Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Dikirim: 10 Desember 2021. Diterima: 12 Desember 2021 ISSN: 2527-2772 DETERMINAN TINGKAT LITERASI KEUANGAN SISWA SEKOLAH MENENGAH (Studi Kasus : SMA Hidayatullah Semaran. Fatih Atsaris Sujud 1* Program Studi Ekonomi Syariah. Program Pascasarjana. UIN Malang Jl. Raya Ir. Soekarno No. Dadaprejo. Kec. Junrejo. Kota Batu. Jawa Timur - 65324 *Korespondensi Penulis: fatihsujud@gmail. Abstract: Financial literacy is defined as an individual's ability to decide on his financial regulation. Financial literacy is determined by many factors, such as education, gender, and parent income, which become the purpose of this research. The population of this study was the students of Senior High School (SMA) Hidayatullah. Saturated sampling was used as the method of sampling from 131 respondents. In analyzing the data, the author applied Mann Whitney method. From the result, the writer concluded that there was no difference in senior high school students' financial literacy in SMA Hidayatullah. The students are expected to be more diligent in learning and applying their economic knowledge for the suggestion. Meanwhile, for the future researcher, it is expected to find other variables that significantly impact an individual's financial literacy to get more various research. Keywords: Education. Financial Literacy. Gender. Income ________________________________________________________________________________ PENDAHULUAN Beberapa tahun terakhir, semua negara dalam dunia perekonomian semakin khawatir mengenai level literasi keuangan warga negaranya. PISA . Menurut Atkinson dan Messy . , pemerintah di seluruh dunia tertarik menemukan pendekatan yang efektif untuk meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat mereka melalui penciptaan atau perbaikan strategi nasional untuk pendidikan keuangan dengan tujuan menawarkan kesempatan belajar di berbagai tingkat pendidikan. OJK . juga menjelaskan bahwa para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam G20 melalui forum Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) pada tahun 2010 juga telah menetapkan bahwa integrasi dari prinsip literasi keuangan, inklusi keuangan, dan perlindungan konsumen sangat penting untuk memperkuat sistem keuangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai negara berkembang yang memiliki wilayah sangat luas dan penduduk nomor empat terbesar di dunia. Indonesia menghadapi masalah banyaknya penduduk yang belum memahami masalah keuangan. Dengan kata lain, tingkat literasi keuangan di Indonesia berada dalam tingkat yang rendah dibandingkan dengan negara lain. Bukti nyata dari rendahnya literasi keuangan ditunjukkan oleh masih sedikitnya masyarakat yang bersentuhan dengan lembaga keuangan maupun produk keuangan (OJK, 2. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) kedua yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2016 menunjukkan indeks literasi keuangan sebesar 29,66% dan indeks inklusi keuangan sebesar 67,82%. Angka tersebut meningkat dibanding hasil SNLIK pada 2013, yaitu indeks literasi keuangan 21,84% dan indeks inklusi keuangan 59,74%. Dengan demikian, telah terjadi peningkatan pemahaman keuangan . ell literat. dari 21,84 persen menjadi 29,66%, serta peningkatan akses terhadap produk dan layanan jasa keuangan . nklusi keuanga. dari 59,74% menjadi 67,82%. Namun hal tersebut harus ditingkatkan lagi mengingat angka harapan yang dicanangkan pemerintah melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2016 tentang Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI) sebesar 75% pada tahun 2019 dapat tercapai. Literasi keuangan pada lembaga keuangan tergolong masih rendah terutama pada lembaga pasar modal dan lembaga dana pensiun. Hal ini menunjukkan sedikitnya masyarakat yang mengerti tentang investasi dan melakukan investasi, serta perencanaan keuangan untuk masa depan terutama saat mereka telah berhenti bekerja dan sudah tidak Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 memiliki pendapatan setiap bulannya. Berdasarkan