Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2268-2279 Analisis Trend dan Kontribusi Sektor Pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Barat Analysis Trends and Contribution of the Agricultural Sector to the Gross Regional Domestic Product of West Sulawesi Wulan Aryanti*. Titik Ekowati. Mukson Program Studi Agribisnis. Fakultas Peternakan dan Pertanian. Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedarto No. Tembalang. Kec. Tembalang. Kota Semarang. Jawa Tengah 50275 *Email: wulanariyanti925@gmail. (Diterima 24-02-2025. Disetujui 25-06-2. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk . menganalisis trend Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat, . menganalisis kontribusi tiap subsektor pertanian terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat, . menganalisis kontribusi setiap kabupaten terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023. Penelitian ini dilaksanakan pada 1-14 Januari 2025 dengan menggunakan metode penelitian data sekunder. Data yang digunakan dalam penelitian ini yakni data time series PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023 yang bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS). Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan pertama yakni metode kuadrat terkecil . east square method. Sedangkan untuk menjawab tujuan kedua dan ketiga menggunakan metode analisis kontribusi. Hasil penelitian menunjukkan PDRB sektor pertanian yang meningkat dari setiap tahunnya mengikuti persamaan Y= 4. Hasil analisis kontribusi tiap subsektor pertanian didapatkan kontribusi terbesar yakni subsektor perkebunan dengan kontribusi 46,37%. kemudian subsektor perikanan dengan kontribusi 26,20%. Hasil analisis kontribusi tiap kabupaten didapatkan kontribusi terbesar yakni Kabupaten Polewali Mandar dengan kontribusi sebanyak 27,19%. dan yang terendah Kabupaten Masama dengan kontribusi sebanyak 5,12%. Beberapa subsektor yang potensial atau kontribusinya rendah mombutuhkan alternati strategi seperti modernisasi pertanian, intensifikasi pertanian, dan diverisikasi pertanian. Kata kunci: kontribusi. PDRB, pertanian. Provinsi Sulawesi Barat, trend. ABSTRACT This study aimed to . analyze the trend of Gross Regional Domestic Product (GRDP) in the agricultural sector of West Sulawesi, . analyze the contribution of each agricultural subsector to the formation of GRDP in the agricultural sector of West Sulawesi, . analyze the contribution of each district to the formation of GRDP in the agricultural sector of West Sulawesi during of 2014-2023. This study was carried out in 1st-14th January 2025 using secondary data for research methods. The data used in this study is the time series data of GRDP in the agricultural sector of West Sulawesi during 2014-2023 sourced from the publications of the Badan Pusat Statistik (BPS). The data analysis method used to analyze the first purpose is the least squares Meanwhile, to analyze the second and third purpose, the calculation contribution between the total GRDP of each district or the total GRDP of agricultural subsector and the total GRDP of the agricultural sector of West Sulawesi during 2014-2023. The results of the study show the increasing GRDP in the agricultural sector for each year. Some potential subsectors or those with low contributions require alternative strategies such as agricultural modernization, agricultural intensification, and agricultural diversification. Keywords: agriculture, contribution. GRDP, trend. Wast Sulawesi Province PENDAHULUAN Kontribusi sektor pertanian memegang peranan yang strategis dalam upaya pertumbuhan ekonomi Sektor pertanian di Indonesia saat ini masih menjadi sektor utama yang menopang kegiatan ekonomi masyarakat dengan menjadi sumber penyerapan tenaga kerja terbesar di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik . diketahui bahwa penduduk Indonesia pada Tahun 2024 yang berada pada usia kerja . -65 tahu. saat ini masih didominasi dengan bekerja di sektor Analisis Trend dan Kontribusi Sektor Pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Barat Wulan Aryanti. Titik Ekowati. Mukson pertanian, kehutanan, dan perikanan sebanyak 28,41%, kemudian disusul oleh penduduk yang bekerja di sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebanyak 18,97%, dan penduduk yang bekerja di sektor industri pengolahan sebanyak 13,56%. Tingginya kuantitas penduduk yang bergantung pada sektor pertanian tersebut membutuhkan perhatian khusus dalam upaya pengembangan ekonomi pertanian di Indonesia. Salah satu indikator penentuan pertumbuhan ekonomi suatu negara yakni dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) negara tersebut. Produk Domestik Bruto dalam hal ini merupakan jumlah keseluruhan nilai tambah dari barang dan jasa yang diciptakan di suatu wilayah tertentu (Romhadhoni et al. , 2. Perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) sendiri dilakukan berdasarkan pada perhitungan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) keseluruhan wilayah yang membentuk Produk Domestik Bruto. