji dalam literatur terkini. Kajian World Bank, . menegaskan bahwa wilayah-wilayah dengan pasar tradisional yang dikelola secara modern mengalami pertumbuhan ekonomi lokal yang lebih cepat, sekaligus membuka peluang yang lebih luas bagi perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi. Di Indonesia, mama-mama Papua dikenal sebagai tulang punggung pasar tradisional di wilayah pegunungan Papua, dengan peran ganda sebagai produsen hasil pertanian sekaligus pedagang yang menghubungkan produksi rumah tangga dengan pasar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam usaha mikro berbasis lokal seperti kerajinan tangan, usaha kuliner, dan produk berbasis sumber daya alam secara signifikan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, memperkuat kohesi sosial, dan melestarikan budaya lokal (Visiana, 2. Lebih jauh. Saharuddin et al. dan Wibawa et al. menegaskan bahwa pasar tradisional bukan sekadar ruang transaksi ekonomi, melainkan juga perwujudan warisan budaya yang memfasilitasi interaksi sosial, pertukaran pengetahuan, dan bahkan wacana komunitas, sehingga memiliki fungsi integratif yang melampaui dimensi ekonomi semata. Jaringan sosial antarpedagang yang terbentuk di dalam pasar tradisional terbukti menciptakan ekosistem ekonomi yang saling mendukung dan meningkatkan stabilitas pendapatan secara kolektif. Meskipun penelitian tentang pasar tradisional dan perannya dalam perekonomian lokal telah cukup banyak dilakukan, terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. yang signifikan, terutama pada konteks wilayah 3T . ertinggal, terdepan, dan terlua. di kawasan pegunungan Papua. Sebagian besar kajian yang ada terfokus pada wilayah Jawa. Sumatera, dan Sulawesi dengan kondisi infrastruktur yang relatif lebih baik, sehingga temuan-temuannya tidak serta2296 merta dapat digeneralisasikan ke wilayah seperti Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya, yang memiliki karakteristik geografis, sosial, dan ekonomi yang sangat berbeda. Selain itu, penelitian terdahulu umumnya lebih berfokus pada aspek pengelolaan dan revitalisasi pasar secara fisik, tanpa secara mendalam mengukur besaran pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat secara kuantitatif di wilayah pedalaman Papua Pegunungan. Kajian mengenai hubungan antara frekuensi berjualan, jenis dagangan, dan tingkat pendapatan pedagang di pasar tradisional yang berlokasi di daerah terpencil dengan biaya logistik tinggi juga masih sangat terbatas. Lebih jauh, belum ada penelitian yang secara spesifik menganalisis peran pemerintah daerah dalam merevitalisasi pasar tradisional di Kabupaten Lanny Jaya serta keterkaitannya dengan pemberdayaan ekonomi lokal masyarakat Papua Pegunungan, sehingga kesenjangan pengetahuan ini menjadi ruang yang perlu diisi oleh penelitian ilmiah yang komprehensif. Urgensi penelitian ini semakin menguat mengingat posisi Kabupaten Lanny Jaya sebagai daerah otonomi baru (DOB) di Provinsi Papua Pegunungan yang masih menghadapi tantangan kemiskinan, keterbatasan infrastruktur, dan tingginya biaya logistik. Distrik Tiom sebagai ibu kota kabupaten memiliki posisi strategis sebagai simpul layanan dan mobilitas orang serta barang dari dan ke distrik-distrik lain, sehingga dinamika ekonomi kabupaten sangat dipengaruhi oleh berfungsinya pasar tradisional di Tiom. Di sisi lain, pemerintah pusat melalui berbagai program percepatan pembangunan Papua telah mengalokasikan anggaran besar untuk infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat, namun tanpa pemahaman yang memadai tentang bagaimana pasar tradisional sesungguhnya berkontribusi terhadap ekonomi masyarakat lokal, kebijakan yang dihasilkan berisiko tidak tepat sasaran. Dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025Ae2029 yang menekankan pengurangan kemiskinan dan pemberdayaan UMKM di kawasan timur Indonesia (Bappenas, 2010, 2. , penelitian tentang pasar tradisional di Distrik Tiom menjadi sangat relevan sebagai landasan empiris penyusunan kebijakan yang berbasis bukti. Kondisi ini menjadikan penelitian ini mendesak dilakukan tidak hanya dari perspektif akademik, tetapi juga dari perspektif kebijakan publik, terutama dalam konteks penguatan ketahanan pangan, pengurangan kemiskinan, dan pemberdayaan ekonomi lokal di Papua Pegunungan. Kebaruan . penelitian ini terletak pada tiga aspek utama. Pertama, penelitian ini merupakan kajian kuantitatif deskriptif dengan desain asosiatif kausal yang pertama kali secara spesifik mengukur pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya, yang merupakan salah satu kabupaten di wilayah pegunungan Papua dengan kondisi geografis dan sosial-ekonomi yang unik. Kedua, penelitian ini tidak hanya mengkaji aspek pendapatan pedagang, tetapi juga mengintegrasikan variabel frekuensi berjualan, jenis dagangan, penciptaan lapangan kerja, serta modal sosial sebagai bagian dari analisis komprehensif dampak pasar tradisional terhadap perekonomian lokal. Ketiga, penelitian ini menganalisis peran pemerintah daerah dalam revitalisasi pasar tradisional di konteks wilayah 3T Papua Pegunungan, yang selama ini belum terdokumentasikan secara Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana pasar tradisional berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan, kesempatan kerja, dan kesejahteraan masyarakat di Distrik Tiom, sekaligus mengkaji peran pemerintah dalam pengembangan dan revitalisasi pasar tradisional di Kabupaten Lanny Jaya. Secara spesifik, penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan tentang besaran pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat, faktor-faktor pendukung dan penghambat operasional pasar, serta langkah-langkah strategis yang diperlukan untuk mengoptimalkan peran pasar tradisional sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi lokal. