GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Pengaruh Efikasi Diri terhadap Kesejahteraan Subjektif yang Dimediasi oleh Resiliensi pada Siswa SMA Yuli Erni1*. Salamiah Sari Dewi1. Amanah Surbakti1 . Universitas Medan Area. Indonesia. Abstract Adolescence is a stage that is vulnerable to psychological pressure, making it crucial to identify internal factors that can enhance subjective well-being. This study aims to examine the influence of self-efficacy on subjective well-being, mediated by resilience in senior high school students. A quantitative approach was employed. Participants consisted of 449 students selected through cluster random sampling. The instruments used included the General Self-efficacy Scale (GSES-. , the Connor-Davidson Resilience Scale (CDRISC), and the Brief Adolescent Subjective well-being in School Scale (BASWBSS). Data were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM) based on Partial Least Squares (PLS) via SmartPLS software. The results revealed that self-efficacy had a positive and significant effect on both resilience and subjective well-being. Resilience also positively influenced subjective well-being and significantly mediated the relationship between selfefficacy and subjective well-being. These findings highlight that enhancing studentsAo selfefficacy can strengthen their resilience, which ultimately contributes to improved subjective well-being. The implications of this study underscore the importance of fostering selfefficacy and resilience as key components in efforts to promote psychological well-being among high school students. Keywords: Self-efficacy. Resilience. Subjective well-being. Senior High School Students Article Info Artikel History: Submitted: 2025-08-01 | Published: 2025-09-30 DOI: http://dx. org/10. 24127/gdn. Vol 15. No 3 . Page: 577 - 589 (*) Corresponding Author: Yuli Erni. Universitas Medan Area. Indonesia. Email: yulierni38@gmail. Ini adalah artikel akses terbuka yang disebarluaskan di bawah ketentuan Lisensi Internasional Creative Commons Atribusi 4. 0, yang mengizinkan penggunaan, penyebaran, dan reproduksi tanpa batasan di media mana pun dengan mencantumkan karya asli secara benar. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan periode perkembangan yang krusial dan sensitif, di mana individu mulai mencari makna hidupnya dan membentuk identitas diri. Namun, tidak sedikit remaja yang mengalami perasaan hampa, kebosanan, serta merasa tidak berharga (Zhao et al. Pada masa ini, tuntutan untuk berprestasi juga semakin tinggi (Caunt et al. , 2. Page | 577 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA disertai dengan tekanan akademik, stres karena tugas, ujian, interaksi sosial dengan teman sebaya maupun guru, serta tuntutan manajemen waktu yang kompleks (Fahmawati et al. , 2. Di sisi lain, perubahan fisik, kognitif, emosional, dan psikologis turut memengaruhi kondisi kesehatan mental remaja (Syafitri et al. , 2. Perpaduan faktor-faktor tersebut dapat menimbulkan krisis kehidupan yang berdampak pada terganggunya pencapaian kesejahteraan psikologis atau subjective wellbeing (SWB) yang optimal (Ronen et al. , 2. Remaja cenderung lebih mudah mengalami emosi negatif seperti marah, cemas, dan sedih (Shek, 2. , yang berdampak pada rendahnya tingkat kebahagiaan dan kepuasan hidup. Sebaliknya, remaja yang memiliki kepribadian stabil dan tenang cenderung lebih puas terhadap hidup dan mampu menjalin hubungan sosial dengan baik (Lampropoulou, 2. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan meningkatkan subjective well-being pada remaja. Subjective well-being mengacu pada evaluasi seseorang terhadap kehidupan pribadinya secara kognitif dan afektif, mencakup kepuasan hidup, emosi positif, dan minimnya emosi negatif (Putri & Lutfianawati, 2. Penelitian menunjukkan bahwa SWB pada remaja relatif stabil, namun cenderung mengalami penurunan dari masa kanak-kanak ke masa remaja (Casas & GonzylezAaCarrasco, 2. Sayangnya, penelitian terkait SWB pada remaja masih kalah banyak dibandingkan dengan populasi dewasa (Steinmayr et al. Sekolah berperan besar dalam membentuk SWB remaja, bukan hanya sebagai tempat pendidikan formal, melainkan juga sebagai ruang sosial yang mendukung relasi interpersonal dan keterikatan emosional (Baker et al. , 2003. Stefes, 2. Namun, masa transisi ke jenjang SMA kerap menjadi tantangan baru yang meningkatkan risiko stres, berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis, serta menurunkan keterlibatan akademik (Amoadu et al. , 2024. Lee et al. , 2. Faktor-faktor eksternal seperti lingkungan belajar yang tidak aman, masalah keluarga, kesulitan ekonomi, dan ketimpangan sosial juga turut menyebabkan rendahnya tingkat SWB di kalangan pelajar (Lindfors et al. , 2018. Quansah et al. , 2. Salah satu faktor internal yang berperan penting dalam meningkatkan SWB adalah efikasi diri . elf-efficac. Individu dengan self-efficacy tinggi cenderung memiliki rasa keberdayaan, percaya diri dalam menghadapi tantangan, dan memiliki pandangan positif terhadap masa depan (Cassidy, 2015. Yikang, 2. Self-efficacy terbukti sebagai prediktor signifikan bagi SWB (DAoSouza et al. , 2020. Wardoyo et al. , 2. Pada remaja, efikasi diri mulai berkembang sejak usia 11 tahun, ketika kemampuan kognitif untuk memecahkan masalah mulai matang (Cherewick et al. , 2023. Lianto, 2. Selain self-efficacy, faktor penting lainnya yang turut berkontribusi terhadap SWB adalah resiliensi. Resiliensi merupakan kapasitas individu untuk bangkit kembali dan beradaptasi terhadap tekanan atau kesulitan hidup (Kumar et al. , 2022. Munawaroh et al. Individu yang resilien memiliki keterampilan hidup penting seperti kemampuan komunikasi, perencanaan masa depan, dan pengambilan keputusan yang baik (Riswantyo & Lidiawati, 2. Remaja dengan tingkat resiliensi tinggi cenderung memiliki kesejahteraan psikologis yang lebih baik, lebih sedikit mengalami depresi, kecemasan, atau kesepian (Dzahabiya et al. , 2023. Ramya & Yenagi, 2. Resiliensi juga memiliki hubungan erat dengan self-efficacy. Self-efficacy yang tinggi merupakan komponen penting dalam membentuk resiliensi, karena keyakinan terhadap kemampuan diri membantu individu mengatasi tekanan dan mencapai hasil yang positif (Lenggono et al. , 2023. Meyer et al. , 2. Resiliensi bahkan diyakini sebagai mediator dalam hubungan antara self-efficacy dan subjective well-being (Bukhori et al. , 2. Page | 578 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA karena membantu individu mengelola tantangan dengan lebih adaptif dan tetap merasa Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah resiliensi berperan sebagai mediasi dalam pengaruh self-efficacy terhadap subjective wellbeing pada siswa SMA. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan bahwa permasalahan utama dalam penelitian ini berkaitan dengan bagaimana peran selfefficacy dalam membentuk subjective well-being pada siswa SMA, serta bagaimana resiliensi berkontribusi dalam memperkuat hubungan tersebut. Penelitian ini secara khusus ingin menjawab pertanyaan mengenai apakah self-efficacy berpengaruh terhadap subjective well-being, apakah self-efficacy berpengaruh terhadap resiliensi, apakah resiliensi berpengaruh terhadap subjective well-being, dan apakah resiliensi memediasi pengaruh self-efficacy terhadap subjective well-being pada siswa SMA. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, hipotesis dalam penelitian ini dirumuskan bahwa terdapat pengaruh positif self-efficacy terhadap subjective well-being pada siswa SMA. Selain itu, self-efficacy juga diduga memiliki pengaruh positif terhadap resiliensi, dan resiliensi berpengaruh secara positif terhadap subjective well-being. Secara khusus, penelitian ini juga mengajukan hipotesis bahwa resiliensi berperan sebagai mediator dalam pengaruh self-efficacy terhadap subjective well-being, di mana semakin tinggi tingkat self-efficacy seseorang, maka semakin tinggi pula tingkat resiliensi dan subjective well-being yang dimilikinya. METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Tujuan dari desain ini adalah untuk menguji hubungan kausal antara self-efficacy terhadap subjective well-being dengan resiliensi sebagai variabel mediasi Partisipan Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMAN X Medan yang berjumlah 1. Sampel penelitian berjumlah 449 siswa yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling, yaitu pengambilan kelas secara acak dari setiap tingkat untuk mewakili populasi secara proporsional. Instrumen Penelitian Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan Google Form yang dibagikan melalui WhatsApp. Instrumen penelitian terdiri dari tiga skala psikologis yang telah diadaptasi dan diuji validitas serta reliabilitasnya dalam konteks Indonesia: Self-efficacy diukur dengan General Self-efficacy Scale-12 (GSES-. yang dikembangkan oleh (Soetjipto et al. , 2. , mencakup aspek inisiatif, usaha, dan ketekunan. Resiliensi diukur menggunakan Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Subjective well-being diukur menggunakan Brief Adolescent Subjective well-being in School Scale (BASWBSS) yang telah diadaptasi oleh (Prasetyawati et al. , 2. , mencakup aspek kognitif dan afektif. Seluruh instrumen menggunakan skala Likert lima poin yang terdiri dari kategori: Sangat Setuju hingga Sangat Tidak Setuju. Page | 579 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Teknik Analisis Data Analisis data dilakukan dengan metode Structural Equation Modeling (SEM) berbasis Partial Least Square (PLS) menggunakan software SmartPLS. Pengujian model dilakukan melalui dua tahap: Pengujian Outer Model: untuk menguji validitas dan reliabilitas konstruk. Pengujian Inner Model: untuk menganalisis hubungan antar variabel laten dan menguji peran mediasi resiliensi antara self-efficacy dan subjective well-being. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Deskriptif menampilkan distribusi frekuensi dan persentase dari variabel jenis kelamin, dan usia. Tabel 1. Distribusi Frekuensi dan Persentase Analisa Data Deskriptif Karakteristik Frekuensi Persentase % 16 tahun 15 tahun Total Perempuan Laki-Laki Total Usia Jenis Kelamin Berdasarkan table diatas didapat bahwa hasil analisis deskriptif diketahui bahwa mayoritas subjek berada pada usia 16 tahun sebanyak 270 siwa dan 15 tahun sebanyak 179 siswa. Berdasarkan jenis kelamin mayoritas subjek berasa pada jenis kelamin laki-laki sebanyak 234 siswa dan Perempuan sebanyak 215 siswa. Hal ini menunjukkan bahwa hasil dalam penelitian ini belum tentu dapat digeneralisasikan pada subjek dengan karakteristik berbeda. Subjek dengan karakteristik yang berbeda tentu akan menunjukkan hasil yang tidak sama seperti hasil dalam penelitian ini. Analisa outer model mendefinisikan bagaimana setiap indikator berhubungan dengan variabel latennya. Uji yang dilakukan pada outer model diantaranya adalah: Gambar 1. Analisa Outer Model Page | 580 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA Tabel 2. Pengujian Validitas Berdasarkan Average Variance Extracted (AVE) Resiliensi Average Variance Extracted (AVE) Self-efficacy Subjective_Well_Being Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa semua variabel sudah memenuhi kriteria AVE yang di tetapkan yaitu dengan nilai >0. Hal tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria AVE validitas telah terpenuhi. Tabel 3. Pengujian Reliabilitas Berdasarkan Composite Reliability Resiliensi Self-efficacy Subjective_Well_Being Composite Reliability CronbachAos Alpha Mengacu pada tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai CR > 0. 