ABDIRA Volume 5 Nomor 4 Tahun 2025 Halaman 164-171 JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Research & Learning in Faculty of Education ISSN: 2798-0847 (Printe. 2798-4591 (Onlin. Edukasi Kreatif Pengolahan Limbah Botol menjadi Pot Bunga sebagai Upaya Peningkatan Kesadaran Lingkungan di SDN Jari 2 Yulia Indriani1. Tahta Tribuana Tunggal Dewi2. Chairissa Bilqinaristi3. Hany Ica Ainnurochimah4. Tiara Rizqy Lukita Cahyani5 Program Studi Teknik Sipil. Universitas Bojonegoro1,3,4 Program Studi Administrasi Publik. Universitas Bojonegoro2,5 e-mail: razkaaulian9@gmail. Abstrak Permasalahan limbah botol plastik merupakan isu lingkungan yang semakin mendesak, terutama akibat rendahnya kesadaran masyarakat, termasuk di kalangan siswa sekolah dasar. Kurangnya edukasi mengenai pengelolaan sampah turut memperparah kondisi tersebut. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan kreatif kepada siswa SDN 2 Jari dalam mengolah limbah botol plastik menjadi pot bunga yang bermanfaat. Metode pelaksanaan meliputi sosialisasi, pelatihan, dan praktik langsung, yang dirancang dengan pendekatan partisipatif dan edukatif. Hasil kegiatan menunjukkan antusiasme tinggi dari siswa dan guru, peningkatan pemahaman siswa tentang pentingnya daur ulang, serta terciptanya perubahan positif pada lingkungan sekolah. Pot bunga hasil karya siswa tidak hanya menjadi simbol kreativitas, tetapi juga sarana edukatif yang memperkuat nilai-nilai peduli Kata Kunci: Limbah Botol Plastik. Pot Bunga. Kreativitas. Edukasi Lingkungan. Abstract The issue of plastic bottle waste has become an increasingly urgent environmental concern, particularly due to the low awareness among the general public, including elementary school students. The lack of education on waste management worsens this condition. This community service activity aims to provide education and creative training for students of SDN 2 Jari in processing plastic bottle waste into useful flower pots. The implementation methods include socialization, training, and hands-on practice, all designed using a participatory and educational approach. The results of the activity show high enthusiasm from students and teachers, improved student understanding of the importance of recycling, and positive changes in the school environment. The student-created flower pots serve not only as a symbol of creativity but also as an educational tool to strengthen environmental awareness values. Kata Kunci: Plastic Bottle Waste. Flower Pot. Creativity. Environmental Education. Elementary School PENDAHULUAN Limbah plastik merupakan salah satu permasalahan lingkungan terbesar yang dihadapi dunia saat ini. Salah satu jenis limbah yang paling sering ditemukan adalah botol plastik sekali pakai. Botol plastik membutuhkan waktu Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 4 Tahun 2025 ratusan tahun untuk terurai secara alami di lingkungan, dan apabila tidak dikelola dengan baik, dapat mencemari tanah, air, serta membahayakan ekosistem (Astuti, 2022. Hidafturahmah & Nizaar, 2. Di Indonesia, volume sampah plastik terus meningkat setiap tahunnya, sementara kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah masih tergolong rendah (Yamani. Kondisi ini juga terlihat di lingkungan sekolah, di mana siswa sekolah dasar sering kali belum memiliki pemahaman yang cukup mengenai pentingnya memilah dan mengelola sampah, khususnya limbah plastik. Padahal, pendidikan sejak dini sangat penting untuk membentuk karakter yang peduli terhadap lingkungan (Lestari et al. , 2022. Najicha & Akbar, 2. Oleh karena itu, diperlukan upaya konkret untuk mengedukasi anak-anak tentang pengelolaan sampah melalui pendekatan yang menyenangkan dan kreatif (Sulistiyani, 2. Kegiatan edukasi kreatif ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran lingkungan siswa melalui pelatihan dan praktik langsung pengolahan limbah botol plastik menjadi pot bunga. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman tentang dampak negatif limbah plastik terhadap lingkungan, menanamkan nilai tanggung jawab lingkungan sejak usia dini, serta mengembangkan kreativitas siswa dalam memanfaatkan barang bekas (Zulfar et , 2024. HalimatussaAodiyah & Jamaludin, 2. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih bersih, hijau, dan estetik (Handayani & Ramadhan, 2. Manfaat dari kegiatan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga oleh guru dan lingkungan sekolah secara Diharapkan melalui kegiatan ini dapat tercipta kebiasaan positif dalam pengelolaan sampah serta munculnya budaya kreatif dan peduli lingkungan di lingkungan sekolah (Pinesty et al. , 2. Sekolah dasar memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai konservasi kepada peserta didik. Sebagai lembaga pendidikan formal pertama yang membentuk karakter dan kebiasaan siswa, sekolah dasar dapat menginternalisasi nilai-nilai seperti menjaga kebersihan, menghargai lingkungan, dan mengurangi limbah melalui kegiatan pembelajaran yang aplikatif dan menyenangkan (Amal Ilmiah UHO, 2024. Penulis, 2. Dengan melibatkan siswa dalam kegiatan daur ulang, sekolah tidak hanya memberikan pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman langsung yang membentuk sikap dan perilaku ramah lingkungan (Maerani et al. , 2. Proses ini sangat penting untuk memperkuat karakter anak agar lebih peduli terhadap kondisi alam di Kegiatan pengabdian ini memiliki signifikansi besar dalam upaya pembentukan karakter peduli lingkungan. Pendekatan edukatif dan kreatif yang diterapkan dalam kegiatan ini mengajak siswa untuk mengenal permasalahan lingkungan di sekitar mereka serta dilatih untuk menjadi bagian dari solusi (Najicha & Akbar, 2. Melalui proses pembelajaran yang partisipatif dan menyenangkan, siswa dapat lebih mudah membangun kesadaran serta tanggung jawab ekologis. Lebih dari sekadar menghasilkan pot bunga dari botol bekas. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 4 Tahun 2025 kegiatan ini merupakan bentuk penguatan pendidikan karakter yang berorientasi pada kepedulian sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kemandirian (Zulfar et al. , 2. Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat terus dilanjutkan dan dikembangkan sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran tematik di sekolah dasar. Selain aspek lingkungan, kegiatan pengolahan limbah botol plastik ini juga memiliki nilai ekonomi dan estetika. Produk daur ulang seperti pot bunga dapat dijadikan sebagai media tanam untuk program penghijauan kelas atau taman sekolah, sekaligus melatih jiwa kewirausahaan siswa sejak dini (Amrina et , 2. Siswa dapat melihat bahwa sampah tidak selalu identik dengan sesuatu yang kotor dan tidak berguna, melainkan dapat menjadi sesuatu yang bernilai ketika dikelola dengan baik. Hal ini mendukung tujuan pendidikan abad ke-21 yang menekankan pada pengembangan kreativitas, berpikir kritis, dan keterampilan hidup (Pertiwi & Pramudita, 2. Di sisi lain, keterlibatan guru dan orang tua sangat penting untuk menjaga keberlanjutan program seperti ini. Peran guru tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai teladan dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan di sekolah. Sementara itu, orang tua diharapkan dapat memperkuat pembiasaan tersebut di rumah, sehingga pendidikan karakter yang diterima siswa menjadi konsisten dan berkelanjutan (Setyowati et al. , 2. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga beretika dan peduli terhadap lingkungan hidup. METODE Kegiatan kreativitas pengolahan limbah galon bekas dilaksanakan pada tanggal 1 Agustus 2025 di SDN Jari 2. Desa Jari. Kecamatan Gondang. Kabupaten Bojonegoro. Jawa Timur. Kegiatan ini diawali dengan tahap pra-kegiatan yang mencakup survei kebutuhan media, observasi lingkungan sekolah, serta koordinasi dengan guru dan siswa kelas 4, 5, dan 6. Tim KKN menyiapkan alat dan bahan seperti galon bekas, cat, kuas, karton bekas, dan tanaman hias Tahap awal ini penting untuk memastikan kegiatan dapat berjalan efektif dan sesuai dengan kondisi lokal (Sari & Prabowo, 2. Tahap pelaksanaan dimulai dengan proses daur ulang galon bekas menjadi pot tanaman. Siswa diajak mewarnai galon sesuai dengan desain karakter yang mereka sukai, melatih kreativitas serta keterampilan motorik Setelah selesai dihias, setiap siswa menanam tanaman hias seperti lidah mertua dan sirih gading ke dalam pot buatannya. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan konsep daur ulang, tetapi juga menanamkan tanggung jawab dalam merawat makhluk hidup. Tim KKN mendampingi dan membimbing proses secara langsung, sehingga terjadi interaksi edukatif yang menyenangkan dan bermakna (Putri et al. , 2. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 4 Tahun 2025 Setelah pot tanaman selesai, pot-pot tersebut ditata di depan kelas dengan melibatkan siswa secara aktif. Kegiatan diakhiri dengan refleksi dan evaluasi, di mana siswa menceritakan pengalaman mereka dan perubahan sikap terhadap sampah dan lingkungan. Evaluasi dilakukan secara partisipatif melalui diskusi terbuka. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa siswa merasa senang, lebih sadar akan pentingnya menjaga lingkungan, dan tertarik mengulang kegiatan Dengan metode yang partisipatif dan kontekstual, kegiatan ini memberikan dampak nyata dalam pendidikan karakter dan pelestarian lingkungan di sekolah dasar (Yuliana & Nugroho, 2. Tahapan Kegiatan Survei dan Koordinasi Pelaksanaan Kreativitas Daur Ulang Galon Penataan Pot di Area Sekolah Refleksi dan Evaluasi Tabel 1. Pelaksanaan Kegiatan Deskripsi Survei media, koordinasi dengan guru dan siswa, serta persiapan alat bahan Mewarnai galon, menanam tanaman, dan bimbingan langsung oleh tim KKN Penataan hasil karya siswa di depan kelas untuk menciptakan suasana Siswa menyampaikan kesan dan pembelajaran, tim KKN memberikan umpan balik Waktu Pelaksanaan 27Ae30 Juli 2025 1 Agustus 2025 1 Agustus 2025 . 1 Agustus 2025 . HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan edukasi kreatif pengolahan limbah botol plastik menjadi pot bunga di SDN 2 Jari menunjukkan hasil yang sangat positif. Antusiasme siswa dan guru terhadap kegiatan ini terlihat sejak awal. Para siswa menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, semangat untuk mencoba hal baru, dan kegembiraan saat terlibat dalam setiap tahapan kegiatan. Guru-guru juga memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini, baik secara teknis maupun moral, karena mereka menilai kegiatan ini sangat relevan dengan nilai-nilai pembelajaran tematik dan pendidikan karakter yang ingin ditanamkan di sekolah (Maerani et al. , 2. Kehadiran kegiatan ini menjadi warna baru dalam proses belajar mengajar, karena siswa dapat belajar melalui pengalaman langsung yang menyenangkan dan bermakna. Gambar 1. Penanaman Tanaman Dalam Pot Hasil Karya Siswa Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 4 Tahun 2025 Hasil karya yang dihasilkan oleh siswa dalam bentuk pot bunga dari botol plastik bekas sangat bervariasi dan mencerminkan tingkat kreativitas masing-masing individu maupun kelompok. Botol plastik yang semula merupakan sampah tak bernilai, berhasil disulap menjadi pot-pot yang menarik, estetik, dan fungsional. Beberapa pot dihiasi dengan cat warna-warni, motif bunga, garis-garis, bahkan ada yang diberi nama oleh pembuatnya. Karya-karya tersebut kemudian digunakan untuk menanam tanaman hias seperti lidah mertua, kaktus mini, dan sirih gading. Hasil karya siswa tidak hanya menjadi bentuk nyata dari keberhasilan program ini, tetapi juga menjadi sarana edukatif yang mengingatkan setiap orang di sekolah akan pentingnya mendaur ulang Selain keberhasilan dalam menghasilkan karya fisik, dampak yang lebih penting dari kegiatan ini adalah perubahan sikap dan pemahaman siswa terhadap sampah dan pengelolaannya. Sebelum kegiatan dimulai, sebagian besar siswa menganggap botol plastik hanyalah barang bekas yang tidak berguna dan layak dibuang. Namun setelah melalui proses edukasi dan praktik langsung, pemahaman mereka berubah. Siswa mulai memahami bahwa sampah, khususnya plastik, memiliki dampak negatif yang besar terhadap lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik (Amal Ilmiah UHO, 2. Mereka juga mulai menyadari bahwa sampah bisa dimanfaatkan kembali menjadi barang yang Perubahan ini tercermin dari berbagai komentar siswa saat sesi refleksi, seperti pernyataan bahwa mereka kini ingin membawa botol bekas dari rumah untuk didaur ulang, atau keinginan untuk menanam lebih banyak tanaman di rumah dengan pot buatan sendiri. Kegiatan ini juga memberikan dampak nyata terhadap lingkungan fisik