Jurnal E-Bis:Ekonomi Bisnis Vol. 9 No. https://jurnal. politeknik-kebumen. id/index. php/E-Bis p-ISSN : 2580-2062 e-ISSN : 2622-3368 Dampak Kecanduan Media Sosial. Self Esteem, dan Hedonic Shopping Motivation Terhadap FOMO Generasi Z Intan Salsabila Surya Krisna 1*. Wisnu Panggah Setiyono2 Program Study Manajemen. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Indonesia *Email: Intanbila54@gmail. Doi: https://doi. org/10. 37339/e-bis. Diterbitkan oleh Politeknik Piksi Ganesha Indonesia Info Artikel Diterima : 2025-08-25 Diperbaiki : 2025-08-28 Disetujui : ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya pengaruh media sosial terhadap perilaku keuangan Generasi Z, khususnya terkait fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan motivasi belanja hedonis. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pengaruh kecanduan media sosial, self-esteem, dan Hedonic Shopping Motivation terhadap FOMO, serta dampak FOMO terhadap perilaku keuangan Generasi Z. Metode yang digunakan adalah survei kuantitatif dengan sampel 385 mahasiswa Generasi Z di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, yang dipilih secara purposive. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecanduan media sosial dan Hedonic Shopping Motivation berpengaruh positif signifikan terhadap FOMO, sementara self-esteem tidak berpengaruh signifikan. FOMO sendiri memiliki pengaruh positif terhadap perilaku keuangan, sedangkan self-esteem berkontribusi positif pada perilaku keuangan yang bijak. Temuan ini memberikan wawasan penting untuk pengembangan literasi keuangan dan kesejahteraan mental Generasi Z. Kata Kunci : Kecanduan Media Sosial: SelfEsteem: Hedonic Shopping Motivation. Fear of Missing Out (FOMO). Perilaku Keuangan. Generasi Z ABSTRACT This research is motivated by the high influence of social media on the financial behavior of Generation Z, particularly related to the phenomenon of Fear of Missing Out (FOMO) and hedonic shopping motivation. The purpose of the study is to analyze the influence of social media addiction, self-esteem, and Hedonic Shopping Motivation on FOMO, as well as the impact of FOMO on the financial behavior of Generation Z. The method used is a quantitative survey with a sample of 385 Generation Z students at the University of Muhammadiyah Sidoarjo, who were selected purposively. Data were analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM). The results show that social media addiction and Hedonic Shopping Motivation have a significant positive effect on FOMO, while self-esteem has no significant effect. FOMO itself has a positive influence on financial behavior, while self-esteem contributes positively to wise financial behavior. These findings provide important insights for the development of financial literacy and mental wellbeing of Generation Z. Keywords: Addicted To Social Media. SelfEsteem. Hedonic Shopping Motivation. Fear Of Missing Out (FOMO. Financial Behavior. Generation Z Alamat Korespondensi Jl. Letnan Jenderal Suprapto No. 73 Kebumen. Jawa Tengah. Indonesia 54311 PENDAHULUAN Perkembangan pesat teknologi serta media sosial membawa pengaruh secara signifikan terhadap perilaku keuangan Gen Z. Media sosial tidak sekedar menjadi sarana komunikasi, namun juga sebagai platform yang menciptakan persepsi, motivasi, dan perilaku konsumen muda (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. Fenomena yang meningkat dalam era digital ini merupakan Fear of Missing Out (FOMO), adalah ketakutan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono terkait ketinggalan informasi, pengalaman, maupun kesempatan dengan sedang dinikmati dari individu lainya (Diki Yulianto et al. , 2. FOMO telah terbukti memengaruhi pola konsumsi dan pengambilan keputusan finansial, terutama di kalangan Generasi Z yang sangat aktif menggunakan media sosial (Suci Martaningrat & Kurniawan, 2. Fenomena FOMO secara signifikan memengaruhi perilaku keuangan individu, terutama dalam konteks pembelian impulsif dan pengambilan keputusan investasi yang tidak rasional. Penelitian menunjukkan bahwa FoMO dapat secara substansial meningkatkan kecenderungan individu untuk berinvestasi secara tidak rasional, yang sering kali berujung pada keputusan keuangan yang merugikan (Kumar, 2. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa FOMO tidak hanya berfungsi sebagai ketidakpastian sosial (Przybylski. , & Weinstein, 2. , tetapi juga sebagai motivator yang kuat dalam pengambilan keputusan, mendorong individu untuk terlibat dalam perilaku konsumsi impulsif dan pengeluaran yang tidak terencana (Alt. , & Bychtiger, 2. Dengan demikian, pemahaman tentang FOMO dan dampaknya sangat penting untuk membantu Generasi Z mengelola perilaku keuangan mereka di era digital ini. FOMO terus berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi dan media sosial, yang memengaruhi perilaku dan keputusan individu. Oleh sebab itu, perlu untuk mengeksplorasi cara-cara efektif dalam mengatasi FOMO dan dampaknya terhadap kesejahteraan individu, terutama di kalangan Generasi Z. Meskipun pengaruh media sosial terhadap FOMO banyak diteliti, pemahaman tentang dampak berbeda dari platform seperti TikTok. Instagram, dan Facebook terhadap FOMO Generasi Z masih terbatas(Chakrabarti, 2. Karakteristik tiap platform memicu respons emosional dan perilaku yang berbeda (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. Peran self-esteem sebagai moderator hubungan antara penggunaan media sosial dan FOMO juga jarang dikaji secara mendalam (Fitri et al. , 2. Seseorang dalam selfesteem rendah lebih rentan terhadap pengaruh media sosial yang memperkuat FOMO, mendorong pengeluaran untuk barang tidak penting demi status sosial (Chakrabarti, 2. Kebutuhan validasi melalui media sosial dapat memicu pembelian impulsif dan membebani keuangan (Fitri et al. , 2. Sebaliknya, penelitian menunjukkan bahwa self-esteem tinggi berkontribusi pada pengelolaan keuangan yang lebih baik dan mengurangi pengaruh FOMO, berfungsi sebagai pelindung terhadap perilaku