7 maka hal ini menunjukkan nilai tersebut memenuhi nilai kriteria reliabilitas berdasarkan CR. dianggap memenuhi Composite Reliability jika memiliki nilai Composite Reliability >0. Selain itu terlihat seluruh nilai CA > 0. 7, yang artinya telah memenuhi syarat reliabilitas berdsarkan CronbachAos Alpha. Tabel 4. R-Square R Square Resiliensi Subjective_Well_Being Berdasarkan table 4 dapat dijelaskan bahwa :Nilai R-Square dari subjective well being adalah 0. Nilai ini menjelaskan bahwa variable self-efficacy dan resiliensi mampu menjelaskan dan mempengaruhi subjective well-being sebesar 23. Adapun persentase lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Nilai R-Square dari resiliensi adalah nilai ini menjelaskan bahwa variable self-efficacy mampu menjelaskan dan mempengaruhi resiliensi sebesar 15. Adapun persentase lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Tabel berikut disajikan nilai Q-square untuk mengetahui relevansi terhadap resiliensi dan subjective well-being. Tabel 5. Q-Square QA (=1- SSE/SSO) Resiliensi Subjective_Well_Being Nilai Q-Square diatas 0 menyatakan model mempunyai predictive relevance akan tetapi dalam Hair et al. , . nilai interpretasi Q-square secara kualitatif adalah 0 . engaruh renda. engaruh modera. engaruh tingg. Nilai Q-Square (Q. dari resiliensi adalah 0. 096 > 0, yang berarti self-efficacy memilikin relevansi prediksi terhadap resiliensi. Nilai Q-Square (Q. dari subjective well-being adalah 0. 162 > 0, yang Page | 581 GUIDENA GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. berarti self-efficacy dan resiliensi memiliki relevansi prediksi terhadap subjective wellbeing. Tabel berikut disajikan hasil pengujian goodness of fit model: Tabel 6. Pengujian Goodness Of Fit Model SRMR Saturated Model Estimated Model Berdasarkan hasil pengujian goodness of fit SRMR, nilai SRMR = 0. 091 < 0. maka dapat disimpulkan bahwa model dinyatakan FIT. Tabel 7 Uji Path Coefficient & Signifikansi Pengaruh Langsung Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) Values Resiliensi-> Subjective_Well_Being Self-efficacy Resiliensi Self-efficacy Subjective_Well_Being Berdasarkan hasil pada table maka diperoleh hasil : . Resiliensi berpengaruh positif dan dan signifikan terhadap subjective well-being dengan nilai koefisien . olom original sampe. = 0. 376, dan signifikan dengan nilai T-Statistik = 8. 666 > 1,96 serta PValues = 0. 000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa resiliensi berpengaruh positif terhadap subjective well-being maka hipotesis diterima. Self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi dengan nilai koefisien . olom original sampe. = 0,399, dan signifikan dengan nilai T- Statistik = 9. 732 > 1,96 serta P-Values = 0. 000 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa selfefficacy berpengaruh positif terhadap resiliensi maka hipotesis diterima. Self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective well-being dengan nilai koefisien . olom original sampe. = 0. 192, dan signifikan dengan nilai T-Statistik = 3. 902 > 1. 96 serta P-Values = 0. 000 < 0. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa selfefficacy berpengaruh positif terhadap subjective well-being maka hipotesis diterima. Table berikut menyajikan uji path coefficient dan signifikansi pengaruh tidak Tabel 8. Uji Path Coefficient &Signifikansi Pengaruh Tidak Langsung Self-efficacy -> Resiliensi -> Subjective_Well_Being Original Sample (O) Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) Values Berdasarkan hasil pengujian mediasi yang ada pada tabel 4. 11, resiliensi signifikan memediasi hubungan antara self-efficacy dan subjective well-being dengan nilai T-statistik = 6. 140 > 1. 96 serta P-Values = 0. 000 < 0. 05 maka dapat disimpulkan Page | 582 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA hipotesis diterima. Pada tabel diatas dapat dilihat pengaruh . irect effec. antara selfefficacy terhadap subjective well-being adalah 0. 