J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Kejadian Infeksi Virus dan Hubungannya dengan Praktik Pemeliharaan Kucing Pasca Pandemi Covid-19 di Citrapet dan Vet Rizieq Alghiffari dan Tetty Barunawati Siagian* Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor-Jawa Barat *Corresponding Author: tettybarunawatisiagian@apps. Article Info Abstrak Article history: Received 02 Mei 2025 Received in revised form 04 Juli 2025 Accepted 04 Juli 2025 Tren yang terjadi selama pandemi bertahan hingga setelah pandemi Covid-19 dimana banyak masyarakat yang memelihara kucing. Populasi kucing makin meningkat pasca Pemilik kucing sudah kembali ke aktivitas semula dan kondisi ini berpengaruh terhadap praktik cara pemeliharaan kucingnya pasca pandemi. Tujuan dari penelitian ini yaitu menguraikan korelasi antara kejadian infeksi virus dengan praktik pemeliharaan DOI: kucing pasca pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan rekam medis pasien kucing https://doi. org/10. 32938/ja. yang datang ke Citrapet dan Vet dengan diagnosa virus serta 100 responden pemilik kucing Keywords: menggunakan kuisioner terstruktur. Kasus infeksi virus yang terjadi di Citrapet dan Vet Kucing termasuk dalam kategori kecil. sebesar 179 kasus dari 5. 343 kucing dengan presentase Pasca Pandemi 0,033%. Penyebab dari kasus infeksi virus yang termasuk dalam kategori kecil ini yaitu Praktik praktik pemeliharaan kucing yang dilakukan pemilik kucing di Citrapet dan Vet. Parameter Virus yang menjadi acuan diantaranya yaitu. vaksinasi, cara pemeliharaan, pemberian obat antiparasit, dan medical checkup. Hasil responden menunjukkan hampir seluruh pemilik kucing di Citrapet dan Vet mengerti cara melakukan praktik pemeliharaan kucing secara baik dan benar. Salah satu parameter acuan yaitu proses vaksinasi yang menunjukkan hasil bahwa 88% kucing yang datang ke Citrapet dan Vet sudah divaksinasi. Hal ini menunjukkan bahwa dengan dilakukannya vaksinasi dapat menurunkan kejadian infeksi Hasil perhitungan statistika menunjukan korelasi yang signifikan antara praktik pemeliharaan kucing dengan kejadian infeksi virus pada kucing peliharaan pasca pandemi. PENDAHULUAN Kucing adalah karnivora sejati dan hewan peliharaan favorit masyarakat karena memiliki sifat yang ramah, lucu, dan dapat mempererat hubungan dengan pemiliknya (Choirunisa et al. , 2021. Bengi et al. Menurut Santika . , menyatakan dalam responden rakuden insight menjelaskan Indonesia merupakan negara ke-1 dengan populasi kucing tertinggi yang dipelihara . ebanyak 47%) di Asia Tenggara. Populasi kucing yang tinggi mengakibatkan kucing sering ditemukan di area pemukiman penduduk, pasar, tempat pembuangan sampah, dan hidup liar (Qibtiyah et al. , 2. Padatnya populasi kucing di Indonesia mengakibatkan masalah global yaitu resiko timbulnya penyakit zoonosis (Rahmiati et al. , 2. Hewan kesayangan yang dipelihara oleh masyarakat dapat terinfeksi agen penyakit. Pemilik yang membiarkan hewan kesayangan keluar rumah sangat rentan terinfeksi agen patogen seperti virus, bakteri, ektoparasit, dan endoparasit (Siagian & Fikri, 2. Pemberian vaksin pada hewan kesayangan merupakan langkah preventif dan perlindungan dari infeksi agen penyakit tertentu (Stone et al. , 2. Penyakit viral adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan infeksius. Penyakit viral pada kucing dapat menganggu kesehatan diantaranya yaitu Feline calicivirus dan Feline