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat yang signifikan baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian ekonomi lokal dan ekonomi kelembagaan dengan memberikan bukti empiris dari konteks wilayah pedalaman Papua Pegunungan yang selama ini masih sangat terbatas dalam literatur ilmiah nasional maupun internasional. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya teori pembangunan ekonomi lokal dan teori ekonomi pembangunan mikro, khususnya dalam memahami bagaimana pasar tradisional berfungsi sebagai mekanisme pemberdayaan ekonomi masyarakat di wilayah terpencil dengan karakteristik biaya transaksi tinggi. Secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan yang berharga bagi pemerintah daerah Kabupaten Lanny Jaya dalam merumuskan kebijakan pengembangan pasar yang lebih efektif, berkelanjutan, dan sesuai dengan kebutuhan serta kondisi masyarakat setempat. Selain itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan bagi pemerintah provinsi Papua Pegunungan dan pemerintah pusat dalam merancang program revitalisasi pasar dan pemberdayaan UMKM yang lebih tepat sasaran di kawasan 3T. Bagi masyarakat dan pedagang di Distrik Tiom, penelitian ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kesadaran tentang pentingnya partisipasi aktif dalam pengelolaan dan pengembangan pasar tradisional sebagai pilar utama ekonomi daerah, sehingga pasar tradisional di Distrik Tiom dapat berkembang menjadi instrumen strategis pembangunan ekonomi dan sosial, bukan sekadar tempat transaksi jual beli semata. METODE PENELITIAN Jenis dan Pendekatan Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain asosiatif kausal . endekatan ilmiah yang bertujuan untuk menemukan hubungan atau korelasi antara dua atau lebih variabe. , yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh atau hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Menurut Sugiyono . , penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang datanya berupa angka dan dianalisis menggunakan teknik statistik untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Alasan pemilihan pendekatan kuantitatif adalah karena penelitian ini ingin mengukur besarnya pengaruh pasar tradisional (X) terhadap peningkatan ekonomi masyarakat (Y) berdasarkan data yang dapat dikuantifikasi, seperti tingkat pendapatan, jumlah lapangan kerja, dan daya beli masyarakat. Jika diperlukan pendalaman konteks sosial dan budaya di Distrik Tiom, penelitian ini dapat dilengkapi dengan unsur kualitatif melalui wawancara dan observasi lapangan . endekatan mixed method. sebagaimana dianjurkan oleh Creswell . , untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Distrik Tiom Kabupaten Lanny Jaya. Papua Pegunungan, karena wilayah ini merupakan pusat aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Pasar tradisional Distrik Tiom menjadi objek utama penelitian karena berperan sebagai sentra perdagangan lokal yang memengaruhi perekonomian masyarakat. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Lanny Jaya dengan fokus pada lokasi Pasar Tradisional Tiom sebagai objek utama kajian. Rangkaian kegiatan penelitian dimulai dari tahap persiapan, yang meliputi studi literatur, penyusunan proposal, konsultasi dengan dosen pembimbing, pengurusan izin penelitian, serta penyusunan dan uji coba instrumen penelitian. Selanjutnya, pada tahap pengumpulan data lapangan dilakukan observasi langsung terhadap kondisi pasar, penyebaran kuesioner kepada pedagang, pembeli, dan pengelola pasar, wawancara mendalam dengan pihak terkait seperti dinas perdagangan dan tokoh masyarakat, serta pengumpulan data sekunder dari sumber resmi. Tahap berikutnya adalah pengolahan dan analisis data yang mencakup proses input, pembersihan, dan interpretasi data berdasarkan teori dan penelitian terdahulu. Setelah itu, dilakukan penyusunan laporan penelitian yang meliputi penulisan hasil dan pembahasan serta kesimpulan dan saran, disertai proses konsultasi dan revisi. Tahap akhir penelitian mencakup finalisasi laporan, pelaksanaan seminar hasil atau sidang, serta revisi pasca-sidang sesuai dengan masukan dari penguji. Populasi dan Sample Penelitian Populasi dalam penelitian ini mengacu pada seluruh objek atau subjek yang memiliki karakteristik tertentu sesuai dengan pendapat Arikunto . , yang meliputi pedagang tetap dan tidak tetap di pasar tradisional Distrik Tiom, pengelola pasar serta pihak yang terlibat dalam pengelolaan, dan konsumen atau pembeli yang beraktivitas di pasar. Jika tersedia, jumlah populasi didasarkan pada data resmi dari dinas terkait atau pengelola pasar. Karena populasi bersifat besar dan heterogen, teknik penentuan sampel yang digunakan adalah probability sampling dengan metode simple random sampling, atau purposive sampling jika penelitian difokuskan pada kelompok tertentu seperti pedagang. Adapun ukuran sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin, yaitu n = N / . A)), di mana n adalah jumlah sampel. N adalah jumlah populasi, dan e adalah tingkat kesalahan yang ditoleransi sebesar 0,05. Jenis dan Sumber Data Penelitian ini menggunakan dua jenis data, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari skor hasil kuesioner, data pendapatan, serta jumlah tenaga kerja, sedangkan data kualitatif bersifat opsional yang bersumber dari narasi wawancara dan observasi lapangan guna memperdalam pemahaman konteks penelitian. Adapun sumber data yang digunakan mencakup data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh secara langsung dari responden melalui kuesioner dan wawancara, sementara data sekunder bersumber dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS), dokumen Dinas Perdagangan, serta berbagai literatur ilmiah yang relevan dengan topik penelitian. Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui empat teknik yang saling Pertama, kuesioner yang berisi pertanyaan tertutup digunakan untuk mengukur seluruh indikator variabel penelitian secara terstruktur. Kedua, wawancara dilakukan dengan pengelola pasar dan tokoh masyarakat untuk memperoleh informasi yang lebih mendalam mengenai konteks dan dinamika pasar tradisional di Distrik Tiom. Ketiga, observasi lapangan dilaksanakan untuk mengamati secara langsung kondisi fasilitas pasar dan aktivitas perdagangan yang berlangsung. Keempat, dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data statistik PDRB, kontribusi sektor perdagangan, serta berbagai kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan pasar tradisional. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan Hasil Penelitian Bab ini membahas hasil penelitian mengenai pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya. Pembahasan dilakukan dengan mengaitkan hasil penelitian dengan teori ekonomi lokal, pasar tradisional, dan pemberdayaan masyarakat, serta menginterpretasikan data yang telah diperoleh pada Bab 3 dan 4. Pengaruh Pasar Tradisional terhadap Pendapatan Masyarakat Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasar tradisional memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Data kuantitatif menunjukkan bahwa 75% pedagang mengalami peningkatan pendapatan setelah berjualan di pasar tradisional, dengan rata-rata peningkatan 20Ae30% per minggu. Tabel 1. Peningkatan Pendapatan Pedagang Pendapatan/Minggu (R. < 500. 000Ae1. 001Ae1. > 1. Sebelum Berjualan Sesudah Berjualan Peningkatan (%) -50% 66,7% Berdasarkan Tabel 1, pasar tradisional di Distrik Tiom terbukti memberikan pengaruh signifikan terhadap pendapatan pedagang. Sebelum adanya pasar, sebanyak 40% pedagang memperoleh pendapatan kurang dari Rp 500. 000 per minggu. Setelah berjualan di pasar, persentase ini menurun drastis menjadi 20%, menandakan bahwa banyak pedagang berhasil keluar dari kategori pendapatan rendah, atau mengalami peningkatan ekonomi yang nyata. Kategori pendapatan Rp 500. 000Ae1. 000 menunjukkan peningkatan paling signifikan, dari 30% menjadi 50% pedagang, atau naik sebesar 66,7%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang berhasil naik ke tingkat pendapatan menengah setelah memanfaatkan pasar sebagai sarana jual beli yang efektif. Sementara itu, kategori pendapatan tinggi, yaitu Rp 1. 001Ae1. 000 dan >1. 000, tetap stabil . asing-masing 20% dan 10%). Meskipun tidak ada perubahan persentase, stabilitas ini menunjukkan bahwa pedagang yang sebelumnya sudah memiliki pendapatan tinggi mampu mempertahankan penghasilannya dengan baik, sehingga tidak mengalami penurunan. Secara keseluruhan, data ini menunjukkan adanya peningkatan ekonomi yang nyata dibanding kondisi awal. Pasar tradisional telah berperan sebagai motor penggerak pendapatan masyarakat, meningkatkan kesejahteraan pedagang, mengurangi jumlah pedagang berpendapatan rendah, dan memperluas jumlah pedagang berpendapatan menengah. Hal ini menegaskan pentingnya keberadaan pasar tradisional dalam mendukung ekonomi lokal dan pemberdayaan masyarakat di Distrik Tiom. Hasil analisis menunjukkan adanya pergeseran distribusi pendapatan pedagang ke arah yang lebih tinggi setelah berjualan di pasar tradisional. Sebelum berjualan, sebagian besar pedagang berada pada kelompok pendapatan rendah, yaitu di bawah Rp 500. 000 sebesar 40%, namun setelah berjualan persentase tersebut menurun menjadi 20%, yang menandakan adanya peningkatan pendapatan. Sebaliknya, kelompok pendapatan Rp 500. 000AeRp 1. mengalami peningkatan signifikan dari 30% menjadi 50% dan menjadi kategori yang paling Sementara itu, kelompok pendapatan di atas Rp 1. 000 tidak mengalami perubahan yang signifikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa peningkatan pendapatan terutama terjadi pada pedagang dari kelompok berpenghasilan rendah ke menengah. Hubungan Frekuensi Berjualan dengan Pendapatan Data penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara frekuensi berjualan dan peningkatan pendapatan. Pedagang yang berjualan lebih dari 5 hari per minggu cenderung memiliki pendapatan lebih tinggi dibanding pedagang yang hanya berjualan 1Ae2 hari per Tabel 2. Hubungan Frekuensi Berjualan dan Rata-rata Pendapatan Frekuensi Berjualan/Minggu 1Ae2 hari 3Ae4 hari 5Ae6 hari 7 hari Jumlah Pedagang Rata-rata Pendapatan (R. Berdasarkan Tabel 2, data menunjukkan hubungan positif yang jelas antara frekuensi berjualan dan pendapatan pedagang di pasar tradisional Distrik Tiom. Pedagang yang berjualan 1Ae2 hari per minggu memiliki rata-rata pendapatan Rp 650. 000, sedangkan pedagang yang berjualan 3Ae4 hari memperoleh Rp 900. 000 per minggu. Pedagang yang berjualan 5Ae6 hari rata-rata memperoleh Rp 1. 000, dan pedagang yang berjualan setiap hari . mencapai Rp 1. 000 per minggu. Jika dibandingkan dengan keadaan awal, kemungkinan pedagang sebelumnya hanya berjualan beberapa hari dalam seminggu dengan pendapatan yang relatif Saat ini, peningkatan frekuensi berjualan telah mendorong kenaikan pendapatan secara Pedagang yang meningkatkan hari berjualan dari 1Ae2 hari menjadi 3Ae4 atau lebih hari per minggu menunjukkan peningkatan pendapatan yang nyata, menandakan bahwa intensitas berjualan menjadi faktor utama dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi Hal ini juga menunjukkan bahwa pasar tradisional telah memberikan kesempatan bagi pedagang untuk mengoptimalkan potensi usaha mereka. Pedagang yang berjualan lebih sering tidak hanya memperoleh pendapatan lebih tinggi, tetapi juga memperkuat stabilitas ekonomi mereka dibanding kondisi awal. Secara keseluruhan, data ini menegaskan bahwa peningkatan frekuensi berjualan merupakan salah satu faktor kunci yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan pedagang di Distrik Tiom. Berikut diagram PIE lengkap dan benar untuk Tabel 4. 