Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 Analisis Komunikasi Penyuluh KB dalam Meningkatkan Partisipasi Bina Keluarga Balita Kecamatan Danau Teluk Jambi Amin Usman 1 . Maielayuskha 2 muhaminusman6@gmail. com, yuskhamaiela@gmail. 1 Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Nurdin Hamzah Universitas 2 Program Studi Ilmu Komunikasi. Universitas Nurdin Hamzah Universitas ABSTRACT The communication strategy of family planning field instructors in increasing toddler family development (BKB) participation in Danau Teluk District. Jambi City, is motivated by the lack of understanding of cadres in conveying the BKB program, causing interest from the community in the BKB program to not be fully optimal. This study aims to determine the communication strategies used by family planning extension workers to cadres, and to find out the supporting and inhibiting factors of family planning extension workers' communication strategies to BKB cadres in Danau Teluk District. Jambi City. This research uses descriptive qualitative research methods, with data collection through observation and interviews which include primary and secondary data. The data analysis technique was carried out qualitatively with an interactive model developed by Matthew B. Miles, which includes the stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing or The results showed that the elements of communication strategy can be seen from the role of family planning extension officers, who function as communicators, educators, facilitators, mediators, and motivators. In addition, other communication elements include message, media, communicator, and effect. In this study, there are still aspects that have not been fulfilled, which can be seen from the effects produced by cadres who are still less than optimal in delivering the Family Planning Guidance (BKB) program, although supported by adequate facilities. The language factor is also an obstacle in delivering information, which has an impact on community interest in the BKB program. Article History Received, 2024-12-20 Revised, 2024-12-28 Accepted, 2024-12-30 Published, 2025-01-15 Keywords: Communication Strategy. Instructors. ABSTRAK Strategi komunikasi penyuluh lapangan Keluarga Berencana dalam meningkatkan partisipasi bina keluarga balita (BKB) di Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi, dilatarbelakangi oleh kurangnya pemahaman kader dalam menyampaikan program BKB menyebabkan minat dari masyarakat terhadap program BKB belum sepenuhnya optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan penyuluh KB kepada Kader, dan mengetahui faktor pendukung serta penghambat strategi komunikasi penyuluh KB terhadap kader BKB di Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara yang mencakup data primer dan data sekunder. Teknik analisis data dilakukan secara kualitatif dengan model interaktif yang dikembangkan oleh Matthew B. Miles, yang meliputi tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Koresponden Amin Usman @gmail. Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 elemen strategi komunikasi dapat dilihat dari peran petugas penyuluh Keluarga Berencana (KB), yang berfungsi sebagai komunikator, edukator, fasilitator, mediator, dan motivator. Selain itu, elemen komunikasi lainnya mencakup pesan, media, komunikan, dan efek. Dalam penelitian ini, masih terdapat aspek-aspek yang belum terpenuhi, yang terlihat dari efek yang dihasilkan oleh kader yang masih kurang optimal dalam menyampaikan program Bimbingan Keluarga Berencana (BKB), meskipun didukung oleh fasilitas yang memadai. Faktor bahasa juga menjadi penghambat dalam penyampaian informasi, yang berdampak pada minat masyarakat terhadap program BKB. Kata Kunci: KB. Strategi Komunikasi. Penyuluh. PENDAHULUAN Keluarga Berencana (KB) adalah salah satu program krusial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam konteks pengasuhan anak balita. Di Indonesia, angka kelahiran yang tinggi dan pertumbuhan populasi yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi penyuluh Keluarga Berencana. Berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tahun 2022, angka kelahiran di Indonesia mencapai 2,3 juta kelahiran per tahun, yang menunjukkan perlunya strategi komunikasi yang efektif dalam program KB (Nasional et al. , 2. Program Bina Keluarga Balita (BKB) merupakan inisiatif pemerintah yang dilaksanakan melalui BKKBN, bertujuan untuk mendukung keluarga, terutama para ibu, dalam upaya meningkatkan kualitas pengasuhan anak balita. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada orang tua mengenai metode pengasuhan yang efektif, serta membantu mereka memahami dinamika pertumbuhan dan perkembangan anak, sekaligus memberikan keterampilan yang diperlukan untuk memaksimalkan potensi anak. BKB dapat dipandang sebagai suatu "institusi" yang memberikan pemahaman kepada orang tua dan keluarga mengenai cara yang efektif dalam merawat anak, memahami kebutuhan anak sesuai dengan tahap perkembangan mereka, serta mendidik anak dengan pendekatan yang sesuai. Inisiatif ini sejalan dengan aspirasi pemerintah untuk membangun keluarga kecil yang harmonis dan makmur, dengan keyakinan bahwa melalui pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan kepada orang tua, anak-anak akan berkembang dengan kesehatan dan kecerdasan yang Secara teknis, program BKB dikelola oleh individu-individu terlatih yang berasal dari daerah masing-masing, yang dipilih berdasarkan evaluasi dari masyarakat setempat (Hibana. Tugas kader BKB meliputi penyuluhan, pengamatan perkembangan, pelayanan, serta motivasi kepada orang tua untuk merujuk anak yang menghadapi masalah dalam tumbuh Kader yang terlatih diharapkan mampu menyampaikan informasi melalui diskusi kelompok dan melakukan komunikasi interpersonal dengan masyarakat. Kader merupakan elemen kunci dalam pelaksanaan kegiatan di wilayah tersebut. Program ini telah berjalan selama 13 tahun dan mengalami fluktuasi dalam Walaupun tidak sepenuhnya luput dari dinamika politik, seperti pergeseran Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 departemen dan distribusi anggaran, program dan aktivitas tersebut tetap berjalan di berbagai wilayah di Indonesia dengan pengawasan dari BKKBN. Di Kecamatan Danau Teluk, sosialisasi program BKB telah dilakukan oleh Penyuluh KB, yang juga mengumpulkan informasi mengenai penggunaan alat kontrasepsi oleh orang tua, serta memberikan sosialisasi kepada orang tua yang belum menggunakan alat kontrasepsi. Sejak tahun 2004, kewenangan BKKBN telah beralih dari sentralistik menjadi otonomi daerah, yang membawa tantangan besar bagi program Keluarga Berencana (KB). Kesiapan kelembagaan di tingkat kabupaten/kota bervariasi, dan jumlah petugas KB di lapangan menurun drastis karena banyak yang beralih ke pekerjaan lain (Sudibyo, 2. Dalam konteks BKB, penyuluh Keluarga Berencana dihadapkan pada tugas untuk memberikan edukasi tentang pola asuh yang sehat, pemenuhan gizi anak, serta pentingnya perencanaan keluarga untuk kesejahteraan jangka panjang. Selain itu, penyuluhan KB dalam BKB juga harus memperhatikan faktor-faktor seperti kepercayaan masyarakat, kondisi ekonomi, tingkat pendidikan, dan akses terhadap informasi kesehatan. Hal ini memerlukan pendekatan komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga persuasif dan adaptif terhadap kebutuhan masing-masing individu atau keluarga. Program Bina Keluarga Balita (BKB) adalah salah satu inisiatif pemerintah yang dilaksanakan melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Inisiatif ini dirancang untuk mendukung pembentukan keluarga