Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENDIDIKAN ISLAM DAN LIBERALISASI PENDIDIKAN Husni Mubarok1 . Anton Pardiansyah2. Mumu Zainal Mutaqin3. Muhammad Arifin4 Universitas MathlaAoul Anwar Pandeglang. Banten Email: husnimubarok67@guru. Doi: https://doi. org/10. 56406/jurnalkajianislammodern. ABSTRACT The liberalization of education has become a global phenomenon that has brought significant changes to various educational systems, including Islamic education. This study aims to analyze the impact of educational liberalization on Islamic education and explore solutions to integrate the two concepts. The research employs a literature review method by analyzing various academic sources, including books, journals, and official reports related to Islamic education and educational liberalization. The findings indicate that educational liberalization has both positive and negative impacts on Islamic On the positive side, liberalization improves access to quality education and encourages innovation in curriculum and teaching methods. However, on the negative side, there are threats to Islamic values due to the growing influence of secular culture. Previous studies suggest that liberalization may lead to a shift in values within Islamic education, necessitating effective adaptation To address these challenges. Islamic educational institutions need to adopt innovative approaches, such as integrating modern knowledge with Islamic teachings and implementing more interactive learning methods. Additionally, the role of governments and society is crucial in providing policy support and resources to ensure Islamic education remains relevant in the era of liberalization. This study concludes that Islamic education must adapt to changes without losing its identity. With the right strategies. Islamic education can continue to thrive and contribute positively to building a civilization grounded in Islamic values. Keywords Islamic education, educational liberalization, integration, curriculum innovation. Islamic ABSTRAK Liberalisasi pendidikan telah menjadi fenomena global yang membawa perubahan signifikan dalam berbagai sistem pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dampak liberalisasi pendidikan terhadap pendidikan Islam serta mencari solusi untuk mengintegrasikan kedua konsep tersebut. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber akademik, termasuk buku, jurnal, dan laporan resmi terkait pendidikan Islam dan liberalisasi Hasil penelitian menunjukkan bahwa liberalisasi pendidikan memiliki dampak positif dan negatif terhadap pendidikan Islam. Dari sisi positif, liberalisasi meningkatkan akses terhadap pendidikan berkualitas dan mendorong inovasi dalam kurikulum serta metode pengajaran. Namun, dari sisi negatif, terdapat ancaman terhadap nilai-nilai Islam akibat pengaruh budaya sekuler yang semakin Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa liberalisasi dapat menyebabkan pergeseran nilai dalam pendidikan Islam, sehingga diperlukan strategi adaptasi yang efektif. Untuk menghadapi tantangan tersebut, institusi pendidikan Islam perlu mengadopsi pendekatan inovatif, seperti pengintegrasian ilmu pengetahuan modern dengan ajaran Islam dan penerapan metode pembelajaran yang lebih interaktif. Selain itu, peran pemerintah dan masyarakat sangat penting dalam memberikan dukungan kebijakan dan sumber daya bagi pendidikan Islam agar tetap relevan di era Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan Islam harus mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan jati dirinya. Dengan strategi yang tepat, pendidikan Islam dapat tetap berkembang dan memberikan kontribusi positif dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilainilai Islam. Kata kunci Pendidikan Islam, liberalisasi pendidikan, integrasi, inovasi kurikulum, nilai-nilai Islam. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 PENDAHULUAN Pendidikan Islam dapat didefinisikan sebagai sistem pendidikan yang berlandaskan pada ajaran dan nilai-nilai Islam. Menurut Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendidikan Islam adalah usaha untuk membentuk kepribadian individu yang seimbang secara spiritual, moral, dan intelektual (Attas, 1. Dalam konteks ini, pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada pengajaran ilmu pengetahuan, tetapi juga pada pengembangan karakter dan akhlak yang baik sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Hadis. