Vol. No. 1, 2025, pp. DOI: https://doi. org/10. 29210/1202525733 Contents lists available at Journal IICET Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. ISSN: 2476-9886 (Prin. ISSN: 2477-0302 (Electroni. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/jppi Tindak tutur ekspresif pada tuturan siswa di taman kanak-kanak nurul islam sentajo raya Andini Fitria*). Fatmawati Fatmawati Universitas Islam Riau1 Article Info ABSTRACT Article history: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh temuan peristiwa tindak tutur ekspresif yang terjadi dalam interaksi antar siswa di TK Nurul Islam Sentajo Raya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif yang digunakan oleh penutur dan mitra tutur dalam konteks interaksi siswa di lingkungan taman kanak-kanak. Penelitian ini berlandaskan pada teori tindak tutur ekspresif yang dikemukakan oleh Searle, yang menjelaskan bahwa tindak tutur ekspresif merupakan ungkapan sikap psikologis penutur terhadap suatu situasi. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, teknik simak, dan teknik catat. Data penelitian berupa 60 tuturan ekspresif yang diperoleh dari interaksi verbal siswa selama kegiatan belajar-mengajar di TK Nurul Islam Sentajo Raya. Tuturan anak-anak tersebut direkam untuk kemudian disimak agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan data. Sumber data dalam penelitian ini adalah seluruh siswa TK Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat berbagai fungsi tindak tutur ekspresif yang digunakan oleh siswa, fungsi ekspresif yang paling dominan adalah tindak tutur memuji, yang mencerminkan karakteristik interaksi sosial yang positif di lingkungan sekolah tersebut. Sementara itu, beberapa fungsi tindak tutur ekspresif seperti menyambut, mengucapkan belasungkawa, dan mengampuni tidak ditemukan dalam data, karena tidak muncul dalam konteks interaksi siswa selama pengamatan berlangsung. Implikasi dari penelitian menunjukan jika pemahaman akan tindak tutur ekspresif sejak usia dini dapat menjadi indikator perkembangan sosial serta emosional anak. Kemudian, penelitian ini dapat menjadi acuan bagi pendidik dalam merancang strategi pembelajaran yang akan mendukung sisi emosional anak dan keterampilan bahasa anak. Received Apr 19th, 2025 Revised May 29th, 2025 Accepted Jun 12th, 2025 Keywords: Anak usia dini Fungsi tindak tutur Pendekatan kualitatif Pragmatik Tindak tutur ekspresif A 2025 The Authors. Published by IICET. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license . ttps://creativecommons. org/licenses/by-nc-sa/4. Corresponding Author: Andini Fitria. Universitas Islam Riau Email: andinifitria@student. Pendahuluan Pragmatik hakikatnya adalah ilmu yang digunakan manusia untuk berkomunikasi guna menyampaikan maksud dan tujuannya yang diungkapkan dalam pikiran atau perasaannya. Sebagai komponen bahasa, pragmatik lebih berfokus pada pemrosesan bentuk-bentuk linguistik. Pada kajian pragmatik kita mengenal penutur serta mitra tutur, penutur disebut dengan orang yang menyampaikan tuturan dan lawan atau orang yang mendengar tuturan tersebut disebut mitra tutur. Kajian pragmatik salah satunya merupakan tentang tindak tutur. Tindak tutur adalah tindakan yang diwujudkan melalui tuturan (Astika et al. , 2021. Dahlia, 2022. Agustine & Amir. Tindak tutur ekspresif pada tuturan siswaA Helda & Fatmawati, 2023. Sukmawati & Fatmawati. 2023 Winda & Fatmawati, 2. Secara garis besar untuk mengetahui tindak tutur adalah dengan cara memahami pesan yang terdapat pada setiap tuturan (Utami & Muhammad, 2. Pada kehidupan sosial penggunaan tindak tutur merupakan aspek yang sangat penting. Hal ini disebabkan karena penyebab tindak tutur berhasil adalah pahamnya mitra tutur terhadap makna Artinya, ketika menggunakan sebuah bahasa sebagai jembatan komunikas kita tidak hanya memproduksi kalimat tersebut tetapi juga melakukan hal tersebut melalui tindakan pula. Segala sesuatu yang telah kita uraikan selama ini dapat disebut tindak tutur, mengingat penggunaan bahasa, maksud dan tujuan penutur, serta interaksi dalam konteks sosial. Makna yang disampaikan oleh penutur dan lawan bicara bergantung pada konteks tuturan. Tuturan atau tindak tutur salah satu kajian dibidang pragmatik. Pragmatik merupakan cabang linguistik yang digunakan untuk berkomunikasi pada situasi tertentu (Ramadani & Fatmawati, 2. Pragmatik mengkaji maksud penutur dalam menyampaikan suatu pernyataan. Pragmatik menghubungkan bahasa dengan konteks, menekankan bagaimana penggunaan bahasa memengaruhi Pragmatik memperhatikan peranggapan, implikatur, sindiran, tujuan komunikasi, pengaruh konteks sosial, serta latar belakang dari pihak penutur dan pendengar. Aspek-aspek tersebut saling terikat dan terhubung pada saat berkomunikasi dan berinteraksi. Pihak penutur pada tindak tutur pada saat bertutur haruslah menggunakan bahasa yang dipahami bersama agar informasi yang disampaikan kepada pihak pendengar atau mitra tutur tidak tejadi kesalahan pemahaman informasi. Dengan begitu, pragmatik memberikan peran akan pemahaman terkait penggunaan bahasa yang efektif serta efesien untuk berbagai kondisi dan situasi. Tindakan pada saat bertutur bisa dikatakan sebagai ekspresi yang dilakukakan melalui bahasa lisan dan tulisan, menggunakan bahasa isyarat, selain itu tindakan saat bertutur harus memberikan dampak yang signifikan namun hal ini bergantung pada saat situasi dan kondisi. Tuturan selain berfungsi untuk menyampaikan informasi atau mengatakan sesuatu juga berfungsi sebagai bentuk penggungkapan perasaan yang dirasakan penutur kepada pendengarnya. Austin . alam Chaer, 2. memisahkan tindak tutur menjadi tiga, yaitu lokusi, ilokusi serta perlokusi. Lokusi merupakan sebuah tindak tutur yang tuturan serta tindakan yang dilakukan sejalan. Sedangkan ilokusi adalah tindak tutur yang menyampaikan atau menginfokan sesuatu dengan tujuan dan maksud tertentu. Kemudian perlokusi adalah tindak tutur yang tuturannya memberikan pengaruh atau efek kepada mitra tutur. Kemudian menurut Searle . alam Chaer, 2. ada beberapa jenis tindak tutur ilokusi, mereka adalah. representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Pertama, representatif atau disebut juga dengan asertif, yaitu tindak tutur yang mengharuskan pembicara untuk mengatakan kebenaran lisan. Misalnya, ucapkan, sebutkan, dan laporkan. Kedua, direktif adalah tuturan yang dimaksudkan dengan harapan pendengar melaksanakan tindakan yang diutarakan dalam tindak tutur. Misalnya, menentang, memohon, menyarankan. Ketiga, ekspresif atau evaluative merupakan tindak tutur yang memiliki tujuan sebagai bentuk evaluasi terhadap hal-hal yang disebutkan dalam tuturannya, misal berteriak, mengucapkan rasa terima kasih serta kritik. Keempat, komisif adalah tindak tutur yang mengharuskan pembicara untuk melakukan apapun yang dikatakan pada setiap tuturan. Kelima, deklarasi tindak tutur yang tuturannya menciptakan hal baru, misal memutuskan, mengizinkan, dan melarang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ekspresif atau tindak tutur evaluatif diucapkan dengan maksudnya adalah sebagai evaluasi terhadap apa yang dikatakan dalam sebuah tindak tutur. Berdasarkan literatur yang ada, penulis menemukan, ada beberapa fungsi dari tindak tutur ekspresif yaitu. mencaci maki, mengeluh, menghina, memuji, bersimpati, mengkritik, menyela, mengucapkan terima kasih, memaafkan, mengucapkan selamat, meminta maaf, menyampaikan belasungkawa, menuduh dan menyambut (Andi Meirling AJ et al, 2021. Firmansyah & Fatonah, 2021. Astika et al, 2021. Lestari & Solihati, 2022. Febriyanno, 2022. Dhika, 2023. Maryati & Ningsih, 2023. Syafendra & Fatmawati, 2023. Winda & Fatmawati. Pada proses perkembangan anak, faktor yang penting dalam mempertajam karakter anak serta membangun perinsip atau pendirian anak adalah lingkungan. Perkembangan bahasa anak usia dini dipengaruhi oleh cara orang tuanya mendidiknya, misalnya dalam pola komunikasi, mengajak berdiskusi, dan memberikan motivasi agar meningkatkan semangatnya. Dari pernyataan tersebut dapat dipahami jika bahasa anak dapat diperoleh dan dikembangkan pada saat anak mulai bisa mendengar dengan pola komunikasi yang efektif dan benar, adanya interaksi berupa percakapan seperti diskusi pada keluarga dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan kemampuan anak dalam mempelajari bahasa. Keluarga khususnya orang tua merupakan lingkungan yang memberikan pengaruh pertama dan utama dalam perkembangan dan pertumbuhan anak (Kanul, 2. Penelitian ini berfokus pada tindak tutur siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya. Berdasarkan pengamatan di lingkungan TK Nurul Islam Sentajo Raya melihat interaksi setiap anak saat di lingkungan bermain ataupun di lingkungan belajar, ditemukan beragam tindak tutur yang terjadi dalam interaksi siswa TK Nurul Islam Sentajo Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Fitria. & Fatmawati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Raya. Secara khusus penelitian ini dilakukan sesuai dengan tujuannya, yaitu mengkaji secara mendalam terkait tindak tutur ekspresif pada interaksi yang dilakukan oleh siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya, penelitian dilakukan di tempat tersebut karena dekatnya lokasi tempat tinggal peneliti serta belum ditemukannya penelitian strategi bertutur dalam tindak tutur ekspresif yang dilakukan di sekolah tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk tindak tutur ekspresif yang digunakan oleh siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya dalam interaksi sehari-hari di lingkungan belajar dan bermain. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan bentuk-bentuk tindak tutur ekspresif yang digunakan oleh siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya dalam berbagai situasi komunikasi, baik dalam lingkungan belajar maupun bermain. Metode Penelitian ini dilakuka dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan menerapkan metode isi. Metode analisis isi merupakan metode yang berproses dengan beberapa kode untuk mengidentifikasikan dan dikelompokkan, hal ini termasuk dengan cara menganalisis tindak tutur ekspresif. Kemudian, berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, laporan disusun dan terakhir adalah kesimpulan (Bungin, 2. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur penganalisian yang tidak mempergunakan prosedur analisis statistik ataupun cara kuantifikasi lainnya (Moleong, 2. Sejalan dengan pendapat yang diutarakan oleh Moleong. Ziraluo . menyebutkan bahwa penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menghasilkan data berupa pendeskripsian data dengan menggunakan kalimat dari pada angka-angka. Kemudian. Sugiyono . juga menyebutkan bahwa penelitian yang menggunakan metode kualitatif merupakan penelitian yang fokus datanya non-numerik kemudian data disusun dengan apik kedalam bentuk narasi. Penelitian ini berbentuk deskriptif karena data yang telah ditemukan akan dianalisis dengan cara mendeskripsikan secara rinci dengan teori yang sesuai. Sugiyono . teknik kualitatif deskriptif digunakan untuk dapat menjelaskan, menggambarkan, menerangkan, melukiskan, serta dapat menjawab dengan jelas dan detail terkait permasalahan yang menjadi bahan kajian. Pendekatan kualitatif dikatakan juga sebagai jenis pendekatan dengan metodologi yang mengumpulkan berbagai informasi deskriptif yang didapat secara lisan atau tertulis yang diperoleh dari subjek. Data dan sumber data pada penelitian ini adalah seluruh tuturan yang berbentuk ekspresif yang terjadi dalam interaksi antar siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya, data yang berupa interaksi berkomunkasi yang berlandaskan bahasa tersebut yang digunakan dalam analisis penelitian ini. Pengambilan data dilakukan selama 2 minggu di TK Nurul Islam Sentajo raya, terhitung dari tanggal 22 April 2024 sampai 4 Mei 2024. Dilakukan selama 2 minggu karena peneliti sudah mendapatkan data yang sesuai dengan kebutuhan kajian. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik observasi, simak, dan catat. Teknik observasi dilakukan untuk mengetahui tindak tutur yang terjadi dalam interaksi siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya. Teknik simak digunakan untuk menyimak kembali interaksi serta percakapan-percakapan yang dilakukan siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya, teknik simak dapat digunakan karena selama pengambilan data, peneliti merekam semua aktivitas yang terjadi di dalam kelas pada siswa TK Nurul Islam Sentoja Raya. Kemudian, setelah menyimak, teknik catat merupakan teknik terakhir yang digunakan dalam proses pegerjaan data, teknik catat digunakan untuk mencatat kembali semua tuturan yang telah disimak kedalam bentuk tulisan. Untuk menguji keabsahan data, kajian ini menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi adalah teknik yang dilakukan untuk menguji kredibilitas data kepada sumber yang sama dengan data yang berbeda (Sugiyono. Metode triangulasi merupakan metode yang dipakai dalam menggumpulkan informasi serta sumbersumber data yang sudah terdapat. Sugiyono . menjelaskan lebih lanjut, apabila triangulasi digunakan dalam suatu penelitian atau sebuah riset, maka priset sudah sekalian mengumpulkan sebuah informasi serta menguji keabsahan data. Untuk menguji dan menentukan keabsahan data terdapat empat kriteria yang bisa Keempat kriteria tersebut adalah. Kredibilitas, pada kredibilitas berpusat pada proses kepercayaan serta fakta yang sesuai dengan lapangan, seperti data tindak tutur ekspresif dalam tuturan siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya yang termasuk ke dalam kajian pragmatik. Untuk menguji seberapa kredibilitas data tersebut, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi teori. Transferbilitas, laporan dibuat dengan jelas dan terperinci, sistematis, dan dapat dipercaya agar orang lain yang membaca atau melihat penelitian ini memahami sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil temuan. Depenabilitas, depenabilitas atau reliabilitas merupakan kiteria dengan apabila penelitian ini dapat diulang oleh orang lain, secara proses dilakukan penelitian maka sebuah penelitian akan memenuhi standar depenabilitas dan. Konfirmabilitas, untuk mencapai kriteria ini, peneliti melakukan sebua pengecekan dengan berulang-ulang terhadap proses serta remuan penelitian. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Tindak tutur ekspresif pada tuturan siswaA Hasil dan Pembahasan Penelitian terhadap tindak tutur yang dilakukan siswa dalam berkomunikasi ini dilaksanakan di TK Nurul Islam Sentajo Raya. Dalam pengambilan data, peneliti hanya menggunakan data yang diperoleh dari hasil menyimak tanpa melalukan percakapan karena melalui hasil menyimak ini sudah mampu menjawab permasalahan yang Penelitian ini menunjukkan fungsi tindak tutur ekspresif yang ditemukan dalam tuturan siswa TK Nurul Islam Sentajo Raya. Fungsi tindak tutur yang terdapat dalam interaksi siswa tersebut adalah memuji, mengucapkan terima kasih, mengucapkan selamat, memohon maaf/memaafkan, menyalahkan, menuduh, menghina, menaruh simpati, menolak, mendukung, mengejek, mengeluh, menyelak, dan mengkritik. Sedangkan fungsi tuturan yang tidak di temukan adalah menyambut, mengucapkan belasungkawa, dan Adapun hasil dokumentasi data yang dapat dilihat pada tabel 1 berikut. Tabel 1 Tindak Tutur Ekspresif Memuji Menghina Mengejek Mengucapkan Terima Kasih Menyalahkan Menuduh Mendukung Mengeluh Memohon/Memaafkan Menaruh Simpati Mengkritit Menyelak Mengucapkan Selamat Menolak Jumlah Jumlah Data Tindak Tutur Ekspresif Memuji Sari . alam Assidik et al, 2. menjelaskan bahwa tindak tutur ekspresif memuji merupakan tindak tutur yang terjadi karena beberapa hal, yaitu ketika kita ingin mengutarakan hal-hal yang baik akan seseorang, ketika merasa kagum dengan seseorang dan dengan itu kita mulai menunjukannya dengan menyanjung orang tersebut, bisa juga dilakukan ketika kita ingin merayu seseorang atau ingin memberikan rasa senang kepada seseorang. Tindak tutur ekspresif adalah kondisi yang tuturannya ada karena kondisi lawan bicara yang sesuai dengan fakta yang ada karena tujuan tindak tutur ekspresif adalah untuk meringankan hati lawan bicaranya karena perbuatan yang dilakukan penutur. Tindak tutur ekspresif dengan bentuk memuji pada penelitian ini ditemukan sebanyak 13 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif memuji, yaitu: Konteks: Pada saat jam blajar para siswa di intruksikan untuk menggambar oleh guru mereka. Lalu ada salah satu siswa yang memuji gambar teman sebangkunya. Siswa 3: AuWah gambar kamu bagus banget. Ay . Siswa 4: AuIya dong. Acik (Tant. aku yang ajarin aku menggambar di rumahAy Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 3 termasuk fungsi tuturan ekspresif memuji. Hal ini bisa terjadi karena siswa 3 merasa kagum terhadap gambar yang di buat oleh siswa 4. Siswa 3 tersebut memberikan pujiannya dalam bentuk pernyataan dan berdasarkan yang dilihatnya secara langsung yakni gambar yang dibuat oleh siswa 4. Menurutnya gambar yang di buat oleh teman sebangkunya itu bagus. Terbukti pada tuturan AuWah gambar kamu bagus banget. Ay Yang disampaikan siswa 3. Pujian bisa muncul secara literal dan non-literal. Secara harafiah berarti pujian yang diberikan sesuai dengan niat sebenarnya. Meskipun secara harafiah bukan berarti pujian yang diberikan tidak sesuai dengan niatnya namun bisa juga sebaliknya. Adanya wujud tindak tutur ekspresif memuji merupakan kekaguman dan memberikan penghargaan kepada sesuatu yang baik (Adha & Arief, 2020. Sukmawati & Fatmawati, 2023. Fiamanillah & Fatmawati, 2. Berdasarkan fenomena yang terjadi, tuturan tersebut lazim terjadi dalam kegiatan tutur orang dewasa maupun anak kecil. Kebanyakkan anak-anak pada zaman ini mencontoh percakapan yang mereka tonton di sosial media seperti YouTube dan TikTok. Selain itu mereka juga mencontoh dari lingkungan sekitar dan terpengaruhi juga oleh peran orang tua. Maka, di sekolah mereka harus di didik agar memperoleh karakter dan akhlak yang bagus. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Fitria. & Fatmawati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. Tindak Tutur Ekspresif Menghina Tindak tutur ekspresif menghina merupakan salah satu tuturan yang mempunyai maksud sebagai ejekan dengan tujuan untuk menjatuhkan, menjelekan serta menghina lawan tuturnya. Tindak tutur ekspresif menghina adalah tindak tutur yang diungkapkan oleh penutur dengan maksud untuk mengolok-olok lawan bicaranya, meskipun dalam bentuk menggoda atau sindiran yang tidak bermaksud menghina lawan bicaranya (Awalia & Emy, 2024. Fiamanillah dan Fatmawati, 2. Tindak tutur ekspresif pada penelitian ini ditemukan sebanyak 5 lima Berikut contoh tindak tutur ekpresif menghina, yaitu: Konteks: Ketika jam istirahat para siswa makan di kantin sekolah. Lalu ada dua orang siswa yang sedang ribut karena salah satu dari mereka air minumya tumpah Siswa 7: AuDek ang minum den tabayak ma nak?Ay (Karena kamu minumku tumpah, bukan?) Siswa 4: AuDak den do, eh Rafa sumbiangAy (Bukan aku ya, eh Rafa sumbin. Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 4 termasuk pada katagori fungsi tindak tutur ekspresif menghina. Hal tersebut terjadi karena siswa 4 merasa marah dan kesal karena dianggap menumpahkan minuman siswa 7. Terbukti pada tuturan AuMano den, eh Rafa sumbiang. Ay yang disampaikan siswa 4 dalam Bahasa Indonesia berarti AuBukan aku ya, eh Rafa sumbingAy. Diketahui temannya yang bernama Rafa tersebut di hina oleh siswa 4 dengan sebutan AosumbiangAo yang dalam bahasa Indonesia berarti AosumbingAo. Pada tuturan siswa 4 dapat diketahui mahwa maksud dari ucapannya adalah bentuk menghina lawan tuturnya, penutur mencaci maki lawan tuturnya dengan mengolok-olok fisik yang ada pada lawan tuturnya. Tindak tutur menghina ini dapat melukai perasaan orang lain. Tindak tutur ekspresif mencaci dan menghina memiliki perbedaan. Tuturan ekspresif mencaci maki lebih kasar daripada tuturan ekspresif menghina (Syafendra & Fatmawati, 2023. Winda & Fatmawati, 2. Fenomena ini lazim di temukan dalam kalangan anak-anak. Hal tersebut mereka pelajari atau mereka contoh dari mengamati lingkungan sekitar, pengaruh peran orang tua dan pemerolehan hal-hal yang telah mereka konsumsi baik itu melalui media sosial dan lainnya. Tindak Tutur Ekspresif Megejek Tindak tutur ekspresif mengejek sekilas sama dengan tindak tutur ekspresif mencaci. Namun, kedua tindak tutur tersebut berbeda, tindak tutur ekspresif mencaci tuturannya dismapaikan dengan sangat kejam dan cenderung tidak sopan hal ini meliputi memaki, mencacat keras, mencela, bahkan sampai pada level menistakan. Berbeda dengan tindak tutur ekspresif mencaci, tindak tutur ekspresif mengejek lebih merujuk kepada sindiran-sindiran dan juga mentertawakan pihak tertentu. Pada sudut pandang psikologi, tindak tutur ekspresif mengejek disebabkan karena timblnya rasa kesal, tidak suka, marah, iri, kecewa dan lainnya. Tindak tutur ekspresif dengan fungsi menghina ditemukan sebanyak 7 tuturan. Berikut contoh tindak tutur ekspresif menghina, yaitu: Konteks: Tuturan ini terjadi ketika para siswa belajar menulis. Ada seoran siswa yang mengejek tulisan teman Siswa 7: AuIh tulisan kau ga zea bontuak cakar ayamAy . (Ih tulisanmu ini Zea seperti cakar aya. Siswa 8: AuBiarlah, yang pontiang la siap tugas denAy (Biarkan saja, yang penting tugasku sudah selesa. Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 7 termasuk fungsi tuturan ekspresif mengejek. Hal tersebut mucul karena siswa 7 merasakan perasaan yang lucu ketika melihat tulisan siswa 8 yang menurutnya jelek. Siswa 7 tersebut menelontarkan ejekkannya AuIh tulisan kau ga Zea bontuak cakar ayam. Ay yang dalam Bahasa Indonesia berarti AuIh tulisanmu ini Zea seperti cakar ayamAy. Ejekkan yang dimaksud terdapat pada kata Aocakar ayamAo yang dalam tulisan artinya Aosangat jelekAo. Fenomena ini sudah lazim berada dalam kalangan anak-anak. Tindak tutur ekspresif mengejek merupakan hasil tuturan yang digunakan untuk mengejek, menertawakan serta mengolokolok orang lain (Fadiana, 2. Dalam ranah percakapan pragmatik siber, sikap psikologis yang menyebabkan timbulnya tuturan mengejek adalah rasa iri, marah, dendam, atau hanya untuk bersenang-senang saja. Hal tersebut di peroleh anak-anak dari mengamati lingkungan sekitar, peran orang tua dan apa yang mereka dengar. Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Terima Kasih Mengucapkan terima kasih terjadi karena sesuatu yang dialami oleh penutur untuk mengekspresikan suatu hal. Ucapan terima kasih merupakan tuturan ekspresif di mana pembicara mengungkapkan atau menyatakan rasa terima kasih atas apa yang terjadi baik itu positif atau pun yang berkesan. Tuturan mengucapkan terima kasih ditemukan sebanyak 7 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif mengucapkan terima ksih, yakni: Konteks: Pembelajaran telah selesai pada jam pertama, anak-anak pun dipersilahkan untuk istirahat Guru: AuNah belajar kita sampai di sini dulu ya. Anak-anak boleh istirahat dan makan bekalnya yaAy Siswa: AuBaik Bu. Terima kasih BuAy . Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Tindak tutur ekspresif pada tuturan siswaA Tuturan . yang disampaikan oleh para siswa termasuk fungus tindak tutur ekspresif bagian mengucapkan terima kasih. Ucapan yang berupa AuBaik Bu. Terima Kasih. BuAy ditunjukan kepada guru mereka sebagai bentuk rasa syukur karena guru mereka mempersilakan mereka untuk mengambil waktu istirahat dan segera memakan bekal yang telah mereka bawa. Tuturan mengucapkan rasa terima kasih merupakan bentuk tuturan yang menunjukan kesopansantunan serta kemurahan hati penutur dan juga disebabkan karena adanya pemberian bantuan berupa tindakan (Faroh & Utomo, 2020. Fiamanillah & Fatmawati, 2024. Azizah & Prayitno, 2. Tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih diperoleh dan dipelajari oleh anak-anak dari lingkungan, orang tua, media sosial dan lainnya. Tindak Tutur Ekspresif Menyalahkan Tindak tutur ekspresif menyalahkan biasanya ditujukan oleh penutur ketika merasakan