192, dan pengaruh tidak langsung . ndirect effec. self-efficacy terhadap subjective well-being melalui resiliensi adalah Pengaruh total effect pengaruh self-efficacy terhadap subjective well-being 192 = 0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective well-being, dengan nilai koefisien 0. T-Statistik sebesar 902 (>1. , dan P-Values 0. 000 (<0. , sehingga hipotesis diterima. Temuan ini sejalan dengan berbagai studi sebelumnya seperti (DAoSouza et al. , 2020. Wardoyo et al. , 2021. oO , 2. , yang menyatakan bahwa individu dengan self-efficacy tinggi cenderung memiliki subjective well-being yang lebih baik karena merasa lebih berdaya, optimis, dan mampu menghadapi tekanan hidup. Selain itu, hubungan signifikan antara self-efficacy dan subjective well-being, yang menunjukkan bahwa keyakinan terhadap kemampuan diri dapat memengaruhi persepsi individu terhadap kualitas hidupnya (Ariliusra, 2. Lebih lanjut, beberapa penelitian lain juga mendukung peran penting self-efficacy dalam membentuk subjective well-being di berbagai konteks. Mahasiswa dengan selfefficacy tinggi lebih mampu mengatasi stres, sehingga lebih puas dalam hidup (K. Wang et al. , 2. Peran self-efficacy dalam meningkatkan optimisme dan rasa berdaya pada remaja di panti asuhan (Rohmah & Laili, 2. Dalam konteks pendidikan, bahwa selfefficacy akademik berkontribusi positif dalam membangun kepercayaan diri, menetapkan tujuan bermakna, dan meningkatkan subjective well-being siswa (Rusydi et al. , 2023. Serinci et al. , 2. Secara keseluruhan, self-efficacy terbukti sebagai salah satu prediktor penting dari kesejahteraan subjektif individu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap resiliensi, dengan nilai koefisien sebesar 0,399. T-Statistik 9. (>1,. , dan P-Values 0. 000 (<0,. , sehingga hipotesis diterima. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya seperti (Oktaningrum & Santhoso, 2. yang menyatakan bahwa efikasi diri berkontribusi sebesar 48,7% terhadap peningkatan resiliensi dan adanya hubungan signifikan antara efikasi diri dan ketahanan akademik. Individu dengan selfefficacy yang tinggi memiliki persepsi positif terhadap kemampuannya dalam menghadapi tantangan, sehingga lebih mampu bertahan dan bangkit dalam situasi sulit. (Tarong et al. Self-efficacy menjadi faktor kunci dalam pengembangan resiliensi karena memungkinkan individu untuk melihat hambatan sebagai peluang belajar, tetap berkomitmen pada tujuan, dan bertindak secara adaptif (Cassidy, 2015. Lianto, 2. Hal ini diperkuat oleh penelitian yang menunjukkan bahwa kepercayaan diri dalam menghadapi stres meningkatkan ketahanan psikologis (Meyer et al. , 2022. Sagone & De Caroli, 2. Studi di berbagai konteks seperti profesi kesehatan (Baluszek et al. , 2023. Wang et al. , 2. dan pendidikan (Betty Erda Yoelianita et al. , 2023. Jiang, 2. juga menegaskan bahwa self-efficacy berperan dalam membentuk ketahanan diri yang lebih Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa self-efficacy merupakan salah satu faktor internal penting dalam membangun resiliensi individu secara efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa resiliensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective well-being, dengan nilai koefisien sebesar 0,376. T-Statistik 8. (>1,. , dan P-Values 0. 000 (<0. , sehingga hipotesis diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat resiliensi individu, maka semakin tinggi pula tingkat subjective well-being-nya. Hal ini sejalan dengan penelitian (Ramya & Yenagi, 2. yang menunjukkan bahwa remaja dengan subjective well-being yang tinggi Page | 583 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA cenderung memiliki ketahanan yang baik, serta kemampuan penguasaan diri dan regulasi emosi yang lebih sehat. Sebaliknya, individu dengan resiliensi rendah lebih rentan terhadap gangguan psikologis seperti depresi dan kecemasan (Shi, 2. Resiliensi memungkinkan