pendahuluan tersebut, peneliti tertarik untuk memetakan determinan rendahnya tingkat literasi keuangan siswa sekolah menengah di Indonesia dengan judul Determinan Tingkat Literasi Keuangan Siswa di Sekolah Menengah (Studi Kasus: SMA Hidayatullah Semaran. TINJAUAN PUSTAKA Literasi keuangan diartikan sebagai kemampuan individu untuk mengambil keputusan dalam hal pengaturan keuangan pribadinya. Individu harus memiliki suatu pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola sumber keuangan pribadinya secara efektif demi Selain menetapkan keputusan keuangan jangka pendek seperti tabungan dan pinjaman, individu juga harus memikirkan keputusan keuangan jangka panjang seperti perencanaan pensiun dan perencanaan pendidikan untuk anak-anaknya. Rendahnya literasi keuangan dan keterlibatan pada inklusi keuangan menyebabkan masyarakat mudah tergiur oleh investasi yang merugikan dengan iming-iming keuntungan yang sangat tinggi. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan untuk memiliki pemahaman tentang pengetahuan dan pengelolaan Krishna. Rofaida, dan Sari . menjelaskan bahwa literasi keuangan membantu individu agar terhindar dari masalah keuangan. Kesulitan keuangan bukan hanya fungsi dari pendapatan semata . endahnya pendapata. , tetapi juga dapat muncul jika terjadi kesalahan dalam pengelolaan keuangan . iss managemen. seperti kesalahan penggunaan kredit, dan tidak adanya perencanaan keuangan. Keterbatasan finansial dapat menyebabkan perasaan tertekan dan rendahnya kepercayaan diri. Adanya pengetahuan keuangan dan literasi keuangan akan membantu individu dalam mengatur perencanaan keuangan pribadi, sehingga individu tersebut bisa memaksimalkan nilai waktu uang dan keuntungan yang diperoleh oleh individu akan semakin besar yang kemudian akan meningkatkan taraf kehidupannya. Semakin kompleksnya kebutuhan individual yang juga disertai semakin kompleksnya produk-produk finansial yang kemudian menjadi alasan utama . bagi masyakat untuk memiliki literasi keuangan yang Pada bagian kebutuhan individu dapat dilihat bahwa stabilitas dunia kerja semakin menurun, dan tingkat pengangguran semakin tinggi karena lapangan pekerjaan tidak bertumbuh seiring dengan pertumbuhan tenaga kerja. Jaminan sosial dari pemerintah juga semakin rendah, yang mengakibatkan tanggung jawab pribadi semakin besar. Kemiskinan, hutang, dan jumlah orang yang berwirausaha juga semakin meningkat. Sementara itu, pola distribusi yang baru, deregulasi di pasar keuangan, semakin luas dan beragamnya cakupan produk-produk finansial juga turut meningkatkan kompleksitas produk-produk keuangan (Nababan & Sadalia, 2. Rendahnya literasi siswa tertera dalam survei berikut: Tabel 1. Literasi dan Inklusi Keuangan - Sektoral di Indonesia Produk Keuangan Perbankan Perasuransian Lembaga Pembiayaan Literasi keuangan Inklusi keuangan Sumber: OJK, 2016 Lusardi, et. , generasi muda tidak hanya akan menghadapi kompleksitas yang semakin meningkat dalam produk-produk keuangan, jasa, dan pasar, tetapi mereka lebih cenderung harus menanggung risiko keuangan di masa depan yang lebih dari orang tua mereka. Fenomena yang terjadi saat ini masih belum sesuai dengan harapan karena kejadian besar pasak dari pada tiang masih banyak terjadi. Banyak siswa yang tidak menyadari bahwa uang yang dimilikinya telah habis sebelum pada waktunya, mereka sendiri tidak menyadari uang tersebut digunakan untuk keperluan apa. Hal ini bukan berarti uang yang dimiliknya kurang, tetapi hal ini terjadi karena kesalahan pengalokasian uang tersebut. Siswa cenderung mengalokasikan uang tersebut untuk apa yang mereka inginkan, bukan apa yang mereka butuhkan. Maka dari itu, siswa Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 perlu diajarkan cara pengelolaan keuangan yang benar sehingga mahasiswa dapat memanfaatkan dengan maksimal uang yang dimilikinya. Kesalahan dalam pengelolaan keuangan . iss managemen. juga dapat diakibatkan oleh perilaku konsumtif. Amaliya . menyatakan beberapa penyebab siswa berperilaku konsumtif diantaranya adalah kemajuan teknologi yang memudahkan