Sebelum kegiatan, area sekolah cenderung gersang dengan minimnya tanaman hias. Namun setelah kegiatan dilaksanakan, sekolah terlihat lebih hidup dan asri. Pot-pot buatan siswa yang berisi tanaman diletakkan di depan kelas, di taman sekolah, dan di area-area kosong lainnya. Penambahan elemen hijau ini tidak hanya memperindah lingkungan, tetapi juga menciptakan atmosfer belajar yang lebih segar dan menyenangkan. Selain itu, kegiatan ini turut menginspirasi guru dan orang tua untuk lebih memperhatikan aspek lingkungan dalam kegiatan sekolah dan kehidupan sehari-hari. Meski secara umum kegiatan berjalan dengan baik, terdapat beberapa kendala teknis yang dihadapi selama proses pelaksanaan. Salah satu kendala utama adalah keterbatasan alat seperti gunting, cat, dan kuas, yang menyebabkan beberapa siswa harus bergantian dan menunggu cukup lama untuk dapat menggunakan alat tersebut. Hal ini sedikit memperlambat proses kerja dan mengurangi efektivitas waktu. Selain itu, ada pula beberapa siswa yang belum terbiasa menggunakan alat-alat tersebut sehingga memerlukan bimbingan lebih intensif dari guru atau relawan. Kendala lain yang muncul adalah variasi tingkat kemampuan kreatif antar siswa, yang membuat hasil karya menjadi tidak merata. Namun, hal ini justru menjadi peluang untuk Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 4 Tahun 2025 menumbuhkan semangat saling membantu dan bekerja sama antar siswa (Putri & Cahyaningrum, 2. Untuk mengatasi kendala tersebut, tim pelaksana menerapkan beberapa solusi sederhana namun efektif. Salah satunya adalah dengan membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil agar proses kerja menjadi lebih teratur dan Setiap kelompok diberikan tanggung jawab tertentu, misalnya ada kelompok yang memotong botol, kelompok yang mengecat, dan kelompok yang Dengan pembagian tugas ini, proses kegiatan menjadi lebih lancar dan siswa dapat saling belajar satu sama lain. Selain itu, guru juga berperan aktif dalam mendampingi kelompok, memberikan contoh, serta memotivasi siswa agar tidak takut mencoba hal baru. Dalam hal keterbatasan alat, tim pelaksana juga mengatur rotasi penggunaan alat dan menyediakan waktu tambahan agar seluruh siswa mendapat kesempatan yang sama dalam menyelesaikan karyanya (Kurniawati & Sari, 2. Secara keseluruhan, kegiatan edukasi kreatif pengolahan limbah botol plastik ini berhasil mencapai tujuannya, baik dari sisi edukatif, kreatif, maupun Respon positif dari siswa dan guru, kualitas hasil karya, serta perubahan sikap terhadap pengelolaan sampah menjadi indikator keberhasilan kegiatan ini. Lebih dari sekadar proyek daur ulang, kegiatan ini menjadi media pembelajaran yang menyentuh aspek pengetahuan, keterampilan, hingga pembentukan karakter. Diharapkan kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dan menjadi bagian integral dari pendidikan lingkungan hidup di sekolah dasar. Jika dilakukan secara berkelanjutan dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, maka gerakan ini tidak hanya berdampak di lingkup sekolah, tetapi juga dapat menyebar ke rumah dan komunitas sekitar (Widiyastuti & Suprapto. SIMPULAN Kegiatan edukasi kreatif pengolahan limbah botol plastik menjadi pot bunga di SDN 2 Jari menunjukkan keberhasilan yang signifikan dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan dan kreativitas siswa. Melalui proses yang melibatkan edukasi, praktik langsung, dan refleksi, siswa tidak hanya menghasilkan karya estetis yang fungsional, tetapi juga mengalami perubahan positif dalam pemahaman mereka tentang pentingnya daur ulang dan pengelolaan sampah. Guru turut berperan aktif sebagai pendamping, sementara antusiasme siswa menjadi indikator keberhasilan pendekatan partisipatif ini. Untuk menjamin keberlanjutan dampaknya, kegiatan serupa perlu diintegrasikan dalam pembelajaran tematik atau ekstrakurikuler yang melibatkan kerja sama dengan berbagai pihak eksternal. Dengan komitmen dari sekolah dan keterlibatan seluruh komunitas pendidikan, inisiatif ini dapat berkembang menjadi gerakan berkelanjutan yang memperkuat pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan sejak dini. Jurnal Pengabdian Masyarakat (Abdir. Vol. No. 4 Tahun 2025 DAFTAR PUSTAKA