individu berfungsi secara efektif dalam menghadapi tantangan hidup dan menjaga keseimbangan psikologisnya. Studi sebelumnya (Arslan. Tomyn & Weinberg, 2. juga menegaskan bahwa resiliensi berkorelasi positif dengan kepuasan hidup dan subjective well-being, terutama pada konteks perubahan pendidikan (Rusydi et al. , 2. Individu yang tangguh lebih mampu mengelola stres dan mempertahankan emosi positif (Yldrm & Arslan, 2022. Zhao et al. , 2. , serta lebih terlindungi dari dampak negatif peristiwa traumatis seperti bullying (Yubero et al. , 2. Dengan demikian, resiliensi tidak hanya menjadi pelindung dalam situasi sulit, tetapi juga berperan penting dalam mendukung kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis secara Berdasarkan hasil pengujian mediasi, resiliensi terbukti berperan signifikan sebagai mediator dalam hubungan antara self-efficacy dan subjective well-being, dengan nilai TStatistik sebesar 6. 140 (>1. dan P-Values 0. 000 (<0. , sehingga hipotesis diterima. Artinya, self-efficacy dapat meningkatkan subjective well-being secara tidak langsung melalui peningkatan resiliensi. Subjective well-being bukan hanya soal perasaan bahagia, tetapi mencerminkan evaluasi individu terhadap kualitas hidupnya secara menyeluruh, yang dipengaruhi oleh persepsi dan sikap mereka terhadap situasi yang dialami (Maddux. Individu dengan subjective well-being tinggi cenderung lebih sukses, sosial, sehat secara fisik, dan mampu menyelesaikan konflik dengan lebih baik (Lyubomirsky & Layous. Self-efficacy berperan penting dalam meningkatkan subjective well-being karena dapat menciptakan keyakinan diri dalam menghadapi tekanan hidup (Yiming et al. , 2024. oO, 2. Namun, dalam situasi penuh tekanan, dibutuhkan resiliensi sebagai penyangga agar individu tetap dapat beradaptasi dan berkembang secara positif (Connor & Davidson. Resiliensi membantu individu mengatasi kesulitan, menyesuaikan diri dengan perubahan, dan tetap fleksibel dalam menyusun solusi alternatif, sehingga memperkuat subjective well-being mereka (Bajaj et al. , 2016. Yldrm & Arslan, 2. Temuan ini diperkuat oleh (Bukhori et al. , 2022. Rusydi et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa resiliensi secara efektif memediasi hubungan antara self-efficacy dan subjective wellbeing. Oleh karena itu, peningkatan resiliensi menjadi kunci dalam memaksimalkan efek positif self-efficacy terhadap kesejahteraan subjektif. Self-efficacy dan resiliensi berperan dalam mempengaruhi subjective well-being (Rusydi et al. , 2. Resiliensi memainkan peran penting sebagai mediator dalam hubungan antara self-efficacy terhadap subjective well- being. resiliensi memainkan peran penting sebagai mediator dalam hubungan antara self-efficacy terhadap subjective wellbeing (Bukhori et al. , 2. Page | 584 GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan. Psikologi. Bimbingan dan Konseling ISSN: 2088-9623 (Prin. - ISSN: 2442-7802 (Onlin. GUIDENA SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa self-efficacy berpengaruh positif dan signifikan terhadap subjective well-being siswa SMA, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui mediasi resiliensi. Individu dengan efikasi diri yang tinggi cenderung memiliki tingkat resiliensi yang lebih baik, sehingga lebih mampu menghadapi tekanan dan tantangan hidup. Resiliensi berperan penting sebagai mediator yang memperkuat pengaruh self-efficacy terhadap subjective well-being, karena membantu individu tetap adaptif, optimis, dan sejahtera dalam menghadapi berbagai kesulitan. Dengan demikian, peningkatan self-efficacy dan resiliensi dapat menjadi strategi efektif dalam intervensi psikologis di sekolah untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif siswa. Sekolah dan pihak terkait perlu memberikan dukungan psikososial yang dapat memperkuat kepercayaan diri dan daya tahan siswa dalam menghadapi tekanan akademik maupun REFERENSI