Volume 7. Nomor 2, 2026, hlm 576-586 Jurnal Terapan Teknik Industri ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 https://jurnal. id/index. php/jenius Identifikasi akar penyebab dan prioritisasi risiko ketidaksesuaian air handling unit (AHU) menggunakan RCA-FMEA terintegrasi Identification of Root Cause and Risk Prioritization of air handling unit (AHU) performance nonconformities using an integrated RCA-FMEA Syifa Puspitasari . Silvia Merdikawati* *Program Studi Teknik Industri. Institut Teknologi Indonesia. Jl. Puspitek. Setu. Kota Tangerang Selatan. Banten. Indonesia *Email: silvia_merdika@yahoo. Informasi Artikel Abstrak Histori Artikel Artikel dikirim 17/03/2026 Artikel diperbaiki 16/04/2026 Artikel diterima 21/04/2026 Berdasarkan hasil observasi, ketidaksesuaian kinerja Air Handling Unit (AHU) pada tahap validasi di PT XYZ masih sering terjadi dan berpotensi menurunkan kualitas lingkungan terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab dan menentukan prioritas risiko ketidaksesuaian kinerja AHU menggunakan pendekatan terintegrasi Root Cause Analysis (RCA) yaitu fishbone dan 5 WhyAos serta Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Penelitian dilakukan melalui studi kasus di PT XYZ dengan metode observasi, wawancara, dan kuesioner kepada tim validasi. Hasil identifikasi menunjukkan empat ketidaksesuaian utama, yaitu airflow/ACH tidak sesuaai. Temperature dan RH tidak tercapai, pressure ruangan mengalami penurunan, serta jumlah partikel tidak memenuhi Analisis FMEA menunjukkan bahwa aktivitas manusia di dalam ruangan merupakan penyebab dominan dengan nilai Risk Priority Number (RPN) tertinggi sebesar 504, diikuti oleh filter udara tersumbat dengan RPN 225, air balancing belum dilakukan dengan RPN 243, dan kebocoran pipa refrigerant dengan RPN 162. Hasil penelitian menegaskan bahwa faktor operasional dan pengendalian memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja AHU. Hasil penelitian ini merekomendasikan standarisasi prosedur air balancing, monitoring differential pressure, dan pengendalian personel ruangan terkontrol. Kata Kunci: Air Handling Unit. Failure Mode and Effect Analysis. Fishbone. Risk Priority Number. Root Cause analysis. Abstract Based on the observation results, the non-conformity of the performance of the Air Handling Unit (AHU) at the validation stage at PT XYZ still occurs frequently and has the potential to reduce the quality of the controlled This study aims to identify the root causes and determine the priority risk of non-conforming AHU performance using the integrated approach of Root Cause Analysis (RCA), namely fishbone and 5 Why's and Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). The research was conducted through a case study at PT XYZ using observation, interview, and questionnaire methods to the validation team. The identification results showed four main discrepancies, namely airflow/ACH was not achieved. Temperature and RH were not achieved, room pressure decreased, and the number of particles did not meet the requirements. FMEA analysis showed that indoor human activities were the dominant cause with the highest Risk Priority Number (RPN) value of 504, followed by clogged air filters with RPN JENIUS: Jurnal Terapan Teknik Industri is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4. 0 International License. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. 