panleukopenia (Truyen et al. , 2. Tren pemeliharaan kucing meningkat pada saat Covid-19. Pandemi merupakan kejadian penularan penyakit yang mengakibatkan seluruh masyarakat tetap berada di rumah sehingga untuk melepaskan kejenuhan, masyarakat mulai mempunyai hewan peliharaan dan pengetahuan mengenai pemeliharaan hewan peliharaan juga meningkat (Jezierski et al. , 2. Perubahan terkait praktik cara pemeliharaan kucing terjadi di masa pasca pandemi Covid-19. Perhatian yang kurang diberikan oleh pemilik mengakibatkan kucing kurang terawat, terabaikan, perubahan perilaku, dan mudah terserang penyakit (Weng & Ogata, 2. Perbandingan antara perawatan hewan kesayangan dengan kejadian penyakit sangat berhubungan dengan pengetahuan pemilik (Bolsrad, 2. MATERI DAN METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di klinik hewan Citrapet dan Vet Kota Bekasi pada tanggal 5 Agustus sampai 5 November 2024. Alat dan Bahan Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu handphone, kamera, laptop, buku, dan kuisoner berupa Google Form serta kucing. Metode Penelitian Penelitian ini terdiri dari Data yang dikumpulkan dalam penelitian berupa data primer dan sekunder. Data primer berupa data rekam medis, karakteristik, dan opini responden sebanyak 100 orang, serta kasus infeksi virus pada kucing di Citrapet dan Vet dari tahun 2023 Ae 2024. Alghiffari R & T. Siagian. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Prosedur Penelitian Persiapan: - Penyusunan Kuesioner - Pengumpulan Data:Pengisian kuesinoner oleh pemilik kuing akan diwawancara mengenai praktik pemeliharaan sebelumdan sesudah pandemi. Pengujian Laboratorium pengujian Laboratorium dilakukan denga pengambilan sampel Kucing untuk dilakukan pemeriksaan Variabel Penelitian Variabel penelitian terdiri dari: Kejadian infeksi virus pada Kucing Karakteristik Responden Pengetahuan Pemilik Kucing terhadap perawatan harian dan pencegahan infeksi virus di Citrapet dan Vet. Hubungan Antara Praktik Pemeliharaan Kucing Dengan Kejadian Infeksi Virus Pada Kucing di Citrapet dan Vet. Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software SPSS dengan metode statistika chi square untuk melihat adanya hubungan yang signifikan antara kejadian infeksi virus dan metode pemeliharaan yang dilakukan oleh pemilik kucing di Citrapet dan Vet. HASIL DAN PEMBAHASAN Kejadian Infeksi Virus Pada Kucing di Citrapet dan Vet Kejadian Infeksi Virus Pada Kucing di Citrapet dan Vet setelah pandemi Civid-19 (Periode Juni 2023Juli 2. tertera pada tabel Tabel 1. Tabel 1. Kejadian infeksi virus pada kucing yang datang ke Citrapet dan Vet setelah Pandemi Covid-19 (Periode Juli 2023 - Juli 2. Periode Kucing Infeksi Virus (Eko. Feline Panleukopenia Feline Immunodefficiency Feline infectious Feline Virus Virus Corona Virus Juli Agustus September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Total Prevalensi (%) 0,033 Sumber: Citrapet dan Vet . 0,024 0,0024 0,0058 0,0011 Prevalensi kejadian infeksi virus pada kucing di klinik Citrapet dan Vet termasuk dalam kategori kecil yaitu sebesar 179 kasus dengan prevalensi 0,033% bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Menurut Azzahra . , prevalensi infeksi Feline panleukopenia virus yang terjadi di Bogor pada tahun 2023 yaitu 16,3%. Nilai prevalensi tersebut termasuk ke dalam kategori sedang karena nilai prevalensi di atas >10% (Liu et al. , 2. Nilai prevalensi tersebut dikategorikan kecil karena prevalensi <10% (Amoroso et al. Faktor yang mempengaruhi prevalensi tersebut dikarenakan kesadaran pemilik kucing untuk memvaksinasi kucing peliharaanya. Akibatnya, kucing peliharaan memiliki kekebalan terhadap infeksi Alghiffari R & T. Siagian. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Hal ini sesuai dengan pendapat Putri et al. , . dan Baroroh . yang menyatakan vaksinasi pada kucing sangat penting sebagai pencegahan awal terhadap virus. Karakteristik Reponden Karakteristik responden di Citraper dan Vet tertera pada Tabel 2. Tabel 2. Karakteristik responden di Citrapet dan Vet. Variabel yang Diamati Frekuensi . Jenis Kelamin Pria Wanita Persentase (%) Usia >50 Tahun Lama Pemeliharaan Kucing . 0 Ae 6 bulan 7 Ae 12 bulan 13 Ae 18 bulan 19 Ae 24 bulan 25 Ae 31 bulan > 31 bulan Ras Kucing yang di Pelihara Domestik Mix Persian Ras Lain Sumber: Citrapet dan Vet . Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin ditunjukkan pada Tabel 2 didominasi oleh wanita dibandingkan pria. Pemilik kucing banyak didominasi wanita karena wanita lebih peduli dan memiliki skor lebih tinggi dalam kedekatan emosional dengan memelihara kucing dibandingkan dengan pria. Hal sesuai dengan pernyataan Pellon et al. , . bahwa wanita memiliki lebih banyak waktu luang untuk memelihara kucing sebagai hewan peliharaan . erutama wanita yang hidup di kot. Karakteristik responden berdasarkan usia ditunjukkan pada Tabel 2 dengan hasil responden didominasi oleh kelompok umur 41-50 tahun. Kelompok umur 41-50 tahun merupakan kelompok umur yang sudah mencapai puncak karier dan memiliki pendapatan yang stabil (Parker et al. , 2. Memelihara hewan peliharaan memerlukan biaya dan tanggung jawab pemilik demi memenuhi kesejahteraan hewan terutama hewan kesayangan (Fajri et al. , 2. Karakteristik responden berdasarkan lama pemeliharaan kucing ditampilkan pada Tabel 1 dengan hasil responden terbanyak yaitu pemeliharaan kucing lebih dari 31 bulan. Pemilik kucing yang memelihara kucing dalam jangka waktu yang lebih banyak memiliki berpengalaman dan pengetahuan yang lebih baik, tentunya berpengaruh terhadap praktik pemeliharaan kucingnya. Pemilik dengan waktu memelihara yang lebih lama akan lebih memahami perilaku kucing, praktik pemeliharan kucing, dan memenuhi kebutuhan kesejahteraan hewan (Parker et al. , 2. Karakteristik responden berdasarkan ras kucing yang dipelihara ditunjukkan pada Tabel 1 dengan hasil responden didominasi oleh ras kucing domestik dengan persentase 60%. Ras kucing lainnya diantaranya yaitu british short hair, maine coon, sphynx, scottish fold, bengal, ragdoll, dan anggora. Kucing memiliki ras yang beragam dan setiap ras memiliki keunikannya. Kucing domestik lebih digemari dibandingkan ras lainnya. Pemilik kucing lebih memilih kucing domestik yang dipelihara karena perawatan yang lebih ekonomis dan adanya rasa kasihan. Kucing domestik hidup liar sehingga pemilik kucing lebih memilih untuk mengadopsinya (Legge et al. , 2. Pemilik yang mempunyai rasa peduli tinggi lebih memilih memelihara kucing domestik (Finka, 2. Pengetahuan Pemilik Kucing Terhadap Perawatan Harian dan Pencegahan Infeksi Virus Di Citrapet dan Vet Pengetahuan Pemilik Kucing Terhadap Perawatan Harian dan Pencegahan Infeksi Virus Di Citrapet dan Vet tertera pada Tabel 3. Alghiffari R & T. Siagian. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Tabel 3. Pengetahuan pemilik kucing yang datang ke Citrapet dan Vet. Variabel yang Diamati Frekuensi . Cara Pemeliharaan Tidak dikandangkan dan dilepasliarkan di luar rumah. Tidak dikandangkan dan dilepasliarkan di dalam rumah. Dikandangkan dan tidak dilepasliarkan di luar atau di dalam rumah. Vaksinasi Sudah Belum Tidak Tahu Persentase (%) Pemberian Obat Cacing Sudah Belum Tidak tahu Pemberian Obat Kutu Sudah Belum Tidak Tahu Medical check up ke dokter hewan untuk pertama kali sebelum dipelihara. Tidak Tidak tahu Rutin melakukan medical check up 6 bulan sekali. Tidak Vaksin yang Diberikan Vaksin Tri Cat (Panleukopenia virus. Rhinotracheitis virus. Calicivirus dan Chlymadi. Vaksin Four Cat (Panlukopenia virus. Rhinotracheitis virus. Calicivirus, dan Chlamydi. Vaksin Rabies Vaksin Tahunan (Rabies dan Four Ca. Kapan anda membawa kucing ke klinik hewan. Saat Sakit Ringan Saat Sakit Parah Vaksinasi Grooming Pet Hotel Lainnya Sumber: Diolah dari sumber primer . Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada Tabel 3 menunjukkan cara pemeliharaan yang sering diterapkan oleh pemilik pada kucingnya yaitu tidak dikandangkan dan dilepasliarkan di dalam rumah dengan persentase 89%. Kucing tidak dikandangkan dan dilepasliarkan di dalam rumah karena pemilik ingin selalu berinteraksi dengan kucing peliharaanya dan kucing lebih bersih bila dilepaskan secara indoor dibandingkan outdoor. Pernyataan ini sejalan dengan pendapat Gaudreault et al. bahwa kucing yang dipelihara di indoor lebih sehat dibandingkan dengan di outdoor. Pemeliharaan ini merupakan salah satu cara mencegah kucing terinfeksi agen patogen diantaranya parasit, bakteri, jamur, dan virus. Status vaksinasi berdasarkan opini responden (Tabel . menunjukkan 80% kucing peliharaan telah Hal ini menunjukkan kebanyakan responden menyadari pentingnya vaksin pada kucingnya. Menurut Filipe et al. , vaksinasi adalah langkah pencegahan paling efektif terhadap penyakit menular seperti feline panleukopenia, calicivirus, dan herpesvirus. Alghiffari R & T. Siagian. / Journal of Animal Science 10 . J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Pemberian obat cacing dan obat kutu sangat penting dalam mencegah terjadinya infeksi yang diakibatkan oleh parasit (Otranto et al. , 2. Penerapan pemberian obat cacing dan obat kutu pada kucing diperlukan pengulangan 3 bulan sekali yang bertujuan untuk memastikan perlindungan maksimal terhadap infeksi cacing (Wright, 2021. Lavan et al. , 2. Berdasarkan opini responden yang ditunjukan pada Tabel 3, kucing yang sudah diberikan obat cacing sebanyak 80% kucing, kucing yang sudah diberikan obat kutu sebanyak 70%, kucing yang belum diberikan obat kutu sebanyak 20%, dan pemilik yang ragu kucingnya sudah diberikan obat kutu sejumlah 10%. Hal ini menunjukkan bahwa pemilik memiliki pengetahuan dan kesadaran yang tinggi untuk melakukan perawatan kesehatan pada kucingnya dengan melakukan pemberian obat cacing . %) dan obat kutu . %). Menurut Weidinger et al. , . , kucing yang diberikan obat cacing dan obat kutu secara rutin terhindar dari infeksi parasit yang merugikan kucing dan menyebabkan penurunaan kesehatan. Kucing yang bebas dari infeksi parasit akan memiliki kulit dan rambut yang sehat, aktivitas harian meningkat, dan body condition score yang baik (Siagian et al. , 2. Berdasarkan opini responden (Tabel . menunjukkan hanya 45% pemilik kucing yang melakukan medical check up pertama sebelum memutuskan untuk