https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 Mindfulness Sebagai Mediator Pengaruh Religiusitas terhadap Kesejahteraan Subjektif Pensiunan Aisyah Robiatul MaAorifah1. Arie Rihardini Sundari2 Fakultas Psikologi. Universitas Persada Indonesia Y. Email: aisyahrobi14@gmail. com1, rihardiniars@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas terhadap kesejahteraan subjektif pensiunan, yang dimediasi oleh mindfulness. Populasi penelitian ini berjumlah 50 orang pensiunan di Koperasi Konsumen Mandiri Masjid JamiAoe Harapan Jaya Bekasi Utara, dengan menggunakan teknik sampel total. Dalam penelitian ini kesejahteraan subjektif sebagai dependent variable, religiusitas sebagai independent variable, dan mindfulness sebagai intervening variable. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kesejahteraan subjektif, skala religiusitas, dan skala mindfulness dengan model skala likert. Pengolahan data dalam penelitian ini mempergunakan sotfware JASP 0. 0 for Windows. Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan kesimpulan bahwa ada pengaruh langsung religiusitas melalui mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 0,248, dan pengaruh tidak langsung religiusitas melalui mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 0,123. Sementara pengaruh total yang diberikan religiusitas terhadap kesejahteraan subjektif adalah 0,371, dimana pengaruh langsung lebih besar dari pada pengaruh tidak langsung. Kontribusi religiusitas dan mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif yaitu sebesar 47,2 %, dan sebesar 52,8 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Kata Kunci: Kesejahteraan Subjektif. Religiusitas. Mindfulness. Pensiunan. ABSTRACT This study aims to examine the influence of religiousity on subjective well-being of retiress at the Koperasi Konsumen Mandiri Masjid JamiAoe Harapan Jaya Bekasi Utara, mediated by The population of this study amounted to 50 people using the total sample technique. The data collection method used a likert scale model, namely the subjective well-being scale, the religiosity scale, and the mindfulness scale. This study processes data using JASP version 0. for windows. Based on the results of data analysis, it was concluded that there was a direct influence of religiosity through mindfulness on subjective well-being of 0. 248, and an indirect effect on subjective well-being of 0. While the total effect given to subjective well-being is 371, where the direct effect is greater than the indirect effect. The contribution of religiosity and mindfulness to subjective well-being is 47. 2%, and 52. 8% is influenced by other factors not examined in this study. Keywords: Subjective Well-being. Religiosity. Mindfulness. Pensionary. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive PENDAHULUAN Sikap yang ditunjukkan individu dalam menyikapi masa pensiun dapat berbeda-beda, ada yang menyikapi dengan perasaan positif maupun negatif. Diantaranya kehilangan sumber keuangan, (Orbuch dkk dalam Kurniasari, 2. , yang kemudian dapat mengakibatkan kondisi post power syndrome, (Hakim, 2. Oleh karenanya penting untuk meneliti Secara khusus enelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh religiusitas pensiunan, yang Berdasarkan hasil wawancara awal yang dilakukan penulis ditemukan bahwa respon yang ditunjukkan terhadap masa pensiun cukup beragam. Terdapat subjek yang menyambut masa pensiun dengan perasaan positif karena menganggap masa pensiun merupakan waktu untuk beristirahat dan karena tekanan-tekanan yang dahulu diterima dari pekerjaan menghilang ketika sudah Perasaan positif terhadap masa pensiun ini juga turut disebabkan karena adanya kesiapan dan kesadaran dalam diri subjek untuk menghadapi masa Sementara itu, terdapat pula subjek yang merasakan perasaan negatif setelah pensiun seperti kekhawatiran dan disebabkan oleh faktor finansial yang menurun yaitu berkurangnya pemasukan keuangan, terutama jika masih adanya tuntutan yang belum