225, air balancing that had not been carried out with RPN 243, and refrigerant pipe leaks with RPN 162. The results of the study confirm that operational and control factors have a significant influence on AHU's The results of this study recommend standardization of air balancing procedures, differential pressure monitoring, and controlled room personnel control Keywords: Air Handling Unit. Failure Mode and Effect Analysis. Fishbone. Risk Priority Number. Root Cause analysis. Pendahuluan Air Handling Unit (AHU) merupakan salah satu komponen utama dalam sistem HVAC (Heating. Ventilation, and Air Conditionin. yang berfungsi untuk mengatur sirkulasi, filtrasi, serta distribusi udara pada ruang yang dikondisikan, termasuk temperature, kelembaban, tekanan udara, aliran udara, dan kualitas udara sebelum udara tersebut disalurkan ke area layanan . Kinerja AHU sangat krusial terutama pada lingkungan industri dan bangunan dengan standar kualitas udara tertentu, karena berpengaruh langsung terhadap kenyamanan, efisiensi energi, serta kualitas proses dan produk yang dihasilkan. Perawatan dan pengelolaan AHU yang tidak optimal dapat menyebabkan penurunan performa sistem serta gangguan terhadap kondisi lingkungan terkontrol . PT XYZ merupakan perusahaan yang bergerak dalam layanan pemasangan dan perawatan sistem HVAC. Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa pada pelaksanaan proses validasi kinerja Air Handling Unit (AHU), mencakup pengukuran dan evaluasi terhadap beberapa parameter utama, yaitu airflow atau Air Changes per Hour (ACH). Temperature dan kelembaban, pressure ruangan, serta konsentrasi partikel udara. Seiring dengan meningkatnya tuntutan kualitas dan keandalan sistem HVAC, permasalahan ketidaksesuaian kinerja AHU masih sering terjadi di berbagai sektor. Beberapa bentuk ketidaksesuaian yang umum meliputi penurunan tekanan udara, kenaikan Temperature, peningkatan kelembaban, serta penyumbatan pada filter udara yang berdampak pada penurunan performa sistem. Kondisi ini menunjukkan bahwa kinerja AHU tidak hanya dipengaruhi oleh aspek teknis, tetapi juga oleh faktor operasional dan pemeliharaan yang belum optimal. Penelitian sebelumnya telah banyak mengkaji kinerja AHU, terutama dari aspek perawatan dan identifikasi kerusakan. Studi mengenai perawaran AHU sebelumnya menekankan pentingnya perawatan rutin seperti pembersihan filter dan cooling coil untuk menjaga stabilitas temperature dan kualitas udara. Namun, penelitian tersebut masih bersifat deskriptif dan berfokus pada tindakan perawatan tanpa analisis sistematis terhadap akar penyebab permasalahan . Sementara itu, penelitian lainnya yang menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) untuk mengidentifikasi potensi kerusakan komponen AHU dan menentukan prioritas perawatan berdasarkan nilai risiko. Meskipun demikian, penelitian ini lebih menitikberatkan pada identifikasi kegagalan komponen tanpa mengkaji akar penyebab secara mendalam . Berdasarkan tinjauan tersebut, terdapat kesenjangan penelitian . esearch ga. yaitu belum adanya pendekatan terintegrasi yang mampu mengidentifikasi akar penyebab ketidaksesuaian kinerja AHU secara mendalam sekaligus menentukan prioritas risiko secara sistematis. Sebagian besar penelitian masih menggunakan pendekatan parsial, baik hanya berfokus pada perawatan maupun hanya pada analisis risiko, sehingga belum memberikan solusi komprehensif terhadap permasalahan kinerja AHU. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar penyebab dan menentukan prioritas risiko ketidaksesuaian kinerja AHU menggunakan pendekatan terintegrasi Root Cause Analysis (RCA) dan Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) serta 5 WhyAos. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan analisis yang lebih komprehensif dengan menggabungkan identifikasi penyebab mendasar dan penilaian tingkat risiko secara kuantitatif. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan pendekatan terintegrasi RCAAeFMEA dalam menganalisis ketidaksesuaian kinerja AHU, yang tidak hanya mampu mengidentifikasi akar penyebab utama 578 Syifa Puspitasari. Silvia Merdikawati Identifikasi akar penyebab dan prioritisasi risiko ketidaksesuaian air handling unit (AHU) menggunakan RCA-FMEA terintegrasi tetapi juga menentukan prioritas perbaikan berdasarkan tingkat risiko untuk memprediksi masalah sehingga tindakan proaktif dapat diambil untuk memecahkan masalah ini dan dengan demikian mengurangi risiko . Selain itu, penelitian ini memberikan rekomendasi perbaikan yang lebih sistematis dan aplikatif bagi industri dalam meningkatkan keandalan dan kinerja sistem AHU. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif . ixed-metho. , di mana pendekatan kualitatif digunakan untuk mengidentifikasi akar penyebab ketidaksesuaian kinerja AHU melalui observasi dan wawancara menggunakan Root Cause Analysis (RCA) . , sedangkan pendekatan kuantitatif digunakan untuk menilai tingkat risiko menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) melalui perhitungan Risk Priority Number (RPN) . Penelitian dilakukan di PT XYZ selama 2 bulan dengan penilaian oleh satu orang senior HVAC engineer . xpert judgmen. berpengalaman lebih dari 10 tahun yang dipilih secara purposive sampling . Pendekatan berbasis expert judgment ini umum digunakan dalam analisis FMEA untuk menentukan tingkat risiko secara sistematis . sehingga analisis tidak dibatasi pada jumlah unit AHU tertentu, melainkan merepresentasikan kondisi umum permasalahan AHU di lingkungan Data diperoleh melalui: Observasi langsung terhadap kinerja AHU pada tahap validasi Wawancara terstruktur dengan responden Kuesioner penilaian risiko (FMEA) expert judgment yang dipilih menggunakan purposive sampling, dengan kriteria: Memiliki pengalaman minimal 2Ae3 tahun di bidang HVAC/AHU Terlibat langsung dalam proses instalasi, validasi, atau maintenance AHU Memahami kondisi operasional sistem Pendekatan ini digunakan untuk memastikan bahwa data yang diperoleh bersifat relevan dan representatif terhadap kondisi aktual di lapangan. Tahapan penelitian dilakukan dengan tahap pertama mengidentifikasi ketidaksesuaian kinerja Air Handling Unit (AHU) berdasarkan hasil observasi dan data validasi di lapangan. Pada tahap ini ditentukan jenis-jenis permasalahan yang terjadi, seperti airflow tidak sesuai, temperature dan kelembaban tidak sesuai, serta penurunan tekanan ruangan. Tahap kedua adalah analisis akar penyebab (Root Cause Analysis/RCA). Pada tahap ini dilakukan identifikasi penyebab utama dari setiap permasalahan menggunakan teknik seperti Fishbone Diagram yang memiliki susunan menyerupai kerangka tulang ikan, dengan bagian kepala ikan terletak di sisi kanan . Fishbone Diagram dengan pendekatan 5M 1E (Man. Machine. Method. Material, dan Environmen. sehingga diperoleh faktor-faktor yang berkontribusi terhadap ketidaksesuaian kinerja AHU . Tahap ketiga adalah identifikasi mode kegagalan (Failure Mod. menggunakan metode Failure Mode and Effects Analysis (FMEA). Setiap potensi kegagalan diidentifikasi berdasarkan penyebab dan dampaknya terhadap sistem AHU, sehingga diperoleh daftar risiko yang mungkin Perhitungan Risk Priority Number (RPN), yang diperoleh dari perkalian nilai Severity. Occurrence, dan Detection dengan rumus . Penilaian faktor risiko (S. D) dengan skala 1 hingga 10 yang dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Penjelasan Skala pada FMEA Parameter Skala 1-3: Minor Severity (S) 4-6: Moderate 7-10: Critical ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. Parameter Occurrence (O) Detection (D) Skala 1: Rare (<1/. 5: Occasional 10: Frequent (>1/. 1: Almost certain 10: Impossible Pada Tabel 1 validasi dilakukan menggunakan metode konsensus berbasis rata-rata bobot ahli dengan pengukuran divergence, sedangkan prioritas risiko ditentukan menggunakan batas RPN > 200 . Hasil perhitungan Risk Priority Number (RPN) digunakan untuk menentukan prioritas risiko yang memerlukan penanganan segera. Mode kegagalan dengan nilai RPN tertinggi selanjutnya dianalisis menggunakan metode 5 WhyAos untuk mengidentifikasi akar penyebab yang paling mendasar secara sistematis . Berdasarkan hasil integrasi analisis Root Cause Analysis (RCA). Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), dan 5 WhyAos, disusun rekomendasi perbaikan yang mencakup tindakan korektif dan preventif. Rekomendasi ini bertujuan untuk menurunkan tingkat risiko ketidaksesuaian kinerja AHU, meningkatkan efektivitas proses validasi, serta mencegah terulangnya permasalahan serupa di masa mendatang. Hasil dan Pembahasan Identifikasi permasalahan dilakukan melalui wawancara dengan tim validasi lapangan yang terlibat langsung dalam pengoperasian dan commissioning sistem AHU pada PT XYZ. Ketidaksesuaian yang terjadi tidak hanya berdampak pada satu aspek, tetapi mencakup beberapa parameter utama pada AHU. Tabel 2. Ketidaksesuaian pada proses validasi Ketidaksesuaian pada Proses Validasi Airflow/ ACH (CFM) tidak sesuai Temperature & RH tidak tercapai (Ac dan %) Pressure (Pasca. ruangan mengalami Jumlah partikel tidak memenuhi syarat Berdasarkan Tabel 2, terdapat empat bentuk utama ketidaksesuaian kinerja AHU pada proses validasi, yaitu ketidaktercapaian airflow/ACH, ketidaksesuaian Temperature dan kelembaban relatif (RH), penurunan tekanan ruangan, serta jumlah partikel yang tidak memenuhi Keempat parameter tersebut merupakan indikator utama dalam sistem AHU yang saling berkaitan, di mana ketidaktercapaian airflow dapat memengaruhi distribusi udara dan nilai ACH, yang selanjutnya berdampak pada kestabilan Temperature dan kelembaban. Selain itu, penurunan tekanan ruangan menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara aliran udara masuk dan keluar, yang berpotensi menyebabkan kontaminasi silang. Kondisi ini juga diperparah oleh tingginya jumlah partikel, yang mengindikasikan bahwa sistem filtrasi belum bekerja secara Oleh karena itu, keempat ketidaksesuaian tersebut saling memengaruhi dan secara keseluruhan dapat menurunkan kualitas lingkungan terkontrol serta kinerja sistem AHU. Analisis Root Cause Analysis (RCA) Analisis Root Cause Analysis (RCA) dilakukan menggunakan Fishbone Diagram . iagram sebabAe akiba. dengan pendekatan 5M 1E, yaitu Man . Machine . Method . etode/prosedu. Material . , dan Environment . Fishbone diagram airflow/ACH tidak sesuai Berdasarkan Gambar 1, hasil analisis Fishbone Diagram menunjukkan bahwa ketidaksesuaian airflow disebabkan oleh kombinasi faktor man, machine, method, material, dan environment yang saling berkaitan. Faktor dominan berasal dari aspek method dan material, yaitu belum 580 Syifa Puspitasari. Silvia Merdikawati Identifikasi akar penyebab dan prioritisasi risiko ketidaksesuaian air handling unit (AHU) menggunakan RCA-FMEA terintegrasi dilakukannya air balancing serta ketidaksempurnaan sealant pada sambungan ducting yang menyebabkan kebocoran udara. Selain itu, faktor machine seperti damper yang tidak terbuka optimal dan tingginya resistansi aliran udara turut memperbesar kehilangan airflow. Dari sisi man, kurangnya inspeksi detail dan tidak dilakukannya pengecekan kebocoran memperparah kondisi tersebut. Sementara itu, faktor environment seperti tekanan dan layout ruangan juga memengaruhi distribusi udara. Kombinasi faktor-faktor ini menunjukkan bahwa permasalahan airflow tidak hanya disebabkan oleh satu aspek teknis, tetapi merupakan hasil interaksi antara kesalahan operasional, instalasi, dan kondisi lingkungan, sehingga diperlukan pendekatan perbaikan yang terintegrasi. Gambar 1. Fishbone diagram kehilangan airflow Fishbone diagram temperature dan RH tidak tercapai Berdasarkan Gambar 2, ketidaksesuaian temperature dan RH disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, yaitu pada aspek man kurangnya ketelitian instalasi dan deteksi kebocoran, pada aspek method proses commissioning yang belum menyeluruh serta tidak dilakukannya uji kebocoran pipa refrigerant, pada aspek machine penurunan tekanan refrigerant yang menurunkan kapasitas pendinginan AHU, dan pada aspek material kualitas sambungan pipa refrigerant yang kurang baik sehingga terjadi kebocoran. Selain itu, faktor environment berupa tingginya beban panas ruangan dan pengaruh suhu lingkungan turut memperberat