ARSIP Jurnal Arsitektur. Vol. No. November 2023: 117-129 DESIGN OF ELDERLY RESIDENTIAL BUILDINGS USING GREEN ARCHITECTURAL IN SEMARANG PERANCANGAN BANGUNAN HUNIAN LANSIA DENGAN PENDEKATAN GREEN ARSITEKTUR DI SEMARANG Moh Agus Sudrajad Pribadi. Gatoet Wardianto. Taufiq Rizza Nuzuluddin. Program Studi Arsitektur. Fakultas Teknik. Universitas Pandanaran Semarang. agussudrajadp@gmail. gatoetwardianto@yahoo. pakrizza@gmail. Abstrak Hunian lansia semakin dibutuhkan oleh lansia akibat masalah yang ditimbulkan oleh lanjut usia seperti menurunnya mental dan fisik dan berdampak untuk kualitas hidup manusia seperti hilangnya kemandirian. Perubahan pola hidup masyarakat sudah memulai berubah dari segi ekonimi, sosial serta budaya. Masyarakat saat ini tentu menganut sistem pola hidup modern yang dimana mulai anak menginjak dewasa dan menikah tentu mereka akan tinggal bersama pasanganya dan tinggal terpisah dengan orang tuannya, karena mereka ingin hidup mandiri dan mengurangi ketergantungan pada keluarga, dari fenomena ini orang tua merekapun kurang mempunyai waktu bersama anak anaknya, dikarenakan kesibukan dan urusan lainnya yang harus diselesaikan, di sisi lain orang tua mereka juga memerelukan perhatian, kesehatan, dan fasilitas yang mereka butuhkan dari anak anaknya. Oleh karena permasalahan tersebut perlu adanya perancangan hunian bagi lansia. Masyarakat Lansia tentu membutuhkan sebuah fasilitas untuk membantu dalam menikmati hidup di usia senja baik dari segi sosial, kegiatan, interaksi, maupun kesehatan. Lansia terbagi menjadi tiga kategori yaitu lansia mandiri, lanasia perawatan, dan lansia paliatif lansia mandiri adalah lansia yang masih melakukan pekerjaan, salah satunya lansia yang barusaja mengalami pensiun. Kata kunci: lansia, hunian lansia, panti sosial, rumah ramah lansia. Abstract Elderly housing is increasingly needed by the elderly such as mental and physical decline and impacts on human quality of life such as loss of independence. Changes in peopleAos lifestyles have begun to change from an econimic, social and cultural perspective. TodayAos society certainly adheres to a modern lifestyle system in which when children reach adulthood and get married, of course they will live wite their partners, because they want to live independently and reduce dependence on family, from this phenomenon their parents also have less time with their children, due to busyness and other matters that must be completed, on the other hand their parents also need thr attention, health, and facilities they need from their children. Because of these problems, it is necessary to design housing for the elderly. The elderly certainly need a facility to help thrm enjoy life in their old age in terms of social, activities, interaction, and health. The elderly are divided into three categories, namely independent elderly, caring elderly, and palliative elderly. Independent elderly are elderly who are still doing work, on of which is the elderly who have just retired. Keywords: elderly, elderly residents, social institutions, elderly friendly homes. ramah lingkungan, berdampak positif bagi kesehatan penghuni serta lingkungan, dan desain bangunan yang fungsional. PENDAHULUAN Latar Belakang Seseorang bisa dikatakan lanjut usia ketika memasuki umur 60 tahun keatas. Tanda-tanda penuaan biasanya sudah terlihat di umur 45 tahun maka dari itu akan menimbulkan masalah pada umur 60 tahun seperti menurunnya mental dan fisik dan berdampak untuk kualitas hidup manusia seperti