JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Arab: Peluang dan Tantangan *Zikrullah Nuzuli STAI Nusantara. Banda Aceh. Indonesia Email: zikrullahnuzuli@stainusantara. Abstract The Merdeka Curriculum launched by the Ministry of Education. Culture. Research, and Technology of the Republic of Indonesia aims to provide flexibility for educators and students in the learning process. This study aims to examine the implementation of the Merdeka Curriculum in Arabic language learning. Recognizing and maximizing available opportunities, and challenges faced by teachers in its implementation. This study employs a qualitative approach using literature review and interviews with Arabic language teachers at several madrasahs. The findings indicate that the Merdeka Curriculum offers creative space for designing project-based and contextual learning, but also presents challenges such as limited teaching modules, insufficient teacher training, and low student motivation toward Arabic language learning. Keywords: Merdeka Curriculum. Arabic Language. Learning. Opportunities. Challenges Abstrak Kurikulum Merdeka yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Republik Indonesia bertujuan untuk memberikan fleksibilitas bagi pendidik dan siswa dalam proses pembelajaran. Studi ini bertujuan untuk mengkaji implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran bahasa Arab, mengenali dan memaksimalkan peluang yang tersedia, serta tantangan yang dihadapi guru dalam Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tinjauan literatur dan wawancara dengan guru bahasa Arab di beberapa madrasah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kurikulum Merdeka memberikan ruang kreatif untuk merancang pembelajaran berbasis proyek dan kontekstual, namun juga menghadirkan tantangan seperti keterbatasan modul pembelajaran, kurangnya pelatihan guru, dan rendahnya motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa Arab. Kata kunci: Kurikulum Merdeka. Bahasa Arab. Pembelajaran. Peluang. Tantangan *** JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. PENDAHULUAN Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa asing yang memiliki posisi penting dalam sistem pendidikan di Indonesia, khususnya di lembaga pendidikan Islam seperti madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi keagamaan. Fungsinya tidak semata-mata sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bahasa agama . eligious languag. yang digunakan dalam Al-QurAoan, hadis, kitab-kitab klasik . , dan berbagai literatur Islam Oleh karena itu, pengajaran Bahasa Arab tidak hanya menekankan pada aspek linguistik, tetapi juga pada nilai-nilai religius, budaya, dan spiritual. Dalam konteks ini, kualitas pembelajaran Bahasa Arab sangat menentukan keberhasilan peserta didik dalam memahami ajaran Islam secara mendalam(Sanjaya et al. , 2. Di tengah transformasi sistem pendidikan nasional, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbudriste. telah meluncurkan Kurikulum Merdeka sebagai bentuk penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya, yakni Kurikulum 2013. Kurikulum Merdeka menekankan pada kebebasan guru dalam merancang pembelajaran sesuai dengan karakteristik peserta didik dan konteks lokal, serta menitikberatkan pada penguatan profil pelajar Pancasila yang meliputi beriman dan bertakwa, berkebhinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif(Bustam et al. , 2. Pembaruan kurikulum ini memunculkan harapan baru dalam pengembangan pendidikan di Indonesia, termasuk dalam pembelajaran Bahasa Arab. Dengan paradigma baru yang menekankan pada pembelajaran yang lebih kontekstual, aktif, dan kolaboratif, guru Bahasa Arab memiliki kesempatan untuk mengembangkan metode dan strategi pengajaran yang lebih variatif, berbasis proyek, dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta minat siswa. Kurikulum ini juga membuka ruang untuk integrasi pembelajaran lintas disiplin, di mana