Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 IMPLEMENTASI PENDEKATAN PENDIDIKAN IMAN DENGAN MEDIA LUKIS BAGI KELOMPOK ANAK AUTIS Kanisius Komsiah Dadi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya dadi@atmajaya. Abstract Autistic individuals often face discrimination and social isolation in the environment. To unlock their potential and encourage physical and emotional development, they need ongoing exceptional support using various supportive media (Inclusive faith educatio. This research answers the problem of how inclusive education for autistic children is developed through various suiTabel media, one of which is painting media. Painting can serve as a suiTabel medium for faith education for these children. This is important to adjust to the child's level of autism. The expression of faith is unique and often contains artistic value. The process of faith education can be adapted to accommodate individuals with different levels of thinking, feeling, and acting abilities. Through painting activities, autistic children can express their faith and trust in Christ, using their unique strengths and Researcher used a qualitative descriptive method, focusing on a group of autistic children and their parents/companions. The data collection technique included observation of 17 autistic children and interviews with 17 parents and two companions to support the research objectives. Observation focuses on the expression of children's thoughts and feelings in the form of paintings after receiving short-simple teaching. The interview focuses on introducing children's characters based on the views of parents and The study's findings show that before autistic children are actively involved in the faith education process, parents and companions . are important to understand each child's interests and potential. Painting activities are not necessarily suiTabel for all types or levels of autism. Parents and catechists are important in designing faith education content for their children according to their needs and circumstances. Keywords: autistic children. inclusive faith education. PENDAHULUAN Anak berkebutuhan khusus (ABK) mampu terlibat aktif dalam dinamika proses pendidikan di tempatnya belajar serta mampu menerima pengajaran yang cocok dengan kebutuhannya (Kristian Siahaan, 2022. Arianti & Rini, 2022. Winarni et al. , 2. Nurlaili et al. , . semakin menguatkan bahwa para pendidik Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 semestinya memiliki kelengkapan bahan atau materi, pendekatan dan strategi dalam memenuhi kebutuhan mereka. Faktor pendukung proses pembelajaran untuk difabel, yaitu sarana dan prasarana yang memadai, dukungan pemangku kebijakan, pemerhati dan praktisi pendidikan iman yang berperan dalam merancang program khusus untuk proses pembelajaran inklusif bagi mereka. Menurut Mareza . , faktor penghambat yang penting disadari adalah kurangnya peran serta orang tua dalam proses kemajuan kemampuan ABK, guru dan asisten kelas yang tidak berasal dari pendidikan khusus dan seni lukis, guru kurang inovatif dalam menyampaikan materi pelajaran katekese dan kurangnya tenaga pendidik ABK. Autisme, atau yang dikenal sebagai Gangguan Spektrum Autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi cara individu berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Gangguan ini biasanya terdeteksi pada usia dini dan dapat bertahan seumur hidup. Gangguan spektrum autisme adalah istilah yang mencakup berbagai kondisi yang sebelumnya dianggap terpisah, seperti gangguan autistik, sindrom Asperger, dan gangguan perkembangan pervasif lainnya. Istilah AuspektrumAy mencerminkan variasi yang luas dalam gejala dan tingkat keparahan yang dialami oleh individu dengan ASD. Beberapa orang mungkin memiliki gejala ringan, sementara yang lain mungkin mengalami kesulitan yang lebih parah dalam fungsinya secara sosial dan akademis (Pratiwi. Anak autis cenderung kesulitan untuk menuangkan pikiran dan mengekspresikan diri, baik dengan kata-kata, gerak tubuh, ekspresi wajah, dan Mereka juga cenderung kesulitan untuk memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain. Dalam studinya. Rheika Pratiwi . , penulis artikel kesehatan di Hello Sehat (Pusat informasi kesehatan yang terverifikasi medi. , melukiskan gambaran yang jelas tentang dunia rumit anak-anak autis yang lebih besar dan menyoroti segudang tantangan yang mereka hadapi saat mereka menavigasi kehidupan seharihari. Anak-anak ini sering bergulat dengan mengekspresikan perasaan dan emosi mereka, perjuangan yang dapat menyulitkan mereka untuk terhubung dengan orang-orang di sekitar mereka. Meskipun dunia internal mereka mungkin kaya dan bersemangat, mengartikulasikan perasaan itu dengan cara yang dapat dipahami orang lain tetap menjadi rintangan yang signifikan. Memahami pikiran dan perasaan orang lain terbukti menjadi teka-teki kompleks lainnya. Anak-anak ini mungkin menemukan diri mereka tersesat dalam situasi sosial, tidak dapat membaca isyarat yang memandu interaksi biasa. Pemutusan hubungan ini dapat menyebabkan perasaan terisolasi, karena mereka secara tidak sengaja melewatkan pembentukan relasi yang bermakna. Faktanya, banyak dari mereka lebih suka kesendirian, menemukan kenyamanan sendiri daripada terlibat dalam dinamika kehidupan sosial yang tidak dapat diprediksi. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Salah satu aspek yang paling mencolok dari perilaku mereka adalah fokus intens pada aktivitas tertentu, yang seringkali dapat berubah menjadi perilaku Fenomena ini, kadang-kadang disebut sebagai stiming, yaitu memberikan bentuk pengaturan diri dan kenyamanan, memungkinkan mereka untuk mengatasi sensasi atau emosi yang luar biasa. Komunikasi juga menghadirkan serangkaian Banyak anak autis yang lebih besar berjuang untuk mengekspresikan kebutuhan mereka, baik secara verbal maupun melalui gerak tubuh. Kesulitan ini sering mengarah pada memberikan jawaban yang tidak relevan untuk pertanyaan atau bahkan mengulangi kata-kata orang lain . Bermain merupakan aspek mendasar dari masa kanak-kanak, namun anak autis mengambil bentuk yang berbeda. Permaian bermain peran tidak ada dalam pengalaman mereka. Sebaliknya, mereka sering menggunakan gerakan berulang, yang berfungsi sebagai sarana kenyamanan dan menenangkan diri. Perubahan rutinitas bisa sangat menakutkan, karena anak-anak ini berkembang dengan Perubahan mendadak dalam jadwal mereka dapat menyebabkan tekanan yang signifikan, sehingga penting bagi pengasuh dan pendidik untuk mendekati transisi dengan hati-hati dan kepekaan. Selain itu, mereka memiliki reaksi yang tidak biasa terhadap rangsangan sensorik, apakah itu keengganan terhadap suara tertentu atau respons yang luar biasa terhadap cahaya terang, yang semakin memperumit interaksi mereka dengan dunia di sekitar mereka. Alternatif untuk mengatasai gejala-gejala tersebut, perlu adanya proses pendidikan iman yang khusus, pembimbing menggunakan media lukis untuk membantu mereka dalam mengekspresikan buah pikiran dan perasaan, setelah mendapatkan pengajaran singkat dan sederhana. Tantangan mengelola proses pendidikan iman untuk anak autis dengan media lukis di kelas inklusi antara lain: tahap perencanaan, pelaksanaan, penilaian pembelajaran di kelas inklusi sama dengan perlakuan terhadap kelas lainnya, tidak ada perlakuan penilaian khusus untuk anak autis . urang inklusi. kurangnya asisten sebagai pembantu dalam proses bimbingan dan perlakuan khusus terhadap anak-anak autis saat pembelajaran, membuat anak harus menerjemahkan sendiri materi-materi yang diberikan oleh pengajar. kesulitan anak dalam memegang pensil dan cat karena kemampuan yang terbatas. jarangnya penggunaan strategi pembelajaran aktif yang mengajak anak untuk berpartisipasi, membuat mereka merasa kurang diperhatikan dan tidak berani untuk bertanya kepada guru. penyetaraan serta anggapan bahwa anak autis memiliki kebutuhan yang sama dengan siswa normal, menandakan kurangnya fasilitas dalam penanganan anak autis dalam pembelajaran . ingkungan belajar tidak inklusi. Pendekatan katekese dengan media lukis untuk anak autis dapat menjadi pendekatan yang baru bagi para katekis. Gereja (Paroki dan Keuskupa. dapat mengembangkan katekese dengan lebih kreatif, inovatif, efektif, dan efisien. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Konsekuensinya adalah para pendidik iman, penting untuk memiliki pemahaman kondisi anak autis agar pendekatan katekese yang dikembangkan menjadi lebih relevan bagi mereka. Menurut Flowrent Natalia Marpaung et al. , mereka melihat bahwa katekese bukan sekadar formalitas kegiatan gerejawi saja, melainkan ada unsur penumbuhan iman Kristiani di dalamnya. Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah menemukan media katekese yang cocok untuk kelompok anak autis. Peneliti menyadari bahwa tidak semua anak autis cocok dengan pendekatan belajar menggunakan media lukis. Tetapi paling tidak ada inspirasi bagi para katekis yang memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan iman anak-anak ini. Tujuan selanjutnya adalah menemukan Aupintu masukAy ke dalam diri setiap anak autis untuk menemukan dan mengembangkan setiap potensi yang Tuhan berikan kepada mereka agar dapat menjalankan tugas panggilan di dunia ini, sesuai dengan keadaan dan kemampuan Berdasarkan tujuan ini, maka rumusan masalah penelitiannya adalah bagaimana tahap-tahap pendidikan iman dengan media lukis dapat dikembangkan oleh para katekis dalam komunitas autis di Paroki? Bagaimana memahami ekspresi iman . engertian, perasaan, dan keterampila. anak-anak autis yang dituangkan dalam bentuk lukisan mereka? II. PEMBAHASAN Kajian Teori Ajaran Gereja Katolik tentang Pendidikan Iman bagi Kelompok Autis Peran katekis, pengajar, ataupun pendamping iman anak autis adalah sebagai fasilitator, yakni memberikan fasilitas yang mampu membangun lingkungan belajar yang inklusif, serta memberikan bimbingan dalam memahami ajaran iman. Selain lingkungan belajar yang inklusif, katekis juga harus mampu menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, di mana anak-anak autis dapat belajar tanpa merasa tertekan. Pendekatan yang penuh empati dan kesabaran sangat diperlukan untuk membantu anak-anak ini memahami nilai-nilai iman Kristiani. Woga . , menegaskan bahwa Katekis harus menjadi teladan dalam perilaku dan sikap, sehingga anak-anak dapat mencontohkan tindakan positif dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pribadi . , memaparkan bahwa peran Gereja Katolik dalam pelayanan sosial, khususnya bagi kelompok autis sangat kuat. Gereja menekankan pentingnya menerima semua orang sebagai bagian dari umat, termasuk mereka yang memiliki Dengan demikian. Gereja menciptakan lingkungan yang inklusif, di mana kelompok autis merasa diterima, dihargai, dan didukung. Dalam praksisnya. Gereja menyediakan berbagai macam bentuk layanan spiritual bagi anak autis maupun keluarganya yang mencakup bimbingan rohani, doa, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam sakramen. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Gereja memainkan peran penting dalam memberikan dukungan sosial dan emosional kepada keluarga yang memiliki anak autis. Dukungan ini berupa konseling dan kegiatan sosial yang memungkinkan keluarga untuk berbagi pengalaman dan membangun hubungan dengan orang lain. Gereja menyediakan program pendidikan dan katekese yang disesuaikan untuk anak-anak autis. Program-program ini dirancang untuk membantu mereka memahami ajaran agama dengan cara yang sesuai dengan kemampuan mereka. Pribadi . meyakini bahwa dalam ajaran Gereja Katolik setiap individu, termasuk mereka yang hidup dengan autisme, adalah ciptaan Allah yang berharga dan memiliki martabat yang sama dengan orang lain (Pribadi, 2. Ditegaskan dalam dokumen Gereja. Amoris Laetitia (AL) bahwa: AuKeluarga-keluarga yang memiliki anggota berkebutuhan khusus, di mana rintangan yang menyerbu dalam kehidupan menimbulkan tantangan yang mendalam dan tak terduga, dapat merusak keseimbangan, keinginan, dan harapan keluarga. Keluarga yang menerima dengan penuh kasih tantangan sulit kehadiran seorang anak dengan kebutuhan khusus sungguh sangat pantas dikagumiAy (Art. Oleh karena itu, pendidikan iman bagi individu autis perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan mereka, sambil tetap memastikan mereka dapat merasakan dan memahami cinta Tuhan serta terlibat dalam kehidupan Gereja. Prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik dalam mendidik iman anak-anak dan orang dewasa dengan autisme adalah inklusivitas, fleksibilitas, melibatkan keluarga, didampingi katekis profesional dan ahli di bidangnya, kesederajatan dalam konten pengajaran iman, kerja sama dengan professional (AL. Art. Gereja Katolik berkomitmen untuk mendukung individu dengan autisme dalam perjalanan iman mereka, dan memberikan pendidikan yang penuh kasih, inklusif, serta sesuai dengan kebutuhan mereka. Direktori Katekese (Directory for Catechesi. tahun 2020 menekankan pentingnya inklusivitas dalam katekese. Direktori ini menekankan bahwa setiap orang, tanpa memandang keterbatasan fisik atau intelektual, memiliki hak untuk menerima pendidikan iman. Gereja mendorong adaptasi metode katekese untuk memenuhi kebutuhan individu dengan disabilitas. Pendidikan iman bagi kelompok difabel adalah pertama-tama tanggung jawab orang tua dan komunitas Gereja untuk memberikan pendidikan yang memadai bagi mereka. Pada 16 Juni 2023. Konferensi Waligereja AS (USCCB) menyetujui penyusunan pernyataan pastoral baru untuk memperbarui dan mengatasi masalah kontemporer yang dihadapi oleh penyandang disabilitas. Pernyataan baru ini bertujuan untuk mencerminkan perubahan dalam masyarakat selama 45 tahun terakhir sambil terus mempromosikan inklusivitas dan dukungan bagi individu penyandang disabilitas di dalam Gereja, seperti yang Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dipaparkan oleh (Mark Bradford, 2. Gereja mengarahkan pandangan kepada mereka yang sakit jasamani dan Rohani, dan bekerja tanpa henti membantu dan membela mereka (KGK, 2. Fransiskus . menekankan perlunya inklusi dan perhatian khusus bagi mereka yang berada di pinggiran masyarakat, termasuk mereka yang hidup dengan disabilitas. Meskipun tidak fokus pada pendidikan iman untuk kelompok autisme secara khusus, dokumen ini mendorong pendekatan yang penuh kasih dan inklusif. Dokumen-dokumen ini menekankan prinsip-prinsip inklusivitas, adaptasi, dan penghormatan terhadap martabat setiap individu dalam konteks pendidikan iman, termasuk bagi mereka yang hidup dengan autisme. Yustinus Wuarmanuk . melaporkan bahwa Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) telah menegaskan pentingnya inklusivitas dan perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok yang rentan dan membutuhkan perlakuan khusus, termasuk mereka yang hidup dengan disabilitas, dalam beberapa panduan dan pernyataan pastoral. Pendekatan Pendidikan Iman dengan Media Lukis: Teori Sesuai dengan Pemikiran Para Ahli Pendidikan iman bagi individu dengan autisme memerlukan pendekatan khusus yang memperhatikan kondisi dan kebutuhan unik mereka. Berbagai ahli dalam pendidikan khusus, teologi, dan psikologi telah berkontribusi dalam mengembangkan teori dan praktik yang efektif untuk mendukung pendidikan iman bagi kelompok autis. Ryan Hidayat Rafiola & M. Ramlib . mengutip pandangan Albert Bandura yang menekankan pentingnya pengamatan, peniruan, dan modeling dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan iman bagi individu autis, teori ini diterapkan dengan menggunakan model yang dapat diobservasi oleh mereka. Misalnya, pembelajaran melalui pengamatan terhadap orang lain yang melakukan praktik iman . eperti doa, perayaan sakrame. dapat membantu mereka memahami dan menginternalisasi nilai-nilai iman. Austin Omomia & T. Omomia . setuju pandangan B. Skinner yang menekankan pentingnya reinforcement . dalam proses belajar. Untuk individu autis, penguatan positif dapat digunakan dalam mengembangkan perilaku yang diinginkan di