PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MODUL TEMATIK-INTEGRATIF DALAM PENINGKATAN KARAKTER PESERTA DIDIK KELAS I SEKOLAH DASAR Norayeni Arista Estuwardani dan Ali Mustadi Program Pascarsarjana Universitas Negeri Yogyakarta email: norayeniaristas@yahoo. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: . menghasilkan bahan ajar modul tematik-integratif pada tema peristiwa alam dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin yang layak bagi peserta didik kelas I di SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. mengetahui keefektifan bahan ajar tematikintegratif pada tema peristiwa alam dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin peserta didik kelas I SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. Penelitian pengembangan ini mengacu pada langkah yang dikembangkan oleh Borg & Gall. Subjek uji coba terbatas adalah delapan peserta didik kelas I SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. Subjek uji coba lapangan terdiri dari 28 peserta didik kelas I SD N 1 Kutoarjo Purworejo. Subjek uji coba produk operasional pada kelas eksperimen sebanyak 28 peserta didik kelas I A SD N 1 Kutoarjo. Purworejo dan pada kelas kontrol sebanyak 28 peserta didik kelas I B SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. Pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara, lembar penilaian produk bahan ajar, lembar observasi check list guru, lembar observasi check list peserta didik, angket respon peserta didik. Teknik analisis data menggunakan independent sample t-test dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan menurut ahli materi dan ahli media berkategori Ausangat baikAy dengan Penerapan bahan ajar secara umum dapat terlaksana dengan kategori AubaikAy. Terdapat perbedaan hasil akhir antara kelas kontrol dan kelas eksperimen setelah menggunakan bahan ajar tematik-integratif dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin dengan p < 0,05 kemudian terjadi pula peningkatan yang signifikan dengan p = 0,0001. Kata Kunci: bahan ajar modul, tematik-integratif,karakter tanggung jawab dan disiplin DEVELOPING A THEMATIC-INTEGRATIVE LEARNING MODULE TO PROMOTE THE CHARACTER OF THE FIRST YEAR PUPILS OF ELEMENTARY SCHOOL Abstract: This research aimed to: . produce a thematic-integrative learning module on the theme of natural events to promote the character of responsibility and discipline appropriate for the first year pupils of SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. find out the effectiveness of the thematic-integrative learning module on the theme of natural events to promote the character of responsibility and discipline appropriate for the first year pupils of SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. This research and development referred to the research steps developed by Borg & Gall. The limited try-out subjects were eight pupils of the first year of SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. The field try-out subjects consisted of 28 pupils of the first year of SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. The opeational try-out subjects in the experiment class were 28 pupils of the first year (Class IA) of SD N 1 Kutoarjo. PurworejoAo while the control group consisted of 28 pupils of the first year (Class IB) of the same school. The data collection instruments employed were interview guide, learning module evaluation sheet, teacher observation checklist, pupil observation checklist, and pupil questionnaire. The data were analyzed using an independent sample ttest with the significance value of 0,05. The results showed that the learning module developed were Auvery good,Ay according to the materials development expert, and the implementation of the learning materials was generally considered Augood. Ay There was a difference in the final outcomes between the control group and the experiement group after the use of the thematic-integrative learning module to promote the characters of responsibility and discipline with the value of p < 0,05 which improved to the value of p = 0,0001, in the end. Keywords: learning module, thematic-integrative, characters of responsibility and discipline PENDAHULUAN Pedidikan merupakan hal kompleks, dimulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, sampai pada jenjang pendidikan tinggi. Pendidikan dasar memiliki posisi strategis dalam rangka menanamkan nilai-nilai moral guna membangun generasi yang berkualitas unggul, tangguh, dan memiliki karakter yang kuat. Pendidikan karakter penting untuk diimplementasikan di semua jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Secara umum, pendidikan karakter sesungguhnya dibutuhkan semenjak anak usia dini. Apabila karakter seseorang telah terbentuk sejak usia dini, ketika dewasa tidak akan mudah berubah meskipun banyak pengaruh yang datang (Azzet, 2011:. Contohnya kasus yang belum lama terjadi di Purbalingga, lima peserta didik sekolah dasar dibekuk polisi karena mencabuli bocah yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak (Mardianto. Liputan 6. com, 22 Januari 2. Kemudian berdasarkan hasil razia ke sekolah-sekolah dan tempat umum oleh aparat Badan Narkotika Kota dan Kepolisian, sebanyak 95 peserta didik SD di Kota Bekasi terlibat dalam penggunaan narkotika dan obat-obatan terlarang selama 2012 (Benny N. Joewono. Kompas. com, 20 Januari 2. Mohammad Nuh (Suarapendidikan. com, 5 Mei 2. dalam pidatonya ketika Hari Pendidikan Nasional mengatakan pendidikan karakter sangat penting diajarkan di sekolah. Untuk membentuk karakter yang baik . ood characte. , ada dua hal yang bisa dilakukan di Pertama, menginternalisasikan pendidikan karakter sejak dini atau kanakkanak dengan tujuan agar peserta didik menjadi pribadi yang berkarakter kuat. Kedua, mengintegrasikan nilai-nilai luhur dalam pembelajaran pada semua mata pelajaran seperti Matematika. IPS. IPA. Bahasa, dan Kesenian. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa sekolah merupakan tempat yang stategis dan mempunyai andil besar untuk membangun karakter seseorang selain di rumah dan di masyarakat. Pada Kurikulum 2013 untuk tingkatan SD/MI menggunakan pembelajaran tematik-integratif dari kelas I sampai kelas VI. Pembelajaran tematik-integratif merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran ke dalam berbagai tema (Kemendikbud, 2013:. Penerapan pembelajaran tematik berimplikasi pada beberapa pihak dan komponen dalam proses pembelajaran, seperti yang dijelaskan oleh Rusman . bahwa penggunaan model tematik berimplikasi pada penciptaan situasi belajar dan pembelajaran seperti berikut. Pertama, dampak bagi guru, penerapan model pembelajaran tematik di sekolah dasar menuntut guru untuk kreatif dan inovatif agar kegiatan belajar mengajar menjadi lebih bermakna dan utuh. Kedua, dampak bagi peserta didik, dalam penerapan model pembelajaran tematik peserta didik terlebih dahulu disadarkan akan pentingnya pengaitan materi/isi kurikulum pada masing-masing pembelajaran. Ketiga, implikasi terhadap buku ajar, dituntut tersedianya buku ajar yang mengintegrasi antarsatu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya, dan dengan kehidupan. Keempat, implikasi terhadap media pembelajaran, dibutuhkan ketersediaan media yang dapat mendukung proses pembelajaran tematik. Berdasarkan wawancara dengan guru kelas I SD N 1 Kutoarjo pada tanggal 10 Oktober 2013, serta pengamatan di dalam kelas pada sekolah tersebut, ditemukan bahwa SD N 1 Kutoarjo sudah menerapkan pembelajaran tematik, namun terdapat permasalahan dalam pelaksanaan pembela- Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik jaran tematik. Permasalahan yang timbul yaitu: . keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran masih rendah sehingga peserta didik cenderung pasif. metode pembelajaran yang digunakan masih didominasi dengan metode ceramah. karakter tanggung jawab dan disiplin peserta didik masih rendah. Karakter tanggung jawab seperti melakukan piket kelas belum dilakukan oleh semua peserta didik, serta karakter disiplin seperti datang ke sekolah tepat waktu belum dilakukan oleh semua peserta didik. Penerapan Kurikulum 2013 yang memiliki pengaruh penting pada berbagai komponen utama dalam proses pembelajaran tidak berimbang dengan kesiapan masingmasing komponen di dalamnya. Untuk tenaga pendidik yang dituntut lebih kreatif dan inovatif, pada kenyataannya masih jauh dari harapan penerapan Kurikulum 2013 seperti kurangnya minat pendidik untuk membuat bahan ajar secara mandiri. Salah satu pemikiran instan dari pendidik adalah menggunakan buku teks yang diterbitkan oleh penerbit swasta tanpa melakukan pengecekan menyeluruh sehingga tersebarnya buku ajar yang tidak layak di beberapa sekolah dasar. Dalam kurun waktu singkat, terjadi dua kasus yang mencoreng dunia pendidikan, yaitu ditemukannya penyebaran buku pelajaran bahasa Indonesia berbau porno di daerah Bogor dan Samarinda (Robert, detik. com, 14 Juli 2. Kasus tersebut mengingatkan para pendidik agar dapat mengembangkan kreativitasnya dalam membuat bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum dan sepenuhnya memuat nilai moral sehingga meningkatkan mutu pendidikan nasional. Pemerintah dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 ini menentukan buku ajar bagi peserta didik dan buku pegangan guru. Namun berdasarkan hasil Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 wawancara dengan guru sekolah dasar, materi ajar dalam buku teks yang diperoleh dari pemerintah cakupannya masih terlalu luas sehingga merasa kebingungan cara merincikan setiap materi ajar, dan dengan terpaksa terkadang kembali menggunakan buku pelajaran sebelumnya yang merupakan buku berdasarkan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Berangkat dari realitas tersebut, strategi untuk mengintegrasikan nilai karakter dalam pembelajaran tematik dipandang sangat penting dan merupakan suatu kebutuhan. Salah satu cara untuk mewujudkan pembelajaran yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter yaitu mengemas bahan ajar tematik yang terintegrasi nilai karakter. Bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah modul. Bahan ajar modul juga dapat menjadi sarana untuk mengeksplorasi pemahaman peserta didik maupun sebagai bahan untuk latihan sehingga cocok digunakan dalam pembelajaran tematik di SD. Dengan demikian, bahan ajar modul sebaiknya dibuat sendiri oleh guru agar lebih menarik serta lebih konstektual dengan situasi dan kondisi sekolah maupun lingkungan sosial budaya peserta didik. Namun, saat ini masih jarang guru yang membuat bahan ajar sendiri, sebagian besar guru masih menggunakan bahan ajar yang beredar di pasaran. Menteri Pendidikan. Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa buku teks untuk peserta didik dan buku pegangan untuk guru yang disiapkan pemerintah bersifat Oleh karena itu, guru diperbolehkan memperkaya sendiri sumber belajar yang akan dipergunakan, tetapi jangan sampai membebani peserta didik dengan keharusan membeli buku-buku lain (Kompas edisi 11 Juli 2. Berdasarkan hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa guru hendaknya lebih kretif dan inovatif dalam mensiasati keterbatasan sumber belajar yang ada. Salah satu langkah solutif yang dapat dilakukan oleh guru untuk mensisati keterbatasan tersebut adalah dengan mengembangkan bahan ajar. Berdasarkan pemaparan di atas, penelitian ini mengembangkan bahan ajar modul tematik-integratif dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin dengan tema peristiwa alam di sekolah dasar. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar modul dan mengetahui efektifitas bahan ajar modul tematik-integratif pada tema peristiwa alam dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin pada peserta didik Sekolah Dasar Negeri 1 Kutoarjo Purworejo. Penelitian ini diharapkan memiliki manfaat teoretis yang dapat dijadikan referensi bagi penelitian pendidikan selanjutnya yang memberikan sumbangan pengetahuan akan pentingnya pengintegrasian nilai dalam proses pembelajaran yang mengarah pada pengembangan karakter peserta didik. Manfaat praktis bagi peserta didik, yaitu mengenalkan dan mengembangkan tanggung jawab dan disiplin peserta didik melalui pembelajaran tematikintegratif. Bagi guru produk bahan ajar yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dan pedoman bagi guru dalam mengembangkan bahan ajar tematik-integratif yang diintegrasikan dengan nilai-nilai untuk mengembangkan karakter. Bagi sekolah penelitian ini kiranya dapat menambah referensi bagi sekolah terutama dalam memotivasi guru untuk mengembangkan bahan ajar tematik-integratif dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin di sekolah dasar. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan atau Research and De- velopment (R&D). Orientasi penelitian dan pengembangan tidak bertujuan menguji teori, tetapi lebih kepada pengembangan Borg & Gall . secara khusus menjelaskan. AuEducational research and development (R & D) is a process used to develop and validate educational productAy. Penelitian dan pengembangan bidang pendidikan adalah sebuah proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk-produk dalam pendidikan. Model pengembangan dalam penelitian dan pengembangan ini mengikuti desain dari Borg. , & Gall. yang terdiri atas 10 langkah. Langkahlangkah tersebut adalah . mengumpulkan informasi dan melakukan penelitian awal . esearch and information collectin. mengembangkan produk awal . eveloping preliminary form of produc. uji coba awal . reliminary field . melakukan revisi untuk menyusun produk utama . ain product revisio. melakukan uji coba di lapangan . ain field testin. melakukan revisi untuk menyusun produk operasional . perational product revisio. melakukan uji coba penyempurnaan produk yang telah disempurnakan . perational field testin. melakukan revisi produk final . inal product revisio. implementasi dan penyebarluasan . issemination and implementatio. Produk yang dikembangkan adalah bahan ajar berupa modul. Tempat penelitian adalah SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. Penelitian dimulai pada bulan Mei hingga Juli 2014. Subjek coba dalam penelitian dan pengembangan ini adalah uji ahli yang terdiri dari satu orang ahli materi dan satu orang ahli media pembelajaran. Uji coba terbatas dilakukan pada 8 peserta didik kelas I A SD N 1 Kutoarjo dengan kemampuan kognitif yang bervariasi berdasarkan rekomendasi guru kelas Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik Uji coba lapangan dilakukan pada 28 peserta didik kelas I A SD N 1 Kutoarjo sebagai kelas eksperimen dan 28 peserta didik kelas I B SD N 1 Kutoarjo sebagai kelas Desain penelitian yang telah dikemukakan tersebut kemudian dimodifikasi menjadi empat langkah pengembangan. Keempat langkah tersebut adalah: . pengembangan draft/prototype. uji coba produk dan revisi. validasi Tahap eksplorasi ini terdiri dari need analysis, studi pustaka, dan menganalisis bahan ajar yang telah ada. Langkah pertama yaitu need analysis. Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data di lapangan yang bersumber pada guru dan dokumen. Data guru diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap guru tentang pemahaman guru tentang Kurikulum 2013, sarana/prasarana, perangkat pembelajaran, dan apa yang dibutuhkan guru dalam melaksanakan pembelajaran menggunakan Kurikulum 2013. Pada tahap studi pustaka, peneliti melakukan kajian terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang berkenaan dengan pembelajaran tematik-integratif. Kurikulum 2013, dan bahan ajar. Tahapan selanjutnya adalah menganalisis bahan ajar yang digunakan guru dalam proses pembelajaran. Pengembangan draf produk. Langkah pertama adalah merumuskan tujuan dan fungsi dibuatnya bahan ajar dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin pada peserta didik Kelas 1 SDN 1 Kutoarjo. Setelah melakukan tinjauan terhadap tujuan pembelajaran dengan berpedoman pada Kurikulum 2013, kemudian dilanjutkan pembuatan desain awal. Tahap pengembangan produk ini menyusun kisikisi instrumen penilaian yang menjadi kriteria kualitas perangkat pembelajaran bahan ajar. Hal berikutnya yakni membuat Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 instrumen penilaian untuk memperoleh data dengan skor penilaian 1-5, dilanjutkan melakukan validiasi instrumen kepada expert judgement. Kemudian, berlanjut pada pembuatan bahan ajar dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin peserta didik kelas I SD N 1 Kutoarjo. Etelah itu, dilanjutkan validasi kepada ahli media dan ahli materi. Uji ahli atau validasi dilakukan oleh ahli materi dan ahli media. Ahli materi yaitu Dr. Pratiwi Pujiastuti. Pd. dan ahli media Dr. Haryanto. Uji ahli digunakan untuk memvalidasi produk sebelum dilakukan uji coba lapangan. Hasil validasi dijadikan bahan untuk merevisi produk awal dan memberikan masukan untuk perbaikan. Proses validasi ini disebut dengan validasi ahli atau expert judgement. Uji Coba Produk. Pada tahap ini dilakukan empat kegiatan, yaitu: . uji coba awal . , draf produk yang telah dihasilkan kemudian diujicobakan untuk pengembangan lebih lanjut. melakukan revisi terhadap tes berdasarkan hasil uji coba awal untuk menyusun produk utama. melakukan tes dilapangan . ji coba lapanga. melakukan revisi untuk menyusun produk operasional. Finalisasi produk akhir dilakukan berdasarkan hasil uji coba lapangan yang dijadikan dasar untuk evaluasi dan perbaikan produk sehingga dihasilkan produk Selanjutnya, dihasilkan produk akhir berupa bahan ajar tematik-integratif dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin di kelas I SD N 1 Kutoarjo. Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu data tentang karakter peserta didik di SD N 1 Kutoarjo. Purworejo. Instrumen dan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, penilaian produk, observasi, dan angket. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis data kuantitatif dan kualitatif sesuai de- ngan prosedur pengembangan yang dilakukan. Data kualitatif berupa komentar dan saran yang diperoleh dari ahli materi dan ahli media, serta data hasil wawancara, sedangkan data kuantitatif berupa skor penilaian ahli materi, dan ahli media. Analisis data kelayakan bahan ajar berbasis karakter dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Pertama, mengubah penilaian dalam bentuk kualitatif menjadi kuantitatif dengan ketentuan skor 5 untuk kriteria sangat baik, 4 untuk kriteria baik, 3 untuk kriteria kurang baik, 2 untuk kriteria tidak baik, dan skor 1 untuk kriteria sangat tidak baik. Kedua, menghitung skor rata-rata ( X i ) dengan rumus sebagai berikut: xAEu Keterangan: = skor rata-rata skor tertinggi Skor minimal ideal Ocbutir kriteria x skor terendah Dalam penelitian ini ditetapkan nilai kelayakan produk minimal AoBAo dengan kriteria AobaikAo. Dengan demikian, hasil penilaian ahli materi dan ahli media jika memberi hasil akhir AoBAo atau AobaikAo, maka bahan ajar layak digunakan dalam pembelajaran. Namun, jika hasil analisis data yang tidak memenuhi kategori AobaikAo, maka akan dijadikan bahan pertimbangan untuk merevisi bahan ajar sebelum diujicobakan. Keterlaksanaan kegiatan pembelajaran dilihat dari pengamatan keterlaksanaan RPP yang dilakukan oleh pengamat. Penilaian ini dilakukan oleh 2 orang pengamat dan nilai reratanya dianalisis untuk menentukan hasil penilaian. Analisis ini dilakukan dengan cara menghitung rata-rata skor yang diberikan oleh observer dengan kriteria seperti pada Tabel 2. = jumlah skor = banyak subjek Ketiga, mengubah skor rata-rata menjadi nilai kualitatif dalam skala 5, yaitu 1-5 dari setiap komponen sesuai kriteria penilaian seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Konversi Data Kuantitatif ke Data Kualitatif dengan Skala lima Nilai Rentang Skor Kategori > x 1,80 SBi Sangat Baik Baik x 0,60SBi< x O x 1,80 SBi x- 0,60SBi< x O x 0,60SBi x- 1,80SBi< A O x-0,60SBi xO x- 1,80 SBi Nilai Rentang Skor 3,99 < X O 5,00 2,99 < X O 3,99 1,99 < X O 2,99 0,99 < X O 1,99 X O 0,99 Kategori Sangat baik Baik Cukup Kurang Sangat Kurang Perhitungan reliabilitas menggunakan rumus: Cukup Baik Kurang Baik Sangat kurang Baik Keterangan tabel: x = skor yang dicapai x= rata-rata ideal = 2 A X max A X min A Tabel 2. Konversi Skor Penilaian Keterlaksanaan Pembelajaran Menjadi Nilai Skala Lima AX SBi=simpangan baku ideal= 6 max Skor maksimal ideal = Oc butir kriteria x Keterangan: R : reliabilitas instrumen A : frekuensi aspek aktivitas yang teramati oleh pengamat yang memberikan frekuensi lebih tinggi B : frekuensi aspek aktivitas yang teramati oleh pengamat yang memberikan frekuensi lebih rendah Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik Instrumen pengamatan dikatakan baik jika nilai R yang diperoleh lebih besar atau sama dengan 75% . Pada uji coba lapangan digunakan desain eksperimen yang melibatkan kelas kontrol sebagai pembanding. Ada dua uji prasyarat yang harus dilakukan sebelum penelitian dilaksanakan, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui normal tidaknya distribusi data yang akan digunakan dalam Data yang baik dan layak dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal. Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan uji satu sampel Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program IBM SPSS Statistics 21 karena data penelitian merupakan data kuantitatif dengan skala pengukuran interval atau rasio. Pengujian normalitas didasarkan pada hipotesis H01 : sampel berasal dari populasi berdistribusi normal Ha1 : sampel tidak berasal dari populasi berdistribusi normal. Data dikatakan berdistribusi normal (Ha diterim. pada taraf signifikansi 5% apabila harga x2 hitung lebih kecil daripada x2 tabel dengan derajat bebas n-1 atau apabila harga probabilitas perhitungannya Ou 0,05. Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah subjek penelitian berasal dari populasi yang homogen atau tidak. Uji homogenitas dilakukan pada kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Kelompok eksperimen adalah peserta didik kelas I A SD N 1 Kutoarjo, sedangkan kelas kontrol adalah peserta didik kelas I B SD N 1 Kutoarjo. Pengujian homogenitas didasarkan pada hipotesis sebagai berikut. H02 : varians pada tiap kelompok sama . Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 Ha2 : varians pada tiap kelompok tidak sama . idak homoge. Perhitungan uji homogenitas ini dibantu dengan program IBM SPSS Statistics Sampel penelitian berasal dari populasi yang homogen bila mempunyai taraf signifikansi 5% dan probabilitas perhitungannya Ou 0,05. Dalam penelitian ini akan dibandingkan rata-rata perkembangan karakter tanggung jawab dan disiplin peserta didik yang menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dan bahan ajar konvensional. Hipotesis yang digunakan seperti berikut. H03 = Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap perkembangan karakter tanggung jawab antara peserta didik yang menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dengan peserta didik yang menggunakan bahan ajar konvensional. Ha3 = Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap perkembangan karakter tanggung jawab antara peserta didik yang menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dengan peserta didik yang menggunakan bahan ajar konvensional. H04 = Tidak ada perbedaan yang signifikan terhadap perkembangan karakter disiplin antara peserta didik yang menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dengan peserta didik yang menggunakan bahan ajar konvensional. Ha4 = Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap perkembangan karakter disiplin antara peserta didik yang menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dengan peserta didik yang