Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. PENGELOLAAN SAMPAH LAUT DAN KUALITAS LINGKUNGAN PERAIRAN HABITAT BANGGAI CARDINALFISH (Pterapogon kauderni Koumans, 1. DI TELUK LALONG. KABUPATEN BANGGAI. SULAWESI TENGAH Marine Debris Management and Environmental Quality in Banggai Cardinalfish (Pterapogon kauderni Koumans, 1. Habitat in Lalong Bay. Banggai Regency. Central Sulawesi Samliok Ndobe1*). Madinawati. Andi Heryanti Rukka. Roni Hermawan. Program Studi Akuakultur. Universitas Tadulako. Jl Soekarno-Hatta km. Palu. Sulawesi Tengah Program Studi Ilmu Kelautan. Universitas Tadulako. Jl Soekarno-Hatta km. Palu. Sulawesi Tengah Korespondensi: samndobe@yahoo. com dan samliok@untad. Received: 16 Agustus 2025. Received in revised form: 16 Oktober 2025. Accepted: 17 Oktober 2025 ABSTRAK Ikan capungan Banggai atau Banggai cardinalfish (BCF) memiliki habitat di perairan yang terlindung, seperti di Teluk Lalong. Kabupaten Banggai. Banggai cardinalfish berasosiasi dengan berbagai biota seperti bulu babi . erutama Diadema setosu. yang dekat dengan ekosistem karang, lamun dan kawasan mangrove. Tujuan penelitian adalah menganalisis cemaran sampah laut pada habitat Banggai cardinalfish di Teluk Lalong. Penelitian menggunakan metode sampling kuadrat . m x 2. dengan garis transek 20 m-30 m pada 4 titik lokasi penelitian. Berdasarkan analisa jenis sampah laut organik terdiri dari: kayu ukuran sedang, serpihan kayu, kelapa, sabut kelapa, daun dan bangkai ikan. Jenis sampah laut anorganik terdiri dari botol kaca, kaleng timah, bohlam lampu, popok bayi, botol oli, botol air mineral, gelas plastik, sendok plastik, sikat gigi, pelampung, plastik pembungkus, keranjang plastik, korek api, tali, jaring nelayan, sterofoam, sandal karet, ban dan serpihan plastik. Ratarata sampah pada Stasiun 1 jumlah 17 item/ m2, volume 0,13 m3, berat 1. 251 gr/m2. Stasiun 2 jumlah 16,75 item/ m2, volume 0,10 m3, berat 1. 157 gr/m2. Stasiun 3 jumlah 20,5 item/ m2, volume 0,04 m3, berat 2. 341 gr/ m2. Stasiun 4 jumlah 26. 3 item/ m2, volume 0,07 m3, berat 895 gr/ m2. Berdasarkan pengamatan pada titik lokasi di pelabuhan banyak ditemukan habitat ikan BCF yang terpapar sampah laut dikarenakan tingginya aktivitas masyarakat dan kurangnya kapasitas pengelolaan sampah. Kata Kunci: Habitat. Banggai cardinalfish. Pesisir. Sampah laut. Teluk Lalong ABSTRACT Banggai Cardinalfish (BCF) habitat is found in protected waters, such as Lalong Bay. Banggai Regency. Banggai cardinalfish are associated with various biota such as sea urchins . specially Diadema setosu. which live close to coral reef, seagrass and mangrove The aim of this research was to analyze marine debris contamination in Banggai cardinalfish habitat in Lalong Bay. This research used a quadrat sampling method . m x 2. along 20 m-30 m line transects at 4 research stations. Based on the analysis, organic marine debris types comprised: medium-sized pieces of wood, wood chips, coconuts, coconut husks. Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. leaves and fish carcasses. Inorganic marine debris types comprised glass bottles, tin cans, light bulbs, baby diapers, cooking oil bottles, mineral water bottles, plastic cups, plastic spoons, toothbrushes, buoys, plastic packaging, plastic baskets, lighters, ropes, fishing nets, styrofoam, rubber sandals, tires and other plastic debris. The average amount of debris was 17 items/m2, 13 m3, weight 1,251 gr/m2 at Station 1. 75 items/m2, volume 0. 10 m3, weight 1,157 gr/m2. at Station 2. 