konteks pendidikan iman, seperti berdoa, aktivitas kerajinan tangan, dan lain-lain. Pendekatan ini sering melibatkan pemberian penghargaan atau pujian ketika seorang anak menunjukkan perilaku yang Teori ini menekankan pentingnya menggunakan berbagai saluran sensorik . englihatan, pendengaran, sentuha. dalam proses pembelajaran. Senada dengan hal itu. De Domenico et al. memperjelas bahwa bagi individu autis, pendekatan multisensorik bisa sangat efektif karena mereka memiliki preferensi atau sensitivitas sensorik tertentu. Misalnya, dalam pendidikan iman, penggunaan gambar, musik rohani, dan aktivitas taktil . eperti memegang rosario atau benda- Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 benda liturgi. dapat membantu mereka memahami dan merasakan pengalaman Howard Gardner mengembangkan teori kecerdasan majemuk yang mengakui bahwa setiap individu memiliki berbagai jenis kecerdasan (Katie Davis. Dalam konteks autisme, beberapa individu mungkin memiliki kekuatan dalam kecerdasan visual-spasial, logis-matematis, atau musik, sementara mereka mungkin kesulitan dalam kecerdasan interpersonal. Pendidikan iman dapat disesuaikan dengan jenis kecerdasan yang paling dominan pada individu tersebut. Misalnya, pembelajaran iman melalui musik dan nyanyian bagi mereka yang memiliki kecerdasan musikal tinggi. Ayres . menekankan pentingnya integrasi sensorik dalam perkembangan anak. Bagi anak dengan autisme, kesulitan dalam mengintegrasikan informasi sensorik dapat mempengaruhi cara mereka Dalam pendidikan iman, lingkungan yang menenangkan dan terstruktur serta penggunaan metode yang mendukung integrasi sensorik dapat membantu mereka untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran iman. Reinders . menekankan bahwa komunitas Kristen harus melihat orang-orang dengan disabilitas sebagai subjek penuh dari kehidupan Gereja, bukan sebagai objek belas kasihan. Dalam pendidikan iman, ini berarti bahwa semua individu, termasuk mereka dengan autisme, memiliki hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan Gereja dan menerima pendidikan iman yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendidikan iman untuk individu autis perlu fleksibel, personal, dan terfokus pada kekuatan dan preferensi unik mereka, sambil tetap menjaga inti dari ajaran iman. Dengan menerapkan teori-teori ini, para pendidik dan komunitas iman dapat membantu individu dengan autisme untuk terlibat dalam kehidupan iman secara penuh dan bermakna. Skinner dan teori behaviorismenya menekankan pentingnya reinforcement . dalam proses belajar. Konsep penguatan dalam rupa hadiah atau semacamnya, tidak terpahami oleh anak-anak autis. Mereka fokus pada minat dan dunianya sendiri, jadi dalam realita teori ini tidak cukup berlaku bagi anak-anak autis. Secara umum mungkin saja penguatan . tetap diperlukan mengingat level autisme dari masing-masing anak berbeda-beda. Teori penguatan Skiner, dalam praktiknya bisa dalam berbagai macam bentuk, salah satunya, dari kasus anak autis yang tantrum adalah dengan memberikan kesempatan untuk mengungkapkan apa yang menjadi isi pikiran dan perasaannya sampai waktu tertentu di mana anak ini kembali tenang. Bagi individu dengan autisme, pendekatan multisensori bisa sangat efektif karena mereka mungkin memiliki preferensi atau sensitivitas sensorik tertentu. Dalam praktiknya memang benar demikian. Para fasilitator atau pendamping perlu untuk meningkatkan kreativitas agar referensi media bantu bisa lebih variatif sesuai dengan kebutuhan dan minat anak-anak autis yang didampingi. Dalam penelitian Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 ini, peneliti menggunakan media lukis. Umumnya anak-anak peserta katekese ini mampu mengikuti instruksi dengan baik. Itu lebih dari cukup. Proses pendidikan iman tidak harus selalu berhasil membuat anak-anak hafal ayat Kitab Suci atau dogma, dengan menunjukkan sikap tenang saat berdoa dan menunjukkan ketertarikan pada hal yang sedang dibahas, itu sudah cukup. Dalam konteks autisme, beberapa individu mungkin memiliki kekuatan dalam kecerdasan visual-spasial, logis-matematis, atau musik, sementara mereka mungkin kesulitan dalam kecerdasan interpersonal. Di kelompok anak autis yang menjadi subjek penelitian ini, terdapat anak-anak dengan kecerdasan yang variatif. Meskipun media dan pendekatan yang digunakan sama, yaitu media lukis, tetapi dalam ekspresi melukis masing-masing itu beragam. Ada anak yang mampu mengekspresikan diri dalam bentuk tebal tipisnya cait air yang ditempelkan di atas kanvas, ada yang sungguh terbuka ide-idenya, ada yang mampu mengekspresikan pikiran dalam bentuk pilihan warna, dan sebagainya. Memang sekilas hasil lukisan mereka seperti tidak beraturan pada umumnya. Tetapi, ketika ditelah dari berbagai sudut pandang dan ketika anaknya ditanya perihal lukisan mereka, ada makna terkandung di dalamnya yang bisa dipahami. Misalnya minat terhadap kebersihan lingkungan sekitar, perhatian terhadap binatang, perhatian terhadap alam semesta, minat terhadap relasi intim dalam keluarga, dan sebagainya. Pendidikan iman, lingkungan yang menenangkan dan terstruktur serta penggunaan metode yang mendukung integrasi sensorik dapat membantu mereka untuk lebih terlibat dalam proses pembelajaran iman (Ayres, 2. Teori ini sungguh berlaku bagi kelompok anak autis. Anak autis tidak boleh terkena distraksi