ISSN : 2442-4986 An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat . -Journa. Volume 10 . Desember 2023 DOI : http://dx. org/ 10. 31602/ann. PENGARUH PERILAKU MEROKOK. KONSUMSI BUAH DAN SAYUR TERHADAP KEJADIAN HIPERTENSI (Studi Cross Sectional Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kabupaten Banja. THE EFFECT OF INDIVIDUAL SMOKING BEHAVIOR. FRUIT AND VEGETABLE CONSUMPTION ON THE EVENT OF HYPERTENSION (Cross Sectional Study On Communities In The Working Area Of Aluh-Aluh Health Center. Banjar Regenc. Noor Ahda Fadillah1*. Fakhriyah2*. Nita Pujianti3*. Ayu Riana Sari4*. Nadia Hildawati5*. Fitria6* 1,2,3,4,5,6 Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Jalan A. Yani Km. 36,00 Banjarbaru. Kalimantan Selatan Indonesia *Authors Correspondence : noorahdafadillah@gmail. ARTICLE INFO Article history Received: Feb 2023 Accepted: Oct 2023 Published Online : Dec 2023 Keywords: Hypertension. secondary data. Kata kunci: Hipertensi Kehamilan Usia. Obesitas. Riwayat Keluarga. Paritas. Status Ibu Bekerja ABSTRACT Hypertension is a public health problem and the highest cause of death. Hypertension causes approximately 7. 5 million deaths worldwide from 12. 8% of the total deaths. This study aims to analyze factors related to the incidence of hypertension in the community in the working area of the Aluh-Aluh Health Center with a cross sectional research design used an instrument in the form of secondary data from SIPTM. The population in this study was the entire community in the working area of Aluh-Aluh Health Center with a total sample of 725 people taken ussed purposive sampling technique. Data analysis used the chi square test and the results of the study show that there is a relationship between cigarettes . -value = 0. with the incidence of hypertension. Meanwhile, gender . -value = 0. , education . -value = 0. , occupation . -value = 0. marital status . -value = 0. , fruit and vegetable consumption . -value = . showed no relationship with the incidence of hypertension. The conclusion of this study is that smoking behavior is significantly at high risk of causing ABSTRAK Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menjadi penyebab kematian paling tinggi. Hipertensi mengakibatkan kurang lebih 7,5 juta kematian di seluruh dunia dari 12,8% total kematian keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. Rancangan penelitian menggunakan desain cross sectional berbasis data sekunder yang diambil dari data SIPTM. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas AluhAluh sebanyak 815 orang. Sampel yang diambil sebanyak 725 orang sesuai dengan kriteria yang ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan ada hubungan perilaku merokok . -value=0,. dengan kejadian hipertensi. Sedangkan jenis kelamin . -value=0,. , pendidikan terakhir . value=0,. , pekerjaan . -value=0,. , status pernikahan . -value=0,. , konsumsi buah dan sayur . -value=0,. menunjukan tidak ada hubungan dengan kejadian hipertensi. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa perilaku merokok secara bermakna beresiko tinggi menyebabkan kejadian An-Nadaa: Jurnal Kesehatan Masyarakat . -Journa. is licensed under a Creative Commons Attribution-Non Commercial 4. 0 International (CC BY NC) license. Copyright A 2023 by Authors Noor Ahda Fadillah dkk: Pengaruh Perilaku Merokok. Konsumsi Buah Dan Sayur Terhadap Kejadian Hipertensi (Studi Cross Sectional Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kabupaten Banja. PENDAHULUAN 24,3% dan prevalensi merokok di Kalimantan Selatan sebesar 20,55% dan di Kabupaten Banjar sebesar 20,88% . Faktor risiko lain dari hipertensi adalah pola makan yang kurang baik seperti kurang mengonsumsi buah dan sayur. Salah satu sumber bahan pangan yang baik adalah buah dan sayur. Konsumsi harian buah dan sayur dalam porsi yang memadai dapat menjadi sumber asupan antioksidan dalam tubuh. Membiasakan konsumsi buah dan sayur setiap hari sangat dianjurkan karena buah dan sayur mengandung vitamin dan mineral termasuk kalium yang dapat mengatur pemeliharaan dan pertumbuhan, serta mengandung serat yang tinggi. Selain itu konsumsi serat yang cukup juga dapat menurunkan tekanan darah. Konsumsi buah dan sayur berhubungan dengan kejadian hipertensi. Konsumsi kalium dalam jumlah yang tinggi dapat melindungi seseorang dari hipertensi. Konsumsi kalium yang meningkat akan menurunkan tekanan darah . Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk menganalisis data sekunder dari Laporan Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular (SIPTM) bulan Januari-April tahun 2021 Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar untuk wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh terkait faktor yang masyarakat di wilayah tersebut. Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dan menjadi penyebab kematian paling tinggi atau disebut the silent killer . Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah mengalami peningkatan lebih dari normal atau sering disebut tekanan darah tinggi. Tekanan darah tinggi yaitu peningkatan tekanan darah pada sistol lebih dari 140 mmHg dan diastol lebih dari 90 mmHg . Hipertensi mengakibatkan kurang lebih 7,5 juta kematian di seluruh dunia dari 12,8% total kematian secara keseluruhan . Menurut data Riskesdas 2013 prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 25,8% dan meningkat pada tahun 2018 menjadi 34,1% . Adapun Kalimantan Selatan . 1%). Sedangkan prevalensi hipertensi di Kabupaten Banjar menurut Riskesdas tahun 2018 sebesar 44,91% . Hipertensi terjadi karena berbagai faktor risiko seperti umur, kelamin, riwayat kebiasaan merokok, konsumsi yang kurang baik seperti konsumsi garam, konsumsi lemak jenuh, kurang konsumsi buah dan sayur, serta faktor obesitas, stres, kebiasaan minumminuman alkohol, dan kurang aktifitas fisik . Hipertensi apabila tidak ditangani akan berakibat pada terjadinya berbagai penyakit seperti stroke, terjadinya penyakit jantung koroner, penyakit jantung, bahkan kematian . Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar prevalensi beberapa faktor risiko terjadinya hipertensi ada pada masyarakat di Kabupaten Banjar khususnya di wilayah Kecamatan Aluh-Aluh yaitu konsumsi gula berlebih . ,5%), garam berlebih . ,5%), lemak berlebih . ,2%), kurang konsumsi buah dan sayur . %), merokok . ,2%0, obesitas sentral . ,3%), dan obesitas . ,9%) dari total penduduk usia > 15 tahun . Merokok merupakan faktor risiko hipertensi yang dapat diubah. Dampak yang ditimbulkan oleh merokok antara lain meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah dengan adanya peningkatan kadar hormon epinefrindan norepinefrin karena aktivasi sistem saraf simpatis. Efek jangka panjang dari merokok adalah peningkatan tekanan darah karena adanya peningkatan zat inflamasi, disfungsi endotel, pembentukan plak, dan kerusakan vaskular . Berdasarkan data Riskesdas tahun 2018, prevalensi merokok setiap hari di Indonesia sebesar BAHAN DAN METODE Penelitian ini menggunakan desain cross sectional berbasis data sekunder dari laporan Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular (SIPTM) bulan Januari-April tahun 2021 Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Data tersebut dikumpulkan melalui wawancara dan pengukuran faktor risiko, sehingga didapatkan identitas responden, data wawancara faktor risiko, sampai dengan data pengukuran. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh sebanyak 815 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purvosive sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini berupa kelengkapan data sekunder SIPTM yang meliputi data kesakitan beserta data faktor risiko yaitu perilaku merokok dan konsumsi buah dan sayur. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 725 orang yang sesuai dengan Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kejadian hipertensi dan variabel bebas adalah karakteristik individu . enis kelamin, pendidikan Noor Ahda Fadillah dkk: Pengaruh Perilaku Merokok. Konsumsi Buah Dan Sayur Terhadap Kejadian Hipertensi (Studi Cross Sectional Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kabupaten Banja. Sumber: Data Sekunder SIPTM Dinkes Kabupaten Banjar . eriode Januari-April 2. terakhir, pekerjaan, status pernikaha. , perilaku merokok dan konsumsi buah dan sayur. Data dianalisis untuk menjelaskan hubungan 2 variabel yaitu antara variabel terikat dan variabel bebas menggunakan uji chi square dengan taraf signifikansi sebesar 5% dengan derajat kepercayaan 95%. Berdasarkan tabel di atas, data berjumlah 725 sampel yang diambil sebagai responden, hasil pengukuran tekanan darah menunjukan angka yang hampir seimbang antara responden yang menderita hipertensi . ,5%) dengan responden yang tidak hipertensi . ,3%). Responden lebih banyak yang berjenis kelamin perempuan . dibandingkan responden laki-laki . ,3%). Responden lebih banyak yang berpendidikan rendah . idak sekolah, tamat SD dan SMP/sederaja. yaitu sebesar 95,5%, banyak responden yang juga tidak bekerja . ,3%) dan menikah/ada pasangan . ,1%). Dari 725 responden, 94,2% tidak merokok dan 60,1% konsumsi buah dan sayurnya cukup. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kejadian Hipertensi, merokok dan konsumsi buah dan sayur di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh Variabel Kejadian Hipertensi Hipertensi Tidak Hipertensi Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Pendidikan Terakhir Rendah Tinggi Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja StatusPernikahan Tidak Ada Pasangan Ada Pasangan Perilaku Merokok Tidak Konsumsi Buah dan Sayur Kurang Cukup Analisis Bivariat Tabel 2. Hubungan Karakteristik Individu. Perilaku Merokok. Konsumsi Buah dan Sayur dengan Kejadian Hipertensi pada Masyarakat di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kejadian Hipertensi Total p-value Variabel Kategori Hipertensi Tidak Hipertensi Jenis Kelamin Laki-Laki 75 . %) 0,105 Perempuan 650 . %) Pendidikan Pekerjaan Rendah Tinggi Tidak Bekerja Bekerja 692 . %) 33 . %) 553 . %) 172 . %) 0,084 0,426 Noor Ahda Fadillah dkk: Pengaruh Perilaku Merokok. Konsumsi Buah Dan Sayur Terhadap Kejadian Hipertensi (Studi Cross Sectional Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kabupaten Banja. Status Pernikahan Tidak 21 . %) 0,575 Ada Pasangan 704 . %) Perilaku 42 . %) 0,026 Merokok Tidak 683 . %) Konsumsi Buah Kurang 289 . %) 0,072 dan Sayur Cukup 436 . %) Sumber: Data Sekunder SIPTM Dinkes Kabupaten Banjar . eriode Januari-April 2. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa karena responden perempuan lebih banyak kejadian hipertensi lebih banyak terjadi pada daripada responden laki-laki . Hasil penelitian responden laki-laki . %) dibandingkan dengan lainnya juga menyatakan bahwa tidak terdapat responden perempuan . ,4%). Hasil analisis hubungan antara jenis kelamin dan kejadian statistik dengan Chi-square diperoleh nilai p-value = Banyak faktor-faktor 0,105, sehingga tidak ada hubungan antara jenis mempengaruhi terjadinya hipertensi yang dibagi kelamin dengan kejadian hipertensi pada dalam dua kelompok besar yaitu yang dapat masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. dirubah dan tidak dapat dirubah. Maka dari itu Hasil ini sejalan dengan teori bahwa laki-laki untuk terjadinya hipertensi perlu faktor risko tersebut secara bersama-sama . ommon underlying mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami risk facto. , dengan kata lain satu faktor risiko saja peningkatan tekanan darah sistolik dibandingkan dengan perempuan, karena laki-laki kebanyakan belum cukup untuk menyebabkan timbulnya hipertensi . meningkatkan tekanan darah . Namun Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kejadian hipertensi lebih banyak terjadi peningkatan risiko hipertensi setelah usia pada responden berpendidikan rendah . ,3%) menopause yaitu usia diatas 45 tahun. Perempuan yang belum menopause dilindungi oleh hormon berpendidikan tinggi . ,3%). Hasil uji statistik dengan Chi-square diperoleh nilai p-value = 0,084, estrogen yang berperan dalam meningkatkan kadar High Density Lipoprotein (HDL) yang berfungsi maka tidak ada hubungan antara pendidikan menjaga kesehatan pembuluh darah, dan setelah terakhir dengan kejadian hipertensi