ketidakpuasan terhadap tindakan atau perilaku mitra tutur (Sukmawati & Fatmawati, 2023. Fatmawati & Rika, 2. Menyalahkan yakni tuturan yang sifatnya menyatakan atau menganggap orang lain salah terhadap sesuatu hal (Fiamanillah & Fatmawati, 2. Tindak tutur ekspresif menyalahkan merupakan sebuah usaha seseorang untuk menyadarkan lawan tutur/ mitra tutur dengan menunjukan kesalahan yang telah dia perbuat, atau bisa juga disebut sebagai usaha untuk menyalahkan orang lain sebagai akibat dari suau permasalahan. Tindak tutur ekspresif dengan fungsi menyalahkan ditemukan sebanyak 2 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif menyalahkan, yakni: Konteks: Pada saat jam belajar, para siswa di instruksikan untuk belajar menulis angka dari angka 1 sampai 10. Lalu ada salah satu siswa yang memprotes tulisan teman sebangkunya. Siswa 4: AuSalah kau ma Gin. Jole sudah angko duo da angko tigo dak ompek da. Ay . (Kamu salah Gin. Jelas saja setelah angka dua itu angka tiga bukan angka empa. Siswa 1: AuYe ke?Ay (Iya kah?) Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 4 termasuk fungsi tuturan ekspresif menyalahkan. Siswa 4 menunjukkan kesalahan yang dilakukan oleh siswa 11 yaitu kesalahan dalam urutan penulisan angka. Seharusnya setelah angka 2 adalah angka 3, tetapi siswa 11 tidak menulis hal yang demikian, siswa 11 menulis angka 4 setelah angka 2. Terbukti pada tuturan siswa 4 AuSalah kau ma Gin. Jole sudah angko duo da angko tigo dak ompek da. Ay yang dalam bahasa Indonesia berarti AuKamu salah Gin. Jelas saja setelah angka dua itu angka tiga bukan angka empatAy. Tindak tutur ekspresif menyalahkan terjadi akibat dari seorang penutur yang menegur kesalahan yang diperbuat oleh mitra tutur. Adanya kesalahan yang dilakukan oleh penutur atau mitra tutur suatu tindakkan atas kalimat yang dapat mengekspresikan ketidakpuasan terhadap tindakan atau perilaku mitra tutur sehingga mengakibatkan tuturan ekspresif menyalahkan (Rahmawat et al 2023. Iklimah et al. , 2. Tindak tutur ekspresif menyalahkan ini dipelajari dan dipahami oleh para siswa berdasarkan dari yang disampaikan oleh orang-orang disekitarnya. Tindak Tutur Ekspresif Menuduh Tindak tutur ekspresif menuduh apabila dilihat dari kacamata psikilogis muncul karena adanya perasaan kecewa dan marah. Perasaan marah dan kecewa seseorang kepada suatu hal yang dilakukan orang lain akan memberikan hal-hal yang menyakitkan yang dilakukan oleh orang tersebut (Situmorang et al, 2022. Fatmawati & Rika, 2. Tindak tutur ekspresif menuduh pada penelitian ini ditemukan sebanyak 2 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif menuduh, yaitu: Konteks: Pada saat jam pelajaran pertama selesai, para siswa keluar dari kelas untuk beristirahat. Ada beberapa siswa yang langsung menuju area kantin dan area bermain tanpa menggunakan alas kaki, dan ada juga yang memakai sepatunya terlebih dahulu. Lalu ada siswa yang sepatunya hilang sebelah dan tanpa ada bukti langsung menuduh teman yang berada disampingnya. Siswa 6: AuWoi Iki, ang nyondokan sapatu den e?Ay . (Woi Iki. kamu yang menyembunyikan sepatuku-kan?) Siswa 13: AuNdek e lomak ja ang nuduah-nuduah denAy (Enak saja kamu nuduh-nuduh ak. Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 6 termasuk fungsi tuturan ekspresif menuduh. Terbukti pada tuturan AuWoi Iki, ang nyondokan sapatu den e?Ay yang dalam bahasa Indonesia berarti AuWoi Iki. kamu yang menyembunyikan sepatuku-kan?Ay siswa 6 menuduh siswa 13 yang saat itu ada disampingnya. Tanpa alasan yang jelas siswa 6 langsung menuduh siswa 13 yang telah menyembunyikan sepatunya yang hilang. Padahal siswa 13 tidak melakukan hal yang demikian dan mereka juga sama-sama baru keluar dari kelas. Menurut Liusti . alam Fatmawati & Rika, 2. tindak tutur ekspresif menuduh muncul akibat adanya prasangka buruk Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Fitria. & Fatmawati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. terhadap orang lain. Tindak tutur ekspresif menuduh bisa tertanam oleh anak kecil atau orang dewasa karena adanya pengaruh buruk dari aktivitas atau kebiasaan keluarga dan lingkungan. Tindak Tutur Ekspresif Mendukung Tindak tutur ekspresif mendukung merupakan bentuk tindak tutur yang muncul dari sikap psikologis positif berupa motivasi dan semangat. Menurut Depdiknas . mendukung merupakan sikap psikologis membantu Dukungan merupakan reaksi yang diberikan oleh penutur atau mitra tutur yang dapat membuktikan bahwa dukungan dapat diklasifikasikan sebagai bentuk tindak tutur ekspresif. Tindak tutur ekspresif mendukung adalah sebuah upaya konstribusi yang diberikan oleh pihak satu kepihak lain yang berupa kata-kata pendukung atau semangat (Syafendra & Fatmawati, 2023. Fatmawati & Rika, 2. Tindak tutur ekspresif mendukung pada penelitian ini ditemukan sebanyak 2 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif mendukung: Konteks: Pada saat belajar salah satu siswa diminta oleh guru untuk memimpin membaca surat pendek sebelum memulai pelajaran. Guru: AuNah siapa di sini yang berani maju ke depan untuk memimpin teman-temannya membaca surat Alfatihah?Ay Siswa 5: AuKamu aja Rin. Kamu kan sudah hafal banyak surat. Kamu pasti bisaAy . Siswa 12: AuOke, aku yang majuAy Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 5 termasuk fungsi tuturan ekspresif mendukung. Siswa 5 memberikan dukungan berupa semangat pada siswa 12 agar mau maju ke depan untuk memimpin temantemannya membaca surat Al-Fatihah. Terbukti pada tuturan yang disampaikan siswa 5 AuKamu aja Rin. Kamu kan sudah hafal banyak surat. Kamu pasti bisaAy. Menurut Fadiana . tindak tutur ekspresif mendukung meupakan tindak tutur yang berguna untuk memberikan dorongan positif serta semangat kepada lawan tutur. Kemudian menurut Depdiknas . mendukung memiliki makna membawa sesaru atau seseorang diatas panggung membantu, menyokong, menggendong, dan menunjang. Dalam hal ini kata mendukung merupakan upaya untuk menyokong atau memberi rasa semangat terhadap apa yang dilakukan oleh seseorang agar