Bahasa Arab tidak lagi diajarkan secara terpisah, melainkan bisa dihubungkan dengan mata pelajaran lain atau praktik kehidupan nyata siswa. (Ardinal & Alamin, 2. Namun demikian, pelaksanaan Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab tidaklah tanpa tantangan. Bahasa Arab sebagai mata pelajaran sering kali dipersepsikan sulit oleh sebagian besar peserta didik karena perbedaan struktur bahasa, sistem gramatika . ahwu dan shara. , serta keterbatasan praktik komunikasi dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini menyebabkan rendahnya motivasi belajar dan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. minimnya partisipasi aktif siswa dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, sebagian guru belum sepenuhnya memahami filosofi dan teknis pelaksanaan Kurikulum Merdeka, terutama dalam konteks pengajaran Bahasa Arab yang memiliki karakteristik khusus. Ketersediaan sumber belajar, modul ajar yang sesuai, dan pelatihan implementatif juga masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. (Khumaedi, 2. Situasi tersebut semakin kompleks jika mempertimbangkan kondisi sarana prasarana di berbagai madrasah dan sekolah, terutama di daerah 3T (Tertinggal. Terdepan, dan Terlua. Sepertinya Kawasan sabang dan beberapa daerah terutma pulo Aceh, di mana akses terhadap perangkat digital, koneksi internet, dan bahan ajar digital sangat terbatas. Padahal. Kurikulum Merdeka mendorong penggunaan teknologi dalam pembelajaran, termasuk pembelajaran Bahasa Arab berbasis platform digital seperti elearning, video interaktif, dan aplikasi latihan bahasa. Berangkat dari latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab dilakukan di tingkat satuan pendidikan. Penelitian ini berupaya menggali peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengembangkan model pembelajaran yang adaptif dan menyenangkan, sekaligus mengidentifikasi tantangantantangan praktis yang dihadapi dalam penerapannya. Dengan memahami dinamika implementasi kurikulum ini secara empirik, diharapkan dapat dirumuskan solusi strategis yang bersifat aplikatif dalam mendukung efektivitas pembelajaran Bahasa Arab di era kurikulum yang lebih fleksibel dan berpihak pada peserta didik(Ahmadi, 2. Selain itu, penelitian ini juga memiliki urgensi untuk mendorong dialog antara pengambil kebijakan pendidikan, pengembang kurikulum, dan praktisi pendidikan Bahasa Arab agar terjalin sinergi dalam membangun ekosistem pembelajaran yang mendukung pencapaian kompetensi berbahasa Arab secara optimal. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi teoretis terhadap pengembangan kurikulum, tetapi juga diharapkan dapat memberikan kontribusi praktis bagi guru dan sekolah dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka secara efektif dan kontekstual. (Alatas & Si23, 2. Dengan demikian, pertanyaan penelitian yang diangkat dalam kajian ini adalah: Bagaimana bentuk implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab di madrasah atau sekolah? . Apa saja peluang yang dapat dimanfaatkan dari JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. Kurikulum Merdeka untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Arab? dan . Apa dan lembaga mengimplementasikannya? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan gambaran menyeluruh tentang praktik aktual implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab dan implikasinya terhadap mutu pendidikan keislaman di Indonesia. (Ahmadi, 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk memahami secara mendalam proses implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab dari perspektif para guru dan praktisi pendidikan. Pendekatan ini dipilih karena sesuai untuk mengeksplorasi fenomena pendidikan yang kompleks, kontekstual, dan dinamis, yang tidak dapat diukur hanya melalui angka atau statistik. Metode kualitatif memungkinkan peneliti untuk memperoleh data yang bersifat naratif, interpretatif, dan berlandaskan pada