keuangan impulsif (Carissa, 2. Penelitian terdahulu telah mengeksplorasi hubungan antara keterikatan media sosial, self-esteem, dan Hedonic Shopping Motivation dengan Fear of Missing Out (FOMO). Beberapa studi terbaru membuktikan mengenai ketiga variabel tersebut terdapat pengaruh signifikan terhadap FOMO dalam konteks perilaku keuangan Generasi Z. Misalnya, (Fitri et , 2. membuktikan bahwa keterikatan media sosial yang tinggi berkontribusi pada peningkatan FOMO, yang selanjutnya memengaruhi keputusan pembelian impulsif di platform e-commerce. Selain itu, (Soleha & Sagir, 2. mengungkapkan bahwa self-esteem rendah dapat memperburuk perasaan FOMO, mendorong perilaku konsumtif yang tidak terencana. Penelitian lain juga menyoroti bahwa motivasi belanja hedonis memperkuat kecenderungan mengalami FOMO di kalangan Generasi Z (Fitri et al. , 2. Penelitian ini penting untuk memahami bagaimana fenomena psikologis memengaruhi keputusan finansial Generasi Z (Hsu & Lin, 2. Berdasarkan literatur terbaru, keterikatan media sosial, self-esteem, dan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono hedonic shopping motivation kemungkinan besar memengaruhi perilaku keuangan Generasi Z secara tidak langsung melalui mediasi FOMO, yang berperan sebagai jembatan psikologis menerjemahkan dampak ketiga variabel tersebut menjadi tindakan keuangan spesifik. Selain itu, kajian mengenai perbedaan gender dalam pengaruh media sosial, self-esteem, dan hedonic shopping motivation terhadap FOMO serta perilaku keuangan Generasi Z masih terbatas, sehingga memberikan kesempatan dalam penelitian lebih mendalam yang mampu memperkaya literatur(Taneja. & Toombs, 2. Dalam analisis budaya juga menjadi variabel yang belum banyak dibahas dalam penelitian FOMO dan perilaku keuangan, terutama dalam konteks Generasi Z di berbagai Perbedaan budaya dapat memengaruhi cara Generasi Z memandang media sosial, selfesteem, dan hedonic shopping motivation, yang pada akhirnya berdampak pada tingkat FOMO dan perilaku keuangan mereka (Lee & Choi, 2. Penelitian ini diharapkan mampu sebagai acuan untuk berbagai pendidik, orang tua, serta pembuat kebijakan untuk merancang program dengan mendukung pengembangan literasi keuangan dan peningkatan self-esteem di kalangan Generasi Z. Kebutuhan akan validasi melalui media sosial dapat mendorong pembelian impulsif, yang selanjutnya membebani sumber daya keuangan (Goeyana & Marlina, 2. Ketika self-esteem rendah, individu mungkin merasa terdorong untuk berbelanja sebagai cara untuk meningkatkan citra diri mereka. Penelitian terbaru membuktikan mengenai seseorang dalam self-esteem yang lebih tinggi cenderung terdapat pengelolaan keuangan secara lebih tepat dan lebih sedikit terpengaruh oleh FOMO. Hal tersebut membuktikan mengenai selfesteem yang positif dapat berfungsi sebagai pelindung terhadap perilaku keuangan yang impulsif dan tidak terencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam dinamika perilaku keuangan Generasi Z, khususnya di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, dengan fokus pada peran kecanduan media sosial, self-esteem, dan Hedonic Shopping Motivationterhadap Fear of Missing Out (FOMO), serta dampak FOMO itu sendiri terhadap perilaku keuangan. Rumusan masalah utama penelitian ini adalah untuk memahami bagaimana ketiga variabel tersebut . ecanduan media sosial, self-esteem, dan Hedonic Shopping Motivatio. memengaruhi tingkat FOMO pada Generasi Z, dan selanjutnya, bagaimana FOMO memengaruhi perilaku keuangan Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, penelitian ini terdapat tujuan yaitu untuk menganalisis pengaruh kecanduan media sosial, self-esteem, dan Hedonic Shopping Motivationterhadap FOMO, serta menganalisis pengaruh FOMO terhadap perilaku keuangan Generasi Z. Selain itu, penelitian ini juga secara spesifik mempertanyakan apakah pengaruh media sosial, self-esteem, dan Hedonic Shopping Motivation dapat secara signifikan memengaruhi perilaku keuangan Generasi Z. Studi ini relevan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG. 03, yaitu "Ensure Healthy Lives and Promote Well-being for All at All Ages", karena fokusnya pada kesehatan mental dan perilaku keuangan berkontribusi pada pencapaian kesejahteraan yang lebih luas bagi Generasi Z di era digital. KAJIAN PUSTAKA Fear Of Missing Out (FOMO) FOMO sebagai kondisi psikis dengan mencerminkan kekhawatiran akan kehilangan momen, kegiatan, atau interaksi sosial yang sedang berlangsung. (Fitri et al. , 2. FOMO Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono dapat diartikan sebagai dorongan agar tetap terhubung terhadap apa yang dilaksanakan individu lainya (Maulidya et al. , 2. Rasa cemas yang kuat karena merasa tertinggal dari orang lain, terutama tentang kegiatan dan informasi terbaru mereka, dikenal sebagai FOMO. Seseorang yang mengalami FOMO cenderung memiliki dorongan besar untuk selalu terhubung dan mengetahui apa yang dilakukan teman-temannya agar tidak merasa dikucilkan atau kurang Kondisi ini muncul dari naluri dasar manusia untuk selalu menjadi bagian dari sebuah kelompok, yang secara biologis penting untuk kelangsungan hidup. (Maulidya et al. Singkatnya. FOMO merupakan manifestasi nyata dari kekhawatiran mendalam individu mengenai aktivitas individu lainya juga ketakutan akan penilaian individu lainya terhadap kehidupan pribadi mereka. FOMO juga berkontribusi pada fenomena seperti perdagangan berlebihan, investasi spekulatif, dan pembentukan gelembung aset, di mana investor yang lebih muda cenderung lebih rentan karena ketergantungan mereka pada platform digital untuk mendapatkan saran investasi (Idris, 2. Selain itu. FOMO dapat menyebabkan peningkatan volatilitas pasar dan pembentukan gelembung aset, seperti yang terlihat pada munculnya "saham meme. " (Idris, 2. Fenomena ini diukur melalui indikator yang mencakup Fear. Worry. Irritation. Feelings of Inadequacy, and Self-Esteem. (Wachyuni et al. , 2. Media Sosial Teknologi internet memudahkan orang untuk berinteraksi, berbagi, dan terhubung secara online, serta