hilangnya kemandirian. Perubahan pola hidup masyarakat sudah memulai berubah dari segi ekonimi, sosial serta Tujuan Perancangan desain arsitektur dengan konsep perancangan bangunan hunian lansia dengan pendekatan green arsitektur. Batasan Batasan perancangan agar permasalahan tidak meluas, maka dari itu berfokus pada penghuni hunian lansia. Bangunan untuk hunian lansia di suatu wilayah berkaitan dengan meningkatnya jumlah lansia dan minimnya perhatian terhadap lansia, maka perlu adanya fasilitas dan suasana nyaman alami untuk menaikkan kualitas hidup lansia, penuaan yang terjadi terhadap lansia biasanya menimbulkan kecelakaan seperti tersandung atau bahkan terjatuh. Sedangkan lansia perempuan lebih memiliki resiko tinggi daripada laki-laki terhadap terjadinya patah tulang ataupun pergeseran tulang dan luka-luka akibat terjatuh, lansia yang sehat pun tidak dapat terhindar dari resiko tersebut. Kecelakaan itu di dasari oleh menurunya fisik dan mental manusia maka dari itu hunian lansia menggunakan bangunan satu lantai agar dapat mengurangi resiko kecelakaan terhadap lansia, pendekatan yang dapat digunakan dan meningkatkan kesehatan fisik maupun mental bagi lansia ini adalah pendekatan green arsitektur, dimana pendekatan green arsitektur pada bangunan untuk meminimalkan efek bahaya pada kesehatan manusia dan lingkungan. TINJAUAN TEORI Konsep Green Arsitektur Green Arsitektur merupakan konsep yang meminimalisir pengaruh buruk terhadap lingkungan maupun manusia dan menghasilkan tempat hunian yang lebih baik serta sehat yang dilakukan dengan pemanfaatan sumber energi dan sumberdaya alam untuk menghasilkan udara dan cahaya secara maksimal pada bangunan, beberapa pendukung konsep green arsitektur sebagai berikut: Mengikuti kondisi lahan yang sudah ada Pembangunan rumah arsitektur hijau dilakukan dengan penyesuaian terhadap kondisi lahan yang sudah ada sehingga tidak merusak lingkungan yang berada di1sekitar rumah tersebut. Adapun, perencanaan konsep arsitektur hijau dilakukan melalui pembuatan desain yang mengikuti bentuk lahan dan menggunakan permukaan dasar Tak lupa, konsep arsitektur hijau pastinya memakai material yang tidak merusak lingkungan. Hunian lingkungan adalah konsep yang memanfaatkan tenaga atau sumber daya alam dengan optimal, kriteria arsitektur hijau meliputi Meningkatkan gaya hidup penghuni Berkat lingkungan dan limbah rumah tangga yang jumlahnya lebih sedikit, dampak negatif terhadap lingkungan sekitar pun jadi Lebih dari itu, konsep arsitektur hijau juga akan memengaruhi gaya hidup penghuni rumah jadi lebih baik. Mereka bisa menikmati udara segar tanpa harus menyalakan AC sehingga tubuh jadi lebih sehat dan rumah bebas lembap berkat distribusi sinar matahari yang optimal. Suasana rumah pun jadi asri karena ada banyak tanaman di sekitar rumah arsitektur Tapak tidak terlalu bising. HASIL PEMBAHASAN Analisa kebutuhan ruang Tabel 1. Analisa program kebutuhan ruang Pelaku Pengelola (Ketua Yayasan/direk tur, pengasuh. METODOLOGI PERANCANGAN Kegiatan Mengelola Mengelola Menerimatamu Beribadah Lobby/Resepsi Masjid Ruang makan Lavatory Makan dan Mandi/Metaboli Mengelola Parkir Ruang tidur/R. Istirahat Staff &Pengasuh Ruang Administrasi Tempat parkir Tidur/Beristirah Berkumpul Kebutuhan Ruang Ruang Tidur Makan dan Beribadah Olahraga Masjid/tempat Area olahraga Area Berjemur Area Menonton Ruang Musik Ruang Karaoke Lokasi perancangan tersebut terletak di Jl. Raya Ambarawa Bandungan No. KM. Gintungan. Jetis. Bandungan. Kabupaten Semarang. Jawa Tengah. Tapak terpilih ini memiliki luas lahan A 35. 