BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 6 - 10 Gambaran Tingkat Kecemasan pada Tahanan di Rumah Tahanan Klas IIB Garut Nur Oktavia Hidayati1*. Mia Amalia Shopia Agustien2. Sukma Senjaya3 1,2,3Fakultas Keperawatan. Universitas Padjadjaran. Sumedang. Indonesia Email: *1: nur. oktavia@unpad. Abstrak-Rumah Tahanan yaitu suatu tempat sementara untuk menahan seorang tersangka atau terdakwa sebelum menunggu keputusuan hukum dengan suatu vonisan lamanya hukuman seorang tersangka sesuai kesalahan yang di lakukannya. Gambaran tingkat kecemasan yang terjadi di Rumah Tahanan Kelas IIB kabupaten Garut adanya tahanan yang merasakan sakit kepala, sering berkemih, perubahan pada pola tidur, kepercayaan diri menurun, mudah tersinggung, kesulitan untuk berpikir dan lebih sering merasa takut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat kecemasan pada seorang tahanan yang berada di Rumah Tahanan Kelas IIB Kabupaten Garut. Jenis penelitian ini menggunakan peneleitian deskriptif kuantitatif dengan populasi 106 orang tahanan yang berada di Rumah Tahanan dan dengan jumlah sampel 84 responden, dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan analisa univariat. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Zung-Self Rating Scale (SAS/SRAS) yang merupakan instrumen penilaian kecemasan terhadap individu yang di rancang oleh William W. K Zung, dikembangkan berdasarkan gejala kecemasan dalam Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorders (DSM-II). Hasil penelitian pada tahanan di Rumah Tahanan Kelas IIB kabupaten Garut menunjukkan hampir sebagian besar mengalami kecemasan ringan sebanyak 55 responden . ,4%), hampir setengahnya didapatkan mengalami kecemasan sedang sebanyak 26 responden . ,9%) dan sebagian kecil didapatkan mengalami kecemasan berat sebanyak 3 responden . ,57%). Berdasarkan hasil penelitian dapat di simpulkan bahwa tahanan yang berada di rumah tahanan kelas IIB Kabupaten Garut mengalami kecemasan tingkat ringan. Kata Kunci: Kecemasan. Tahanan. Rumah Tahanan Abstract-The Detention House is a temporary place to hold a suspect or defendant before waiting for a legal decision with a sentence for the length of time a suspect has committed according to the mistakes he has An overview of the level of anxiety that occurs in the Class IIB Detention Center in Garut district, there are prisoners who feel headaches, frequent urination, changes in sleep patterns, decreased selfconfidence, irritability, difficulty thinking and more often feel afraid. The purpose of this study is to describe the level of anxiety in a prisoner who is in the Class IIB Detention Center in Garut Regency. This type of research uses descriptive quantitative research with a population of 106 detainees who are in detention and with a total sample of 84 respondents, using a consecutive sampling technique. Data analysis in this study used univariate analysis. The instrument used in this study was the Zung-Self Rating Scale (SAS/SRAS) which is an anxiety assessment instrument for individuals designed by William W. K Zung, developed based on anxiety symptoms in Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorders (DSM-II). The results of research on detainees at the Class IIB Detention Center in Garut district showed that most of them experienced mild anxiety as many as 55 respondents . 4%), almost half were found to experience moderate anxiety as many as 26 respondents . 9%) and a small proportion were found to experience severe anxiety as many as 3 respondents ( 3. 