berjalan dengan baik. Anak-anak yang memiliki sikap demikian memiliki lingkungan yang positif dan pengajaran yang baik dari orang tua ataupun guru mereka. Tindak Tutur Ekspresif Mengeluh Tindak tutur ekspresif mengeluh merupakan ungkapan dari perasaan saat seseorang merasa susah, kesal, terbebani, menderita dan merasa kurang puas (Maryati & Rika. Fatmawati & Rika, 2. Hal ini sejalan dengan pendapat Chaer . yang Tindak tutur ekspresif mengeluh merupakan tindak tutur yang terjadi karena penutur ingin mengungkapkan rasa sedih, susah, kecewa yang disebabkan oleh penderitaan, kesakitan, ataupun kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Tindak tutur ekspresif dengan fungsi mengeluh ditemukan sebanyak 3 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif mengucapkan terima kasih. Konteks: Pada saat belajar, salah satu siswa terlihat kesal karena kehilangan alat tulisnya. Siswa 9: AuNdeh den ko yang mamuakan den go ha. Ilang torui jo nyo pensil den goAy (Aduh inilah yang membuatku muak. Selalu saja pensilku hilan. Siswa 10: AuEmang diano ang lotakan?Ay (Emang dimana kamu taruh?) Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 9 AuNdeh den ko yang mamuakan den go ha. Ilang torui jo nyo pensil den goAy yang dalam bahasa Indonesia bearti AuAduh inilah yang membuatku muak. Selalu saja pensilku hilangAy termasuk fungsi tuturan ekspresif mengeluh. Frasa AuNdehAy (Adu. yang dituturkan siswa 9 menunjukan keluhan dan perasaan yang kesal sebab selalu kehilangan pensil miliknya. Menurut Depdiknas . mengeluh merupakan asal kata dari keluh yang berate suatu pernyataan terkait perasaan susah akibat penderitaan dari seseorang yang tidak sesuai dengan harapannya. Mengeluh pula merupakan tindak tutur ekspresif yang diucapkan karena adnaya rasa susah. Tindak tutur ekspresif mengeluh ini dapat disebabkan oleh refleks anakanak dan kata yang mereka dengar berulang-ulang. Tindak Tutur Ekspresif Memohon/Mamaafkan Tindak tuturekspresif memohon maaf adalah refleksi dari tuturan penutur saat merasa bersalah atas kesalahan yang dilakukannya. Tindak tutur ekspresif muncul saat penutur merasa melakukan kesalahan. Biasanya terjadi karena tidak enak, penyesalan atau bahkan timbulnya rasa bersalah karena membuat seseorang kecewa. Cara kerja tinda tutur ekspresif memohon/memaafkan adalah dengan meminta maaf langsung antara penutur dan mitra tutur atas kesalahan yang dilakukan baik secara sengaja maupun tidak (Artati et al 2020. Maharani, 2021. Setyorini et al. Menurut klasifikasi data, fungsi tindak tutur ekspresif memohon/memaafkan yang ditemukan sebnayak 3 tuturan, engan tuturan memohon maaf 2 tuturan, dan memaafkan 1 tuturan. Berikut salah satu tindak tutur ekspresif memohon/memaafkan. Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Tindak tutur ekspresif pada tuturan siswaA Konteks 1: Pada saat jam pelajaran salah satu siswa meminjam peralatan tulis pada teman sebangkunya. Siswa 5: AuBuliah den pinjam pangasah ang. Bal?Ay . (Boleh aku pinjam rautanmu. Bal?Ay Siswa 6: AuPakailah, tapi kalau dak tajam moo laAy (Pakailah, tapi kalau tidak tajam maaf y. Konteks 2: Pada saat jam pelajaran, 2 siswa diminta maju ke depan untuk menyelesaikan permasalahan mereka, karena pada saat jam istirahat mereka terlibat perkelahian. Guru: AuAdel dan Olif maju ke depan, saling bermaafan. Ayo Adel minta maaf dulu sama OlifAy Siswa 1: AuOlif, aku minta maaf ya, besok nggak kan jahat lagiAy Siswa 9: AuGak, nanti kamu jahat lagi. Ay Guru: AuTidak boleh seperti itu nak, jika berteman kita tidak boleh jahat. Maafin Adel yaAy Siswa 9: AuIya bu. Aku maafin kamu Adel, tapi jangan jahat lagiAy . Siswa 1: AuIya Lif, makasih ya udah maafinAy Tuturan . yang disampaikan siswa 6 tergolong pada tuturan ekspresif memohon maaf. Tuturan siswa 6 AuPakailah, tapi kalau dak tajam moo laAy yang dalam bahasa Indonesia berarti AuPakailah, tapi kalau tidak tajam maaf yaAy merupakan tindak tutur eskpresif meminta maaf. Siswa 6 meminta maaf apabila rautan yang di pinjam teman sebangkunya yakni siswa 5 tidak tajam. Memohon maaf merupakan bentuk perbuatan yang dilakukan seseorang agar memperoleh maaf atas kesalahannya (Herfani & Manaf, 2020. Dahlia, 2. Sementara itu tuturan . yang disampaikan siswa 9 AuIya bu. Aku maafin kamu Adel, tapi jangan jahat lagiAy tergolong pada tuturan ekspresif memaafkan. Siswa 9 memaafkan siswa 1 yang telah jahat kepadanya. Menurut Depdiknas . maaf merupakan bentuk dari bebasnya seseorang dari hukuman yang didapat dari suatu kesalahan. Sementara pemaafan dapat diartikan sebuah pemberian ampun kepada seseorang yang melakukan kesalahaan dan menganggap bahwa itu tidak lagi merupakan kesalahan. Tindak tutur ekspresif memohon/memaafkan muncul karena adanya hal yang melatarbelakangi seperti penolakan, menyalahkan pihak lain, tidak tertarik, dan menghina. Kehadiran tindak tutur eskpresif memohon/memaafkan dalam situasi menolak menunjukkan kesantunan berbahasa. (Pratiwi & Fatmawati, 2. Tindak tutur memohon maaf atau memaafkan diajarkan pada anak baik itu melalui guru maupun orang tua dan lingkungan sekitar mereka. Sehingga anak-anak memiliki karakter yang baik dan peka atau sensitif terhadap permasalahan yang mereka Tindak Tutur Ekspresif Menaruh Simpati Tindak tutur ekspresif menaruh simpati adalah bentuk refleksi dari seseorang yang ikut meresakan perasaan orang lain, seperti sedih gembira, senang, kecewa, ataupun berduka. Menaruh simpati terjadi berdasarkan fakta yang jelas dan penutur menyadari kebenarannya. Menaruh simpati termasuk ke dalam bentuk ekspresi yang di tunjukkan dengan ungkapan atau tindakan secara lisan atau tulisan, baik secara langsung ataupun tidak secara Penutur dapat mengekspresikan pendapat nya dalam memberikan respon terhadap suatu hal atau terhadap seseorang. Tindak tutur ekspresif menaruh simoati pada peneliitian ini ditemukan sebanyak 3 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif menaruh simpati. Konteks: Pada saat pulang sekolah, ada salah satu siswa yang tampak tak semangat karena dirinya belum di jemput oleh orang tuanya. Siswa 3: AuAndai aja ayah aku masih hidup kaya kawan-kawan yang lain, pasti ada yang jemput setiap hariAy Siswa 10: AuKamu yang sabar aja Han, gak apa-apa, kan bisa numpang sama akuAy . Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 10 AuKamu yang sabar aja Han, gak apa-apa, kan bisa numpang sama akuAy termasuk fungsi tuturan ekspresif menaruh simpati. Siswa 10 merasa iba terhadap salah satu temannya yang sudah tak memiliki ayah dengan berusaha menghiburnya. Tindak tutur ekspresif menaruh simpati muncul karena terbentuknya rasa kasih atau suka kepada seseorang sehingga memunculkan rasa yang sama atau ikutserta merasakan peerasaan lawan tutur (Syafendra & Fatmawati, 2023. Fatmawati & Rika, 2. Tindak tutur ekspresif menaruh simpati ini diajarkan ataupun dipahami sendiri oleh anak-anak ketika mereka dibiasakan memahami dan menyimak hal-hal yang berkaitan dengan emapti atau simpati. Tindak Tutur Ekspresif Mengkritik Tindak tutur ekspresif mengkritik merupakan bentuk respon atau tanggapan seseorang terhadap suatu hal berasaskan pada nilai dan norma yang diyakininya. Tindak tutur ekspresif mengkritik dipakai saat menyampaikan tanggapan, kecaman terhadap hal-hal yang melenceng dari norma, kritik, serta penilaian atau Namun. tidak semua kritik menimbulkan konflik, kritik juga bisa disampaikan dengan bahasa yang santun (Oktaviani & Razi, 2024. Fiamanillah & Fatmawati, 2. Kemudian, apabila diliat dari sudut Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Fitria. & Fatmawati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. psikologis, mengkritik muncul akibat adanya rasa tidak setuju dengan orang lain, rasa tidak suka, tidak tertarik, dan lainnya. Tindak tutur ekspresif dengan fungsi menaruh simpati ditemukan sebanyak 3 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif menaruh simpati, yakni: Konteks: Pada saat belajar ada dua siswa yang sedang asyik berbincang. Salah satu siswa mengkritik teman sebangkunya yang menurutnya tidak sependapat dengan dirinya. Siswa 5: AuAbek betu gambar angso ang ga? angso du nak mirip angko duo caro gambar aAy (Kenapa seperti itu gambar angsa mu? angsa itu seperti angka dua cara menggambarny. Siswa 6: Auoh macam tu, okeAy Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 5 AuAbek betu gambar angso ang ga? angso du nak mirip angko duo caro gambar aAy yang dalam bahasa Indonesia berarti AuKenapa seperti itu gambar angsa mu? angsa itu seperti angka dua cara menggambarnyaAy termasuk fungsi tuturan ekspresif mengkritik. Siswa 5 merasa tidak sependapat dengan siswa 6, menurutnya cara menggambar angsa bukan seperti gambar yang dibuat siswa 5, melainkan menggambarnya seperti angka 2. Siswa 5 mengkritik siswa 6 sembari menjelaskan cara yang benar untuk menggambar seekor angsa. Tindak tutur ekspresif mengkritik memiliki tujuan sebagai sebuah peringatan terhadap sesuatu yang tidak disetujui dengan mempertimbangkan hal-hal yang perlu (Nur Askia et al, 2020. Herfani & Manaf, 2020. Rahmadhani & Purwo Yudi Utomo, 2020. Syafendra & Fatmawati, 2023. Fatmawati & Rika, 2024. Fiamanillah & Fatmawati. Tindak tutur ekspresif mengkritik dipelajari oleh anak-anak saat mendengarkan dan menyimak orang dewasa ataupun media lainnya yang berkaitan dengan kritik tersebut. Tindak Tutur Ekspresif Menyelak Tindak tutur ekspresif menyelak adalah tuturan yang dilakukukan oleh penutur atau mitra tutur dengan cara memoton pembicaraan. Menyelak merupakan perbuatan tidak sopan karena hal ini dapat membuat orang lain tidak nyaman dan dapat menganggu seseorang pada saat berbicara. Menyelak juga disebut dengan interupsi. Interupsi sering digunakan untuk menyela pembicaraan, misalnya saat ingin menyampaikan gagasan di forum Tindak tutur ekspresif menyelak pada penelitian ini ditemukan sebanyak 3 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif menyelak. Konteks: Saat jam istirahat, anak-anak bermain bersama di tempat bermain. Lalu ada satu siswa yang mengusulkan untuk bermain Raja dan Ratu Siswa 8: AuMain keraja-kerajaan yuk! Aku yang jadi ratunyaA . ercakapan disel. Ay Siswa 1: Au. enyela percakapa. AGak ah, aku yang jadi ratunyaAy . Siswa 13: AuYang jadi rajanya Kevin aja. Badan dia kan besar, tinggi juga, cocok jadi rajanyaAy Tuturan . yang disampaikan oleh siswa 1 AuAGak ah, aku yang jadi ratunyaAy termasuk fungsi tuturan ekspresif menyela. Tuturan tersebut muncul saat siswa 1 tidak setuju jika siswa 8 yang menjadi Ratu dalam permainan mereka. Siswa 1 menyela pembicaraan siswa 8 saat siswa 8 belum menyelesaikan ucapannya. Tuturan ekspresif menyela muncul dari sikap psikologis negatif ketika seseorang merasa tidak setuju, kesal, kecewa dan lainnya terhadap seseorang. Keikutsertaan seseorang dalam merasakan. menurut (Depdikna. menyelak berasal dari kata selak yang artinya membuka, menyingkap, menyisingkan, menyampingkan dan Kata selak dapat digunakan diberbagai konteks yang terjadi. Pada tindak tutur menyelak berarti memotong pembicaraan seseorang saat seseorang tersebut belum menyelesaikan pembicaraanya. Tindak tutur ekspresif menyelak muncul berdasarkan sikap psikologis yang tidak sabar. Hal ini lazim terjadi pada setiap Namun anak-anak perlu dibimbing dan diajarkan agar tidak selalu menyela percakapan karena menyela merupakan perbuatan yang kurang sopan. Tindak Tutur Ekspresif Mengucapkan Selamat Tindak tutur eskpresif mengucapkan selamat adalah doa, ucapan, pernyataan, dan sebagainya yang berisi tentang harapan akan kesejahteraan, dan kebahagiaan. Tindak tutur mengucapkan selamat adalah tindak tutur berupa pernyataan yang isinya idak jauh-jauh dari doa dan harapan-harapan lainnya, tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat dikatakan pula tuturan yang menyalurkan enerfi positif kepada lawan tuturnya (Dahlia. Amanda & Tressyalina, 2. Tindak tutur ekspresif dengan fungsi mengucapkan selamat pada penelitian ini ditemukan sebanyak 2 tuturan. Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat, yakni: Konteks: Tuturan mengucapkan selamat ini terjadi pada saat jam pelajaran kedua dilaksanakan setelah jam Guru: AuAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang anak-anak. Sudah siap untuk belajar lagi?Ay Siswa: AuWalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang juga. Bu. Sudah BuAy . Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Tindak tutur ekspresif pada tuturan siswaA Tuturan 13 yang disampaikan oleh para siswa AuWalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Selamat siang juga. Bu. Sudah BuAy tersebut merupakan tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat. Mereka mengucapkan selamat kepada guru mereka sebagai pembuka untuk mengawali pembelajaran yang akan Mengucapkan selamat merupakan tuturan yang sering diucapkan ketika ada kabar yang membahagiakan (Maharani, 2. Tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat dapat diucapkan sebagai respons terhadap sejumlah peristiwa, seperti saat seseorang mengucapkan selamat ulang tahun, menerima penghargaan, atau mengalami sesuatu yang positif. Ucapan selamat juga biasanya digunakan dalam doa, tetapi dapat juga digunakan sebagai ucapan sopan dan formal (Helda & Fatmawati, 2023. Simanullang & Fatmawati. Tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat dipelajari siswa sedari kecil baik itu dari ajaran orang tua maupun guru dan faktor lingkungannya. Tindak Tutur Ekspresif Menolak Tindak tutur ekspresif menolak kerap muncul karena adanay perasaan yang disebabkan oleh marah, bosan, benci, kekecewaan, dan lainnya. Tuturan menolak juga kerap dijumpai pada kehidupan sehari-hari, misalnya pada sebuah kebijakaan yang sudah pasti ada pro serta kontra, mereka yang mendukung kebijakan tersebut tentu akan menjadi pihak pro, dan yang bersebrangan dengan pendapat mereka akan menjadi pihak kontra yang kerap ditandai dengan penolakan kebijakan yang diusungkan (Fatmawati & Rika, 2. Menolak juga berarti mendorong, menyorongkan, mendesak, mencegah, tidak menerima, tidak membenarkan, tidak setuju, mengusir, memotong. Tindak tutur menolak ialah sebuah ungkapan untuk tidak mengiyakan ajakan atau menerima tawaran dari lawan bicara. Tindak tutur ekspresif dengan fungsi menolak ditemukan sebanyak 5 Berikut salah satu contoh tindak tutur ekspresif mengucapkan selamat, yakni: Konteks: Pada saat jam peajaran, anak-anak diintruksikan oleh gurunya untuk mewarnai. Ada dua siswa yang sedang berbincang disela-sela kegiatan mewarnai tersebut. Siswa 1: AuBoleh gak aku pinjam krayon kamu warna merah?Ay Siswa 2: AuGak boleh. Nanti karyonku hilangAy . Tuturan . yang disampaikan oleh Siswa 2 AuGak boleh. Nanti karyonku hilangAy merupakan tindak tutur ekspresif menolak. Siswa 2 menolak mminjamkan krayonnya . ensil warna yang terbuat dari lili. kepada siswa 1 karena takut krayonnya hilang jika dipinjamkan kepada siswa 1. Tuturan penolakan dalam komunikasi merupakan sikap yang wajar ditemukan saat mitra tutur dan lawan tutur berkomunikasi. Namun, menolak juga ada etikanya pada saat melakukan hal tersebut, salah satunya adalah jangan sampai melukai perasaan lawan bicara karena tuturan yang kasar saat menolak (Fatmawati & Rika, 2. Tindak tutur ekspresif menolak murni dimilki oleh anak-anak dan biasanya muncul karena adanya perasaan takut, dan merasa tidak aman. Namun sikap menolak tersebut harus diajarkan pada anak-anak agar sesuai dengan konteks dan alasan yang kuat kenapa anak-anak harus menolak. Simpulan Berdasarkan analisis data 60 tuturan ekspresif dibagi menjadi 14 fungsi. Fungsi tindak tutur ekspresif yang ditemukan adalah memuji . , menghina . , mengejek . , mengucapkan terima kasih . , menyalahkan . , menuduh . , mendukung . , mengeluh . , memohon/memaafkan . , menaruh simpati . , mengkritik . , menyelak . , mengucapkan selamat . , menolak . Tuturan ekspresif yang paling dominan adalah tuturan ekspresif fungsi memuji yaitu sebanyak 13 tuturan. Penelitian ini mengungkap bahwa perilaku tutur anak usia dini, khususnya dalam tindak tutur ekspresif, sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan media yang mereka Temuan dominannya tuturan memuji menunjukkan bahwa anak-anak cenderung meniru dan mereproduksi ekspresi positif sebagai bagian dari interaksi sosial mereka, namun kehadiran tuturan negatif seperti menghina, mengejek, atau menolak juga memperlihatkan bahwa anak-anak belum sepenuhnya mampu membedakan konteks dan konsekuensi tutur dalam interaksi mereka. Hal ini menegaskan bahwa perkembangan bahasa dan perilaku tutur anak tidak hanya terbatas pada aspek linguistik semata, tetapi juga terkait erat dengan faktor pembelajaran sosial dan pengaruh media yang dapat membentuk pola komunikasi dan ekspresi emosional Dalam bertutur anak-anak banyak mencontoh apa yang mereka lihat dengar dan simak dari lingkungan Termasuk pengaruh Handphone yang berisi platform media sosial seperti Youtube. Tiktok, dan lainnya. Mereka dengan polos mengatakan hal yang sama atau berperilaku seperti pelakon dalam media sosial tersebut tanpa memperhatikan baik atau buruknya ucapan tersebut. Temuan ini menjadi penting sebagai dasar bagi orang tua, pendidik, dan pengasuh untuk menciptakan lingkungan komunikasi yang sehat dan positif agar perkembangan tutur anak dapat diarahkan secara Lebih jauh, penelitian ini menyoroti kebutuhan akan pengawasan dan bimbingan dalam penggunaan media sosial oleh anak-anak, guna menghindari reproduksi perilaku tutur yang negatif. Dengan pemahaman ini, kita dapat melihat tindak tutur anak sebagai indikator penting dalam memetakan Journal homepage: https://jurnal. org/index. php/j-edu Fitria. & Fatmawati. Jurnal EDUCATIO (Jurnal Pendidikan Indonesi. Vol. No. 1, 2025, pp. perkembangan sosial dan emosional mereka dalam konteks interaksi sehari-hari. Guru disarankan untuk melakukan eksplorasi lebih dalam mengenai tindak tutur ekspresif agar dapat menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif. Tuturan ekspresif yang disampaikan harus dalam bentuk positif apabila tuturan negatif yang disampaikan menimbulkan permasalahan kesalahpahaman bagi mitra tutur. Referensi