Penggunaan Media Gambar Dengan Teknik Kolase Dalam Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Usia Dini RofiAoah1. Ratri Kurnia Pratiwi2 Universitas KH Acmad Muzakky Syah e-mail: 1rofiah16. 93@gmail. com, 2ratrikurnia500@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media gambar dengan teknik kolase dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Kemampuan motorik halus merupakan salah satu aspek perkembangan yang penting untuk menunjang kesiapan anak dalam menulis dan melakukan aktivitas sehari-hari. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dengan teknik kolase secara sistematis dan terarah dapat meningkatkan keterampilan motorik halus anak, seperti menggunting, menempel, dan mengatur posisi gambar. Kegiatan kolase juga memicu kreativitas dan konsentrasi anak dalam menyelesaikan tugas. Dengan demikian, media gambar dan teknik kolase merupakan strategi yang efektif untuk mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Kata Kunci: Media Gambar. Teknik Kolase. Motorik Halus. Anak Usia Dini Abstract This study aims to determine the effect of using picture media with collage techniques in developing fine motor skills in early childhood. Fine motor skills are a crucial aspect of development that supports children's readiness for writing and daily activities. This research employs a descriptive qualitative approach. Data were collected through observation, documentation, and interviews. The results showed that the systematic and guided use of picture media through collage techniques significantly improved childrenAos fine motor abilities, such as cutting, pasting, and arranging images. Collage activities also stimulated children's creativity and concentration in completing tasks. Therefore, picture media combined with collage techniques is an effective strategy for enhancing fine motor skills in early childhood. Keywords: Picture Media. Collage Technique. Fine Motor Skills. Early Childhood PENDAHULUAN Perkembangan anak usia dini merupakan fondasi penting dalam pembentukan karakter dan kecakapan hidup anak di masa mendatang. Usia 0Ae6 tahun disebut sebagai masa keemasan . olden ag. , karena pada rentang usia ini seluruh aspek perkembangan anak tumbuh dengan sangat cepat, termasuk perkembangan fisik, kognitif, sosial emosional, bahasa, serta kemampuan motorik. Salah satu aspek yang sering menjadi fokus di lembaga pendidikan anak usia dini adalah perkembangan motorik halus, karena berkaitan erat dengan kesiapan anak untuk memasuki tahap pendidikan berikutnya (Nurfitri et al. , 2. Kemampuan motorik halus mencakup keterampilan menggunakan otot-otot kecil, terutama otot jari dan tangan, yang penting untuk kegiatan seperti menulis, menggambar, mengancingkan baju, dan memegang alat makan. Sayangnya, tidak semua anak memiliki perkembangan motorik halus yang optimal karena berbagai faktor seperti kurangnya stimulasi, media pembelajaran yang monoton, atau pendekatan pembelajaran yang kurang Oleh karena itu, penting bagi pendidik PAUD untuk mengembangkan metode yang mampu menstimulasi motorik halus anak secara efektif dan menyenangkan. Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah melalui kegiatan seni yang melibatkan keterampilan tangan, seperti teknik kolase. Kolase adalah teknik menempelkan berbagai bahan seperti potongan kertas, daun kering, kain, atau gambar untuk membentuk karya visual yang utuh. Dalam konteks pembelajaran anak usia dini, kolase tidak hanya melatih keterampilan motorik, tetapi juga mendorong anak untuk berpikir kreatif, mengenal tekstur, warna, serta bentuk. (Dewi & Hartati, 2. Penggunaan media gambar sebagai bahan kolase dapat memperkaya proses belajar anak. Gambar-gambar dari majalah bekas, buku rusak, atau cetakan internet dapat dijadikan bahan tempel yang menarik. Anak akan menggunting gambar sesuai keinginan dan menempelkannya pada media yang telah disiapkan, sehingga tanpa disadari mereka melatih ketepatan gerakan jari, konsentrasi, dan koordinasi mata-tangan yang merupakan indikator penting dalam perkembangan motorik (Qomariah et al. , 2. Kegiatan kolase dengan media gambar juga memfasilitasi pembelajaran tematik. Misalnya, saat anak belajar tema "Binatang", mereka dapat menempel gambar-gambar hewan yang telah digunting. Aktivitas semacam ini bukan hanya melatih motorik halus, tetapi juga menguatkan pemahaman anak terhadap konsep yang sedang dipelajari. Selain itu, aktivitas ini mendorong anak untuk terlibat aktif dalam pembelajaran melalui proses eksplorasi, pemilihan, dan