57%). Based on the results of the study, it can be concluded that prisoners in class IIB prisons in Garut Regency experience mild anxiety. Keywords: Anxiety. Prisoners. Prison PENDAHULUAN Kecemasan merupakan salah satu perasaan yang subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan seseorang untuk mengatasi suatu masalah yang sedang di hadapinya dan mengalami ketidaknyamanan. Perasaan yang tidak menentu umumnya tidak menyenangkan yang akan menimbulkan perubahan fisiologis dan psikologis (Rochman, 2. Kecemasan terbentuk karena adanya tekanan dari masalah-masalah yang bersifat emosional. Kecemasan yang dialami narapidana yang menyebabkan ada dalam situasi yang tidak nyaman karena banyaknya perubahan dan permasalahan yang di alami oleh narapidana tersebut, sehingga berdampak pada masalah kesehatan mental (Liwarti, 2. Menurut data terakhir penghuni perUPT Kanwil yang di dapatkan Provinsi Jawa Barat yaitu jumlah status tahanan pada bulan Maret Nur Octavia Hidayati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 6 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 6 - 10 yaitu sebanyak 5,500 orang tahanan. Di Jawa Barat pada bulan Maret ini mengalami peningkatan karena pada bulan sebelumnya yaitu bulan Februari data yang di dapatkan hasilnya adalah jumlah tahanan hanya ada sebanyak 5,416 orang tahanan. Kecemasan yang sering di rasakan oleh individu juga bersifat subjektif, individu mengalami kesulitan atau kesusahan yang tidak di ketahui jelas penyebabnya. Kondisi ini yang sering di alami oleh seseorang maupun di alami oleh tahanan (Varcarolis, 2. Menurut Williams dalam artikel Prison Health and the Health of the Public, awal masuk ke rumah tahanan negara . adalah suatu keadaan yang paling mempengaruhi kondisi psikis pada Dimana keadaan psikologis yang di alami tahanan di rumah tahanan dapat berakibat seseorang tidak dapat menerima keadaan dirinya, sebagai dampaknya permasalahan psikologis muncul seperti depresi, kecemasan, phobia dan kepribadian anti sosial (Ardilla & Herdiana, 2. Studi-studi tentang Rumah Tahanan menunjukkan bahwa prevalensi terjadinya gangguan mental pada tahanan lebih tinggi sekitar 10%-15% dibandingkan dengan populasi pada umumnya (Gunter dkk, 2. Kecemasan merupakan masalah yang sering ditemui pada populasi di Rumah Tahanan (Lafortune, 2. Hal ini dikaitkan dengan pengalaman berhadapan dengan situasi Rumah Tahanan, kehilangan kemerdekaan atau kebebasan (Gunter, 2. Lebih lanjut. Gunter . juga memaparkan salah satu penyebab munculnya kecemasan pada tahanan adalah kehilangan atau berkurangnya relasi dengan keluarga dan teman. Tekanan yang dialami ketika berhadapan dengan lingkungan lembaga permasyarakatan juga rentan memunculkan kecemasan (Piselli et al, 2. Kecemasan yang dialami biasanya dikaitkan dengan pengalaman tertekan yang terjadi tiba-tiba atau situasi tertekan yang terus-menerus selama di Rumah Tahanan (Gunter, 2004. Drapalski et al, 2. Menurut Widianti . , ada beberapa konflik yang bisa menjadikan suatu kecemasan pada tahanan yaitu takut untuk tidak di terima lagi oleh lingkungan, adanya perasaan malu untuk bergabung lagi dengan masyarakat sekitarnya yang berada di lingkungan dekat rumahnya, gangguan harga diri rendah karena pikiran masyakarat yang akan menjauhi dirinya. Dampak status seorang tahanan bisa membuat tingkat kecemasan seseorang menjadi cemas berat dalam kehidupannya karena seorang tahanan tersebut kehilangan suatu kebebasan dan kemerdekaan untuk berinteraksi sosial, karena seorang tahanan harus menjalani hidupnya di dalam Tahanan juga akan merasa kehilangan kebebasan hidupnya, kehilangan hak pribadi dalam menjalani hidup, juga kehilangan rasa aman dan nyaman di dalam dirinya, kehilangan untuk mendapatkan suatu akses informasi, dan kehilangan kepercayaan pada masyarakat dan tidak mendapat bantuan warga