mempublikasikan konten mereka sendiri (Komariah et al. , 2. Platform diantaranya Facebook. Instagram, serta YouTube tidak sekedar mendukung pemasaran online, namun juga memengaruhi perilaku individu, mendorong konsumerisme dan pembelian impulsif karena ekspektasi sosial (Rodriguez, 2. Meskipun media sosial memberikan sumber daya berharga untuk pengambilan keputusan finansial, seperti literasi keuangan digital yang positif, juga ada tantangan seperti misinformasi dan bias emosional yang dapat menyebabkan keputusan finansial yang buruk (Safitri & Dewa, 2. Oleh sebab itu, penting untuk menggunakan media sosial dengan bijak dalam edukasi finansial. Dalam penelitian ini, media sosial diukur dengan beberapa indikator, seperti: pelaksanaan tugas dengan target jelas, konten menarik, interaksi antara konsumen dan penjual, interaksi antar konsumen, kemudahan mencari informasi produk, kemudahan komunikasi publik, dan tingkat kepercayaan terhadap media sosial (Putri et al. , 2. Relevansi Media Sosial dengan FOMO dan Perilaku Keuangan Generasi Z. Perkembangan media sosial yang cepat telah berdampak besar pada perilaku keuangan Generasi Z. FOMO memengaruhi pola konsumsi dan keputusan finansial di kalangan Generasi Z secara aktif di media sosial. Penelitian ini fokus pada FOMO di kalangan pengguna media sosial Generasi Z (Perdana et al. , 2. , khususnya pengguna Instagram, dan menekankan pentingnya memahami dinamika spesifik dari platform tersebut (Chakrabarti, 2. , juga mengkaji dampak FOMO dari media sosial pada Gen Z, menunjukkan adanya kekurangan pemahaman tentang bagaimana berbagai platform memengaruhi tingkat FOMO mereka. Meskipun pengaruh media sosial terhadap pengeluaran dan manajemen keuangan sudah diakui, seperti yang ditunjukkan oleh (Rodriguez, 2. yang meneliti siswa SMA, masih ada kebutuhan untuk penelitian lebih lanjut. Penting untuk memahami bagaimana kecanduan media sosial dapat memengaruhi hubungan ini, terutama dalam konteks FOMO, dan bagaimana hal Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono tersebut berdampak pada perilaku keuangan Generasi Z. Self Esteem Self-Esteem sebagai penilaian seseorang terhadap pribadinya sendiri. Untuk penelitian ini, harga diri dirangkum dari faktor-faktor positif dan negatif yang memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang (Novie Destari, n. Persepsi tentang harga diri sering kali dipengaruhi oleh pengalaman orang lain, di mana pernyataan positif dapat meningkatkan self-esteem, sedangkan pernyataan negatif dapat menurunkannya. Pribadi dengan harga diri secara besar umumnya mendapatkan penghormatan juga kekaguman, sementara seseorang dengan terdapat harga diri rendah umumnya merasa kurang percaya diri (Martini et al. , 2. Self-esteem juga berkaitan dengan seberapa besar individu menghargai diri mereka sendiri dan kemampuan mereka untuk menjalani tugas sehari-hari secara mandiri, seperti bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa self-esteem memengaruhi perilaku keuangan, seperti penggunaan kartu kredit, di mana seseorang dalam harga diri secara lebih besar cenderung menunjukkan praktik keuangan yang lebih bertanggung jawab (Hadianto et , 2. Faktor-faktor yang memengaruhi harga diri di lingkungan kerja juga dipengaruhi oleh beberapa dimensi pekerjaan, seperti kepuasan kerja, penghargaan dari orang lain, dan promosi jabatan (Indriyani et al. , 2. Penelitian lain meneliti pengaruh self-esteem terhadap FOMO pada Generasi Z pengguna media sosial. (Fitri et al. , 2. secara langsung mengkaji hubungan ini, yang sangat relevan untuk mengisi celah penelitian mengenai peran self-esteem dalam memoderasi hubungan antara penggunaan media sosial dan FOMO, serta bagaimana individu dengan self-esteem rendah lebih rentan terhadap FOMO (Hashmi et al. , 2. Selfesteem berpengaruh terhadap FOMO karena individu dengan harga diri tinggi cenderung termotivasi untuk menunjukkan citra diri yang lebih baik dan melindungi reputasi mereka, yang dapat meningkatkan tingkat FOMO mereka. Penelitian ini menunjukkan bahwa self-esteem merupakan variabel signifikan dalam memprediksi munculnya FOMO (Hasna Farida et al. Hedonic Shopping Motivation Motivasi adalah energi pendorong pada individu yang membantu mereka bertindak, dan motivasi bersifat dinamis atau terus berubah sebagai reaksi terhadap berbagai pengalaman hidup (Styowati & Dwiridotjahjono, 2. Tenaga pendorong tersebut dihasilkan dari keadaan tertekan dengan mengakibatkan kebutuhan yang belum atau tidak terpenuhi, di mana individu melalui perilakunya akan bertindak untuk menentukan kebutuhan hidupnya (Barokah et al. Motivasi diawali dari individu, dan motif pembelian dapat dibagi menjadi dua, salah satunya adalah motif hedonis. Motif hedonistik merupakan ekspresi emosi atau fantasi seseorang (Rahayu et al. , 2. Hedonic Shopping Motivation mengacu pada pengalaman berbelanja yang menyenangkan, bukan sekadar mengumpulkan informasi atau membeli produk (Sari et al. , 2. Hedonic Shopping Motivation mencakup tiga aspek utama: kesenangan . , kenikmatan . , dan hiburan . (Wangdra & Ompusunggu, 2. Menurut (Faujiah et al. , 2. Hedonic Shopping Motivation adalah keyakinan bahwa pembelian yang sering dapat menghasilkan aktivitas yang menyenangkan dan pengalaman positif (Mulya & Yuhertiana, 2. Menurut (Atalay. , & V, 2. motif ekspresif, yang Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono juga dikenal sebagai motif hedonistik, adalah kebutuhan psikologis seperti keinginan, emosi, atau pengalaman subjektif. Berdasarkan definisi di atas. Hedonic Shopping Motivation adalah keinginan seseorang atau individu untuk terlibat dalam aktivitas yang menyenangkan sehingga mereka tidak melebih-lebihkan kegunaan produk yang mereka beli sambil mempertahankan perasaan subjektif (Rahayu et al. , 2. Pada penelitian lain mengkaji hedonic shopping motivation pada Generasi Z pengguna TikTok, yang seringkali terkait dengan pembelian impulsif. (Carissa, 2. meneliti pengaruh hedonic shopping motivation terhadap impulse buying pada Generasi Z