JURNAL FLYWHEEL. September 2023. Vol 14 . , 36-49 E-ISSN: 2745-7435 P-ISSN: 1979-5858 Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang Menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Wira Febrian1,Mietra Anggara1. Fadli Dzil Ikram1. Aldrin1 Teknik Mesin. Universitas Teknologi Sumbawa. Sumbawa. Indonesia Email:wirafebri15@gmail. ABSTRAK Selama proses pengeringan bekerja akan terjadi perpindahan panas dalam ruangan pengering. Perpindahan panas terjadi akibat aliran fluida di dalam pipa dari tungku pemanas dan blower kedalam ruangan pengering belum merata. Maka dari itu analisa perpindahan panas perlu dilakukan agar tidak terjadi distribusi panas menyebar hanya ke satu bagian rak atau sudut ruang pengering yang mengalami panas berlebih dan ada bagian rak atau sudut yang bertemperatur rendah . anas tidak merat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh variasi posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas terhadap distribusi panas menggunakan computational fluid dynamic (CFD), laju pengeringan rengginang dan efesiensi pengeringan rengginang. Penelitian ini menggunakan metode simulasi menggunakan laptop dan melakukan metode eksperimen untuk validasi data. Hasil penelitian menunjukkan posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan pipa berukuran 1 inc. mendistribusikan udara panas yang cukup merata keseluruh bagian rak mesin pengering rengginang otomatis, yang memiliki temperatur paling tinggi di sensor ke 3 dan paling rendah disensor ke 4. Posisi ini memiliki rata-rata temperatur 46,9EE dan toleransi temperatur 2,1EE. Kemudian melakukan validasi eksperimen dengan hasil <5% dan didapatkan laju pengeringan rengginang sebesar 1,04 g/menit atau 0,0624 kg/jam serta efesiensi pengeringan rengginang sebesar 1,25%. Kata Kunci: Distribusi panas, laju pengeringan, efesiensi pengeringan Paper type Research paper PENDAHULUAN Rengginang adalah salah satu makanan tradisional khas Indonesia yang dibuat dari bahan beras ketan putih atau hitam, umumnya berbentuk lingkaran dengan ukuran tertentu, berasa manis atau gurih, dan mempunyai tekstur renyah. Ada beberapa macam variasi rengginang dengan cara pembuatan yang berbeda-beda, terutama pada bumbu yang ditambahkan, bentuk, dan juga ukurannya. Meskipun demikian, secara umum proses pembuatan rengginang relatif sama atau serupa . Pada proses penjemuran atau pengeringan yang masih menggunakan sinar matahari, sehingga ketergantungan pada kondisi cuaca saat pengeringan menjadikan persoalan tersendiri. Apalagi di musim penghujan antara bulan Januari sampai Mei bisa mempengaruhi produksi . Salah satu tahap penting dalam pembuatan rengginang adalah pengeringan. Pengeringan terbagi atas dua yaitu: pengeringan alami dan pengeringan buatan. Pengeringan alami merupakan pengeringan dengan cara konvensional yang memanfaatkan radiasi sinar surya, sedangkan pengeringan buatan adalah pengeringan dengan menggunakan mesin atau menggunakan bahan bakar fosil ataupun biomassa sebagai energi pengeringnya. Proses pengeringan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan karena keberhasilan produk dan kerenyahannya tergantung dari proses pengeringan. Kerenyahannya rengginang sangat ditentukan oleh kadar airnya. Semakin banyak mengandung air, maka rengginang akan semakin kurang renyah . Proses pengeringan rengginang bertujuan untuk menurunkan kadar air dalam Rengginang basah mengandung banyak air, jika tidak segera dikeringkan akan menjadi tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri pembusuk maupun mikroorganisme lainnya. Sehingga melalui proses pengeringan aktifitas bakteri akan terhambat dan proses pembusukan dapat dicegah. Pengeringan pada rengginang dilakukan hingga kadar air mencapai standar SNI. Pada penelitian sebelumnya. Pembuatan mesin pengering rengginang menggunakan Dimensi panjang 70 cm, lebar 66 cm dan tinggi 147 cm. Kapasitas 4 rak / loyang Setiap 1 rak memiliki ukuran 40 x 40 cm yang muat sekitar 40 biji rengginang dengan diameter rengginang 4 cm . Maka untuk meningkatkan produktivitas dan efesiensi dimensi dikembangkan mesin pengering rengginang otomatis dengan dimensi panjang 60 cm, lebar 50 cm dan tinggi 130 cm. Kapasitas 5 rak / loyang. Setiap 1 rak memiliki ukuran 50 x 45 cm yang muat sekitar 60 biji rengginang dengan diameter rengginang 5 cm. Kemudian Mesin pengering rengginang menggunakan pipa galvanis untuk mendistribusikan panas yang penelitian sebelumnya menggunakan besi yang dilubangkan dan pengembangan-pengembangan lainnya pada mesin pengering rengginang. Selama proses pengeringan bekerja akan terjadi perpindahan panas dalam ruangan pengering. Perpindahan panas terjadi akibat aliran fluida di dalam pipa dari tungku pemanas dan blower kedalam ruangan pengering belum merata. Maka dari itu analisa perpindahan panas perlu dilakukan agar tidak terjadi distribusi panas menyebar hanya Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) ke satu bagian rak atau sudut ruang pengering yang mengalami panas berlebih dan ada bagian rak atau sudut yang bertemperatur rendah . anas tidak merat. , semisalnya hal tersebut terjadi dapat menyebabkan rengginang pada bagian rak atau sudut dengan panas rendah akan mengakibatkan rengginang masih basah dan mudah berjamur sehingga tidak bisa digoreng dan dipasarkan. Diharapkan dengan pengaturan posisi pipa yang disimulasikan menggunakan