apa pun. Jika itu terjadi, maka mereka akan tantrum dan sangat mengganggu proses Suasana tenang rupanya menjadi kunci bagi anak-anak autis untuk melatih fokus dan konsentrasi mereka dalam mengerjakan sesuatu. Metode melukis cukup efektif membantu mereka untuk fokus terhadap satu hal dalam waktu tertentu. Dalam konteks penelitian ini, bukan bagus tidaknya hasil lukisan yang mereka buat, namun yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka menangkap sesuatu yang mereka lihat lalu menuangkannya dalam lukisan. Katekese dengan media lukis bisa sangat membantu anak-anak autis dalam mengungkapkan hasil belajar mereka. Metode Penelitian Metode penelitian yang diterapkan adalah metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif memungkinkan peneliti untuk memahami pengalaman individu secara mendalam (John W. Creswell, 2. Dalam konteks pendidikan iman anak autis, pendekatan ini membantu peneliti menggali bagaimana anak-anak dengan disabilitas mengalami dan memaknai pendidikan iman mereka, serta tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut. Hasil dari penelitian dituliskan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dalam bentuk narasi yang komprehensif. Adapun tahapan penelitian yang dilaksanakan adalah tahap persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan. Prosedur penelitian pada tahap persiapan adalah melakukan koordinasi dengan tim katekis dua paroki yang dipilih yakni Paroki Curug. Gereja St. HelanaTangerang dan Paroki Galaxy. Gereja Gereja Santo Bartolomeus-Bekasi. Lokus penelitian ini dipilih karena di lokasi ini ada komunitas anak autis yang baru dibentuk beberapa tahun terakhir dan sedang mencari bentuk pendidikan iman yang cocok bagi mereka. Penelitian dilakukan mulai Februari 2024 hingga Agustus 2025. Teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah observasi di dua kelompok dampingan (Paroki Curug dan Paroki Galax. dan interview dengan tujuh belas orang tua. Observasi dilakukan selama proses pendampingan, sementara interview dilakukan bersama dengan orang tua anak-anak autis yang hadir dalam pertemuan. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis isi, yakni memperhatikan hasil observasi terhadap hasil karya anak. Lukisan mereka diamati dan dimaknai sedemikian rupa, sehingga peneliti mendapatkan makna di dalam lukisan yang sudah dibuat. Dalam proses analisis data, peneliti menggunakan sudut pandang psikologis untuk memahami anak-anak autis. Hasil Penelitian dan Diskusi Hasil Penelitian Proses Pendidikan Iman dengan Pendekatan Media Lukis yang Terjadi Dengan mempertimbangkan teori yang telah dipaparkan di atas, maka proses katekese dengan pendekatan media lukis dilakukan dengan tiga tahap, yaitu: tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada tahap persiapan, peneliti melakukan beberapa kali koordinasi dengan tim peneliti dan tim pendamping katekese di paroki-paroki tempat observasi penelitian dilakukan. Selain melakukan koordinasi, peneliti juga melakukan persiapan materi . ahan aja. dan perlengkapan yang diperlukan, yaitu media lukis. Pada tahap pelaksanaan, peneliti hadir di lokasi dan sebelum acara dimulai, peneliti berkomunikasi dengan tim katekese serta orang tua. Pendekatan ini penting dilakukan sebelum acara dimulai agar terbangun kepercayaan orang tua dan anak terhadap fasilitator parenting. Sesi pertama dibuka dengan menyamakan persepsi mengenai potensi yang dimiliki anak-anak difabel antara fasilitator dengan orang Sesi selanjutnya adalah melibatkan anak dan orang tua dalam kegiatan melukis. Sebagai pengantar kegiatan bersama, fasilitator menyampaikan materi tentang peran Roh Kudus dalam perjalanan hidup sehari-hari. Setelah itu, fasilitator menampilkan gambar simbol Roh Kudus di layar. Sementara itu, anak dan orang tua memahami gambar dan mengekspresikan gagasan yang mereka dapatkan dari hasil mengamati gambar dan menuangkannya Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dalam media lukis. Berdasarkan proses observasi selama kegiatan melukis bersama, nampak bahwa komunikasi antara anak dan orang tua sungguh terjalin dengan baik dan hangat. Suasana inilah yang mestinya terus dibangun dalam dinamika pendidikan iman keluarga dan komunitas. Tahap terakhir dari proses katekese dengan pendekatan media lukis adalah Sesuai dengan kemampuan mereka, anak-anak menceritakan di depan kelas apa yang mereka lukis. Pada kesempatan ini, bukan semata-mata pengetahuan . yang diukur, melainkan bagaimana mereka mampu mengekspresikan ide dan produk yang sudah mereka buat sesuai dengan daya dan level Berdasarakan hasil pengamatan peneliti, dari sembilan anak, ada dua anak yang sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk menyampaikan hasil karyanya. Mereka berdua hanya berdiri dan menunjukkan bagian-bagian warna yang dipilih. Momen orang tua berdiri di samping anakanaknya dan memberikan dukungan dalam bentuk kehadiran, merupakan hal yang penting dalam proses pendidikan iman. Seperti. Allah sendiri hadir di dunia dalam wujud manusia. Yesus juga hadir di tengah-tengah umatnya dalam Sakramen Mahakudus. dan Roh Kudus yang senantiasa hadir dalam setiap langkah hidup umat beriman dalam berbagai bentuk dan kesempatan. Analisis Hasil Lukisan Anak Autis Lukisan dapat menjadi jendela yang kuat untuk memahami perasaan dan pikiran anak autis (Ma & Cao, 2. Melalui