642 m2. Pelaku Lansia Kegiatan Gambar 1. Lokasi perancangan Batas Ae batas: Utara : Tanah kebun kosong Timur : Lahan hijau Selatan : SPBU Barat : Pemukiman Penduduk Kondisi lahan: Tidak terlalu jauh dari pemukiman. Akses menuju tapak sempit karena jalan Dekat dengan alam. Memiliki kontur tanah agak rata. Area tapak dekat dengan area hijau. Dekat dengan pemukiman. Tamu/ Keluarga Kebutuhan Ruang Ruang ketua Yayasan Ruang Direktur Hobby/hiburan Ruang Berkumpul Ruang makan Keagamaan Tempat Ibadah Psikologi Aula Ruang terapi Mencari Menunggu Resepsionis Lobby Ruang Satpam/ Petugas Makan dan Beribadah Metabolism Ruang Menginap Tamu Ruang makan/kantin Masjid/tempat Lavatory Parkir Tempat parkir Beristirahat Pos keamanan Beribadah Makan dan Mandi/metaboli Mengamankan hunian/panti Masjid/Tempat Ruang makan Lavatory Parkir Pos keamanan, tempat parkir dan ruang Tempat parkir Beristirahat Makan dan Mandi &Metabolisme Parkir Kawasan Hunian Laundry dan Area tempat Ruang Karyawan Ruang makan Lavatory Tempat parkir Memasak Ruang Tamu (Berkumpu Jumlah Sirkulasi 30% Total Luas Kamar 1 Kamar 2 Kamar Mandi Ruang Makan Dapur Mandi &metabolisme Parkir Ruang Karyawan Lavatrory Tempat parkir Luas Private Private Private 10,5 m2 10,5 m2 6 m2 Semi Private Semi Private Publik 9 m2 6 m2 9 m2 51 m2 15 m2 66 m2 Besaran Ruang Hunian (Lansia Perawata. Kamar 1 Kamar 2 Kamar Perawat Kamar Mandi Ruang Makan Dapur Kap Dimensi Sifat Sum Total Luas Private Private Private 10,5 m2 10,5 m2 9 m2 Private 6 m2 9 m2 Semi Private Semi Private Publik 4 m2 Ruang 6 m2 Tamu (Berkumpul Jumlah 55 m2 Sirkulasi 30% 16 m2 Total Luas 71 m2 Besaran Ruang Hunian (Lansia Perawatan Paliati. Ruang dapur Menyiapkan Istirahat Nama Ruang Membersihkan Area hunian Mencuci dan Menjemur Petugas dapur/Memas Petugas dan Laundry Menginap Ruang makan Nama Ruang Kap Dimensi Sifat Sum Total Luas Kamar 1 Private 10,5 m2 Kamar 2 Private 10,5 m2 Kamar Perawat Kamar Mandi Dapur Private 9 m2 Private 6 m2 Semi 4 m2 15 m2 Private Ruang Tamu (Berkumpul Jumlah Sirkulasi 30% Total Luas Tabel 2. Analisa besaran ruang Publik Besaran Ruang Hunian (Lansia Mandir. Nama Kap Dimensi Sifat Sum Kapasitas penghuni 200 orang Total 55 m2 16 m2 71 m2 - Lansia mandiri 50% - Lansia perawatan 35% - Lansia perawatan paliatif Tabel 3. Luas kebutuhan ruang Fungsi Ruang Zona Ruang Hunian lansia . Hunian lansia . Hunian lansia . Zona Sekunder Gedung masjid Gedung administrasi dan Gedung serbaguna Zona Penunjang Area olahraga Ruang hiburan Ruang karyawan Ruang dapur Pos keamanan Ruang laundry Ruang menginap pengunjung Parkir Fisioterapi Klinik Lanskaping 10 % Jumlah total Total Luas Gambar 2. Analisa kebisingan 66 m2 x 50 hunian 3300 m2 71 m2 x 35 = 2485 m2 71 m2 x 15 = 1065 m2 Potensi Terdapat area hijau di sekitar tapak yuang masih asri. 1226 m2 450 m2 447 m2 233 m2 109 m2 140 m2 60 m2 39 m2 70 m2 66 m x 4 = 264 m2 2925 m2 93 m2 93 m2 13,107 m2 x 0,10 = 1,311 14,418 m2 Gambar 3. Analisa kebisingan Kendala . Kebisingan yang tinggi berada pada disebabkan jalan utama. Kebisingan sedang berada pada . rea pemukiman pendudu. Analisa site - Analisa iklim Sesuai dipengaruhi iklim daerah tropis yang dipengaruhi oleh angin muson dengan 2 musim,yaitu musimkemarau pada bulan AprilAe September dan musim penghujan antara bulan Oktober Ae Maret. Curah hujan tahunan rata-rata sebesar 2. mm, suhu udara berkisar antara 230oC kelembaban udara tahunan rata-rata 77% (Bappeda Semarang, 2. Solusi Untuk