dipelihara di rumah. Hal ini menunjukkan belum semua pemilik paham akan pentingnya medical check up pertama kali saat memutuskan memelihara kucing. Kucing yang akan dipelihara oleh calon pemilik kucing berasal dari lingkungan sekitar . sehingga medical check up sebelum dipelihara sangat penting untuk dilakukan (Hafid et al. , 2. Menurut Siagian et al. , medical check up pertama bertujuan untuk mengetahui status kesehatan secara umum, pemeriksaan penyakit menular . dan tidak menular, serta pemberian vitamin. Hasil informasi responden, sebanyak 70% pemilik kucing telah melakukan medical check up rutin setiap 6 bulan. Alasannya, pemilik ingin memberikan obat anti parasit dan vaksinasi ulang. Berdasarkan alasan tersebut terlihat bahwa pemilik belum menyadari penting medical check up rutin setiap 6 bulan. Menurut Siagian et al. , . , medical check up rutin setiap 6 bulan bertujuan untuk mengetahui status kesehatan kucing secara umum sehingga dapat diketahui jika terdapat penyakit lain yang tidak menunjukkan gejala klinis. Medical check up rutin setiap 6 bulan merupakan tindakan preventif berupa pemberian obat cacing, pemberian obat kutu, dan gejala penyakit yang sering dialami (Jitsamai et al. , 2. Pendapat responden tentang tujuan pemilik kucing ke klinik hewan yaitu 44% membawa kucing saat sakit ringan, 27% membawa kucing untuk divaksinasi, 12% pada saat kucing sakit parah, 10% lainnya yaitu rescue kucing, steril kucing, tidak bisa urinasi, dan kurangnya nafsu makan. Alasan pemilik membawa kucingnya dengan kondisi sakit ringan dikarenakan pemilik kucing khawatir dengan kondisi kucing Hal ini sesuai dengan pendapat Mortier et al. , . , pemilik yang membawa kucingnya ke klinik hewan menunjukkan bahwa pemilik sudah mengetahui manfaat dari tindakan yang dilakukan. Pendapat ini sejalan dengan pernyataan Elliot et al. , . bahwa pemilik yang membawa kucingnya ke klinik hewan menunjukkan rasa peduli dari pemilik pada kucingnya. Hubungan Antara Praktik Pemeliharaan Kucing Dengan Kejadian Infeksi Virus Pada Kucing di Citrapet dan Vet Hubungan Antara Praktik Pemeliharaan Kucing Dengan Kejadian Infeksi Virus Pada Kucing di Citrapet dan Vet tertera pada Tabel 4. Tabel 4. Hubungan praktik pemeliharaan kucing dengan kejadian infeksi virus. Parameter Hubungan Praktik Pemeliharaan Kucing Dengan Kejadian Infeksi Virus Frekuensi (N) Persentase (%) Status Vaksinasi Sudah Belum Lama Pemeliharaan Kucing 0 Ae 6 bulan 7 Ae 12 bulan 13 Ae 18 bulan 19 Ae 24 bulan 25 Ae 31 bulan > 31 bulan Cara Pemeliharaan Tidak dikandangkan dan dilepasliarkan di luar rumah. Tidak dikandangkan dan dilepasliarkan di dalam rumah. Dikandangkan dan tidak dilepasliarkan di luar atau di dalam Alghiffari R & T. Siagian. / Journal of Animal Science 10 . 97-103 p-value (< 0. J A S 10 . Journal of Animal Science International Standard of Serial Number 2502-1869 Pemberian Obat Cacing Sudah Belum Pemberian Obat Kutu Sudah Belum Rutin melakukan medical checkup 6 bulan sekali. Tidak Keterangan: * P value < 0,05. adanya hubungan signifikan. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pengetahuan pemilik kucing terkait praktik pemeliharaan kucingnya dengan kejadian infeksi virus. Terbukti dari hasil perhitungan statistika uji chi square yang menyatakan bahwa adanya korelasi yang signifikan antara tingkat pengetahuan pemilik kucing terkait praktik pemeliharaan kucingnya dengan kejadian infeksi virus. PUSTAKA