yang harmonis dan makmur. Metode yang dapat diterapkan adalah dengan memperdalam pemahaman ibu dan seluruh anggota keluarga mengenai prinsip-prinsip pengasuhan anak yang tepat serta memahami dinamika proses pertumbuhan dan perkembangan anak balita. Inisiatif ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan para ibu dan anggota keluarga dalam mendampingi perkembangan anak-anak mereka dengan lebih efektif. Di samping itu, program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orang tua dan keluarga mengenai signifikansi peran mereka dalam pendidikan anak, sehingga setiap keluarga dapat mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk membesarkan anak-anak mereka secara Penyuluh KB berperan penting sebagai penghubung antara pemerintah dan masyarakat dalam menyampaikan informasi mengenai Keluarga Berencana, pengasuhan anak, dan pola hidup sehat. Melalui komunikasi yang efektif, penyuluh dapat membangun pemahaman, mengubah sikap, dan mendorong masyarakat untuk menerapkan program KB dalam kehidupan sehari-hari. Penyuluh KB memiliki tanggung jawab utama dalam memberikan informasi yang akurat kepada keluarga mengenai pentingnya perencanaan keluarga dan pengasuhan anak, khususnya selama periode balita yang merupakan masa kritis dalam perkembangan anak. Strategi komunikasi yang efektif sangat penting untuk membantu penyuluh menyampaikan pesan-pesan terkait kesehatan reproduksi, penggunaan alat kontrasepsi, dan pola asuh yang baik. Dalam konteks ini, penyuluh berperan tidak hanya sebagai penyampai informasi, melainkan juga sebagai motivator dan fasilitator bagi keluarga. Penelitian oleh Sari menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang interaktif dan berbasis komunitas dapat Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 meningkatkan pemahaman masyarakat tentang program KB dan pengasuhan anak. Oleh karena itu, sangat krusial untuk merumuskan strategi komunikasi yang mampu menjangkau seluruh anggota keluarga dalam proses perencanaan dan pengasuhan anak (Sari, 2. Rogers (Cangara, 2. mendefinisikan strategi komunikasi sebagai rancangan yang dibuat untuk mengubah perilaku manusia secara luas melalui transfer ide-ide baru. Middleton (Cangara, 2. juga menyatakan bahwa strategi komunikasi adalah kombinasi terbaik dari semua elemen komunikasi, mulai dari komunikator, pesan, saluran . , penerima, hingga efek yang dirancang untuk mencapai tujuan komunikasi yang optimal. Strategi komunikasi memiliki tiga tujuan utama (Uchjana Effendy, 1. : a. Memastikan pemahaman pesan oleh komunikan, b. Membangun penerimaan pesan, c. Mendorong tindakan. Beberapa strategi komunikasi yang dapat diterapkan oleh Penyuluh KB termasuk sosialisasi langsung melalui tatap muka. Penelitian oleh Pratiwi . menunjukkan bahwa penyuluhan tatap muka dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program KB hingga Selain itu, penyuluhan juga dapat dilakukan melalui media sosial yang semakin berkembang, seperti WhatsApp. Facebook, dan YouTube, yang memiliki peran penting dalam proses penyuluhan. Rahmawati menunjukkan bahwa kampanye melalui media sosial dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan meningkatkan interaksi dengan masyarakat, terutama generasi muda (Rahmawati, 2. Pentingnya kolaborasi antara penyuluh KB dengan berbagai pihak juga tidak dapat Kerjasama dengan posyandu, puskesmas, dan lembaga pendidikan dapat memperkuat pesan yang disampaikan dan memberikan dukungan yang lebih komprehensif kepada orang tua. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Dewi, terlihat bahwa pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan bina keluarga balita di Desa Penarungan. Kabupaten Badung, berhasil meningkatkan partisipasi orang tua dalam program-program kesehatan anak (Dewi et al. , 2. Namun, meskipun program ini telah berjalan, masih terdapat berbagai tantangan dalam menyampaikan pesan yang tepat kepada masyarakat. Berbagai faktor seperti tingkat pendidikan, pemahaman budaya, dan keterbatasan akses informasi dapat menjadi penghambat dalam penerimaan informasi. Misalnya, kurangnya pemahaman orang tua mengenai pentingnya pendidikan kesehatan anak dapat menjadi penghambat. Penelitian oleh Wijayanti menunjukkan bahwa kendala-kendala dalam program bina keluarga balita di Sulawesi Utara terkait dengan rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya program tersebut (Wijayanti. Oleh karena itu, penyuluh KB harus mampu mengidentifikasi dan mengatasi kendala kendala ini melalui pendekatan komunikasi yang tepat. Penting untuk memahami metode komunikasi yang digunakan oleh konselor Keluarga Berencana dalam program pengembangan keluarga balita, beserta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan komunikasi mereka. Banyak rintangan yang dihadapi, termasuk penolakan masyarakat berdasarkan alasan agama atau etnis, di samping sikap pemimpin daerah yang menganggap program Keluarga Berencana mengurangi basis dukungan mereka. Tantangan lebih lanjut yang dihadapi adalah banyaknya individu yang tidak dapat Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 memperoleh layanan Keluarga Berencana karena keterpencilan fasilitas kesehatan, kendala keuangan, hambatan budaya, kurangnya kesadaran akan Keluarga Berencana, dan informasi yang tidak memadai mengenai inisiatif pemerintah. Masalah-masalah ini harus segera diselesaikan untuk menghindari hambatan terhadap keberhasilan program Keluarga Berencana. Program Keluarga Berencana memerlukan pemantauan berkelanjutan karena merupakan inisiatif pemerintah yang penting untuk mengatur peningkatan populasi agar sejalan dengan kemajuan di sektor lain. Pelaksanaan program Keluarga Berencana yang berhasil memerlukan dukungan dari berbagai pemangku kepentingan dan penerapan metodologi yang tepat. METODE PENELITIAN Metode penelitian dalam artikel ini memuat berbagai aspek metodologis seperti jenis penelitian, subjek dan objek penelitian, waktu dan lokasi penelitian, instrumen penelitian, teknik sampling, pengumpulan data, serta analisis data. Dalam artikel ini jenis peneltian dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Seperti yang dikemukakan oleh (Moleong, 1. , penelitian dengan pendekatan kualitatif menghasilkan data deskriptif yang berupa kata -kata tertulis atau berasal dari pengamatan terhadap individu yang diteliti. Pendekatan ini dipilih karena mampu menghasilkan data deskriptif berupa dokumentasi tertulis maupun hasil observasi terhadap perilaku manusia. Subjek dalam penelitian ini yaitu sumber data penelitian yang dapat berupa orang, benda, atau hal. Subjek penelitian juga bisa disebut informan atau narasumber. Peneliti menggunakan teknik snowball dalam proses penentuan informan, yang berhasil mengidentifikasi sembilan orang yang terdiri dari anggota panitia, personel PLKB, dan ibu rumah tangga. Dalam pengumpulan data penelitian, digunakan tiga metode, yaitu observasi langsung, wawancara mendalam, dan telaah dokumen terkait. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis dengan menerapkan model analisis interaktif yang merupakan pengembangan dari Milles dan Huberman sebagai kerangka analisis penelitian. Objek penelitian adalah masalah penelitian dimana fokus penelitian ini adalah mengkaji Strategi Komunikasi Penyuluh Keluarga Berencana dengan dua aspek utama yaitu peran fasilitator dan penyuluh dalam pendampingan program Masyarakat. Waktu penelitian dilakukan pada bulan Januari Ae April 2024 di Kecamatan Danau Teluk Jambi. HASIL DAN PEMBAHASAN Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) di Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi menggunakan strategi komunikasi