pengguna social commerce TikTok. Ini sangat relevan untuk menguatkan research gap mengenai interaksi antara hedonic shopping motivation dengan FOMO dalam konteks Generasi Z dan bagaimana motivasi ini dapat memperkuat dampak FOMO terhadap perilaku keuangan. Selain itu, (Sari et , 2. membahas pengaruh hedonic shopping motivation terhadap pembelian impulsif di platform marketplace seperti Shopee. Penelitian ini mendukung argumen bahwa motivasi belanja hedonis adalah faktor penting dalam perilaku konsumsi dan perlu dieksplorasi lebih lanjut dalam kaitannya dengan FOMO dan perilaku keuangan Generasi Z (Atalay. , & V, Meskipun berfokus pada penggunaan mobile banking, penelitian oleh . mengidentifikasi motivasi hedonis pada Generasi Z. Perilaku Keuangan Perilaku merupakan tindakan individu yang mencerminkan cara mereka mengelola uang dan keuangan yang dimiliki (Sufyati HS & Alvi Lestari, 2. Perilaku keuangan Generasi Z sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar mereka. baik perilaku keuangan yang positif maupun negatif sekarang ini mampu berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka pada masa depan. Perilaku keuangan, yang juga dikenal sebagai behavior finance, merupakan cabang ilmu keuangan yang mengintegrasikan psikologi dan sosiologi dalam fondasinya (Asrun & Gunawan, 2. Behavior finance mengintegrasikan teori ekonomi dengan teori psikologi dan sosiologi dalam bidang keuangan, menandakan pergeseran dari teori basic ke teori perilaku (Rusnawati et al. , 2. Signifikansi integrasi teori psikologi dan sosiologi terletak pada fakta bahwa manusia merupakan entitas sosial yang berinteraksi dengan lingkungan mereka, yang pada gilirannya memengaruhi perilaku mereka. Sebagian faktor yang memengaruhi perilaku keuangan meliputi literasi keuangan, gaya hidup, dan gender. Generasi Z harus bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil saat mengurus uang mereka agar tidak menghadapi kesulitan di masa depan (Rohmanto & Ari Susanti, 2. Indikator yang digunakan untuk menilai perilaku keuangan mencakup: menyusun anggaran pengeluaran dan belanja, mencatat pengeluaran juga belanja . aik harian maupun bulana. , serta pentingnya mencatat pengeluaran untuk mengetahui total pengeluaran dalam periode tertentu, dan menyediakan dana untuk pengeluaran yang tidak terduga (W. & Saputra, 2. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono Kerangka Konseptual Gambar 1 Kerangka Konseptual Berdasarakan kerangka konseptual yang sudah digambarkan, hipotesis yang dapat dirumuskan sebagai berikut : H1: Media Sosial (X. Berpengaruh Terhadap FOMO (Y). H2: Self-Esteem (X. Berpengaruh Terhadap FOMO (Y). H3: Hedonic Shopping Motivation (X. Berpengaruh Terhadap FOMO (Y). H4: Media Sosial (X. Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z). H5: Self-Esteem (X. Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z). H6: Hedonic Shopping Motivation (X. Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z). H7: FOMO (Y) Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z). METODE Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survei untuk mengumpulkan data. Sampel penelitian terdiri dari 385 mahasiswa Generasi Z di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang dipilih secara purposive, yaitu mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial dan berusia antara 18 hingga 25 tahun. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan alat analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM), yang membantu menguji hubungan antar variabel. Variabel yang diukur dalam penelitian ini meliputi kecanduan media sosial, harga diri . elf-estee. , motivasi belanja hedonis. Fear of Missing Out (FOMO), dan perilaku keuangan. Setiap variabel diukur menggunakan indikator-indikator khusus yang sudah disesuaikan untuk mendapatkan hasil yang akurat. ANALISA DAN PEMBAHASAN Menurut hasil kuisioner yang telah tersebar melalui Google Form kepada responden, maka diperoleh data sampel yang merupakan mahasiswa aktif Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan termasuk dalam kategori generasi Z, dalam jumlah persentase sejumlah 100%. Diketahui responden dengan jenis kelamin Laki-laki sejumlah 39,9% dan Perempuan sebanyak 60,1%. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono Tabel 1. Presentase Jenis Kelamin Responden Karakteristik Responden Jumlah Responden Laki Ae Laki 39,9% Perempuan 60,1% Sumber: Data output SPSS 27,2021 Data menunjukkan bahwa responden berusia 19-22 tahun adalah yang terbanyak, dengan total 271 orang atau 80,2%. Sementara itu, responden berusia 23-25 tahun hanya berjumlah 67 orang atau 19,8%. Ini berarti bahwa kelompok usia 19-22 tahun lebih berisiko mengalami kecanduan media sosial di kalangan generasi Z. Oleh sebab itu, penting untuk fokus pada kelompok usia 19-22 tahun dalam upaya mengatasi masalah kecanduan media sosial. Table 2. Presentase Usia Responden Usia Jumlah Responden 19-22 Tahun 80,2% 23-25 Tahun 19,8% Sumber : Data output SPSS 27,2021 Berdasarkan data yang diperoleh, responden dari semester 8 mendominasi dengan persentase 49,7%, diikuti oleh responden dari semester 6 yang mencapai 16,3%. Sementara itu, responden dari semester 2 dan semester 4 masing-masing memiliki persentase 18,6% dan 15,4%. Temuan ini menunjukkan bahwa mahasiswa di semester 8 lebih banyak terlibat dalam penelitian ini, yang mungkin mencerminkan pengalaman dan paparan yang lebih besar terhadap isu yang diteliti. Table 3. Presentase Semester Responden Semester Jumlah Responden 18,6% 15,4% 16,3% 49,7% Sumber : Data output SPSS 27,2021 Analisa Data Analisis data dilaksanakan melalui metode PLS-SEM memanfaatkan perangkat lunak SmartPLS 3. Proses analisis terbagi menjadi dua bagian, merupakan pengujian model pengukuran (Outer Mode. serta pengujian model struktural (Inner Mode. Pengujian Model Pengukuran (Outer Mode. Bagian pertama dalam pengujian adalah analisis outer model, yang terdapat tujuan untuk mengukur hubungan antara indikasi dalam variabel laten. Evaluasi ini mencakup beberapa hal, seperti konsistensi internal, tingkat keandalan indikator, validitas konvergen, dan validitas diskriminan. Sebuah indikator ditetapkan validjika lebih dari 0,7 untuk nilai loading Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono factor-nya, walaupun nilai diantara 0,6 sampai dengan 0,7 masih mampu diterima dalam memenuhi kriteria validitas konvergen. Table 4. Nilai Factor Loading Variable FOMO1 FOMO2 FOMO3 FOMO4 FOMO5 HSM1 HSM2 HSM3 HSM4 HSM5 MS1 MS2 MS3 MS4 MS5 MS6 MS7 PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 SE1 SE2 SE3 SE4 SE5 Fear Missing _(Y) 0,920 0,920 0,935 0,924 0,763 Out Hedonic Shopping Motivation_(X. Media Sosial_(X. Perilaku Keuangan_(Z) Self Esteem_(X. 0,780 0,877 0,864 0,821 0,807 0,785 0,838 0,836 0,896 0,904 0,801 0,847 0,749 0,864 0,712 0,910 0,913 0,866 0,709 0,909 0,916 0,659 Sumber : Data output SmartPLS 3. 