Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Revitalisasi Pasar Tradisional di Indonesia: Studi Kasus Pasa Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta Yudhi Baghas Prakoso 1 . Andarita Rolalisasi2 1,2 Program Studi Arsitektur. Universitas 17 Agustus 1945. Surabaya. Indonesia Korespondensi Author: 1441900123@surel. untag-sby. id 1* , rolalisasi@untag-sby. Abstract: Traditional markets play a crucial role in Indonesia's economy and culture. However, over time, many traditional markets face challenges such as inadequate infrastructure, competition with modern markets, and changing consumer behavior. Revitalizing traditional markets becomes an essential strategy to enhance their competitiveness and ensure their continued existence. This study aims to analyze the revitalization of Pasar Ateh Bukittinggi and Pasar Prawirotaman Yogyakarta by examining the approaches employed, including physical interventions, management strategies, and their impact on traders and the local economy. A qualitative case study method was used, collecting data through literature reviews, documentation, and observation. The findings reveal that the revitalization of both markets has yielded positive outcomes, particularly in terms of infrastructure improvements, trader organization, and market aesthetics. However, some challenges remain, such as trader adaptation to new systems and competition with modern markets. This study concludes that traditional market revitalization should be conducted sustainably and holistically, involving all stakeholders to achieve optimal sustainability and impact. Keywords: revitalization, traditional market, pasa ateh, prawirotaman market, local economy Abstrak: Pasar tradisional memegang peran penting dalam perekonomian dan budaya Indonesia. Namun, seiring waktu, banyak pasar tradisional menghadapi tantangan seperti infrastruktur yang kurang memadai, persaingan dengan pasar modern, dan perubahan perilaku konsumen. Revitalisasi pasar tradisional menjadi sebuah strategi penting untuk meningkatkan daya saing dan mempertahankan eksistensi pasar tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis revitalisasi Pasar Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta dengan menelaah pendekatan yang digunakan, meliputi intervensi fisik, strategi pengelolaan, serta dampaknya terhadap pedagang dan perekonomian lokal. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus kualitatif dengan mengumpulkan data melalui studi literatur, dokumentasi, dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa revitalisasi kedua pasar tersebut telah memberikan dampak positif, terutama dalam hal peningkatan infrastruktur, penataan pedagang, dan estetika pasar. Namun, terdapat beberapa tantangan yang masih dihadapi, seperti penyesuaian pedagang terhadap sistem baru dan persaingan dengan pasar modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa revitalisasi pasar tradisional perlu dilakukan secara berkelanjutan dan holistik dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan untuk mencapai keberlanjutan dan dampak yang optimal. Kata Kunci: revitalisasi, pasar tradisional, pasa ateh, pasar prawirotaman, enonomi local PENDAHULUAN Pasar tradisional merupakan bagian integral dari perekonomian dan budaya Indonesia. Keberadaannya tidak hanya berfungsi sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan representasi kearifan lokal. Namun, perkembangan zaman dan munculnya pasar modern telah memberikan tantangan serius bagi eksistensi pasar tradisional. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Banyak pasar tradisional mengalami penurunan kualitas infrastruktur, sistem pengelolaan yang kurang efisien, dan kesulitan bersaing dengan pasar modern yang menawarkan kenyamanan dan kemudahan berbelanja. Kajian literatur terdahulu menunjukkan berbagai upaya revitalisasi pasar tradisional yang telah dilakukan di Indonesia. Beberapa penelitian fokus pada intervensi fisik, seperti ketidaksesuaian antara luas bangunan deangan luas lahan (Mufina N, 2. Studi lain menelaah aspek manajemen (Ella A. Andy W. Siswidiyanto, 2. , dan pemberdayaan pedagang (Andreina A, 2. Namun, belum banyak penelitian yang menganalisis secara komprehensif revitalisasi pasar tradisional dengan