penyusunan visual. (Ulpah et al. , 2. Studi empiris menunjukkan bahwa kegiatan kolase memberikan hasil positif terhadap peningkatan keterampilan motorik halus. Penelitian mengungkapkan bahwa setelah beberapa minggu melakukan kegiatan kolase, anak menunjukkan perkembangan yang signifikan dalam kemampuan menggunting, menempel, dan memegang pensil dengan benar. (Kholidah Z & Reza, 2. Hasil serupa juga menegaskan efektivitas teknik kolase sebagai strategi pembelajaran motorik halus anak kelompok B. (Fadhil & Hayat, 2. Teknik kolase juga dinilai efektif karena memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar mandiri dan membuat keputusan. Anak belajar memilih bahan, menentukan letak gambar, serta menyesuaikan warna dan bentuk. Hal ini sangat penting dalam mengembangkan rasa percaya diri dan inisiatif anak. Aktivitas kolase bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kemampuan anak, menjadikannya salah satu bentuk pembelajaran yang inklusif. (S. Azizah et al. , 2. Penggunaan media gambar sebagai bagian dari teknik kolase juga memiliki nilai ekonomis dan praktis. Gambar-gambar yang digunakan dapat berasal dari barang bekas yang mudah diperoleh, sehingga tidak memerlukan biaya Hal ini sangat relevan dalam konteks lembaga PAUD yang memiliki keterbatasan Selain itu, media gambar juga dapat disesuaikan dengan budaya lokal dan konteks lingkungan sekitar anak. (Loita et al. , 2. Sebagai bagian dari pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman . xperiential learnin. , teknik kolase dengan media gambar memungkinkan anak belajar secara langsung melalui kegiatan yang konkret dan bermakna. Anak tidak hanya pasif mendengarkan atau melihat, tetapi aktif mencipta dan berkreasi. Proses inilah yang diyakini dapat memberikan dampak jangka panjang terhadap perkembangan kecakapan anak dalam menyelesaikan tugastugas kehidupan sehari-hari. (Laini et al. , 2. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar dengan teknik kolase merupakan salah satu metode yang efektif dan menyenangkan dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Artikel ini bertujuan untuk menggali lebih dalam bagaimana teknik kolase dengan media gambar diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di PAUD, serta mengkaji sejauh mana teknik ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan kemampuan motorik halus anak. KAJIAN PUSTAKA Teori Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini Perkembangan motorik halus adalah bagian penting dari tumbuh kembang anak yang mencakup kemampuan menggunakan otot-otot kecil di tangan dan jari, serta keterampilan koordinasi mata dan tangan. Kemampuan ini sangat penting dalam mendukung aktivitas sehari-hari anak seperti menulis, menggambar, menggunting, membuka resleting, serta memegang alat makan. Kemampuan tersebut tidak hanya menunjang kesiapan anak untuk sekolah formal, tetapi juga membentuk dasar bagi kemandirian dalam kehidupan seharihari. Menurut Jean Piaget, dalam teori perkembangan kognitifnya, anak usia dini berada pada tahap praoperasional . Ae7 tahu. , di mana pemikiran anak bersifat simbolik namun belum mampu melakukan operasi logis. Pada tahap ini, anak sangat aktif menggunakan pancaindra dan anggota tubuhnya dalam menjelajahi dunia. Kegiatan bermain yang melibatkan manipulasi benda fisik, seperti menggambar, mewarnai, atau menyusun balok, menjadi media yang efektif dalam merangsang perkembangan kognitif sekaligus kemampuan motorik halus mereka. (Iffah & Aulina, 2. Elizabeth B. Hurlock menjelaskan bahwa perkembangan motorik anak sangat dipengaruhi oleh proses belajar dan pengalaman. Kegiatan-kegiatan yang memerlukan keterampilan tangan secara halus seperti menjahit, melipat kertas, bermain plastisin, hingga membuat kolase mampu memberikan latihan alami bagi otot-otot kecil anak. menekankan bahwa perkembangan motorik halus tidak berlangsung secara otomatis, tetapi harus diberikan rangsangan secara terarah, konsisten, dan sesuai dengan tingkat usia dan kemampuan anak. (Widyaningrum & Dkk, 2. Erik Erikson melalui teorinya tentang perkembangan psikososial juga menyinggung pentingnya fase inisiatif vs. rasa bersalah . sia 3Ae6 tahu. , di mana anak mulai menunjukkan keinginan untuk mengeksplorasi dan mencoba berbagai hal baru secara Jika anak diberi kesempatan untuk melakukan berbagai aktivitas fisik, seperti membuat karya seni kolase, maka mereka tidak hanya mengembangkan motorik halus, tetapi juga membangun kepercayaan diri dan perasaan kompeten dalam menyelesaikan tugas-tugas. (A. Azizah