siswa melakukan belanja secara online melalui media sosial dan adanya perubahan lingkungan. Penyebab lain yaitu dikarenakan di sekolah, siswa bertemu dengan siswa lain yang memiliki tingkat ekonomi lebih tinggi, pergaulan dan pola pikir yang baru, style yang semakin berkembang, pengetahuan teknologi dan informasi yang lebih maju, dan adanya uang saku yang diberikan oleh orang tuanya, dan lengkapnya fasilitas yang mereka miliki dangunakan, misalnya mobil atau kendaraan, smartphone, dan gadget lainnya. Novita . menyatakan sedikitnya terdapat sepuluh kesalahan yang kerap dilakukan generasi milenial dalam mengatur keuangan. Beberapa diantaranya adalah tidak memiliki rencana pengeluaran atau anggaran setiap bulannya. Selain itu, mereka sering memiliki lebih dari satu rekening bank, tetapi tidak mengatur penggunaan tiap-tiap rekening, rekening mana yang ada uangnya, mereka akan pakai. Dorsainvil . menambahkan satu lagi kesalahan dari generasi milenial dalam mengatur keuangan, yakni mereka tidak memiliki dana darurat sama sekali. Jadi, mereka mungkin saja memiliki investasi, tetapi jika ada kebutuhan mendadak, mereka tidak punya dana sama sekali. (Tirto. id, 2. Berbagai survei atau penelitian telah dilakukan untuk mengetahui tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia. Salah satunya yaitu penelitian literasi keuangan oleh Master Card terhadap enam belas negara Asia Pasifik yang dirilis pada Juni 2016 menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia berada di urutan empat belas dengan skor indeks literasi sebesar 60%. Indonesia tertinggal dengan negara tetangga seperti Singapura. Malaysia dan Thailand. Hal ini menjelaskan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia, termasuk kemampuan mengelola uang dan mengetahui konsekuensi yang ditimbulkan dari setiap transaksi menggunakan uang berada di bawah negara-negara berkembang lain di ASEAN seperti Malaysia dan Thailand. Chen dan Volpe . mengkategorikan tingkat literasi keuangan menjadi tiga kelompok, yaitu: . < 60%, yang berarti individu memiliki pengetahuan tentang keuangan yang rendah, . 6079%, yang berarti individu memiliki pengetahuan tentang keuangan yang sedang, dan . > 80% yang menunjukkan bahwa individu memiliki pengetahuan keuangan yang tinggi. Pengategorian ini didasarkan pada presentase jawaban responden yang benar dari sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk mengukur literasi keuangan. Hasil penelitian Haryati . menunjukkan bahwa banyak siswa yang belum memiliki tingkat literasi keuangan tinggi dengan didasarkan pada dimensi penerapan . pplication Terkait rendahnya tingkat literasi keuangan siswa sekolah menengah di Indonesia, terdapat indikasi bahwa pendidikan finansial belum diterapkan pada mata pelajaran ekonomi di METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian ex post facto dengan pendekatan kuantitatif. Sugiyono . menjabarkan bahwa penelitian ex post facto meneliti peristiwa yang telah terjadi dan meruntut ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian tersebut. Sedangkan penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan filsafat positivisme yang digunakan untuk meneliti populasi atau sampel tertentu dengan teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2015:. Penelitian ini akan mendeskripsikan hasil uji statistik dan menguji hipotesis mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat literasi keuangan siswa sekolah menengah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Menurut Sanusi . , cara survei merupakan cara pengumpulan data di mana peneliti atau pengumpul data mengajukan pertanyaan atau pernyataan kepada responden baik dalam bentuk lisan maupun secara tertulis. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Penelitian ini menggunakan metode penyebaran kuesioner untuk mengetahui identitas dan disisipi pertanyaan yang berkaitan dengan faktor-faktor penentu tingkat literasi keuangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Objek penelitian ini yaitu siswa SMA Hidayatullah. Semarang. SMA Hidayatullah merupakan salah satu sekolah swasta berakreditasi A di Semarang. Sekolah tersebut memiliki gedung tiga lantai dan fasilitas yang memadai. Jumlah populasi sebanyak 131 siswa yang kemudian diambil sampel jenuh. Jumlah sampel pada penelitian ini sama dengan jumlah populasi yaitu total 131 Berdasarkan uji deskriptif, pendapatan orangtua SMA Hidayatullah perbulan, sebanyak 2 orang memiliki pendapatan perbulan sebesar Rp. 000,00 Ae Rp. 000,00, sebanyak 25 orang atau 21,0 persen memiliki pendapatn perbulan sebesar >Rp. 000,00 Ae Rp. 000,00 dan 24 orang atau 20,0 persen memiliki pendapatan sebanyak >Rp. 000,00. Dengan demikian pendapatan >Rp. 000,00 Ae Rp. 000,00 perbulan paling banyak dimiliki oleh orangtua SMA Hidayatullah yaitu sebanyak 42 orang atau 35,0 persen. Dengan demikian pendapatan >Rp. 000,00 Ae Rp. 000,00 perbulan paling banyak dimiliki oleh orangtua SMA Hidayatullah yaitu sebanyak 42 orang atau 35,0 persen. Analisis Statistik Deksriptif Analisis deskriptif dalam penelitian ini digunakan untuk memberikan gambaran penyebaran hasil penelitian masing-masing variabel tanpa adanya uji signifikansi dan tanpa ada taraf Hal ini dikarenakan dalam analisis deskriptif, peneliti tidak bermaksud membuat generalisasi, sehingga tidak ada kesalahan generalisasi. Literasi keuangan kognitif siswa SMA Hidayatullah dikelompokkan menjadi dua, yaitu siswa berkategori literasi sedang sebanyak 108 siswa . ,4%) dan kategori literasi tinggi sebanyak 23 siswa . ,6%) dari total keseluruhan jumlah siswa sebanyak 131 siswa. Sedangkan literasi keuangan afektif siswa SMA Hidayatullah dikelompokkan menjadi tiga, yaitu siswa berkategori literasi sedang sebanyak 112 siswa . ,5%), kategori literasi tinggi sebanyak 16 siswa . ,2%) dan literasi sangat tinggi sebanyak 3 siswa . ,3%) dari total keseluruhan jumlah siswa sebanyak 131 siswa. Uji Normalitas Uji normalitas dalam sebuah penelitian berfungsi sebagai alat untuk mengetahui data terdistribusi normal atau tidak, jika data terdistribusi secara normal maka dapat digunakan uji statistik parametrik sebaliknya jika data tidak terdistribusi secara normal maka akan digunakan uji statistic non-parametrik. Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov- Smirnov. Pada uji Kolmogorov-Smirnov data terdistribusi normal atau tidak dapat dilihat dari angka probabilitas, dengan ketentuan: probabilitas >0,05 data terdistribusi normal, dan apabila probabilitas <0,05 data tidak terdistribusi normal. Hasil uji normalitas secara terperinci disajikan dalam Tabel 2 berikut: Tabel 2. Literasi dan Inklusi Keuangan - Sektoral di Indonesia One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Literasi Keuangan Normal Parameters Mean 45,5179 Std. Deviation 4,83018 Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 Kolmogorov-Smirnov Z 1,687 Asymp. Sig. -taile. ,072 Test distribution is Normal. Calculated from data. Berdasarkan data pada Tabel 2. diketahui bahwa nilai signifikansi secara keseluruhan adalah untuk pendistribusian data pada responden diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,072 > 0,05. Ini berarti bahwa pada responden siswa SMA Hidayatullah data terdistribusi secara normal. Uji Hipoesis Pengujian hipotetsis dilakukan untuk mengetahui keakuratan dari masing-masing hipotesis penelitian terhadap kenyataan dari data yang diperoleh oleh penulis. Hipotetsis pada penelitian ini adalah sebagai berikut: H01: Tidak terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap literasi keuangan antara siswa Indonesia Ha1: Terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap literasi keuangan antara siswa Indonesia H02: Tidak terdapat pengaruh pendidikan orangtua terhadap literasi keuangan antara siswa Indonesia Ha : Terdapat pengaruh pendidikan orangtua terhadap literasi keuangan antara siswa Indonesia H03: Tidak terdapat pengaruh pendapatan orangtua terhadap literasi keuangan antara siswa Indonesia Ha3: Terdapat pengaruh pendapatan orangtua terhadap literasi keuangan antara siswa Indonesia H0 : Tidak terdapat literasi keuangan antara siswa Indonesia Ha4: Terdapat literasi keuangan