0, 2024 Hasil analisis data membuktikan mengenai secara umum indikator dalam variabel terdapat nilai loading factor lebih dari 0,7, dengan membuktikan validitas yang baik. Namun, adanya satu indikator dengan terdapat nilai outer loading kurang dari 0,7. Walaupun, nilai outer loading dengan berada dalam rentang 0,6 hingga 0,7 masih dianggap memadai untuk memenuhi kriteria validitas konvergen, sehingga indikator tersebut tetap dapat dipertimbangkan untuk analisis selanjutnya. Table 5. Avetage Variance Extracted (AVE) Variable CronbachAos Alfa Rho_a Fear of Missing Out (Y) 0,936 0,940 Hedonic Shopping Motivation (X. 0,889 0,902 Media Sosial (X. 0,933 0,935 Perilaku Keuangan (Z) 0,887 0,897 Self Esteem (X. 0,872 0,886 Sumber : Data output SmartPLS 3. 0, 2024 Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. Composite Reliability 0,952 0,946 0,919 0,909 AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono Berdasarkan tabel 5 tersebut, nilai Average Variance Extracted (AVE) dengan didapatkan menunjukkan angka lebih dari 0,5, yang membuktikan mengenai validitas konvergen dari konstruk tersebut sangat baik. Setelah melakukan uji validitas, langkah selanjutnya merupakan mengukur reliabilitas konsistensi internal konstruk dengan menggunakan nilai Cronbach's alpha, rho_A, dan composite reliability, yang mana untuk setiap nilai minimal yang ditentukan adalah 0,7. Hal ini memastikan mengenai konstruk yang diukur terdapat tingkat konsistensi yang tinggi dalam pengukurannya. Table 6. Hasil Uji Reliabilitas Komposit dan CronbachAos Alph Variable Media Sosial (X. Self Esteem (X. Hedonic Shopping Motivation (X. Fear Of Missing Out (Y) Perilaku Keuangan (Z) Sumber : Data output SmartPLS 3. 0, 2024 Average (AVE) 0,713 0,670 0,690 0,800 0,695 Variance Extracted Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Berdasarkan informasi pada tabel 6 tersebut, terlihat mengenai semua variabel laten yang diukur dalam penelitian ini memperoleh nilai lebih dari 0,7. Hal ini menunjukkan bahwa setiap variabel sudah memenuhi syarat untuk reliabilitas internal, yang berarti pengukuran yang dilakukan cukup dapat diandalkan dan konsisten dalam menggambarkan konstruk yang diukur. Oleh karena itu, hasil ini memberikan rasa percaya bahwa data yang diperoleh bisa digunakan untuk analisis lebih lanjut. Pengujian Model Struktural (Inner Mode. Pengujian Model Struktural (Inner Mode. bertujuan mengevaluasi hubungan kausal antar variabel laten. Metode bootstrapping digunakan untuk menghitung nilai T-statistic guna mengukur kekuatan dan signifikansi hubungan tersebut. Dengan model ini, peneliti dapat memahami pengaruh antar konstruk dan dinamika variabel dalam penelitian, sehingga mendukung kesimpulan dan rekomendasi dari analisis data. Uji R-Square Uji R-Square atau koefisien determinasi (R-Squar. dimanfaatkan dalam memilai seberapa baik konstruk endogen dapat dijelaskan oleh konstruk eksogen. Nilai R-Square dalam rentang diantara 0 sampai 1, yang mana semakin mendekati 1, semakin baik model untuk menjelaskan variabel. Dalam pengujian model struktural, langkah pertama adalah mengevaluasi nilai R-Square untuk setiap variabel laten endogen, yang berfungsi sebagai indikator kekuatan prediksi model. Sebagai acuan, nilai R-Square sejumlah 0,67 membuktikan adanya hubungan yang kuat, 0,33 membuktikan hubungan yang sedang, sedangkan 0,19 membuktikan hubungan yang lemah. Tabel 7. Uji R-Square Variable Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. R Square R Square Adjusted AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono Fear Of Missing Out _(Y) 0,781 0,779 Perilaku Keuangan_(Z) 0,981 0,981 Sumber : Data output SmartPLS 3. 0, 2024 Menurut tabel tersebut, diketahui nilai R-Square pada dua variabel diantaranya "Fear Of Missing Out" (FOMO) dan "Perilaku Keuangan. " Untuk FOMO, nilai R-Square adalah 0,781, artinya sekitar 78,1% perubahan dalam perasaan takut ketinggalan bisa dijelaskan oleh faktor-faktor dalam model. Nilai R-Square Adjusted sejumlah 0,779 membuktikan mengenai model tetap kuat walaupun untuk jumlah variabel diperhitungkan. Sementara itu, "Perilaku Keuangan" memiliki nilai R-Square yang sangat tinggi, yaitu 0,981, artinya 98,1% perubahan dalam perilaku keuangan bisa dijelaskan oleh model tersebut. Nilai R-Square Adjusted juga sama, yang menunjukkan model ini sangat efektif. Secara keseluruhan, kedua model ini mampu menjelaskan variasi variabel masing-masing dengan baik, dan FOMO serta perilaku keuangan terkait dalam konteks pengambilan keputusan individu. Uji Hipotesis Tabel 8. Path Coefficients Bootstrapping Direct Effect Koefisien Jalur Original Sample (O) Media Sosial_(X. -> Fear Of 0,843 Missing Out _(Y) Self Esteem_(X. -> Fear Of -0,073 Missing Out _(Y) Hedonic Shopping Motivation_(X. -> Fear Of 0,134 Missing Out _(Y) Media Sosial_(X. -> Perilaku 0,022 Keuangan_(Z) Self Esteem_(X. -> Perilaku 0,894 Keuangan_(Z) Hedonic Shopping Motivation_(X. -> Perilaku -0,108 Keuangan_(Z) Fear Of Missing Out _(Y) -> 0,203 Perilaku Keuangan_(Z) Sumber : Data output SmartPLS 3. 