memperhatikan aspek kearifan lokal dan integrasinya dengan perkembangan kota. Kebaruan ilmiah dari artikel ini terletak pada analisis komprehensif revitalisasi Pasar Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta dengan menghubungkan intervensi fisik, strategi pengelolaan, dan dampaknya terhadap pedagang, perekonomian lokal, serta kearifan lokal masing- masing daerah. Permasalahan penelitian yang dikaji adalah bagaimana revitalisasi Pasar Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta dilakukan dan apa dampaknya terhadap pedagang dan perekonomian lokal? Tujuan kajian artikel ini adalah untuk: . Menganalisis pendekatan revitalisasi yang dilakukan di Pasar Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta, . Mengidentifikasi dampak revitalisasi terhadap pedagang dan perekonomian lokal, . Merumuskan rekomendasi untuk meningkatkan efektivitas revitalisasi pasar tradisional di Indonesia. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif. Studi kasus dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis secara mendalam revitalisasi dua pasar tradisional yang memiliki karakteristik dan konteks yang berbeda. Gambar 1. Tampak Bangunan (Sumber: Pribadi, 2. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Teknik Pengumpulan Data: Data dikumpulkan melalui 2 teknik, yaitu: Studi Literatur: Menelaah berbagai literatur yang relevan, seperti jurnal, buku, laporan penelitian, peraturan pemerintah, dan artikel berita, untuk memperoleh gambaran umum tentang revitalisasi pasar tradisional di Indonesia, khususnya Pasar Ateh dan Pasar Prawirotaman. Penelitian ini akan menelaah dokumen perencanaan revitalisasi, dan berita media massa terkait kedua pasar tersebut. Dokumentasi: Mengumpulkan dokumen-dokumen yang berkaitan dengan revitalisasi kedua pasar, seperti foto, gambar, video, laporan kemajuan proyek, dan dokumen Dokumentasi ini akan digunakan untuk melengkapi data dari studi literatur dan memberikan gambaran visual tentang kondisi pasar sebelum dan sesudah Teknik Analisis Data: Data yang telah dikumpulkan dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan teknik analisis tematik. Langkah-langkah analisis data meliputi: Reduksi Data: Memilih, memfokuskan, menyederhanakan, mengabstraksi, dan mentransformasi data mentah yang diperoleh dari studi literatur dan dokumentasi. Penyajian Data: Mengorganisasikan data yang telah direduksi dalam bentuk narasi, tabel, atau gambar agar lebih mudah dipahami. Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi: Menarik kesimpulan dari data yang telah disajikan dan memverifikasi kesimpulan tersebut dengan menghubungkannya dengan teori dan literatur yang relevan. Analisis ini akan berfokus pada kesesuaian pendekatan revitalisasi dengan karakteristik masing-masing pasar, dampak revitalisasi terhadap pedagang dan perekonomian lokal, serta upaya pelestarian kearifan lokal. HASIL DAN PEMBAHASAN Revitalisasi pasar tradisional merupakan upaya penting dalam mempertahankan eksistensi dan meningkatkan daya saing pasar tradisional di tengah gempuran pasar modern. Pasar Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta menjadi dua contoh menarik implementasi revitalisasi pasar tradisional di Indonesia, masing-masing dengan pendekatan dan fokus yang berbeda. Tampak bangunan Pasar Ateh Bukittinggi Gambar 2. Tampak Bangunan (Sumber: Kompas. com, 2. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 Revitalisasi Pasar Ateh Bukittinggi menitikberatkan pada pengembalian fungsi pasar pasca kebakaran, sekaligus meningkatkan daya tariknya sebagai destinasi wisata. Intervensi fisik yang dilakukan meliputi pembangunan gedung baru dengan arsitektur modern yang tetap mempertahankan elemen kearifan lokal Minangkabau. Penggunaan atap gonjong, ukiran khas Minangkabau, dan warna-warna yang mencerminkan budaya lokal menjadi bagian integral dari desain pasar. Strategi pengelolaan pasar juga diarahkan pada pemberdayaan pedagang lokal dengan memberikan prioritas kepada pedagang lama korban kebakaran. Dampak revitalisasi Pasar Ateh cukup signifikan. Infrastruktur pasar yang modern, bersih, dan tertata rapi meningkatkan kenyamanan berbelanja bagi pengunjung. Integrasi dengan objek wisata Jam Gadang juga berhasil menarik