pengalaman nyata subjek penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan wawancara semi-terstruktur kepada lima orang guru Bahasa Arab di beberapa madrasah tingkat MTs dan MA di Provinsi Aceh. Wawancara ini difokuskan pada pengalaman mereka dalam mengadaptasi perangkat ajar, menyusun kegiatan berbasis proyek, serta tantangan praktis yang mereka hadapi di kelas. (Sahibul, 2. Prosedur analisis data dilakukan secara induktif melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sebagaimana dikemukakan oleh Miles & Huberman. Reduksi data mencakup proses pemilihan informasi relevan dari hasil wawancara dan pustaka. Penyajian data dilakukan dalam bentuk matriks tematik untuk mempermudah identifikasi pola. Penarikan kesimpulan didasarkan pada interpretasi menyeluruh terhadap temuan yang berulang dan signifikan. Untuk menjaga validitas data, peneliti menggunakan triangulasi sumber dengan membandingkan data hasil wawancara, dokumen kurikulum resmi, serta referensi ilmiah. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, dimulai dari pengumpulan data awal hingga proses analisis akhir. Hasilnya diharapkan dapat memberikan gambaran praktis sekaligus reflektif mengenai sejauh mana Kurikulum Merdeka dapat diterapkan secara efektif dalam pembelajaran Bahasa Arab di madrasah(Riyadi, 2. JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. HASIL DAN PEMBAHASAN Peluang Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pembelajaran Bahasa Arab Kurikulum Merdeka merupakan salah satu inovasi pendidikan yang memberikan ruang kebebasan pedagogis kepada guru untuk merancang proses pembelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan konteks lokal sekolah. Dalam pembelajaran Bahasa Arab, keleluasaan ini membuka peluang besar untuk mengadaptasi metode yang lebih menyenangkan dan kontekstual, sehingga siswa dapat memahami dan menggunakan Bahasa Arab secara fungsional. Ini penting karena Bahasa Arab di Indonesia bukanlah bahasa sehari-hari, sehingga perlu pendekatan yang lebih dekat dengan dunia siswa(Supriyono et al. , 2. Salah satu pendekatan yang direkomendasikan dalam Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learnin. Dalam konteks Bahasa Arab, pendekatan ini dapat diterapkan melalui kegiatan seperti membuat kamus tematik sederhana atau vlog berbahasa Arab dengan tema tertentu. Melalui kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya belajar bahasa secara pasif, tetapi juga aktif menyusun, mengeksplorasi, dan mempraktikkan kosakata sesuai minat dan pengalaman mereka. Selain memperkaya pembelajaran, proyek semacam ini juga menumbuhkan keterampilan abad ke-21 yang dikenal dengan istilah 4C: communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Misalnya, saat membuat kamus tematik tentang makanan, siswa harus berdiskusi, mencari padanan kata dalam Bahasa Arab, dan menyusun format kamus yang menarik. Kegiatan ini menumbuhkan kerja sama tim dan pemikiran kritis, yang sangat dibutuhkan dalam pembelajaran modern. (Hidayah & Apriyani, 2. Keunggulan lain dari Kurikulum Merdeka adalah ruang integrasi nilai-nilai keislaman dalam pembelajaran Bahasa Arab. Karena Bahasa Arab erat kaitannya dengan agama Islam, guru dapat menjadikan materi keagamaan sebagai sumber belajar. Misalnya, saat mempelajari fiAoil madhi . ata kerja lampa. , guru dapat menggunakan kisah para nabi atau sahabat untuk mengaitkan antara struktur bahasa dan nilai spiritual, seperti kejujuran, keberanian, atau kesabaran. Integrasi nilai-nilai Islam ini tidak hanya memperkaya isi pembelajaran, tetapi juga menjadi saran penanaman karakter siswa secara lebih bermakna. Dalam konteks pendidikan karakter yang ditekankan Kurikulum Merdeka, penguatan aspek spiritual dan moral ini sangat relevan, apalagi jika dikemas dalam bentuk narasi yang menarik dan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. sesuai tingkat pemahaman siswa. (Dinata et al. , 2. Dari sisi evaluasi. Kurikulum Merdeka memberikan