khusus untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam Program Bina Keluarga Anak Usia Dini (BKB). Para penyuluh ini bertanggung jawab untuk memberikan penyuluhan, pelayanan, melakukan evaluasi, dan mengembangkan Program Keluarga Berencana di wilayah mereka. Program Keluarga Berencana menargetkan Pasangan Usia Subur (PUS) sebagai sasaran utama dalam kegiatan penyuluhannya. PUS yang dimaksud adalah pasangan suami istri Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 dengan istri berusia antara 15-49 tahun, mengingat kelompok ini memiliki potensi untuk mengalami kehamilan dan melahirkan. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, para Penyuluh KB (PKB) dituntut untuk dapat menyampaikan informasi yang lengkap dan memadai sehingga pasangan dapat merencanakan keluarga mereka dengan baik. Dalam pelaksanaannya, strategi komunikasi menjadi komponen penting yang diterapkan oleh para Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana untuk memberikan edukasi kepada PUS tentang program KB. Menurut penuturan Kepala Penyuluh Lapangan KB Kecamatan Danau Teluk, penerapan strategi komunikasi yang tepat sangat krusial untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan program di kalangan PUS, terutama mengingat banyak calon pengguna yang mengalami kesulitan dalam menerima program yang ditawarkan pemerintah. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan pendekatan komunikasi yang efektif dari petugas berwenang dalam menyampaikan informasi dan edukasi terkait program KB. Di Kecamatan Danau Teluk. Kota Jambi, penyampaian informasi tentang program KB dilakukan melalui beberapa tahap. Program diawali dengan rapat koordinasi di tingkat desa dan kecamatan, serta melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat. Setelah adanya penyerahan kewenangan, dilakukan upaya peningkatan koordinasi dari pusat ke lapangan serta membangun kembali komitmen dengan lembaga terkait. Agar program dapat berjalan lebih efektif, diperlukan strategi penyiapan melalui kerja sama antarlembaga di lapangan. Penyuluh KB menggunakan berbagai metode untuk berkomunikasi dengan masyarakat. Metode ini dapat berupa penyuluhan tatap muka, penggunaan media cetak, serta pemanfaatan teknologi informasi. Penyuluhan tatap muka sering kali menjadi pilihan utama karena memungkinkan interaksi langsung antara penyuluh dan masyarakat, sehingga dapat membangun kepercayaan dan pemahaman yang lebih baik. Penggunaan bahasa dan gaya komunikasi yang tepat sangat menentukan efektivitas Penyuluh Keluarga Berencana perlu memahami latar belakang budaya dan pendidikan masyarakat yang menjadi sasaran. Penggunaan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami akan membantu masyarakat dalam menyerap informasi yang disampaikan. Sebagai contoh, di daerah dengan tingkat pendidikan yang rendah, penyuluh perlu menggunakan istilah yang lebih umum dan menghindari jargon medis yang sulit dipahami. Menariknya, para Penyuluh KB melakukan sosialisasi mereka mengunakan bahasa daerah yang digunakan oleh masyarakat sekitar. Komunikasi yang digunakan adalah komunikasi dua arah, ketika Penyuluh KB melakukan sosialisasi, masyarakat langsung memberikan pendapat atau menanyakan permasalahan terkait dengan alat kontrasepsi, tidak sampai disitu saja. Penyuluh KB juga mengunakan media komunikasi berupa gambar yang dikreasikan dengan mengunakan nuansa khas daerah seberang yaitu pengerajin batik, yang mengandung pesan dan materi tentang program BKB. Pendekatan partisipatif yang melibatkan orang tua dalam diskusi kelompok juga terbukti Dalam program bina keluarga balita, penyuluh seringkali mengadakan sesi tanya jawab dan berbagi pengalaman di antara peserta. Hal ini menciptakan rasa saling percaya dan dukungan di antara orang tua, yang pada gilirannya dapat memperkuat