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan total dari nilai tambah yang dihasilkan dari keseluruhan unit usaha yang ada di suatu wilayah yang lebih kecil dari wilayah pembentukan Produk Domestik Bruto (Romhadhoni et al. , 2. Perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia ditentukan oleh Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) seluruh wilayah/provinsi yang ada di Indonesia. Salah satu sektor strategis yang diperhitungkan dalam pembentukan PDRB suatu wilayah yakni sektor pertanian. Wilayah di Indonesia dengan kontribusi sektor pertanian tertinggi dalam pembentukan PDRB wilayah selama periode Tahun 2014-2023 yakni Provinsi Sulawesi Barat. Pembentukan PDRB Provinsi Sulawesi Barat didominasi dengan kontribusi sektor pertaniannya yang mencapai 42,61%, kemudian disusul Provinsi Gorontalo pada urutan kedua dengan kontribusi sektor pertaniannya dalam pembentukan PDRB wilayah mencapai 38,1%, dan Provinsi Lampung pada urutan ketiga dengan kontribusi sektor pertaniannya sebesar 29,89% terhadap pembentukan PDRB wilayahnya (Badan Pusat Statistik. Berdasarkan pada data Badan Pusat Statistik . dapat diketahui bahwa distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Barat dengan pendekatan atas dasar harga berlaku pada Tahun 2023 masih didominasi oleh kontribusi dari sektor pertanian, yakni sebanyak 44,72%, kemudian kontribusi sektor industri pengolahan sebanyak 11,16%, serta kontribusi sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebanyak 9,94%. Sistem Informasi Potensi Investasi (SIPINTAS) Provinsi Sulawesi Barat Barat . menerangkan bahwa Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2024 terdiri dari 6 kabupaten dengan jumlah desa sebanyak 575 desa, dan kelurahan sebanyak 71 kelurahan. Perbandingan jumlah desa dan kelurahan di suatu wilayah secara tidak langsung dapat menggambarkan keadaan perekonomian di wilayah Berdasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2017 Tentang Penataan Desa Pasal 46 Poin E yang berbunyi bahwa suatu desa dapat berubah menjadi kelurahan ketika memenuhi syarat Aukondisi sosial budaya masyarakat berupa keanekaragaman status penduduk dan perubahan dari masyarakat agraris ke masyarakat industri dan jasaAy. Hal tersebut secara tidak langsung menjelaskan bahwa mayoritas penduduk desa memenuhi hidupnya sebagai masyarakat agraris, sedangkan mayoritas penduduk kelurahan lebih bergantung pada industri dan jasa. Badan Pusat Statistik . menerangkan bahwa masyarakat usia kerja di Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2023 mayoritas bekerja di bidang pertanian, dimana terdapat 358. 508 jiwa atau sekitar 48,25% bekerja di sektor pertanian, kehutanan, perburuan, dan perikanan. kemudian 37,98% bekerja di sektor jasa kemasyarakatan. dan 13,77% sisanya bekerja di sektor industri pengolahan. Hal tersebut turut mempengaruhi perkembangan ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat. Berdasarkan pada data Badan Pusat Statistik . diketahui bahwa distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Barat atas dasar harga berlaku pada Tahun 2023 masih didominasi oleh kontribusi sektor pertanian sebanyak 44,72%, kemudian sektor industri pengolahan sebanyak 11,16%, serta sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebanyak 9,94%. Kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Barat selama Tahun 2014-2023 memiliki perkembangan yang fluktuatif, dimana terjadi kenaikan atau penurunan setiap tahunnya. Kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di Provinsi Sulawesi Barat selalu berfluktuasi tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi produksinya. Menurut Soekartawi . dalam Karmini . faktor-faktor yang mempengaruhi produksi pertanian dibedakan menjadi dua yakni faktor biologi seperti tingkat kesuburan dari lahan yang ditanami, penggunaan bibit dan varietasnya, pupuk dan obat-obatan yang digunakan, ada atau tidaknya Hama dan Penyakit Tanaman (HPT). serta faktor sosial-ekonomi seperti biaya produksi yang dikeluarkan, harga produk, tenaga kerja . ingkat pendidikan dan biaya yang dikeluarkan untuk gaj. , risiko dan ketidakpastian . uaca dan bencana ala. , kelembagaan pertanian setempat . etersediaan kredi. Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2268-2279 Subsektor yang dipertimbangkan dalam perhitungan kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB Provinsi Sulawesi Barat atara lain: tanaman pangan, tanaman hortikultura, dan tanaman perkebunan, peternakan, jasa pertanian dan perburuan hewan, kehutanan dan penebangan kayu, serta perikanan. Subsektor tanaman pangan mencakup keseluruhan kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk menghasilkan bahan pangan. Komoditas pertanian yang termasuk ke dalam tanaman pangan dalam yakni padi, tanaman palawija . agung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar, ubi kayu, talas, ganyong, irut, gembili, dan jenis palawija lainny. , serta tanaman serealia . orgum, jawawut, jelai, gandum, dan tanaman serealia lainny. Subsektor tanaman hortikultura yang digunakan meliputi tanaman hortikultura semusim dan tanaman hortikultura tahunan. Tanaman yang termasuk hortikultura semusim yakni tanaman hortikultura yang berumur pendek . urang dari satu tahu. dan hanya dapat dilakukan satu kali atau beberapa kali panen dalam sekali periode tanam. Tanaman yang termasuk hortikultura tahunan yakni tanaman hortikultura yang memiliki umur lebih dari satu tahun dan dapat dilakukan hingga beberapa kali panen untuk sekali periode penanaman. Subsektor tanaman perkebunan yang diperhitungkan mencakup mulai dari pengolahan lahan, penyemaian, pembibitan, penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan. Komoditas dalam subsektor Perkebunan meliputi tebu, tembakau, nilam, jarak, wijen, tanaman berserat . apas, rosela, rami, yute, agave, abaca, kenaf, dan-lain-lai. , kelapa, kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, lada, pala, kayu manis, cengkeh, jambu mete, dsb. Subsektor peternakan mencakup keseluruhan usaha peternakan dimulai dari usaha pembibitan hingga budidaya segala jenis ternak dan unggas yang tujuan utamanya untuk dikembangbiakkan, dibesarkan, dipotong, dan diambil hasilnya untuk dimanfaatkan, termasuk di dalamnya peternakan rakyat maupun perusahaan. Komoditas yang diperhitungkan dalam subsektor peternakan meliputi hasil produksi berupa sapi potong, kerbau, kambing, domba, babi, kuda, ayam bukan ras . , ayam ras pedaging, ayam ras petelur, itik manila, itik, telur ayam ras, telur ayam bukan ras, telur itik, susu segar, dsb. Subsektor jasa pertanian dan perburuan hewan mencakup berbagai kegiatan jasa pertanian, perburuan dan penangkapan satwa liar, serta penangkaran satwa liar. Kegiatan jasa pertanian meliputi usaha penyewaan alat pertanian/hewan beserta operatornya, dan risiko pengguna yang ditanggung oleh pemberi jasa pertanian. Kegiatan perburuan dan penangkapan satwa liar meliputi usaha perburuan dan penangkapan satwa liar yang dilakukan untuk mengendalikan populasi dan melestarikannya, termasuk di dalamnya usaha pengawetan dan penyamakan kulit dari furskin, reptile, dan kulit unggas hasil perburuan hewan dan penangkapan satwa liar. Kegiatan penangkaran satwa liar meliputi usaha penangkaran, pembesaran, dan penelitian untuk pelestarian satwa liar. Subsektor kehutanan dan penebangan kayu meliputi keseluruhan kegiatan penebangan segala jenis kayu, pengambilan daun-daunan, getah-getahan, dan akar-akaran, serta jasa penunjang di dalamnya. Subsektor perikanan meliputi keseluruhan kegiatan penangkapan, pembenihan, dan budidaya segala jenis ikan dan biota air lainnya, baik air tawar, air payau, atau air laut. Komoditas yang dihasilkan dari subsektor ini mencakup segala jenis ikan, crustacea, mollusca, rumput laut, dan biota air lainnya yang diperoleh dari penangkapan . i laut dan perairan umu. dan budidaya . aut, tambak, karamba, jaring apung, kolam, dan sawa. Perkembangan kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Barat yang berfluktuasi tersebut membutuhkan evaluasi kebijakan pada sektor pertanian agar pendapatan dari sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat dapat dioptimalkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis trend sebagai dasar peramalan PDRB Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis subsektor dan kabupaten/kota dengan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB Sulawesi Barat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam perumusan kebijakan sektor pertanian mendatang, sehingga dapat dilakukan optimalisasi pada wilayah kabupaten/kota dan subsektor pertanian yang potensial untuk dikembangkan. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1-14 Januari 2025. Penelitian dilakukan dengan cakupan daerah Provinsi Sulawesi Barat yang dipilih secara sengaja . Hal tersebut berdasarkan pertimbangkan bahwa Provinsi Sulawesi Barat memiliki kontribusi sektor pertanian yang tertinggi di Indonesia dalam pembentuan PDRB wilayah selama rentang Tahun 2014-2023 (Badan Pusat Statistik, 2024. Metode penelitian yang digunakan yakni metode penelitian data sekunder. Metode penelitian data sekunder merupakan sebuah metode penelitian yang menggunakan data arsip atau Analisis Trend dan Kontribusi Sektor Pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Barat Wulan Aryanti. Titik Ekowati. Mukson dokumen yang sudah ada untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam menjawab tujuan penelitian yang ada (Sugiyono, 2. Data yang digunakan merupakan jenis data sekunder yang bersumber dari publikasi Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat. Data yang digunakan berupa data deret waktu atau time series. Data time series dalam hal ini yakni data berkala yang dikumpulkan dan memiliki nilai tertentu dari waktu ke waktu (Sumardin & Mashud, 2. Data time series yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sulawesi Barat, termasuk data kontribusi sektor pertanian dan subsektor di dalamnya dalam pembentukan PDRB Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni pengumpulan data dari dokumen yang telah dipublikasikan. Teknik ini dilakukan untuk memperoleh data yang digunakan melalui dokumen yang sudah ada atau sudah terpublikasikan sebelumnya. Dokumen dalam hal ini merupakan catatan yang sudah ada/berlaku baik berupa tulisan, gambar, atau karya (Sugiyono, 2. Dokumen yang digunakan dalam penelitian ini yakni publikasi resmi Badan Pusat Statistik mengenai Produk Domestik Bruto di Indonesia menurut lapangan usaha. Produk Domestik Regional Bruto Sulawesi Barat menurut lapangan usaha, dan Sulawesi Barat dalam Angka pada Tahun 2014-2023. Metode analisis data yang digunakan untuk menjawab tujuan pertama yakni metode kuadrat terkecil (Least Square Method. Metode Kuadrat Terkecil atau disebut Metode Least Square merupakan sebuah metode analisis data yang dapat membentuk sebuah deret waktu berkala di masa lampau sehingga dapat digunakan untuk meramalkan yang akan datang (Shidiq et al. , 2. Formulasi Metode Kuadrat Terkecil yang digunakan dalam penelitian ini yakni (Dewantara & Giovanni, 2. Y = a bx Keterangan: Y = Variabel tahun PDRB sektor pertanian Sulawesi Barat yang diramalkan x = Nilai parameter yang menggambarkan periode waktu data yang dipakai a = Konstanta b = Besarnya perubahan variabel Y tiap perubahan satu unit variabel x Nilai a dan b pada formulasi tersebut didapatkan dari rumus berikut (Dewantara dan Giovanni, = Y/n b = . Y) / x2 Keterangan: = Konstanta b = Besarnya perubahan variabel Y tiap perubahan satu unit variabel x n = Jumlah data yang digunakan Y = Variabel tahun PDRB sektor pertanian Sulawesi Barat yang diramalkan x = Nilai parameter yang menggambarkan periode waktu data yang dipakai Tujuan kedua dan ketiga untuk yakni menganalisis kontribusi tiap subsektor pertanian dan kabupaten dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat dianalisis menggunakan formulasi analisis kontribusi. Analisis kontribusi merupakan metode analisis data yang menggunakan formulasi kalkulasi untuk menghitung kontribusi sebuah indikator dalam pembentukan variabel yang lebih besar. Formulasi analisis kontribusi yang akan digunakan untuk menjawab tujuan kedua dan ketiga dalam penelitian ini yakni (Syahrindra et al. , 2. PDRB sektor pertanian kabupaten x Kx= PDRB sektor pertanian Sulawesi Barat Keterangan: Kx = Kontribusi PDRB subsektor pertanian/kabupaten x x = subsektor pertanian/kabupaten Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2268-2279 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Produk Domestik Regional Bruto Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat Data yang digunakan dalam analisis ini yakni data sekunder PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat atas dasar harga berlaku pada kurun waktu Tahun 2014 hingga 2023 yang disajikan dalam bentuk triwulan, sehingga dalam periode waktu 10 tahun didapatkan jumlah data sebanyak 40 Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik . Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2024. Sebanyak 40 data sekunder tersebut telah melalui Uji Stationeritas menggunakan Uji Augmented Dickey Fuller (ADF) untuk memastikan bahwa sifat statistik dari data deret waktu yang digunakan tidak berubah seiring waktu. Pengujian tersebut dilakukan menggunakan software Eviews12 dengan nilai Mackinnon critical 5,00% dengan tahapan 1st difference yang menghasilkan nilai probabilitas 0,00 atau di bawah 0,05 sehingga data deret waktu yang digunakan dapat dikatakan stasioner. Data yang telah melalui Uji Stasioneritas tersebut kemudian dapat digunakan untuk menganalisis trend dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat, sehingga bisa memastikan trend yang dibangun dari data tersebut akan lebih kuat dan akurat hasilnya. Perhitungan tersebut dilakukan berdasarkan rekapitulasi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat atas dasar harga berlaku berdasarkan lapangan usaha. Berdasarkan perhitungan tersebut, dapat diketahui bahwa nilai a yang digunakan dalam penelitian ini yakni 4. 