wisatawan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Namun, beberapa pedagang masih mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan sistem pengelolaan yang baru dan persaingan dengan pedagang di luar pasar. Tampak bangunan Pasar Prawirotaman Yogyakarta sebagai berikut: Gambar 3. Tampak Bangunan (Sumber: Arkadewi Tou. Revitalisasi Pasar Prawirotaman di Yogyakarta mengambil pendekatan yang berbeda, dengan fokus pada pengembangan ruang kreatif dan pemberdayaan ekonomi kreatif. Pasar ini direvitalisasi dengan menyediakan fasilitas modern seperti co-working space, studio foto, ruang musik, dan fasilitas pendukung lainnya yang relevan dengan industri kreatif. Strategi ini sejalan dengan karakter Prawirotaman sebagai pusat wisata dengan suasana seni dan budaya. Revitalisasi Pasar Prawirotaman berdampak positif dengan menyediakan ruang dan fasilitas bagi UMKM dan mendorong pertumbuhan industri kreatif di Yogyakarta. Konsep pasar yang bersih, modern, dan tertata rapi juga berhasil meningkatkan citra pasar tradisional. Namun, revitalisasi ini juga memunculkan tantangan. Beberapa pedagang tradisional merasa kurang terakomodasi karena adanya pergeseran fokus pasar yang lebih mengarah pada wisatawan dan ekonomi kreatif, sehingga kurang berpihak pada kebutuhan masyarakat lokal. Selain itu, kurangnya sosialisasi dan pendampingan kepada pedagang dalam memanfaatkan fasilitas baru juga menjadi kendala. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. Aspek ISSN: ISSN . : 2828-9234 Tabel 1. Perbandingan pendekatan revitalisasi dan dampaknya Pasa Ateh Bukittinggi Pasar Prawirotaman Yogyakarta Fokus Revitalisasi Pemulihan pasca bencana, integrasi dengan pariwisata, kearifan lokal Pengembangan ruang kreatif dan ekonomi kreatif Intervensi Fisik Pembangunan gedung baru dengan fasilitas modern . oworking space, studio, dll. Pembangunan gedung baru dengan arsitektur modern berbalut kearifan lokal . tap gonjong, ukiran, warn. Sumber: Pribadi 2024 Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. Aspek ISSN: ISSN . : 2828-9234 Pasa Ateh Bukittinggi Pasar Prawirotaman Yogyakarta Strategi Pengelolaan Pemberdayaan pedagang lokal, prioritas pedagang lama korban Pengembangan ekonomi kreatif, fokus pada Dampak Positif Peningkatan infrastruktur, peningkatan kunjungan wisatawan, pertumbuhan ekonomi lokal Tantangan Adaptasi pedagang dengan sistem baru, persaingan dengan pedagang luar pasar Dukungan bagi UMKM dan industri kreatif, peningkatan citra pasar Pergeseran fokus pasar, kurang masyarakat lokal Kedua pasar menunjukkan bahwa revitalisasi dapat disesuaikan dengan konteks lokal. Pasar Ateh berhasil mengintegrasikan pariwisata dan kearifan lokal untuk mendorong ekonomi, sementara Pasar Prawirotaman berfokus pada pemberdayaan ekonomi kreatif. Keduanya memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, namun juga menghadapi tantangan yang perlu diatasi dengan strategi yang tepat. Jurnal LingKAr (Lingkungan Arsitektu. Vol. 4 No. 1 Ae Maret 2025 DOI: 10. 37477/lkr. v%vi%i. ISSN: ISSN . : 2828-9234 KESIMPULAN Revitalisasi pasar tradisional di Indonesia menunjukkan hasil yang positif dalam meningkatkan kualitas infrastruktur, menata pedagang, dan mendorong perekonomian lokal. Studi kasus Pasar Ateh Bukittinggi dan Pasar Prawirotaman Yogyakarta menunjukkan bahwa pendekatan revitalisasi yang berbeda dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing pasar. Pendekatan yang mengintegrasikan kearifan lokal dan pariwisata, seperti di Pasar Ateh, berhasil menarik wisatawan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pengembangan ruang kreatif di Pasar Prawirotaman mendukung perkembangan UMKM dan industri kreatif. Namun, revitalisasi pasar tradisional juga menghadapi tantangan, terutama dalam hal adaptasi pedagang dengan sistem baru dan persaingan dengan pasar modern. Oleh karena itu, revitalisasi pasar tradisional perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pedagang, dan masyarakat. Pemerintah perlu memberikan pendampingan dan pelatihan kepada pedagang agar dapat beradaptasi dengan sistem baru dan meningkatkan daya saing. Selain itu, perlu dilakukan evaluasi dan monitoring secara berkala untuk mengukur efektivitas revitalisasi dan mengidentifikasi permasalahan yang timbul. DAFTAR PUSTAKA