diselesaikan seperti masih adanya tanggungan biaya pendidikan anak. Selain itu banyaknya waktu luang yang tersisa juga berpotensi untuk menimbulkan perasaan murung dan bosan dalam keseharian subjek. Kesejahteraan subjektif penting bagi pensiunan karena jika pensiunan memiliki kesejahteraan subjektif yang baik, maka pensiunan akan merasakan emosi positif yang lebih besar dan Dengan adanya hal tersebut pada diri pensiunan dapat memberikan dampak positif bagi kondisi fisik maupun psikis kehidupannya secara optimal. Kesejahteraan subjektif secara luas merupakan kebahagiaan yang mengacu pada keseluruhan kepuasan hidup yang terdiri dari komponen kognitif dan juga komponen afeksi (Linley & Joseph, 2004, p. Kesejahteraan subjektif dapat diartikan sebagai evaluasi yang kehidupannya, dimana penilaian dan reaksi afektif individu mengindikasikan bahwa kehidupan individu berjalan dengan baik atau sesuai dengan yang diinginkan (Diener dkk, 2. Dapat dikatakan bahwa kesejahteraan subjektif merupakan suatu evaluasi menyeluruh yang menekankan pada penilaian atau persepsi positif individu mengenai kehidupan dan pengalaman-pengalaman yang dialami individu selama hidupnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif diantaranya adalah harga diri, optimisme, kontrol diri, kepribadian ekstrovert, relasi sosial yang positif, (Diener. Scheneider. Campbell dalam Compton, 2. , (Sjabadhyni, religiusitas, (Diener & Ryan, 2009. Utami, 2012. Phillips & Ferguson, 2. , dukungan sosial, (Putri, 2. , keberfungsian keluarga, (Herawati & Endah, 2. bersyukur, (Megawati. Lestari & Lestari, 2. , pemaAoafan, harga diri dan spiritualitas, (Dewi & Nasywa, 2. , dan self-compassion dan mindfullness, (Ge J. Wu J. Li K and Zheng Y, 2. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa kesejahteraan subjektif dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya disebutkan oleh Diener & Ryan . Utami, . Phillips & Ferguson, . dan Villani, dkk, . adalah religiusitas. Religiusitas dapat mengembangkan kemampuan penyesuaian diri individu sehingga dapat subjektif (Mukkaziyah & Suharman. You & Lim . menemukan bahwa orientasi religius instrinsik menjadi prediktor yang signifikan dari kesejahteraan subjektif melalui makna kehidupan baik pada kelompok laki-laki maupun perempuan. Lebih lanjut orientasi religius ekstrinsik ditemukan sebagai prediktor signifikan dari kesejahteraan subjektif hanya pada kelompok perempuan. Dapat dikatakan Menurut Mangunwijaya . alam Mukkaziyah & Suharnan, 2. regiliusitas menunjuk pada aspek religi yang telah dihayati oleh individu didalam hati dan diamalkan dalam Selain religiusitas, faktor lain yang juga dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif adalah mindfulness. Penelitian yang dilakukan Werty, dkk . menunjukkan bahwa faktor mindfulness dapat menjadi prediktor tinggi atau Mindfulness dapat menjadi prediktor bagi aspek kognitif pada kesejahteraan subjektif, semakin tinggi mindfulness maka semakin tinggi tingkat kepuasan hidup pada kesejahteraan subjektif (Citra, dkk, 2. Mindfulness didefinisikan sebagai suatu keadaan pengalaman saat ini dengan meregulasi atensi terhadap perubahan pikiran, perasaan, dan sensasi dari waktu ke waktu (Bishop dkk, 2. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 METODOLOGI Metode statistik yang digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan teknik analisis Linear Regression dengan pengolahan data menggunakan software JASP versi 0. 