5 items/m2, volume 0. 04 m3, weight 2,341 gr/m2 at Station 3 26. items/m2, volume 0. 07 m3, weight 1,895 gr/m2 at Station 4. Based on observations at these stations in the port, much of the BCF fish habitat was found to be exposed to marine debris due to high levels of human activity and a lack of waste management capacity. Keywords: Habitat. Banggai cardinalfish. Coastal zone. Marine debris. Lalong Bay PENDAHULUAN (TPS) dan di lokasi bantaran sungai di kawasan permukiman penduduk (Walalangi et al. Ikan capungan Banggai memiliki habitat di perairan yang tertutup dan terlindung, seperti daerah teluk dan perairan dangkal. Ikan BCF akan berasosiasi dengan biota bentik . erutama Diadema setosu. , dan mencari perlindungan di sekitar ekosistem terumbu karang, lamun, dan mangrove (Ndobe et al. , 2. Arbi et al. Masalah sampah merupakan isu nasional bahkan global, seperti Kota Luwuk, masalah sampah belum terpecahkan. Beberapa faktor menyebabkan ketidakseimbangan dengan peningkatan volume sampah, ketersediaan lahan pembuangan yang terbatas, pemerintah manajemen sampah yang progresif, partisipasi masyarakat dalam mengelola sampah masih rendah, belum diterapkannya pemilahan sampah agar menjadi bahan yang lebih memiliki nilai (Schaduw et al. , 2021. Walalangi et al. , 2. Beban pesisir dan laut semakin bertambah berbanding lurus dengan jumlah penduduk dan aktivitasnya yang selalu meningkat (Neumann et al. , 2015. Halpern et , 2008. Lotze et al. , 2018. Barbier, 2015. Smith et al. , 2. Ujung dari sampah di daratan akan hanyut ke laut. Sampah-sampah masuk ke laut mengikuti arus laut disebut . arine debri. sampah laut. Sampah laut merupakan semua benda baik organik maupun anorganik berupa padatan yang dibuang atau terbuang dan berakhir di laut dan pesisir. Sampah laut terbawa dari daratan melalui sungai, drainase atau sistem pembuangan Meningkatnya pertambahan penduduk, laju konsumsi, perkembangan wilayah serta meningkatkan volume, jenis dan karakteristik sampah yang semakin tinggi ragamnya (Alshawa et al. , 2. Menurut Rata-rata per kapita per tahun 250,02 kg atau 0,68 kg per hari per kapita (KLHK, 2. Menurut data Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kabupaten Banggai . bahwa produksi sampah di Kota Luwuk rata-rata sebanyak 188, 18mA/hari, setara dengan 47 truk/hari . sumsi 4mA/tru. Karena keterbatasan alat angkut, maka volume sampah yang tidak bisa terangkut dan menumpuk di mana-mana dalam kota Luwuk sebesar 64, 18m3/hari. Angka ini setara dengan 16 dumptruck/hari. jika tidak ditangani sesegera mungkin, masalah ini dapat menjadi krusial dan menimbulkan dampak lebih luas. Sampah domestik dampak dari aktifitas masyarakat yang tidak terkelola dengan baik berkontribusi menyumbang sampah ke laut (Jambeck et al. , 2. Sampah yang berakhir di laut akan menggangu habitat ikan di laut (Katsanevakis, 2. , termasuk Banggai cardinalfish (BCF) Menurut Bassi et al. , volume dan keragaman sampah dapat menimbulkan berbagai efek negatif. Timbunan sampah di Kota Luwuk terkhusus di Teluk Lalong merupakan salah satu habitat Banggai cardinalfish (BCF) (Pterapogon kaudern. telah melampaui batasan kemampuan sarana pengelolaan sampah sehingga sampah tertumpuk di Tempat Penampungan Sementara Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. limbah hingga berakhir di laut (UNEP 2. Contoh umum sampah laut adalah plastik, ban, daun, tulang, karet, pakaian, kertas, bohlam, jaring, kayu, logam, kaca, dan sampah padat Tumpukan sampah pada lingkungan pendangkalan dan perubahan daerah aliran sungai, menururnkan kualitas air serta berdampak nyata terhadap kualitas perairan. Dampak panjangnya adalah menurunkan beraktivitas di dekat sungai (Rosado et al. Seif et al. , 2. Permasalahan pencemaran tersebut memerlukan kajian yang komprehensif terhadap pengelolaan sampah. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kepadatan, ukuran dan jenis pencemaran sampah laut di pesisir dan laut teluk Lalong dan menyusun rekomendasi tentang program pengelolaan teluk Lalong ke depan. Hal ini dikarenakan belum ada informasi ilmiah/ penelitian yang dilakukan tentang sampah laut dan karakteristik kualitas lingkungan perairan di Teluk Lalong Kota Luwuk. Menurut Walalangi et al. dan Wahyudin et al. , aktivitas antropogenik berkaitan dengan struktur sosial di pesisir yang sangat beragam membuat beban di wilayah ini sangat tinggi, sehingga memiliki kerentanan yang tinggi terhadap pencemaran. Teluk Lalong di Kota Luwuk merupakan habitat Banggai cardinalfish (BCF), yang telah ditetapkan sebagai ikon dan maskot ikan hias air laut Indonesia melalui Keputusan Menteri Kelautan Nomor 2 Tahun 2021 tentang Maskot Ikan Hias Nasional (Arbi et al. , 2. BCF telah dijadikan pula ikon wisata di Kota Luwuk. Untuk mengelola pencemaran, serta dampak sampah laut tersebut, diperlukan riset ilmiah tentang pengelolaan sampah yang ada di pesisir pantai Teluk Lalong. Kota Luwuk, khususnya di habitat BCF. keberadaan habitat Ikan Banggai Cardinalfish (BCF). Titik penelitian stasiun dapat dilihat pada Gambar 1. Penelitian dilaksanakan pada Agustus sampai September 2024. Pengamatan dilakukan dengan melakukan survei visual awal guna mengamati titik lokasi habitat ikan BCF dan tepapar sampah laut. Titik lokasi ditentukan berdasarkan keberadaan habitat ikan BCF dan sampah laut. Titik pengamatan mewakili 4 habitat BCF yang terdampak sampah laut. Stasiun 1 merupakan pelabuhan kapal penumpang Luwuk, stasiun 2 merupakan lokasi docking kapal, stasiun 3 merupakan lokasi wisata monument Teluk Lalong dan stasiun 4 merupakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong. Titik lokasi pengamatan kemudian ditandai dengan GPS. Dampak sosial, ekonomi dan penanganan sampah laut juga diamati pada sekitar titik pengamatan tersebut. Gambar 1. Peta lokasi penelitian di Teluk Lalong. Kabupaten Banggai. Sulawesi Tengah 2 Metode Pengambilan Data Data yang diambil dalam riset ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari instasi terkait dan studi pustaka. Data primer dikumpulkan dengan teknik purposive sampling melalui survei biofisik dan Survei biofisik dilakukan untuk mendapatkan komposisi dan kuantitas sampah laut di habitat ikan BCF. Wawancara juga digunakan sebagai metode sosioekonomi untuk memperoleh persepsi Masyarakat serta data mengenai aspek sosial, dan kebijakan pemerintah dalam pengelolaan sampah di Teluk Lalong dan Kota Luwuk. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Teluk Lalong. Kabupaten Banggai. Sulawesi Tengah. Penentuan titik lokasi pengamatan berdasarkan 3 Teknik Pengambilan Data Sampah Laut Sampah laut yang diamati merupakan sampah pada tepi pantai adalah sampah laut Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. yang terdampar di pantai atau pinggir pantai karena terbawa arus atau ombak air laut. Ukuran sampah yang diamati adalah sampah makro memiliki panjang antara >2. 