378 dan nilai b yang digunakan dalam penelitian ini yakni 46. Berdasarkan nilai a dan b pada perhitungan tersebut, dapat digunakan untuk menentukan rumus dalam metode kuadrat terkecil atau metode least square yang digunakan untuk analisis trend PDRB Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2028 yakni Y= 4. 117x, yang kemudian ramalan hasil trend tersebut dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Hasil Trend PDRB Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat Ramalan PDRB Sektor Pertanian (Y) Tahun Triwulan --juta Rp-2. 788,60 995,37 131,89 Per Triwulan 985,99 088,89 091,60 059,42 562,36 924,48 039,08 430,24 967,02 150,90 019,15 917,88 891,69 540,58 965,67 378,62 068,51 612,14 208,60 392,94 133,76 Per Tahun 637,86 587,24 369,30 024,94 099,99 Analisis Trend dan Kontribusi Sektor Pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Barat Wulan Aryanti. Titik Ekowati. Mukson Ramalan PDRB Sektor Pertanian (Y) Tahun Triwulan Per Triwulan --juta Rp-5. 364,69 647,24 428,34 268,61 225,94 099,04 038,79 684,79 044,64 207,96 946,67 076,48 011,58 260,31 368,38 415,62 689,14 175,00 409,00 643,00 877,00 111,00 345,00 579,00 813,00 047,00 281,00 515,00 749,00 983,00 217,00 451,00 685,00 Per Tahun 919,00 153,00 387,00 Sumber: Data Sekunder Penelitian, 2025 570,13 867,26 242,69 733,45 104,00 848,00 592,00 336,00 080,00 Hasil perhitungan dari peramalan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada Tahun 2024 mengalami peningkatan sebesar Rp26. kemudian meningkat lagi pada Tahun 2025 mencapai Rp28. 000, dan terus meningkat setiap tahunnya hingga pada Tahun 2028 mencapai Rp32. Selain peningkatan yang terjadi di setiap tahun, terdapat juga peningkatan yang terjadi di setiap triwulannya pada Tahun 2024 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2268-2279 hingga Tahun 2028. Grafik peningkatan PDRB sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat dapat dilihat pada Gambar 1. Grafik Trend PDRB Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat PDRB Sektor Pertanian . uta R. RA = 0,9967 Tahun Gambar 1. Grafik Trend PDRB Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat Sumber: Data Sekunder Penelitian . Perhitungan menggunakan Microsoft Excel 2013 menunjukkan bahwa grafik yang dihasilkan dari trend pada tabel memiliki koefisien determinasi (R. 0,9967 atau mendekati angka 1. Angka tersebut dapat diartikan bahwa variabel X atau waktu dalam persamaan ini dapat menjelaskan variabel Y atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat sebesar 99,67%. sedangkan sisanya sebanyak 0,33% dipengaruhi oleh faktor lain yang berada di luar Berdasarkan pernyataan Suharmi . dapat diketahui bahwa koefisien determinasi yang semakin mendekati angka 1 menunjukkan persamaan yang digunakan memiliki pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y) yang sangat kuat. Berdasarkan analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam rentang waktu Tahun 2024-2028 PDRB sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat terus mengalami peningkatan baik setiap tahun maupun setiap triwulannya. Analisis Kontribusi Subsektor Pertanian Analisis kontribusi tiap subsektor pertanian dilakukan untuk menjawab tujuan kedua penelitian dilakukan dengan mengkalkulasikan jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tiap subsektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat terhadap jumlah PDRB sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023. Analisis kontribusi subsektor pertanian terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat dapat dilihat pada Tabel 2. Analisis Trend dan Kontribusi Sektor Pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Barat Wulan Aryanti. Titik Ekowati. Mukson Tabel 2. Analisis Kontribusi Tiap Subsektor Pertanian Terhadap Pembentukan PDRB Sektor Pertanian Provinsi Sulawesi Barat Subsektor PDRB Subsektor Persentase --juta Rp---%-Tanaman Pangan 800,00 11,12 Tanaman Hortikultura 220,00 9,44 Tanaman Perkebunan 610,00 46,37 Peternakan 890,00 4,41 Jasa Pertanian dan Perburuan Hewan 700,00 1,66 Kehutanan dan Penebangan Kayu 590,00 0,80 Perikanan 320,00 26,20 Total 130,00 100,00 Rata-Rata 447,14 14,29 Sumber: Data Sekunder Penelitian . Berdasarkan hasil analisis kontribusi pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa terdapat persentase kontribusi yang berbeda-beda tiap subsektor pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023. Kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023 yakni disumbangkan subsektor perkebunan sebanyak 46,37% atau sekitar Rp86. Kontribusi terkecil pada pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023 yakni disumbangkan subsektor kehutanan dan penebangan kayu sebanyak 0,80% atau sebesar Rp1. Nilai tersebut lebih rendah dari rata-rata kontribusi tiap subsektor yang mencapai 14,29% atau sebesar Rp26. 