meminimalisir kebisingan maka diberikan jarak dari sumber kebisingan, pemberiabn vegetasi diarea tersebut. Analisa kebisingan Data Berdasarkan pengamatan, diketahui bahwa suber kebisingan tertinggi ada pada utara dan selatan tapak yang disebablkan oleh kendaraan-kendaraan yang melintas. Gambar 4. Analisa kebisingan Analisa pencahayan alami Data Bangunan pada tapak nantinya akan menghadap barat, matahari terbit dari arah timur tapak dan terbenam dibarat tapak, analisa matahari berpengaruh terhadap pencahayaan alami yang berkaitan dengan terciptanya kenyaman andan kesehatan pada lansia. Data Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui bahwa arus lalu lintas pada utara tapak memiliki dua akses yaitu akses dari arah utara tapak. Gambar 7. Analisa aksesibilitas Potensi Tapak mudah diakses karena karena dekat dari jalan raya dapat di tinjau dari arah mana saja. Gambar 5. Analisa pencahayaan alami Potensi Dapat memanfaatkan cahaya pagi untuk memaksimalkan bukaan. Kendala Jalan area tapak tidak terlalu luas kareja jalan menuju pedesaan. Solusi Memperluas area parkir didalam kawasan sehingga tidak mengganggu pengguna jalan lainya di area site. Analisa orientasi tapak Data Orientasi tapak menghadap arah timur dan selatan dimata selatan merupakan jalan raya. Gambar 6. Analisa pencahayaan alami Kendala Matahari mengakibatkan suhu udara sangat panas didalam tapak, panas matahari pada sore hari tidak baik. Solusi Perlunya memberikan vegetasi pada Kawasan atau Landscape agar Dapat mereduksi Panas matahari dan Juga dapat menetralisir udara yang kurang Dan mempertimbangkan letak bukaan agar mendapatkan pencahayaan alami untuk Gambar 8. Analisa orientasi tapak Potensi Lokasi sangat mudah diakses baik menggunakan kendaraan umum maupun Analisa aksesibilitas kendaraan pribadi karena dekat dengan jalan raya, site ssangat baik karena mendapatkan pencahayaan alami pada pagi hari Kendala Jalur mobilitas didepan site merupakan area padat kendaraan sehingga kalau lahanh parkir berada di sampping jalan site dapat menganggu mobilitas kendaraan yang melintas. Gambar 11. View timur View barat Solusi Merencanakan lahan parkir di dekat tempat masuk site dan tidak parkir sembarangan di tepi jalan sehingga dapat menganggu mobilitas. Gambar 12. View barat Analisa view View utara Analisa utilitas Data Berdasarkan hasil penelusuran melalui internet, terdapat distribusi air bersih memudahkan perencanaan pada perancangan kawasan. Gambar 9. View utara View selatan Gambar 13. Analisa utilitas Potensi Tersedianya penerangan jalan di bagian utara site, tersedianya aliran jaringan Gambar 10. View selatan View timur Kendala Belum terdapat hydrant. Solusi Menyediakan saluran hydrant, guna untuk melengkapi sarana prasarana Analisa Vegetasi Data Dari hasil pengamatan pada tapak, terdapat beberapa vegetasi berupa pohon yang berada pada area sekitar tapak dan di dalam tapak berfungsi untuk Gambar 15. Analisa tautan lingkungan Potensi Dekat dengan alun Ae alun dan bangunan kesehatan tidak terlalu terpencil. Gambar 14. Analisa vegetasi Potensi Terdapat beberapa vegetasi pada sekitar Gambar 16. Analisa tautan lingkungan Kendala Akses jalan yang kurang begitu lebar dan terdapat area spbu di selatan site yang dapat menimbulkan kebisingan. Kendala Vegetasi pada bagian dalam tapak kurang tertata dan jarang pepohonan sehingga menyebabkan panas yang berlebih di siang hari pada tapak. Solusi Memperbanyak penataan vegetasi pada tapak. Analisa Tautan Lingkungan Data Site merupakan lapangan yang