sekitar, mendapatkan stigma yang buruk oleh masyrakat (Bukhori . Wijayanti, 2. Penelitian Kaloeti et al. di Lapas X Semarang, didapatkan kondisi kecemasan ringan pada tahanan. Hal ini disebabkan karena program seperti kegiatan kerohanian yang diselenggarakan oleh pihak Rumah Tahanan kurang berjalan dengan baik. Hasil wawancara yang di lakukan peneliti di Rumah Tahanan Kelas IIB Kabupaten Garut, di dapatkan 4 orang tahanan sering mengalami sakit kepala, sering berkemih dan perubahan pada pola tidur, kepercayaan diri menurun dan juga mudah tersinggung, sedangkan pada 2 orang tahanan peneliti mendapatkan data bahwa mereka kesulitan untuk berpikir dan lebih sering merasa takut. METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi fenomena atau karakteristik individu (Sugiono, 2. Populasi yang terlibat dalam penelitian ini adalah seluruh anggota tahanan yang berada di Rumah Tahanan Kelas IIB Kabupaten Garut yaitu 106 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan tekhnik consecutive sampling didapatkan 84 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuisioner dari Zung-Self Rating Scale. Nur Octavia Hidayati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 7 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 6 - 10 HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden. = . Karakteristik Usia 20-30 tahun 31-40 tahun 41-50 tahun 51-60 tahun Pendidikan SMP SMA SARJANA Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa karakteristik responden berdasarkan usia, sebagian besar responden berusia 20-30 tahun sebanyak 32 orang . ,1%), hampir setengahnya responden berusia 31-40 tahun sebanyak 28 orang . ,3%), lalu sebagian kecil responden berusia 41-50 tahun sebanyak 19 orang . ,6%), dan sebagian kecil responden juga berusia 51-60 tahun sebanyak 5 orang . ,0%). Berdasarkan pendidikan dari responden didapatkan sebagian kecil pendidikan responden adalah sarjana sebanyak 3 orang . ,6%) dan SMA sebanyak 23 orang . 4%), hampir seluruhnya didapatkan pendidikan responden adalah SMP sebanyak 30 orang . 7%), dan hampir setengahnya didapatkan pendidikan responden adalah SD sebanyak 28 orang . 3%). Tabel 2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Tingkat Kecemasan . Variabel Kecemasan Cemas Ringan Cemas Sedang Cemas Berat 3,57 Panik Total Tabel 2 menunjukkan hampir sebagian besar 55 responden mengalami kecemasan ringan sebanyak . 4%), hampir setengahnya didapatkan 26 responden mengalami kecemasan sedang sebanyak . 9%) dan sebagian kecil didapatkan 3 responden mengalami kecemasan berat sebanyak . 57%). Berdasarkan tabel 1 menunjukan bahwa karakteristik usia pada tahanan hampir setengahnya yaitu usia 20-30 tahun sebanyak . ,1%) selebihnya berada di usia 31-40 sebanyak . ,3%), 41-50 sebanyak . ,6%) dan juga 51-60 sebanyak . ,0%). Menurut Hurlock . dan Perry . , periode dewasa awal merupakan salah satu periode penyesuaian diri terhadap pola kehidupan secara mandiri dan merupakan puncak periode kreatif dan aktif. Dimana pada rentang usia ini kebanyakan sebagian individu sudah bisa mengatasi dan memecahkan masalah-masalah secara baik hingga stabil dan lebih tenang, hal tersebut sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Utari . , yang menemukan 70% seorang tahanan yang berada di rentan usia dewasa awal. Tahanan yang berada di usia dewasa awal memiliki kemampuan yang efektif dalam menyelesaikan suatu masalah yang di Dilihat dari karakteristik menurut pendidikan terkahir responden menunjukkan bahwa pendidikan terakhir responden sebagian besar SMP 30 responden . ,7%). Penelitian ini sejalan dengan penelitian Rahmawati . , bahwa mayoritas pendidikan terakhir responden adalah SMP sebanyak 25 