metode Computational Fluid dynamic mendapatkan hasil distribusi panas yang menyebar rata keseluruh bagian rak atau sudut ruang mesin pengering rengginang. Berikut adalah penggunaan CFD dalam mensimulasikan penyebaran panas yaitu : Penelitian tentang penyebaran panas telah dilakukan dengan meneliti alat pengering jagung menggunakan CFD. Dengan hasil, sebaran panas awalnya terjadi tidak cukup merata karena penggunaan hanya 1 titik sumber Akan tetapi hal tersebut dapat diatasi dengan penggunaan blower sebagai penyebar panas sehingga distribusi panas dapat menyebar lebih merata . Penelitian Analisis eksperimental pada Computational Fluid Dynamic (CFD) dari distribusi aliran udara termal dalam oven pemanggang roti skala kecil. menunjukkan bahwa dengan CFD dan pemilihan model aliran yang cermat, juga penerapan kondisi batasan yang realistis, dapat memberikan prediksi suhu yang akurat di seluruh bagian oven . Adapun menggunakan CFD untuk alat penelitian eksperimental yaitu perubahan bentuk geometri pada alat pengering yang awalnya tidak terdistribusi panas dengan baik dengan melakukan perubahan geometri pada diffuser yang awalnya panjang kemudian dipendekkan. Hasilnya memperoleh hasil distribusi panas yang cukup merata pada alat pengering bahan pangan dikarenakan pengurangan panjang diffuser . Terdapat tiga hal yang merupakan alasan kuat kenapa kita harus menggunakan CFD, yaitu Insight (Pemahaman mendala. Foresight (Prediksi menyeluru. dan Efficiency (Efesiensi waktu dan biay. Melihat dari beberapa kesimpulan jurnal diatas, dapat disimpulkan dengan menggunakan metode Computational Fluids Dynamic (CFD) dapat mensimulasikan distribusi panas pada ruangan mesin pengeringan rengginang melalui variasi posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas . sehingga kita dapat melihat penyebaran panas dengan pengaturan mana yang baik untuk pengeringan pada rak atau sudut mesin pengering rengginang agar memperoleh hasil pengeringan yang sempurna pada rengginang. Maka dari itu Informasi terkait aliran fluida pada ruangan mesin pengering rengginang berguna untuk penentuan rancangan posisi pipa dan diameter penghantar panas pipa pengeringan dari latar belakang tersebut, maka penulis mengambil judul skripsi yaitu AuAnalisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD)Ay. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Waktu penelitian ini dilakukan pada bulan April dan bulai Mei tahun 2023. Selain itu, penelitian ini akan dilaksanakan di Workshop Teknik Mesin Universitas Teknologi Sumbawa. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk penelitian ini meliputi perangkat lunak . dan perangkat keras . dalam menjalankan simulasi penelitian dan pengambilan data penelitian. Alat Penelitian Perangkat Lunak (Softwar. C Autodesk Inventor 2020 Autodesk Inventor adalah software CAD untuk mendesain geometri mesin pengering rengginang. C Ansys Workbench Student Version Ansys perangkat lunak analisa engineer yang digunakan untuk mensimulasikan distribusi temperature pada mesin pengering rengginang. Perangkat Keras . C Laptop Pada penelitian ini, digunakan laptop dengan spesifikasi yang lumayan untuk melaksankan proses simulasi, dimulai dari proses design geometri sampai proses analisa simulasi. TABLE I. SPESIFIKASI LAPTOP UNTUK PROSES SIMULASI Perangkat Spesifikasi Procesor Intel(R) Celeron(R) N4020 CPU @1. 10 GHz . CPU. , 1. 1 GHz RAM 8 GB Wira Febrian. Mietra Anggara. Fadli Dzil Ikram. Aldrin VGA Card SSD 256 GB (NVMeA) Operating system Windows 10 Pro 64-bit C Alat Validasi (Data Logger. Termokopel. Anemometer dan timbangan digita. Dalam melakukan pengujian validasi temperature dari posisi yang baik dalam simulasi, diperlukan probe termokopel tipe K yang disambungkan ke data logger kemudian data temperatur akhir yang diperoleh dapat dimasukkan kedalam laptop. Jumlah titik pengukuran ada 4 sehingga dibutuhkan 4 probe yang masing-masing disambungkan ke data logger. Data temperature yang dihasilkan berupa tabel. Sedangkan untuk mengukur kecepatan udara pipa menggunakan anemometer. anemometer diletakkan di output lubang pipa untuk mendapatkan hasil pengukuran kecepatan udara dan suhu output pipa blower serta timbangan untuk mengukur massa dari rengginang sebelum dan sesudah dikeringkan. Bahan Penelitian Mesin Pengering Rengginang Mesin pengering rengginang dengan dimensi panjang 60 cm, lebar 50 cm dan tinggi 130 cm. Rengginang Rengginang yang digunakan adalah rengginang yang masih basah dengan sampel rengginang seberat 0,6 kg. Desain Gambar Mesin Pengering Rengginang Digunakan untuk proses simulasi dan proses pembuatan gambar desain mesin pengering rengginang dibuat dengan menggunakan software autodesk inventor 2020. Berikut terlampir pada gambar 1. Fig. Desain Mesin Pengering Rengginang Variabel Penelitian Variabel penelitian ini dipisahkan menjadi 3 kelompok, yaitu : Variabel Bebas Posisi Heater Pipa C Posisi 1 . ipa disamping vertika. C Posisi 2 . ipa disamping horizonta. C Posisi 3 . ipa dibelakang horizonta. Diameter Pipa 3/4 Inch 1 Inch Variabel Terkontrol C Inlet temperatur 60AC Variabel Terikat Distribusi panas Laju pengeringan Efesiensi pengeringan Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Langkah-langkah Penelitian Metode penelitian yang dilaksanakan adalah dengan metode simulasi CFD (Computational Fluid Dynami. dan Pada simulasi variabel posisi 1 dan