857,10. Hasil analisis pada Tabel 2 menunjukkan bahwa kontribusi tiap subsektor pertanian terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023 didominasi oleh subsektor tanaman perkebunan sebanyak 46,47%. subsektor perikanan sebanyak 26,20%. dan subsektor tanaman pangan sebanyak 11,12%. Tingginya kontribusi subsektor perkebunan tersebut selaras dengan analisis geomorfologi dan lingkungan hidup pada Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Sulawesi Barat Tahun 20052025 yang menerangkan bahwa banyak terjadi gangguan hidrolis di Provinsi Sulawesi Barat sebagai akibat dari pembukaan lahan untuk perkebunan sawit. Subsektor perikanan di Provinsi Sulawesi Barat memiliki kontribusi tertinggi kedua setelah subsektor Kondisi tersebut didukung oleh komposisi wilayah Provinsi Sulawesi Barat memiliki wilayah laut yang jauh lebih luas yakni 20. 342 km2 dibandingkan dengan wilayah daratan yang hanya 990,77 km2. Potensi yang ada tersebut tentu membutuhkan strategi pengoptimalan agar subsektor perikanan dapat terus memberikan kontribusi yang tinggi dalam perekonomian di Provinsi Sulawesi Barat. Pada subsektor tanaman pangan, terdapat 80. 756 dari 193. 185 atau 41,80% Usaha Pertanian Perorangan (UTP) yang bergantung pada mata pencaharian sebagai petani memilih berusahatani di subsektor tanaman pangan. Tingginya tingkat kebergantungan masyarakat terhadap subsektor tanaman pangan tentunya membutuhkan perhatian khusus dalam pengoptimalan usahataninya, sehingga subsektor tersebut dapat memberikan kontribusi yang tinggi dalam pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi Barat. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Hartini et al. , . bahwa pemerintah daerah memiliki peranan penting dalam mempertahankan dan meningkatkan potensi dari sektor pertanian yang ada di masinng-masing daerah dalam rangka mendukung perekonomian daerah Subsektor lainnya yang memiliki kontribusi rendah terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023 diantaranya subsektor kehutanan dan penebangan kayu dengan kontribusi 0,80%. jasa pertanian dan perburuan hewan dengan kontribusi 1,66%. dan peternakan dengan kontribusi 4,41%. Hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh jumlah pelaku usaha di subsektor tersebut yang tergolong rendah. Subsektor kehutanan dan penebangan kayu mempunyai 9. 490 atau sebanyak 4,91% pelaku usaha, subsektor jasa pertanian dan perburuan hewan mempunyai 1. 893 atau sebanyak 0,98% pelaku usaha. Sedangkan subsektor peternakan memiliki jumlah pelaku usaha yang cukup tinggi, yakni 84. 098 atau sebanyak 43,53% pelaku usaha. Akan tetapi, berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2005-2025 subsektor peternakan Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2268-2279 diarahkan pada terpenuhiya kebutuhan protein hewani masyarakat, sehingga kurang optimal dalam hal komersialisasi hasil peternakan. Berbagai subsektor tersebut dapat dioptimalkan kontribusinya melalui berbagai alternatif strategi seperti modernisasi pertanian, intensifikasi pertanian, dan diverisikasi pertanian. Menurut pendapat Marpaung & Bangun . modernisasi pertanian dapat dilakukan dengan melahirkan pemikiran baru dalam usaha pertanian. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan perlatan pertanian yang lebih modern, bibit dan benih yang unggul, serta teknologi yang lebih modern. Alternatif strategi lainnya yakni dapat dilakukan melalui intensifikasi pertanian. Menurut Hidayati et al. , . intensifikasi pertanian dapat dilakukan dengan mengoptimalkan sumber daya yang sudah ada, dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pengembangan pihak usaha terkait. Alternatif strategi selanjutnya yakni dapat dilakukan melalui diverifikasi pertanian. Menurut Pratiwi . diversifikasi pertanian dapat dilakukan dengan mengusahakan komoditas yang beraneka ragam untuk mengurangi ketidakpastian permintaan dan penawaran di masyarakat. Analisis Kontribusi Sektor Pertanian tiap Kabupaten