kinerja sistem, sehingga temperature dan RH tidak dapat dikendalikan sesuai set point. Gambar 2. Fishbone diagram temperature dan RH tidak tercapai Fishbone diagram pressure (Pasca. ruangan mengalami penurunan Berdasarkan Gambar 3. Pressure ruangan mengalami penurunan disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu pada aspek man kesalahan pemasangan urutan filter dan kurang optimalnya inspeksi sealing, pada aspek method belum optimalnya preventive maintenance serta tidak adanya pengecekan pressure balance secara rutin, pada aspek machine ketidakseimbangan sistem supply dan return udara serta kondisi filter yang kotor, pada aspek material filter yang jenuh debu dan ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. sealant dinding maupun plafon yang tidak rapat, serta pada aspek environment kebocoran ruangan dan aktivitas buka-tutup pintu yang mengganggu stabilitas tekanan ruangan. Gambar 3. Fishbone diagram pressure mengalami penurunan Fishbone diagram partikel udara tidak memenuhi persyaratan Berdasarkan Gambar 4, ketidaksesuaian jumlah partikel udara disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu pada aspek man aktivitas manusia yang tidak diimbangi dengan pengendalian akses, prosedur kebersihan, dan pergantian filter sesuai SOP, pada aspek method sanitasi ruangan yang belum optimal akibat jadwal cleaning yang tidak rutin, pada aspek machine sistem filtrasi yang tidak optimal dan kondisi filter udara yang kotor, pada aspek material filter yang jenuh debu serta kebocoran ruangan yang memungkinkan partikel masuk tanpa filtrasi, serta pada aspek environment kebocoran ruangan dan sumber debu dari lingkungan sekitar yang meningkatkan risiko kontaminasi partikel. Gambar 4. Fishbone diagram jumlah partikel tidak memenuhi syarat 2 Analisis risiko dengan Failure mode and Effect Analysis (FMEA) Analisis dilanjutkan menggunakan metode FMEA untuk menentukan prioritas risiko dari setiap mode kegagalan. Penilaian dilakukan dengan menentukan nilai Severity (S). Occurrence (O), dan Detection (D) berdasarkan hasil kuesioner Failure Mode Airflow tidak Temperature & RH tidak Tabel 3. Perhitungan risk priority number (RPN) Failure Severity Occurence Detection Failure Effect RPN Cause (S) (O) (D) Sambungan ACH tidak ducting bocor Resistansi tinggi Debit udara pada SAP Air balancing Aliran tidak belum dilakukan Temperature Kebocoran pipa 582 Syifa Puspitasari. Silvia Merdikawati Identifikasi akar penyebab dan prioritisasi risiko ketidaksesuaian air handling unit (AHU) menggunakan RCA-FMEA terintegrasi Failure Mode Failure Effect Sambungan pipa kurang rapat Tekanan refrigerant tidak Beban panas ruangan tinggi Pressure Kebocoran dinding/plafon Filter udara Distribusi supplyAe return tidak Kebocoran pintu/akses Partikel Filter kotor Kebocoran Aktivitas manusia di ruangan Failure Cause RH tidak Pendinginan Sistem Kontaminasi Aliran Tekanan tidak stabil Udara Efisiensi filtrasi turun Masuknya partikel luar Peningkatan Severity Occurence Detection RPN (S) (O) (D) Berdasarkan Tabel 3, hasil perhitungan Risk Priority Number (RPN) menunjukkan bahwa aktivitas manusia di dalam ruangan menjadi penyebab paling dominan dengan nilai RPN tertinggi sebesar 504, yang berdampak pada peningkatan jumlah partikel. Selain itu, faktor lain dengan nilai RPN tinggi adalah filter udara tersumbat (RPN . dan belum dilakukannya air balancing (RPN . , yang berkontribusi terhadap ketidaksesuaian airflow dan penurunan kualitas distribusi udara. Sementara itu, kebocoran pipa refrigerant (RPN . dan tekanan refrigerant yang tidak optimal (RPN . turut memengaruhi ketidaktercapaian temperature dan Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa faktor operasional, pemeliharaan, dan kondisi sistem memiliki peran signifikan terhadap ketidaksesuaian kinerja AHU, sehingga prioritas perbaikan perlu difokuskan pada faktor dengan nilai RPN tertinggi untuk meningkatkan