5 cm hingga 1 m atau termasuk dalam ukuran sampah makro (Lippiatt et al. , 2013. Hermawan et al. , 2. Data sampah yang diambil mencakup jenis, bobot, jumlah dan volume sampah tersebut. Pengambilan sampel data sampah laut dengan metode transek garis (Gambar . Kuadrat dengan ukuran 2m x 2m dipasang pada garis transek sepanjang 20m hingga 30m di daerah intertidal pada saat air laut surut di setiap pengamatan (Ribic et al. , 1993. Walalangi et al. , 2. , ukuran kuadran digunakan 2m x 2m dikarenakan sampah laut yang diamati rata-rata merupakan sampah domestik rumah tangga yang berukuran tidak lebih dari 50cm. Seluruh sampah laut dalam setiap kuadran diambil dan dikumpulkan ke dalam karung atau kantong sampah. Sampah yang terlalu besar diamati di lapangan, selanjutnya diamankan dengan diikat atau dipindahkan ke lokasi pembuangan agar tidak terbawa arus ketika pasang. Gambar 2. Garis transek . dengan kuadrat 2m x 2m . pada setiap transek 4 Analisis Data Sampah Sampah laut yang telah dikumpulkan dari setiap kuadrat dibersihkan dan dipilah berdasarkan jenis. Untuk setiap jenis sampah dihitung jumlah, serpihan dan diukur berat . dan volume . (Hermawan et al. , 2017. Walalangi 2. Data sampah tersebut ditabulasi untuk analisa lanjutan. 6 Pengelolaan Sampah Laut oleh Masyarakat Pengambilan data dilakukan dengan wawancara terhadap penduduk yang menetap dan tinggal di sekitar Teluk Lalong. Wawancara masyarakat seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat, pemanfaatan ulang sampah laut, dan kegiatan masyarakat berkaitan 5 Kepadatan Serpihan Sampah Wawancara Kepadatan sampah dalam bentuk jumlah serpihan . tem/m ) dan berat . /m ) 3R P (Recycling. Reuse, dihitung dengan persamaan sebagai berikut Recovery Participant. (Coe dan Rogers 1. Kepadatan . umlah serpihan sampa. dalam Said . Data yang diperoleh Jumlah serpihan sampah dalam tiap kategori . dianalisis untuk melihat sejauh mana Luas area . 2 ) pendekatan tersebut. Kepadatan . erat sampa. Berat serpihan sampah dalam tiap kategori . Luas area . 2 ) Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. HASIL DAN PEMBAHASAN memilahnya (Gambar . Kegiatan GAM juga mencakup pemberian edukasi kepada Pengelolaan Sampah Laut oleh masyarakat agar menjaga lingkungan Teluk Masyarakat Lalong. Berdasarkan informasi dari LSM Tempat GAM Luwuk, sampah laut yang diangkat di penampungan sampah telah disediakan oleh sekitar Teluk Lalong berkisar 3 hingga 4 ton pemerintah daerah, sampah laut tiap bulan tergantung cuaca. membuang sampah pada tempatnya belum LSM GAM Luwuk mengumpulkan sampah terbentuk, dan pada setiap stasiun masih yang menepi dipinggir Teluk Lalong terdapat banyak sampah yang tidak dibuang dengan cara mengambil langsung setiap pada tempatnya. Hal ini menunjukkan hari dan dikumpulkan. Beberapa sampah bahwa masyarakat di sekitar Teluk Lalong plastik memiliki nilai ekonomis akan masih belum sepenuhnya memiliki langsung dibeli oleh pengepul dan dicatat kesadaran membuang sampah di tempat selanjutnya dibagi dengan anggota LSM. yang seharusnya, memilah sampah dan Jika curah hujan tinggi, maka sampah laut menggunakan kembali sampah dosmestik. akan meningkat drastis dikarenakan Terdapat lembaga swadaya masyarakat masukkan sampah yang tinggi dari sungaidi sekitar Teluk Lalong yang memiliki sungai di sekitar Teluk Lalong. Khusus kesadaran dan kepedulian tinggi terhadap sampah plastik, volume juga meningkat tiap habitat ikan BCF, dampak sampah domestik menurut LSM GAM Luwuk, dan sampah laut. LSM bernama GAM sampah plastik hingga 6 ton per tahun (Gabungan Aktivis Manthailob. Luwuk masuk ke perairan Teluk Lalong. terus melakukan kegiatan lingkungan dengan mengambil sampah laut dan Gambar 3. Kegiatan LSM GAM Luwuk dalam upaya mengurangi sampah laut Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. 