13 Hubungan Frekuensi Berjualan dan Rata-rata Pendapatan . erdasarkan jumlah pedagan. Gambar 1. Diagram Hubungan Frekuensi Berjualan dan Rata-rata Pendapatan Keterangan: 1Ae2 hari = 25 orang . %) Ie 90A 3Ae4 hari = 35 orang . %) Ie 126A 5Ae6 hari = 25 orang . %) Ie 90A 7 hari = 15 orang . %) Ie 54A Diagram menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang berjualan selama 3Ae4 hari per minggu . %), diikuti oleh kelompok 1Ae2 hari dan 5Ae6 hari yang masing-masing sebesar 25%. Sementara itu, pedagang yang berjualan setiap hari . memiliki proporsi paling kecil yaitu Hanya saja nanti, jika dikaitkan dengan rata-rata pendapatan, terlihat bahwa semakin sering pedagang berjualan, semakin tinggi pendapatan yang diperoleh. Pedagang yang berjualan 7 hari per minggu memiliki rata-rata pendapatan tertinggi (Rp 1. , sedangkan yang berjualan 1Ae2 hari memiliki pendapatan terendah (Rp 650. Hal ini menunjukkan adanya hubungan positif antara berjualan dan peningkatan pendapatan. Pengaruh Jenis Dagangan terhadap Pendapatan Jenis dagangan juga menjadi faktor penting. Berdasarkan data, pedagang yang menjual kerajinan lokal dan makanan & minuman mendapatkan peningkatan pendapatan tertinggi dibanding pedagang yang menjual pakaian atau sayur-buah. Tabel 3. Rata-rata Pendapatan Pedagang Berdasarkan Jenis Dagangan Jenis Dagangan Makanan & Minuman Sayur & Buah Pakaian & Aksesoris Kerajinan Lokal Jasa . ngkutan & lai. Jumlah Pedagang Rata-rata Pendapatan/Minggu (R. Peningkatan (%) Berdasarkan Tabel 3, jenis dagangan memengaruhi tingkat pendapatan pedagang di pasar tradisional Distrik Tiom. Pedagang kerajinan lokal, meskipun jumlahnya relatif sedikit . , memperoleh rata-rata pendapatan tertinggi sebesar Rp 1. 000 per minggu dengan peningkatan 30%, menunjukkan bahwa produk kreatif dan unik memiliki nilai jual yang tinggi dan memberikan dampak ekonomi signifikan. Pedagang makanan & minuman . juga mengalami peningkatan pendapatan yang cukup besar, mencapai rata-rata Rp 000 per minggu dengan kenaikan 25%. Pedagang jasa seperti angkutan dan layanan lain memperoleh Rp 1. 000 per minggu dengan peningkatan 22%, sedangkan pedagang sayur & buah rata-rata Rp 900. 000 per minggu . aik 20%), dan pedagang pakaian & aksesoris Rp 000 per minggu . aik 15%). Jika dibandingkan dengan keadaan awal, semua jenis dagangan menunjukkan peningkatan pendapatan. Peningkatan tertinggi pada kerajinan lokal dan makanan & minuman menandakan bahwa pedagang yang menawarkan produk bernilai tambah lebih tinggi atau kebutuhan pokok yang stabil mengalami pertumbuhan ekonomi lebih Sebaliknya, jenis dagangan seperti pakaian & aksesoris mengalami peningkatan lebih moderat, menunjukkan variasi pengaruh jenis dagangan terhadap pendapatan pedagang. Secara keseluruhan, pasar tradisional telah mendorong peningkatan pendapatan bagi pedagang dari berbagai jenis dagangan. Keberagaman produk memungkinkan pedagang memilih strategi dagang yang paling menguntungkan, sehingga menunjukkan dampak ekonomi positif dibanding kondisi awal. Diagram rata-rata pendapatan pedagang berdasarkan jenis dagangan menunjukkan bahwa sektor makanan dan minuman mendominasi jumlah pedagang dengan persentase 33,3%, diikuti oleh sayur dan buah sebesar 25% serta pakaian dan aksesoris sebesar 20,8%. Sementara itu, kerajinan lokal dan jasa memiliki jumlah pedagang yang lebih sedikit, masingmasing sebesar 12,5% dan 8,3%. Meskipun demikian, sektor kerajinan lokal justru mencatat peningkatan pendapatan tertinggi dan rata-rata pendapatan terbesar, diikuti oleh sektor jasa yang juga memiliki pendapatan relatif tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa jenis dagangan sangat memengaruhi tingkat pendapatan pedagang, di mana usaha dengan nilai tambah lebih tinggi cenderung menghasilkan pendapatan yang lebih besar meskipun jumlah pelakunya lebih sedikit dibandingkan sektor lainnya. Peran Pasar Tradisional dalam Penciptaan Lapangan Kerja Selain peningkatan pendapatan, pasar tradisional juga memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja tambahan. Data kualitatif dari wawancara menunjukkan bahwa: Sekitar 35% responden mendapatkan pekerjaan tambahan melalui pasar, seperti jasa transportasi, warung makan, dan logistik. Pasar tradisional menjadi pusat kegiatan ekonomi informal yang membantu masyarakat mendapatkan penghasilan tambahan. Hal ini konsisten dengan teori pembangunan ekonomi lokal yang menyatakan bahwa pasar tradisional berperan sebagai pusat distribusi pendapatan dan penciptaan lapangan kerja mikro, terutama di daerah pedesaan dengan keterbatasan industri formal. Faktor Penunjang dan Hambatan Pasar Tradisional Penelitian ini juga menemukan beberapa faktor penunjang dan hambatan yang memengaruhi efektivitas pasar tradisional: Faktor Penunjang: Lokasi strategis pasar yang mudah dijangkau. Frekuensi pengunjung yang tinggi, terutama pada hari pasar mingguan. Dukungan pemerintah berupa fasilitas dasar . eski masih terbata. Adanya jaringan sosial yang kuat antarpedagang dan masyarakat. Hambatan: Fasilitas pasar yang terbatas . oilet, tempat sampah, tempat parki. Transportasi dan akses logistik yang belum memadai. Fluktuasi harga bahan baku dan persaingan antar pedagang. Kurangnya modal bagi pedagang baru untuk mengembangkan usaha. Kendala ini menunjukkan bahwa meskipun pasar tradisional memiliki pengaruh positif, optimalisasi fasilitas dan dukungan pemerintah diperlukan untuk meningkatkan efektivitas pasar dalam mendorong ekonomi masyarakat. Integrasi Data Kuantitatif dan Kualitatif Berdasarkan integrasi hasil kuantitatif dan kualitatif, pembahasan dapat disimpulkan: Pasar tradisional berfungsi sebagai pusat perputaran modal mikro, yang meningkatkan pendapatan pedagang dan masyarakat sekitar. Frekuensi berjualan dan jenis dagangan merupakan faktor determinan utama peningkatan Pasar tradisional juga membuka lapangan kerja tambahan melalui aktivitas jasa pendukung, transportasi, dan penjualan makanan. Kegiatan pasar tradisional memberikan dampak sosial-ekonomi, seperti memperkuat jaringan sosial, meningkatkan keterampilan negosiasi, dan memotivasi masyarakat untuk Implikasi Teoritis dan Praktis Implikasi Teoritis: Hasil penelitian memperkuat teori ekonomi lokal dan teori pembangunan mikro, yaitu bahwa pasar