keleluasaan kepada guru untuk menerapkan asesmen formatif yang beragam. Dalam pembelajaran Bahasa Arab, hal ini memungkinkan guru menilai kemampuan siswa melalui cara-cara yang lebih manusiawi dan autentik, seperti presentasi lisan, pembuatan (Dinata et al. , 2. proyek tertulis dalam bahasa Arab, penilaian harian melalui jurnal belajar, atau dialog sederhana dalam kelompok. Fksibilitas asesmen ini membantu mengurangi tekanan akademik berlebih yang biasa terjadi saat siswa hanya diuji melalui metode konvensional seperti pilihan ganda atau esai. Sebaliknya, pendekatan formatif memberi ruang bagi siswa untuk menunjukkan proses dan kemajuan belajarnya secara bertahap. Ini juga membuat guru lebih mudah memberikan umpan balik yang konstruktif. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab juga mendorong guru untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan teknologi. Guru dapat menggunakan platform digital, aplikasi penerjemah, atau video edukatif berbahasa Arab untuk menyajikan materi dengan lebih interaktif. Ini sangat membantu terutama dalam menarik minat siswa terhadap pelajaran Bahasa Arab yang selama ini dianggap sulit dan (Saepudin et al. , 2. Secara keseluruhan. Kurikulum Merdeka memberikan peluang emas untuk merevitalisasi pembelajaran Bahasa Arab di sekolah. Dengan prinsip fleksibilitas, diferensiasi, dan keberpihakan pada siswa, kurikulum ini menempatkan guru sebagai desainer pembelajaran yang dinamis. Jika dijalankan secara konsisten dan kreatif. Kurikulum Merdeka dapat menjadikan Bahasa Arab sebagai mata pelajaran yang tidak hanya bermakna secara linguistik, tetapi juga memperkaya spiritualitas, budaya, dan karakter siswa. Tantangan dalam Pelaksanaan Salah satu tantangan mendasar dalam implementasi Kurikulum Merdeka untuk pembelajaran Bahasa Arab adalah keterbatasan modul ajar yang relevan dan aplikatif. Meski pemerintah telah menyediakan beberapa contoh perangkat ajar, namun materi tersebut belum sepenuhnya menjawab kebutuhan pembelajaran aktif, kontekstual, dan diferensiatif sebagaimana semangat kurikulum. Hal ini membuat banyak guru harus JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. menyusun sendiri perangkat ajar, yang memerlukan kompetensi, waktu, dan sumber daya yang tidak selalu tersedia secara merata di setiap satuan pendidikan. (Rosida & Sofa. Penyusunan modul ajar secara mandiri tentu menjadi beban tambahan bagi guru, apalagi jika mereka belum terbiasa dengan pendekatan Kurikulum Merdeka. Tidak semua guru Bahasa Arab memiliki latar belakang pedagogik yang kuat dalam merancang aktivitas pembelajaran yang menekankan student-centered learning. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan implementasi antara satu sekolah dengan yang lain, tergantung pada kapasitas guru dalam menerjemahkan prinsip kurikulum ke dalam Tantangan lainnya adalah menjadikan pembelajaran Bahasa Arab lebih kontekstual dan dekat dengan keseharian siswa. Bahasa Arab sebagai bahasa asing memiliki struktur gramatikal yang kompleks, termasuk sistem iAorab . , bentuk kata kerja, dan penggunaan jenis kelamin dalam kata benda. Struktur yang berbeda jauh dari Bahasa Indonesia membuat guru sulit mencari padanan atau konteks lokal yang relevan, sehingga siswa sering merasa belajar sesuatu yang abstrak dan tidak bermakna. (Kholiq & Mahbub, 2. Misalnya, dalam mempelajari fiAoil mudhariAo . ata kerja kini/akan datan. , siswa akan menemukan bentuk perubahan kata kerja berdasarkan pelaku yang berbeda-beda, sebuah hal yang asing dalam Bahasa Indonesia. Akibatnya, pembelajaran menjadi terpusat pada hafalan bentuk dan rumus, bukan pemahaman makna dan penggunaannya dalam komunikasi nyata. Hal ini bertentangan dengan prinsip Kurikulum Merdeka yang menekankan pengalaman belajar yang bermakna dan relevan. Salah satu dampak dari pembelajaran yang kurang kontekstual adalah rendahnya motivasi belajar siswa. Banyak siswa memandang Bahasa Arab sebagai pelajaran yang sulit, tidak