Analisis kontribusi tiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat dilakukan untuk menjawab tujuan ketiga penelitian dilakukan dengan mengkalkulasikan jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tiap kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat terhadap jumlah PDRB sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023. Analisis kontribusi tiap kabupaten terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel 3. Analisis Kontribusi Sektor Pertanian tiap Kabupaten Kabupaten PDRB Sektor Pertanian Persentase --juta Rp---%-Majene 110,00 9,14 Polewali Mandar 800,00 27,19 Mamasa 820,00 5,12 Mamuju 810,00 21,64 Pasangkayu 310,00 25,21 Mamuju Tengah 620,00 11,70 Total 470,00 100,00 Rata-rata 911,67 16,67 Sumber: Data Sekunder Penelitian . Berdasarkan hasil analisis kontribusi pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa terdapat persentase kontribusi yang berbeda-beda tiap kabupaten terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023. Kontribusi terbesar terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023 yakni disumbangkan oleh sektor pertanian Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 27,19% atau sebesar Rp50. Kontribusi terkecil pada pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014 hingga 2023 yakni disumbangkan Kabupaten Masama sebanyak 5,12% atau sebesar Rp9. Nilai tersebut lebih rendah dari rata-rata kontribusi tiap subsektor yang mencapai 16,67% atau sebesar Rp30. Kontribusi terkecil yakni Kabupaten Masama dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya yakni kontribusi subsektor unggulan Provinsi Sulawesi Barat yang rendah. Subsektor unggulan di Provinsi Sulawesi Barat yakni subsektor perkebunan, sedangkan Kabupaten Masama pada Tahun 2021 memiliki luas panen sektor perkebunan terendah yakni seluas 14. 728 hektare, sedangkan Kabupaten Polewali Mandar memiliki luas panen tertinggi yakni seluas 60. 057 hektare yang meliputi komoditas kelapa sawit, kelapa hibrida, kakao, sagu, kopi, lada, dan aren. Kabupaten Masama juga memiliki lahan pertanian yang tidak diusahakan seluas 59. 308 hektare atau sekitar 20% dari total wilayahnya. Angka tersebut berada pada urutan kedua di Provinsi Sulawesi Barat setelah Kabupaten Mamuju yang memiliki lahan pertanian yang tidak diusahakan seluas 452 hektare. Meskipun memiliki lahan pertanian yang tidak diusahakan tertinggi. Kabupaten Mamuju memiliki tingkat kontribusi tertinggi ketiga sebanyak 21,64%. Hal tersebut diantaranya disebabkan karena lahan yang tidak diusahakan hanya berkisar 18% dari total wilayahnya, dimana Analisis Trend dan Kontribusi Sektor Pertanian pada Produk Domestik Regional Bruto Provinsi Sulawesi Barat Wulan Aryanti. Titik Ekowati. Mukson Kabupaten Mamuju merupakan kabupaten terluas di Provinsi Sulawesi Barat yang mana luas wilayahnya mencapai 499. 969 hektare. Kondisi yang sama terjadi juga di Kabupaten Majene yang memiliki kontribusi terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian terendah kedua yakni sebesar 9,14%. Kabupaten Majene memiliki luas panen subsektor perkebunan terendah kedua setelah Kabupaten Masama, yakni seluas 16. 756 hektare. Sedangkan kabupaten dengan kontribusi tertinggi yakni Kabupaten Polewali Mandar memiliki luas panen subsektor perkebunan tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat, yakni sebesar 60. 057 hektare. Sedangkan lahan pertanian yang tidak diusahakan hanya sebesar 15. 919 hektare atau sekitar 9% dari total luas wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Potensi pertanian yang ada di Kabupaten Polewari Mandar tersebut tentunya membutuhkan peranan berbagai pihak untuk mengoptimalkan potensi yang ada. Menurut Kurniawan & Rustan . Kabupaten Polewali Mandar memiliki potensi pertanian yang perlu dikembangkan oleh pemerintah Upaya tersebut dapat dilakukan melalui bantuan berbagai pihak seperti penyuluh pertanian yang berperan sebagai motivator, pendidik, fasilitator, dan agen perubahan masyarakat. Sebanyak 16,73% atau seluas 193. 010,40 hektare wilayah pertanian di Provinsi Sulawesi Barat berada di wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Sedangkan sebanyak 18,98% atau seluas 218. 932,90 hektare wilayah pertanian di Provinsi Sulawesi Barat berada di wilayah Kabupaten Masama. Luas wilayah pertanian tersebut tidak berbanding lurus dengan kontribusi tiap kabupaten terhadap pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor pertanian di Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023. Salah satu hal yang mempengaruhi terjadinya anomali tersebut yakni adanya perbedaan kontribusi subsektor pertanian lain di wilayah tersebut. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ulum . mengenai analisis subsektor unggulan pertanian di Kabupaten Polewali Mandar pada rentang Tahun 2013-2022 dapat diketahui dua subsektor utama yang memiliki potensi unggul dengan tingkat kontribusi yang tinggi di Kabupaten Polewali Mandar, yakni subsektor perkebunan dengan kontribusi 44,45% dan subsektor peternakan dengan kontribusi 14,69%. Sedangkan subsektor dengan kontribusi terendah yakni subsektor perikanan dengan kontribusi sebanyak 8,23% dan subsektor kehutanan dengan kontribusi sebanyak 8,95%. Luas wilayah perkebunan di Kabupaten Polewali Mandar mencapai 23,16% dimana berada pada urutan kedua setelah Kabupaten Pasangkayu yang mencapai 32,80% dari seluruh lahan perkebunan yang ada di Provinsi Sulawesi Barat. Sedangkan Kabupaten Masama hanya mempunyai 9,17% luas wilayah perkebunan dimana berada pada urutan kedua terbawah sebelum Kabupaten Majene yang hanya mempunyai 7,62% dari seluruh lahan perkebunan yang ada di Provinsi Sulawesi Barat. Komoditas perkebunan yang paling banyak dibudidayakan di Kabupaten Polewali Mandar yakni Kakao dengan luas areal perkebunan mencapai 48. 929,50 hektare. Komoditas tersebut tentunya membutuhkan perhatian khusus terkait potensinya menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Polewali Mandar. Berbagai faktor yang menghambat pertumbuhan ekonomi kakao dibedakan menjadi dua yakni faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang berpengaruh yakni efek keterbukaan ekonomi yang mengakibatkan semakin ketatnya persaingan pasar. Sedangkan faktor internal meliputi sulitnya investor swasta untuk masuk, dan kerusakan lingkungan akibat pengelolaan sumberdaya alam yang kurang tepat. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Provinsi Sulawesi Barat 2005-2025 menyebutkan salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut yakni dengan peningkatan kuantitas dan kualitas kakao melalui perencanaan Gerakan Pembaruan Kakao (GPK), dan penciptaan iklim investasi yang optimal melalui stabilisasi keamanan dan ketertiban di masyarakat. Adanya berbagai upaya dari pemerintah daerah dengan melibatkan masyarakat daerah tersebut diharapkan dapat mengoptimalkan potensi Kakao sebagai komoditas unggulan di Kabupaten Polewali Mandar dalam kontribusinya di sektor pertanian untuk mendukung pertumbuhan perekonomian daerah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terkait dengan analisis trend dan kontribusi sektor pertanian pada pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sulawesi Barat dapat disimpulkan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2023 setiap tahunnya mengalami kenaikan. Hasil ramalan nilai PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2028 juga mengalami kenaikan setiap tahunnya, dimana pada Tahun 2014 Mimbar Agribisnis: Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis P-ISSN: 2460-4321. E-ISSN: 2579-8340 Volume 11. Nomor 2. Juli 2025: 2268-2279 nilai PDRB sektor pertaniannya mencapai Rp Rp26. 000 dan mencapai Rp32. 000 pada Tahun 2028. Kontribusi subsektor pertanian terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2028 didominasi subsektor perkebunan dengan kontribusi 46,37%. kemudian subsektor perikanan dengan kontribusi 26,20%. Sedangkan kontribusi terendah yakni pada subsektor kehutanan dan penebangan kayu sebanyak 0,80%. dan subsektor jasa pertanian dan perburuan hewan dengan kontribusi sebanyak 1,66%. Kontribusi kabupaten terhadap pembentukan PDRB sektor pertanian Provinsi Sulawesi Barat pada rentang Tahun 2014-2028 tertinggi yakni Kabupaten Polewali Mandar sebanyak 27,19% atau sebesar Rp Rp50. 000, dan yang terendah Kabupaten Masama sebanyak 5,12% atau sebesar Rp9. Saran yang diberikan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Barat yakni untuk menggunakan hasil analisis trend Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Sulawesi Barat sebagai bahan untuk mengevaluasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 yang telah ditetapkan sebelumnya, sehingga trend positif yang telah tertentuk dapat dioptimalkan potensinya melalui berbagai alternatif strategi yang ada seperti modernisasi pertanian, intensifikasi pertanian, dan diverisikasi pertanian. Terutama untuk berbagai komoditas unggulan seperti kakao, membutuhkan perhatian khusus pemerintah daerah agar komoditas tersebut dapat meningkat kualitas dan kuantitasnya, serta dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Untuk pembaca, harapannya penelitian ini dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya dimana dapat dilakukan pembahasan tiap kabupaten atau bahkan tiap subsektor pertanian yang ada. DAFTAR PUSTAKA