et al. , 2. Dalam konteks pembelajaran anak usia dini, kegiatan yang menstimulasi keterampilan motorik halus harus dirancang dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip perkembangan yang menyeluruh. Menurut Santrock, perkembangan fisik anak berjalan seiring dengan perkembangan kognitif dan sosial-emosionalnya, sehingga kegiatan pembelajaran yang kaya akan pengalaman langsung dan kontekstual seperti kolase dapat memberikan kontribusi holistik bagi pertumbuhan anak. (Arisanti et al. , 2. Oleh karena itu, penting bagi pendidik dan orang tua untuk menyediakan berbagai aktivitas yang melibatkan keterampilan motorik halus secara bervariasi dan menyenangkan, seperti kegiatan seni rupa, permainan konstruksi, atau kolase dari media gambar, agar perkembangan tersebut berlangsung optimal. Aktivitas semacam ini tidak hanya memperkuat otot-otot kecil anak, tetapi juga melatih kesabaran, ketelitian, kreativitas, dan koordinasi. Pengertian Motorik Halus dan Pentingnya Perkembangannya Kemampuan motorik halus tidak hanya menunjang anak dalam mengerjakan tugastugas akademik seperti menulis dan menggambar, tetapi juga sangat berpengaruh terhadap tingkat kemandirian mereka dalam menjalani aktivitas harian. Anak yang memiliki keterampilan motorik halus yang baik cenderung lebih mampu mengenakan pakaian sendiri, menggunakan alat makan secara mandiri, serta terlibat dalam kegiatan bermain dan berkesenian yang kompleks. Stimulasi yang diberikan melalui aktivitas yang menyenangkan dan bermakna sangat diperlukan untuk memperkuat koordinasi mata dan tangan, serta ketepatan gerakan jari. perkembangan motorik halus dapat dikembangkan secara optimal melalui kegiatan yang memerlukan ketelitian, ketepatan, dan konsentrasi, seperti menggunting, meronce, dan membuat kolase. (Damayanti et al. , 2. Oleh karena itu, pendidik dan orang tua perlu merancang lingkungan belajar yang kaya akan pengalaman konkret dan mengakomodasi kegiatan manipulatif, agar kemampuan motorik halus anak dapat berkembang secara optimal sesuai tahap usianya. Teknik Kolase sebagai Media Pembelajaran Kegiatan kolase memberikan ruang bagi anak untuk menyalurkan ekspresi kreatif mereka dalam suasana yang menyenangkan dan tidak membebani. Dalam prosesnya, anak dihadapkan pada berbagai pilihan bahan dengan warna, tekstur, dan bentuk yang berbeda, sehingga mereka belajar membuat keputusan, merancang komposisi, serta mengasah imajinasi secara mandiri. Proses menggunting, memilih, dan menempel bahan secara berulang-ulang mendorong peningkatan kontrol motorik dan koordinasi yang presisi. Selain itu, kegiatan kolase juga melatih ketekunan, fokus, dan kesabaran anak, yang merupakan aspek penting dalam pengembangan karakter. Teknik kolase tidak hanya meningkatkan kemampuan motorik halus secara signifikan, tetapi juga memperkuat aspek kedisiplinan dan tanggung jawab anak dalam menyelesaikan karya seni mereka. (Salsabila et al. , 2. Dengan demikian, teknik kolase menjadi media pembelajaran yang komprehensif dalam mengembangkan kemampuan fisik sekaligus karakter anak sejak usia Penggunaan Bahan Alam dalam Kolase Penggunaan bahan alam seperti biji-bijian, daun kering, serbuk kayu, kulit jagung, atau potongan ranting kecil dalam kegiatan kolase tidak hanya memberikan pengalaman sensorik yang beragam bagi anak, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai ekologis sejak dini. Melalui kegiatan ini, anak diajak untuk lebih mengenal lingkungan sekitar, menyentuh dan membedakan tekstur alami, serta belajar bahwa benda-benda dialam dapat dimanfaatkan untuk hal-hal produktif dan kreatif. Aktivitas semacam ini secara tidak langsung menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan, serta sikap menghargai dan menjaga alam. Hanna Rahmawati. AuPeningkatan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Kolase Bahan Alam Pada Kelompok B Di PAUD X,Ay 2023, 63Ae68. Kegiatan kolase berbahan alam juga memberikan tantangan motorik tersendiri karena anak harus mengatur posisi, ukuran, dan cara menempel bahan yang tidak seragam Ini mendorong anak berpikir kritis, memecahkan masalah, dan berlatih koordinasi tangan-mata dengan lebih intens. (Amri, 2. Kegiatan kolase menggunakan bahan alam terbukti efektif meningkatkan keterampilan motorik halus anak melalui pendekatan bermain yang menyenangkan dan bermakna. Efektivitas Teknik Kolase dalam Mengembangkan Motorik Halus Dalam kegiatan kolase, anak-anak secara aktif menggunakan keterampilan tangan untuk menggunting, menempel, dan menyusun berbagai