0 for windows. Dalam penelitian ini digunakan teknik sampel total yang menggunakan seluruh anggota populasi dikarenakan jumlah populasi yang masih cukup terjangkau yakni sebanyak 50 orang pensiunan yaitu anggota Koperasi Masjid JamiAoe Harapan Jaya Bekasi. Dalam penelitian ini kesejahteraan subjektif sebagai dependent variable, religiusitas sebagai independent variable, dan mindfulness sebagai intervening variable. Adapun skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kesejahteraan subjektif, skala religiusitas, dan skala mindfulness, dengan model Likert. LANDASAN TEORI Kesejahteraan Subjektif Kesejahteraan subjektif (Subjective well-bein. dapat diartikan sebagai evaluasi yang dilakukan individu penilaian dan reaksi afektif individu mengindikasikan bahwa kehidupan individu berjalan dengan baik atau sesuai dengan yang diinginkan (Diener dkk, 2. Subjective well-being secara luas merupakan jumlah dari kepuasan hidup sebagai komponen kognitif, ditambah afek positif dikurangi afek negatif sebagai komponen afektif (Linley & Joseph, 2004, p. Dapat dikatakan bahwa kesejahteraan subjektif merupakan suatu evaluasi menyeluruh yang menekankan pada penilaian atau persepsi positif individu mengenai kehidupan dan pengalaman-pengalaman yang dialami individu selama hidupnya. E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Diener kesejahteraan subjektif . ubjective wellbein. terdiri dari tiga komponen yaitu, kepuasan hidup . ife satisfactio. Afek positf . ositive affec. , dan afek negatif . egative affec. Kepuasan Hidup (Life Satisfactio. Kepuasan hidup merupakan bentuk penilaian dari hidup individu, meliputi kepuasan . ife satisfcatio. yang merupakan menyeluruh dan kepuasan pada domain tertentu dalam hidup . omain satisfactio. yang merupakan evaluasi individu kehidupannya, seperti kesehatan fisik dan mental, pekerjaan, relasi sosial, dan keluarga. Afek Positif (Positive Affec. Afek positif merefleksikan berjalan sesuai dengan apa yang individu tersebut inginkan. Afek positif dapat berupa bentuk semangat, penuh perhatian, dan Afek Negatif (Negative Affec. Afek negatif merefleksikan perasaan kurang menyenangkan yang individu alami dalam hidupnya seperti perasaan sedih, bersalah, dan gelisah. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif terdiri dari berbagai faktor, yaitu: Harga Diri Campbell (Compton, 2005, . menyatakan bahwa harga Harga diri yang tinggi memiliki kontrol yang baik mempunyai hubungan yang intim dan baik dengan orang lain, serta produktif dalam Hal ini dapat interpersonal yang baik dan menciptakan kepribadian yang Kontrol Diri Kontrol dengan kesejahteraan subjektif dalam berbagai konteks budaya yang berbeda, (Diener dkk, dalam Compton, 2005, p. Kontrol dirinya mampu menunjukkan perilaku yang tepat untuk meningkatkan dampak yang baik dan mengurangi dampak yang buruk ketika sedang menghadapi suatu peristiwa (Compton, 2005, p. Kepribadian Ekstrovert Sejumlah kepribadian ekstrovert dapat signifikan dari subjective wellbeing (Diener, 1. Individu memiliki lebih banyak teman dan relasi sosial, memiliki sensitivitas yang besar terhadap cenderung mengalami emosi yang positif (Compton, 2005. Optimisme Secara umum, indivdiu yang optimis terhadap masa depannya akan merasa lebih bahagia dan puas dengan kehidupannya, (Diener, dalam Compton 2005. Scheneider (Campton, 2005, p. menyatakan bahwa kesejahteraan, sikap optimis Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive yang dimiliki oleh individu harus bersifat realistis. Relasi Sosial yang Positif Relasi sosial yang positif menjadi salah satu prediktor yang kuat dari kesejahteraan Relasi sosial yang positif dapat tercipta jika adanya dukungan sosial dan keintiman Hubungan yang didalamnya ada dukungan dan mengembangkan harga diri, membuat individu menjadi sehat secara fisik (Compton, 2005. Makna dan Tujuan Hidup Mempunyai makna dan tujuan dalam hidup adalah prediktor yang juga penting dalam kesejahteraan subjektif, dalam subjektif variabel ini sering (Myres dalam Compton, 2005. Sejumlah menunjukkan bahwa individu religius yang besar, merasa religiusitas berperan penting dalam kehidupan, dan frekuensi melaksanakan ibadah yang lebih kesejahteraan yang lebih baik (Compton, 2005, p. Dukungan Sosial Putri . menyatakan bahwa dukungan sosial dapat menjadi salah satu prediktor dari kesejahteraan subjektif sebagai faktor eksternal. Dukungan sosial adalah persepsi individu mengenai ketersedian bantuan dirasakan oleh individu tanpa adanya kehadiran fisik dari individu yang