penerapan pola asuh Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 yang baik di rumah (Islamiyah et al. , 2. Gaya komunikasi yang digunakan juga harus bersifat empatik dan inklusif. Penyuluh perlu membangun hubungan yang baik dengan masyarakat agar mereka merasa nyaman untuk bertanya dan berdiskusi. Pendekatan yang bersifat dialogis, di mana penyuluh mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam diskusi, dapat meningkatkan keterlibatan Misalnya, dalam sesi penyuluhan, penyuluh dapat mengajak orang tua untuk berbagi pengalaman dan tantangan dalam mengasuh anak balita. Hal ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga membangun komunitas yang saling mendukung. Kader Keluarga Berencana menggunakan berbagai metode komunikasi. Metode ini meliputi pemasangan poster, brosur, dan spanduk di lokasi-lokasi strategis yang mudah dijangkau oleh masyarakat. Masyarakat dilibatkan melalui lokakarya dan sesi konseling Tim kader memiliki keterbatasan sumber daya komunikasi. oleh karena itu, media ini bertujuan untuk meningkatkan dan memperkuat upaya sosialisasi mereka. Selain itu, media cetak seperti brosur dan pamflet merupakan strategi efektif untuk menjangkau masyarakat yang tidak dapat hadir dalam sesi penyuluhan. Data dari BKKBN menunjukkan bahwa distribusi media cetak di daerah pedesaan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya KB dan pengasuhan anak. Di era digital saat ini, pemanfaatan teknologi informasi, seperti media sosial dan aplikasi mobile, juga semakin penting. Media sosial yang digunakan seperti WhatsApp dan aplikasi yang digunakan salah satunya aplikasi Esimil. Keberhasilan kinerja Kader KB diukur melalui empat parameter utama. Pertama, kemampuan memberikan KIE/konseling KB yang meliputi kecakapan dalam mengeksplorasi kebutuhan klien, memaparkan informasi kontrasepsi secara komprehensif, mendampingi proses pengambilan keputusan, serta memberikan pendampingan selama dan pasca pelayanan KB. Kedua, kapasitas dalam membangun dan mengembangkan kelompok binaan, yang tercermin dari keberhasilan menggerakkan PUS untuk membentuk dan mengaktifkan kelompok "3 Bina" (Bina Keluarga Balita/BKB. Bina Keluarga Remaja/BKR, dan Bina Keluarga Lansia/BKL), serta menggalang dukungan tokoh masyarakat. Ketiga, akurasi dalam pelaksanaan pendataan, baik rutin maupun insidental, dengan pengisian format yang tepat dan penyelesaian tepat waktu. Keempat, kemampuan menjadi teladan dalam penerapan nilai-nilai KB, yang ditunjukkan melalui perencanaan keluarga dan penggunaan kontrasepsi yang baik. Meskipun demikian, program Kependudukan. Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) masih menghadapi berbagai tantangan dalam mencapai tingkat keberhasilan yang optimal. Hal ini terlihat dari beberapa indikator seperti pertumbuhan populasi yang terus meningkat, masih maraknya pernikahan usia dini, belum tercapainya target akseptor, serta rendahnya tingkat partisipasi keluarga dalam program-program pemberdayaan seperti Bina Keluarga Sejahtera (BKS) dan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). Kondisi ini mengindikasikan perlunya evaluasi dan penguatan strategi dalam implementasi program KKBPK secara menyeluruh. Kader KB memiliki beberapa tugas penting yang menjadi tolok ukur keberhasilan tugasnya. Pertama, mereka harus mampu memberikan penyuluhan dan edukasi KB yang baik, mulai dari mengetahui kebutuhan Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 masyarakat, menjelaskan kelebihan dan kekurangan alat kontrasepsi, membantu dalam pengambilan keputusan, hingga mendampingi masyarakat selama dan setelah menggunakan layanan KB. Kedua, mereka bertugas untuk membentuk dan membina kelompok binaan, termasuk membina kelompok BKB. BKR, dan BKL, memastikan keberlangsungan kegiatannya, dan melibatkan tokoh