elemen gambar menjadi satu kesatuan karya seni. Proses ini tidak hanya melibatkan aspek fisik, tetapi juga aspek kognitif dan emosional, seperti kemampuan merencanakan, berkonsentrasi, serta mengekspresikan diri. Kegiatan kolase secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan koordinasi mata dan tangan pada anak. (Fadhil & Hayat, 2. Penelitian ini menunjukkan bahwa setelah mengikuti kegiatan kolase secara terstruktur selama empat minggu, terdapat peningkatan pada aspek keterampilan manipulatif seperti memegang gunting dengan benar, memotong sesuai pola, dan menempel bahan secara presisi. Keberhasilan teknik kolase dalam mendukung perkembangan motorik halus anak berkaitan erat dengan sifat kegiatan yang menyenangkan, tidak membebani, dan memberi ruang eksplorasi. Kegiatan ini memungkinkan anak merasa memiliki kendali atas karya yang mereka buat, sehingga motivasi intrinsik pun meningkat. Guru atau pendidik juga memiliki peran penting dalam merancang aktivitas kolase yang sesuai dengan tahap perkembangan dan minat anak, sehingga hasil yang dicapai lebih optimal. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan secara mendalam proses dan hasil dari penggunaan media gambar dengan teknik kolase dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia dini. Pendekatan ini dipilih karena dapat menggambarkan fenomena yang terjadi secara alami, tanpa manipulasi variabel, serta memungkinkan pemahaman kontekstual terhadap peristiwa yang diteliti. Pendekatan kualitatif sangat sesuai digunakan dalam penelitian pendidikan anak usia dini karena memungkinkan peneliti untuk memahami makna dari perilaku, pengalaman, dan interaksi anak-anak dalam konteks kegiatan pembelajaran yang autentik. Pendekatan ini menekankan pentingnya proses, bukan hanya hasil akhir. Dalam konteks ini, peneliti tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan motorik halus yang dicapai anak, tetapi juga pada bagaimana proses pembelajaran melalui teknik kolase berlangsung, seperti keterlibatan anak, peran guru, serta interaksi anak dengan bahan dan lingkungan belajar. Oleh karena itu, data dikumpulkan secara naturalistik melalui observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi, yang memungkinkan peneliti memperoleh gambaran menyeluruh mengenai implementasi teknik kolase dalam kegiatan belajar anak. (Nukhayati, 2. Pendekatan kualitatif deskriptif memudahkan peneliti dalam mengungkap dinamika yang terjadi selama kegiatan berlangsung, termasuk hambatan, strategi guru dalam memberikan stimulasi, dan respons anak terhadap berbagai bahan gambar yang Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan tidak hanya menggambarkan efektivitas teknik kolase, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis bagi guru PAUD dalam menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak usia dini. Subjek dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yaitu di RA Aal-Mubarok Mayang Kab. Jember. Subjek dalam penelitian ini adalah anak-anak usia 5Ae6 tahun yang tergabung dalam kelompok B, dengan jumlah peserta sebanyak 15 anak. Pemilihan subjek dilakukan secara purposive, yaitu anakanak yang telah menunjukkan perkembangan motorik halus yang masih perlu ditingkatkan menurut hasil observasi guru kelas. Teknik Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang akurat dan mendalam, digunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut: Observasi Observasi dilakukan untuk mengetahui aktivitas dan keterlibatan anak dalam kegiatan kolase menggunakan media gambar. Peneliti mencatat kemampuan motorik halus anak selama proses menggunting, menempel, dan menyusun gambar, serta perubahan yang terjadi setelah beberapa kali kegiatan. Wawancara Wawancara dilakukan terhadap guru kelas dan kepala sekolah untuk menggali informasi mengenai program pembelajaran, metode yang biasa digunakan untuk mengembangkan motorik halus, serta tanggapan terhadap kegiatan kolase yang Dokumentasi Dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data visual dan administratif, seperti foto kegiatan anak, hasil karya kolase, serta catatan perkembangan anak dari portofolio guru. Teknik Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif model Miles dan Huberman . , yang meliputi tiga langkah yaitu: Reduksi data: menyortir, memilih, dan merangkum data yang relevan dengan fokus penelitian. Penyajian data: menyusun data dalam bentuk narasi, tabel, dan gambar agar mudah dipahami dan dianalisis lebih lanjut. Penarikan kesimpulan: merumuskan interpretasi dari data yang telah dianalisis untuk menjawab fokus penelitian dan mencapai tujuan penelitian. (Laini et al. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi motorik halus anak, panduan wawancara semi-terstruktur untuk guru dan kepala sekolah, serta alat dokumentasi berupa kamera dan portofolio anak. Lembar observasi disusun berdasarkan indikator perkembangan motorik halus yang sesuai dengan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar PAUD. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap: Persiapan: koordinasi dengan pihak sekolah, penyusunan instrumen, dan penentuan jadwal kegiatan. Pelaksanaan: kegiatan kolase dilakukan sebanyak 3Ae4 kali per minggu selama 3 Setiap kegiatan berdurasi sekitar 45Ae60 menit. Evaluasi: analisis hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk menilai efektivitas kegiatan terhadap perkembangan motorik halus anak. HASIL & PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan di RA Aal-Mubarok. Kecamatan Mayang. Kabupaten Jember, yang merupakan salah satu lembaga pendidikan anak usia dini dengan jumlah siswa kelompok B sebanyak 15 anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penggunaan media gambar dengan teknik kolase dapat mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia 5Ae6 tahun. Kegiatan penelitian dilakukan selama tiga minggu, dengan jadwal pelaksanaan dua kali seminggu. Pada awal pelaksanaan, kemampuan motorik halus sebagian besar anak masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari ketidaktepatan dalam memegang gunting, penggunaan lem yang masih berlebihan, serta ketidakteraturan dalam menyusun Anak juga terlihat masih memerlukan banyak bantuan dari guru, baik dalam mengarahkan kegiatan maupun dalam penggunaan alat-alat sederhana. Namun, pada pertemuan kedua dan ketiga, terjadi peningkatan yang signifikan. Anakanak mulai menunjukkan perkembangan dalam hal kemandirian, ketepatan penggunaan alat, dan ketelitian dalam menyusun gambar. Salah satu anak bernama Rani . ,5 tahu. , yang pada awalnya kesulitan menggunting, pada pertemuan ketiga sudah mampu menggunting bentuk sederhana seperti lingkaran dan segitiga tanpa bantuan. Hal ini juga didukung oleh hasil observasi yang menunjukkan bahwa lebih dari 70% anak mengalami peningkatan koordinasi mata dan tangan saat menyusun kolase. Guru menyatakan bahwa kegiatan ini membuat anak menjadi lebih aktif dan kreatif. Mereka tampak antusias saat memilih bahan gambar dari majalah bekas, memilah warna, serta menciptakan cerita dari kolase yang dibuat. Salah satu guru menyampaikan dalam wawancara. AuAnak-anak jadi lebih semangat. Biasanya cepat bosan, tapi waktu kolase ini malah minta tambah waktu. Ay Selain itu, kegiatan kolase mendorong interaksi sosial anak. Mereka saling bertanya, berbagi gambar, dan menunjukkan hasil karya masing-masing kepada teman dan guru. Dokumentasi kegiatan menunjukkan ekspresi bangga dari anak-anak saat menempelkan karya mereka di dinding kelas. Lingkungan kelas juga menjadi lebih hidup karena dipenuhi dengan karya kolase yang berwarna-warni. Suasana kelas selama kegiatan kolase menjadi lebih dinamis dan positif. Anak-anak terlihat menikmati proses kreatif mereka tanpa merasa Mereka diberi kebebasan dalam memilih bahan dan menentukan tema dari kolase yang akan dibuat, sehingga setiap karya yang dihasilkan bersifat individual dan mencerminkan karakter masing-masing anak. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan jika diperlukan, tetapi tetap membiarkan anak berinisiatif dalam menyelesaikan karyanya. Perubahan juga tercermin dalam kemampuan koordinasi mata dan tangan anak. Misalnya, dalam pertemuan ketiga, lebih dari 80% anak dapat menyelesaikan kolase dengan tingkat kerapian dan ketepatan posisi gambar yang jauh lebih baik dibandingkan pertemuan Anak-anak sudah mampu mengontrol tekanan tangan saat menggunting atau menempel, yang menunjukkan adanya peningkatan pada kemampuan motorik halus secara Hal ini sesuai dengan hasil dokumentasi yang menunjukkan progres setiap anak dalam bentuk foto dan lembar observasi. Dari hasil wawancara, guru menyatakan bahwa kegiatan kolase memberikan alternatif pembelajaran yang menyenangkan sekaligus edukatif. Anak-anak yang biasanya mudah terdistraksi menjadi lebih fokus saat kegiatan kolase berlangsung. Guru juga merasa terbantu karena metode ini tidak hanya merangsang motorik anak, tetapi juga menjadi media evaluasi perkembangan kreativitas dan kemandirian anak. Salah seorang guru mengatakan. AuAnakanak jadi lebih sabar dan teliti. Mereka