gambar dan warna, anak-anak dapat mengekspresikan emosi dan pengalaman mereka yang mungkin sulit diungkapkan dengan kata-kata (Smith, 2. Berdasarkan hasil lukisan masing-masing peserta kelompok autis, dapat dilihat bagaimana suasana hati, emosi, ekspresi diri, komunikasi visual, minat, imajinasi, dan kreativitas mereka (Yulaida, dkk. , 2019. Sampurno, dkk. , 2. Orang tua dan fasilitator katekese dapat mengamati pilihan warna dominan dari lukisan setiap anak. Warna-warna cerah seperti merah, kuning, dan oranye sering mencerminkan kebahagiaan, kegembiraan, atau energi yang tinggi (Cherry. Warna-warna gelap seperti hitam, biru tua, atau abu-abu mencerminkan kesedihan, ketakutan, atau kecemasan. Warna-warna lembut seperti pastel bisa mencerminkan ketenangan dan kedamaian (Cherry, 2024. Ma & Cao, 2. Selain dari warna, orang tua dan fasilitator dapat mengamati emosi anak autis dari guratan garis dan bentuk dalam lukisan mereka (Shareef & Farivarsadri, 2. Garis yang tegas dan kuat bisa mencerminkan perasaan intens seperti kemarahan, frustrasi, atau Garis yang lembut dan halus bisa mencerminkan perasaan tenang, lembut, atau lebih tertutup. Sementara bentuk-bentuk yang tidak beraturan bisa mencerminkan kebingungan atau perasaan kacau (Shareef & Farivarsadri, 2. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Menganalisis hasil lukisan anak dengan autisme dapat memberikan wawasan tentang perasaan, pikiran, dan perkembangan mereka. Melalui pengamatan visual, orang tua dan fasilitator dapat memahami setiap keadaan diri anak-anak ini. Warna-warna tertentu dapat mencerminkan suasana hati dan emosi Tabel 1: Gambaran suasana hati berdasarkan warna Warna Biru Hijau Oranye Ungu Emosi Suasana Kedamaian, ketenangan, dan Keseimbangan, pertumbuhan, dan kebaruan. Antusiasme, kreativitas, dan Kebijaksanaan, dan misteri. Relaksasi, stabilitas, tetapi juga Ketenangan. Energi, kehangatan, tetapi juga bisa mencerminkan kecemasan. Kreativitas, introspeksi, tetapi juga bisa mencerminkan perasaan frustrasi atau Misterius, formal, tetapi juga bisa mencerminkan perasaan negatif seperti ketakutan atau depresif. Ketenangan, kejelasan, tetapi bisa juga mencerminkan perasaan kesepian. Kedewasaan, keseimbangan, tetapi bisa juga mencerminkan perasaan monoton atau kebosanan. Kehangatan, ketenangan, tetapi juga bisa mencerminkan perasaan muram atau berat. Hitam Kekuatan. Putih Kemurnian, kebersihan, dan Netralitas, kebijaksanaan, dan Abu-abu Cokelat Stabilitas. Tabel 1 menggambarkan hubungan antara warna dominan dengan emosi dan suasana hati yang dihasilkannya. Setiap warna memiliki asosiasi emosional dan suasana tertentu yang dapat memengaruhi perasaan seseorang. Warna biru diasosiasikan dengan kedamaian, ketenangan, dan kesedihan, serta menciptakan suasana relaksasi dan stabilitas, namun juga bisa menimbulkan kesan melankolis. Warna hijau melambangkan keseimbangan, pertumbuhan, dan kebaruan, sehingga menghadirkan suasana ketenangan, harmoni, dan penyembuhan. Oranye menggambarkan antusiasme, kreativitas, dan semangat, serta menciptakan energi dan kehangatan, meskipun kadang bisa menimbulkan kecemasan. Warna ungu identik dengan kebijaksanaan, spiritualitas, dan misteri, serta menghadirkan suasana kreativitas dan introspeksi, tetapi juga bisa mencerminkan perasaan frustrasi atau kesedihan. Hitam melambangkan kekuatan, elegan, dan kesedihan, serta memberikan kesan misterius dan formal, namun juga dapat memunculkan perasaan negatif seperti ketakutan atau depresi. Putih dihubungkan dengan kemurnian, kebersihan. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dan kesederhanaan, serta menciptakan suasana ketenangan dan kejelasan, meskipun bisa juga menimbulkan rasa kesepian. Warna abu-abu mencerminkan netralitas, kebijaksanaan, dan ketidakpastian, serta memberikan kesan kedewasaan dan keseimbangan, namun bisa pula menimbulkan perasaan monoton atau kebosanan. Terakhir, warna cokelat diasosiasikan dengan stabilitas, keamanan, dan kenyamanan, serta menciptakan suasana kehangatan dan ketenangan, tetapi juga dapat mencerminkan perasaan muram atau berat. Secara keseluruhan, tabel 1 menunjukkan bahwa setiap warna memiliki dampak psikologis tersendiri yang dapat memengaruhi emosi dan suasana hati seseorang dalam berbagai situasi. Memahami asosiasi warna dengan emosi dapat membantu dalam menganalisis lukisan anak, terutama untuk anak-anak autis yang mungkin lebih cenderung mengekspresikan diri melalui visual daripada verbal. Bentuk yang berulang atau tidak teratur juga bisa memberikan petunjuk. Pada lukisan anak autis, penggunaan garis tegas dan lembut dapat mencerminkan berbagai aspek dari emosi, kepribadian, dan kondisi psikologis anak. Garis-garis tegas sering mencerminkan kebutuhan akan kontrol dan struktur. Anak mungkin merasa lebih nyaman dengan batasan yang jelas dan pasti. Garis-garis tegas juga bisa mencerminkan emosi yang kuat, seperti kemarahan, ketegangan, atau semangat. Penggunaan garis tegas menunjukkan tingkat konsentrasi yang tinggi dan perhatian terhadap detail. Terkadang garis tegas dapat mencerminkan perasaan kecemasan atau ketegangan, di mana anak merasa perlu untuk mengekspresikan perasaan tersebut dengan cara yang sangat terstruktur dan definitif. Garis-garis lembut sering mencerminkan perasaan ketenangan, kelembutan, dan relaksasi. Anak mungkin merasa lebih