0, 2024 Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) Values Keterangan 0,842 0,034 24,726 0,000 Terbukti -0,072 0,041 1,779 0,076 Tidak Terbukti 0,135 0,040 3,325 0,001 Terbukti 0,022 0,020 1,064 0,288 Tidak Terbukti 0,894 0,013 67,328 0,000 Terbukti -0,108 0,010 10,756 0,000 Tidak Terbukti 0,203 0,016 12,792 0,000 Terbukti Berdasarkan Tabel 8. Media Sosial (X. memiliki koefisien 0,843 terhadap Fear Of Missing Out (Y) dengan T Statistik 24,726 dan P Value 0,000, membuktikan hubungan positif Self Esteem (X. berkoefisien -0,073 terhadap FOMO dengan T Statistik 1,779 dan P Value 0,076, tidak signifikan. Hedonic Shopping Motivation (X. berkoefisien 0,134 terhadap FOMO dalam T Statistik 3,325 dan P Value 0,001, signifikan positif. Media Sosial (X. terhadap Perilaku Keuangan (Z) berkoefisien 0,022. T Statistik 1,064. P Value 0,288, tidak signifikan. Self Esteem (X. berkoefisien 0,894 terhadap Perilaku Keuangan dengan T Statistik 67,328 dan P Value 0,000, sangat signifikan positif. Hedonic Shopping Motivation (X. berkoefisien -0,108 terhadap Perilaku Keuangan dengan T Statistik 10,756 dan P Value Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono 0,000, signifikan negatif. Fear Of Missing Out (Y) berkoefisien 0,203 terhadap Perilaku Keuangan dengan T Statistik 12,792 dan P Value 0,000, signifikan positif. Tabel 9. Path Coefficients Boostrapping Indirect Effect Koefisien Jalur Original Sample (O) Hedonic Shopping Motivation_(X. -> Fear Of 0,027 Missing Out _(Y) -> Perilaku Keuangan_(Z) Media Sosial_(X. -> Fear Of Missing Out _(Y) -> 0,171 Perilaku Keuangan_(Z) Self Esteem_(X. -> Fear Of Missing Out _(Y) -> Perilaku -0,015 Keuangan_(Z) Sumber : Data diolah SmartPLS 3. Sample Mean (M) Standard Deviation (STDEV) T Statistics (|O/STDEV|) Values Keterangan 0,027 0,008 3,311 0,001 Terbukti 0,171 0,016 10,717 0,000 Terbukti -0,015 0,008 1,761 0,079 Tidak Terbukti Berdasarkan tabel. Hedonic Shopping Motivation (X. memiliki koefisien 0,027 terhadap Fear Of Missing Out (Y) dan Perilaku Keuangan (Z) dengan T Statistik 3,311 dan P Value 0,001, menunjukkan pengaruh positif signifikan. Media Sosial (X. berkoefisien 0,171 terhadap FOMO dan Perilaku Keuangan dengan T Statistik 10,717 dan P Value 0,000, juga menunjukkan hubungan positif signifikan. Sebaliknya. Self Esteem (X. berkoefisien -0,015 dengan T Statistik 1,761 serta P Value 0,079, membuktikan hubungan negatif yang tidak signifikan terhadap FOMO dan perilaku keuangan. Gambar 2. Bootstrapping Test Result Pembahasan Media Sosial (X. berpengaruh terhadap Fear Of Missing Out (Y) Penelitian membuktikan terdapat hubungan signifikan antara media sosial dan FOMO. Media sosial berguna sebagai platform yang memungkinkan orang untuk berinteraksi dan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono mengakses informasi secara langsung. Dalam konteks ini, media sosial tidak sekedar menjadi alat komunikasi, namun juga sumber utama untuk mendapatkan informasi tentang pengalaman, acara, dan tren terkini. Ketika orang melihat teman, selebriti, atau influencer membagikan pengalaman menyenangkan di media sosial, mereka sering merasa tertekan untuk ikut serta. Studi menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat meningkatkan FOMO, karena orang sering membandingkan diri mereka terhadap individu lainya. Proses membandingkan sosial ini dapat memperburuk perasaan tidak puas dan cemas, yang pada gilirannya meningkatkan FOMO. Sebuah studi oleh(Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. menemukan bahwa individu secara lebih aktif di media sosial cenderung mengalami FOMO yang lebih tinggi, karena mereka lebih sering melihat konten yang menunjukkan kehidupan sosial yang ideal atau menyenangkan (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. Selain itu, media sosial menciptakan lingkungan di mana orang merasa perlu agar tetap terhubung dan memperoleh informasi. Ketika mereka melihat orang lain berpartisipasi dalam kegiatan menarik, mereka mungkin merasa tertekan dalam menjalankan sesuatu secara serupa, meskipun tidak memiliki keinginan yang sama. Ini menciptakan siklus di mana FOMO semakin diperkuat oleh interaksi yang terus-menerus di platform media sosial. Penelitian oleh (S. Alhabshi, 2. juga menunjukkan bahwa FOMO dapat mempengaruhi perilaku konsumtif, di mana individu merasa terdorong untuk membeli barang atau layanan demi mengikuti tren yang terlihat di media sosial. Ini membuktikan mengenai FOMO tidak sekedar berpengaruh terhadap pengalaman sosial, tetapi juga dapat mempengaruhi keputusan keuangan dan perilaku belanja individu (S. Alhabshi, 2. Self Esteem (X. Tidak Berpengaruh Terhadap Fear Of Missing Out (Y) Dalam analisis yang dilakukan, hubungan antara self-esteem dan Fear Of Missing Out (FOMO) tidak terbukti signifikan. Ini menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan diri individu tidak memiliki pengaruh yang kuat terhadap perasaan takut ketinggalan. Meskipun self-esteem dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan dan merespons situasi sosial, pada konteks penelitian ini, pengaruhnya terhadap FOMO tidak cukup kuat untuk diidentifikasi. Self-esteem merupakan bagaimana seseorang melihat nilai juga kemampuan pribadi mereka. Mereka yang mempunyai self-esteem tinggi cenderung merasa lebih percaya diri, sementara yang memiliki self-esteem rendah mungkin merasa kurang berharga dan lebih rentan terhadap perasaan negatif. Dalam banyak situasi, self-esteem dapat memengaruhi interaksi sosial, tetapi dalam hal FOMO, penelitian menunjukkan bahwa self-esteem bukanlah prediktor yang kuat. Penelitian oleh (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. menunjukkan bahwa FOMO lebih terkait dengan kebutuhan untuk terhubung dan diterima secara sosial, bukan dengan penilaian diri individu (Przybylski. Murayama. DeHaan, , & Gladwell, 2. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa self-esteem dapat berfungsi sebagai faktor moderasi dalam hubungan sosial. Artinya, individu dengan selfesteem lebih tinggi mungkin lebih mampu mengelola perasaan FOMO saat menghadapi situasi sosial yang menantang. Namun, ini tidak berarti self-esteem secara langsung mengurangi FOMO. Sebaliknya, individu dalam self-esteem besar mungkin lebih mampu merespons situasi sosial dengan cara positif, tetapi tidak menghilangkan perasaan FOMO itu sendiri (Brown. Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono 2. (McGregor, 2. Penelitian ini juga membuktikan mengenai walaupun self-esteem dapat memengaruhi respons terhadap tekanan sosial, pengaruhnya terhadap FOMO tidak cukup signifikan dalam konteks ini. Ini membuktikan mengenai faktor lainya, diantaranya pengaruh media sosial serta dinamika kelompok, mungkin lebih berperan dalam memengaruhi perasaan FOMO. Hedonic Shopping Motivation (X. Berpengaruh Terhadap Fear Of Missing Out (Y) Hedonic Shopping Motivation terbukti berpengaruh signifikan terhadap Fear Of Missing Out (FOMO). Seseorang dengan berbelanja untuk kesenangan cenderung merasakan FOMO lebih tinggi karena dorongan mereka didasarkan pada pencarian pengalaman dan kepuasan emosional, bukan hanya kebutuhan fungsional. Motivasi ini mendorong perilaku konsumtif yang dipicu oleh keinginan mengikuti tren atau mendapatkan pengalaman Misalnya, melihat teman memposting foto liburan atau acara sosial di media sosial dapat memicu dorongan untuk melakukan hal serupa, meskipun sebelumnya tidak berencana berbelanja atau berpartisipasi (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. Sebuah studi oleh (Kahn, n. ) uga menemukan bahwa individu dengan motivasi belanja hedonis lebih rentan merasakan FOMO saat terpapar konten media sosial yang menampilkan pengalaman sosial menarik (Kahn, n. Selain itu, iklan yang menekankan kesenangan dan pengalaman emosional dapat memperkuat rasa urgensi untuk membeli, terutama bagi mereka yang memiliki motivasi hedonis tinggi (Johnson, 2. FOMO yang dipicu oleh Hedonic Shopping Motivation dapat berdampak negatif pada pengelolaan keuangan individu. Tekanan untuk membeli barang atau pengalaman demi mengikuti tren sering kali menyebabkan keputusan keuangan yang tidak bijaksana, seperti pembelian impulsif atau pengeluaran melebihi anggaran (Thompson, 2. Kondisi ini berpotensi menimbulkan masalah keuangan jangka panjang dan meningkatkan stres terkait Dengan demikian, sangat utama dalam mengetahui bagaimana motivasi belanja hedonis mampu memperkuat FOMO dan memengaruhi perilaku keuangan agar individu dapat mengelola keuangannya dengan lebih bijak. Media Sosial (X. Tidak Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z) Kesimpulan analisis membuktikan mengenai hubungan antara media sosial dan perilaku keuangan tidak terbukti signifikan. Meskipun media sosial dapat memengaruhi perasaan Fear Of Missing Out (FOMO), dampaknya terhadap keputusan keuangan individu tidak cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun individu mungkin terpengaruh oleh konten di media sosial, pengaruh tersebut tidak secara langsung memengaruhi perilaku keuangan mereka. Faktor-faktor lain seperti pengelolaan keuangan pribadi, pendidikan finansial, dan pengalaman hidup turut memengaruhi cara seseorang membuat keputusan Misalnya, seseorang dengan pemahaman yang baik mengenai pengelolaan keuangan pribadi cenderung mampu menilai dampak FOMO dan media sosial terhadap keputusan keuangan mereka, sehingga lebih mengabaikan tekanan sosial dan membuat keputusan yang lebih rasional (L. Smith, 2. Selain itu, media sosial sering berfungsi sebagai platform berbagi informasi dan pengalaman, namun tidak selalu memberikan konteks yang cukup untuk pengambilan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono keputusan keuangan yang bijak. Konten di media sosial sering bersifat selektif dan tidak mencerminkan realitas keuangan individu. Misalnya, seseorang mungkin melihat teman memposting tentang liburan mewah atau pembelian barang mahal, tetapi tidak melihat tantangan keuangan yang mereka hadapi, sehingga menciptakan persepsi tidak realistis tentang pengeluaran dan gaya hidup (R. Smith, 2. Penelitian oleh (Thompson, 2. membuktikan bahwa meskipun media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumtif, pengaruhnya terhadap keputusan keuangan yang lebih luas seperti tabungan dan investasi tidak Individu mungkin lebih dipengaruhi oleh nasihat keluarga, teman, atau profesional keuangan daripada konten media sosial. Selain itu, individu dengan FOMO mungkin melakukan pembelian impulsif akibat tekanan sosial, namun mereka tetap memiliki strategi pengelolaan keuangan yang baik. Oleh karena itu, meskipun ada hubungan antara media sosial dan FOMO, dampaknya terhadap perilaku keuangan tidak selalu langsung atau signifikan. Self Esteem (X. Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z) Pengaruh self-esteem terhadap perilaku keuangan terbukti signifikan, di mana individu dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi cenderung membuat keputusan keuangan yang lebih Self-esteem, atau harga diri, mencerminkan bagaimana seseorang memandang nilai dan kemampuan dirinya. Mereka dengan terdapat self-esteem tinggi biasanya merasa lebih positif dan percaya diri dalam mengelola berbagai aspek kehidupan, termasuk keuangan. Salah satu alasan self-esteem memengaruhi perilaku keuangan adalah karena individu yang percaya diri lebih cenderung mengambil inisiatif dalam perencanaan keuangan, seperti berinvestasi, menabung, dan mengelola utang. Penelitian membuktikan mengenai seseorang dalam selfesteem tinggi lebih aktif dalam pengelolaan keuangan, termasuk menyusun anggaran dan merencanakan masa depan keuangan mereka (Brown, 2. Selain itu, self-esteem membantu individu mengatasi tekanan sosial dan emosional yang dapat memengaruhi keputusan keuangan. Seseorang dalam self-esteem rendah lebih rentan terhadap pengaruh eksternal, seperti iklan atau tekanan teman, yang dapat mendorong pembelian impulsif. Sebaliknya, mereka dengan terdapat self-esteem tinggi lebih mampu menilai situasi secara objektif dan membuat keputusan rasional meskipun ada tekanan sosial (L. Smith, 2. Penelitian oleh (Brown, 2. juga menunjukkan bahwa self-esteem tinggi berkontribusi pada kemampuan menunda