selanjutnya simulasi dengan variabel posisi 2 dan 3 serta menggunakan ukuran pipa 3/4 inch dan 1 inch. Posisi pipa yang baik akan dilakukan uji eksperimen untuk validasi. Langkah yang dilaksankan untuk mendapatkan metode ini sebagai berikut : Mesin pengering rengginang memiliki beberapa komponen utama, bagian yang utama untuk penelitian ini adalah pipa penghantar panas. Melakukan silmulasi pada posisi 1 dengan menggunakan pipa penghantar ukuran 3/4 inch dan 1 inch untuk mendapatkan data simulasi pada ansys. Setelah melakukan simulasi dengan aplikasi ansys sehingga mendapatkan data dari posisi 1, maka bisa dilanjutkan dengan posisi 2 dan 3 dengan ukuran pipa 3/4 inch dan 1 inch. Menghitung distribusi panas pada simulasi ke posisi 1, 2 dan 3. Perbandingan distribusi hasil simulasi posisi 1, 2 dan 3 yang baik, akan dipilih sebagai tempat melakukan uji eksperimen untuk memvalidasinya dengan error < 5%, serta mendapatkan laju pengeringan dan efisiensi pengeringan Posisi akan terpilih jika : C Temperatur yang dihasilkan merata atau toleransi terkecil keseluruh bagian mesin pengering rengginang dengan melihat hasil simulasi CFD pada setiap posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas. Analisa Data Proses Simulasi Distribusi Fig. Proses Simulasi Distribusi Menentukan hasil simulasi untuk divalidasi Data hasil simulasi dihitung untuk mendapatkan rata-rata . distribusi panas dengan baik dengan rumus sebagai berikut: ycycycoycoycaEa yccycaycyca ycyceycuycycuyc ycaycaycuycycayco yccycaycyca ycyceycuycycuyc Kemudian menentukan toleransi nilai dari maksimum dan minimum hasil sensor-sensor simulasi CFD. Proses validasi hasil simulasi dan eksperimen Data temperature diambil menggunakan data logger dan probe termokopel tipe K. data berupa temperatur pada data diambil selama 35 menit untuk mencapai input 60EE dan diambil suhu temperatur akhir untuk posisi pipa dan diameter pipa yang terdistrubusi dengan baik. Jika perhitungan yang diperoleh dari simulasi dan hasil validasi eksperimen menghasilkan error kurang dari <5%. Maka simulasi dan eksperimen yang dilakukan berhasil. Gambar 3. Skema Rangkaian Validasi . Pandangan Atas, . Pandangan Depan Wira Febrian. Mietra Anggara. Fadli Dzil Ikram. Aldrin Validasi dilakukan dengan menghitung keakuratan dari simulasi numerik yaitu dengan menghitung selisih antara nilai eksperimen dannilai simulasi dengan persentase nilai eksperimen. Maka digunakan rumus : ycs Oeycs a = | yca y. ycsyca Dimana ycsyca adalah nilai Eksperimen dan ycsyc adalah data simulasi. Oleh karena itu, proses tersebut telah terverifikasi untuk dapat memperoleh hasil yang dapat diterima. Perhitungan laju pengeringan Perhitungan laju pengeringan digunakan dengan menentukan massa awal dan massa akhir rengginang serta waktu Perhitungan efesiensi pengeringan Perhitungan efesiensi pengeringan digunakan dengan menentukan energi kalor pengeringan dan energi pembakaran rengginang. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil rata-rata dan toleransi nilai simulasi disetiap sensor pada posisi 1, posisi 2 dan posisi 3 menggunakan pipa berukuran 3/4 inch dan 1 inch Posisi 1 . ipa disamping vertikal dan berukuran 3/4 inc. Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 1 dengan pipa disamping vertikal dan berukuran 3/4 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur simulasi yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 47,3AC, sensor 2 yaitu 45,7AC , sensor 3 yaitu 43,5AC, dan sensor 4 yaitu 44,3AC . Kemudian mendapatkan rata-rata temperature 45,2AC dan toleransi 3,8AC. TABLE II. Titik Pengukuran Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3 Sensor 4 POSISI 1 (PIPA DISAMPING VERTIKAL DAN BERUKURAN 3/4 INCH) Temperatur Simulasi AC 47,3AC 45,7AC 43,5AC 44,3AC Mean Toleransi 45,2AC 3,8AC Posisi 1 . ipa disamping vertikal dan berukuran 1 inc. Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 1 dengan pipa disamping vertikal dan berukuran 1 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur simulasi yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 50,7AC, sensor 2 yaitu 44,1AC , sensor 3 yaitu 49,7AC, dan sensor 4 yaitu 51,1AC . Kemudian mendapatkan rata-rata temperature 48,9AC dan toleransi 7,2AC. TABLE i. Titik Pengukuran Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3 Sensor 4 POSISI 1 (PIPA DISAMPING VERTIKAL DAN BERUKURAN 1 INCH) Temperatur Simulasi AC 50,7AC 44,1AC 49,7AC 51,1AC Mean Toleransi 48,9AC 7,2AC Posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 3/4 inc. Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 2 dengan pipa disamping horizontal dan berukuran 3/4 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur simulasi yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 45,6AC, sensor 2 yaitu 43,9AC , sensor 3 yaitu 42,0AC, dan sensor 4 yaitu 44,3AC . Kemudian mendapatkan rata-rata temperature 43,9AC dan toleransi 3,6AC. TABLE IV. Titik Pengukuran Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3 Sensor 4 POSISI 2 (PIPA DISAMPING HORIZONTAL DAN BERUKURAN 3/4 INCH) Temperatur Simulasi AC 45,6AC 43,9AC 42,0AC 44,3AC Mean Toleransi 43,9AC 3,6AC Posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 1 inc. Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 2 dengan pipa disamping horizontal dan berukuran 1 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur simulasi yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 49,4AC, sensor 2 yaitu 49,1AC , sensor 3 yaitu 48,1AC, dan sensor 4 yaitu 46,8AC . Kemudian mendapatkan rata-rata temperature 48,3AC dan toleransi 2,6AC. TABLE V. Titik Pengukuran Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3 Sensor 4 POSISI 2 (PIPA DISAMPING VERTIKAL DAN BERUKURAN 1 INCH) Temperatur Simulasi AC 49,4AC 49,1AC 48,1AC 46,8AC Mean Toleransi 48,3AC 2,6AC Posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 3/4 inc. Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 3 dengan pipa dibelakang horizontal dan berukuran 3/4 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur simulasi yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 43,5AC, sensor 2 yaitu 46,3AC, sensor 3 yaitu 42,8AC, dan sensor 4 yaitu 44,7AC . Kemudian mendapatkan rata-rata temperature 44,3AC dan toleransi 3,5AC. TABLE VI. Titik Pengukuran Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3 Sensor 4 POSISI 3 (PIPA DIBELAKANG HORIZONTAL DAN BERUKURAN 3/4 INCH) Temperatur Simulasi AC 43,5AC 46,3AC 42,8AC 44,7AC Mean Toleransi 44,3AC 3,5AC Posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 3 dengan pipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur simulasi yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 46,3AC, sensor 2 yaitu 47,8AC , sensor 3 yaitu 47,9AC, dan sensor 4 yaitu 45,8AC . Kemudian mendapatkan rata-rata temperature 46,9AC dan toleransi 2,1AC. TABLE VII. Titik Pengukuran Sensor 1 Sensor 2 Sensor 3 Sensor 4 POSISI 3 (PIPA DIBELAKANG HORIZONTAL DAN BERUKURAN 1 INCH) Temperatur Simulasi AC 46,3AC 47,8AC 47,9AC 45,8AC Mean Toleransi 46,9AC 2,1AC Berdasarkan hasil simulasi diatas, diperoleh posisi distribusi panas terbaik untuk dilanjutkan uji eksperimen dengan temperatur rata-rata . yakni 46,9AC dan toleransi yakni 2,1AC pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 3 dengan pipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inch. Hasil persentase validasi simulasi dan eksperimen pada mesin pengering rengginang posisi 3 dengan pipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inch Pada simulasi mesin pengering rengginang posisi 3 dengan pipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inch mendapatkan hasil pengukuran temperatur terdistribusi deangan baik yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 46,3AC, sensor 2 yaitu 47,8AC , sensor 3 yaitu 47,9AC, dan sensor 4 yaitu 45,8AC. Sedangkan hasil pengukuran temperatur dengan eksperimen yakni berturut turut pada sensor 1 yaitu 48,43AC, sensor 2 yaitu 48,33AC , sensor 3 yaitu 48,39AC, dan sensor 4 yaitu 47,45AC. TABLE Vi. PERSENTASE VALIDASI SIMULASI DAN EKSPERIMEN POSISI 3 (PIPA DIBELAKANG HORIZONTAL DAN BERUKURAN 1 INCH) Titik Temperatur Simulasi AC Temperatur Eksperimen AC Validasi Error Sensor 1 46,3AC 48,43EE 4,40% Wira Febrian. Mietra Anggara. Fadli Dzil Ikram. Aldrin Sensor 2 47,8AC 48,33EE 1,09% Sensor 3 47,9AC 48,39EE 1,01% Sensor 4 45,8AC 47,45EE 3,47% Laju pengeringan dan efesiensi pengeringan menggunakan mesin pengering rengginang TABLE IX. LAJU PENGERINGAN DAN EFESIENSI PENGERINGAN Parameter Nilai Laju Pengeringan 1,04 g/menit atau 0,0624 kg/jam Efesiensi Pengeringan 1,25% PEMBAHASAN Hasil Simulasi CFD (Computational Fluid Dynami. Variasi posisi pipa terhadap distribusi panas C Diameter pipa 3/4 inch pada rak 2 Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Fig. Diameter pipa 3/4 inch pada rak 2 TABLE X. Rak 2 Sensor 1 Sensor 2 Mean Toleransi DIAMETER PIPA 3/4 INCH PADA RAK 2 Posisi 1 47,3AC 45,7AC 46,5EE 1,6EE Posisi 2 45,6AC 43,9AC 44,7EE 1,8EE Posisi 3 43,5AC 46,3AC 44,9EE 2,8EE Pada posisi 1 terlihat cukup banyak yang berwarna hijau dan masih berwarna kuning muda, sedangkan pada posisi 2 terlihat warna kuning muda lebih dominan dibandingkan warna hijau serta pada posisi 3 terlihat masih lumayan banyak warna hijau dibandingkan warna kuning muda, hal ini disebabkan karena penempatan lubang keluaran udara panas dan jumlah lubang pipa mempengaruhi distribusi panas didalam ruang simulasi sehingga berdasarkan warna masih banyak yang berwarna hijau dibandingkan warna kuning muda. Pada posisi 1 memiliki rata-rata temperatur 46,5EE dan toleransi temperatur 1,6EE. Pada posisi 2 memiliki rata-rata temperatur 44,7EE dan toleransi temperatur 1,8EE, dan Pada posisi 3 memiliki rata-rata temperatur 44,9EE dan toleransi temperatur 2,8EE, sehingga dapat disimpulkan posisi 1 adalah yang terdistribusi dengan baik pada pipa 3/4 inch pada rak 2. C Diameter pipa 3/4 inch pada rak 5 Posisi 1 Fig. TABLE XI. Rak 2 Sensor 3 Sensor 4 Mean Toleransi Posisi 1 43,5AC 44,3AC 43,9EE 0,8EE Posisi 2 Posisi 3 Diameter 3/4 inch pada rak 5 DIAMETER PIPA 3/4 INCH PADA RAK 5 Posisi 2 42,0AC 44,3AC 43,15EE 2,3EE Posisi 3 42,8AC 44,7AC 43,75EE 1,9EE Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Pada posisi 1 terlihat masih banyak yang berwarna hijau disudut ruangan dan masih lumayan berwarna kuning muda, sedangkan pada posisi 2 terlihat banyak warna kuning dibandingkan warna hijau diantara lubang keluaran pipa serta pada posisi 3 terlihat masih lumayan banyak warna kuning muda hampir menyeluruh dibandingkan warna hijau hal ini disebabkan karena penempatan lubang keluaran udara panas dan jumlah lubang pipa mempengaruhi distribusi panas didalam ruang simulasi sehingga berdasarkan warna, warna kuning hampir dominan dibandingkan warna