masyarakat untuk mendukung inisiatif tersebut. Konselor KB memiliki tugas kedua untuk membentuk dan membina kelompok binaan seperti Bina Keluarga Balita (BKB). Bina Keluarga Remaja (BKR), dan Bina Keluarga Lansia (BKL). Konselor KB harus memastikan kelompok tersebut tetap aktif dan mendapat dukungan dari tokoh masyarakat yang dikenal baik di masyarakat. Selain itu, konselor KB juga bertugas untuk melakukan pendataan, baik secara berkala maupun saat dibutuhkan. Meskipun indikator keberhasilan sudah jelas, pelaksanaan Program KKBPK belum mencapai hasil yang Hal ini dapat dilihat dari masih tingginya angka pertumbuhan penduduk dan pernikahan dini. Selain itu, target jumlah pengguna KB baru belum tercapai, dan masih sedikitnya keluarga yang mengikuti kegiatan BKS dan UPPKS. Pembinaan dimulai dari kegiatan rutin seperti penyuluhan dan konseling yang dilakukan oleh PKB dan Pos KB di lapangan, diikuti dengan komunikasi untuk mengetahui minat masyarakat dalam mendukung perekonomian mereka, serta keahlian dan minat akseptor. Pihak BPMPKB memberikan bantuan, seperti penyediaan modal. Seiring waktu, akseptor dapat menjadi individu yang lebih kompeten dan mandiri. Dengan pemberdayaan masyarakat seperti ini, masyarakat tidak hanya memahami program KB dalam konteks pengendalian pertumbuhan penduduk, tetapi juga dalam upaya meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Tingginya komitmen masyarakat terhadap aspek keagamaan seringkali menjadi penghalang bagi Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dalam melakukan pendekatan kepada Dalam konteks teori atribusi, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu faktor internal dan eksternal. Terkait dengan pemberdayaan masyarakat, perilaku PKB dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Berdasarkan wawancara dengan Mariana. Penyuluh KB Kecamatan Danau Teluk, terungkap bahwa kondisi kehidupan masyarakat di Danau Teluk masih tergolong rendah, baik dalam aspek keluarga maupun ekonomi. Rendahnya tingkat sosial ekonomi orang tua menjadi kendala bagi pendidikan, karena orang tua lebih memprioritaskan kebutuhan sehari-hari daripada pendidikan anak akibat keterbatasan Oleh karena itu. PKB perlu berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat agar kondisi keluarga menjadi lebih baik dan perekonomian meningkat, sehingga dapat terhindar dari kemiskinan. Peran pemerintah sangat besar dan koordinasi antar lembaga sangat penting dalam terlaksananya kegiatan ini. Beragam upaya telah dilakukan oleh instansi terkait di wilayah Seiring dengan otonomi daerah, pemerintah daerah harus meningkatkan peran dan komitmennya dalam mempercepat efektivitas pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB), khususnya dalam harmonisasi dengan instansi terkait mengenai evaluasi bersama, pedoman pelayanan, dan dukungan anggaran. Berbagai upaya yang dilakukan mencerminkan komitmen dalam kolaborasi penyuluhan KB, dengan tujuan untuk mengoptimalkan pelayanan KB dan Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 memastikan keberhasilan program KB. Program Keluarga Berencana berfokus pada Pasangan Usia Subur (PUS) sebagai audiens utama untuk inisiatif konseling. PUS yang dimaksud adalah pasangan suami istri yang mempunyai istri berusia 15 hingga 49 tahun karena kelompok ini berpotensi hamil dan melahirkan. Setiap kegiatan pasti menghadapi faktor-faktor penghambat. Faktor internal berasal dari diri orang tua . eserta BKB), seperti semangat, motivasi, dan kepercayaan diri. Sementara itu, faktor eksternal berasal dari luar diri orang tua, seperti kader BKB yang berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada peserta. Dukungan dari RT juga berperan penting dalam kelancaran kegiatan BKB, ditambah dengan dukungan dari kelurahan atau PKK yang selalu memantau perkembangan