responden . ,3%). Hal itu menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki tingkat pendidikan yang masih rendah, artinya tahanan memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah Nur Octavia Hidayati | https://journal. id/index. php/bullet | Page 8 BULLET : Jurnal Multidisiplin Ilmu Volume 2. No. Tahun 2023 ISSN 2829-2049 . edia onlin. Hal 6 - 10 Padahal, pendidikan dapat meningkatkan kemampuan seseorang dalam hal pemecahan masalah, penalaran, dan memberikan pengajaran berharga mengenai kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual (Laksono, 2. Berdasarkan tabel 2, menunjukkan tingkat kecemasan pada tahanan adalah kecemasan ringan sebanyak 55 orang . ,4%), kecemasan sedang sebanyak 26 orang . ,9%) dan kecemasan berat sebanyak 3 orang . ,57%). Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang di lakukan oleh Andriawati . yang menyatakan bahwa kecemasan yang dialami tahanan sebanyak . %) berada di tingkat kecemasan ringan. Menurut Zung . 1, di kutip dari Nursalam 2. , bahwa tingkat kecemasan yang di alami seseorang yaitu berada di tingkat kecemasan ringan. Kecemasan ringan itu sendiri berhubungan dengan ketegangan yang dialami seseorang dalam kehidupan sehariharinya. Dimana kecemasan ringan itu sendiri dapat membuat seseorang menjadi lebih wasapada dalam melakukan kegiatannya. Kecemasan ringan akan menimbulkan gejala fisik, misalnya seseorang akan merasa kurang nyaman, gelisah, mudah tersinggung, dan menimbulkan gejala ketegangan ringan lainnya (Varcarolis 2. Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan oleh Wijayanti . bahwa kecemasan ringan juga di alami oleh tahanan di Muaro Padang yang dapat dipengaruhi oleh masa hukuman. Hal ini juga sesuai dengan penelitian kualitatif yang di lakukan di inggris yang menyatakan bahwa lamanya masa hukuman menyebabkan menurunnya status kesehatan mental pada tahanan yang mengarah kepada munculnya gejala marah, frustasi, dan kecemasan. Hal ini juga di ungkapkan oleh Bukhori . , bahwa kesehatan mental dapat di alami oleh semua orang termasuk tahanan yang berada di dalam kamar hunian dalam waktu yang cukup lama, bisa beberapa tahun, puluhan tahun bahkan seumur hidup. Namun, hasil yang di dapatkan oleh peneliti di Rumah Tahanan Klas IIB Kabupaten Garut tidak sejalan dengan hasil penelitian yang di dapatkan oleh Fitria dan Rafiyah . yang menyatakan bahwa tingkat kecemasan yang lebih banyak di alami oleh tahanan adalah kecemasan berat sebanyak . ,8%). Kecemasan ringan yang hampir sebagian besar dialami oleh tahanan di Rutan Garut, dimungkinkan karena ada beberapa kegiatan positif setiap minggunya yang diselengarakan oleh petugas dan staf yang berada di Rumah Tahanan untuk mengisi kegiatan para Kegiatan yang di lakukan oleh tahanan setiap minggunya adalah adanya siraman rohani atau penceramah, kerja bakti dan membuat kerajinan sesuai dengan keahlian yang di miliki oleh masing-masing tahanan. Dengan di adakannya pengajian dan siraman rohani, sehingga tahanan yang berada di Rumah Tahanan Klas II Kabupaten Garut mempunyai bekal atau pengetahuan tentang kesehatan jiwanya. Dukungan keluarga terhadap tahanan juga sangat baik dengan beberapa kali melakukan kunjungan kepada tahanan sehingga kecemasan pada tahanan tidak sampai dengan pada tingkat berat ataupun panik. KESIMPULAN Gambaran tingkat kecemasan pada tahanan di rumah tahanan kelas IIB Kabupaten Garut. Sebagian besar responden mengalami kecemasan tingkat ringan dengan karakteristik usia 20-30 tahun dengan jenis kelamin sebagian besar laki-laki, dan hampir setengahnya responden mengalami kecemasan tigkat sedang dan sebagian kecil respoden mengalami tingkat kecemasan yang berat. REFERENCES