menggunakan bahan ajar konvensional. Pertanyaan penelitian pada pengembangan produk ini untuk mengetahui se- jauh mana keefektifan perangkat pembelajaran yang dihasilkan. Dalam pengujian pertanyaan penelitian tersebut digunakan uji t. Uji t dipilih untuk membandingkan kedua mean dari kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Rumus t-test adalah sebagai berikut. : nilai rata-rata hasil kelompok eksperimen : nilai rata-rata hasil kelompok kontrol : banyaknya subjek kelompok eksperimen : banyaknya subjek kelompok kontrol : variansi pada kelompok eksperimen : variansi pada kelompok kontrol (Sudjana, 2005:. Keefektifan produk yang dihasilkan dapat dilihat dari rerata kemampuan akhir kedua kelas. Apabila nilai rata-rata kelas eksperimen lebih tinggi daripada nilai ratarata kelas kontrol, maka pengembangan bahan ajar dikatakan efektif. Kriteria penerimaan atau penolakan H0 pada taraf signifikansi 5%, yaitu apabila menggunakan uji-t, maka H0 ditolak bila t hitung lebih besar daripada harga t tabel dengan derajat bebas n-1. Penerimaan atau penolakan H0 juga dapat dilihat melalui probabilitas . yaitu apabila probabilitas . > 0,05 maka H0 diterima, demikian sebaliknya jika probabilitas . < 0,05, maka H0 ditolak. HASIL DAN PEMBAHASAN Data penilaian ahli materi dan media terhadap bahan ajar hasil pengembangan dirangkum dalam tabel. Bahan ajar tematik-integratif dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin peserta didik telah selesai dikembangkan. Tiga tahapan penelitian yang dilalui yaitu: . temuan uji coba terbatas. temuan uji coba lapangan. Hasil Validasi Ahli Pembahasan kajian produk akhir pengembangan bahan ajar ini merupakan hasil konfirmasi antara kajian teori dan temuan penelitian sebelumnya dengan hasil penelitian yang diperoleh. Berdasarkan hasil validasi dari ahli media dan ahli materi, seluruh aspek bahan ajar yang meliputi aspek kelayakan isi, aspek kebahasaan, aspek penyajian, aspek kegrafikan memperoleh penilaian AuSangat baikAy. Materi pada bahan ajar pada subtema AoCuacaAo mengintegrasikan mata pelajaran bahasa Indonesia, matematika. PPkn. SBdP, dan PJOK. Berdasarkan penilaian dari ahli, aspek kelayakan isi pada bahan ajar hasil pengembangan memperoleh nilai positif. Menurut ahli aspek kelayakan isi bahan ajar tematik terintegrasi, nilai karakter termasuk dalam kategori Aosangat baikAo. Penilaian tersebut sangat berkaitan dengan proses pengembangan bahan ajar, dimana materi dalam bahan ajar merujuk pada beberapa literatur yang berisi konsep-konsep yang dapat dipertanggungjawabkan. Penilaian aspek kebahasaan pada bahan ajar hasil pengembangan memperoleh nilai positif. Menurut ahli materi, bahan ajar tematik-integratif berkarakter termasuk dalam kategori Aosangat baikAo, sedangkan menurut ahli media, aspek kebahasaan dari bahan ajar tematik-integratif berkarakter termasuk dalam kategori AobaikAo. Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik Berdasarkan penilaian ahli, aspek penyajian pada bahan ajar hasil pengembangan memperoleh nilai positif. Menurut ahli, aspek penyajian bahan ajar tematik-integratif berkarakter termasuk dalam kategori AobaikAo. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar hasil pengembangan ini memiliki kemudahan dalam penggunaannya serta tampilannya menarik. Berdasarkan penilaian ahli, aspek kegrafikan pada bahan ajar hasil pengembangan memperoleh nilai positif. Menurut ahli materi, aspek kegrafikan bahan ajar tematik-integratif berkarakter termasuk dalam kategori Aosangat baikAo, sedangkan menurut ahli media, aspek kegrafikan dari bahan ajar tematik-integratif berkarakter termasuk dalam kategori AobaikAo. Penilaian tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar tersebut memiliki tingkat kegrafikan yang sangat tinggi sehingga mempermudah peserta didik memahami materi di dalam bahan Secara umum, berdasarkan penilaian ahli materi, bahan ajar berkategori Aosangat baikAo dengan skor 4,5, dan berdasarkan penilaian ahli media, bahan ajar berkategori Aosangat baikAo dengan skor 4,06. Hasil penilaian tersebut mengindikasikan bahwa bahan ajar hasil pengembangan ini memiliki kelayakan isi yang baik, bahasa yang mudah dipahami, serta penyajian yang menarik sehingga dapat membantu peserta didik dalam mencapai pemahaman belajar. Sesuai dengan kualitas bahan ajar yang telah ditetapkan pada Bab i, bahan ajar yang dikembangkan dianggap layak jika seluruh aspek yang dinilai mencapai kategori minimal AuBaikAy. Dengan demikian, bahan ajar tematik-integratif dalam peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin ini telah layak. Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 Temuan di Lapangan Tujuan utama dikembangkannya bahan ajar ini adalah meningkatkan karakter tanggung jawab dan disiplin peserta didik. Berdasarkan uji coba terbatas dan uji coba lapangan diketahui bahwa penggunaan bahan ajar dalam pembelajaran memberikan pengaruh terhadap peningkatan karakter tanggung jawab siswa kelas I SD N 1 Kutoarjo. Dalam pembelajaran tematik dengan menggunakan bahan ajar hasil pengembangan pada uji coba lapangan, ditemukan hasil karakter tanggung jawab dapat berkembang secara optimal pada peserta didik. Hal itu dapat dibuktikan dengan hasil yang diperoleh pada KE, dimana 49% peserta didik memiliki karakter tanggung jawab dengan kategori AubaikAy, bahkan 31% peserta didik karakter tanggungjawabnya berkategori Ausangat baikAy. Selain itu, karakter tanggung jawab dari peserta didik KE . ang menggunakan bahan ajar hasil pengembanga. juga lebih baik dibandingkan peserta didik KK . ang menggunakan bahan ajar konvensiona. Karakter disiplin dapat berkembang secara optimal pada peserta didik. Hal itu dapat dibuktikan dengan hasil yang diperoleh pada KE, dimana 43% peserta didik memiliki karakter disiplin dengan kategori AubaikAy, bahkan 23% peserta didik karakter disiplinnya berkategori Ausangat baikAy. Selain itu, karakter disiplin dari peserta didik KE . ang menggunakan bahan ajar hasil pengembanga. juga lebih baik dibandingkan peserta didik KK . ang menggunakan bahan ajar konvensiona. Pengukuran terhadap perkembangan karakter peserta didik didasarkan pada lembar observasi yang diisi oleh observer. Karakter yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah karakter tanggung jawab dan disiplin. Perkembangan karakter peserta didik dikategorikan menjadi 5 tingkat sesuai dengan tingkat perkembangan ranah afektif dari Krathwohl, yaitu: tingkat . , tingkat . , tingkat . , tingkat . , dan tingkat . (Allen & Friedman, 2010:. Karakter tanggung jawab sebagian besar peserta didik . ,20%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini, peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-1 kelas eksperimen adalah kesediaan peserta didik untuk membuang sampah pada tempat sampah, sedangkan secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke-1 berada pada tingkat 2, 3, dan Pada kelas kontrol, perkembangan karakter tanggung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,62%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan 1 kelas kontrol adalah kesediaan peserta didik untuk membuang sampah pada tempat sampah, sedangkan secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan 1 berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Pertemuan ke-2, pada kelas eksperimen perkembangan karakter tangung jawab sebagian besar peserta didik . ,36%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-2 adalah kesediaan peserta didik bersedia membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan, sedangkan secara umum perkembangan karakter tanggung jawab peserta didik pada pertemuan ke-2 berada pada tingkat 2, 3, 4, dan 5. Namun, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya tidak ada peserta didik yang mencapai tingkat karakterisasi menjadi 4,1%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter tangung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,79%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan 2 masih pada kesediaan peserta didik untuk membuang sampah pada tempat sampah, sedangkan secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan 2 berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Namun, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 10,72% menjadi 16,97%. Pertemuan ke-3, pada kelas eksperimen perkembangan karakter tanggung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,42%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Pada pertemuan ke-3, terjadi peningkatan karakter tanggung jawab, yaitu sebagian besar peserta didik sudah dapat membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan, sedangkan secara umum perkembangan karakter tanggung jawab peserta didik pada pertemuan Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik 3 berada pada tingkat 2, 3, 4, dan 5. Namun, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 8,93% menjadi 34,23% serta terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 4,17% menjadi 5,06%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter tanggung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,47%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-3 adalah kesediaan membuang sampah di tempat sampah oleh sebagian besar peserta didik dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan. Secara umum, perkembangan karakter tanggung jawab peserta didik pada pertemuan ke-3 berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Pertemuan ke-4, pada kelas eksperimen, perkembangan karakter tanggung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,66%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini, peserta didik dapat memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau Pada pertemuan ke-4, banyak peserta didik yang membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan semakin meningkat. Peserta didik juga mulai tumbuh rasa tanggung jawab untuk merapikan kursi dan meja setelah selesai belajar, sedangkan secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke-4 berada pada tingkat 3, 4. Namun, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari per- Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 temuan sebelumnya sebesar 34,23% menjadi 43,16%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter tanggung jawab sebagian besar peserta didik . ,87%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-4 adalah kesediaan peserta didik untuk membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah Secara umum, perkembangan karakter tangung jawab peserta didik pada pertemuan ke-4 kelas kontrol berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 16,67% menjadi 20,54%. Pertemuan ke-5, pada kelas eksperimen, perkembangan karakter tanggung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,60%) sudah berada pada tingkat 4, yaitu Pada tingkat ini, peserta didik dapat membentuk suatu nilai yang konsisten dalam dirinya. Pada pertemuan ke-5, hampir semua peserta didik bersedia untuk membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan. Hampir semua peserta didik juga mulai tumbuh rasa tanggung jawab untuk merapikan kursi dan meja setelah selesai belajar. Secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke-5 berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 4,17% menjadi 21,13%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter tanggung jawab sebagian besar peserta didik . ,01%) masih berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini, peserta didik dapat memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-5 adalah kesediaan membuang sampah pada tempat sampah oleh sebagian besar peserta didik dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan, serta merapikan kursi dan meja setelah selesai belajar. Secara umum perkembangan karakter tanggung jawab peserta didik pada pertemuan ke-5 berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 20,54% menjadi 23,22%, serta terjadi peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya 0% menjadi 1,79%. Pertemuan ke-6 pada kelas eksperimen, perkembangan karakter dari sebagian besar peserta didik . ,91%) berada pada tingkat 4, yaitu mengorganisasi. Pada tingkat ini, peserta didik mampu membentuk suatu nilai yang konsisten dalam dirinya. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-6 yaitu hampir semua peserta didik sudah konsisten membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah digunakan. Hampir semua peserta didik juga mulai tumbuh rasa tanggung jawabnya untuk merapikan kursi dan meja setelah selesai Pada pertemuan ke-6 terlihat tanggung jawab peserta didik sudah mulai konsisten. Secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke-6 berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 20,83% menjadi 36,02%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter tanggung jawab dari sebagian besar peserta didik . ,30%) masih berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini peserta didik dapat memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-6 yaitu peserta didik membuang sampah pada tempat sampah dan mengembalikan peralatan belajar pada tempatnya setelah Secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke6 berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 23,22% menjadi 50,30%, serta terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 1,79% menjadi 20,54%. Berdasarkan data tersebut, tampak bahwa pada kelas eksperimen terjadi perkembangan karakter tanggung jawab yang signifikan dari pertemuan ke-1, pertemuan ke-2, pertemuan ke-3, pertemuan ke-4, pertemuan ke-5, dan pertemuan ke-6. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter yang terjadi tidak signifikan. Hal itu dikarenakan pada kelas eksperimen digunakan bahan ajar terintegrasi nilai karakter dalam pembelajaran, sedangkan pada kelas kontrol digunakan bahan ajar konvensional. Karakter disiplin, pada pertemuan ke-1 kelas eksperimen, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,98%) berada pada tingkat 3, yaitu Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik Pada tingkat ini, peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-1 kelas eksperimen adalah kesediaan peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu. Secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke1 berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter disiplin sebagian besar peserta didik . ,79%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-1 kelas kontrol adalah kesediaan peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu, sedangkan secara umum perkembangan karakter peserta didik pada pertemuan ke-1 berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Pertemuan ke-2, pada kelas eksperimen, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,27%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini, peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-2 adalah kesediaan peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-2 berada pada tingkat 2, 3, 4, dan Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya tidak ada peserta didik yang mencapai tingkat karakterisasi, pada pertemuan ke-2 menjadi 4,17%. Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 Pada kelas kontrol, perkembangan karakter disiplin sebagian besar peserta didik . ,79%) berada pada tingkat 3, yaitu Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-2 adalah kesediaan peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-2 berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 8,63% menjadi 12,80%. Pertemuan ke-3, pada kelas eksperimen, perkembangan karakter disiplin sebagian besar peserta didik . ,30%) berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini, peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-3 adalah kesediaan masuk kelas tepat waktu oleh sebagian besar peserta didik dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-3 berada pada tingkat 2,3,4, dan 5. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 11,91% menjadi 39,89% serta terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 4,1% menjadi 4,47%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter disiplin sebagian besar peserta didik . ,89%) berada pada tingkat 3, yaitu Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-3 adalah kesediaan masuk kelas tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-3 kelas kontrol berada pada tingkat 2, 3, dan 4. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 12,80% menjadi 15,48%. Pertemuan ke-4, pada kelas eksperimen, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,02%) sudah berada pada tingkat 4, yaitu mengorganisasi. Pada tingkat ini, peserta didik dapat membentuk suatu nilai yang konsisten dalam dirinya. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-4 adalah kesediaan sebagian besar peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu dan penyelesaian tugas tepat waktu. Peserta didik juga mulai berdisiplin untuk mempersiapkan alat tulis sebelum pembelajaran dimulai. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-4 berada pada tingkat 3, 4. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 4,47% menjadi 9,53%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,09%) masih berada pada tingkat 3, yaitu yaitu menilai. Pada tingkat ini, peserta didik dapat memberikan nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-4 adalah kesediaan sebagian besar peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu, sedangkan secara umum perkembangan karakter disi- plin peserta didik pada pertemuan ke-4 kelas kontrol berada pada tingkat 3 dan 4. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 15,48% menjadi 22,92%. Pertemuan ke-5, pada kelas eksperimen, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,68%) berada pada tingkat 4, yaitu mengorganisasi. Pada tingkat ini, peserta didik dapat membentuk suatu nilai yang konsisten dalam Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-5 adalah hampir semua peserta didik sudah disiplin masuk kelas tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Peserta didik juga mulai berdisiplin untuk mempersiapkan alat tulis sebelum pembelajaran dimulai. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-5 berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 9,53% menjadi 20,83%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,81%) masih berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini peserta didik mampu memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter disiplin peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-5 adalah kesediaan peserta didik untuk masuk kelas tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-5 kelas kontrol berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . a- Pengembangan Bahan Ajar Modul Tematik-Integratif dalam Peningkatan Karakter Peserta Didik rakterisas. , yaitu dari pertemuan sebelumnya 0% menjadi 2,68%. Pertemuan ke-6 pada kelas eksperimen, perkembangan karakter disiplin sebagian besar peserta didik . ,91%) berada pada tingkat 4 yaitu mengorganisasi. Pada tingkat ini, peserta didik dapat membentuk suatu nilai yang konsisten dalam dirinya. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan ke-6 adalah hampir semua peserta didik konsisten untuk masuk kelas tepat waktu dan menyelesaikan tugas tepat waktu. Peserta didik juga mulai berdisiplin untuk mempersiapkan alat tulis sebelum pembelajaran dimulai. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan ke-6 berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Pada pertemuan ke-6, terlihat bahwa karakter disiplin peserta didik sudah mulai Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 5 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 20,83% menjadi 36,02%. Pada kelas kontrol, perkembangan karakter disiplin dari sebagian besar peserta didik . ,82%) masih berada pada tingkat 3, yaitu menilai. Pada tingkat ini peserta didik dapat memberikan nilai atau penghargaan terhadap suatu fenomena atau kegiatan sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan. Indikator karakter tanggung jawab peserta didik yang teramati pada pertemuan 6 adalah peserta didik masuk kelas tepat waktu dan dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Secara umum, perkembangan karakter disiplin peserta didik pada pertemuan 6 kelas kontrol berada pada tingkat 3, 4, dan 5. Selain itu, terdapat peningkatan banyaknya peserta didik yang berada pada tingkat 4 . , yaitu dari pertemuan sebelumnya sebesar 23,51% menjadi 38,99%. Jurnal Pendidikan Karakter. Tahun V. Nomor 2. Oktober 2015 Berdasarkan penjelasan di atas, hasil pengembangan ini merupakan produk yang telah layak dan efektif digunakan sebagai salah bahan ajar tematik-integratif untuk meningkatkan tanggung jawab dan disiplin peserta didik sekolah dasar. Kelemahan bahan ajar ini adalah peningkatan karakter lain selain karakter tanggung jawab dan disiplin tidak dapat dilaksanakan secara efektif karena muatan karakter dalam bahan ajar ini hanya bertumpu pada kedua jenis karakter tersebut. Selain itu, bahan ajar yang dikembangkan hanya terbatas pada cakupan kompetensi inti dan kompetensi dasar. PENUTUP Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan dalam penelitian ini layak digunakan dalam pembelajaran tematik-integratif di sekolah dasar. Hasil penilaian ahli materi berkategori Aosangat baikAo dengan skor 4,5, berdasarkan penilaian ahli media dan bahan ajar berkategori Aosangat baikAo dengan skor 4,06 dari rentang skor 1-5. Berdasarkan uji coba terbatas, pembelajaran tematik dengan menggunakan bahan ajar ini dapat terlaksana dengan kategori AobaikAo dalam setiap pertemuan dengan skor ratarata sebesar 3,97 dari rentang skor 1-5. karakter tanggung jawab peserta didik semakin berkembang melalui pembelajaran tematik dengan menggunakan bahan ajar berkarakter yang ditunjukkan dengan peningkatan persentase perkembangan karakter, yaitu pada pertemuan ke-1 sebesar 29%, pertemuan ke-2 sebesar 61. pertemuan ke-3 sebesar 68. 33%, pertemuan ke-4 sebesar 71. 46%, pertemuan ke-5 sebesar 77. 08%, dan pertemuan ke-6 sebesar Karakter disiplin peserta didik semakin berkembang melalui pembelajaran tematik dengan menggunakan bahan ajar terintegrasi nilai karakter yang ditunjukkan dengan peningkatan persentase perkembangan karakter, yaitu pada pertemuan ke-1 sebesar 55%, pertemuan ke-2 sebesar 60. 42%, pertemuan ke-3 sebesar 68. pertemuan ke-4 sebesar 71. 88%, pertemuan ke-5 sebesar 78. 33%, dan pertemuan ke-6 Respon peserta didik terhadap penggunaan bahan ajar ini dalam pembelajaran tematik pada aspek kelayakan isi mendapatkan skor 17,13 dengan kategori Aosangat baikAo, aspek kebahasaan mendapatkan skor 16,76 dengan kategori AobaikAo, aspek penyajian mendapatkan skor 16,88 dengan kategori Aosangat baikAo, dan aspek kegrafikaan mendapatkan skor 16,88 dengan kategori Aosangat baikAo. Bahan ajar tematik-integratif efektif dapat meningkatkan karakter tangung jawab dan disiplin peserta didik. Hal ini dikarenakan terdapat perbedaan yang signifikan terhadap peningkatan karakter tanggung jawab dan disiplin pada kelas eksperimen yang menggunakan bahan ajar hasil pengembangan dan kelas kontrol yang menggunakan bahan ajar dari pemerintah. Karakter tanggung pada kelas eksperimen persentase peningkatan sebesar 88%, sedangkan pada kelas kontrol persentase peningkatan sebesar 63,97%. Karakter disiplin pada kelas eksperimen persentase peningkatan sebesar 89%, sedangkan pada kelas kontrol persentase peningkatan sebesar 63,60%. UCAPAN TERIMA KASIH Terselesaikannya tulisan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Secara khusus, penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Redaktur Jurnal Pendidikan Karakter yang sudah membaca dan memberi saran sehingga tulisan ini layak dimuat pada edisi ini. DAFTAR PUSTAKA