damai dan santai saat menggambar. Garis lembut bisa mencerminkan emosi yang lebih halus dan tidak terlalu intens, seperti rasa senang, kasih sayang, atau kesedihan yang lembut. Anak mungkin menunjukkan rasa bebas dan kurangnya kebutuhan untuk struktur atau batasan yang Penggunaan garis lembut bisa mencerminkan fleksibilitas dalam berpikir dan kreativitas yang tinggi. Dalam konteks menganalisis lukisan anak dengan autisme, penting untuk mempertimbangkan bahwa setiap anak unik dan interpretasi garisgaris ini harus dilakukan dengan mempertimbangkan konteks individual anak Kombinasi garis tegas dan lembut dalam satu lukisan juga bisa menunjukkan kompleksitas emosi dan pikiran anak. Pendekatan terbaik adalah dengan melibatkan anak dalam diskusi tentang lukisannya jika memungkinkan, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang mereka coba Dalam kegiatan observasi lapangan yang dikemas dalam bentuk acara parenting untuk orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, peneliti membawa materi dengan tema Roh Kudus untuk anak-anak autis di sebuah Paroki di Jakarta. Peneliti menampilkan gambar simbol Roh Kudus di layar. Anak-anak Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 peserta kegiatan ini, bersama orang tua berusaha untuk menangkap setiap bagian gambar dan melukiskannya di atas media lukis masing-masing. Berikut hasil lukisan mereka: Lukisan 1: Leon Warna dominan biru, ditambah sedikit warna merah dan abu-abu. Ada sedikit warna kuning. Guratan kuas tebal. Karakter yang digambar Doraemon dan Posisi objek gambar nampak tidak Lukisan 2: Benedik Objek gambar kurang jelas, banyak ruang Warna yang dipilih biru, kuning, oranye, dan merah. Mengajak anak untuk berbicara tentang lukisannya dan objek apa yang digambar, serta warna yang dipakai bisa memberikan perspektif langsung tentang pikiran dan perasaan anak. Lukisan 3: Jason Kombinasi empat warna utama, yakni hitam, merah, kuning, dan sedikit biru. Banyak ruang kosong. Objek gambar cukup jelas, namun tidak detail. Anak mungkin menunjukkan rasa bebas dan kurangnya kebutuhan untuk struktur atau batasan yang ketat. Lukisan 4: Reyno Warna dominan merah dan kuning, ditambah sedikit biru. Objek gambar memenuhi seluruh bidang area, cukup jelas dan menunjukkan pesan tertentu, bersinar. Garis-garis mencerminkan emosi yang kuat, seperti kemarahan, ketegangan, atau semangat. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Lukisan 5: Kenken Warna dominan biru dan abu-abu, ditambah sedikit kuning. Bidang area gambar masih banyak yang kosong. Garis kuas tebal dan tidak beraturan, tidak Objek gambar nampak tidak ada hubungan satu sama lain. Lukisan 6: Ian Objek gambar nampak sederhana dengan kombinasi warna merah kuning, biru, dan abu-abu. Banyak Keseimbangan jumlah sayap burung . anan dan kir. menunjukkan detail Lukisan 7: Axel Warna dominan merah muda, kuning, dan Objek gambar jelas. Garis kuas menunjukkan gradasi yang baik. Ada nuansa kebebasan dalam mengekspresikan Bulu-bulu burung yang berterbangan menunjukkan ekspresi diri tertentu. Penggunaan mencerminkan fleksibilitas dalam berpikir dan kreativitas yang tinggi. Sumber: Lukisan peserta Interpretasi Psikologis Lukisan dapat mencerminkan perasaan anak. Beberapa anak dengan autisme mungkin menggambarkan interaksi sosial atau ketidakmampuan dalam berinteraksi melalui seni mereka. Berdasarkan gambaran lukisan di atas, nampak bahwa suasana hati saat mereka hadir dalam acara ini cukup beragama. Hal ini terlihat dari pilihan warna cat air yang digunakan untuk melukis simbol Roh Kudus. Lukisan dengan dominan warna biru ditunjukkan oleh dua anak. Makna warna biru yang mereka tampilkan cocok dengan perilaku mereka selama mengikuti acara. Mereka cenderung tenang. Berdasarkan pengamatan peneliti, warna merah dan oranye yang dipakai dalam lukisan ketiga anak ini, mereka memang cenderung aktif, tetapi tidak Mereka aktif dalam mengerjakan tugasnya, yaitu melukis. Mereka aktif bertanya kepada orang tua yang mendampingi. Mereka nampak antusias dan senang melakukan aktivitas itu, walaupun kadang-kadang mereka tidak percaya diri ketika harus memilih warna cat. Mereka bertanya, apakah boleh memakai warna cat ini dan itu kepada orang tuanya. Orang tua menjawab dengan anggukan sebagai isyarat bahwa mereka setuju dengan pilihan anaknya. Komunikasi, tidak selamanya Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 harus dalam bentuk kata-kata lisan atau tulisan. Bahasa simbolik yang dilakukan orang tua kepada anak-anak mereka yang berkebutuhan khusus nampak lebih efektif dan lebih mudah dipahami oleh anak-anak mereka. Inilah bentuk komunikasi iman yang sejati, di mana tanpa banyak kata-kata Tuhan Allah mewahyukan dirinya dan manusia menanggapinya dengan iman perbuatan yang sesuai dengan kehendak-Nya. Bentuk komunikasi iman yang seperti inilah, yang penting untuk terus dikembangkan oleh para pewarta Injil. Komunikasi dengan Orang tua dan Anak Orang tua dan katekis harus terlebih dahulu memahami minat dan potensi masing-masing anak. Berdasarkan hasil observasi anak di kelas inklusif dan interview bersama orang tua, diperoleh data bahwa masing-masing memiliki minat dan potensi yang berbeda. Salah seorang Ibu mengatakan bahwa anaknya sangat suka dengan data-data administratif. Saat ini anaknya mendapatkan kesempatan bekerja di tempat ibunya bekerja, yaitu