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam memiliki tujuan yang lebih holistik dibandingkan dengan sistem pendidikan sekuler. Selain itu, pendidikan Islam menekankan konsep ta'dib, yaitu internalisasi adab dalam setiap aspek kehidupan (Ahmad, 2. Konsep ini mencerminkan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri serta masyarakat. Dengan demikian, pendidikan Islam berperan dalam menciptakan individu yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki kesadaran spiritual dan moral yang tinggi. Integrasi antara ilmu dan nilai-nilai keislaman ini menjadikan pendidikan Islam sebagai sistem yang komprehensif dalam membangun peradaban yang berlandaskan etika dan keadilan. Liberalisasi pendidikan merujuk pada proses pembebasan dan pengembangan sistem pendidikan dari berbagai bentuk kontrol yang ketat, baik dari pemerintah maupun lembaga Menurut UNESCO, liberalisasi pendidikan mencakup peningkatan akses, diversifikasi penyediaan pendidikan, dan peningkatan kualitas Pendidikan (UNESCO, 2. Dalam konteks ini, liberalisasi pendidikan diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Namun, liberalisasi juga sering kali membawa tantangan, terutama dalam mempertahankan nilai-nilai budaya dan Mengamati hubungan antara pendidikan Islam dan liberalisasi pendidikan sangat penting untuk memahami bagaimana kedua sistem ini dapat saling mempengaruhi. Di satu sisi, liberalisasi pendidikan menawarkan peluang bagi pendidikan Islam untuk berkembang dan beradaptasi dengan kebutuhan zaman. Di sisi lain, liberalisasi juga dapat menjadi ancaman bagi nilai-nilai pendidikan Islam yang kental dengan tradisi (Williamson Nalle, 2. Oleh karena itu, kajian ini bertujuan untuk menganalisis dampak liberalisasi terhadap pendidikan Islam dan mencari solusi untuk integrasi antara kedua konsep tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis pengaruh liberalisasi pendidikan terhadap pendidikan Islam, khususnya dalam hal kurikulum, metode pengajaran, dan nilai-nilai yang diajarkan, serta mengevaluasi apakah dampak yang ditimbulkan bersifat positif atau negatif. Selain itu, penelitian ini juga berupaya mengeksplorasi berbagai strategi dan inovasi yang dapat diadopsi oleh institusi pendidikan Islam agar tetap relevan di era liberalisasi tanpa mengorbankan nilai-nilai dan esensinya. Dengan demikian, tujuan utama penelitian ini adalah untuk menilai dampak liberalisasi pendidikan terhadap pendidikan Islam sekaligus menemukan solusi praktis yang memungkinkan integrasi harmonis antara kedua konsep tersebut, termasuk rekomendasi bagi lembaga pendidikan Islam dalam mengimplementasikan perubahan tanpa kehilangan identitasnya. METODE Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data dari berbagai sumber literatur, seperti buku, jurnal, dan artikel yang relevan dengan topik penelitian dengan menggunakan teknik studi literatur yang digunakan untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang telah Ini akan mencakup analisis terhadap buku, artikel, dan jurnal yang relevan dengan topik penelitian (Harahap, 2014. (Harahap, 2014. (Abdurrahman, 2. Dengan cara ini, peneliti Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 dapat mengidentifikasi berbagai teori dan konsep yang mendasari kajian tentang pendidikan Islam dan liberalisasi. Sumber data utama dalam penelitian ini adalah buku, artikel, dan jurnal yang membahas pendidikan Islam. Beberapa referensi penting termasuk karya-karya dari tokoh pendidikan Islam dan penelitian sebelumnya yang relevan. Dokumen dan laporan dari lembaga pemerintah dan organisasi internasional juga akan digunakan sebagai sumber data untuk memahami konteks liberalisasi pendidikan di Indonesia. Ini termasuk laporan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta organisasi seperti UNESCO dan World Bank, kemudian analisis dokumen akan dilakukan terhadap laporan-laporan resmi dan kebijakan pendidikan yang berkaitan dengan liberalisasi pendidikan. Ini akan membantu peneliti memahami konteks dan dampak dari kebijakan tersebut terhadap pendidikan Islam. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui pencarian sumber akademik di database seperti Google Scholar dan Perpusnas menggunakan kata kunci terkait, analisis dokumen kebijakan untuk melihat implementasi liberalisasi pendidikan, serta kajian literatur klasik dan kontemporer untuk membandingkan perspektif pendidikan Islam dari masa ke masa. Data yang terkumpul kemudian diseleksi berdasarkan relevansi, kredibilitas, dan aktualitas sebelum dianalisis secara tematik. Proses analisis meliputi ekstraksi data penting, pengelompokan berdasarkan tema seperti dampak liberalisasi pada kurikulum Islam dan respons pesantren. Selain itu, untuk memvisualisasikan hubungan antara Pendidikan Islam dan Liberalisasi Pendidikan, penelitian ini juga menggunakan teknik bibliometric mapping dengan bantuan aplikasi VOSviewer. Melalui analisis kata kunci . o-occurrence analysi. dari sumber akademik yang diperoleh, seperti AuIslamAy. AuEducationAy. AuLiberalizationAy. VOSviewer memetakan keterkaitan konsep dalam bentuk jaringan . etwork visualizatio. dan klaster Visualisasi ini membantu peneliti mengidentifikasi tema-tema dominan, celah penelitian, dan hubungan antar konsep sebelum dilakukan analisis naratif secara mendalam. Fokus kurikulum Islam dalam penelitian ini dibatasi pada kurikulum pesantren, khususnya pesantren modern dan tradisional, karena pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang memiliki peran strategis dalam mempertahankan nilai-nilai keislaman. Respons pesantren dipilih sebagai objek kajian karena pesantren sering menjadi tolok ukur ketahanan pendidikan Islam ketika dihadapkan pada arus modernisasi dan kebijakan liberalisasi pendidikan. Dengan pembatasan fokus ini, analisis yang dilakukan menjadi lebih tajam, kontekstual, dan relevan dengan tujuan penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai keterkaitan antara konsep pendidikan Islam dan liberalisasi pendidikan dalam literatur, penelitian ini menggunakan analisis bibliometrik dengan bantuan perangkat lunak VOSviewer. Analisis dilakukan dengan metode co-occurrence kata kunci, sehingga dapat memetakan hubungan antar topik yang sering muncul bersamaan dalam dokumen akademik yang relevan. Visualisasi yang dihasilkan tidak hanya menunjukkan kekuatan keterhubungan antar konsep . etwork visualizatio. , tetapi juga memberikan informasi temporal mengenai perkembangan kemunculan topik tersebut dalam kurun waktu tertentu . verlay visualizatio. Hasil visualisasi ini disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2. Gambar 1 menampilkan hasil analisis co-occurrence kata kunci, yang menghasilkan tiga kata kunci utama, yaitu education, liberalization, dan islam. Ketiga kata kunci ini membentuk satu klaster yang saling terhubung secara langsung. Node atau lingkaran yang merepresentasikan kata education memiliki ukuran terbesar, yang menunjukkan frekuensi kemunculan paling tinggi dalam dataset yang dianalisis. Hal ini mengindikasikan bahwa pembahasan literatur sangat dominan pada aspek pendidikan secara umum. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Kata kunci liberalization memiliki hubungan langsung dengan education dan islam. Hubungan ini menunjukkan bahwa topik liberalisasi sering dibingkai dalam konteks pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Sementara itu, kata kunci islam memiliki keterhubungan kuat dengan education, yang mengindikasikan fokus pembahasan pada pendidikan Islam, serta keterhubungan dengan liberalization, yang mencerminkan adanya pembahasan mengenai interaksi atau potensi ketegangan antara nilai-nilai Islam dan konsep liberalisasi pendidikan. Kesamaan warna pada node-node tersebut menunjukkan bahwa literatur memandang ketiga konsep ini sebagai satu bidang kajian yang saling beririsan. Gambar 1. Peta konsep keterhubungan kata kunci education, liberalization, dan Islam berdasarkan analisis co-occurrence menggunakan VOSviewer. Ukuran node merepresentasikan frekuensi kemunculan kata kunci, sedangkan garis menunjukkan kekuatan hubungan antar kata