program. Namun, seringkali terdapat penolakan atau respon negatif yang dapat mengurangi semangat peserta BKB, terutama ketika mereka mencoba menerapkan materi baru. Hal ini sering terjadi karena anggota keluarga lain belum terbiasa dengan perubahan tersebut dan belum memahami tujuan dari program. Kesibukan orang tua, terutama ibu, dalam bekerja juga mengurangi waktu luang mereka untuk mengikuti kegiatan BKB. Selain itu, pola pikir masyarakat miskin yang sulit diubah menjadi tantangan tersendiri, dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi dan pendidikan yang minim. Kesulitan dalam pemberdayaan masyarakat serta penyampaian program sering kali disebabkan oleh pola pikir yang sulit diubah. Sebagai bagian dari lembaga masyarakat. Dinas Sosial memiliki tanggung jawab untuk memberdayakan masyarakat, salah satunya melalui perubahan pola pikir. Untuk mencapai perubahan tersebut, diperlukan komunikasi yang efektif yang disesuaikan dengan tingkat pengetahuan masyarakat. Sebagian besar orang tua yang berpartisipasi dalam BKB awalnya tidak memiliki pemahaman mengenai pola asuh, bahkan mereka tidak mengetahui definisi pola asuh itu sendiri. Namun, setelah mengikuti program BKB, mereka mulai memahami konsep pola asuh, cara menerapkan pola asuh yang baik dan benar, serta cara berkomunikasi yang efektif dengan anak dan pasangan . Dengan demikian, mereka dapat menerapkan pola asuh yang bijaksana dalam mendidik anak-anak mereka. Penyuluh KB perlu terus berinovasi dalam pendekatan mereka untuk memastikan bahwa informasi yang disampaikan dapat diterima dan diterapkan oleh orang tua dengan baik. Evaluasi merupakan bagian penting dalam setiap program penyuluhan Keluarga Berencana. Penyuluh perlu melakukan evaluasi untuk mengukur efektivitas strategi komunikasi yang telah diterapkan. Salah satu cara untuk melakukan evaluasi adalah dengan mengumpulkan umpan balik dari peserta penyuluhan. Kuesioner atau survei dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana masyarakat memahami informasi yang disampaikan, serta untuk mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Data dari survei dapat memberikan gambaran yang jelas tentang dampak penyuluhan dan membantu penyuluh dalam merumuskan strategi yang lebih baik di masa depan. Jurnal Komunikarya ISSN: 2549-4252. E-ISSN: Vol. 1 No. , 12-22 KESIMPULAN Dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan anak melalui program BKB, strategi komunikasi penyuluh KB memegang peranan yang sangat penting. Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikasi yang adaptif dan partisipatif dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam merawat anak. Hal ini sejalan dengan tujuan program BKB yang ingin menciptakan lingkungan yang sehat dan mendukung perkembangan anak. Pentingnya kolaborasi antara penyuluh KB dan berbagai pihak, seperti posyandu dan puskesmas, juga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan program. Dengan bekerja sama, informasi yang disampaikan dapat lebih komprehensif dan menjangkau lebih banyak Selain itu, penggunaan media komunikasi yang beragam, termasuk teknologi informasi, dapat membantu menjangkau kelompok masyarakat yang sulit diakses. Namun, tantangan dalam pelaksanaan strategi komunikasi tetap ada, terutama dalam hal aksesibilitas informasi. Oleh karena itu, penyuluh KB perlu terus berinovasi dan mencari cara untuk mengatasi kendala-kendala yang ada. Melalui pendekatan yang tepat, diharapkan program BKB dapat memberikan dampak yang positif bagi kesehatan dan perkembangan anak. Penyuluh KB disarankan untuk terus mengembangkan keterampilan komunikasi mereka dan memperkuat jaringan kerjasama dengan pihak-pihak terkait. Dengan demikian, program bina keluarga balita dapat berjalan dengan optimal dan memberikan manfaat yang maksimal bagi DAFTAR PUSTAKA