menyenangkan, dan tidak memiliki keterkaitan langsung dengan masa depan mereka, terutama bagi yang tidak berencana melanjutkan ke pendidikan keagamaan. Persepsi ini menurunkan partisipasi siswa dalam proses belajar dan menurunkan efektivitas pendekatan aktif seperti diskusi kelompok, simulasi, atau proyek bahasa(Khumaedi, 2. Motivasi yang rendah ini juga sering kali dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang tidak mendukung pembelajaran Bahasa Arab. Tidak seperti Bahasa Inggris yang JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. memiliki banyak media pendukung seperti film, musik, atau aplikasi populer. Bahasa Arab masih minim dijumpai dalam kehidupan sehari-hari siswa, kecuali dalam konteks Oleh karena itu, guru perlu kerja ekstra untuk membangun ketertarikan dan rasa relevansi siswa terhadap pelajaran ini. Di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Sabang, misalnya, guru menghadapi dilema antara menyelesaikan target kurikulum dan mencoba pendekatan baru yang lebih Dengan waktu yang terbatas, pembelajaran lebih banyak difokuskan pada teori tata bahasa . ahwu dan shara. , sementara keterampilan berbicara dan menyimak kurang mendapat porsi. Meskipun beberapa guru telah mencoba menyisipkan proyek sederhana seperti membuat video perkenalan dalam Bahasa Arab, namun hasilnya belum optimal karena minimnya waktu untuk pembimbingan dan evaluasi. Tantangan semakin besar ketika guru harus membagi perhatian dengan kegiatan administrasi yang juga menyita Situasi serupa bahkan lebih kompleks di madrasah di wilayah Pulo Aceh, yang menghadapi kendala geografis dan keterbatasan akses teknologi. Guru di sana tidak hanya kekurangan waktu, tetapi juga fasilitas seperti perpustakaan bahasa, alat bantu audiovisual, dan koneksi internet yang memadai. Seringkali, guru hanya mengandalkan metode ceramah dan latihan tulis di papan tulis. Untuk mengatasi keterbatasan waktu, beberapa guru di Pulo Aceh mencoba mengoptimalkan kegiatan belajar luar kelas seperti halaqah bahasa Arab setelah salat zuhur atau program tahfizh yang disisipi kosakata bahasa Arab. Namun tanpa dukungan sistematis dari pemerintah daerah, upaya ini sulit untuk dijadikan strategi pembelajaran berkelanjutan. (Rahman et al. , 2. Selain keterbatasan waktu, kendala lainnya adalah belum optimalnya pelatihan dan pendampingan guru terkait implementasi Kurikulum Merdeka. Banyak guru masih belum mendapatkan pelatihan yang mendalam, terutama dalam mengaitkan pendekatan baru dengan karakteristik Bahasa Arab yang khas. Kebutuhan akan komunitas belajar, workshop, serta forum diskusi antar guru Bahasa Arab menjadi semakin mendesak untuk saling berbagi strategi dan solusi atas kendala lapangan. Dengan tantangan-tantangan tersebut, jelas bahwa implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab memerlukan pendekatan yang bertahap dan Diperlukan intervensi dari berbagai pihak, mulai dari penyediaan modul ajar yang relevan oleh pemerintah, pelatihan berkelanjutan bagi guru, hingga strategi JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. peningkatan motivasi belajar siswa melalui media pembelajaran kreatif dan bermakna. Jika dikelola secara kolaboratif. Kurikulum Merdeka tetap berpotensi menjadi momentum positif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa Arab di Indonesia. (Alfiyaturohmaniyyah, 2. Kesiapan Guru dan Sarana Pendukung Kesiapan guru menjadi salah satu elemen paling krusial dalam keberhasilan implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya dalam konteks pengajaran Bahasa Arab. Meskipun kurikulum ini menawarkan fleksibilitas dan kebebasan pedagogis, kenyataannya banyak guru Bahasa Arab belum sepenuhnya memahami prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi Kurikulum Merdeka, seperti pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran berbasis proyek, dan pendekatan yang berpusat pada siswa. (Khoirurrijal et , 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru Bahasa Arab di berbagai madrasah, mayoritas dari mereka mengakui belum pernah mendapatkan pelatihan khusus yang membahas secara mendalam penerapan Kurikulum Merdeka dalam konteks pengajaran bahasa asing, khususnya Bahasa Arab. Pelatihan yang mereka ikuti selama ini lebih bersifat umum dan hanya menyentuh prinsip-prinsip dasar Kurikulum Merdeka tanpa panduan teknis dalam penerapan di kelas Bahasa Arab. Akibatnya, banyak guru masih mengandalkan metode ceramah, hafalan mufradat . , dan latihan tata bahasa sebagai pendekatan utama, sementara aspek komunikasi aktif seperti berbicara dan menyimak jarang disentuh. (Rahmawati, 2. Minimnya pelatihan berdampak pada rendahnya kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang inovatif dan kontekstual. Strategi seperti pembelajaran berbasis proyek, asesmen portofolio, dan pembelajaran berdiferensiasi belum sepenuhnya Seorang guru di MTsN Sabang. Ustazah Rina, menyatakan, "Kami pernah ikut sosialisasi Kurikulum Merdeka, tapi tidak ada sesi praktik atau simulasi untuk mata pelajaran Bahasa Arab. Jadi kami bingung harus memulai dari mana. " Ketidaksiapan ini membuat banyak guru merasa terbebani, terutama karena harus menyusun administrasi tambahan tanpa pendampingan yang memadai. (Arifuddin et al. , 2. Di Pulo Aceh, kondisi lebih menantang lagi. Menurut Ustaz Fakhruddin, guru Bahasa Arab di salah satu madrasah di sana, "Kami belum pernah mendapat pelatihan JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. langsung dari dinas atau kementerian. Biasanya kami hanya dapat materi dari WhatsApp atau grup MGMP, itupun terbatas. " Selain tidak memiliki akses pelatihan, para guru juga menghadapi keterbatasan infrastruktur seperti jaringan internet yang lemah dan kurangnya perangkat teknologi pendukung. Akibatnya, penerapan metode pembelajaran yang lebih dinamis seperti penggunaan media digital atau aplikasi belajar daring hampir tidak memungkinkan. Ketidakhadiran pelatihan teknis juga menyebabkan kesenjangan antar madrasah semakin lebar. Madrasah di perkotaan seperti Sabang mungkin masih dapat mengakses sumber daya pendidikan atau kolaborasi dengan guru lain melalui komunitas belajar daring, tetapi madrasah di daerah terpencil seperti Pulo Aceh harus berjuang sendiri. Guru-guru di sana merasa terisolasi dalam proses transisi kurikulum ini. Tanpa pelatihan rutin dan bimbingan praktik, semangat guru untuk berinovasi dalam pembelajaran pun menurun, dan ini secara langsung memengaruhi kualitas pengajaran yang diterima (Akhyar & Suhardi, n. Untuk itu, sangat penting adanya intervensi terstruktur dari pemerintah daerah maupun pusat dalam bentuk pelatihan khusus untuk guru Bahasa Arab yang difokuskan pada penerapan Kurikulum Merdeka. Pelatihan tersebut perlu mencakup penyusunan proyek, pembuatan asesmen autentik, dan praktik pembelajaran berbasis komunikasi. Selain itu, guru di daerah seperti Sabang dan Pulo Aceh harus difasilitasi dengan jaringan kolaboratif dan dukungan teknis agar dapat saling bertukar pengalaman serta memperoleh motivasi dan inspirasi pembelajaran. Tanpa dukungan semacam ini, tujuan utama Kurikulum Merdeka untuk menciptakan pembelajaran yang merdeka, menyenangkan, dan relevan akan sulit tercapai di mata pelajaran Bahasa Arab. Selain aspek pelatihan, masalah pendampingan teknis menjadi tantangan besar. Banyak guru merasa tidak memiliki tempat untuk berdiskusi atau berkonsultasi terkait kendala implementasi Forum diskusi antar guru Bahasa Arab masih jarang ditemukan, baik dalam lingkup sekolah maupun antarlembaga. Padahal, komunitas belajar . earning communit. sangat penting sebagai wadah kolaborasi dalam bertukar ide, berbagi modul, serta menyusun solusi atas tantangan yang dihadapi di lapangan(Asbari et al. , 2. Sarana dan prasarana pendukung juga belum memadai untuk menunjang pendekatan pembelajaran yang diharapkan dalam Kurikulum Merdeka. Di sejumlah madrasah, ketersediaan laboratorium bahasa sangat