hijau. Pada posisi 1 memiliki rata-rata temperatur 43,9EE dan toleransi temperatur 0,8EE. Pada posisi 2 memiliki rata-rata temperatur 43,15EE dan toleransi temperatur 2,3EE, dan Pada posisi 3 memiliki rata-rata temperatur 43,75EE dan toleransi temperatur 1,9EE, sehingga dapat disimpulkan posisi 1 adalah yang terdistribusi dengan baik pada diameter pipa 3/4 inch pada rak 2. C Diameter pipa 1 inch pada rak 2 Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Fig. Diameter pipa 1 inch pada rak 2 TABLE XII. Rak 2 Sensor 1 Sensor 2 Mean Toleransi DIAMETER PIPA 1 INCH PADA RAK 2 Posisi 1 50,7AC 44,1AC 47,4EE 6,6EE Posisi 2 49,4AC 49,1AC 49,25EE 0,3EE Posisi 3 46,3AC 47,8AC 47,05EE 1,5EE Pada posisi 1 terlihat lumayan banyak yang berwarna kuning tetapi ada warna hijau yang dominan disebelah depan kanan, sedangkan pada posisi 2 terlihat warna kuning hampir menyeluruh dan hampir tidak ada warna hijau serta pada posisi 3 terlihat kuning hampir menutupi rak simulasi, hal ini disebabkan karena penempatan lubang keluaran udara panas dan jumlah lubang pipa mempengaruhi distribusi panas didalam ruang simulasi sehingga berdasarkan warna lumayan banyak yang berwarna kuning dibandingkan warna hijau. Pada posisi 1 memiliki rata-rata temperatur 47,4EE dan toleransi temperatur 6,6EE. Pada posisi 2 memiliki rata-rata temperatur 49,25EE dan toleransi temperatur 0,3EE, dan Pada posisi 3 memiliki rata-rata temperatur 47,05EE dan toleransi temperatur 1,5EE, sehingga dapat disimpulkan posisi 2 adalah yang terdistribusi dengan baik pada diameter pipa 1 inch pada rak 2. C Diameter pipa 1 inch pada rak 5 Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Fig. Diameter pipa 1 inch pada rak 5 TABLE Xi. Rak 2 Sensor 3 Sensor 4 Mean Toleransi Posisi 1 49,7AC 51,1AC 50,4EE 1,4EE DIAMETER PIPA 1 INCH PADA RAK 5 Posisi 2 48,1AC 46,8AC 47,45EE 1,3EE Posisi 3 47,9AC 45,8AC 46,85EE 2,1EE Pada posisi 1 terlihat sudah banyak yang berwarna kuning dibandingkan warna hijau, sedangkan pada posisi 2 terlihat warna kuning lebih dominan dibandingkan warna hijau diantara lubang keluaran panas serta pada posisi 3 terlihat warna kuning hampir menutupi ruang simulasi. hal ini disebabkan karena penempatan lubang keluaran udara panas dan jumlah lubang pipa mempengaruhi distribusi panas didalam ruang simulasi sehingga berdasarkan warna, warna kuning hampir menyeluruh terdistribusi dengan baik didalam ruang Pada posisi 1 memiliki rata-rata temperatur 50,4EE dan toleransi temperatur 1,4EE. Pada posisi 2 memiliki rata-rata temperatur 47,45EE dan toleransi temperatur 1,3EE dan Pada posisi 3 memiliki rata-rata Wira Febrian. Mietra Anggara. Fadli Dzil Ikram. Aldrin temperatur 46,85EE dan toleransi temperatur 2,1EE, sehingga dapat disimpulkan posisi 2 adalah yang terdistribusi dengan baik pada diameter pipa 1 inch pada rak 5. Variasi diameter pipa terhadap distribusi panas C Posisi 1 pada rak 2 Diameter 3/4 inch Diameter 1 inch Fig. Posisi 1 pada rak 2 TABLE XIV. Rak 2 Mean Toleransi POSISI 1 PADA RAK 2 Diameter 3/4 inch 46,5EE 1,6EE Diameter 1 inch 47,4EE 6,6EE Pada diameter pipa 3/4 inch terlihat warna dominan berwarna hijau dari pada warna kuning sedangkan pada diameter pipa 1 inch terlihat warna dominan warna kuning dari pada warna hijau. Hal ini sebabkan karena perbedaan besarnya kecepatan udara dan diameter pipa penghantar panas. Pada diameter 3/4 inch memiliki ratarata temperatur 46,5EE dan toleransi temperatur 1,6EE dan pada diameter 1 inch memiliki rata-rata temperatur 47,4EE dan toleransi temperatur 6,6EE, sehingga dapat disimpulkan diameter 3/4 inch adalah yang terdistribusi dengan baik pada posisi 1 rak 2. C Posisi 1 pada rak 5 Diameter 3/4 inch Diameter 1 inch Fig. Posisi 1 pada rak 5 TABLE XV. Rak 5 Mean Toleransi POSISI 1 PADA RAK 5 Diameter 3/4 inch 43,9EE 0,8EE Diameter 1 inch 50,4EE 1,4EE Pada diameter pipa 3/4 inch terlihat warna dominan berwarna hijau dari pada warna kuning sedangkan pada diameter pipa 1 inch terlihat warna dominan warna kuning dari pada warna hijau. Hal ini sebabkan karena perbedaan besarnya kecepatan udara dan diameter pipa penghantar panas. Pada diameter 3/4 inch memiliki ratarata temperatur 43,9EE dan toleransi temperatur 0,8EE dan pada diameter 1 inch memiliki rata-rata temperatur 50,4EE dan toleransi temperatur 1,4EE, sehingga dapat disimpulkan diameter 3/4 inch adalah yang terdistribusi dengan baik pada posisi 1 rak 5. C Posisi 2 pada rak 2 Diameter 3/4 inch Diameter 1 inch Fig. Posisi 2 pada rak 2 TABLE XVI. Rak 2 Mean Toleransi POSISI 2 PADA RAK 2 Diameter 3/4 inch 44,7EE 1,8EE Diameter 1 inch 49,25EE 0,3EE Pada diameter pipa 3/4 inch terlihat warna dominan berwarna hijau dari pada warna kuning sedangkan pada diameter pipa 1 inch terlihat warna dominan warna kuning dari pada warna hijau. Hal ini sebabkan karena Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) perbedaan besarnya kecepatan udara dan diameter pipa penghantar panas. Pada diameter 3/4 inch memiliki ratarata temperatur 44,7EE dan toleransi temperatur 1,8EE dan pada diameter 1 inch memiliki rata-rata temperatur 49,25EE dan toleransi temperatur 0,3EE, sehingga dapat disimpulkan diameter 1 inch adalah yang terdistribusi dengan baik pada posisi 2 rak 2. C Posisi 2 pada rak 5 Diameter 3/4 inch Diameter 1 inch Fig. Posisi 2 pada rak 5 TABLE XVII. POSISI 2 PADA RAK 5 Rak 5 Mean Toleransi Diameter 3/4 inch 43,15EE 2,3EE