kunci. Gambar 2 menampilkan hasil analisis overlay visualization yang memberikan dimensi temporal pada pemetaan kata kunci. Warna pada setiap node merepresentasikan periode kemunculan dominan kata kunci tersebut, berdasarkan skala warna 2010Ae2025. Kata kunci islam dan education berwarna biru keunguan, mengindikasikan kemunculan lebih awal dalam literatur, sekitar periode 2010Ae2015. Sebaliknya, kata kunci liberalization berwarna kuning, yang berarti topik ini lebih menonjol pada periode yang lebih mutakhir, mendekati tahun 2025. Pola temporal ini menunjukkan bahwa diskursus pendidikan Islam telah lama menjadi fokus kajian, sedangkan isu liberalisasi pendidikan baru mengemuka pada dekade terakhir. Keterhubungan antar ketiga kata kunci tersebut menggambarkan adanya perkembangan riset yang semakin mengintegrasikan pembahasan pendidikan Islam dengan isu-isu liberalisasi, seiring meningkatnya dinamika globalisasi dan modernisasi pendidikan di era kontemporer. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Gambar 2. Peta konsep kata kunci education, liberalization, dan islam berdasarkan analisis overlay visualization VOSviewer. Warna node menunjukkan periode kemunculan dominan kata kunci dalam literatur, dengan skala waktu 2010Ae2025. Definisi Pendidikan Islam Pendidikan Islam merupakan sebuah sistem pendidikan yang holistik dan integral, yang tidak hanya menekankan pada aspek kognitif semata, tetapi juga mencakup pembinaan spiritual, moral, dan sosial. Dalam sejarahnya, pendidikan Islam telah berperan penting dalam membentuk peradaban manusia melalui pendekatan yang seimbang antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan. Landasan utamanya bersumber dari Al-Qur'an dan Hadis, yang menjadi rujukan dalam merumuskan tujuan, prinsip, serta metode pendidikan. Pendidikan Islam berlandaskan pada prinsip-prinsip yang diambil dari Al-Qur'an dan Hadis. Salah satu prinsip utama adalah keadilan, yang menekankan pentingnya pendidikan yang adil dan merata bagi semua individu, tanpa memandang latar belakang sosial atau ekonomi (NaAoim et al. , 2. Selain itu, pendidikan Islam juga mengedepankan nilai-nilai akhlak, yang bertujuan untuk membentuk karakter siswa agar menjadi individu yang bertanggung jawab dan berakhlak Tujuan Pendidikan Islam Tujuan pendidikan Islam tidak hanya terbatas pada penguasaan ilmu pengetahuan secara akademik, tetapi juga mencakup dimensi pembentukan karakter, akhlak, dan kepribadian yang Pendidikan dalam perspektif Islam dipandang sebagai proses pembinaan manusia secara menyeluruh . , mencakup aspek jasmani, akal, dan ruhani. Oleh karena itu, pendidikan Islam tidak sekadar bertujuan mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga yang memiliki integritas moral, empati sosial, dan keteguhan spiritual. Nilai-nilai ini menjadi dasar dalam membentuk generasi yang tidak hanya kompeten dalam bidang ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kesadaran tanggung jawab terhadap diri sendiri, sesama, dan Tuhannya. (Attas, 1. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 Menurut M. Al-Attas, tujuan utama pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang seimbang secara fisik, mental, dan spiritual, serta mampu berkontribusi positif terhadap masyarakat (Attas, 1. Ia menekankan pentingnya konsep taAodibAiyakni penanaman adab atau etika yang benar sebagai inti dari pendidikan. Dengan mengintegrasikan antara ilmu dan nilai, pendidikan Islam diarahkan untuk melahirkan individu yang tidak hanya terampil, tetapi juga arif dan bijaksana dalam mengaplikasikan ilmunya di tengah masyarakat. Dengan demikian, pendidikan Islam berfungsi sebagai sarana penting untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan harmoni dalam kehidupan individu dan kolektif. Dalam penelitian ini, beberapa teori pendidikan akan digunakan sebagai landasan, seperti teori konstruktivisme (Masgumelar & Mustafa, 2. yang menekankan pentingnya pengalaman belajar dan partisipasi aktif siswa. Selain itu, teori perubahan social (Sholihah, 2. juga relevan untuk memahami bagaimana pendidikan Islam dapat beradaptasi dalam konteks liberalisasi. Meskipun banyak penelitian telah dilakukan dalam bidang