tradisional menjadi pusat pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal, terutama dalam sektor informal. Menunjukkan bahwa pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi, tetapi juga sebagai mekanisme pemberdayaan ekonomi masyarakat. Implikasi Praktis: Pemerintah daerah perlu meningkatkan fasilitas pasar untuk mendukung kenyamanan pedagang dan pengunjung. Peningkatan akses transportasi dan jaringan distribusi akan memperluas jangkauan Pelatihan manajemen usaha bagi pedagang baru dapat meningkatkan efisiensi dan Kesimpulan dan Pembahasan Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa: Pasar tradisional memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Distrik Tiom. Pedagang dengan frekuensi berjualan tinggi dan jenis dagangan yang memiliki margin keuntungan besar mendapatkan manfaat ekonomi terbesar. Pasar tradisional juga membuka lapangan kerja tambahan, memperkuat jaringan sosial, dan meningkatkan keterampilan ekonomi masyarakat. Optimalisasi fasilitas pasar dan dukungan pemerintah akan memperkuat peran pasar tradisional dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan demikian, pasar tradisional bukan hanya sarana perdagangan, tetapi juga alat penting untuk pemberdayaan ekonomi lokal di Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya. Faktor Pendukung dan Penghambat Pasar Tradisional Bab ini membahas faktor-faktor yang mendukung dan menghambat operasional pasar tradisional di Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya. Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran lengkap mengenai kondisi internal dan eksternal pasar yang memengaruhi keberhasilan pasar tradisional dalam meningkatkan ekonomi masyarakat. Data diperoleh melalui survei 100 responden pedagang dan pembeli, wawancara mendalam dengan 20 pedagang, dan observasi lapangan. Faktor-faktor dibagi menjadi dua kategori: pendukung dan penghambat, masing-masing dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Faktor Pendukung Pasar Tradisional Hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor utama yang mendukung keberhasilan pasar tradisional, yaitu: Lokasi Strategis Pasar tradisional di Distrik Tiom berada di pusat distrik, sehingga mudah dijangkau oleh pedagang dan pengunjung. Data survei menunjukkan: Tabel 4. Persepsi Responden tentang Lokai Pasar Persepsi Lokasi Pasar Sangat Strategis Strategis Cukup Strategis Kurang Strategis Total Responden Jumlah Responden Persentase (%) Jumlah responden: 40 35 15 10 = 100 responden Persentase Karena total responden = 100, maka persentasenya: Sangat Strategis = 40 / 100 y 100% = 40% Strategis = 35 / 100 y 100% = 35% Cukup Strategis = 15 / 100 y 100% = 15% Kurang Strategis = 10 / 100 y 100% = 10% Kesimpulan Total responden: 100 orang Total persentase: 40% 35% 15% 10% = 100% Sebagian besar responden . %) menilai lokasi pasar sangat strategis atau strategis, sehingga memudahkan mobilitas pedagang dan pengunjung, meningkatkan frekuensi transaksi, dan mendorong perputaran ekonomi lokal. Berdasarkan hasil survei pada Tabel 4, dapat dilihat bahwa mayoritas responden menilai lokasi pasar tradisional di Distrik Tiom berada pada kategori strategis. Sebanyak 40% responden menyatakan lokasi pasar sangat strategis dan 35% menyatakan strategis. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum pasar telah berada pada posisi yang mudah dijangkau dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat. Jika dibandingkan dengan kondisi awal, lokasi pasar sebelumnya kemungkinan belum dimanfaatkan secara optimal, baik dari segi aksesibilitas, kedekatan dengan pusat aktivitas masyarakat, maupun kemudahan transportasi. Hal ini menyebabkan sebagian masyarakat mungkin mengalami kesulitan dalam menjangkau pasar atau kurang tertarik untuk beraktivitas di dalamnya. Namun, seiring dengan perkembangan wilayah dan penataan yang dilakukan, kondisi pasar saat ini menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan. Hal ini tercermin dari tingginya persentase responden yang memberikan penilaian sangat strategis dan strategis . otal 75%). Peningkatan ini dapat disebabkan oleh perbaikan infrastruktur jalan, penataan lokasi yang lebih terpusat, serta meningkatnya aktivitas ekonomi di sekitar pasar. Meskipun demikian, masih terdapat 15% responden yang menilai cukup strategis dan 10% kurang strategis. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada beberapa kendala yang perlu diperhatikan, seperti akses bagi wilayah tertentu, fasilitas pendukung, atau kondisi transportasi yang belum merata. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan persepsi masyarakat terhadap lokasi pasar tradisional di Distrik Tiom, dari kondisi awal yang mungkin kurang optimal menjadi lebih strategis dan mendukung kegiatan perdagangan. Berikut diagram untuk Tabel 4 Persepsi Responden tentang Lokasi Pasar. Gambar 2. Persepsi Responden tentang Lokasi Pasar Keterangan: Sangat Strategis = 40 responden . %) Ie 144A Strategis = 35 responden . %) Ie 126A Cukup Strategis = 15 responden . %) Ie 54A Kurang Strategis = 10 responden . %) Ie 36A Berdasarkan diagram, sebagian besar responden menilai lokasi pasar sangat strategis . %) dan strategis . %), sehingga total 75% responden memiliki persepsi positif terhadap lokasi pasar. Sementara itu, hanya 25% responden yang menilai lokasi pasar cukup atau kurang Hal ini menunjukkan bahwa secara umum lokasi pasar sudah mendukung aktivitas perdagangan dan berpotensi meningkatkan pendapatan pedagang. Frekuensi Pengunjung Tinggi Frekuensi pengunjung pasar menjadi faktor penting. Berdasarkan observasi: Rata-rata pengunjung pasar per hari: 250 orang Hari puncak pasar (Sabt. : 500 orang Tabel 5. Frekuensi Pengunjung Pasar Hari SeninAeJumat Sabtu . ari pasa. Minggu Jumlah Pengunjung 150Ae250 Persentase (%) Tingginya jumlah pengunjung mendukung pendapatan pedagang dan meningkatkan daya tarik pasar tradisional sebagai pusat ekonomi lokal. Berdasarkan