Diameter 1 inch 47,45EE 1,3EE Pada diameter pipa 3/4 inch terlihat warna dominan berwarna hijau dari pada warna kuning sedangkan pada diameter pipa 1 inch terlihat warna dominan warna kuning dari pada warna hijau. Hal ini sebabkan karena perbedaan besarnya kecepatan udara dan diameter pipa penghantar panas. Pada diameter 3/4 inch memiliki ratarata temperatur 43,15EE dan toleransi temperatur 2,3EE dan pada diameter 1 inch memiliki rata-rata temperatur 47,45EE dan toleransi temperatur 1,3EE, sehingga dapat disimpulkan diameter 1 inch adalah yang terdistribusi dengan baik pada posisi 2 rak 5. C Posisi 3 pada rak 2 Diameter 3/4 inch Diameter 1 inch Fig. Posisi 3 pada rak 2 TABLE XVi. POSISI 3 PADA RAK 2 Rak 2 Mean Toleransi Diameter 3/4 inch 44,9EE 2,8EE Diameter 1 inch 47,0EE 1,5EE Pada diameter pipa 3/4 inch terlihat warna dominan berwarna hijau dari pada warna kuning sedangkan pada diameter pipa 1 inch terlihat warna dominan warna kuning dari pada warna hijau. Hal ini sebabkan karena perbedaan besarnya kecepatan udara dan diameter pipa penghantar panas. Pada diameter 3/4 inch memiliki ratarata temperatur 44,9EE dan toleransi temperatur 2,8EE dan pada diameter 1 inch memiliki rata-rata temperatur 47,0EE dan toleransi temperatur 1,5EE, sehingga dapat disimpulkan diameter 1 inch adalah yang terdistribusi dengan baik pada posisi 3 rak 2. C Posisi 3 pada rak 5 Diameter 3/4 inch Diameter 1 inch Fig. Posisi 3 pada rak 5 TABLE XIX. Rak 5 Mean Toleransi POSISI 3 PADA RAK 5 Diameter 3/4 inch 43,75EE 1,9EE Diameter 1 inch 46,85EE 2,1EE Wira Febrian. Mietra Anggara. Fadli Dzil Ikram. Aldrin Pada diameter pipa 3/4 inch terlihat warna dominan berwarna hijau dari pada warna kuning sedangkan pada diameter pipa 1 inch terlihat warna dominan warna kuning dari pada warna hijau. Hal ini sebabkan karena perbedaan besarnya kecepatan udara dan diameter pipa penghantar panas. Pada diameter 3/4 inch memiliki ratarata temperatur 43,75EE dan toleransi temperatur 1,9EE dan pada diameter 1 inch memiliki rata-rata temperatur 46,85EE dan toleransi temperatur 2,1EE, sehingga dapat disimpulkan diameter 3/4 inch adalah yang terdistribusi dengan baik pada posisi 3 rak 5. Hasil Simulasi Setiap Posisi C Posisi 1 . ipa disamping vertikal dan berukuran 3/4 inch dan 1 inc. Rata-rata temperatur (EE) Pengaruh Posisi Pipa Dan Diameter Pipa Pipa 3/4 Inch Pipa 1 Inch Ukuran Pipa Fig. Temperatur rata-rata posisi 1 . ipa disamping vertikal dan berukuran 3/4 inch dan 1 inc. Pada gambar simulasi dilakukan dengan parameter batasan yang sama pada masing Ae masing posisi dan kecepatan udara blower. Hasil tampilan suhu udara dalam ruangan mesin pengering rengginang pada posisi 1 . ipa disamping vertikal dan berukuran 3/4 inc. menggunakan kecepatan udara 1,6 m/s dengan jenis aliran transisi yang mempengaruhi udara panas terdistribusi dengan baik selama proses simulasi sehingga memiliki nilai rata rata temperatur ruangan mesin sebesar 45,2EE dengan toleransi temperatur 3,8EE. Pada gambar setiap rak yang dihasilkan dari proses simulasi terlihat bagian yang tidak terdistribusi panas yang ditandai dengan warna kebiruan dikarenakan penurunan kecepatan udara. pada posisi 1. ipa disamping vertikal dan berukuran 3/4 inc. ini berdasarkan streamline aliran udara memperlihatkan bahwa aliran udara hanya berfokus pada ruangan bagian atas ruangan mesin pengering rengginang saja hanya sedikit aliran udara yang terdistribusi kebawah hal ini menyebabkan distribusi panas yang kurang merata antara ruangan mesin pengering rengginang bagian bawah dengan bagian atas. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpukan bahwa semakin tepat penempatan posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas maka semakin sedikit ruangan mesin pengering rengginang yang bertemperatur rendah. Pada gambar simulasi dilakukan dengan parameter batasan yang sama pada masing Ae masing posisi dan kecepatan udara blower. Hasil tampilan suhu udara dalam ruangan mesin pengering rengginang pada posisi 1 . ipa disamping vertikal dan berukuran 1 inc. menggunakan kecepatan udara 2,1 m/s dengan jenis aliran turbulen yang mempengaruhi udara panas terdistribusi cukup baik selama proses simulasi sehingga memiliki nilai rata rata temperatur ruangan mesin sebesar 48,9EE dengan toleransi temperatur 7,2EE. Pada gambar setiap rak yang dihasilkan dari proses simulasi terlihat bagian yang tidak terdistribusi panas yang ditandai dengan warna kehijauan dikarenakan penurunan kecepatan udara. pada posisi 1. ipa disamping vertikal dan berukuran 1 inc. ini berdasarkan streamline aliran udara memperlihatkan bahwa aliran udara hanya berfokus pada ruangan bagian atas ruangan mesin pengering rengginang saja hanya sedikit aliran udara yang terdistribusi kebawah hal ini menyebabkan distribusi panas yang kurang merata antara ruangan mesin pengering rengginang bagian bawah dengan bagian atas. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpukan bahwa semakin tepat penempatan posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas maka semakin sedikit ruangan mesin pengering rengginang yang bertemperatur rendah. C Posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 3/4 inch dan 1 inc. Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Rata-rata temperatur (EE) Pengaruh Posisi Pipa Dan Diameter Pipa Pipa 3/4 Inch Pipa 1 Inch Ukuran Pipa Fig. Temperatur rata-rata posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 3/4 inch dan 1 inc. Pada gambar simulasi dilakukan dengan parameter batasan yang sama pada masing Ae masing posisi dan kecepatan udara blower. Hasil tampilan suhu udara dalam ruangan mesin pengering rengginang pada posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 3/4 inc. menggunakan kecepatan udara 1,6 m/s dengan jenis aliran transisi yang mempengaruhi udara panas terdistribusi dengan baik selama proses simulasi sehingga memiliki nilai rata rata temperatur ruangan mesin sebesar 43,9EE dengan toleransi temperatur 3,6EE. Pada gambar setiap rak yang dihasilkan dari proses simulasi terlihat bagian yang tidak terdistribusi panas yang ditandai dengan warna kehijauan dikarenakan penurunan kecepatan udara. pada posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 3/4 inc. ini berdasarkan streamline aliran udara memperlihatkan bahwa aliran udara hanya berfokus pada ruangan bagian atas ruangan mesin pengering rengginang saja hanya sedikit aliran udara yang terdistribusi kebawah hal ini menyebabkan distribusi panas yang kurang merata antara ruangan mesin pengering rengginang bagian bawah dengan bagian atas. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpukan bahwa semakin tepat penempatan posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas maka semakin sedikit ruangan mesin pengering rengginang yang bertemperatur rendah. Pada gambar simulasi dilakukan dengan parameter batasan yang sama pada masing Ae masing posisi dan kecepatan udara blower. Hasil tampilan suhu udara dalam ruangan mesin pengering rengginang pada posisi posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 1 inc. menggunakan kecepatan udara 2,1 m/s dengan jenis aliran turbulen yang mempengaruhi udara panas terdistribusi dengan baik selama proses simulasi sehingga memiliki nilai rata rata temperatur ruangan mesin sebesar 48,3EE dengan toleransi temperatur 2,6EE. Pada gambar setiap rak yang dihasilkan dari proses simulasi terlihat bagian yang tidak terdistribusi panas yang ditandai dengan warna kehijauan dikarenakan penurunan kecepatan udara. pada posisi 2 . ipa disamping horizontal dan berukuran 1 inc. ini berdasarkan streamline aliran udara memperlihatkan bahwa aliran udara hanya berfokus pada ruangan bagian atas ruangan mesin pengering rengginang saja hanya sedikit aliran udara yang terdistribusi kebawah hal ini menyebabkan distribusi panas yang kurang merata antara ruangan mesin pengering rengginang bagian bawah dengan bagian atas. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpukan bahwa semakin tepat penempatan posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas maka semakin sedikit ruangan mesin pengering rengginang yang bertemperatur rendah. C Posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 3/4 inch dan 1 inc. Rata-rata temperatur (EE) Pengaruh Posisi Pipa Dan Diameter Pipa Pipa 3/4 Inch Pipa 1 Inch Ukuran Pipa Wira Febrian. Mietra Anggara. Fadli Dzil Ikram. Aldrin Fig. Temperatur rata-rata posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 3/4 inch dan 1 inc. Pada gambar simulasi dilakukan dengan parameter batasan yang sama pada masing Ae masing posisi dan kecepatan udara blower. Hasil tampilan suhu udara dalam ruangan mesin pengering rengginang pada posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 3/4 inc. menggunakan kecepatan udara 1,6 m/s dengan jenis aliran transisi yang mempengaruhi udara panas terdistribusi dengan baik selama proses simulasi sehingga memiliki nilai rata rata temperatur ruangan mesin sebesar 44,3EE dengan toleransi temperatur 3,5EE. Pada gambar setiap rak yang dihasilkan dari proses simulasi terlihat bagian yang tidak terdistribusi panas yang ditandai dengan warna kehijauan dikarenakan penurunan kecepatan udara. pada posisi 3. ipa dibelakang horizontal dan berukuran 3/4 inc. ini berdasarkan streamline aliran udara memperlihatkan bahwa aliran udara lumayan berfokus pada ruangan bagian atas ruangan mesin pengering rengginang saja lumayan sedikit aliran udara yang terdistribusi kebawah hal ini menyebabkan distribusi panas yang kurang merata antara ruangan mesin pengering rengginang bagian bawah dengan bagian atas. Berdasarkan hasil simulasi dapat disimpukan bahwa semakin tepat penempatan posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas maka semakin sedikit ruangan mesin pengering rengginang yang bertemperatur rendah. Pada gambar simulasi dilakukan dengan parameter batasan yang sama pada masing Ae masing posisi dan kecepatan udara blower. Hasil tampilan suhu udara dalam ruangan mesin pengering rengginang pada posisi 3. ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. menggunakan kecepatan udara 2,1 m/s dengan jenis aliran turbulen yang mempengaruhi udara panas terdistribusi dengan sangat baik selama proses simulasi sehingga memiliki nilai rata rata temperatur ruangan mesin sebesar 46,9EE dengan toleransi temperatur 2,1EE. Pada gambar setiap rak yang dihasilkan dari proses simulasi terlihat bagian yang tidak terdistribusi panas yang ditandai dengan warna kehijauan dikarenakan penurunan kecepatan udara. pada posisi 3. ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. ini berdasarkan streamline aliran udara memperlihatkan bahwa aliran udara cukup terdistrubusi secara menyeluruh pada ruangan bagian atas dan bawah ruangan mesin pengering rengginang dibandingkan posisi lainnya. Sehingga berdasarkan hasil simulasi dapat disimpukan bahwa posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. sangat tepat pada penempatan posisi pipa dan diameter pipa penghantar panas untuk mengeringkan rengginang. Validasi simulasi dan eksperimen posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. Pada tabel 8. hasil validasi temperatur akhir yang dilakukan dengan cara membandingkan data simulasi CFD dengan data eksperimen. Validasi dilakukan dengan lama waktu 35 menit pada posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. berturut-turut menghasilkan error sensor 1 sebesar 4,40%, sensor 2 sebesar 1,09%, sensor 3 sebesar 1,01%, dan sensor 4 sebesar 3,47%. Hasil validasi suhu pada ke-empat titik sensor mesin pengering rengginang menunjukkan hasil simulasi yang mendekati hasil eksperimen. Hal ini ditandai dengan persen kesalahan kurang dari 5% pada posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. Error yang paling tertinggi terdapat pada sensor 1 sebesar 4,40% yang dapat disebabkan oleh faktor lain seperti human error, kerusakan pada alat ukur, dan lain-lain. Dengan hasil error kurang dari 5 % maka simulasi dapat dilanjutkan pada perhitungan laju pengeringan dan efesiensi pengeringan menggunakan mesin pengering rengginang. Laju pengeringan menggunakan mesin pengering rengginang Pada laju pengeringan mencari data hasil pengukuran massa awal, massa akhir dan selang waktu . yco Oeyco iB = 0 1 . it Dimana : iB = Laju pengeringan . /meni. yco0 = Massa awal rengginang . yco1 = Massa akhir rengginang . it = Lama pengeringan . Pada tabel 9. Laju pengeringan menggunakan mesin pengering rengginang didapatkan setelah melakukan hasil simulasi dan ekseperimen pada posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. Laju pengeringan didapatkan dengan mengurangi massa awal rengginang dengan massa akhir rengginang dan selanjutnya dibagi dengan lama pengeringan. Pada posisi 3 tersebut dapat mendistribusikan udara panas dengan baik di setiap rak sehingga dapat mengeringkan rengginang dari 0,6 Kg menjadi 0,381 Kg selama 3,5 jam dengan temperatur 60EE, sehingga mendapakan hasil perhitungan laju pengeringan yaitu 1,04 g/menit atau 0,0624 Kg/jam. Semakin lama waktu pengeringan maka semakin cepat laju pengeringan rengginang. Efesiensi pengeringan menggunakan mesin pengering rengginang Perhitungan efesiensi pengeringan menggunakan rumus sebagai berikut . C Energi pembakaran ycEycy = ycoyciyco x ycEyayaycO . Analisis Distribusi Panas pada Variasi Posisi Pipa dan Diameter Pipa Penghantar Panas terhadap Efesiensi Pengeringan Rengginang menggunakan Computational Fluid Dynamic (CFD) Dimana: ycEycy = Energi pembakaran rengginang . j/k. ycoyciyco = Massa gas LPG . ycEyayaycO = Low Heating Velue Gas LPG = 46. 600 kj/kg C Energi kalor pengeringan Panas Laten ycEyco = Eayceyci . coyca Oe ycoyco ) . Panas Sensibel ycEyc = yaycE . cN2 Oe ycN1 ) . Energi Kalor pengeringan ycEyce = . cEyco ycEyc ) . Dimana: ycEyce = Energi kalor pengeringan . J/K. ycEyco = Panas Laten . J/K. ycEyc = Panas Sensibel . J/K. ycoyca = Massa rengginang basah (K. ycoyco = Massa rengginang kering (K. ycoyca = Massa awal rengginang (K. Eayceyci = Nilai Panas Laten Penguapan Air . J/K. Cp = Nilai Panas Jenis Air . J/KgEE) ycN1 = Temperatur Awal (EE) ycN2 = Temperatur Pengeringan (EE) C Efesiensi Pengeringan ycE = ycEyce x 100% . ycy Dimana: = Efesiensi pengeringan rengginang (%) ycEyce = Energi kalor pengeringan . J) ycEycy = Energi pembakaran rengginang . J) Pada tabel 9. Efesiensi pengeringan menggunakan mesin pengering rengginang didapatkan setelah melakukan hasil simulasi dan ekseperimen pada posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan berukuran 1 inc. Efesiensi pengeringan dihitung dengan mengetahui energi pembakaran yaitu dengan mengkalikan massa gas lpg dengan low heating velue (LHV) gas lpg. Selanjutnya mengetahui energi kalor pengeringan dengan menjumlahkan panas sensibel dengan panas laten dan kemudian perhitungan energi pembakaran dibagi nilai kalor pengeringan. Pada posisi 3 tersebut dapat mendistribusikan udara panas dengan baik di setiap rak sehingga dapat mengeringkan rengginang dari 0,6 Kg menjadi 0,381 Kg selama 3,5 jam dengan temperatur 60EE, sehingga mendapatkan hasil efesiensi pengeringan rengginang yaitu 1,25%. KESIMPULAN Berdasarkan simulasi dan validasi eksprimen yang sudah dilaksakan, sehinga dapat ditarik kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah : Setelah dibandingkan antara ketiga simulasi variabel posisi pipa dan diameter pipa, didapatkan posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan pipa berukuran 1 inc. yang terbaik dengan memiliki temperatur paling tinggi di sensor ke 3 dan paling rendah disensor ke 4. Posisi ini memiliki rata-rata temperatur 46,9EE dan toleransi temperatur 2,1EE. Kemudian melakukan validasi eksperimen dengan hasil <5%, sehingga dapat mendistribusikan udara panas yang merata keseluruh bagian rak mesin pengering rengginang. Setelah dilakukan ekperimen di posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan pipa berukuran 1 inc. didapatkan laju pengeringan rengginang sebesar 1,04 g/menit atau 0,0624 kg/jam. Setelah dilakukan ekperimen di posisi 3 . ipa dibelakang horizontal dan pipa berukuran 1 inc. didapatkan efesiensi pengeringan rengginang didapatkan sebesar 1,25%. REFERENSI