2 Komposisi dan Kepadatan Sampah Laut komposisinya yaitu sampah anorganik dan di Tepi Teluk Lalong sampah organik. Sampah organik terdiri dari Sampah laut di Teluk Lalong berasal dari kayu, daundan kelapa. sampah domestik mengapung yang terbawa Nilai rata-rata kepadatan sampah dalam bentuk arus laut. Jenis sampah yang terdampar di jumlah serpihan . tem/m. menurut stasiun pinggir Teluk Lalong didominasi oleh sampah pengamatan tercantum pada Gambar 4. Volume domestik, hal ini terlihat dari jenis sampah dan berat rata-rata sampah laut per kuadrat . organik dan anorganik seperti pembungkus di setiap stasiun tercantum pada Gambar 5 dan makanan ringan, bangkai ikan, serpihan sayur. Hasil pemilahan berdasarkan jenis, sampah botol plastik yang masih terlihat baru dan laut organik terdiri dari: kayu sedang, serpihan berbagai jenis sampah domestik lainnya. kayu, kelapa, sabut kelapa, daun dan bangkai Sebagian besar sampah laut yang Jenis sampah laut anorganik terdiri dari terkumpul merupakan sampah padat yang botol kaca, kaleng timah, bohlam lampu, popok massa jenisnya lebih ringan daripada air laut, bayi, botol oli, botol air mineral, gelas plastik, sehingga sampah laut akan terapung dan sendok plastik, sikat gigi, pelampung, plastik bergerak mengikuti arus laut. Sampah laut pembungkus, keranjang plastik, korek api, tali, terdiri dari berbagai jenis dan bahan, sehingga jaring nelayan, sterofoam, sandal karet, ban dan dilakukan pemilahan dan dianalisis menurut serpihan plastik. Gambar 4. Kepadatan Rata-Rata Sampah Laut Menurut Stasiun . tem/m. Gambar 5. Rata-rata Volume Sampah Laut . per Kuadrat . di Setiap Stasiun Ndobe et al. /Barakuda 45 7 . , 217-225 e-ISSN : 2656-7474 DOI:https://doi. org/10. 47685/barakuda45. Gambar 6. Rata-rata Berat Sampah Laut . per Kuadrat . di Setiap Stasiun mikrohabitat akan menyebabkan BCF tidak selanjutnya akan mudah dimangsa oleh Menurunnya kualitas lingkungan termasuk mikrohabitatnya merupakan ancaman punahnya spesies ini. Jenis sampah laut organik terdiri dari: kayu sedang, serpihan kayu, kelapa, sabut kelapa, daun dan bangkai ikan. Jenis sampah laut anorganik terdiri dari botol kaca, kaleng timah, bohlam lampu, popok bayi, botol oli, botol air mineral, gelas plastik, sendok plastik, sikat gigi, pelampung, plastik pembungkus, keranjang plastik, korek api, tali, jaring nelayan, sterofoam, sandal karet, ban dan serpihan plastik. Berdasarkan hasil pengamatan di Teluk Lalong, di setiap stasiun survei maupun di sekitarnya ditemukan habitat ikan BCF yang terpapar sampah laut dikarenakan tingginya aktivitas masyarakat dan kurangnya kapasitas pengelolaan Dampak mengganggu perilaku dan microhabitat ikan secara umum, (Gall & Thompson, 2. termasuk BCF. Dampak sampah diduga dapat mengganggu tingkah laku BCF dan mikrohabitatnya . ulu babi, anemone dan terumbu karan. (Kiessling et al. , 2015. Teng et al. , 2021. Weideman et al. , 2. Terganggunya atau sampai hilangnya mikrohabitat akan menyebabkan BCF tidak selanjutnya akan mudah dimangsa oleh predator (Lilley, 2. Menurunnya mikrohabitatnya merupakan ancaman punahnya BCF (Ndobe et al. , 2019. Wiadnyana et al. , 2. Perlu adanya tindakan secepatnya terkait sampah laut di Teluk Lalong, dengan perhatian khusus terhadap habitat ikan BCF yang hampir seluruhnya telah terpapar sampah laut. DAFTAR PUSTAKA