Tabel 5, frekuensi pengunjung pasar di Distrik Tiom menunjukkan adanya peningkatan aktivitas yang cukup signifikan, terutama pada hari-hari tertentu. Pada hari Senin hingga Jumat, jumlah pengunjung berkisar antara 150Ae250 orang dengan persentase sebesar Sementara itu, pada hari Sabtu sebagai hari pasar, jumlah pengunjung meningkat tajam hingga mencapai 500 orang atau sebesar 35%. Adapun pada hari Minggu, jumlah pengunjung tercatat sekitar 200 orang dengan persentase 15%. Jika dibandingkan dengan kondisi awal, frekuensi kunjungan pasar kemungkinan masih relatif rendah dan belum merata setiap harinya. Hal ini dapat disebabkan oleh keterbatasan fasilitas, kurangnya daya tarik pasar, serta belum optimalnya peran pasar sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat. Namun, kondisi saat ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup jelas, khususnya pada hari Sabtu yang menjadi puncak aktivitas pasar. Meningkatnya jumlah pengunjung pada hari pasar menunjukkan bahwa pasar telah berfungsi dengan baik sebagai pusat perdagangan dan interaksi masyarakat. Hal ini juga mengindikasikan adanya peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap pasar serta bertambahnya pedagang yang berpartisipasi. Selain itu, kunjungan yang tetap stabil pada hari kerja (SeninAeJuma. menunjukkan bahwa pasar tidak hanya ramai pada hari tertentu, tetapi juga mulai aktif secara berkelanjutan. Ini menandakan adanya perkembangan positif dalam aktivitas ekonomi harian masyarakat. Meskipun demikian, perbedaan jumlah pengunjung antar hari menunjukkan bahwa masih terdapat peluang untuk meningkatkan kunjungan di luar hari pasar, misalnya melalui penambahan fasilitas, peningkatan kenyamanan, atau pengelolaan pasar yang lebih baik. Secara keseluruhan, data tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan frekuensi pengunjung pasar dari kondisi awal ke kondisi saat ini, yang mencerminkan berkembangnya fungsi pasar sebagai pusat ekonomi di Distrik Tiom. Berikut diagram untuk Tabel 5 Frekuensi Pengunjung Pasar. Gambar 3. Diagram Frekuensi Pengunjung Pasar Keterangan: SeninAeJumat = 50% Ie 180A Sabtu . ari pasa. = 35% Ie 126A Minggu = 15% Ie 54A Diagram menunjukkan bahwa mayoritas pengunjung pasar terjadi pada hari kerja (SeninAeJuma. dengan persentase 50%, yang menunjukkan aktivitas pasar cukup stabil setiap Hari Sabtu sebagai hari pasar menyumbang 35% pengunjung, menunjukkan adanya lonjakan aktivitas pada hari tertentu. Sementara itu, hari Minggu memiliki jumlah pengunjung terendah yaitu 15%, yang mengindikasikan aktivitas pasar cenderung menurun pada akhir Dukungan Modal dan Keterampilan Hasil survei menunjukkan pedagang memiliki akses modal dari berbagai sumber: Tabel 6. Sumber Modal Pedagang Sumber Modal Tabungan Pribadi Pinjaman Keluarga Koperasi/Bank Mikro Jumlah Pedagang Persentase (%) Selain modal, pedagang juga memiliki keterampilan dasar berdagang, negosiasi, dan pemasaran, sehingga mampu memaksimalkan penjualan dan pendapatan. Wawancara menunjukkan: AuDengan modal tabungan sendiri, saya bisa memulai usaha kecil di pasar. Pengalaman berjualan membuat saya semakin percaya diri untuk mengembangkan usaha. Ay Berdasarkan Tabel 6, dapat diketahui bahwa sebagian besar pedagang di pasar Distrik Tiom memperoleh modal usaha dari tabungan pribadi, yaitu sebesar 60%. Selain itu, 25% pedagang memanfaatkan pinjaman dari keluarga, dan 15% lainnya memperoleh modal dari koperasi atau bank mikro. Data ini menunjukkan bahwa sumber modal pedagang cukup beragam, meskipun masih didominasi oleh sumber internal. Jika dibandingkan dengan kondisi awal, akses terhadap modal kemungkinan masih sangat terbatas dan bergantung pada kemampuan individu masing-masing pedagang. Pada tahap awal, banyak pedagang yang kesulitan mengembangkan usaha karena keterbatasan dana serta minimnya akses terhadap lembaga keuangan formal. Namun, kondisi saat ini menunjukkan adanya peningkatan, terutama dengan mulai dimanfaatkannya koperasi dan bank mikro sebagai sumber permodalan, meskipun persentasenya masih 15%. Hal ini mengindikasikan bahwa pedagang sudah mulai mengenal dan memanfaatkan lembaga keuangan untuk mendukung perkembangan usaha Selain itu, dukungan dari keluarga juga masih menjadi salah satu faktor penting dalam membantu permodalan usaha. Dominasi tabungan pribadi menunjukkan bahwa tingkat kemandirian pedagang cukup tinggi, namun di sisi lain juga mencerminkan bahwa akses terhadap pembiayaan eksternal masih perlu ditingkatkan. Dengan adanya peningkatan akses modal dan kemungkinan diiringi dengan peningkatan keterampilan dalam mengelola usaha, pedagang memiliki peluang yang lebih besar untuk mengembangkan usahanya. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan dalam hal dukungan modal bagi pedagang di pasar Distrik Tiom, dari kondisi awal yang terbatas menjadi lebih beragam, meskipun masih perlu upaya lebih lanjut untuk meningkatkan akses terhadap lembaga keuangan formal dan penguatan keterampilan usaha. Berikut diagram untuk Tabel 7 Sumber Modal Pedagang. Gambar 4. Diagram Sumber Modal Pedagang Keteranga: Tabungan Pribadi = 60 orang . %) Ie 216A Pinjaman Keluarga = 25 orang . %) Ie 90A Koperasi/Bank Mikro = 15 orang . %) Ie 54A Diagram menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang menggunakan tabungan pribadi . %) sebagai sumber modal utama dalam memulai usaha di pasar. Hal ini menunjukkan tingkat kemandirian finansial yang cukup tinggi di kalangan pedagang. Sementara itu, 25% pedagang menggunakan pinjaman keluarga, yang menunjukkan adanya dukungan sosial dalam permodalan usaha. Adapun 15% pedagang menggunakan koperasi atau bank mikro, yang menandakan bahwa akses terhadap lembaga keuangan formal masih relatif terbatas. Jarinagn Sosial dan Kerja Sama Jaringan sosial antar pedagang dan masyarakat mendukung kelancaran transaksi dan keamanan pasar. Berdasarkan data kualitatif: 80% pedagang merasa terbantu oleh kerja sama