pada menopause kadar estrogen menurun sehingga masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. kadar HDL juga menurun. Tetapi dalam Pendidikan merupakan salah satu cara seseorang penelitian ini menunjukan tidak adanya hubungan untuk mendapatkan pengetahuan lebih baik. antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat hal tersebut mungkin disebabkan karena maka akan semakin baik tingkat pengetahuan dan responden berjenis kelamin perempuan lebih kualitas sumber daya yang dimiliki . Tingginya banyak daripada responden yang berjenis kelamin risiko untuk terkena hipertensi pada pendidikan laki-laki. Selain itu juga tidak adanya hubungan yang rendah disebabkan karena kurangnya antara jenis kelamin dengan kejadian hipertensi pengetahuan pada seseorang yang berpendidikan bisa terjadi karena ada faktor lain yang rendah terhadap kesehatan dan sulit atau lambat mempengaruhi terjadinya hipertensi, karena menerima informasi atau penyuluhan yang hipertensi primer tidak diketahui penyebabnya diberikan oleh petugas dan berdampak pada secara pasti, beberapa mekanisme yang mungkin perilaku atau pola hidup sehat . berkontribusi telah diidentifikasi . Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian bahwa kejadian hipertensi lebih banyak terjadi terdahulu yang menyebutkan bahwa jenis kelamin . ,4%) tidak berhubungan secara signifikan dengan dibandingkan dengan responden yang tidak kejadian hipertensi, hal ini mungkin disebabkan bekerja . ,6%). Hasil uji statistik dengan chisquare diperoleh nilai p-value = 0,426, maka tidak ada hubungan antara pekerjaan dengan kejadian Noor Ahda Fadillah dkk: Pengaruh Perilaku Merokok. Konsumsi Buah Dan Sayur Terhadap Kejadian Hipertensi (Studi Cross Sectional Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kabupaten Banja. hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. Seseorang yang bekerja tidak menjamin bahwa orang tersebut melakukan aktivitas fisik yang cukup. Adanya kemajuan teknologi menyebabkan masyarakat saat ini lebih mudah melakukan pekerjaan apapun sehingga aktivitas fisiknya lebih rendah . Individu yang tidak bekerja seperti ibu rumah tangga memiliki risiko lebih besar terkena hipertensi. Selain itu jenis pekerjaan dapat berpengaruh terhadap pola aktivitas fisik sehingga dapat terlindungi dari penyakit hipertensi. Tidak adanya hubungan pekerjaan dengan kejadian hipertensi dikarenakan responden pada penelitian ini melakukan aktivitas fisik yang cukup sehingga dapat terhindar dari Penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pekerjaan dengan kejadian hipertensi disebabkan adanya perubahan gaya hidup pada seseorang dengan penghasilan tinggi sehingga dapat menyebabkan pola konsumsi makanan yang dapat memicu terjadinya hipertensi. Selain itu ada faktor lain seperti genetik dan psikis . Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kejadian hipertensi lebih banyak terjadi pada responden memiliki pasangan . ,7%) dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki pasangan . ,1%). Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p-value= 0,575, karena nilai p-value > . maka H0 diterima, sehingga tidak ada hubungan antara status pernikahan dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. Status pernikahan secara tidak langsung dapat mengganggu kesehatan termasuk hipertensi melalui faktor risiko perilaku hidup maupun stres. Secara statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara status pernikahan dengan kecenderungan untuk prevalensi hipertensi yang memiliki pasangan lebih besar dibandingkan yang tidak memiliki pasangan. Responden yang memiliki pasangan dan menderita hipertensi tetapi dengan perubahan gaya hidup yang sehat dan manajemen stress dapat menurunkan kejadian Hasil penelitian ini didukung dengan penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan status menikah dengan kejadian Hal ini bisa dikarenakan proporsi responden memiliki pasangan lebih tinggi dengan selisih yang cukup jauh dengan kelompok yang tidak memiliki pasangan . Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan bahwa kejadian hipertensi lebih banyak terjadi . ,3%) dibandingkan responden yang tidak merokok . ,4%). Hasil uji statistik dengan chi-square diperoleh nilai p-value = 0,026, sehingga ada hubungan antara perilaku merokok dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. Responden yang merokok 2,16 kali lebih berisiko menderita hipertensi dibandingkan responden yang tidak Zat-zat kimia beracun seperti nikotin, tar dan karbon monoksida yang dihisap melalui rokok dapat memicu terjadinya hipertensi. Nikotin yang beredar ke dalam tubuh bersama dengan aliran darah dapat merangsang otak untuk melepaskan penyempitan pada dinding pembuluh darah dan memaksa jantung untuk memompa darah lebih keras lagi. Tar yang masuk ke dalam darah juga dapat memaksa jantung berdenyut lebih kuat, sedangkan karbon monoksida akan berikatan dengan hemoglobin sehingga menyebabkan darah mengental dan menempel pada dinding pembuluh Mekanisme inilah yang dapat menimbulkan terjadinya hipertensi . Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian terdahulu bahwa ada hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi dengan p-value = 0,007. Semakin banyak jumlah rokok yang dihisap responden maka akan semakin besar pula kecenderungan seseorang untuk menderita hipertensi. Hal ini karena beberapa zat kimia dalam rokok bersifat kumulatif, suatu saat dosis racunnya akan mencapai titik toksin sehingga mulai kelihatan gejala yang Penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan antara kebiasaan merokok dengan kejadian hipertensi. Semakin banyak jumlah rokok yang dihisap Berdasarkan wawancara pada penelitian terdahulu tersebut, merokok sudah menjadi kebiasaan di kalangan laki-laki di Kecamatan Kandangan. Sebagian perokok tahu akan bahaya Noor Ahda Fadillah dkk: Pengaruh Perilaku Merokok. Konsumsi Buah Dan Sayur Terhadap Kejadian Hipertensi (Studi Cross Sectional Pada Masyarakat Di Wilayah Kerja Puskesmas Aluh-Aluh Kabupaten Banja. merokok, tetapi tidak mengurangi minat konsumsi terhadap rokok . Rokok tidak hanya berbahaya bagi perokok aktif saja, namun juga dapat menimbulkan dampak bagi perokok pasif. Pernyataan tersebut didukung oleh hasil penelitian lainnya yang menyebutkan ada hubungan antara paparan rokok dengan kejadian hipertensi p-value = 0,0001, diketahui bahwa wanita dewasa muda yang terpapar asap rokok berisiko 53 kali lebih besar untuk terkena hipertensi dibandingkan dengan yang tidak terpapar . Berdasarkan tabel 2 di atas menunjukkan kejadian hipertensi lebih banyak terjadi pada responden konsumsi buah dan sayurnya cukup . ,3%) dibandingkan dengan responden yang konsumsi buah dan sayurnya kurang . ,3%). Hasil uji chi-square diperoleh nilai p-value= 0,072, sehingga tidak ada hubungan antara konsumsi buah dan sayur dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Aluh-Aluh. Hal ini juga mungkin disebabkan karena ada faktor lain yang mempengaruhi terjadinya hipertensi, karena hipertensi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, namun banyak faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara konsumsi buah dan sayur terhadap kejadian hipertensi dengan p-value=0,908 >0,05. Hal ini dapat disebabkan faktor lain seperti metode pengambilan data asupan buah dan sayur dimana pada penelitian ini digunakan metode Food Frequency Questionnaire (FFQ) Semi kuantitatif sementara penelitian lain menggunakan metode FFQ kualitatif sehingga data mengenai konsumsi buah dan sayur lebih detail . sebagai upaya pencegahan terjadinya hipertensi dan komplikasi yang mungkin terjadi. Evaluasi untuk program posbindu PTM juga harus dilakukan secara berkelanjutan serta perlu adanya inovasi promosi kesehatan yang lebih efektif untuk UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. Puskesmas Aluh-Aluh dan semua pihak yang terlibat atas izin yang diberikan kepada penulis untuk melakukan analisis lebih lanjut terhadap data hipertensi dan faktor risiko yang ada pada Laporan Sistem Informasi Penyakit Tidak Menular (SIPTM) bulan Januari-April tahun 2021 Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar. DAFTAR PUSTAKA