Sri Emilda, dkk HUBUNGAN PELAKSANAAN MANAJEMEN LAKTASI DENGAN PARITAS IBU MENYUSUI DI PMB HUSNIYATI TAHUN 2024 Sri Emilda1. Fyzria Qudratullah2. Putri Rahmah Azzahrah3 Program Studi Di Kebidanan STIKES Mitra Adiguna Program Studi Pendidikan Profesi Bidan STIKES Mitra Adiguna Komplek Kenten Permai Blok J No 9-12 Bukit Sangkal Palembang 30114 Email : sriemilda1@gmail. com1 fyzriaqudratullah@gmail. ABSTRAK Manajemen laktasi merupakan tata laksana yang mengatur keseluruhan proses menyusui dapat berjalan dengan baik. Faktor-faktor lain yang juga mempengaruhi seorang ibu tidak berhasil memberikan ASI secara eksklusif adalah faktor perinatal . aritas dan jenis persalina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pelaksanaan manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui di PMB Husniyati Metode penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional dengan jumlah sampel 35 orang. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan mengenai hubungan pelaksanaan manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui maka hasil yang diperoleh dari analisis bivariat uji statistik chi-square menunjukkan bahwa nilai p = 0,04 ( 0,. Kesimpulan bahwa ada hubungan antara pelaksanaan manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui di PMB Husniyati Palembang tahun 2024. Saran diharapkan bagi petugas kesehatan khususnya bidan dapat memberikan konseling tentang pelaksanaan manajemen laktasi yang disesuaikan paritas ibu menyusui. Kata kunci : Manajemen Laktasi. Paritas ABSTRAK Lactation management is a procedure that regulates the entire breastfeeding process to run well. Other factors that also influence a mother's failure to provide exclusive breastfeeding are perinatal factors . arity and type of deliver. The purpose of this study was to determine the relationship between the implementation of lactation management and the parity of breastfeeding mothers at PMB Husniyati in This research method uses an analytical method with a cross-sectional approach with a sample size of 35 people. Based on the results of the research that has been carried out regarding the relationship between the implementation of lactation management and the parity of breastfeeding mothers, the results obtained from the bivariate analysis of the chi-square statistical test show that the p value = 0. 04 ( 0. The conclusion is that there is a relationship between the implementation of lactation management and the parity of breastfeeding mothers at PMB Husniyati Palembang in 2024. Suggestions are expected for health workers, especially midwives, to provide counseling on the implementation of lactation management that is adjusted to the parity of breastfeeding mothers. Keywords: Lactation Management. Parity Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sri Emilda, dkk PENDAHULUAN Kegiatan menyusui bagi ibu dapat menyenangkan sekaligus dapat memberikan manfaat yang tidak terhingga bagi bayi/anak. Kandungan lengkap dalam ASI dapat meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah penyakit, serta dapat membantu proses penyembuhan. Menyusui lebih nyaman dan lebih murah dari pada susu ASI selalu siap dan pada suhu yang stabil dengan temperatur tubuh. Pada keadaan normal semua perempuan dapat Dalam masa menyusui, ibu melakukan usaha-usaha agar proses menyusui bayi/anaknya berjalan dengan optimal (Wijayati, 2. Pencapaian ASI yang masih jauh dibawah target nasional, merupakan tanda bahwa kesadaran para ibu dalam memberi kan ASI masih perlu ditingkatkan. Kendala ibu dalam menyusui ada dua faktor yaitu faktor internal kurangnya pengetahuan ibu tentang manajemen laktasi dan faktor eksternal ASI belum keluar pada hari-hari pertama sehingga ibu berpikir perlu tambah susu formula, ketidak mengertian ibu tentang kolostrum, banyak ibu yang masih beranggapan bahwa ASI ibu kurang gizi dan kualitasnya tidak baik (Hutagaol, 2. Menurut data WHO tahun 2022, memaparkan data berupa angka pemberian ASI eksklusif secara global, walaupun telah ada peningkatan, namun angka ini tidak meningkat cukup signifikan, yaitu sekitar 44% bayi usia 0-6 bulan di seluruh dunia yang mendapatkan ASI eksklusif selama periode 2015-2020 dari 50% target pemberian ASI eksklusif menurut WHO (Pidiyanti et al. , 2. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia cakupan ASI Eksklusif nasional dalam 3 tahun terakhir mengalami penurunan, yaitu tahun 2018 sebesar 68,74%, pada tahun 2019 sebesar 67,74% dan pada tahun 2020 sebesar 66,06%. Selain mengalami penurunan, dari ketiga cakupan ASI Eksklusif nasional tersebut belum mencapai target nasional yaitu sebesar 80%. Dinas Kesehatan Sumatera Selatan menurut badan pusat statistik presentasi bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapatkan ASI Ekslusif menurut Provinsi Sumatera Selatan Palembang pada tahun 2021 sebanyak 69,93% (Emilda et al. , 2. Manajemen laktasi merupakan suatu menyangkut laktasi dan penggunaan ASI, yang menuju suatu keberhasilan menyusui untuk pemeliharaan kesehatan ibu dan ba Manajemen ini meliputi suatu persiapan dan pendidikan penyuluhan ibu, pelaksanaan menyusui dan rawat gabung dan usaha lanjutan perlindungan ibu yang menyusui (Pamuji & C1nta, n. Manajemen Laktasi suatu upaya yang dilakukan oleh ibu, ayah, dan keluarga untuk menunjang keberhasilan menyusui. Ruang lingkup pelaksanaan menajemen laktasi dimulai pada masa kehamilan, setelah persalinan, dan masa menyusui bayi. Manajemen laktasi merupakan segala daya upaya yang dilakukan untuk membantu ibu mencapai keberhasilan dalam menyusui Usaha ini dilakukan terhadap ibu dalam 3 tahap yaitu pada masa kehamilan . , sewaktu ibu dalam persalinan sampai keluar rumah sakit . , dan pada masa menyusui selanjutnya sampai anak berumur 2 tahun . (Armini et , 2. Manajemen laktasi merupakan tata laksana yang mengatur keseluruhan proses menyusui dapat berjalan dengan baik. Pelaksanaan manajemen laktasi meliputi cara merawat payudara, posisi menyusui, langkah-langkah menyusui yang benar, cara pengamatan teknik menyusui yang benar, cara melepas isapan bayi, menyendawakan bayi, cara menyimpan ASI dan cara pengeluaran ASI (Wijayati, 2. Faktor-faktor mempengaruhi seorang ibu tidak berhasil memberikan ASI secara eksklusif adalah faktor sosiodemografi . mur, pekerjaan. Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sri Emilda, dkk pendidikan, sosial ekonomi, lingkungan tempat tingga. , faktor perinatal . aritas dan jenis persalina. , dan faktor psikososial . ukungan keluarga, dukungan tenaga kesehatan dan keterpaparan akan promosi susu formul. (Wardani et al. , 2. Faktor yang mempengaruhi ketidak berhasilan ASI eksklusif salah satunya Paritas adalah jumlah kelahiran janin melangsungkan kehidupan. Paritas dapat dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara (Retnawati & Okta, 2. Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup atau mati yang dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu primipara dan multipara. Primipara adalah wanita yang pernah mengalami kehamilan lebih dari usia gestasi 20 minggu. Ibu dengan status paritas primipara merupakan seorang wanita yang melahirkan bayi hidup untuk pertama kali dan baru menjadi seorang ibu. Sementara itu, multipara adalah wanita yang pernah mengalami dua atau lebih kehamilan yang berlangsung lebih dari usia gestasi 20 orang ibu dikatakan multipara jika dia pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (Deswita. , 2. Berdasarkan hasil penelitian Khoriyah & Prihatini mengatakan bahwa ada hubungan antara status paritas dengan keterampilan menyusui yang benar karena menurut peneliti pengetahuan ibu multipara lebih banyak dari pada pengetahuan ibu primipara karena faktor pengalaman dalam hal menyusui, dengan pengalaman maka seseorang dapat mempunyai pengetahuan yang lebih baik dari pada yang belum memperoleh pengalaman (Amiruddin et al. PMB Husniyati adalah salah satu PMB di kota Palembang yang memberikan pelayanan kebidanan meliputi kehamilan, persalinan, dan nifas. PMB Husniyati juga membantu menjelaskan tentang perawatan payudara agar asi tetap lancar, dengan berdasarkan data dari PMB Husniyati bahwa PMB Husniyati ada 29 ibu yang menyusui. Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang hubungan pelaksanaan manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui di PMB Husniyati. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional. Untuk manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui di PMB Husniyati Palembang Tahun 2024. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada 07 November - 02 Desember tahun 2024. Penelitian ini dilaksanakan di PMB Husniyati Palembang Jl. Kapten Abdullah No 02. Talang bubuk Kec. Plaju, kota Palembang Sumatera Selatan 30119. Target/subjek Penelitian Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu menyusui yang berkunjung ke PMB Husniyati Palembang pada saat penelitian dari 07 November - 02 Desember 2024 sebanyak 35 ibu menyusui. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yaitu ibu post partum yang berkunjung di PMB Husniyati pada saat dilakukan penelitian sebanyak 35 responden. Prosedur Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan cara purposive sampling yaitu teknik penetapan sampel dengan cara memilih sampel diantara populasi sesuai dengan yang dikehendaki peneliti dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Adapun kriteria inklusi dan eksklusi yang dimaksud adalah: Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sri Emilda, dkk Kriteria Inklusi Ibu menyusui dengan bayi diatas 6 Ibu yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian. Menyetujui infomed consent. Kriteria Eksklusi a Ibu menyusui dengan bayi yang memiliki kondisi medis khusus yang menghalangi pemberian ASI. b Ibu menyusui yang tidak bersedia Data. Intrumen. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini menggunakan data primer yaitu data diperoleh secara langsung dari responden yaitu data tentang manajemen laktasi dan data paritas ibu. mengetahui hubungan manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui. Teknik Analisis Data Analisis Univariat Analisis mengetahui distribusi frekuensi variable independent dan variabel dependent dari hasil penelitian pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi frekuensi dari tiap variable yaitu pelaksanaan manajemen laktasi berdasarkan paritas ibu menyusui Analisis Bivariat Analisa bivariat dalam penelitian ini yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh dua variabel yang meliputi . ariabel independen. ariabel dependen. pelaksanaan manajemen laktasi berdasarkan paritas ibu menyusui dengan menggunakan analisis uji chisquare . dengan taraf signifikan () = 0,05. Jika p value O nilai adalah . , maka ada hubungan. Jika p value > nilai . maka tidak ada hubungan antara pariabel dependent dan independent. HASIL PENELITIAN PEMBAHASAN DAN Hasil Penelitian Analisis Univariat Tabel 1 Distribusi frekuensi paritas ibu yang menyusui di PMB Husniyati Palembang Tahun 2024 Paritas Multipara Primipara Total Manajemen Laktasi Baik Kurang Total Jumlah (N) Persentase (%) 45,7% 54,3% 65,7% 34,3% Berdasarkan tabel 1 di atas ibu multipara sebanyak 16 . ,7%) responden lebih sedikit di bandingkan ibu primipara sebanyak 19 . ,3%) responden. Berdasarkan distribusi Frekuensi Manajemen Laktasi yang baik sebanyak 23 . ,7%) responden, manajemen laktasi yang kurang sebanyak 12 . ,3%) Analisis Bivariat Tabel 2 Hubungan Pelaksanaan Manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui di PMB Husniyati Palembang Tahun 2024 Paritas Multipara Primipara Jumlah Manajemen Laktasi Baik Kurang Total Value Odd Ratio 0,02 20,625 Berdasarkan tabel silang 4. 3 diketahui bahwa dari 15 . ,8%) responden ibu multipara dengan manajemen laktasi baik dan manajemen laktasi kurang terdapat 11 . ,9%) responden ibu primipara. Nilai Odds Ratio sebesar 20,659 yang berarti bahwa ada hubungan yang sangat kuat antara paritas dan keberhasilan manajemen laktasi, dengan ibu yang lebih berpengalaman . cenderung lebih sukses dalam melaksananakan manajemen Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sri Emilda, dkk Hasil chi-square menunjukkan bahwa nilai p = 0,04 (O 0,. ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pelaksanaan manajemen laktasi dengan paritas ibu menyusui di PMB husniyati Palembang Tahun 2024. PEMBAHASAN Laktasi adalah keseluruhan proses dari menyusui mulai ASI diproduksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI. Air Susu Ibu (ASI) merupakan gizi terbaik untuk bayi terutama dikhususkan untuk bayi yang berumur kurang dari enam bulan dianjurkan agar diberikan ASI eksklusif. ASI eksklusif diberikan selama enam bulan pertama dan pemberian sampai umur anak 2 tahun, hal telah dibuktikan oleh peneliti bahawa dapat mencegah penyakitpenyakit seperti kanker anak, pneumonia, diare, kegemukan, diabetes, penyakit jantung dan pembuluh darah, alergi, dan Pemberian ASI eksklusif dimu lai sejak lahir sampai umur 6 bulan, baru kemudian diperkenalkan dengan makanan padat (Sulymbona et al. , 2. Manajemen laktasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menunjang keberhasilan menyusui. Ruang lingkup manajemen laktasi dimulai dari masa kehamilan, setelah persalinan, dan masa menyusui selanjutnya. Manajemen laktasi adalah serangkaian tindakan, strategi, dan intervensi yang bertujuan untuk mendukung dan memaksimalkan proses menyusui, baik bagi ibu maupun bayi. Manajemen laktasi mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan produksi, penyimpanan, dan pemberian ASI, serta dukungan yang dibutuhkan oleh ibu menyusui untuk memastikan keberhasilan menyusui (Herien. Dari hasil penelitian berdasarkan analisis univariat didapatkan sebagian besar ibu dengan manajemen laktasi baik terdapat 15 . ,8%) responden ibu multipara, 8 . ,1%) responden ibu primipara dan ibu dengan manajemen laktasi kurang terdapat 11 . ,9%) responden ibu primipara,1 . ,3%) responden ibu multipara. Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar ibu primipara dengan manajemen laktasi baik terdapat ibu multipara dengan manajemen laktasi baik sebanyak 15 responden . ,8%) dan 1 responden . ,3%) dengan manajemen laktasi Sedangkan ibu Primipara 8 respondent . 1%) dengan manajemen laktasi baik dan 11 responden . dengan manajemen laktasi kurang dengan manajemen laktasi kurang. Berdasarkan penelitian (Kotarumalos et al. , 2. didapatkan 80% Ibu postpartum memiliki pengeluaran ASI dengan kategori ASI lancar dan Produksi ASI 80% Dalam kategori cukup. Kategori pengeluaran ASI lancar dan tidak lancar dapat ditentukan Pengeluaran ASI dianggap lancar jika bayi menyusu setidaknya 8-12 kali dalam 24 jam, setiap sesi menyusui berlangsung 10-20 menit atau lebih di setiap payudara. Sebaliknya, pengeluaran ASI dianggap tidak lancar jika bayi menyusu kurang dari 8 kali dalam 24 jam, setiap sesi menyusui berlangsung sangat singkat atau sangat lama tanpa tanda pengosongan payudara. Berdasarkan analisis bivariat hasil penelitian uji statistik chi-square yang telah di lakukan menunjukkan bahwa nilai p = 0,04 (O 0,. ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pelaksanaan manajemen laktasi berdasarkan paritas ibu menyusui di PMB husniyati Palembang Tahun 2024. Sebagian besar ibu multipara dengan manajemen laktasi baik sebanyak 15 responden . ,8%) dan 1 responden . ,3%) Sedangkan ibu Primipara 8 respondent . 1%) dengan manajemen laktasi baik dan 11 responden . 9%) dengan manajemen laktasi kurang dengan manajemen laktasi Jurnal kesehatan dan pembangunan. Vol. No. Juli 2025 Sri Emilda, dkk Hal ini sejalan dengan hasil (Marwiyah & Khaerawati, 2. penelitian ini menunjukkan bahwa antara paritas dengan praktik pemberian ASI eksklusif didapatkan nilai p value = 0,010 maka dapat peemberian ASI Eksklusif dengan status Ibu yang memiliki anak lebih dari satu cenderung untuk mempraktikkan pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang memiliki 1 anak. Sedangkan penelitian Mufdlilah, . dalam (Wardani et al. , 2. Pemberian ASI eksklusif dihubungkan dengan data paritas yang berkaitan dengan riwayat pemberian ASI menunjukkan responden dengan paritas >1 sebanyak 25 orang dan terdapat 18 orang tidak melakukan pemberian ASI eksklusif. Paritas anak ke-1 sebanyak 26 orang, dan sebanyak 17 orang memberi ASI secara ASI eksklusif berarti hanya memberikan ASI pemberian cairan lain seperti susu formula atau air, dan tidak memberikan makanan padat termasuk buah seperti pisang dan papaya, serta makanan lain seperti bubur susu, biskuit, atau bubur nasi hingga bayi mencapai usia enam bulan. Menurut hasil analisis Indriani et al. , . menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara paritas terhadap pemberian ASI eksklusif dan secara statistik signifikan. Ibu bayi yang memiliki paritas <3 akan meningkatkan kemungkinan pemberian ASI eksklusif daripada ibu bayi yang memiliki paritas Ou3 yaitu (OR=2. 95%=1. 21 hingga 3. p = <0. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan mulai 07 November sampai dengan 02 Desember 2024 di PMB Husniyati Palembang mengenai pelaksanaan manajemen laktasi berdasarkan paritas ibu menyusui maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut bahwa ada hubungan antara pelaksanaan manajemen laktasi ber dasarkan paritas ibu menyusui p = 0,02 (> 0,. Sebagian besar ibu multipara dengan manajemen laktasi baik sebanyak 15 . ,8%) responden dan 1 responden . ,3%) Sedangkan ibu Primipara 8 . respondent dengan manajemen laktasi baik dan 11 . 9%) responden dengan manajemen laktasi kurang. SARAN Bagi Petugas Kesehatan Diharapkan dapat memberikan konseling tentang pelaksanaan manajemen laktasi dapat di sebabkan oleh faktor-faktor lain seperti paritas ibu menyusui. Bagi Peneliti Selanjutnya Dapat melakukan penelitiaan serupa dengan menggunakan sampel yang lebih banyak lagi, menggunakan metode penelitian yang pelaksanaan manajemen laktasi berdasarkan paritas ibu menyusui yang bisa dilakukan penelitian lebih lanjut sehingga penelitian tentang pelaksanaan manajemen laktasi berdasarkan paritas ibu menyusui dapat lebih bervariasi. DAFTAR PUSTAKA