sesama pedagang, misalnya saling meminjam modal, berbagi informasi harga, dan menjaga keamanan pasar. Hal ini menciptakan ekosistem pasar yang saling mendukung, meningkatkan stabilitas pendapatan pedagang. Ketersediaan Barang Lokal Pasar tradisional di Tiom menyediakan barang kebutuhan pokok dan produk lokal. Hasil pertanian . ayur, buah, kopi, jagun. Kerajinan tangan lokal . as, anyaman, ukiran kay. Makanan & minuman lokal Sekitar 85% pengunjung merasa puas dengan ketersediaan barang dan variasi produk. Ketersediaan barang lokal mendukung daya tarik pasar dan meningkatkan transaksi ekonomi. Faktor Penghambat Pasar Tradisional Meskipun pasar tradisional memiliki banyak faktor pendukung, terdapat sejumlah hambatan yang mempengaruhi optimalisasi fungsinya: Fasilitas Pasar Terbatas Hasil observasi menunjukkan beberapa keterbatasan fasilitas: Toilet terbatas: hanya 2 unit untuk seluruh pedagang dan pengunjung. Tempat sampah tidak memadai, sehingga kebersihan pasar kurang terjaga. Area parkir sempit, menyebabkan kemacetan saat hari pasar. Tabel 7. Penilaian Fasilitas Pasar oleh Responden Fasilitas Toilet Tempat Sampah Area Parkir Sangat Memadai Memadai Cukup Kurang Memadai Kondisi ini menghambat kenyamanan pedagang dan pengunjung, yang dapat berdampak pada jumlah transaksi. Berdasarkan Tabel 7, penilaian responden terhadap fasilitas pasar di Distrik Tiom menunjukkan bahwa kondisi fasilitas masih beragam, namun sudah mengalami beberapa peningkatan dibandingkan keadaan awal. Untuk fasilitas toilet, hanya 10% responden yang menilai sangat memadai dan 20% memadai, sementara 30% menilai cukup dan 40% masih kurang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun telah ada perbaikan, fasilitas toilet masih perlu mendapat perhatian lebih. Pada fasilitas tempat sampah, sebagian besar responden . %) menilai kurang memadai, sementara hanya 5% yang menilai sangat memadai dan 15% memadai. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pengelolaan kebersihan pasar masih menjadi salah satu kendala utama, meskipun kemungkinan sudah ada upaya penyediaan fasilitas dibandingkan kondisi awal yang mungkin lebih terbatas. Sementara itu, untuk area parkir, penilaian responden relatif lebih baik. Sebanyak 10% menilai sangat memadai, 25% memadai, dan 30% cukup, sedangkan 35% masih menilai kurang memadai. Hal ini menunjukkan bahwa fasilitas parkir telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan sebelumnya, walaupun belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan seluruh pengunjung. Jika dibandingkan dengan kondisi awal, fasilitas pasar kemungkinan masih sangat terbatas baik dari segi jumlah maupun kualitas. Seiring waktu, telah dilakukan berbagai upaya perbaikan dan penambahan fasilitas sehingga sebagian responden mulai merasakan adanya peningkatan, khususnya pada area parkir dan ketersediaan toilet. Namun demikian, tingginya persentase penilaian AucukupAy dan Aukurang memadaiAy menunjukkan bahwa peningkatan yang terjadi belum merata dan masih perlu ditingkatkan. Perlu adanya perhatian lebih dari pengelola pasar dan pemerintah setempat untuk memperbaiki fasilitas dasar seperti toilet dan tempat sampah guna meningkatkan kenyamanan dan kebersihan lingkungan pasar. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan fasilitas pasar dibandingkan kondisi awal, tetapi kualitas dan ketersediaannya masih belum optimal dan memerlukan pengembangan lebih lanjut agar dapat memenuhi kebutuhan pedagang dan pengunjung secara maksimal. Karena Tabel 8 memiliki 3 jenis fasilitas, maka diagram dibuat 3 diagram pie terpisah . asing-masing fasilita. , supaya hasilnya valid dan tidak tercampur. Gambar 5. Diagram Penilaian Fasilitas Toilet Keterangan: Sangat Memadai = 10% Ie 36A Memadai = 20% Ie 72A Cukup = 30% Ie 108A Kurang Memadai = 40% Ie 144A Gambar 6. Diagram Penilaian Tempat Sampah Keterangan: Sangat Memadai = 5% Ie 18A Memadai = 15% Ie 54A Cukup = 25% Ie 90A Kurang Memadai = 55% Ie 198A Gambar 7. Diagram Penilaian Area Parkir Keterangan: Sangat Memadai = 10% Ie 36A Memadai = 25% Ie 90A Cukup = 30% Ie 108A Kurang Memadai = 35% Ie 126A Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar fasilitas pasar masih berada pada kategori AucukupAy hingga Aukurang memadaiAy. Fasilitas toilet didominasi kategori kurang memadai . %), menunjukkan perlunya perbaikan kebersihan dan jumlah fasilitas. Tempat sampah memiliki kondisi paling buruk dengan 55% responden menilai kurang memadai, yang mengindikasikan masalah kebersihan pasar. Area parkir relatif lebih baik, namun masih didominasi penilaian cukup . %) dan kurang memadai . %). Secara keseluruhan, fasilitas pasar masih membutuhkan peningkatan signifikan untuk mendukung kenyamanan pengunjung dan pedagang. Transportasi dan Akses Logistik Terbatas Akses jalan ke pasar sebagian besar berupa jalan tanah, sulit dilalui saat hujan. Dampaknya: Beberapa pedagang mengaku kesulitan membawa hasil panen ke pasar. Pengunjung dari desa terpencil enggan datang karena medan sulit. Sekitar 30% pedagang melaporkan kendala transportasi sebagai faktor penghambat Fluktuasi Harga dan Persaingan Fluktuasi harga bahan baku menjadi kendala utama: Pedagang sayur dan buah menghadapi harga jual yang berubah-ubah setiap minggu. Persaingan antar pedagang dengan jenis dagangan sama menyebabkan margin keuntungan menurun. Data survei: 40% pedagang mengaku harga bahan baku menjadi hambatan utama. 