di salah satu sekolah luar biasa untuk anakanak autis. Anak ini berminat di bagian administrasi yang melibatkan komputer. Berdasarkan hasil observasi di kelas, memang nampak bahwa anak ini berbeda dari lainnya. Meskipun termasuk dalam anak yang berkebutuhan khusus, tetapi dirinya mampu menunjukkan kemampuan berpikir lebih baik. Hal ini nampak dari hasil lukisannya (Lukisan . Kepada peneliti. Ibunya berbagi cerita betapa susahnya membawa anaknya sekolah di sekolah umum, bahkan di sekolah Katolik. Hal ini memang bisa dipahami karena banyak sekolah belum siap menyediakan guru khusus, dengan latar belakang pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan Selain dari pihak sekolah, dari kelompok masyarakat juga demikian. Belum banyak perguruan tinggi yang fokus melahirkan para guru pendidikan khusus. Di Indonesia sendiri baru ada 8 perguruan tinggi yang menyediakan platform penerimaan khusus bagi mahasiswa difabel. Data ini merupakan hasil penelitian yang lakukan oleh center for Gender Equality. Disablity, and Social Inclusion (GEDSI) UNU Jogjakarta dan University of the West of England. Bristol Inggris. Orang tua lain bercerita bahwa anaknya sangat senang menari. Anaknya nampak ekspresif ketika mengukapkan ide, meskipun tidak sangat jelas (Lukisan Dalam waktu-waktu tertentu, ketika masih bersekolah di sekolah umum, anaknya menari, sehingga tidak jarang menarik perhatian teman-temannya. Alihalih mendukung temannya mengembangkan potensi dirinya, mereka malah Karena setiap hari mendapatkan perlakukan demikian, maka orang tuanya memutuskan untuk mendidik sendiri anaknya di rumah dan setiap Minggu mengajaknya hadir dalam kelas katekese untuk kelompok difabel di Parokinya. Anak lainnya sangat suka dengan angka-angka matematik. Pada kesempatan kegiatan parenting yang dilakukan peneliti, anak ini tiba-tiba tantrum karena peneliti mengatakan bahwa AC ini kurang dingin sehingga harus dinaikkan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 angka suhunya. Anak ini langsung merespons dengan cara mengambil remote AC dan berusaha menurunkan angka suhu sambil berkata keras bahwa jika AC kurang dingin, angkanya harus diturunkan. Karena dirasa membuat gaduh suasana, orang tuanya mengambil remote AC itu secara paksa, tetapi dia berontak. Suasana kelas parenting sedikit terganggu untuk beberapa saat. Dari kejadian ini nampak bahwa anak ini memiliki kemampuan numerik dan logika yang cukup baik. Tetapi kontrol emosi terhadap situasi lingkungan sekitar kurang kuat (Lukisan . Pendekatan seperti ini sebaiknya dilakukan dengan penuh empati dan penghargaan terhadap ekspresi anak. Jika memungkinkan, melibatkan ahli terapi seni atau psikolog anak yang memiliki pengalaman dalam bekerja dengan anak-anak autis untuk mendapatkan analisis yang lebih mendalam dan profesional. PENUTUP Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pendekatan pendidikan dengan menggunakan media lukis bagi anak-anak autis bukan satusatunya penentu keberhasilan proses katekese. Masa persiapan pendampingan perlu untuk dirumuskan sejak awal. Indikator ketercapaian tujuan penting untuk disusun sedemikian rupa sesuai dengan keadaan dan kondisi peserta katekese . elompok Media lukis cukup membantu anak-anak autis untuk fokus pada satu hal. Meskipun demikian, mereka perlu mendapatkan pendampingan personal dari orang-orang terdekat atau orang yang bisa mereka percayai. Keberhasilan pendampingan iman anak-anak autis, bukan terletak pada seberapa luas dan dalam pengetahuan, keterampailan, dan perasaan yang mereka alami, melainkan bagaimana kegiatan pendampingan iman itu dapat terlaksana dan anak-anak bisa mengikutinya. Hal lain adalah penghiburan rohani bagi orang tua atau anggota keluarga yang hadir. Perhatian dari Gereja dengan cara memberikan kesempatan, ruang dan waktu bagi anak-anak mereka, itu sudah lebih dari cukup. Mereka menyadari bahwa anak-anak mereka adalah berkat khusus dari Allah yang luar biasa. Anak-anak autis merupakan bagian utuh dari Gereja dan memiliki kesempatan untuk terlibat aktif dalam segala bentuk pelayanan bagi umat Allah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Gereja tidak memandang mereka sebagai objek belaskasihan, melainkan subjek aktif dalam karya pelayanan Gereja. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti mengajukan beberapa saran, yaitu terkait sarana dan prasarana untuk anak berkebutuhan khusus yang perlu dilengkapi, dan adanya guru dengan latar belakang pendidikan khusus agar pembelajaran di kelas inklusi lebih kondusif. Selanjutnya. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 untuk katekis, hendaknya memberikan bimbingan khusus pada anak berkebutuhan memberikan strategi pembelajaran yang menarik sehingga materi yang disampaikan bisa dipahami oleh anak berkebutuhan khusus. melakukan kroscek terhadap pemahaman anak berkebutuhan khusus tentang materi yang diberikan. katekis dapat memberikan motivasi lebih kepada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini masih memiliki kekurangan yang dapat disempurnakan oleh peneliti selanjutnya, yaitu terutama dalam hal metode pendampingan yang lebih variatif sesuai dengan gaya belajar dan kemampuan anak-anak autis. Penelitian selanjutnya dapat mengkaji atau menguji coba berbagai metode dan media dalam satu kali proses katekese bagi anak-anak autis. DAFTAR PUSTAKA