memberikan Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 Dukungan sosial dapat digunakan untuk meningkatkan penyangga stress, sehingga dapat memberikan perasaan nyaman secara fisik dan psikologis (Putri, 2. Kecerdasan Emosional Kecerdasan emosional adalah salah satu faktor internal yang Kecerdasan serangkaian keterampilan yang mengatur suasana hati untuk dapat merasa optimis dan bahagia melalui kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, berinteraksi dengan orang lain, mengatur dan mengendalikan emosi, serta beradaptasi terhadap berbagai tuntutan dan perubahan hidup, (Putri. Diduga, kecerdasan emosi. Religiusitas Religiusitas merupakan keyakinan kepada Tuhan yang dimiliki serta dihayati oleh individu, dan menjadi suatu esensi yang begitu penting dan lekat dalam kehidupan beberapa Ancok & Suroso . 0, p. mengemukakan bahwa religiusitas atau keberagamaan dapat meliputi berbagai dimensi kehidupan, religiusitas bukan hanya terjadi ketika individu melakukan perilaku ritual . , melainkan juga ketika melakukan aktivitas lain Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas yang tampak dan terlihat, tetapi juga aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Artinya, religiusitas mencakup dimensi kehidupan dan aktivitas atau ritual ibadah serta aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural yang menjadikan individu disebut sebagai individu beragama . eing Sementara itu, dalam perspektif Islam, keberagamaan atau religiusitas digambarkan bukan hanya lewat bentuk ibadah ritual saja, melainkan juga diwujudkan dalam aktivitas-aktivitas lainnya. Sebagai suatu Islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula (Ancok & Suroso, 2000, p. Ancok & Suroso . 0, p. dimensi-dimensi religiusitas yang mengacu pada dimensidimensi religiusitas dari Glock & Stark sebagai berikut: Dimensi Keyakinan Dimensi ini menunjuk pada seberapa tingkat keyakinan terhadap kebenaran ajaran-ajaran agamanya, terutama terhadap ajaran-ajaran yang bersifat fundamental dan Dimensi ini meliputi keyakinan tentang Allah, para malaikat. Nabi/Rasul, kitab-kitab Allah, surga dan neraka, serta qadha dan qadar. Dimensi Peribadatan Dimensi ini menunjuk pada seberapa tingkat keparuhan Muslim diperintahkan dan dianjurkan oleh Dimensi ini menyangkut pelaksanaan shalat, puasa, zakat, haji, membaca Al-Quran, doa, zikir, dan sebagainya. Dimensi Pengamalan Dimensi ini menunjuk pada Muslim berperilaku dimotivasi oleh ajaranajaran agamanya, yaitu bagaimana individu berelasi dengan duniaanya terutama dengan manusia lain. Dimensi ini meliputi perilaku suka menumbuhkembangkan orang lain, kebenaran, dan sebagainya. Mindfulness Mindfulness sering didefinisikan sebagai keadaan dari memperhatikan dan menyadari apa yang sedang terjadi saat ini (Brown & Ryan, 2. Nyanaponika Thera . alam Brown & Ryan, 2. menyatakan mindfulness adalah kesadaran yang jelas dan tulus terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada diri dan dalam diri kita pada dari waktu ke waktu. Artinya dapat merupakan suatu keadaan dimana individu memfokuskan perhatian dan kesadarannya pada pikiran dan perasaan yang dirasakan terhadap momen yang sedang terjadi saat ini. Menurut Langer . alam Santrock, mindfulness adalah kewaspadaan, penuh perhatian, dan fleksibel secara kognitif dalam menjalani aktivitas dan tugas sehari-hari. Pendapat yang serupa juga diungkapkan (Bishop dkk, 2. yang Mindfulness didefinisikan sebagai suatu keadaan pengalaman saat ini dengan meregulasi atensi terhadap perubahan pikiran, perasaan, dan sensasi dari waktu ke Dapat diartikan bahwa untuk mencapai mindfulness individu perlu menerima tanpa menghakimi segala kesadaran, pikiran, dan perasaan yang ada dalam diri pada saat ini. Menurut Baer, dkk . mindfulness memiliki lima aspek yang terdiri dari: Observing Observing memperhatikan pengalaman internal Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive dan eksternal seperti, sensasi, kognisi, emosi, penglihatan, suara, dan