pendidikan Islam dan liberalisasi pendidikan, masih terdapat celah yang perlu dieksplorasi lebih lanjut. Penelitian ini akan mengkaji lebih mendalam mengenai integrasi nilai-nilai Islam dalam kurikulum liberal dengan menganalisis dampak liberalisasi pendidikan terhadap pendidikan Islam dan juga menemukan solusi untuk integrasi antara kedua konsep. Karakteristik Pendidikan Islam Pendidikan Islam memiliki berbagai karakteristik dan ciri khas yang telah banyak dibahas oleh para peneliti dan ahli dalam bidang ini. Namun, penting untuk dicermati bahwa klasifikasi mengenai karakteristik pendidikan Islam tersebut seringkali berbeda-beda antar para tokoh. Ada yang menjelaskannya secara rinci dan mendetail, sementara yang lain hanya memaparkannya secara umum dan global. Sebagian lagi mencoba membatasi jumlah karakteristik tersebut, sedangkan lainnya menyusunnya dengan penjabaran yang lebih luas. Meski demikian, para ahli tersebut memiliki titik temu, yaitu kesulitan dalam menetapkan batasan pasti mengenai karakteristik dan ciri-ciri pendidikan Islam. Perbedaan-perbedaan tersebut umumnya didasarkan pada sudut pandang dan pendekatan masing-masing, yang menyebabkan adanya ragam dalam pengklasifikasian. Dengan demikian, perbedaan bukanlah bentuk pertentangan, melainkan bentuk kekayaan perspektif dalam memahami konsep pendidikan Islam. (Ismael & Husni, 2. Adapun beberapa karakteristik utama pendidikan Islam yang sering disebutkan oleh para pakar di antaranya adalah pendidikan rabbaniyah dan pendidikan keimanan. Pendidikan rabbaniyah merupakan ciri paling mendasar dan khas, karena hanya dimiliki oleh sistem pendidikan Islam. Karakteristik ini menekankan pada kemurnian ajaran yang bebas dari penyelewengan, pengubahan, dan penyimpangan sepanjang masa. Sementara itu, pendidikan keimanan menjadi fondasi utama yang menegakkan pendidikan Islam di atas dasar keyakinan yang kuat terhadap kebenaran wahyu. Pendidikan ini mencakup keimanan terhadap hal-hal gaib maupun realitas yang dapat dirasakan secara langsung, menjadikannya sebagai proses pembentukan keyakinan yang utuh terhadap segala ciptaan dan ketetapan Allah SWT. (Ismael & Husni, 2. Liberalisasi Pendidikan Dalam beberapa dekade terakhir, liberalisasi pendidikan telah menjadi fenomena global yang membawa perubahan signifikan dalam sistem pendidikan, termasuk pendidikan Islam. Liberalisasi ini memberikan kebebasan lebih besar dalam pengelolaan institusi pendidikan, baik dalam aspek kurikulum, metode pengajaran, maupun akses terhadap sumber daya Di satu sisi, kebijakan ini membuka peluang bagi pendidikan Islam untuk Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 berkembang dan berinovasi. Namun, di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa liberalisasi dapat menggeser nilai-nilai tradisional yang menjadi dasar pendidikan Islam. Oleh karena itu, penting untuk menelaah secara kritis dampak positif dan negatif liberalisasi terhadap pendidikan Islam guna memastikan keseimbangan antara modernisasi dan pelestarian nilai-nilai keislaman. Liberalisasi pendidikan bertujuan untuk membuka akses pendidikan seluas-luasnya kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip demokrasi dan hak asasi manusia, di mana setiap individu berhak mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Menurut World Bank, liberalisasi pendidikan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pendidikan, yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (The World Bank. Di Indonesia, liberalisasi pendidikan mulai terlihat sejak era reformasi pada tahun 1998, di mana pemerintah mulai membuka peluang bagi swasta untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai lembaga pendidikan swasta yang menawarkan kurikulum alternatif dan inovatif. Namun, proses ini juga diwarnai dengan tantangan, seperti kesenjangan kualitas antara pendidikan negeri dan swasta (Williamson Nalle, 2. Salah satu bentuk reformasi dalam dunia pendidikan adalah munculnya liberalisasi pendidikan, yang ditandai dengan upaya untuk memperkenalkan dan mendorong ide-ide modernisasi serta transformasi dalam sistem pendidikan. Liberalisme dalam pendidikan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk utama. (Asnawan et al. , 2. Liberalisme Metodis, yaitu pendekatan yang bersifat non-ideologis dan lebih berorientasi pada penerapan teknik atau metode baru yang dianggap lebih efektif untuk mencapai tujuan pendidikan masa kini. Para pendukung aliran ini meyakini bahwa praktik pendidikan harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, termasuk kemajuan dalam bidang psikologi dan pemahaman tentang proses belajar manusia. Liberalisme Direktif, yang menekankan pada pembaruan sistemik untuk mempertahankan model pendidikan yang telah ada. Kelompok ini mendukung pentingnya program wajib belajar dan penentuan kurikulum dasar sebagai langkah strategis yang memerlukan landasan pengetahuan yang memadai. Liberalisme Non-Direktif, atau dikenal juga dengan istilah liberalisasi pasar bebas dalam Pendekatan ini berfokus pada pengalihan tujuan dan metode pendidikan dari sistem yang bersifat otoriter ke arah pembelajaran yang lebih mandiri, di mana siswa didorong untuk mampu memecahkan masalah secara aktif dan efektif melalui proses berpikir kritis dan eksploratif. Integrasi Pendidikan Islam dan Liberalisasi Pendidikan Beberapa penelitian sebelumnya telah mengkaji hubungan antara pendidikan Islam dan liberalisasi (Abdurrahman, 2. (Hadi, 2. (Thawabie et al. , 2. Beberapa penilitian ini menunjukkan bahwa liberalisasi pendidikan dapat memberikan peluang bagi pendidikan Islam untuk berkembang, tetapi juga mengancam nilai-nilai tradisional yang ada. Di satu sisi, liberalisasi pendidikan membuka ruang bagi inovasi dalam metode pengajaran dan kurikulum, memungkinkan pendidikan Islam untuk lebih adaptif terhadap perkembangan Namun, di sisi lain, terdapat kekhawatiran bahwa liberalisasi dapat mengikis nilai-nilai tradisional yang menjadi fondasi pendidikan Islam. Tantangan ini menuntut adanya keseimbangan antara mempertahankan identitas keislaman dan merespons dinamika global, sehingga pendidikan Islam tetap relevan tanpa kehilangan esensinya. Salah satu dampak positif dari liberalisasi pendidikan adalah peningkatan akses terhadap pendidikan bagi masyarakat. Dengan adanya lembaga pendidikan swasta yang bermunculan, lebih banyak siswa dapat mengakses pendidikan yang berkualitas. Sebagai contoh, di Jakarta. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 banyak sekolah Islam swasta yang menawarkan kurikulum yang inovatif dan fasilitas yang baik, sehingga menarik minat orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka di (Hadi, 2. Namun, liberalisasi pendidikan juga membawa dampak negatif, terutama dalam bentuk ancaman terhadap nilai-nilai pendidikan Islam. Dengan adanya berbagai pilihan pendidikan yang tersedia, ada risiko bahwa siswa akan terpengaruh oleh nilai-nilai sekuler yang bertentangan dengan ajaran Islam. Penelitian oleh (Hadi, 2. menunjukkan bahwa beberapa siswa di sekolah Islam mulai mengabaikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari mereka akibat pengaruh lingkungan yang liberal. Oleh karenanya, beberapa adaptasi di dunia Pendidikan butuh dilakukan untuk menghadapi era liberalisasi di ranah Pendidikan ini. Untuk beradaptasi dengan liberalisasi pendidikan, institusi pendidikan Islam perlu melakukan inovasi dalam kurikulum mereka. Ini termasuk pengintegrasian ilmu pengetahuan modern dengan ajaran Islam, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan agama, tetapi juga keterampilan yang relevan untuk menghadapi tantangan global. Misalnya, beberapa sekolah Islam di Bandung telah mengembangkan kurikulum STEAM (Science. Technology. Engineering. Arts, and Mathematic. yang mengintegrasikan pendidikan agama dengan ilmu pengetahuan. Selain itu, metode pengajaran juga perlu diperbarui agar sesuai dengan perkembangan Pendidik di institusi pendidikan Islam harus mengadopsi metode pembelajaran yang aktif dan partisipatif, seperti pembelajaran berbasis proyek dan diskusi kelompok. Hal ini tidak hanya meningkatkan keterlibatan siswa, tetapi juga membantu mereka memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam konteks kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh institusi pendidikan Islam yang berhasil beradaptasi dengan liberalisasi adalah Sekolah Islam Terpadu (SIT) yang tersebar di seluruh Indonesia. SIT ini memiliki wadah yang menaunginya, yang kita ketahui dengan sebutan Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia, lembaga mengimplementasikan kurikulum yang menggabungkan pendidikan agama dengan pendidikan umum, dan berhasil menarik banyak siswa dari berbagai latar belakang. Dengan pendekatan ini. SIT tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter siswa yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Di sisi lain, terdapat juga institusi pendidikan Islam yang gagal beradaptasi dengan liberalisasi pendidikan. Sebagai contoh, beberapa madrasah di daerah terpencil masih menggunakan kurikulum yang ketinggalan zaman dan tidak relevan dengan kebutuhan siswa saat ini. Hal ini menyebabkan rendahnya minat siswa untuk melanjutkan pendidikan di madrasah tersebut, sehingga berpotensi mengancam keberlangsungan lembaga pendidikan Islam di daerah tersebut. Dalam menghadapi liberalisasi pendidikan, penting bagi institusi pendidikan Islam untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan liberal. Ini dapat dilakukan dengan mengembangkan kurikulum yang mencerminkan nilai-nilai Islam, serta melibatkan pendidik yang memahami dan menghayati ajaran Islam dalam proses pengajaran. (Abdurrahman, 2. Pemerintah dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan Islam. Pemerintah perlu memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan yang menguntungkan bagi pendidikan Islam, seperti penyediaan dana dan fasilitas. Di sisi lain, masyarakat juga harus aktif berperan dalam mendukung lembaga pendidikan Islam, baik melalui partisipasi dalam kegiatan pendidikan maupun melalui dukungan finansial. (Williamson Nalle, 2. Rencana aksi yang jelas dan terukur diperlukan untuk memastikan pendidikan Islam dapat bertahan dan berkembang dalam konteks liberalisasi. Ini termasuk pengembangan program pelatihan bagi pendidik, peningkatan kualitas kurikulum, serta penguatan jaringan antara institusi pendidikan Islam. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan pendidikan Islam dapat berkontribusi positif dalam menciptakan masyarakat yang berpendidikan dan berakhlak mulia. Volume 13 Nomor 01 September 2025 JURNAL KAJIAN ISLAM MODERN https://jurnal-inais. id/index. php/JKIM P-ISSN : 2337-8298 E-ISSN : 2962-5858 SIMPULAN Berdasarkan uraian dan pembahasan yang telah disampaikan, dapat disimpulkan bahwa liberalisasi pendidikan merupakan suatu proses transformasi yang membawa nilai-nilai kebebasan, pasar, dan efisiensi ke dalam sistem pendidikan. Meskipun membawa dampak positif dalam hal keterbukaan akses dan modernisasi metode pembelajaran, liberalisasi juga berpotensi menggeser nilai-nilai spiritual dan moral yang menjadi inti dari pendidikan Islam. Pendidikan Islam, yang bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah serta bertujuan membentuk insan kamil, memerlukan pendekatan yang tidak hanya mengutamakan aspek kognitif dan keterampilan, tetapi juga pembentukan karakter dan nilai-nilai ketauhidan. Dalam konteks ini, pendidikan Islam dituntut untuk bersikap kritis dan selektif terhadap arus liberalisasi yang berkembang. Institusi pendidikan Islam harus mampu melakukan integrasi yang harmonis antara kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai dasar Islam. Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan rekonstruksi kurikulum yang berbasis nilai-nilai Islam serta memperkuat metode pembelajaran yang mengedepankan adab dan akhlak. Hal ini menjadi langkah penting agar pendidikan Islam tidak tercerabut dari akar spiritualnya dan tetap mampu menjawab tantangan zaman. Sebagai rekomendasi, para pemangku kebijakan, pendidik, dan pengelola lembaga pendidikan Islam perlu membangun sistem pendidikan yang adaptif namun tetap berlandaskan pada prinsip-prinsip Islam. Penelitian lebih lanjut juga perlu dilakukan untuk mengkaji secara empiris bagaimana liberalisasi mempengaruhi praktik pendidikan di lembaga-lembaga Islam serta strategi terbaik dalam mempertahankan nilai-nilai Islam di tengah globalisasi. Dengan demikian, pendidikan Islam akan tetap relevan dan mampu menjadi pemandu moral bagi peradaban manusia di era modern ini. REFERENSI