efektivitas sistem secara menyeluruh. Berdasarkan hasil perhitungan FMEA pada gambar 5, diperoleh nilai Risk Priority Number (RPN) yang bervariasi untuk setiap failure mode yang berkontribusi terhadap ketidaksesuaian kinerja Air Handling Unit (AHU). Pada failure mode kehilangan airflow, nilai RPN tertinggi diperoleh pada penyebab air balancing belum dilakukan, dengan nilai RPN sebesar 243. Nilai ini tergolong tinggi karena kegagalan tersebut memiliki tingkat keparahan (Severit. yang tinggi akibat dampaknya langsung terhadap distribusi udara dan pencapaian ACH, serta memiliki tingkat deteksi (Detectio. yang rendah karena ketidakseimbangan aliran udara sering kali tidak teridentifikasi tanpa pengujian khusus. Pada Gambar 5 failure mode temperature dan RH tidak sesuai set point, nilai RPN tertinggi diperoleh pada penyebab kebocoran pipa refrigerant, dengan nilai RPN sebesar 162. Nilai ini menunjukkan bahwa kebocoran refrigerant memiliki dampak yang signifikan terhadap kemampuan sistem pendinginan dalam menjaga temperature dan kelembaban ruangan. Sedangkan pada failure mode penurunan tekanan ruangan, nilai RPN tertinggi diperoleh pada penyebab filter udara tersumbat, dengan nilai RPN sebesar 225. Nilai ini menunjukkan bahwa kondisi filter udara memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas tekanan ruangan, karena filter yang kotor atau tersumbat akan meningkatkan resistansi aliran udara dan mengurangi tekanan efektif di dalam ruangan. ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. RPN Failure Effect Gambar 5. Diagram nilai RPN failure effect paling dominan Sementara itu untuk failure mode partikel ruangan tidak memenuhi syarat, nilai RPN tertinggi secara keseluruhan diperoleh pada penyebab aktivitas manusia di dalam ruangan, dengan nilai RPN sebesar 504, yang merupakan nilai RPN tertinggi dari seluruh failure mode yang dianalisis. Nilai yang sangat tinggi ini disebabkan oleh kombinasi severity yang tinggi, occurrence yang sangat sering, serta kemampuan deteksi yang rendah terhadap dampak aktivitas manusia terhadap peningkatan partikel udara. Analisis akar penyebab prioritas dengan 5 WhyAos Metode 5 WhyAos digunakan untuk menelusuri hubungan sebabAeakibat secara berulang dengan mengajukan pertanyaan AumengapaAy hingga diperoleh akar penyebab yang bersifat fundamental dan dapat ditindaklanjuti. Analisis 5 WhyAos difokuskan pada failure mode dengan nilai RPN tertinggi pada setiap kelompok permasalahan kinerja AHU. Berdasarkan hasil analisis 5 WhyAos pada Tabel 4, dapat disimpulkan bahwa ketidaksesuaian kinerja Air Handling Unit (AHU) tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh kelemahan pada aspek perencanaan, prosedur kerja, serta sistem pengendalian dan pengawasan. Pada permasalahan airflow yang tidak sesuai, akar penyebab utamanya adalah belum dilakukannya air balancing akibat sistem yang belum siap secara keseluruhan, termasuk instalasi, kelistrikan, dan proses commissioning yang belum terencana dengan baik. Kondisi ini menjadi faktor dominan karena air balancing merupakan tahap krusial dalam memastikan distribusi udara sesuai dengan desain, sehingga tanpa proses ini aliran udara yang dihasilkan tidak dapat mencapai nilai yang Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa ketidakseimbangan sistem distribusi udara menjadi salah satu penyebab utama penurunan performa HVAC. Tabel 4. Hasil analisis 5 WhyAos Potensi Ketidaksesuaian Airflow tidak Why 1 Why 2 Why 3 Air balancing Kondisi ruangan dan sistem belum siap untuk dilakukan air Beberapa listrik dan Why 4 Why 5 Perencanaan AHU dan belum dapat 584 Syifa Puspitasari. Silvia Merdikawati Identifikasi akar penyebab dan prioritisasi risiko ketidaksesuaian air handling unit (AHU) menggunakan RCA-FMEA terintegrasi Potensi Ketidaksesuaian Temperature & RH tidak Why 1 Kebocoran Why 2 Why 3 Why 4 Why 5 sistem dalam Sambungan tidak rapat Proses pipa tidak Pekerja