bau. Describing Describing merupakan kemampuan pengalaman internal dengan jelas. Acting With Awareness Acting with awareness adalah ketika individu mengalami suatu aktivitas pada satu momen dan secara bersamaan tetap dapat menjaga perhatian untuk fokus di tempat lain. Non Judging of Inner Experience Non-judging of inner experience adalah bersikap tidak mengevaluasi . pemikiran dan perasaan Non Reacting to Inner Experience Non-reacting to inner experience adalah ketika individu memiliki kecenderungan untuk membebaskan pikiran dan perasaan untuk hadir dan menghilang, tanpa terjebak maupun larut dalam di dalamnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 4. Data Demografis Penyebaran Responden Penelitian Kategori Usia 55 Ae 65 Tahun 66 Ae 75 Tahun Jenis Kelamin Pria Wanita Pendidikan Terakhir SMA Pekerjaan sebelum Pensiun PNS Pegawai Swasta Lainnya Frekuensi Presentase Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 1 Maret 2023 Lama Pensiun < 1Tahun 1-5 Tahun 5-10Tahun > 10 Tahun Total Berdasarkan pada tabel 4. 1 dapat diketahui bahwa jumlah responden berjenis kelamin pria lebih mendominasi yaitu sebanyak 56% atau 28 orang sementara responden berjenis kelamin wanita berjumlah 22 orang, dengan rentang usia 55-65 tahun sebanyak 32 orang dan rentang usia 66-75 tahun sebanyak 18 orang. Terkait dengan jenjang pendidikan terakhir responden, dimulai dari jenjang pendidikan SMA Ae S3 dengan jumlah jenjang pendidikan terbesar adalah S1 yakni 50% dan yang terkecil adalah jenjang pendidikan S3 dengan jumlah presentase sebesar 4%. Sementara untuk pekerjaan terakhir sebelum pensiun didominasi oleh Pegawai Swasta sebesar sebanyak 20 orang dengan jumlah presentase sebesar 40%. Untuk lama waktu pensiun diketahui terdapat paling banyak responden yang pensiun dalam kurun waktu 1-5 tahun yakni 25 orang dengan jumlah presentase sebesar 50%. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh langsung, secara signifikan. Religiusitas Mindfulness sebesar 0,665 dengan signifikansi < 0,001. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari Trammel. Park & Karlsson, . , bahwa religiusitas, berpengaruh pada mindfulness. Selain itu, hasil penelitian, menunjukkan pula bahwa ada pengaruh langsung, secara signifikan. Mindfulness Kesejahteraan Subjektif sebesar 0,497 dengan signifikansi sebesar 0,001 < 0,05. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari Ge J. Wu J. E-ISSN: 2808-3849 P-ISSN: 2808-4411 https://journals. upi-yai. id/index. php/PsikologiKreatifInovatif/issue/archive Li K & Zheng Y, . , bahwa berpengaruh terhadap kesejahteraan Kemudian, hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh langsung secara tidak signifikan antara Religiusitas terhadap Kesejahteraan Subjektif 0,248 signifikansi sebesar 0,087 > 0,05. Hal tersebut sesuai dengan hasil penelitian dari Diener & Ryan . Utami, . Phillips & Ferguson, . , dan Villani, dkk, . bahwa religiusitas berpengaruh terhadap kesejahteraan Berdasarkan penelitian, diperoleh hasil bahwa ada pengaruh langsung religiusitas melalui mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 0,248, dan pengaruh tidak langsung religiusitas melalui mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif sebesar 0,123. Sementara subjektif adalah 0,371, dimana pengaruh langsung lebih besar dari pada pengaruh tidak langsung. Kontribusi mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif yaitu sebesar 47,2 %, dan sebesar 52,8 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini, seperti faktor harga diri, optimisme, kontrol diri, kepribadian ekstrovert, relasi sosial yang positif (Diener. Scheneider. Campbell dalam Compton, 2. dan dukungan sosial (Putri, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif dan pengaruh tidak langsung religiusitas melalui mindfulness terhadap kesejahteraan subjektif. Sementara subjektif adalah 0,371, dimana pengaruh langsung lebih besar dari pada pengaruh tidak langsung. DAFTAR PUSTAKA Ancok, . Suroso. Psikologi Islami. Pustaka