terbatas, bahkan di beberapa sekolah JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. tidak tersedia sama sekali. Perangkat teknologi seperti komputer, proyektor, atau koneksi internet yang stabil juga menjadi kemewahan yang tidak semua sekolah bisa (Daraqthuni, 2. Keterbatasan fasilitas teknologi tersebut diperparah dengan rendahnya akses terhadap aplikasi dan platform digital yang bisa mendukung pembelajaran Bahasa Arab. Aplikasi seperti Qamus Arab-Indonesia. Duolingo Arabic. Kahoot versi Bahasa Arab, atau Google Classroom dengan integrasi materi bahasa asing belum banyak dimanfaatkan oleh guru. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pelatihan dan pendampingan tentang teknologi pembelajaran yang relevan untuk Bahasa Arab. Bahkan ketika guru memiliki perangkat digital, tidak semua dari mereka mampu mengoptimalkan penggunaannya untuk menciptakan suasana belajar yang modern dan Sebagian besar masih menggunakan teknologi hanya untuk menampilkan materi dalam bentuk slideshow atau video sederhana, tanpa eksplorasi fitur-fitur interaktif yang dapat meningkatkan partisipasi siswa. Keterbatasan literasi digital menjadi hambatan tersendiri yang perlu diselesaikan secara sistematis. (Farahi & Ahid, 2. Dari sisi manajemen sekolah, dukungan terhadap penguatan pelajaran Bahasa Arab juga belum optimal. Di beberapa lembaga pendidikan, pelajaran Bahasa Arab dianggap sebagai pelengkap saja Ae tidak diprioritaskan dalam perencanaan program Akibatnya, anggaran dan perhatian lebih difokuskan pada mata pelajaran lain yang dianggap lebih "kompetitif", seperti Matematika. IPA, atau Bahasa Inggris. Untuk komprehensif yang melibatkan pemerintah, pihak sekolah, dan komunitas guru. Pemerintah perlu menyediakan pelatihan intensif dan spesifik untuk guru Bahasa Arab terkait Kurikulum Merdeka. Sekolah harus menciptakan iklim yang mendukung inovasi dalam pengajaran Bahasa Arab, termasuk penyediaan sarana dan penguatan peran guru dalam komunitas belajar. Dengan dukungan sistematis, implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab akan lebih efektif, relevan, dan berdampak bagi peserta didik. (Razek & Yasin, n. KESIMPULAN Implementasi Kurikulum Merdeka dalam pembelajaran Bahasa Arab memberikan peluang yang signifikan bagi guru dan peserta didik untuk menciptakan proses JURNAL ILMIAH GURU MADRASAH (JIGM) Volume 4. Nomor 1. Januari-Juni 2025 https://jigm. pembelajaran yang lebih fleksibel, kontekstual, dan berpusat pada siswa. Dengan kebebasan yang diberikan, guru dapat merancang model pembelajaran yang kreatif, seperti berbasis proyek, integrasi nilai-nilai keislaman, serta pendekatan tematik yang sesuai dengan kebutuhan lokal. Selain itu. Kurikulum Merdeka mendorong penguatan kompetensi siswa melalui kegiatan yang menumbuhkan kreativitas, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis, yang sangat relevan dalam membentuk profil pelajar Pancasila. Hal ini menjadi momentum penting untuk merevitalisasi pembelajaran Bahasa Arab agar tidak hanya fokus pada aspek gramatika, tetapi juga pada pemanfaatan bahasa sebagai sarana komunikasi dan penguatan karakter Namun demikian, berbagai tantangan dalam implementasinya tidak bisa Guru menghadapi hambatan berupa keterbatasan modul ajar, minimnya pelatihan teknis, dan sarana prasarana yang belum memadai. Motivasi siswa yang rendah terhadap pelajaran Bahasa Arab serta minimnya dukungan kelembagaan juga turut memperlambat keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka secara optimal. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya strategis berupa penyediaan pelatihan berkelanjutan bagi guru, pengembangan media ajar yang adaptif, serta kebijakan yang mendukung revitalisasi pelajaran Bahasa Arab di madrasah dan sekolah. Dengan dukungan yang tepat. Kurikulum Merdeka dapat menjadi pijakan kuat dalam menciptakan pembelajaran Bahasa Arab yang lebih hidup, menyenangkan, dan bermakna bagi generasi muda Indonesia. *** DAFTAR PUSTAKA