luas,dan memiliki kontur tanah rata, di sekeliling site terdapat pemukiman penduduk dan area hijau vegetasi. Gambar 17. Analisa tautan lingkungan Solusi Memperbanyak penataan vegetasi pada area selatan tapak sepaya mengurangi kebisingan di area tersebut. bangunan masjid menghadap ke kiblat, untuk area semi public akan diisi fasilitas fasilitas pendukung. Gambar 20. Konsep penataan kawasan Gambar 18. Analisa tautan lingkungan Konsep Gubahan Massa Berdasarkan area bangunan yang akan perancangan akan dibagi menjadi 3 bagian area utama berisikan bangunan kantor dan administrasi mempunyai fungsi untuk meneripa tamu dan mengelola seluruh kawasan. Area hunian lansia merupakan suatu area yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan menikmani masa tua lansia, area hunian ini dibagi menjadi tiga bagia yaitu, hunian lansia laki-laki . Hunian lansia perempuan . dan hunian lansia pasangan, area banguan fasilittas- fasilitas penunjang kawasan hunian lansia berfungsi untuk memenuhi keberlangsungan hidup dan menikmati masa tua lanisa. Konsep Zoning Konsep pembagian zoning dibagi menjadiiempatizona yaitu zona public, zona semi public, zona privat dan zona semi privat. Zona publik merupakan zona yang dapat diakses oleh siapa saja oleh penunjung hunian lansia ini, zona ini berisi area parker dan pedndestrian. Zona semi publik ,zona ini berisikan bagian ruang atau area yang terbatas oleh pengguna untuk mengaksesnya. Zona privat merupakan zona yang berisi ruang atau bangunan utama. Gambar 19. Konsep zonasi Konsep Penataan Kawasan Berdasarkan penelitian dan kajian yang telah dipelajari kawasan yang sudah terbangun, maka dari itu perancang akan menempatkan bangunan menghadap pintu masuk dan pada bangunan huniannya dibuat berderet seperti Gambar 21. Konsep gubahan massa Konsep Struktur dan Konstruksi Konsep struktur dan konstruksi pada setiap bangunan yang akan didirikan di kawasan ini akan menyesuakan pada bangunannya dan fungsi pada setiap bangunan yang ada. Struktur bawah menggunakan pondasi footpaat dan juga pondasi batu kali. Gambar 24. Konsep visual arsitektur Penerapan desain Gambar 22. Konsep struktur & Struktur atas bangunan merupakan komponen struktur yang berfungsi melindungi bangunan dari pengaruh Gambar 25. Site Gambar 26. Perspektif Gambar 23. Konsep struktur & - Konsep Visual Arsitektur Bangunan green arsitektur mengambil menonjolkan green arsitektur modern. Gambar 27. Hunian laki-laki Gambar 28. Jalur pedestrian Gambar 32. Jalur pedestrian Gambar 29. Hunian lansia perempuan Gambar 33. Area olahraga Gambar 30. Jalur pedestrian Gambar 34. Area olahraga Gambar 31. Jalur pedestrian Gambar 35. Area olahraga Gambar 40. Masjid Gambar 36. Gedung administrasi dan KESIMPULAN Dalam perancaangan bangunan hunian lansia yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan lansia untuk menikmati masa tuanya supaya lebih memperhatikan aspek berikut: Perancangan bangunan hunian lansia dengan pendekatan green arsitektur agar mengatasi masalah minimnya lahan kususnya mengatasi penyediaan hunian lansia yang ramah lingkungan, sehat, nyaman dan aman bagi lansia. Hunian lansia ini di rancang untuk membantu keberlangsungan hidup lanisa, kenyamanan bagi lansia. Desain hunian lansia yang dibuat senyaman mungkin dan memberikan keamanan bagi Di lengkapi berbagai fasilitas seperti area olahraga, taman, area hiburan, masjid, klinik, dan fisioterapi untuk memenuhi kebutuhan lansia. Gambar 37. Interior lansia Gambar 38. Interior kamar mandi hunian DAFTAR PUSTAKA