belajar menunggu giliran, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas sampai selesai. Ay Kegiatan kolase terbukti sebagai salah satu strategi pembelajaran yang efektif dalam mengembangkan motorik halus anak usia dini. Melalui aktivitas seperti menggunting, menempel, dan menyusun gambar, anak-anak dilatih untuk menggunakan koordinasi otototot kecil secara konsisten. Keterampilan motorik halus anak akan meningkat jika diberikan kegiatan yang membutuhkan koordinasi antara tangan dan mata secara terarah. Aktivitas kolase melibatkan seluruh proses tersebut dalam bentuk kegiatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakteristik anak. (S. Azizah et al. , 2. Peran guru sebagai fasilitator sangat penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan motorik halus. Guru yang memberi ruang eksplorasi dan membimbing tanpa membatasi kreativitas anak mampu mendorong keberanian anak dalam mencoba berbagai teknik kolase. Dalam hal ini, pendekatan pembelajaran sentra, terutama sentra seni dan bahan alam, memungkinkan anak untuk belajar secara aktif dan kontekstual. Model sentra ini sesuai dengan prinsip pembelajaran PAUD berbasis bermain sambil belajar yang menekankan pada kegiatan konkret dan bermakna. Dari sisi perkembangan psikologis, kegiatan kolase juga mendukung pembentukan karakter anak. Saat anak menyusun dan menyelesaikan hasil karyanya sendiri, mereka merasakan pencapaian dan bangga terhadap Ini berkaitan dengan fase inisiatif vs rasa bersalah dalam teori Erikson. Memberi anak kesempatan untuk membuat keputusan dalam memilih bahan dan menyusun kolase dapat memperkuat rasa percaya diri dan inisiatif anak. Penelitian ini menemukan bahwa anak-anak yang awalnya pasif menjadi lebih aktif dan percaya diri setelah terlibat dalam kegiatan kolase secara berulang. Bahan-bahan yang digunakan dalam kolase juga memiliki pengaruh terhadap kualitas pengalaman belajar anak. Bahan alam seperti daun, biji-bijian, kulit telur, dan potongan kain menambah variasi tekstur dan bentuk, yang memberi stimulasi sensorik tambahan. Anak yang berinteraksi dengan bahan alam menunjukkan ketekunan dan daya imajinasi yang lebih (Loita et al. , 2. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa anak merasa lebih senang dan penasaran saat menggunakan bahan yang tidak biasa dalam karyanya. Pengamatan selama kegiatan menunjukkan bahwa anak-anak yang terbiasa mengikuti kegiatan kolase secara berkelanjutan mengalami peningkatan signifikan dalam keterampilan manipulatif. Anak yang awalnya tidak mampu memegang gunting dengan benar, setelah beberapa kali latihan mulai bisa memotong bentuk yang diinginkan dengan lebih presisi. Ini mengindikasikan bahwa keterampilan motorik halus dapat berkembang dengan latihan yang terstruktur dan konsisten, sejalan dengan prinsip pembelajaran konstruktivistik yang menekankan pada pengalaman nyata dan keterlibatan aktif anak. Perkembangan motorik halus tidak bisa dilepaskan dari perkembangan kognitif dan sosial-emosional. (Fadhil & Hayat, 2. Kolase mendorong anak untuk berpikir kreatif, merencanakan, dan menyelesaikan tugas. Selain itu, anak juga belajar bersosialisasi dengan teman, seperti saat bertukar gambar, meminta bantuan, atau memberikan komentar terhadap karya temannya. Perkembangan anak berlangsung secara holistik dan terintegrasi. (Arisanti et , 2. Kegiatan kolase menjadi media yang ideal untuk mengembangkan ketiga aspek tersebut secara bersamaan. Strategi bermain sambil belajar yang diterapkan dalam kegiatan kolase sangat mendukung semangat belajar anak. Suasana pembelajaran yang menyenangkan dan bebas tekanan membuat anak lebih fokus dan termotivasi untuk menyelesaikan tugasnya. Strategi ini efektif untuk meningkatkan partisipasi aktif anak dan mempercepat proses internalisasi pengetahuan dan keterampilan. Dalam penelitian ini, anak-anak menunjukkan ketekunan yang tinggi dan semangat kompetisi sehat dalam menyelesaikan kolase mereka masing-masing. Kegiatan kolase juga mendukung kemampuan berpikir divergen anak. Saat anak diminta menyusun gambar dengan pola bebas, mereka menggunakan imajinasi dan pengetahuan yang telah dimiliki untuk menciptakan sesuatu yang baru. (S. Azizah et al. Kegiatan seperti kolase memberi ruang luas bagi ekspresi diri anak, sekaligus melatih mereka untuk mengambil keputusan dan mengevaluasi hasil kerja mereka sendiri secara Dari perspektif evaluatif, teknik asesmen yang digunakan dalam menilai hasil kolase sebaiknya berbasis portofolio dan observasi langsung. Penilaian tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang dilalui anak. Guru dapat mencatat perkembangan keterampilan anak secara bertahap, seperti kemampuan memegang alat, ketelitian dalam menempel, dan kemampuan menyusun pola. Pendekatan ini mendukung prinsip asesmen autentik yang dianjurkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik kolase tidak hanya berdampak pada perkembangan motorik, tetapi juga memberikan pengaruh positif terhadap aspek sosial dan emosional anak. Anak-anak tampak lebih percaya diri, tekun, dan mampu bekerja sama dengan teman-temannya. Mereka juga menjadi lebih terlibat dalam proses pembelajaran karena metode ini menyenangkan dan berbasis pengalaman langsung. Secara pedagogis, teknik kolase mendukung prinsip pembelajaran anak usia dini yang bersifat tematik, kontekstual, dan berbasis bermain. Pendekatan ini juga sejalan dengan prinsip perkembangan holistik anak, di mana pembelajaran harus melibatkan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara terpadu. Dengan demikian, kolase merupakan kegiatan yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif. Penggunaan media gambar, baik dari majalah bekas, bahan alam seperti biji-bijian dan daun, maupun kertas warna, memberikan fleksibilitas dalam pelaksanaan pembelajaran. Guru dapat menyesuaikan bahan sesuai dengan tema pembelajaran, minat anak, dan kondisi lingkungan sekitar. Hal ini menunjukkan bahwa teknik kolase dapat menjadi metode yang inklusif dan aplikatif untuk berbagai latar belakang pendidikan anak usia dini. Kegiatan ini juga terbukti meningkatkan kualitas interaksi antara guru dan anak. Guru tidak hanya menjadi pemberi instruksi, tetapi juga berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses belajar anak dengan memberi arahan, motivasi, dan penghargaan atas setiap proses yang dilakukan Dukungan ini sangat penting dalam membangun rasa percaya diri dan motivasi intrinsik anak dalam belajar. Penggunaan media gambar dengan teknik kolase memiliki potensi besar dalam mendukung perkembangan motorik halus anak. Kegiatan ini tidak memerlukan alat dan bahan yang mahal, namun memberikan dampak yang signifikan jika dirancang dengan baik dan dilakukan secara konsisten. Pengalaman nyata yang diberikan melalui kegiatan ini menjadi fondasi penting dalam mempersiapkan anak menuju tahap perkembangan selanjutnya, baik secara fisik, kognitif, maupun sosial-emosional. Oleh karena itu, guru dan lembaga PAUD disarankan untuk menjadikan teknik kolase sebagai bagian rutin dari kegiatan pembelajaran seni dan keterampilan, serta mengeksplorasi variasi bahan dan tema yang menarik bagi anak. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di RA Aal-Mubarok Kecamatan Mayang Kabupaten Jember, dapat disimpulkan bahwa penggunaan media gambar dengan teknik kolase secara signifikan mampu mengembangkan kemampuan motorik halus anak usia Aktivitas kolase menuntut keterampilan manipulatif seperti menggunting, menempel, dan menyusun gambar, yang secara langsung melatih koordinasi mata dan tangan serta penguatan otot-otot kecil di jari anak. Kegiatan kolase juga memberikan anak kesempatan untuk berekspresi secara bebas, memilih bahan sesuai preferensi mereka, serta menata komposisi gambar berdasarkan imajinasi dan kreativitas masing-masing. Melalui proses ini, anak tidak hanya belajar secara visual, tetapi juga secara kinestetik, sehingga memperkuat pemahaman dan keterampilan secara menyeluruh. Dengan mempertimbangkan berbagai hasil yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik kolase dalam kegiatan pembelajaran merupakan pendekatan yang efektif dan disarankan untuk diterapkan secara rutin dan terencana dalam lingkungan PAUD. Aktivitas ini dapat menjadi sarana untuk menyiapkan anak dalam menghadapi kegiatan belajar di jenjang selanjutnya, terutama yang membutuhkan keterampilan motorik halus seperti menulis, menggambar, dan membuat karya tangan. Oleh karena itu, dapat ditarik kesimpulan akhir bahwa teknik kolase bukan hanya sebuah metode seni, tetapi juga alat pedagogis yang mampu menciptakan pembelajaran bermakna, menyenangkan, dan kaya manfaat bagi tumbuh kembang anak usia dini. Integrasi teknik kolase dalam program pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar anak secara kreatif dan holistik. BIBLIOGRAFI Aini. , & Hijriyani. Stimulasi Pengembangan Fisik Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Handicraft Dengan Kertas Origami. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia, 2. , 65Ae78. Amri. J h p p. 284Ae289. Arisanti. Wahyudi. , & Muttaqin. AoAzam. Pendekatan Holistik Dalam Pendidikan Anak Usia Dini: Menyelaraskan Aspek Kognitif. Emosional Dan Sosial. Journal of Early Childhood Education Studies, 4, 33Ae72. Azizah. Muslihin. , & Rahman. Efektifitas Peningkatan Motorik Halus Pada Anak Usia Dini Melalui Media Kolase. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 7. , 69Ae77. Azizah. Fatonah. Yuliwulandana. Rizqiyani. , & Erviani. Upaya Meningkatkan Kreativitas Menggunakan Media Kolase Di Kelompok B Tk Aisyiyah Kauman Metro. IJIGAEd: Indonesian Journal Islamic Golden Age Education, 2. , 33Ae41. https://doi. org/10. 32332/ijigaed. Al Umairi. Hubungan Dyadic terhadap Sosial Emosional Anak Usia Dini di Lingkungan PAUD: Studi pada TK ABA GIRI 11 Gresik. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 9. https://doi. org/10. 31004/obsesi. Al Umairi. SEMINAR HUBUNGAN DYADIC TERHADAP SOSIAL EMOSIONAL ANAK USIA DINI DALAM PERSPEKTIF ISLAM. DedikasiMU: Journal of Community Service, 7. , 328-334. Al Umairi. Pengembangan Interaksi dan Perilaku Sosial Terhadap Pendidikan Anak Usia Dini di Abad 21. Kiddo: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, 4. , 1-12. Damayanti. Palupi. , & Nurjanah. Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Gerak Manipulatif Anak Usia 4-5 Tahun. Kumara Cendekia, 8. , 126. https://doi. org/10. 20961/kc. Dewi. , & Hartati. Efektivitas Kegiatan Kolase terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak di Taman Kanak-kanak. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7, 953Ae960. Fadhil. , & Hayat. Implementasi Kegiatan Kolase dalam Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Usia Dini Kelompok B. Atthiflah: Journal of Early Childhood A, 10, 330Ae343. Iffah. , & Aulina. Enhancing Fine Motor Skills and Fostering Creativity in Children through Plasticine-Based Activities. 16, 3465Ae3473. https://doi. org/10. 35445/alishlah. Kholidah Z. , & Reza. Pengaruh Seni Kolase Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Kelompok a Tk Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Surabaya. PAUD Teratai, 7. Laini. Nurhayati, & Dewi. JOTE Volume 5 Nomor 3 Tahun 2024 Halaman 150-155 JOURNAL ON TEACHER EDUCATION Research & Learning in Faculty of Education. Journal Tecaher Education, 5. , 150Ae155. Loita. Aprily. Setiaji. , & Ramdhani. Kolase Permainan Tradisional Untuk Memfasilitasi Pembelajaran Seni Rupa Anak Usia Dini. Jurnal Paud Agapedia, 6. , 233Ae239. https://doi. org/10. 17509/jpa. Nukhayati. mproving ChildrensAo Fine Motor Skills Through Collage Activities for Group A Children at Bustanul Ulum Kutowinangun Kindergarten. Sendang Agung District. Central Lampung Regency 2023/2024 Academic Year. Journal Teaching Education, 3. https://doi. org/10. 31327/jte. Nurfitri. Nuraini, & Multahda. Pengembangan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia Dini Melalui Kegiatan Mewarnai. Jurnal Kajian Pendidikan Dasar Dan Anak Usia Dini, i(Novembe. , 128Ae Pocenter. Bunayya : Jurnal Pendidikan Anak. , 200Ae209. Qomariah. Masitoh. Rohmah. Apriani. Adawiah. Ainunida. , & Puadah. Upaya Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Kolase Dengan Media Bahan Alam di TK Sehat. Edu Happiness: Jurnal Ilmiah Perkembangan Anak Usia Dini, 3. , 113Ae125. https://doi. org/10. 62515/eduhappiness. Rahmawati. Peningkatan Kreativitas Anak Melalui Kegiatan Kolase Bahan Alam pada Kelompok B di PAUD X. 63Ae68. Salsabila. Astuti. Hafidah. Nurjanah. , & Jumiatmoko. Pengaruh Storytelling dalam Meningkatkan Kemampuan Empati Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 10. , 164Ae171. https://doi. org/10. 21831/jpa. Sidiq. Al Umairi. , & Salsabillah. Penerapan Metode Bercerita Menggunakan Boneka Tangan Untuk Mengembangkan Karakter Anak Pada Kelompok A. JP2KG AUD (Jurnal Pendidikan. Pengasuhan. Kesehatan Dan Gizi Anak Usia Din. , 3. , 173-184. Ulpah. Kartini. Erniawati. , & Saidah. Penerapan Media Gambar Dengan Teknik Kolase dalam Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus dan Pembentukan Karakter Anak Usia 5-6 Tahun di TK PGRI Cigugur. Edu Happiness : Jurnal Ilmiah Perkembangan Anak Usia Dini, 2. , 43Ae53. https://doi. org/10. 62515/eduhappiness. Widyaningrum. , & Dkk. Efektivitas Terapi Bermain Plastisin Dalam Meningkatkan Ketrampilan Motorik Halus Anak Usia Pra Sekolah. Jurnal Kesehatan Madani Medika, 15. , 86Ae93. Zahwa. , & Reza. Pengaruh Seni Kolase terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Kelompok A TK Aisyiyah Bustanul Athfal 2 Surabaya. Jurnal Fakultas Ilmu Pendidikan.