25% mengaku persaingan antar pedagang mengurangi pendapatan. Modal terbatas bagi Pendatang Baru Pedagang baru dengan modal kecil kesulitan bersaing dengan pedagang lama. Data 20% pedagang baru merasa kesulitan memperoleh modal untuk membeli bahan dagangan atau memperluas usaha. Hal ini membatasi kapasitas produksi dan potensi pendapatan mereka. Integrasi Data Pendukung dan Penghambat Berdasarkan hasil survei, wawancara, dan observasi, gambaran faktor pendukung dan penghambat dapat dirangkum sebagai berikut: Tabel 8. Ringkasan Faktor Pendukung dan Penghambat Pasar Tradisional Faktor Lokasi & Akses Frekuensi Pengunjung Modal & Keterampilan Jaringan Sosial Fasilitas Pasar Transportasi & Logistik Fluktuasi Harga Persaingan Dagangan Pendukung (%) Penghambat (%) Interpretasi: Faktor pendukung lebih dominan dibanding penghambat, sehingga pasar tradisional tetap berperan signifikan dalam peningkatan ekonomi masyarakat, meskipun terdapat beberapa kendala yang perlu diperbaiki. Berdasarkan Tabel 8, integrasi data dari hasil survei, wawancara, dan observasi menunjukkan bahwa secara umum kondisi pasar tradisional di Distrik Tiom telah mengalami peningkatan dibandingkan dengan keadaan awal. Hal ini terlihat dari dominannya persentase faktor pendukung pada hampir seluruh aspek yang diteliti. Pada aspek lokasi dan akses, sebesar 75% responden menilai sebagai faktor pendukung. Hal ini menunjukkan bahwa dibandingkan kondisi awal yang mungkin kurang terjangkau, saat ini akses menuju pasar sudah lebih baik dan mendukung aktivitas perdagangan. Begitu pula dengan frekuensi pengunjung yang memiliki nilai pendukung tertinggi yaitu 85%, yang menandakan adanya peningkatan jumlah kunjungan serta aktivitas jual beli yang semakin ramai. Dalam hal modal dan keterampilan, sebesar 75% menjadi faktor pendukung. Ini mengindikasikan bahwa dibandingkan sebelumnya, pedagang kini memiliki akses modal yang lebih beragam serta kemampuan usaha yang mulai berkembang. Jaringan sosial juga menjadi kekuatan dengan 80% sebagai faktor pendukung, yang menunjukkan adanya hubungan yang semakin baik antar pedagang maupun dengan pelanggan. Namun demikian, masih terdapat beberapa faktor penghambat yang perlu diperhatikan. Fasilitas pasar menunjukkan keseimbangan antara pendukung dan penghambat . % : 50%), yang berarti meskipun sudah ada perbaikan dibanding kondisi awal, fasilitas yang tersedia masih belum sepenuhnya Selain itu, transportasi dan logistik . % penghamba. serta fluktuasi harga . % penghamba. juga menjadi kendala yang cukup signifikan bagi aktivitas perdagangan. Persaingan dagangan juga memiliki tingkat penghambat sebesar 25%, yang menunjukkan bahwa meningkatnya jumlah pedagang membawa dampak positif sekaligus tantangan dalam mempertahankan usaha. Jika dibandingkan dengan kondisi awal, pasar tradisional di Distrik Tiom menunjukkan perkembangan yang cukup baik, ditandai dengan meningkatnya faktor pendukung di berbagai aspek utama. Namun, beberapa faktor penghambat masih perlu ditangani secara serius agar perkembangan pasar dapat lebih optimal dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan kondisi pasar dari waktu ke waktu, namun masih diperlukan upaya perbaikan terutama pada aspek fasilitas, stabilitas harga, serta dukungan transportasi dan logistik. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor pendukung utama pasar tradisional terletak pada tingginya frekuensi pengunjung dan kuatnya jaringan sosial, yang berperan besar dalam mendorong aktivitas ekonomi pedagang. Hal ini menandakan bahwa aspek sosial dan akses pasar menjadi kekuatan utama dalam keberlangsungan pasar tradisional. Namun demikian, terdapat pula faktor penghambat yang cukup signifikan, terutama pada keterbatasan fasilitas pasar dan fluktuasi harga barang, yang menunjukkan bahwa aspek infrastruktur dan stabilitas ekonomi masih menjadi tantangan utama. Secara keseluruhan, pasar tradisional memiliki potensi yang kuat dari sisi sosial dan aktivitas ekonomi, tetapi masih memerlukan perbaikan fasilitas serta pengendalian harga agar dapat berkembang secara lebih optimal dan Berdasarkan analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa: Faktor pendukung utama pasar tradisional adalah lokasi strategis, frekuensi pengunjung tinggi, modal dan keterampilan pedagang, jaringan sosial yang kuat, serta ketersediaan barang lokal. Faktor penghambat utama adalah fasilitas pasar yang terbatas, transportasi dan akses logistik sulit, fluktuasi harga bahan baku, persaingan dagangan, dan modal terbatas bagi pedagang baru. Faktor pendukung lebih dominan, sehingga pasar tradisional tetap menjadi mesin penggerak ekonomi lokal. Optimalisasi pasar tradisional dapat dicapai dengan peningkatan fasilitas, akses transportasi, pelatihan pedagang, dan stabilisasi harga bahan baku, yang akan memperkuat dampak ekonomi positif bagi masyarakat Distrik Tiom. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan mengenai pengaruh pasar tradisional terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di Distrik Tiom. Kabupaten Lanny Jaya, dapat disimpulkan bahwa pasar tradisional memiliki peranan yang sangat penting sebagai pusat aktivitas ekonomi lokal. Masyarakat memperoleh sumber pendapatan utama melalui kegiatan jual beli hasil pertanian, peternakan, dan produk lokal lainnya. Selain itu, pasar tradisional juga membuka lapangan pekerjaan serta mendorong perputaran ekonomi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, peran tersebut belum optimal karena masih terdapat berbagai kendala, seperti keterbatasan fasilitas, akses transportasi yang sulit, manajemen pasar yang belum tertata dengan baik, serta rendahnya daya beli masyarakat. Pemerintah daerah Kabupaten Lanny Jaya telah melakukan berbagai upaya untuk merevitalisasi pasar tradisional, seperti pembangunan dan perbaikan infrastruktur, pembinaan pedagang melalui pelatihan dan bantuan modal, serta peningkatan kebersihan, keamanan, dan kenyamanan pasar. Meskipun demikian, upaya tersebut masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan anggaran, kurangnya pengawasan, dan rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga fasilitas pasar. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kualitas infrastruktur, pengelolaan pasar yang lebih profesional, dukungan permodalan, serta partisipasi aktif masyarakat dan pedagang dalam menjaga serta mengembangkan pasar tradisional agar lebih berdaya saing dan berkelanjutan. DAFTAR PUSTAKA