antara siswa Indonesia Uji hipotesis perlu dilakukan dalam penelitian kuantitatif. Data yang diperoleh oleh penulis selanjutnya akan di uji menggunakan uji statistik. Apabila data terdistribusi secara normal maka digunakan uji statistic parametrik sebaliknya jika data tidak terdistribusi secara normal maka akan digunakan uji statistik non-parametrik. PEMBAHASAN Penelitian ini merupakan studi mengenai tingkat literasi keuangan di kalangan siswa Indonesia. Kegiatan pengukuran tingkat literasi keuangan tingkat literasi mengandung informasi tentang jenis kelamin, pendidikan orangtua, dan pendapatan orangtua. Hasil pengujian yang telah dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut : Pengaruh Jenis Kelamin terhadap Tingkat Literasi Keuangan di Kalangan Siswa Indonesia Jenis kelamin adalah perbedaan biologis dan fisiologis yang dapat membedakan laki-laki dan perempuan (Ariadi dkk, 2. Jenis kelamin adalah suatu konsep biologis dan fisiologis yang membedakan antara laki-laki dan perempuan yang tidak dapat ditukar karena keadaan alamiah manusia yang sudah melekat pada diri manusia sejak lahir. Perempuan dan laki-laki memiliki kondisi-kondisi khusus yang berbeda, baik dari segi fisik biologis, maupun dari segi psikologisnya. Perbedaan tersebut merupakan sumber dari perbedaan fungsi dan peran yang diemban oleh wanita dan pria. Jika memperhatikan perbedaan peran dan fungsi yang diemban wanita dan pria, maka akan terlihat bahwa pergerakan atau perjalanan yang dilakukan oleh wanita memiliki pola yang berbeda dengan pergerakan atau perjalanan yang dilakukan oleh pria (Amaliyah dan Witiastuti, 2. Penelitian Krishna, dkk . Nababan dan Sadalia . , dan Margaretha dan Pambudhi Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 . menyatakan bahwa jenis kelamin mempengaruhi literasi keuangan. Laki-laki tidak banyak mempertimbangkan variabel-variabel yang berhubungan dengan keputusan investasinya, karena karakter laki-laki berbanding terbalik dengan perempuan yaitu sangat mandiri, tidak terlalu emosional, sangat logis, mudah membuat keputusan, sangat percaya diri, dan tidak terlalu membutuhkan rasa aman. Perempuan cenderung lebih berhati-hati dalam membuat keputusan Karakteristik memang menyebabkan adanya perbedaan tingkat literasi keuangan pada perempuan dan laki-laki. Sifat perempuan yang lebih berhati-hati dalam membuat keputusan tentang investasi menyebabkan perempuan akan mempelajari banyak hal mengenai konsep keuangan untuk membuat keputusan yang benar. Kondisi ini menyebabkan tingkat pengetahuan perempuan lebih tinggi dibandingkan laki-laki, dengan tingkat pengetahuan yang tinggi maka tingkat pemahaman mereka pun akan lebih mendalam. Oleh karena itu responden perempuan akan lebih berusaha mempelajari banyak konsep keuangan sehingga tingkat literasi keuangan mereka cenderung tinggi. Berdasarkan penyataan di atas, maka dapat lihat wajar jika tingkat pengetahuan dan pemahaman perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki sehingga faktor jenis kelamin dapat mempengaruhi tingkat literasi keuangan seseorang. Berdasarkan hasil pengujian statistik deskriptif menunjukkan bahwa perempuan memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi. Sedangkan pada hasil menunjukkan bahwa bahwa terdapat pengaruh jenis kelamin terhadap tingkat literasi keuangan di kalangan siswa SMA Hidayatullah karena diperoleh nilai asymp. sebesar 0,000 < 0,005, yang artinya terdapat perbedaan pengaruh jenis kelamin terhadap literasi keuangan, sehingga hipotesis pertama Penelitian ini menemukan adanya perbedaan tingkat literasi keungan berdasarkan jenis Pengaruh Pendidikan Orangtua terhadap Tingkat Literasi Keuangan di Kalangan Siswa Indonesia Menurut Nababan dan Sadalia . , tingkat pendidikan orang tua adalah jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh oleh orang tua responden. Tingkat pendidikan orang tua adalah modal untuk merawat dan memperhatikan akan kebutuhan anak, diharapkan semakin tinggi pendidikan orang tuanya maka akan semakin banyak pengetahuan yang berguna dalam merawat anaknya (Saputro dan Nurhayati, 2. Lusardi et al. menemukan bahwa pendidikan orang tua merupakan prediktor yang besar untuk literasi keuangan anak. Ansong dan Gyensare . menjelaskan bahwa pendidikan ibu berhubungan dengan literasi keuangan anak. Menurut Schneider dan Coleman . , orang tua dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan lebih mungkin percaya bahwa keterlibatan mereka dalam pendidikan anak adalah penting. Mereka lebih mungkin untuk berpartisipasi dalam pendidikan anak dan memberi stimuli intelektual di rumah. Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Ansong dan Gyensare . dan Lusardi et al. yang menemukan adanya pengaruh positif antara pendidikan orangtua dengan tingkat literasi keuangan anak. Penelitian mereka juga menjelaskan bahwa semakin tinggi pendidikan orangtua, maka anak akan semakin baik dalam mengelola keuangan. Hal ini mengindikasikan bahwa siswa yang memiliki orangtua berpendidikan tinggi akan cenderung berpengetahuan luas mengenai konsep keuangan sehingga mereka memiliki tingkat literasi keuangan yang tinggi pula. Pengaruh Pendapatan Orangtua terhadap Tingkat Literasi Keuangan di Kalangan Siswa Indonesia Menurut Nababan dan Sadalia . , pendapatan orang tua adalah tingkat penghasilan yang diperoleh orang tua responden selama sebulan baik dari penerimaan gaji, upah, ataupun penerimaan dari hasil usaha. Pendapatan merupakan salah satu indikator untuk mengukur kesejahteraan seseorang atau masyarakat, sehingga pendapatan masyarakat ini mencerminkan kemajuan ekonomi suatu masyarakat (Luminatang, 2. Menurut Sukirno . , pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama suatu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan maupun tahunan. Pendapatan adalah jumlah Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik. Vol. Januari 2022 penghasilan yang diterima selama periode tertentu berdasarkan jenis pekerjaan, prestasi dan lamanya bekerja. Masyarakat yang mempunyai penghasilan yang kecil, hasil dari pekerjaannya hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk keluarga yang berpenghasilan menengah mereka lebih terarah kepada pemenuhan kebutuhan pokok yang layak seperti makan, pakaian, perumahan, pendidikan dan lain-lain. Sedangkan keluarga yang berpenghasilan tinggi dan berkecukupan mereka akan memenuhi segala keinginan yang mereka inginkan termasuk keinginan untuk menyekolahkan anak mereka ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Masyarakat membutuhkan pembiayaan yang tidak kecil untuk menyekolahkan anak mereka, sehingga membutuhkan suatu pengorbanan pendidikan. Pengorbanan pendidikan itu dianggap sebagai suatu investasi di masa Pembiayaan yang dialokasikan untuk pendidikan tidak semata-semata bersifat konsumtif, tetapi lebih merupakan suatu investasi dalam rangka meningkatkan kapasitas tenaga kerja untuk menghasilkan barang dan jasa. Pendidikan di sekolah merupakan salah satu bagian investasi dalam rangka meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. Hasil menunjukkan bahwa bahwa tidak terdapat pengaruh pendapatan orangtua terhadap tingkat literasi keuangan di kalangan siswa SMA Hidayatullah karena diperoleh nilai asymp. sebesar 0,489 > 0,005, artinya tidak terdapat pengaruh pendapatan orang tua terhadap literasi keuangan seseorang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Homan. Hery Syaerul . serta Margaretha dan Pambudhi . yang menyimpulkan bahwa pendapatan orang tua tidak berpengaruh secara langsung terhadap literasi keuangan sehingga hipotesis ketiga tidak diterima. Tidak terdapat pengaruh pendapatan orang tua terhadap literasi keuangan seseorang. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Berdasarkan hasil pengujian dengan menggunakan uji Mann-Whitney terbukti bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat literasi keuangan di kalangan siswa Indonesia dan Vietnam. Pengenalan tentang instrumen keuangan perlu ditingkatkan bagi para siswa sekolah menengah untuk membentuk pengetahuan tentang Pengenalan tersebut dapat dilakukan dengan sosialisasi otoritas jasa keuangan ke DAFTAR PUSTAKA