Kurangnya dan standar Nilai gate (DPG) secara rutin Tidak ada atau jadwal DPG Kurangnya Pengawasan SOP masih Belum adanya dan evaluasi rutin yang filter, serta Pressure Filter udara Kondisi filter yang kotor sejak awal Jumlah partikel tidak memenuhi Terdapat manusia yang cukup tinggi di dalam ruangan dan partikel dari pakaian, dan Pengendalian SOP terkait personel di personel dan pengawasan alur keluar SOP Sementara itu, pada ketidaktercapaian temperature dan RH, penyebab utamanya mengarah pada kebocoran pipa refrigerant yang dipicu oleh kualitas instalasi yang kurang teliti serta lemahnya proses inspeksi dan pengawasan. Adapun penurunan tekanan ruangan disebabkan oleh filter udara yang tersumbat, yang berakar dari tidak adanya sistem monitoring dan pemeliharaan rutin seperti pemantauan differential pressure. Sementara itu pada permasalahan jumlah partikel tidak memenuhi syarat dikarenakan lemahnya penerapan SOP kebersihan dan pengendalian aktivitas personel. Oleh karena itu, tindakan perbaikan yang direkomendasikan perlu difokuskan pada penguatan prosedur commissioning, peningkatan standar inspeksi dan monitoring, serta penerapan sistem pengendalian operasional yang konsisten guna mencegah terulangnya ISSN . 2722 3469 | ISSN [Onlin. 2722 4740 DOI 10. 37373/jenius. ketidaksesuaian kinerja AHU. Berdasarkan hasil temuan akar penyebab prioritas masalah, dapat dilakukan rekomendasi perbaikan sebagai berikut: Peningkatan perencanaan dan penjadwalan commissioning dengan air balancing hanya setelah seluruh instalasi mekanikal, elektrikal, sistem AHU, serta kondisi ruangan dinyatakan siap beroperasi secara penuh untuk memastikan hasil pengujian kinerja akurat. Standarisasi prosedur inspeksi instalasi dengan menetapkan checklist inspeksi wajib pada pemasangan ducting dan pipa refrigerant, termasuk pemeriksaan ulang sambungan dan uji kebocoran sebelum proses commissioning. Penerapan monitoring tekanan dan filter udara dengan melakukan pemantauan rutin terhadap nilai differential pressure gauge (DPG) sebagai indikator kondisi filter serta menetapkan jadwal pembersihan dan penggantian filter secara berkala. Penguatan SOP commissioning dan validasi dengan menyusun dan menerapkan SOP commissioning terintegrasi yang mencakup tahapan pemeriksaan sistem, pengujian kinerja, serta dokumentasi hasil validasi. Pengendalian aktivitas personel di ruangan terkontrol dengan membatasi jumlah personel, mengatur alur keluarAemasuk ruangan, serta meningkatkan disiplin penggunaan cleen room dan prosedur kebersihan untuk mengendalikan sumber partikel. Peningkatan pengawasan dan evaluasi operasional menggunakan pengawasan dan evaluasi secara rutin selama tahap instalasi, commissioning, dan awal operasional untuk memastikan seluruh parameter AHU tetap sesuai dengan standar yang ditetapkan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian, ketidaksesuaian kinerja Air Handling Unit (AHU) dipengaruhi oleh kombinasi faktor operasional, teknis, dan lingkungan. Hasil analisis FMEA mengidentifikasi bahwa aktivitas manusia di dalam ruangan menjadi faktor paling dominan dengan nilai RPN tertinggi sebesar 504, yang menyebabkan peningkatan jumlah partikel dan ketidakterpenuhinya standar kebersihan udara. Selain itu, faktor lain yang signifikan adalah belum dilakukannya air balancing serta kondisi filter yang tidak optimal, yang berdampak pada ketidaksesuaian airflow dan tekanan ruangan. Analisis lanjutan menggunakan 5 WhyAos menunjukkan bahwa permasalahan utama berkaitan dengan kelemahan pada proses commissioning, pengawasan operasional, dan penerapan prosedur kerja. Oleh karena itu, perbaikan difokuskan pada penguatan proses commissioning, peningkatan monitoring parameter kritis, serta pengendalian aktivitas personel. Penerapan rekomendasi ini diharapkan dapat meningkatkan keandalan kinerja AHU dan mencegah terulangnya ketidaksesuaian pada proses validasi berikutnya. Referensi