kepuasan dan menghindari pengeluaran impulsif. Individu percaya diri cenderung lebih disiplin dalam menabung dan berinvestasi untuk masa depan (R. Smith, 2. , serta lebih aktif mencari informasi dan nasihat untuk pengambilan keputusan keuangan yang bijaksana, yang meningkatkan stabilitas keuangan mereka. Selain itu, self-esteem memengaruhi cara individu merespons kegagalan dalam pengelolaan mereka dengan self-esteem tinggi lebih mampu belajar dari kesalahan dan memperbaiki situasi keuangan, sementara yang rendah cenderung merasa putus asa dan menghindari pengelolaan keuangan (McGregor, 2. Hedonic Shopping Motivation (X. Tidak Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z) Hubungan antara Hedonic Shopping Motivation dan perilaku keuangan tidak terbukti Meskipun motivasi hedonis dapat meningkatkan perasaan Fear Of Missing Out (FOMO), dampaknya terhadap perilaku keuangan individu tidak cukup signifikan. Hal ini menunjukkan Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono bahwa individu yang termotivasi oleh kesenangan dalam berbelanja mungkin tidak selalu membuat keputusan keuangan yang bijak. Meskipun Hedonic Shopping Motivation dapat mendorong individu untuk berbelanja lebih banyak demi kesenangan, hal ini tidak selalu berujung pada keputusan keuangan yang bijak. Individu yang didorong oleh motivasi hedonis mungkin lebih cenderung melakukan pembelian impulsif, mengabaikan anggaran, dan mengeluarkan uang untuk barang-barang yang tidak diperlukan. Penelitian menunjukkan bahwa perilaku konsumtif yang didorong oleh motivasi hedonis sering kali mengarah pada pengeluaran yang berlebihan dan kurangnya disiplin dalam pengelolaan keuangan (Johnson. Walaupun motivasi hedonis dapat meningkatkan FOMO, yang pada gilirannya dapat memicu perilaku konsumtif, dampak positif terhadap pengelolaan keuangan tidak selalu Individu yang merasakan FOMO mungkin merasa tertekan untuk membeli barang atau pengalaman tertentu untuk "ikut serta," tetapi ini tidak berarti bahwa mereka membuat keputusan keuangan yang bijak. Sebaliknya, mereka mungkin terjebak dalam siklus pengeluaran impulsif yang merugikan kondisi keuangan mereka (R. Smith, 2. Penelitian menunjukkan bahwa individu yang memiliki Hedonic Shopping Motivation mungkin kurang memiliki keterampilan pengelolaan keuangan yang baik. Mereka mungkin tidak terdapat pengetahuan secara cukup mengenai keutamaan menabung, berinvestasi, atau merencanakan keuangan untuk masa depan. Akibatnya, meskipun mereka mungkin merasa puas dengan pengalaman belanja mereka, keputusan keuangan yang diambil sering kali tidak mencerminkan pertimbangan yang bijak (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. Fear Of Missing Out (FOMO) (Y) Berpengaruh Terhadap Perilaku Keuangan (Z) Pengaruh antara Fear Of Missing Out (FOMO) dan perilaku keuangan terbukti valid. Individu yang merasakan FOMO cenderung menghasilkan keputusan keuangan yang lebih Meskipun FOMO sering kali dianggap sebagai dorongan negatif yang mendorong pengeluaran impulsif, dalam banyak kasus. FOMO dapat berfungsi sebagai pendorong positif yang meningkatkan kesadaran individu terhadap keputusan keuangan mereka. Ketika individu merasakan FOMO, mereka menjadi lebih peka terhadap peluang yang ada di sekitar mereka. Misalnya, jika mereka melihat teman-teman mereka berpartisipasi dalam acara menarik atau membeli produk baru, mereka mungkin merasa terdorong untuk tidak ketinggalan. Hal ini dapat mengajak mereka dalam memperoleh informasi lebih lanjut tentang produk maupun layanan secara relevan, serta mempertimbangkan bagaimana keputusan keuangan mereka dapat memengaruhi kemampuan untuk berpartisipasi dalam pengalaman tersebut. FOMO membuat individu jadi lebih peka terhadap peluang dan termotivasi untuk mengatur keuangan, misalnya dengan menabung atau membuat anggaran yang lebih baik agar bisa ikut dalam kegiatan yang dianggap penting. Menurut (Thompson, 2. orang yang mengalami FOMO cenderung lebih sering merencanakan pengeluaran dan menghindari utang yang tidak perlu. FOMO sering kali muncul dari perbandingan sosial. Saat melihat orang lain menikmati pengalaman seru, individu jadi terdorong untuk meniru dan mengelola keuangannya lebih disiplin (R. Smith, 2. FOMO juga bisa memotivasi orang untuk berinvestasi pada pengalaman berharga, seperti liburan atau acara sosial. (Johnson, 2. dan (Przybylski. Murayama. DeHaan. , & Gladwell, 2. sepakat bahwa FOMO dapat menjadi Jurnal E-Bis (Ekonomi-Bisni. AIntan Salsabila Surya Krisna1*. Wisnu Panggah Setyono pendorong positif yang meningkatkan kesadaran terhadap keputusan finansial dan mengarahkan individu untuk merencanakan keuangan, menghindari utang, dan berinvestasi demi kepuasan jangka panjang. SIMPULAN Penelitian ini menganalisis pengaruh kecanduan media sosial, self-esteem, dan hedonic shopping motivation terhadap FOMO dan perilaku keuangan Generasi Z di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Hasil menunjukkan media sosial dan motivasi belanja hedonis secara signifikan meningkatkan FOMO, sementara self-esteem tidak berpengaruh signifikan terhadap FOMO. Media sosial tidak berdampak langsung pada perilaku keuangan, tetapi selfesteem tinggi berkorelasi positif dengan perilaku keuangan bijak, sedangkan motivasi belanja hedonis mendorong pengeluaran impulsif. FOMO memotivasi pengelolaan keuangan dan menjadi mediator pengaruh media sosial serta motivasi belanja hedonis terhadap perilaku Implikasi manajerial menekankan pentingnya literasi keuangan, peningkatan selfesteem, dan edukasi pengelolaan FOMO untuk mencegah keputusan finansial tidak rasional, serta dorongan bagi pemasar untuk strategi yang bertanggung jawab. Keterbatasan penelitian meliputi populasi spesifik dan pendekatan kuantitatif yang kurang menangkap kompleksitas perilaku keuangan. Saran penelitian mendatang meliputi pendekatan kualitatif, analisis dampak platform media sosial berbeda, eksplorasi peran budaya dan gender, serta studi longitudinal dan intervensi untuk mendukung kesejahteraan finansial Generasi Z. REFERENSI